Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Rini Hariyani

Saya Pengemis Intelektual

 

Festival Wayang ASEAN I di TMII minggu lalu membuat Rini ‘sesak nafas’. Capek, senang, bangga, kecewa, campur aduk dalam hatinya.

 

Tinggi sekali impian Rini. Idealnya, kata wanita bertubuh mungil ini, Indonesia bisa menjadi pusat kebudayaan wayang dunia.

“Nyatanya, semua orang kagum dengan koleksi yang ada di museum kita. Jangan berkecil hati. Percaya diri saja, toh kita sudah diakui dunia,” kata Rini. Sejak tahun 1999, ia menjabat Kepala Museum Wayang.

Rini memang sangat percaya diri. Tidak sia-sia. Buktinya, berkat kerja keras dan kecintaannya pada wayang, untuk pertama kalinya Indonesia bisa jadi tuan rumah festival wayang yang diikuti puluhan negara.

Karir Minim Peminat

Sempit, kuno, jadul (jaman dulu), dan ‘gelap’. Itulah anggapan miring tentang keberadaan Museum Wayang yang ada di daerah Jakarta Kota.

“Jangan hanya dilihat dari fisik luarnya. Masuk dulu kedalam. Liha isinya. Kita akan cinta kalau kita kenal lebih dekat lagi,” ujar Rini Hariyani.

Rini juga senang memposisikan diri sebagai PR (Public Relation). Bahkan, kalau saja waktunya longgar, tanpa canggung, ia sempatkan diri menemani tamu-tamu yang berkunjung ke museumnya.

“Tak apalah jadi guide. Justru itu buatku sangat menyenangkan. Kita tahu keinginan mereka, berbagi cerita sekaligus bernostalgia,” ungkap Rini dengan wajah cerah.

Mengapa Rini antusias menggeluti dunia wayang? Tak lain karena keinginan masa kecilnya. “Waktu itu saya tanya ke kakak ipar yang sedang ambil S2 di Honolulu. ‘Jurusan apa ya yang bisa bikin saya bisa keluar negeri?’ Dia bilang ‘ambil saja jurusan budayamu sendiri’. Makanya begitu lulus saya ambil jurusan Sastra Jawa UI,” cerita Rini.

Rini sadar jurusan yang ia pilih sangatlah tidak populer. Toh, dia tetap bersemangat.

“Karena sejak awal, saya memang cinta wayang. Lewat wayang saya diajarkan banyak hal, mulai dari filsafat wayang, karakter tokoh-tokoh wayang, dan sebagainya,” ujar Ibu dua anak ini. Bahkan berkat wayang pula Rini bisa beberapa kali keliling Eropa membawa misi budaya wayang Indonesia.

Rini lahir di Solo tanggal 10 Desember 1950. Oleh orangtuanya yang masih berdarah Mangkunegaran, setiap bulan sekali Rni yang masih kanak-kanak selalu diajak menonton pagelaran Wayang Orang di Sriwedari. Saat masih kuliah, setiap tanggal 1 Suro, mau tidak mau Rini harus menonton Wayang Kulit semalam suntuk. Kewajiban yang harus dijalani sejak masuk kuliah sampai lulus.

“Makanya, ibaratnya duplikasi bahasa, saya makin cinta dengan wayang. Di Museum Wayang, saya juga jadi sering nonton wayang semalam suntuk. Kantor jadi rumah kedua saya. Cinta sekali,” kata Rini. Skripsinya juga mengupas filosofi wayang, tentang tokoh Adipati Karno.

Jadi Karya Agung

Rini selalu ingin mengukir prestasi. Satu keberhasilan yang membuat wanita ini bangga adalah mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan atau Wayang Revolusi milik Indonesia yang sudah 40 tahun lebih disimpan di Museum Rotherdam, tahun 2005 lalu.

“Sejak menjabat (jadi Kepala Museum Wayang), saya selalu berjuang dapatkan tambahan koleksi dengan cara pembelian juga meminta sumbangan entah dari tamu beberapa negara, atau dari indonesia sendiri. Ada istilah, saya ini pengemis intelek. Karena mengemisnya untuk Museum bukan untuk koleksi pribadi. Kebetulan yang membuat saya bangga, yaitu berhasil mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan milik kita yang dibuat Raden Mas Sayid dari Mangkunegaran,” ujar Rini bangga.

Selain itu, lanjut Rini, “bangsa Indonesia boleh bangga karena sejak tanggal 7 November 2003 wayang Indonesia sudah diakui dunia melalui lembaga Unesco menjadi salah satu karya agung budaya dunia di antara 28 budaya dunia. Bangga dong. Ternyata Indonesiapun punya budaya yang begitu agungnya. Nah, sekarang yang sedang dirintis adalah keris supaya diakui sebagai budaya agung.”

Satu hal yang disesalkan Rini, wayang Indonesia justru lebih populer di mancanegara ketimbang di negara asalnya.

“Justru selama ini mancanegara yang lebih tahu keberadaan museum wayang ketimbang masyarakat Jakarta. Jadi, wajar saya kalau target utama saya adalah ingin membuat wayang tak hanya mendunia. Tapi juga men-Jakarta, dan meng-Indonesia. Saya juga ingin generasi muda kita bangga dan mencintai wayang. Makanya saya undang anak-anak siswa belajar gamelan dan buat wayang disini. Jangan sampai kita belajar dengan orang asing. Jangan sampai kebakaran jenggot kalau itu sudah lebih dicintai orang asing,” ujar Rini sungguh-sungguh.

Rini bercerita tentang pengalamanya saat berkunjung ke KBRI Perancis di Paris. “Disana, yang latih gamelan justru orang Perancis,” suara Rini terdengar kesal.

“Jangan sampai generasi muda kita belajar budaya dengan orang asing. Dulu bahkan kita mau ambil S2 Sastra Jawa harus ke Leaden. Karena literaturnya ada di Leaden semua. Syukurlah, sekarang mereka yang pernah ke Leaden menularkan ilmunya di Indonesia,” kata Rini lagi.

Belajarlah Lewat Wayang

Di dalam wayang banyak sekali yang bisa diambil hikmahnya.

“Kita bisa bercermin lewat setiap peristiwa yang terjadi di dunia wayang. Seperti di kehidupan sehari-hari. Didalamnya ada tokoh baik dan buruk. Dan  juga tidak mungkin manusia hidup tanpa susah. Pasti ada lawannya. Ada susah, pasti ada senang. Kayaknya wayang ini benar-benar personifikasi dari kehidupan kita yang harus bisa kita ikuti,” kata Rini.

“Bahkan sampai sekarang masih banyak orang tua yang beri nama anaknya dengan nama-nama wayang. Misalnya Wibisono, Kresna, Abimanyu. Karena ortu berharap anaknya punya karakter seperti tokoh itu. Tapi jarang yang beri nama Burisworo. Itu kan tokoh jelek,” lanjut Rini.

Rini bersungguh-sungguh mengajak siapa saja yang ia temui untuk mencintai wayang. “Karena banyak sekali manfaatnya. Ajak anak menonton pagelaran wayang. Ajak keluarga datang ke museum wayang. Bahkan, temani anak-anak belajar membuat wayang, berlatih gamelan, dan bercerita tentang cerita-cerita pewayangan,” kata Rini.

Tidak perlu bingung bagaimana memulainya. Kata Rini, “sekarang sudah banyak diterbitkan komik-komik wayang. Bahkan ada VCD dan DVD tentang cerita wayang. Ada juga DVD wayang orang yang dikeluarkan grup Sekar Budaya Nusantara miliknya Ibu Nanik Sudarsono.”

“Karena orang baru sadar dan mulai cinta budayanya justru setelah pergi ke luar negeri. Begitu di luar negeri dia disuruh tampil, disuruh cerita, apa budayamu yang paling menarik? Tolong ceritakan ke kita, mereka gelagapan. Itu karena masyarakat kita belum bisa menghargai karya-karya leluhur kita,” lanjut Rini bersemangat.

