Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

Advertisements

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Vivi Vinata Guizot

Operasi Penuh Cinta

Bagi Vivi, bahagia adalah, ketika suatu hari pasien-pasiennya bisa tersenyum lagi, punya semangat hidup dan meningkat kualitas hidupnya.

 

Anak itu baru 9 tahun. Separuh wajahnya rusak akibat luka bakar. Vivi tertegun.

“Ya Tuhan, semoga usaha ini berjalan dengan lancar,” Vivi berdoa dalam hati. Doa yang sama, yang selalu ia ucapkan ketika tangannya mulai memegang pisau bedah.

Setelah dua kali operasi, pasien kanak-kanaknya itu mulai ‘berubah’. Wajahnya kembali normal.

“Kemarin, dia bilang, ‘dokter, terima kasih,” suara Vivi terdengar haru, “dan kalau tidak ada halangan, satu kali operasi lagi wajahnya sudah pulih kembali. Seperti sediakala.”

Menjadi Normal

Sejak kecil, Vivi bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah plastik. Bukan karena penghasilannya yang besar. Dan bukan pula karena jumlah dokter bedah plastik di Indonesia yang sangat sedikit.

“Waktu SMA, saya perhatikan kakak saya ada kekurangan sedikit di wajahnya. Matanya kecil satu,” kenang Vivi Vinata Guizot. Saat itu ia masih kelas 2 SMP.

Hatinya sedih melihat kakak perempuannya sering mengurung diri, enggan bertemu orang lain, dan selalu menghindar bila disapa.

“Terus, sekitar tahun 1989, dia dioperasi plastik di Singapura. Setelah operasi, dia percaya diri sekali. Kepribadiannya jadi sangat menarik dan bisa bergaul dengan normal,” lanjut Vivi.

Sejak itulah Vivi bertekad memperdalam ilmu bedah plastik.

“Saya ingin mengembalikan yang tidak normal menjadi normal, sampai jiwanya juga kembali normal. Yang tadinya pemalu, setelah normal, self esteem-nya meningkat. Itu yang jadi alasan kuat saya kenapa memilih jadi dokter bedah plastik,” kata Vivi yang Ayahnya juga seorang dokter di Bali.

Punya Sense of Art

Hingga kini, jumlah dokter spesialis bedah plastik di Indonesia hanya berkisar 50 orang.

“Itupun tidak menyebar dengan merata. Ada bagian yang tidak ada dokter plastik. Sebagian besar ngumpul di Jakarta. Padahal, banyak yang membutuhkan dokter plastik,” kata wanita kelahiran Denpasar tanggal 15 Juli 1974.

Untuk memperdalam ilmu bedah plastik-pun, di Indonesia hanya tersedia dua Universitas saja. Di Universitas Airlangga (Unair) dan di Universitas Indonesia (UI).

Barulah setelah lulus SMA Negeri 1 Bali, Vivi melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Unair. Lulus tahun 1998, ia masih mengikuti PPT di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Setelah itu saya coba-coba mendaftar ke spesialis bedah plastik. Tesnya susah sekali, karena kita sangat kompetitif. Waktu itu dari 16 orang yang diterima hanya 2 lulus tes. Tes-nya di UI. 16 orang itu sebenarnya juga dari proses penyeleksian yang ketat. Bisa jadi yang daftar ratusan,” Vivi menerangkan.

Banyak tes yang harus dilalui. Mulai dari tes pengetahuan, tes menggambar proporsi wajah orang, menggambar perspektif, psikotes, hingga wawancara.

“Kita (dokter bedah plastik) harus punya sense of art. Bisa menggambar dari depan, samping kanan dan kiri. Karena, sebelum dokter melakukan pembedahan, dia harus bisa menggambar bentuk wajah dan badan dengan baik,” ujar wanita yang tengah hamil 5 bulan.

Luruskan Kaki Bengkok

Tugas pertama Vivi di awal kuliah adalah mengoperasi bibir sumbing di RSCM.

“Pasienku, dua-duanya perempuan. Umur 4 tahun dan 6 bulan. Awalnya, deg-degan juga. Tapi setelah berdoa, dan semua berjalan dengan lancar, syukurlah, akhirnya bibir mereka bisa puilh kembali. Bahkan terlihat normal. Operasinya cuma setengah jam sampai 45 menit, tapi bisa merubah hidup orang luar biasa,” ungkap Vivi.

Vivi jadi ‘ketagihan’ mempercantik wajah orang. Setiap ada ajakan mengoperasi bibir sumbing, tidak pernah ia tolak.

“Saya senang merubah dan merawat pasien. Dari yang jelek banget sampai di operasi, jadi cantik. Ada juga yang kakinya bengkok karena luka bakar, saya rawat sampai lurus lagi. Itu luar biasa,” ujar Vivi dengan nada bahagia.

Sikap keluarga pasien yang sangat apresiasi, juga membuat Vivi semakin cinta pada pekerjaanya.

“Keluarga pasien sangat apresiet. Bahkan sampai bertahun-tahu masih ingat sama aku. Luar biasa. Kadang-kadang mereka mampir ke RSCM hanya untuk say hello. Mereka bilang kalau sekarang anak mereka sudah bagus, sudah cantik. Saya menyelamatkan quality of life seseorang. Wah senang sekali,” katanya.

Banyak ilmu yang kini tengah dipelajari Vivi.

“Sebagai dokter pemula, ia harus bisa cangkok kulit. Misalnya ada luka yang besar dan lebar, ia harus bisa menyeset kulit tipis sekali dari paha sebelah, nempel di sebelahnya. Terus operasi bibir sumbing yang sederhana. Itu yang pertama kali harus dikuasai. Setelah itu mulai deh rekonstruksi-rekonstruksi yang lebih sulit,” ujar Vivi.