 

Aien Hisyam

*wawancara 1 Desember 2006*

Advertisements

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik | Leave a comment

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Vivi Vinata Guizot

Operasi Penuh Cinta

Bagi Vivi, bahagia adalah, ketika suatu hari pasien-pasiennya bisa tersenyum lagi, punya semangat hidup dan meningkat kualitas hidupnya.

 

Anak itu baru 9 tahun. Separuh wajahnya rusak akibat luka bakar. Vivi tertegun.

“Ya Tuhan, semoga usaha ini berjalan dengan lancar,” Vivi berdoa dalam hati. Doa yang sama, yang selalu ia ucapkan ketika tangannya mulai memegang pisau bedah.

Setelah dua kali operasi, pasien kanak-kanaknya itu mulai ‘berubah’. Wajahnya kembali normal.

“Kemarin, dia bilang, ‘dokter, terima kasih,” suara Vivi terdengar haru, “dan kalau tidak ada halangan, satu kali operasi lagi wajahnya sudah pulih kembali. Seperti sediakala.”

Menjadi Normal

Sejak kecil, Vivi bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah plastik. Bukan karena penghasilannya yang besar. Dan bukan pula karena jumlah dokter bedah plastik di Indonesia yang sangat sedikit.

“Waktu SMA, saya perhatikan kakak saya ada kekurangan sedikit di wajahnya. Matanya kecil satu,” kenang Vivi Vinata Guizot. Saat itu ia masih kelas 2 SMP.

Hatinya sedih melihat kakak perempuannya sering mengurung diri, enggan bertemu orang lain, dan selalu menghindar bila disapa.

“Terus, sekitar tahun 1989, dia dioperasi plastik di Singapura. Setelah operasi, dia percaya diri sekali. Kepribadiannya jadi sangat menarik dan bisa bergaul dengan normal,” lanjut Vivi.

Sejak itulah Vivi bertekad memperdalam ilmu bedah plastik.

“Saya ingin mengembalikan yang tidak normal menjadi normal, sampai jiwanya juga kembali normal. Yang tadinya pemalu, setelah normal, self esteem-nya meningkat. Itu yang jadi alasan kuat saya kenapa memilih jadi dokter bedah plastik,” kata Vivi yang Ayahnya juga seorang dokter di Bali.

Punya Sense of Art

Hingga kini, jumlah dokter spesialis bedah plastik di Indonesia hanya berkisar 50 orang.

“Itupun tidak menyebar dengan merata. Ada bagian yang tidak ada dokter plastik. Sebagian besar ngumpul di Jakarta. Padahal, banyak yang membutuhkan dokter plastik,” kata wanita kelahiran Denpasar tanggal 15 Juli 1974.

Untuk memperdalam ilmu bedah plastik-pun, di Indonesia hanya tersedia dua Universitas saja. Di Universitas Airlangga (Unair) dan di Universitas Indonesia (UI).

Barulah setelah lulus SMA Negeri 1 Bali, Vivi melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Unair. Lulus tahun 1998, ia masih mengikuti PPT di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Setelah itu saya coba-coba mendaftar ke spesialis bedah plastik. Tesnya susah sekali, karena kita sangat kompetitif. Waktu itu dari 16 orang yang diterima hanya 2 lulus tes. Tes-nya di UI. 16 orang itu sebenarnya juga dari proses penyeleksian yang ketat. Bisa jadi yang daftar ratusan,” Vivi menerangkan.

Banyak tes yang harus dilalui. Mulai dari tes pengetahuan, tes menggambar proporsi wajah orang, menggambar perspektif, psikotes, hingga wawancara.

“Kita (dokter bedah plastik) harus punya sense of art. Bisa menggambar dari depan, samping kanan dan kiri. Karena, sebelum dokter melakukan pembedahan, dia harus bisa menggambar bentuk wajah dan badan dengan baik,” ujar wanita yang tengah hamil 5 bulan.

Luruskan Kaki Bengkok

Tugas pertama Vivi di awal kuliah adalah mengoperasi bibir sumbing di RSCM.

“Pasienku, dua-duanya perempuan. Umur 4 tahun dan 6 bulan. Awalnya, deg-degan juga. Tapi setelah berdoa, dan semua berjalan dengan lancar, syukurlah, akhirnya bibir mereka bisa puilh kembali. Bahkan terlihat normal. Operasinya cuma setengah jam sampai 45 menit, tapi bisa merubah hidup orang luar biasa,” ungkap Vivi.

Vivi jadi ‘ketagihan’ mempercantik wajah orang. Setiap ada ajakan mengoperasi bibir sumbing, tidak pernah ia tolak.

“Saya senang merubah dan merawat pasien. Dari yang jelek banget sampai di operasi, jadi cantik. Ada juga yang kakinya bengkok karena luka bakar, saya rawat sampai lurus lagi. Itu luar biasa,” ujar Vivi dengan nada bahagia.

Sikap keluarga pasien yang sangat apresiasi, juga membuat Vivi semakin cinta pada pekerjaanya.

“Keluarga pasien sangat apresiet. Bahkan sampai bertahun-tahu masih ingat sama aku. Luar biasa. Kadang-kadang mereka mampir ke RSCM hanya untuk say hello. Mereka bilang kalau sekarang anak mereka sudah bagus, sudah cantik. Saya menyelamatkan quality of life seseorang. Wah senang sekali,” katanya.

Banyak ilmu yang kini tengah dipelajari Vivi.

“Sebagai dokter pemula, ia harus bisa cangkok kulit. Misalnya ada luka yang besar dan lebar, ia harus bisa menyeset kulit tipis sekali dari paha sebelah, nempel di sebelahnya. Terus operasi bibir sumbing yang sederhana. Itu yang pertama kali harus dikuasai. Setelah itu mulai deh rekonstruksi-rekonstruksi yang lebih sulit,” ujar Vivi.

Kelak, ia harus bisa melakukan bedah plastik yang tingkatannya sangat tinggi. Seperti operasi face off yang dilakukan dokter-dokter senior pada Dini di Bandung.

“Itu tahap yang paling tinggi. Di Indonesia hanya sekitar 3 dokter saja yang bisa lakukan bedah mikro. Tak hanya sekedar menempel. Dokter harus bisa menyambung semua pembuluh darah supaya barang yang baru ditempel itu dapat nutrisi. Kalau nggak kulit akan mati, kering dan tidak ada berfungsi lagi. Syaraf juga disambung supaya nantinya dia bisa gerak. Itu operasi yang luar biasa,” kata wanita yang hobi diving dan surfing.

Mancungkan Hidung

Vivi justru tidak tertarik memasuki wilayah bedah estetik, walaupun lebih ‘menguntungkan.

“Karena orang yang sudah normal pingin menjadi lebih cantik lagi. Kasusnya paling sering di Indonesia mata dan hidung. Hidung orang Indonesia itu kan tidak mancung. Umumnya mereka ingin dimancungkan. Juga Matanya oriental itu kan sipit. Banyak yang pingin digedein,” ujar Vivi.

Bedah yang ingin Vivi tekuni adalah bedah rekonstruksi.

“Misalnya bedah trauma wajah. Patah-patah tulang wajah. Rahang patah beberapa tempat. Atau patah frame-nya mata, juga tulang hidung. Itu operasinya sangat luar biasa. Artistik sekali. Wajah dibuka dan disusun lagi satu persatu. Itu salah satu operasi besar di bidang bedah plastik. Buatku sangat menantang,” kata Vivi yang kini bekerja di RSCM Jakarta. Kelak ia berencana pindah ke Bali untuk mengabdikan hidupnya sebagai dokter bedah plastik di tanah kelahirannya.

Aien Hisyam

 *wawancara 25 September 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment

Aty Mannawi

Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’

 

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

 

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.

“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Lebih Sensitif

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di  Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.

“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.

“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.

“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan American University, Washington DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.

“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Tren Sulit Konsentrasi

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, gangguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.

“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Orang Tua Harus Berani

Jangan pernah menunda.