Kelak, ia harus bisa melakukan bedah plastik yang tingkatannya sangat tinggi. Seperti operasi face off yang dilakukan dokter-dokter senior pada Dini di Bandung.

“Itu tahap yang paling tinggi. Di Indonesia hanya sekitar 3 dokter saja yang bisa lakukan bedah mikro. Tak hanya sekedar menempel. Dokter harus bisa menyambung semua pembuluh darah supaya barang yang baru ditempel itu dapat nutrisi. Kalau nggak kulit akan mati, kering dan tidak ada berfungsi lagi. Syaraf juga disambung supaya nantinya dia bisa gerak. Itu operasi yang luar biasa,” kata wanita yang hobi diving dan surfing.

Mancungkan Hidung

Vivi justru tidak tertarik memasuki wilayah bedah estetik, walaupun lebih ‘menguntungkan.

“Karena orang yang sudah normal pingin menjadi lebih cantik lagi. Kasusnya paling sering di Indonesia mata dan hidung. Hidung orang Indonesia itu kan tidak mancung. Umumnya mereka ingin dimancungkan. Juga Matanya oriental itu kan sipit. Banyak yang pingin digedein,” ujar Vivi.

Bedah yang ingin Vivi tekuni adalah bedah rekonstruksi.

“Misalnya bedah trauma wajah. Patah-patah tulang wajah. Rahang patah beberapa tempat. Atau patah frame-nya mata, juga tulang hidung. Itu operasinya sangat luar biasa. Artistik sekali. Wajah dibuka dan disusun lagi satu persatu. Itu salah satu operasi besar di bidang bedah plastik. Buatku sangat menantang,” kata Vivi yang kini bekerja di RSCM Jakarta. Kelak ia berencana pindah ke Bali untuk mengabdikan hidupnya sebagai dokter bedah plastik di tanah kelahirannya.

Aien Hisyam

 *wawancara 25 September 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment

Yulianti Setyohadi

Hobi Yang Jadi Profesi

 

            Yuli merubah imej hidupnya lewat lukisan. Bermula dari hobi, kini  ia menjadi art dealer sekaligus event organizer khusus painting exhibition.

Di gedung yang sama, Yuli Setyohadi menyewa dua ruangan Di lantai tiga, ia fungsikan sebagai kantor dan kelas melukis khusus anak-anak. Di lantai dua, dengan ruang yang lebih luas, ia gunakan sebagai galeri. Ada 50 lebih lukisan yang dipertontonkan.

“Saya selalu tertarik ke hal-hal yang indah. Lukisan adalah satu hal yang indah. Indah dilihat, juga indah dikoleksi. Lukisan, ditaruh di tempat manapun, selalu membarikan keindahan pada ruangan itu. Selalu bisa dinikmati, karena lukisan sebagai penujang interior, bisa juga menjadi penyejuk hati dikala suasana hati bergejolak,” kata Yuli bersemangat.

Senang Yang Indah

Siang itu Yuli terlihat santai. Celana pajang dipadu tanktop warna senada coklat tua, membungkus tubuhnya yang ramping. Beragam asesoris menghiasi kedua tangan dan jari-jarinya.

“Saya senang yang indah-indah,” tegas Yuli.

Maka, tidak pernah sekalipun Yuli keluar rumah tanpa riasan di wajah. Bahkan untuk penampilan, Yuli sangat memperhatikan. Harus cantik dan indah dilihat.

“Tidak seperti seniman pada umumnya. Tetapi, kalau orang bertanya tentang profesi saya, mereka pasti terkejut. Banyak yang mengira saya ini pemain sinetron. Tetapi waktu saya bilang saya ini painting artist, mereka selalu bilang ‘wow!’ Terus mereka tanya ini itu. Tanya melukis apa, sudah berapa lama melukisnya, sampai lukisannya jenis apa, kok bisa tetap eksis. Setelah itu pembicaraan pasti akan mengalir dengan menyenangkan. Itulah yang membuat saya sangat bangga,” ujar Yuli.

Yuli memang lebih senang berbicara tentang lukisan. Tentang aktifitasnya sebagai art lover sekaligus painting artist daripada berbicara dunia gemerlap yang dijalani sebagian teman-temannya.

“Karena melukis bisa merubah hidup kita. Bisa membuat orang  lain senang lewat hasil karya kita. Apalagi kalau lukisan kita dihargai, dibeli dengan harga tinggi. Wah senang sekali,” ujar Yuli bangga.

Pelukis Rumahan

Sejak SMP Yuli gemar membuat sketsa mode. Ia sudah merasa ada darah seni mengalir dalam tubuhnya. Hanya saja, lulus SMA Yuli justru memilih masuk ke Stanford College jurusan Bahasa Inggris dan Komputer. Ia juga menikah muda saat masih berusia 22 tahun.

“Saya jadi tidak punya waktu lagi buat melukis. Setiap hari, waktu saya sudah habis buat ngurusin rumah dan anak-anak. Barulah setelah anak-anak besar, saya coba-coba melukis lagi,” kata Yuli.

Yuli akhirnya menjadi pelukis rumahan. Ia datangkan guru privat untuk melatih kelenturan tangannya saat melukis. Ia juga punya studio khusus tempat menyimpan semua lukisan hasil karyanya.

“Akhirnya saya pikir-pikir, saya punya hobi melukis, kenapa tidak saya jadikan hobi itu sebagai profesi saja. Bekerja di dunia yang saya sukai pasti akan membuat saya enjoy dan tidak terpaksa. Selama ini saya melukis dengan hati. Saya belajar secara otodidak, tidak ambil sekolah lukis. Jadi, melukis sudah menjadi jiwa saya,” kata ibu tiga anak, Adindara, Akbar Gustiana, dan Ameralda Claudia.

Tahun 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, Yuli justru membuka sekolah lukis untuk anak-anak di kawasan Pondok Indah diberi nama Sekolah Lukis Yudhacitra. Ia juga meresmikan EO-nya yang khusus menangani painting exhibition.

Empat tahun kemudian, Yuli kembali membuka sekolah lukis anak-anak di daerah Kemang. Ia juga serius menekuni pekerjaan barunya sebagai art dealer dan penyalur lukisan khusus hotel-hotel berbintang. Jumlah pesanan bisa mencapai 400 lukisan untuk satu hotel.

“Itulah, kalau kita sudah menekuni satu bidang jangan tanggung-tanggung, harus total. Saya seniman yang punya sense of bisnis. Seni lukispun bisa dibisniskan, jadi kenapa tidak kita seriusin,” ujar wanita yang kerap diundang mengikuti acara lelang ini bangga.

Begitupun menjadi art dealer. Menurut Yuli butuh keahlian khusus.

“Karena tidak hanya menjual karya-karya pelukis yang masih ada, tetapi juga dari lukisan-lukisan yang sudah lama dan kuno, atau yang pelukisnya sudah meninggal. Kita punya komunitas sendiri yang bisa mencari lukisa-lukisan tersebut. Seperti lukisan Basuki Abdullah, Affandi sampai Raden Saleh. Dan itu sangat susah sekali. Karena kita harus pakai kurator supaya tahu mana yang palsu dan tidak,” ujar wanita kelahiran 25 Juli 1967 ini dengan mimik serius.

Membicarakan lukisan Raden Saleh yang spektakuler, dahi Yuli langsung berkerut.

“Lukisan Raden Saleh itu hanya ada 9 buah di dunia. Jadi untuk menemukannya, kita benar-benar seperti masuk lubang jarum, Butuh waktu, uang dan pikiran. Itu harganya sudah diatas 5 Milyar. Ada yang di Belanda, di Amerika, dan beberapa Museum. Di Indonesia saja hanya ada 2 orang yang puya salah satunya di Istana,” kata Yuli menerangkan.

Impian Di Apartemen

Satu hari Yuli berjalan-jalan ke Sydney, Australia. Ia masuk ke sebuah galeri. Ia juga sempat singgah di satu mal besar.

“Di galeri itu, semuanya berhubungan dengan dunia seni lukis. Bahkan sampai meja-mejanya semua dilukis. Lalu saya masuk ke mal, di sana ada perangkat makan juga ada satu set meja makan. Semuanya saya sambung-sambungin. Bukan lewat foto, tetapi semua ada diotak saya. Lalu sampai di Jakarta saya aplikasikan ke kertas,” kenang Yuli.

Hasilnya, Yuli menyelesaikan satu lukisan yang indah. Diberi judul “Diantara Waktu Breakfast’.

“Saya merasa bagus sekali, dan ternyata semua orang bilang itu lukisan memang bagus. Saya melukiskan interior disain. Ada meja makan breakfast dengan pernak-perniknya yang unik, cantik dan bagus itu. Terus di samping meja makan itu ada jendela yang terbuka, kita langsung lihat pegunungan. Lukisan itu bahkan pernah masuk di majalah luar negeri.  Dan ternyata waktu saya pamerkan, semua orang appreciated banget,” ujar Yuli yang identik degnan lukisan cat air ini bangga.

Lukisan itu sudah terjual dan dikoleksi penggemar lukisan-lukisan Yuli. Total, wanita cantik ini telah menjual lebih dari 50 lukisan hasil karyanya.

Satu keinginan Yuli saat ini, “mudah-mudahan dalam waktu dekat, tempat workshop saya bisa diresmikan,” ujarnya.

Yuli tengah merancang satu tempat yang kelak ia gunakan sebagai tempat ‘kumpul-kumpul’ para pecinta seni lukis. Ia membeli satu unit apartemen di Bumi Mas Apartment. Di tempat ini ia buat geleri kecil dan tempat workshop yang cozy dan nyaman.

“Supaya kita bisa diskusi dan kolektor bisa lihat lukisannya. Ada ruang home teaternya, ada juga mini barnya. Dan kita akan rutin undang pecinta seni lukis. Kenapa saya plih apartemen, itu karena tempatnya bisa  24 jam saya pakai. Tidak seperti di hotel-hotel yang jam 10 malam sudah harus selesai,” ucap istri Indra Setyohadi ini dengan wajah senang.

Aien Hisyam

*wawancara 13 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment

Wahyuniati Al-Waly

Tugas Wanita Ada di Rumah

Menjadi Ibu rumah tangga justru membuat istri Ustaz Arifin Ilham ini bergairah.

           

Sebagai wanita solehah, dia harus bisa menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, baik untuk suaminya dan baik untuk keluarganya,” ujar Yuni, suatu sore di rumahnya yang asri.

Tawaran bekerja di luar rumah ia tolak. Ibu tiga anak ini lebih memilih full time berkarir di dalam rumah. Seperti impiannya sejak kecil.

Rombak Tiap 3 Bulan

Singgah di rumah pasangan ustad Arifin Ilham dan Yuni, memang terasa nyaman dan tenang. Hanya ada 4 sofa tanpa kaki-kaki di ruang tamu. Bantal-bantal berbungkus kain putih mengisi tiap sandarannya. Di sudut ruang, ada satu meja kecil tempat meletakkan buku-buku. Rapi tertata.