“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.

“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

Ujian Untuk Terapis

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.

“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.

Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.

Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dokter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara.

Aien Hisyam

*wawancara 20 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik, Profil Psikolog | Leave a comment

Yulianti Setyohadi

Hobi Yang Jadi Profesi

 

            Yuli merubah imej hidupnya lewat lukisan. Bermula dari hobi, kini  ia menjadi art dealer sekaligus event organizer khusus painting exhibition.

Di gedung yang sama, Yuli Setyohadi menyewa dua ruangan Di lantai tiga, ia fungsikan sebagai kantor dan kelas melukis khusus anak-anak. Di lantai dua, dengan ruang yang lebih luas, ia gunakan sebagai galeri. Ada 50 lebih lukisan yang dipertontonkan.

“Saya selalu tertarik ke hal-hal yang indah. Lukisan adalah satu hal yang indah. Indah dilihat, juga indah dikoleksi. Lukisan, ditaruh di tempat manapun, selalu membarikan keindahan pada ruangan itu. Selalu bisa dinikmati, karena lukisan sebagai penujang interior, bisa juga menjadi penyejuk hati dikala suasana hati bergejolak,” kata Yuli bersemangat.

Senang Yang Indah

Siang itu Yuli terlihat santai. Celana pajang dipadu tanktop warna senada coklat tua, membungkus tubuhnya yang ramping. Beragam asesoris menghiasi kedua tangan dan jari-jarinya.

“Saya senang yang indah-indah,” tegas Yuli.

Maka, tidak pernah sekalipun Yuli keluar rumah tanpa riasan di wajah. Bahkan untuk penampilan, Yuli sangat memperhatikan. Harus cantik dan indah dilihat.

“Tidak seperti seniman pada umumnya. Tetapi, kalau orang bertanya tentang profesi saya, mereka pasti terkejut. Banyak yang mengira saya ini pemain sinetron. Tetapi waktu saya bilang saya ini painting artist, mereka selalu bilang ‘wow!’ Terus mereka tanya ini itu. Tanya melukis apa, sudah berapa lama melukisnya, sampai lukisannya jenis apa, kok bisa tetap eksis. Setelah itu pembicaraan pasti akan mengalir dengan menyenangkan. Itulah yang membuat saya sangat bangga,” ujar Yuli.

Yuli memang lebih senang berbicara tentang lukisan. Tentang aktifitasnya sebagai art lover sekaligus painting artist daripada berbicara dunia gemerlap yang dijalani sebagian teman-temannya.

“Karena melukis bisa merubah hidup kita. Bisa membuat orang  lain senang lewat hasil karya kita. Apalagi kalau lukisan kita dihargai, dibeli dengan harga tinggi. Wah senang sekali,” ujar Yuli bangga.

Pelukis Rumahan

Sejak SMP Yuli gemar membuat sketsa mode. Ia sudah merasa ada darah seni mengalir dalam tubuhnya. Hanya saja, lulus SMA Yuli justru memilih masuk ke Stanford College jurusan Bahasa Inggris dan Komputer. Ia juga menikah muda saat masih berusia 22 tahun.

“Saya jadi tidak punya waktu lagi buat melukis. Setiap hari, waktu saya sudah habis buat ngurusin rumah dan anak-anak. Barulah setelah anak-anak besar, saya coba-coba melukis lagi,” kata Yuli.

Yuli akhirnya menjadi pelukis rumahan. Ia datangkan guru privat untuk melatih kelenturan tangannya saat melukis. Ia juga punya studio khusus tempat menyimpan semua lukisan hasil karyanya.

“Akhirnya saya pikir-pikir, saya punya hobi melukis, kenapa tidak saya jadikan hobi itu sebagai profesi saja. Bekerja di dunia yang saya sukai pasti akan membuat saya enjoy dan tidak terpaksa. Selama ini saya melukis dengan hati. Saya belajar secara otodidak, tidak ambil sekolah lukis. Jadi, melukis sudah menjadi jiwa saya,” kata ibu tiga anak, Adindara, Akbar Gustiana, dan Ameralda Claudia.

Tahun 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, Yuli justru membuka sekolah lukis untuk anak-anak di kawasan Pondok Indah diberi nama Sekolah Lukis Yudhacitra. Ia juga meresmikan EO-nya yang khusus menangani painting exhibition.

Empat tahun kemudian, Yuli kembali membuka sekolah lukis anak-anak di daerah Kemang. Ia juga serius menekuni pekerjaan barunya sebagai art dealer dan penyalur lukisan khusus hotel-hotel berbintang. Jumlah pesanan bisa mencapai 400 lukisan untuk satu hotel.

“Itulah, kalau kita sudah menekuni satu bidang jangan tanggung-tanggung, harus total. Saya seniman yang punya sense of bisnis. Seni lukispun bisa dibisniskan, jadi kenapa tidak kita seriusin,” ujar wanita yang kerap diundang mengikuti acara lelang ini bangga.

Begitupun menjadi art dealer. Menurut Yuli butuh keahlian khusus.

“Karena tidak hanya menjual karya-karya pelukis yang masih ada, tetapi juga dari lukisan-lukisan yang sudah lama dan kuno, atau yang pelukisnya sudah meninggal. Kita punya komunitas sendiri yang bisa mencari lukisa-lukisan tersebut. Seperti lukisan Basuki Abdullah, Affandi sampai Raden Saleh. Dan itu sangat susah sekali. Karena kita harus pakai kurator supaya tahu mana yang palsu dan tidak,” ujar wanita kelahiran 25 Juli 1967 ini dengan mimik serius.

Membicarakan lukisan Raden Saleh yang spektakuler, dahi Yuli langsung berkerut.

“Lukisan Raden Saleh itu hanya ada 9 buah di dunia. Jadi untuk menemukannya, kita benar-benar seperti masuk lubang jarum, Butuh waktu, uang dan pikiran. Itu harganya sudah diatas 5 Milyar. Ada yang di Belanda, di Amerika, dan beberapa Museum. Di Indonesia saja hanya ada 2 orang yang puya salah satunya di Istana,” kata Yuli menerangkan.

Impian Di Apartemen

Satu hari Yuli berjalan-jalan ke Sydney, Australia. Ia masuk ke sebuah galeri. Ia juga sempat singgah di satu mal besar.

“Di galeri itu, semuanya berhubungan dengan dunia seni lukis. Bahkan sampai meja-mejanya semua dilukis. Lalu saya masuk ke mal, di sana ada perangkat makan juga ada satu set meja makan. Semuanya saya sambung-sambungin. Bukan lewat foto, tetapi semua ada diotak saya. Lalu sampai di Jakarta saya aplikasikan ke kertas,” kenang Yuli.

Hasilnya, Yuli menyelesaikan satu lukisan yang indah. Diberi judul “Diantara Waktu Breakfast’.

“Saya merasa bagus sekali, dan ternyata semua orang bilang itu lukisan memang bagus. Saya melukiskan interior disain. Ada meja makan breakfast dengan pernak-perniknya yang unik, cantik dan bagus itu. Terus di samping meja makan itu ada jendela yang terbuka, kita langsung lihat pegunungan. Lukisan itu bahkan pernah masuk di majalah luar negeri.  Dan ternyata waktu saya pamerkan, semua orang appreciated banget,” ujar Yuli yang identik degnan lukisan cat air ini bangga.

Lukisan itu sudah terjual dan dikoleksi penggemar lukisan-lukisan Yuli. Total, wanita cantik ini telah menjual lebih dari 50 lukisan hasil karyanya.

Satu keinginan Yuli saat ini, “mudah-mudahan dalam waktu dekat, tempat workshop saya bisa diresmikan,” ujarnya.

Yuli tengah merancang satu tempat yang kelak ia gunakan sebagai tempat ‘kumpul-kumpul’ para pecinta seni lukis. Ia membeli satu unit apartemen di Bumi Mas Apartment. Di tempat ini ia buat geleri kecil dan tempat workshop yang cozy dan nyaman.

“Supaya kita bisa diskusi dan kolektor bisa lihat lukisannya. Ada ruang home teaternya, ada juga mini barnya. Dan kita akan rutin undang pecinta seni lukis. Kenapa saya plih apartemen, itu karena tempatnya bisa  24 jam saya pakai. Tidak seperti di hotel-hotel yang jam 10 malam sudah harus selesai,” ucap istri Indra Setyohadi ini dengan wajah senang.

Aien Hisyam

*wawancara 13 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment

Wahyuniati Al-Waly

Tugas Wanita Ada di Rumah

Menjadi Ibu rumah tangga justru membuat istri Ustaz Arifin Ilham ini bergairah.

           

Sebagai wanita solehah, dia harus bisa menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, baik untuk suaminya dan baik untuk keluarganya,” ujar Yuni, suatu sore di rumahnya yang asri.

Tawaran bekerja di luar rumah ia tolak. Ibu tiga anak ini lebih memilih full time berkarir di dalam rumah. Seperti impiannya sejak kecil.

Rombak Tiap 3 Bulan

Singgah di rumah pasangan ustad Arifin Ilham dan Yuni, memang terasa nyaman dan tenang. Hanya ada 4 sofa tanpa kaki-kaki di ruang tamu. Bantal-bantal berbungkus kain putih mengisi tiap sandarannya. Di sudut ruang, ada satu meja kecil tempat meletakkan buku-buku. Rapi tertata.

Menuju ruang dalam –masih tidak tampak kursi berkaki- hanya ada dua karpet tebal menutupi lantai keramik warna putih. Ada satu televisi berukuran besar. Suasana yang tidak jauh berbeda dengan 2 tahun silam.

“Tapi coba diperhatikan, pasti ada yang beda,” ujar Yuni setengah protes.

Jarinya menunjuk tirai hijau muda yang menjuntai di pintu masuk ruang dalam. Juga beberapa tirai lain dengan warna senada.

“Yuni sendiri yang mendisain. Yuni yang pilih bahannya, jahitkan, dan pasang. Sekarang, Kak Arifin sepenuhnya percayakan Yuni menata rumah. Tentu saja, itu membuat Yuni senang,” kata wanita yang selalu menyebut dirinya dengan nama.

Tiap tiga bulan sekali Yuni bongkar pasang. Menata ulang perabotan dalam rumah. Memadu padankan satu ruang dengan ruang yang lain. Termasuk memberi sentuhan bunga di pinggiran kaca besar dalam ruang makan.

“Yuni ini ibu rumah tangga yang hanya sebagai ibu rumah tangga yang mendampingi anak-anak dan Kak Arifin,” kata wanita berdarah Aceh ini.

Tentu sebagai ibu rumah tangga adalah mengurus rumah. “Kepala rumah tangganya ya Kak Arifin, Yuni pemimpin rumah tangga. Alhamdulillah Allah menjodohkan Yuni dan kak Arifin. Kak Arifin yang berdakwah, Yuni berdakwah di rumah. Itu juga yang diinginkan Kak Arifin karena Kakak sering keluar, jadi anak-anak sama siapa. Kecuali kalau ada telpon masuk atau ada sms yang ingin berkonsultasi, setidaknya Yuni ada waktu sedikit,” lanjut Yuni.

Harus Rawat Diri

Yuni tidak berpandangan skeptis dengan wanita yang berkarir di luar rumah.

“Asalkan kodratnya sebagai wanita tidak diabaikan. Dan dia masih bisa mengatur rumah tangga dan pekerjaannya. Cuma sebaiknya wanita itu di rumah. Dan Yuni menikmati dan menyenangi itu,” tegas wanita yang dinikahi Arifin Ilham tanggal 28 April 1998.

Pekerjaan di rumah, lanjut Yuni, sangat banyak. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, mengurusi makanan dan suami, bersih-bersih rumah, memperindah rumah, memasak, mengurus anak-anak.

“Kalau anak-anak tidak ada, kita harus mengurus diri. Mempercantik diri dan merawat diri. Itulah ibu rumah tangga dan seorang istri yang baik,” ujarnya.

Merawat diri bukan untuk suami saja.

“Kita harus berniat. Niat pertama untuk Allah, yang kedua niat untuk menyenangi suami, yang ketiga niat untuk membahagiakan diri kita sendiri, dan keempat untuk penampilan kita. Dengan kita sehat, kemudian fit, kita bersih, tentu menghargai diri kita sendiri. Kalau wanita itu cantik tapi tidak fit dan loyo, pasti tidak menarik,” ujar Yuni yang hobi senam lewat cd dari luar negeri.

“Perempuan harus cantik dan indah. Yuni tidak setuju kalau perempuan menikah, punya anak dan tidak cantik lagi. Justru setelah perempuan itu punya anak satu, dua, dan ketiga, justru harus lebih cantik lagi,” tegasnya.

Yuni tidak pernah pergi ke salon. Berolah raga pun ia lakukan di dalam rumah. Ia punya ruang khusus seperti salon dan tempat mirip gym yang dipenuhi alat-alat fitness.

“Kalau mau creambath, Yuni sediakan alatnya, panggil orang buat creambath. Termasuk kalau mau luluran dan pijat, ada orang yang datang ke rumah juga,” ucap wanita asal Lamno, Aceh Barat kelahiran 18 Maret 1974.

Bangun Jam 4.30

Yuni dan Kak Arifin lebih banyak mempraktekkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah. Tidak hanya memerintahkan, “Nak ngaji!”. Tidak. Tetapi kita harus mulai dari diri kita sendiri,” kata Yuni tentang perannya sebagai Ibu.

Ia mengambil contoh kecil. “Alhamdulillah sejak usia tiga tahun Yuni dan Kak Arifin sudah membiasakan anak-anak harus selalu bangun pagi, sekitar jam 4.30 pagi. Sekarang mereka sudah usia 7 tahun, kelas 2, dan yang nomor dua sudah 5,5 tahun, kelas 1.”

Di saat anak-anak usia 7 tahun, “Alhamdulillah mereka tidak pernah putus salat subuh di mesjid. Mereka pagi sudah bangun, sudah mandi, sudah bersih, sudah pakai baju taqwa atau baju muslim, berangkat sama Abinya ke mesjid. Dan itu tidak sulit. Awal-awalnya memang sulit, tapi setelah kebiasaan, jadi sangat mudah. Timbul kesadaran dan justru jadi kebutuhan buat dia,” ujar ibu tiga anak, Muhammad Alfi Fais,Ammar Muhammad Dzikra dan Muhammad Abbas.

Pulang dari mesjid Yuni menemani anak-anaknya mengaji, hafal Al Quran.

“Mungkin tidak langsung Al Quran tapi Juz Amma dulu. Kita panggil guru ke rumah. Setelah mengaji baru siap-siap berangkat ke sekolah. Makan, ganti pakaian, baru berangkat ke sekolah,” jelas Yuni

Yuni tetap memberi waktu anak-anaknya bermain sepulang sekolah. Namun sehabis salat Isya, anak-anaknya harus bergegas tidur “Karena jam 4.15 meraka sudah harus bangun.”

“Di dalam rumah, suami dan istri harus bisa mengfungsikan rumah untuk empat hal,” kata putri Tengku H. Djamaludin Waly yang anggota DPR dari fraksi PPP bersemangat.

Pertama rumah dijadikan madrasah, dijadikan sebagai sekolah. “Gurunya Ayah Ibunya, muridnya anak-anaknya,” ujar Yuni.

Yang kedua, lanjutnya, rumah itu harus bisa dijadikan beteng keluarga, tempat untuk saling berbagi ada musyawarah dan kasih sayang. Tempat curhat. Yang ketiga, rumah sebagai musholah, tempat beribadah. Anak-anaknya ke mesjid, Ayah Ibunya baca Al Quran. Kemudian salat Tahajud dan salat Dhuha bersama. Nanti anak-anak bisa melihat dari sekelilingnya.