Menuju ruang dalam –masih tidak tampak kursi berkaki- hanya ada dua karpet tebal menutupi lantai keramik warna putih. Ada satu televisi berukuran besar. Suasana yang tidak jauh berbeda dengan 2 tahun silam.

“Tapi coba diperhatikan, pasti ada yang beda,” ujar Yuni setengah protes.

Jarinya menunjuk tirai hijau muda yang menjuntai di pintu masuk ruang dalam. Juga beberapa tirai lain dengan warna senada.

“Yuni sendiri yang mendisain. Yuni yang pilih bahannya, jahitkan, dan pasang. Sekarang, Kak Arifin sepenuhnya percayakan Yuni menata rumah. Tentu saja, itu membuat Yuni senang,” kata wanita yang selalu menyebut dirinya dengan nama.

Tiap tiga bulan sekali Yuni bongkar pasang. Menata ulang perabotan dalam rumah. Memadu padankan satu ruang dengan ruang yang lain. Termasuk memberi sentuhan bunga di pinggiran kaca besar dalam ruang makan.

“Yuni ini ibu rumah tangga yang hanya sebagai ibu rumah tangga yang mendampingi anak-anak dan Kak Arifin,” kata wanita berdarah Aceh ini.

Tentu sebagai ibu rumah tangga adalah mengurus rumah. “Kepala rumah tangganya ya Kak Arifin, Yuni pemimpin rumah tangga. Alhamdulillah Allah menjodohkan Yuni dan kak Arifin. Kak Arifin yang berdakwah, Yuni berdakwah di rumah. Itu juga yang diinginkan Kak Arifin karena Kakak sering keluar, jadi anak-anak sama siapa. Kecuali kalau ada telpon masuk atau ada sms yang ingin berkonsultasi, setidaknya Yuni ada waktu sedikit,” lanjut Yuni.

Harus Rawat Diri

Yuni tidak berpandangan skeptis dengan wanita yang berkarir di luar rumah.

“Asalkan kodratnya sebagai wanita tidak diabaikan. Dan dia masih bisa mengatur rumah tangga dan pekerjaannya. Cuma sebaiknya wanita itu di rumah. Dan Yuni menikmati dan menyenangi itu,” tegas wanita yang dinikahi Arifin Ilham tanggal 28 April 1998.

Pekerjaan di rumah, lanjut Yuni, sangat banyak. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, mengurusi makanan dan suami, bersih-bersih rumah, memperindah rumah, memasak, mengurus anak-anak.

“Kalau anak-anak tidak ada, kita harus mengurus diri. Mempercantik diri dan merawat diri. Itulah ibu rumah tangga dan seorang istri yang baik,” ujarnya.

Merawat diri bukan untuk suami saja.

“Kita harus berniat. Niat pertama untuk Allah, yang kedua niat untuk menyenangi suami, yang ketiga niat untuk membahagiakan diri kita sendiri, dan keempat untuk penampilan kita. Dengan kita sehat, kemudian fit, kita bersih, tentu menghargai diri kita sendiri. Kalau wanita itu cantik tapi tidak fit dan loyo, pasti tidak menarik,” ujar Yuni yang hobi senam lewat cd dari luar negeri.

“Perempuan harus cantik dan indah. Yuni tidak setuju kalau perempuan menikah, punya anak dan tidak cantik lagi. Justru setelah perempuan itu punya anak satu, dua, dan ketiga, justru harus lebih cantik lagi,” tegasnya.

Yuni tidak pernah pergi ke salon. Berolah raga pun ia lakukan di dalam rumah. Ia punya ruang khusus seperti salon dan tempat mirip gym yang dipenuhi alat-alat fitness.

“Kalau mau creambath, Yuni sediakan alatnya, panggil orang buat creambath. Termasuk kalau mau luluran dan pijat, ada orang yang datang ke rumah juga,” ucap wanita asal Lamno, Aceh Barat kelahiran 18 Maret 1974.

Bangun Jam 4.30

Yuni dan Kak Arifin lebih banyak mempraktekkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah. Tidak hanya memerintahkan, “Nak ngaji!”. Tidak. Tetapi kita harus mulai dari diri kita sendiri,” kata Yuni tentang perannya sebagai Ibu.

Ia mengambil contoh kecil. “Alhamdulillah sejak usia tiga tahun Yuni dan Kak Arifin sudah membiasakan anak-anak harus selalu bangun pagi, sekitar jam 4.30 pagi. Sekarang mereka sudah usia 7 tahun, kelas 2, dan yang nomor dua sudah 5,5 tahun, kelas 1.”

Di saat anak-anak usia 7 tahun, “Alhamdulillah mereka tidak pernah putus salat subuh di mesjid. Mereka pagi sudah bangun, sudah mandi, sudah bersih, sudah pakai baju taqwa atau baju muslim, berangkat sama Abinya ke mesjid. Dan itu tidak sulit. Awal-awalnya memang sulit, tapi setelah kebiasaan, jadi sangat mudah. Timbul kesadaran dan justru jadi kebutuhan buat dia,” ujar ibu tiga anak, Muhammad Alfi Fais,Ammar Muhammad Dzikra dan Muhammad Abbas.

Pulang dari mesjid Yuni menemani anak-anaknya mengaji, hafal Al Quran.

“Mungkin tidak langsung Al Quran tapi Juz Amma dulu. Kita panggil guru ke rumah. Setelah mengaji baru siap-siap berangkat ke sekolah. Makan, ganti pakaian, baru berangkat ke sekolah,” jelas Yuni

Yuni tetap memberi waktu anak-anaknya bermain sepulang sekolah. Namun sehabis salat Isya, anak-anaknya harus bergegas tidur “Karena jam 4.15 meraka sudah harus bangun.”

“Di dalam rumah, suami dan istri harus bisa mengfungsikan rumah untuk empat hal,” kata putri Tengku H. Djamaludin Waly yang anggota DPR dari fraksi PPP bersemangat.

Pertama rumah dijadikan madrasah, dijadikan sebagai sekolah. “Gurunya Ayah Ibunya, muridnya anak-anaknya,” ujar Yuni.

Yang kedua, lanjutnya, rumah itu harus bisa dijadikan beteng keluarga, tempat untuk saling berbagi ada musyawarah dan kasih sayang. Tempat curhat. Yang ketiga, rumah sebagai musholah, tempat beribadah. Anak-anaknya ke mesjid, Ayah Ibunya baca Al Quran. Kemudian salat Tahajud dan salat Dhuha bersama. Nanti anak-anak bisa melihat dari sekelilingnya.

“Yang terakhir, jadikan rumah sebagai surga. Surga tidak perlu jauh-jauh, cukup di rumah. Bidadarinya istrinya, pangerannya suaminya. Anak-anaknya generasi Allah. Kita bisa menciptakan surga Allah. InsyaAllah kalau suami kita Sholeh, istrinya sholehah, pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk istrinya. Kalau dia mencintai Allah, dia pasti mencintai istrinya,” kata wanita ayu ini.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Agustus 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Wanita | Leave a comment

Dyah Anita Prihapsari

3 Wanita Paling Berkesan

 

            Nita menjadi wanita Indonesia pertama yang mengikuti International Women Leaders Mentoring Partneship  (IWLMP) di Amerika. 

 

“Sebulan saya di Amerika. Ini benar-benar luar biasa. Saya satu-satunya wanita dari Asia yang terpilih ikut program tersebut,” ujar Dyah Anita Prihapsari bangga.

Nita memang tidak pernah berhenti beraktifitas. Tahun ini, sejumlah tanggung jawab ia pegang. Mulai dari Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ketua DPD IWAPI Provinsi DKI Jakarta, Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan IWAPI Pusat, hingga Komisaris di 3 perusahaan.

Tidak salah bila Fortune memilih Nita sebagai pemimpin wanita di Asia untuk mengikuti IWLMP. Di Amerika Serikat, Nita berkumpul bersama 16 pemimpin wanita lainnya. Diantaranya dari Ukraine, Kenya, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Afrika, Bangladesh, Bolivia, dan sebagainya.

Laura Bush Dan Hillary

IWLMP baru pertama kali diadakan. Program ini menjadi kegiatan tahunan, kerjasama Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Fortune Magazine untuk mencari pemimpin wanita berkualitas. Yaitu wanita muda yang sukses memimpin perusahaan, aktif di kegiatan sosial, punya perhatian yang besar pada dunia pendidikan dan kesehatan, serta punya visi misi bagi keberhasilan para perempuan. Proses seleksi dilakukan setiap Kedutaan Besar AS.

Dari 30 wanita pilihan, Lulusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management, Oklahoma City University ini lolos mewakili Indonesia sekaligus wakil Asia. Sejak tanggal 29 April hingga 28 Mei Nita dididik menjadi leader dan mentor yang handal.

“Hari pertama kita dibawa ke Wasingthon DC bertemu Laura Bush (Istri Presiden AS George W. Bush). Sebelumnya kita diterima empat staf ahli White House dan kepala security yang semuanya perempuan,” cerita Nita bangga.

Ia mendapat ‘ilmu’ tentang kepemimpinan wanita di Gedung Putih. “Mereka dipilih karena punya kriteria peran ganda.  Sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai pemimpin yang bisa membagi waktu, melobi dan memimpin karyawan tanpa emosional,” ujar Nita.

Di kesempatan ini Nita memberi kenang-kenangan buku kuliner Taste of Indonesia yang dibuat IWAPI. Sore hari, Nita berkunjung ke Departemen Luar Negeri AS.

“Di Deplu justru lebih ketat. Handphone dan kamera tidak boleh masuk. Ternyata ada Menteri Luar Negeri Concolezza Rice,” cerita Nita antusias.

Nita memperoleh pengetahuan tentang kriteria menjadi pemimpin dunia, tentang kerjasama dan kemitraan. “Dia bilang woman can change the world. Wow, hebat sekali,” ujar Nita.

Hari kedua, Nita diajak bertemu Kay Bailey Hutchison. Senator perempuan pertama dari Texas. Barulah esok harinya Ibu dua anak ini bertemu Hillary Clinton.

“Begitu Hillary lihat buku Taste of Indonesia, dia langsung komentar, ‘I love Indonesia’. Dia senang sekali bahkan mengirim ucapan terima kasih lewat surat setelah saya pulang,” cerita Nita. Di akhir pekan Nita bertemu Menteri Tenaga Kerja bersama 5 staf ahli yang semuanya juga perempuan.

“Mereka semua pemimpin hebat. Punya visi misi kuat bagi keberhasilan wanita. Hebatnya, meski Laura, Hilarry dan Rice sibuk dengan urusan pekerjaan, mereka selalu tekankan bahwa secara kodrat, wanita adalah Ibu bagi anak-anak, dan istri bagi suami. Dua tanggung jawab ini harus berjalan seimbang,” ujar Nita penuh keyakinan.

Anti Perokok

Mengenal Nita, tidak akan lepas dari aktifitasnya mengkampanyekan gerakan anti rokok. Sejak dilantik menjadi ketua WITT tahun 2004, disetiap kesempatan, Nita  selalu mengingatkan orang bahaya merokok. Ia selalu meminta orang tidak merokok atau berhenti merokok.