“Yang terakhir, jadikan rumah sebagai surga. Surga tidak perlu jauh-jauh, cukup di rumah. Bidadarinya istrinya, pangerannya suaminya. Anak-anaknya generasi Allah. Kita bisa menciptakan surga Allah. InsyaAllah kalau suami kita Sholeh, istrinya sholehah, pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk istrinya. Kalau dia mencintai Allah, dia pasti mencintai istrinya,” kata wanita ayu ini.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Agustus 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Wanita | Leave a comment

Dyah Anita Prihapsari

3 Wanita Paling Berkesan

 

            Nita menjadi wanita Indonesia pertama yang mengikuti International Women Leaders Mentoring Partneship  (IWLMP) di Amerika. 

 

“Sebulan saya di Amerika. Ini benar-benar luar biasa. Saya satu-satunya wanita dari Asia yang terpilih ikut program tersebut,” ujar Dyah Anita Prihapsari bangga.

Nita memang tidak pernah berhenti beraktifitas. Tahun ini, sejumlah tanggung jawab ia pegang. Mulai dari Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ketua DPD IWAPI Provinsi DKI Jakarta, Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan IWAPI Pusat, hingga Komisaris di 3 perusahaan.

Tidak salah bila Fortune memilih Nita sebagai pemimpin wanita di Asia untuk mengikuti IWLMP. Di Amerika Serikat, Nita berkumpul bersama 16 pemimpin wanita lainnya. Diantaranya dari Ukraine, Kenya, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Afrika, Bangladesh, Bolivia, dan sebagainya.

Laura Bush Dan Hillary

IWLMP baru pertama kali diadakan. Program ini menjadi kegiatan tahunan, kerjasama Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Fortune Magazine untuk mencari pemimpin wanita berkualitas. Yaitu wanita muda yang sukses memimpin perusahaan, aktif di kegiatan sosial, punya perhatian yang besar pada dunia pendidikan dan kesehatan, serta punya visi misi bagi keberhasilan para perempuan. Proses seleksi dilakukan setiap Kedutaan Besar AS.

Dari 30 wanita pilihan, Lulusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management, Oklahoma City University ini lolos mewakili Indonesia sekaligus wakil Asia. Sejak tanggal 29 April hingga 28 Mei Nita dididik menjadi leader dan mentor yang handal.

“Hari pertama kita dibawa ke Wasingthon DC bertemu Laura Bush (Istri Presiden AS George W. Bush). Sebelumnya kita diterima empat staf ahli White House dan kepala security yang semuanya perempuan,” cerita Nita bangga.

Ia mendapat ‘ilmu’ tentang kepemimpinan wanita di Gedung Putih. “Mereka dipilih karena punya kriteria peran ganda.  Sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai pemimpin yang bisa membagi waktu, melobi dan memimpin karyawan tanpa emosional,” ujar Nita.

Di kesempatan ini Nita memberi kenang-kenangan buku kuliner Taste of Indonesia yang dibuat IWAPI. Sore hari, Nita berkunjung ke Departemen Luar Negeri AS.

“Di Deplu justru lebih ketat. Handphone dan kamera tidak boleh masuk. Ternyata ada Menteri Luar Negeri Concolezza Rice,” cerita Nita antusias.

Nita memperoleh pengetahuan tentang kriteria menjadi pemimpin dunia, tentang kerjasama dan kemitraan. “Dia bilang woman can change the world. Wow, hebat sekali,” ujar Nita.

Hari kedua, Nita diajak bertemu Kay Bailey Hutchison. Senator perempuan pertama dari Texas. Barulah esok harinya Ibu dua anak ini bertemu Hillary Clinton.

“Begitu Hillary lihat buku Taste of Indonesia, dia langsung komentar, ‘I love Indonesia’. Dia senang sekali bahkan mengirim ucapan terima kasih lewat surat setelah saya pulang,” cerita Nita. Di akhir pekan Nita bertemu Menteri Tenaga Kerja bersama 5 staf ahli yang semuanya juga perempuan.

“Mereka semua pemimpin hebat. Punya visi misi kuat bagi keberhasilan wanita. Hebatnya, meski Laura, Hilarry dan Rice sibuk dengan urusan pekerjaan, mereka selalu tekankan bahwa secara kodrat, wanita adalah Ibu bagi anak-anak, dan istri bagi suami. Dua tanggung jawab ini harus berjalan seimbang,” ujar Nita penuh keyakinan.

Anti Perokok

Mengenal Nita, tidak akan lepas dari aktifitasnya mengkampanyekan gerakan anti rokok. Sejak dilantik menjadi ketua WITT tahun 2004, disetiap kesempatan, Nita  selalu mengingatkan orang bahaya merokok. Ia selalu meminta orang tidak merokok atau berhenti merokok.

“Kerja WITT dimulai dari scope terkecil, yaitu keluarga. Kalau Ibu Bapaknya perokok, dan anak-anaknya di ajak merokok oleh lingkungannya, pasti tidak akan menolak. Berbeda kalau keluarga yang tidak merokok. Pasti anak-anaknya akan batuk-batuk kalau ada yang merokok. Dia akan menghindar dengan sendirinya. Dan saya himpun ibu-ibu bergabung di WITT karena Ibu adalah panutan keluarga. Ia yang selalu dilihat dan ditiru anak-anak. Kalau ibunya kurang benar, anak pasti terkontaminasi diluar. Jadi, kunciya adalah Ibu,” tegas wanita kelahiran 22 Juni 1964.

Kerja keras Nita berbuah manis. Perda No.22 tahun 2005 dan Pergub 75 tahun 2005 disyahkan. Masyarakat dilarang merokok di tempat-tempat tertentu.

Mendapat dukungan, WITT gencar mengadakan kegiatan dan penyuluhan setiap bulan. Sasarannya dari murid SD hingga Perguruan Tinggi.

“Sejak tanggal 3 Februari 2006 kita jadi Mitra Pemda. Kita berhak menegur orang yang merokok tidak pada tempatnya. Kita berhak menjadi penyuluh agar mereka merokok pada tempatnya. Kita juga dapat kartu khusus dari Pemda untuk mengkampanyekan gerakan anti rokok,” ujar Nita bangga.

WITT juga mencari payung serba berguna. “Karena merokok berkaitan dengan Narkoba, kita kerjasama dengan BNN. Kita masuk ke Kapolri dan minta biikin MOU agar bisa dimekar ke daerah-daerah,” ujar Nita. Ia berniat membuka cabang Yogyakarta, Surabaya, Bandung dan Manado.

Khusus untuk kader-kader WITT, Nita membuat pelatihan khusus yang baru saja diadakan di The Peak Apartement bulan Agustus lalu.

“Kita butuh pasukan lebih banyak yang tidak hanya Ibu-ibu dan perempuan. Tetapi harus ada kader yang laki-laki. Sekarang ada 60 murid dari SMP hingga Mahasiswa. Mereka siap jadi kader WITT.

Life Style Yang Berbahaya

Nita selalu memotivasi wanita untuk tidak merokok. “Bahayanya banyak sekali,” tegas Nita.

“Di dalam rokok ada 4000 bahan kimia yang berbahaya. Perokok wanita bisa terkena kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker gusi, kanker lidah, dan banyak sekali. Juga oesteoporosis, jantung dan bronkhitis. Penampilan juga kena imbasnya, muka cepat keriput, kuku kuning, gigi kuning, bibir hitam, tidak cerah dan lebih tua, tidak segar dan mulut berbau. Perokok wanita  lebih emosional karena mereka penuh ketergantungan,” ujar Nita

Merokok kerap dianggap sebagai lifestyle. Iklan televisi, menurut Nita, sering menjerumuskan wanita sebagai pecandu. “Iklan rokok itu pintar. Dia bikin rokok slim dengan warna yang sejuk, putih dan biru muda dengan kadar tar yang rendah juga rasa mild yang ringan. Ini sangat mempengaruhi pergaulan. Dianggap life style padahal salah besar,” tegas Nita bersemangat.

Tanpa kenal lelah, Nita mulai membidik Mal-mal di Jakarta untuk mengkampanyekan anti rokok.

“Kita buat road show Mal to Mal. Kita hadirkan Gubernur Sutiyoso dan beberapa selebritis. Kita sosialisasikan perda tersebut. Bukan melarang tapi kita hanya menempatkan para perokok di ruangan-ruangan khusus. Smoking Area yang harus menempel pengumuman bahaya merokok,” ujar Nita lagi.

“Semoga kegiatan ini mampu menyadarkan kita sehingga kita bisa menyelamatkan generasi bangsa. Karena dari merokok seseornag bisa terkena Narkoba dan HIV,” lanjut Nita tak kenal putus asa.

Aien Hisyam

*wawancara 5 September 2006*

October 13, 2012 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Vivit Arivianti Arifin

“Aku Bersyukur Meski Dua Anakku Meninggal”

 

            Kalau boleh meminta, tentu Vivit saja tidak ingin kehilangan dua anaknya. Berkat keikhlasan dan kesabaran, ia justru diberi kenikmatan yang lain, sukses membesarkan bisnis Baby Born face Video Clip.

 

Di teras yang sama Vivit menerima WI. Ada satu perbedaan mencolok di wajah Ibu muda ini. Ia tampak lebih segar dan bercahaya.

“Oh iya, dulu kita ketemuan aku baru saja kehilangan anak keduaku. Nah, sekarang aku sudah punya Kenzie,” ujar Vivit dengan nada bahagia.

Vivit kemudian berdiri dan menghilang di balik pintu. Tiga menit kemudian ia muncul, “wah sayang, Kenzie lagi tidur. Tapi nggak apa-apa, nanti setelah wawancara pasti dia sudah bangun,” kata Vivit yang ingin sekali memperlihatkan anak ketiganya, Muhammad Kenzie Danendra, 1,2 tahun.

Vivit bercerita panjang lebar tentang kebahagiaannya dikaruniai Kenzie. Anak ketga yang semata wayang, yang amat diharapkan.

“Aku selalu berpikir positif bahwa Allah punya rencana besar padaku. Kenapa dua anakku terdahulu begitu cepat diambil dari hidupku, dan kenapa baru sekarang aku bisa bernafas lega punya anak yang sangat aku harapkan. Ini semua bagian dari skenario Allah pada hidupku. Termasuk bisnis Baby Born Face yang aku rintis dan kini berkembang dengan luar biasa. Aku selalu bersyukur,” kata Vivit Arivianti Arifin, 29.

Seolah Berbicara Pada Anak

Kehadiran si Kecil dipandang Vivit sebagai anugerah-Nya yang terindah dalam hidupnya, juga semua pasangan laiinya. Baginya, sayang sekali bila momen itu terlewati begitu saja.

“Aku benar-benar merasakan momen indah itu setelah kehilangan anak keduaku, Rayhan Syahandra. Dia lahir setelah aku mulai bisnis ini. Semua yang terjadi di awal kehidupannya terekan dengan indah dalam video. Aku yang edit sendiri. Sayangnya Tuhan langsung mengambil anakku. Tentu saja aku sedih. Tapi hingga kini aku masih merasakan bahwa Rayhan ada disisiku. Aku bisa melihat wajahnya meskipun hanya melalui video rekaman,” ujar Vivit.

Kenangan itu menjadi bagian terindah dalam hidup Vivit. Sejak itulah ia serius mengembangkan bisnis Baby Born Face Video Clip (BBFVC).

“Semua orang tua pasti ingin mengabadikan momen indah itu. Dan, momen itu hanya sekali seumur hidup. Tidak bisa diulang lagi. Jadi sayang dilewatkan,” kata istri pengusaha Abdhy P. Azis.

Bisnis ini memang barus dimulai Vivit sejak pertengahan tahun 2002, menjelang kelahiran Rayhan Syahandra. Vivit berinisiatif membuat rekaman videonya. Namun, kali ini dia menggunakan format yang agak berbeda. Dia mulai membuat satu cerita skenario untuk persiapan kelahiran bayinya.

”Saya mempersiapkan cerita itu seperti mengemas infotainment. Mulai wawancara dokter, orang tua si bayi, hingga wawancara kakek neneknya,” urai Vivit.

Rekaman juga dilengkapi dengan kegiatan pasangan muda ini ketika mengunjungi dokter untuk periksa USG, upacara 7 bulanan (akekahan atau mitoni), senam hamil, berburu pernik-pernik si kecil di mall dan banyak lagi. Paling tidak ada pertemuan empat kali.

Tidak Ada Bekas Anak

Di dalam rekaman berdurasi singkat 20 menit atau 40 menit itu, para ‘narasumber’ berbicara di depan kamera. Mereka seperti berbicara pada anaknya.

“Bukankah pernyataan itu akhirnya untuk anak juga. Anak harus tahu bagaimana perasaan orang tua dan orang-orang terdekat dalam hidupnya ini tentang dirinya. Anak juga harus tahu bagaimana pengorbanan ibunya saat melahirkan agar selalu tetap mencintai, menghormati, dan melindungi sepanjang hidupnya. Bukankah tidak pernah ada istilah bekas anak. Walaupun orang tuanya bercerai, anak ya tetap anak,” ujar Vivit.

Nampaknya Vivit kini tengah menikmati kesuksesannya. Di bawah bendera Creator Visual Sejahtera. Hampir setiap hari ia terima order, minimal 2 klien. Vivit bahkan sudah menjalin kerjasama dengan 12 Rumah Sakit terkemuka di Jakarta. Paling tidak, setiap hari kru BBFVC – yang semuanya wanita – mengambil gambar satu kelahiran.

“Kru harus siap 24 jam. Bukankah Peristiwa kelahiran tidak seperti acara pernikahan yang bisa ditunda-tunda. Kalau memang sudah waktunya, yah harus dikejar. Jadi kalau misalnya klien sudah masuk Rumah Sakit, paling tidak 5 menit kemudian, kru kami sudah datang. Mereka akan ikut semua proses kelahiran, dan mensyut dari dekat,” kata Vivit yang mengaku lega karena dokter-dokter di Rumah Sakit dengan senang hati mau bekerjasama.

Menurut dia, yang paling seru adalah saat menjelang kelahiran. Kru yang terdiri atas dua orang harus stand by meski baru bukaan dua. “Mereka tidak boleh pulang meski itu tengah malam atau dini hari. Padahal, bukaan dua itu bisa bertahan dua hari,” terang anak kedua di antara dua bersaudara itu.

Semua peristiwa itu direkam dengan manis oleh para kru BBFVC. Di edit dengan rapi, diberi gambar-gambar visual yang menarik, diisi lagu-lagu lembut yang disukai kedua orang tuanya, juga diberi kata-kata yang menyentuh. Ada pula suara narator yang membacakan penggalan-penggalan kalimat indah.

“Kalau klien pilih paket B yang 40 menit, jauh lebih lama. Bisa memuat lebih banyak peristiwa,” ujar  lulusan London School of Public Relation.

Lebih Human Interest

Vivit menawarkan beberapa paket untuk dokumentasi tersebut. Dokumen yang berdurasi 40 menit dalam bentuk VCD atau DVD seharga Rp 4 juta. Paket itu berisi wawancara ke dokter, syuting dalam ruang bersalin, dan kegiatan selama masa kehamilan. Selain itu, klip senam dan belanja keperluan bayi.

Klip yang berdurasi 20 menit dalam bentuk VCD seharga Rp 2 juta. Berisi rekaman di ruang bersalin dan wawancara dengan keluarga. Ada pula paket baby face. Paket ini berupa foto yang mendokumentasikan sewaktu berada di ruang bersalin. Untuk album kecil, harganya Rp 550 ribu dan album besar Rp 1,1 juta.

Album itu juga terdiri atas cerita dari pasangan ketika sama-sama masih kecil, dewasa, pacaran, sampai akhirnya menikah dan melahirkan bayi.