“Kerja WITT dimulai dari scope terkecil, yaitu keluarga. Kalau Ibu Bapaknya perokok, dan anak-anaknya di ajak merokok oleh lingkungannya, pasti tidak akan menolak. Berbeda kalau keluarga yang tidak merokok. Pasti anak-anaknya akan batuk-batuk kalau ada yang merokok. Dia akan menghindar dengan sendirinya. Dan saya himpun ibu-ibu bergabung di WITT karena Ibu adalah panutan keluarga. Ia yang selalu dilihat dan ditiru anak-anak. Kalau ibunya kurang benar, anak pasti terkontaminasi diluar. Jadi, kunciya adalah Ibu,” tegas wanita kelahiran 22 Juni 1964.

Kerja keras Nita berbuah manis. Perda No.22 tahun 2005 dan Pergub 75 tahun 2005 disyahkan. Masyarakat dilarang merokok di tempat-tempat tertentu.

Mendapat dukungan, WITT gencar mengadakan kegiatan dan penyuluhan setiap bulan. Sasarannya dari murid SD hingga Perguruan Tinggi.

“Sejak tanggal 3 Februari 2006 kita jadi Mitra Pemda. Kita berhak menegur orang yang merokok tidak pada tempatnya. Kita berhak menjadi penyuluh agar mereka merokok pada tempatnya. Kita juga dapat kartu khusus dari Pemda untuk mengkampanyekan gerakan anti rokok,” ujar Nita bangga.

WITT juga mencari payung serba berguna. “Karena merokok berkaitan dengan Narkoba, kita kerjasama dengan BNN. Kita masuk ke Kapolri dan minta biikin MOU agar bisa dimekar ke daerah-daerah,” ujar Nita. Ia berniat membuka cabang Yogyakarta, Surabaya, Bandung dan Manado.

Khusus untuk kader-kader WITT, Nita membuat pelatihan khusus yang baru saja diadakan di The Peak Apartement bulan Agustus lalu.

“Kita butuh pasukan lebih banyak yang tidak hanya Ibu-ibu dan perempuan. Tetapi harus ada kader yang laki-laki. Sekarang ada 60 murid dari SMP hingga Mahasiswa. Mereka siap jadi kader WITT.

Life Style Yang Berbahaya

Nita selalu memotivasi wanita untuk tidak merokok. “Bahayanya banyak sekali,” tegas Nita.

“Di dalam rokok ada 4000 bahan kimia yang berbahaya. Perokok wanita bisa terkena kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker gusi, kanker lidah, dan banyak sekali. Juga oesteoporosis, jantung dan bronkhitis. Penampilan juga kena imbasnya, muka cepat keriput, kuku kuning, gigi kuning, bibir hitam, tidak cerah dan lebih tua, tidak segar dan mulut berbau. Perokok wanita  lebih emosional karena mereka penuh ketergantungan,” ujar Nita

Merokok kerap dianggap sebagai lifestyle. Iklan televisi, menurut Nita, sering menjerumuskan wanita sebagai pecandu. “Iklan rokok itu pintar. Dia bikin rokok slim dengan warna yang sejuk, putih dan biru muda dengan kadar tar yang rendah juga rasa mild yang ringan. Ini sangat mempengaruhi pergaulan. Dianggap life style padahal salah besar,” tegas Nita bersemangat.

Tanpa kenal lelah, Nita mulai membidik Mal-mal di Jakarta untuk mengkampanyekan anti rokok.

“Kita buat road show Mal to Mal. Kita hadirkan Gubernur Sutiyoso dan beberapa selebritis. Kita sosialisasikan perda tersebut. Bukan melarang tapi kita hanya menempatkan para perokok di ruangan-ruangan khusus. Smoking Area yang harus menempel pengumuman bahaya merokok,” ujar Nita lagi.

“Semoga kegiatan ini mampu menyadarkan kita sehingga kita bisa menyelamatkan generasi bangsa. Karena dari merokok seseornag bisa terkena Narkoba dan HIV,” lanjut Nita tak kenal putus asa.

Aien Hisyam

*wawancara 5 September 2006*

October 13, 2012 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Vivit Arivianti Arifin

“Aku Bersyukur Meski Dua Anakku Meninggal”

 

            Kalau boleh meminta, tentu Vivit saja tidak ingin kehilangan dua anaknya. Berkat keikhlasan dan kesabaran, ia justru diberi kenikmatan yang lain, sukses membesarkan bisnis Baby Born face Video Clip.

 

Di teras yang sama Vivit menerima WI. Ada satu perbedaan mencolok di wajah Ibu muda ini. Ia tampak lebih segar dan bercahaya.

“Oh iya, dulu kita ketemuan aku baru saja kehilangan anak keduaku. Nah, sekarang aku sudah punya Kenzie,” ujar Vivit dengan nada bahagia.

Vivit kemudian berdiri dan menghilang di balik pintu. Tiga menit kemudian ia muncul, “wah sayang, Kenzie lagi tidur. Tapi nggak apa-apa, nanti setelah wawancara pasti dia sudah bangun,” kata Vivit yang ingin sekali memperlihatkan anak ketiganya, Muhammad Kenzie Danendra, 1,2 tahun.

Vivit bercerita panjang lebar tentang kebahagiaannya dikaruniai Kenzie. Anak ketga yang semata wayang, yang amat diharapkan.

“Aku selalu berpikir positif bahwa Allah punya rencana besar padaku. Kenapa dua anakku terdahulu begitu cepat diambil dari hidupku, dan kenapa baru sekarang aku bisa bernafas lega punya anak yang sangat aku harapkan. Ini semua bagian dari skenario Allah pada hidupku. Termasuk bisnis Baby Born Face yang aku rintis dan kini berkembang dengan luar biasa. Aku selalu bersyukur,” kata Vivit Arivianti Arifin, 29.

Seolah Berbicara Pada Anak

Kehadiran si Kecil dipandang Vivit sebagai anugerah-Nya yang terindah dalam hidupnya, juga semua pasangan laiinya. Baginya, sayang sekali bila momen itu terlewati begitu saja.

“Aku benar-benar merasakan momen indah itu setelah kehilangan anak keduaku, Rayhan Syahandra. Dia lahir setelah aku mulai bisnis ini. Semua yang terjadi di awal kehidupannya terekan dengan indah dalam video. Aku yang edit sendiri. Sayangnya Tuhan langsung mengambil anakku. Tentu saja aku sedih. Tapi hingga kini aku masih merasakan bahwa Rayhan ada disisiku. Aku bisa melihat wajahnya meskipun hanya melalui video rekaman,” ujar Vivit.

Kenangan itu menjadi bagian terindah dalam hidup Vivit. Sejak itulah ia serius mengembangkan bisnis Baby Born Face Video Clip (BBFVC).

“Semua orang tua pasti ingin mengabadikan momen indah itu. Dan, momen itu hanya sekali seumur hidup. Tidak bisa diulang lagi. Jadi sayang dilewatkan,” kata istri pengusaha Abdhy P. Azis.

Bisnis ini memang barus dimulai Vivit sejak pertengahan tahun 2002, menjelang kelahiran Rayhan Syahandra. Vivit berinisiatif membuat rekaman videonya. Namun, kali ini dia menggunakan format yang agak berbeda. Dia mulai membuat satu cerita skenario untuk persiapan kelahiran bayinya.

”Saya mempersiapkan cerita itu seperti mengemas infotainment. Mulai wawancara dokter, orang tua si bayi, hingga wawancara kakek neneknya,” urai Vivit.

Rekaman juga dilengkapi dengan kegiatan pasangan muda ini ketika mengunjungi dokter untuk periksa USG, upacara 7 bulanan (akekahan atau mitoni), senam hamil, berburu pernik-pernik si kecil di mall dan banyak lagi. Paling tidak ada pertemuan empat kali.

Tidak Ada Bekas Anak

Di dalam rekaman berdurasi singkat 20 menit atau 40 menit itu, para ‘narasumber’ berbicara di depan kamera. Mereka seperti berbicara pada anaknya.

“Bukankah pernyataan itu akhirnya untuk anak juga. Anak harus tahu bagaimana perasaan orang tua dan orang-orang terdekat dalam hidupnya ini tentang dirinya. Anak juga harus tahu bagaimana pengorbanan ibunya saat melahirkan agar selalu tetap mencintai, menghormati, dan melindungi sepanjang hidupnya. Bukankah tidak pernah ada istilah bekas anak. Walaupun orang tuanya bercerai, anak ya tetap anak,” ujar Vivit.

Nampaknya Vivit kini tengah menikmati kesuksesannya. Di bawah bendera Creator Visual Sejahtera. Hampir setiap hari ia terima order, minimal 2 klien. Vivit bahkan sudah menjalin kerjasama dengan 12 Rumah Sakit terkemuka di Jakarta. Paling tidak, setiap hari kru BBFVC – yang semuanya wanita – mengambil gambar satu kelahiran.

“Kru harus siap 24 jam. Bukankah Peristiwa kelahiran tidak seperti acara pernikahan yang bisa ditunda-tunda. Kalau memang sudah waktunya, yah harus dikejar. Jadi kalau misalnya klien sudah masuk Rumah Sakit, paling tidak 5 menit kemudian, kru kami sudah datang. Mereka akan ikut semua proses kelahiran, dan mensyut dari dekat,” kata Vivit yang mengaku lega karena dokter-dokter di Rumah Sakit dengan senang hati mau bekerjasama.

Menurut dia, yang paling seru adalah saat menjelang kelahiran. Kru yang terdiri atas dua orang harus stand by meski baru bukaan dua. “Mereka tidak boleh pulang meski itu tengah malam atau dini hari. Padahal, bukaan dua itu bisa bertahan dua hari,” terang anak kedua di antara dua bersaudara itu.

Semua peristiwa itu direkam dengan manis oleh para kru BBFVC. Di edit dengan rapi, diberi gambar-gambar visual yang menarik, diisi lagu-lagu lembut yang disukai kedua orang tuanya, juga diberi kata-kata yang menyentuh. Ada pula suara narator yang membacakan penggalan-penggalan kalimat indah.

“Kalau klien pilih paket B yang 40 menit, jauh lebih lama. Bisa memuat lebih banyak peristiwa,” ujar  lulusan London School of Public Relation.

Lebih Human Interest

Vivit menawarkan beberapa paket untuk dokumentasi tersebut. Dokumen yang berdurasi 40 menit dalam bentuk VCD atau DVD seharga Rp 4 juta. Paket itu berisi wawancara ke dokter, syuting dalam ruang bersalin, dan kegiatan selama masa kehamilan. Selain itu, klip senam dan belanja keperluan bayi.

Klip yang berdurasi 20 menit dalam bentuk VCD seharga Rp 2 juta. Berisi rekaman di ruang bersalin dan wawancara dengan keluarga. Ada pula paket baby face. Paket ini berupa foto yang mendokumentasikan sewaktu berada di ruang bersalin. Untuk album kecil, harganya Rp 550 ribu dan album besar Rp 1,1 juta.