Bisnis yang dirintis Vivit memang pertama kalinya di Indonesia. Untuk menjaga kreatifitasnya agar tidak ditiru orang lain, wanita asali Jawa Timur ini mendaftarkan karyanya ke Departemen Kehakiman untuk mendapat hak cipta.

“Lega rasanya begitu suratnya keluar. Sekarang aku tidak cemas lagi kalau ada yang nekat meniru bisnis ini bisa dikanai sangsi hukum,” kata ibu tiga anak, Talitha Sadiya, Rayhan dan Kenzie.

Vivit mengaku karyanya itu orisinal meski sebenarnya ada tayangan Dicovery Channel yang merekam kelahiran bayi dari sisi medis. “Memang, ada tayangan semacam itu. Namun, itu lebih menunjukkan cara-cara melahirkan dengan mudah dengan upaya medis, sedangkan saya lebih ke human interest-nya,” urainya.

Aien Hisyam

*wawancara 14 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo

Another Time Competitors Can be Partners

Ia pioner web design di Indonesia. Juga penggagas kompetisi bergensi di Indonesia khusus untuk para disainer. Lantas, apa yang masih dicari wanita cantik dan sukses bernama lengkap Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo ini?

Baru dua bulan Shinta menempati kantor barunya di kawasan Mendawai- Kebayoran Baru. Rumah dua lantai itu didesain milimalis. Dinding hanya dihiasi beberapa lukisan yang didominasi warna oranye mencolok. Berpadu serasi dengan warna tembok yang abu-abu.

“Kali ini kantornya benar-benar aku disain sesuai keinginanku. Simpel dan tidak banyak ornamen. Khusus untuk ruang kerja, semuanya ada di lantai dua. Biar terjaga privacynya,” ujar Shinta dengan mata berbinar.

Uniknya, kesan simpel justru tidak terlihat di ruang kerja Shinta yang berada di salah satu sudut ruangan. Ia justru bermain dengan warna-warna gelap dan interior bergaya Eropa.

“Hahaha, biar ada suasana yang beda aja, tidak monoton, dan bisa membuat kerja lebih bergairah,” kata Shinta sambil tertawa lepas.

Sebagai pekerja kantoran yang lebih banyak berkutat dengan komputer juga ide-ide segar, tentu saja Shinta butuh tempat kerja yang nyaman. Pemandangan itulah yang nampak di kantor PT.Bubu Internet saat ini.

One Stop Solution

Bulan Juli tahun ini, usia Bubu genap sepuluh tahun. “Tidak terasa yah? Aku tahunya, Bubu ulang tahun setiap bulan Juli. Tanggalnya sih lupa. Dan sekarang, umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah ABG,” ujar Shinta dengan wajah cerah.

Sejauh ini, diakui Shinta, ia sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Bubu Internet. Apalagi, sebagai CEO sekaligus pemiliknya, Shinta harus lebih kreatif menciptakan hal-hal baru.

“Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin membutuhkan Web Page yang baik agar bisa berkompetisi dengan para pesaingnya di negara-negara lain. Nah, mereka bisa melakukan aktifitas bisnis di Internet. Sebagai Web Develompment company, Bubu.Com fokus melayani designing webpages, intranet solution, e-commerce, networking solution, internet marketing and training,” jelas Shinta.

Shinta menyebut usahanya sebagai one stop solution untuk web development.

Jadi kalo ada perusahaan yang ingin ada presence di internet, Bubu bisa membantu dari mendesain situs, hosting, dan sampai me”marketing”kan situs web dalam bentuk pembuatan banner dan mendaftarkan di dalam search engines juga. Bubu juga mengembangkan web programmings yang didevelop tailor made to suit the clients’ needs,” kata ibu dua putra ini antusias.

Shinta juga aktif menjadi pembicara tentang internet di acara seminar disejumlah sekolah dan universitas bergengsi.

Ditanya tentag kompetitor yang sekarang kian menjamur di Indonesia, dengan bijak Shinta mengatakan, “everyone can be competitors but on another time competitiors can be partners. Saya adalah believers dari stategic alliance. We can always try to partner or alliance with any one dimana kita akan bisa menonjolkan kemampuan dari masing2 pihak. Never thought of you guys that way. Just wondering, is that how you guys feel about us, since you asked the question? Hope not,” ujar lulusan University of South Australia yang kemudian mengambil gelar master of business Administration di Portland State University, Portland, Oregon, USA, dan memperdalam ilmu Arsitektur dan Interior di University of Oregon di Eugene-USA.

Nama Anjing Kesayangan

Ketika pertama kali mendirikan perusahaan ini, Shinta mengaku bingung akan memberinya nama apa.

“Tiba-tiba aku ingat anjing kesayanganku. Bubu itu memang nama anjingku. Tetapi aku pakai nama itu karena sangat simpel, mudah diingat and because it sounds so funny it will stick in your mind,” ujar Shinta sambil tersenyum.

Lahir di Jakarta tanggal 18 Januari, Shinta dibesarkan di Manila, Filipina. Tujuh tahun ia habiskan berkuliah di Amerika. Berbekal pengalaman yang sangat beragam, Shinta kemudian mendirikan Bubu. Di perusahaan yang hanya berpegawai 25 orang ini, Shinta menjadi CEO sekaligus founder dan shareholder.

Berkat hasil kerja kerasnya, Bubu kini dipercayai lebih dari 70 klien.

“Untuk perusahaan seperti BuBu, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebersamaan atau team work antara setiap individu di perusahaan. Fleksibilitas dimana perusahaan dapat bereaksi terhadap permintaan pasar dan bukan memaksakan diri kepada pasar. Sedangkan kebersamaan melahirkan kemampuan yang terkoordinasi untuk melayani permintaan klien yang pastinya sangat variatif,” ujar peraih sejumlah penghargaan diantaranya Executive Women 2001, Young Modern Hero of Indonesia dari Hard Rock FM, 10 Young and Creative Individuals dan Lucky Strike Award.

Namun dari sekian banyak prestasinya, ada satu kebanggaan yang membuat nama Shinta kian bersinar, yaitu Kompetisi Bubu Award.

Bubu Awards adalah kompetisi web design yang diklaim paling bergengsi di Indonesia. Diadakan setiap Bubu Internet sejak tahun 2001. Setiap tahun ada tema khusus yang diperlombakan, semisal tema Pariwisata Indonesia (Indonesian Tourism) yang menjadi tema Bubu Award tahun 2005.

Bubu Awards selalu mengundang puluhan nama terkenal yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri untuk menjadi juri serta menggandeng Ernst and Young sebagai tabulator resmi . Adapun beberapa kategori atau kelas yang bisa diikuti dalam Bubu Awards. Mulai dari Individual, Corporate, dan People’s Choice Awards: Best Web Celebrities Awards and Best Blog Awards.

Dan yang paling membanggakan, mulai tahun 2005 Bubu Awards terpilih sebagai perwakilan World Summit Award di Indonesia. World Summit Awards adalah kontes global untuk pemilihan dan mempromosikan e-contents dan application terbaik di tingkat dunia yang didukung oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UNESCO, International Telecommunication Union, United Nations Information and Communication Technologies Task Force, dan Ministry of Industry & Commerce Kingdom of Bahrain.

Aien Hisyam

*wawancara 10 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Leticia Paramita

Setiap Buka Mata, Pasti Ada Batu Baru

Setelah Ayahnya meninggal, Leticia mewarisi Lembaga Pendidikan Batu Permata satu-satunya di Indonesia. Ia berupaya memadukan dua sistem pendidikan, yang lama dan yang baru.

 

Dan itu tidak mudah,” kata Leticia. Namun, berbekal ilmu, pengalaman, dan ide kreatif, perlahan-lahan Institut Gemology Paramita (IGP) berkembang. Leticia berhasil membawa perbaharuan.

Dengan tegas, Leticia mengatakan bahwa ilmu gemologi tidak kalah pentingnya dengan bisnis perhiasan itu sendiri. Dengan kecintaannya yang tinggi, Leticia yakin bahwa lembaga yang telah berusia 12 tahun itu tetap diminati banyak orang. Ia harus tetap mempertahankan sampai kapan pun.

Tidak Mau Ada Yang Tertipu

Banyak yang bertanya tentang ilmu gemologi. Dengan sabar, Leticia selalu menjelaskan ilmu langka ini pada siapapun yang bertanya. ”Ini ilmu yang mempelajari teknik identifikasi, klasifikasi, dan penilaian terhadap kualitas batu permata,” jelas wanita kelahiran 12 Januari 1978.

Boleh dibilang, Leticia sangat mengenal ilmu tersebut. Ia sempat menuntut ilmu gemolog di Gemological Institute of America (GIA) di Bangkok, Thailand.

“Tapi sebenarnya, terjun di dunia ini juga tidak sengaja. Karena, dulu cita-cita saya bukan di bidang ini,” ujar Leticia, tersenyum.

Diceritakan Letis –sapa wanita cantik ini-, ketikaIGP berdiri tahun 1989, ia masih berusia 11 tahun. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan Ayahnya, (alm) Mahardi Paramita. Begitu pun ketika remaja, ia tidak tertarik dengan ilmu yang telah ditekuni Ayahnya ini, membuat Letis tidak tertarik mempelajarinya.

Lulus sekolah pun, Letis masih memilih bidang humas untuk ia tekuni. Dia kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Bekerja pun Letis masih memilih perusahaan lain, dan ia menjadi marketing di dua perusahaan.

Hatinya tersentuh manakala Ayahnya yang sudah tua akhirnya meminta Letis untuk mempelajari ilmu gemologi. Mahardi ingin sekali membimbing Letis untuk memperdalam ilmu gemologi. Mendengar permintaan tulus Ayahnya, akhirnya hati Letis tersentuh. Dia mau menerima tawaran sekolah di Bangkok, di tahun 2002.

Di sekolah batu permata yang bersertifikat internasional ini, Letis sekolah bersama adiknya, Delfina Paramita, selama delapan bulan.

”Setelah sekolah di sana, saya semakin tahu dan cinta pada ilmu ini. Ilmu ini belum banyak berkembang di Indonesia, jadi belum banyak gemolog di negara kita,” ujar istri Eddy Karmana.

Tekat Letis, ia ingin masyarakat Indonesia kian paham tentang batu permata. Ia prihatin dengan proses penaksiran batu permata yang kerap hanya didasarkan pada dugaan. “Jadi, banyak orang yang terkena kasus penipuan. Nah, saya tidak ingin hal itu masih terjadi di masa akan datang,” tegas Letis.

Susah Dipelajari

Diakui Letis, ilmu gemologi sangat unik.

‘Bagi saya, sangat menarik, karena kita tidak akan habis-habisnya mempelajari jenis batu-batuan. Batu mulia itu kekayaan alam yang diciptakan Tuhan untuk dinikmati karena keindahannya. Begitu banyak, sampai-samai bisa kita umpamakan, setiap buka mata pasti ada batu-batu baru yang muncul,’ kata Letis.

Meski kecil bentuknya, diakui Letis kalau batu-batu permata itu punya nilai yang tak bisa diukur. ‘Kalau kita mendapatkan batu kualitas kelas satu, nilainya bisa lebih mahal dari harga mobil atau rumah loh. Jangan lihat ukurannya. Karena permata itu kita sebut portable wealth, yaitu mudah dibawa kemana-mana tapi nilainya sangat tinggi,” ujar Letis.

Mempelajari batu permata pun tidak mudah. Seperti yang terjadi di kelas favorit Diamond Grading. Diceritakan Letis, kelas yang harus diikuti selama 10 kali pertemuan ini –masing-masing selama 3 jam-, mempelajari cara menentukan 4C dari berlian, yaitu color, cut, clarity, dan carat.

“Butuh ketelitian yang tinggi untu menentukan 4C ini. Makanya, belajarnya juga lama,” ujar Letis, tertawa lepas.

Kelas lain yang tidak kalah peminatnya, adalah kelas yang memberi pelajaran tentang mengenali karakteristik dan mengidentifikasiikan batu permata berwarna. “Dengan memiliki ilmu ini, kita bisa terhindar dari kecurangan dan kesalahan dalam jual beli batu permata,” tegas ibu satu putra ini.

Agar ilmu gemologinya mudah diserap, IGP membatasi siswanya hanya sekitar 2 hingga 10 orang saja.  “Peminatnya sangat beragam. Mulai dari pemilik toko perhiasan, penggemar perhiasan, pengacara, dampai ibu rumah tangga. Bahkan ada wisatawan asing yang berlibur di Indonesia ikut kelas di IGP.

Harus Sabar

Setelah menyandang gelar Graduate Gemologist, Letis ikut mengajar di IGP. Menjadi pengajar, dikatakan Letis sebagai pekerjaan yang menantang.

“Disini, banyak fasilitas yang kita sediakan. Selain buku teks untuk panduan, ada pula berbagai contoh batu permata dan berlian asli untuk latihan,” kata Letis. Saat mengajar ia harus satu persatu menemani siswa agar hasil yang didapat maksimal.

Siswa juga dapat menggunakan laboraturium, seperti mikroskop, refraktometer (alat pengukur indeks bias batu), leveridge (alat pengukur dimensi batu), hingga dichrooscope (alat untuk melihat sifat batu).

Menghadapi siswa yang beragam usia dan latar belakang, kata Letis, butuh kesabaran yang tinggi.

“Ada yang ngotot maunya belajar D, padahal dia belum belajar yang A dan B. Jadi kita harus sabar memberikan pengertian pada mereka bahwa untuk mendapat ilmu yang itu, kita harus belajar yang ini dulu. Karena belajar batu permata itu tidak bisa instan. Tapi, sekarang di IGP kita sudah punya kurikulum-kurikulum yang memang sesuai kebutuhan,’ ujar Letis.

Ide membuat kurikulum baru itu didapat Letis selama sekolah batu permata di luar negeri. Kini ada kelas gemologi dasar, mutiara, desain perhiasan, hingga kursus pendek khusus batu delima, safir, dan zamrud.

‘Kita buat kelas-kelas ini karena minat orang itu beda-beda. Dan kita berusaha mengakomodasi keinginan tersebut,” jelas Letis.

Selain IGP, di gedung sama juga terdapat Adamas Gemological Laboratory (AGL) yang didirikan Ayah Letis tahun 1983.  AGL adalah laboratorium untuk pemeriksaan dan sertifikasi batu permata. Dengan adanya sertifikat pada setiap batu permata, hal itu akan berpengaruh pada harga jual batu tersebut.

 


Dari Mata Turun Ke Hati

Batu permata itu unik. Begitu uniknya, sampai Letis pun dibuat jatuh hati pada batu-batu mungil ini.

‘Saya bersyukup papa memperkenalkan ilmu ini pada saya,’ ungkap Letis. Wajah Letis terlihat sendu. Itu karena beberap abulan silam, ayahnya meninggal dunia.

Kata Letis, ayahnya seorang inspirator terbesar yang sangat sabar, tidak otoriter, dan sahabat yang baik. Ayahnya juga sangat demokratis dan selalu berusaha mengerti point of view anak-anaknya –kebetulan tiga putri Mahardi terjun langsung membesarkan IGP dan AGL-, baru kemudian memebrikan pendapat.

‘Kata-kata papa banyak sekali yang masih terekam dalam ingatan saya, Kata-kata yang saya ucapkan saat mengajar, sama dengan kata-kata yang selalu beliau tuturkan. Jadi saya sulit sekali melupakan Papa,’ ujar Letis sambil menghela nafa panjang,

Letis pun yakin, siapapun yang serius mempelajari ilmu gemologi, ia akan dibuat jatuh cinta. ‘Jadi cinta itu turun dari mata ke hati,’ kata Letis, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

March 19, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pendidik | 7 Comments