Album itu juga terdiri atas cerita dari pasangan ketika sama-sama masih kecil, dewasa, pacaran, sampai akhirnya menikah dan melahirkan bayi.

Bisnis yang dirintis Vivit memang pertama kalinya di Indonesia. Untuk menjaga kreatifitasnya agar tidak ditiru orang lain, wanita asali Jawa Timur ini mendaftarkan karyanya ke Departemen Kehakiman untuk mendapat hak cipta.

“Lega rasanya begitu suratnya keluar. Sekarang aku tidak cemas lagi kalau ada yang nekat meniru bisnis ini bisa dikanai sangsi hukum,” kata ibu tiga anak, Talitha Sadiya, Rayhan dan Kenzie.

Vivit mengaku karyanya itu orisinal meski sebenarnya ada tayangan Dicovery Channel yang merekam kelahiran bayi dari sisi medis. “Memang, ada tayangan semacam itu. Namun, itu lebih menunjukkan cara-cara melahirkan dengan mudah dengan upaya medis, sedangkan saya lebih ke human interest-nya,” urainya.

Aien Hisyam

*wawancara 14 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Tian Belawati

‘Modalnya Mau Saja’

Di bawah kepemimpinannya, 2 dari 4 Pembantu Rektor adalah wanita. Tian pun melakukan banyak terobosan. Inilah bukti bahwa ia wanita tangguh di balik sukses Universitas Terbuka saat ini.


Bertemu dengan Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., jauh dari kesan formal. Padahal, sejak bulan Juni 2009, ia menjadi Rektor di Universitas Terbuka (UT), rektor wanita pertama di UT sejak perguruan tinggi ini berdiri tahun 1984.

Ajak Kuliah TKI

Tian baru saja pulang dari Singapura. Belum lama ia berkunjung ke Hongkong. Di dua tempat ini Tian punya visi dan misi. ‘Sekarang, banyak TKW dan TKI di Singapura yang kuliah. Mereka memilih UT karena bisa kuliah sambil bekerja. Barulah, kalau ada tutorial, kita akan pakai gedung sekolah Indonesia,’ kata Tian, senang.

Di Arab Saudi, UT bahkan sudah memiliki 150 lebih mahasiswa. “Yang kuliah bukan TKW, tapijustru pekerja-pekerja kita yang ada di Arab. Kita juga sedang melayani para TKI di Korea dan di Macau,’ lanjut Tian.

Tak hanya ‘urusan’ luar negeri, Tian pun aktif mensosialisaikan kegiatan UT di banyak lapisan masyarakat. Ia sudah menjalin kerjasama dengan POLRI, KOWANI dan beberapa Lembaga Pemasyarakatan. Baru-baru ini, Tian juga diminta untuk mengirim ratusan formulir ke Papua Barat. Ada sekitar 100 anggota IKAPI yang ingin menuntut studi di Universitas Terbuka.

‘Mau pengusaha, ibu rumah tangga, buruh, TKW, orang yang kurang beruntung di LAPAS dan sebagainya, semua punya kesempatan yang sama untuk bisa kuliah. Modalnya mau saja,’ tegas Tian. Kini mahasiswa UT yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri, berjumlah lebih dari 522 ribu orang. Uniknya, 80 persen adalah wanita.

Diawali Jadi Pejabat ‘Teras’

Ketika Universitas Terbuka berdiri di tahun 1984, Tian baru saja menyelesaikan kuliahnya di IPB.

‘Sebenarnya kalau dibilang cita-cita itu enggak juga,’ sesaat Tian tertawa kecil. Ia kerap dibuat tersenyum kalau ditanya tentang cita-cita. ‘Jadi, kebetulan waktu saya lulus kuliah, UT baru saja berdiri. Saya lulus bulan Desember 1984, UT berdiri September 1984. Kantornya juga dekat rumah saya di Rawamangun. Rektornya juga tetangga saya. Dia tawari pekerjaan ke saya. Tapi, waktu itu saya bilang tidak mau. Saya mau kerja di swasta.’

Alhasil, sambil menunggu panggilan kerja, Tian menerima tawaran Rektor UT kala itu, membantu proses berdirinya UT. Karena belum memiliki kantor tetap, kegiatan UT pun berpindah-pindah, terkadang di hotel atau di luar kota. Tian juga mendapat tugas mengelola dan mengundang dosen-dosen ekonomi dari perguruan tinggi lain untuk menulis modul UT. Tian juga yang mengedit tulisan-tulisan yang masuk.

“Saya kerja juga di tikar karena ruangannya belum ada. Begitu sudah ada kursi, eh nggak kebagian ruangan. Jadilah kerjanya di teras. Jadi saya sejak dulu sudah jadi ‘pejabat teras’,” ujar Tian sambil tertawa lepas.

Tian juga merasa punya ‘ikatan khusus’ dengan UT. “Setiap saya dapat panggilan kerja, pasti saya lagi di luar kota. Akhirnya sering gagal. Nah, waktu saya di panggil perusahaan swasta, saya justru ditawari sekolah ke Kanada sama UT. Yah saya pilih sekolahnya. Mulai dari situlah saya akhirnya melebur di UT,’ cerita wanita peraih gelar Master of Education, dari Simon Fraser University, Burnaby, B.C., Canada.

Selesai kuliah S2, Tian kembali disekolahkan UT ke Kanada untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy di University of British Columbia, Vancouver.

Tidak Punya Teman Senasib

“Seninya jadi dosen di UT, kita itu kerjanya nggak selesai-selesai menerangkan dan menjelaskan pertanyaan orang. Sampai 23 tahun di UT, kerjanya ya nerangin terus,” ujar Tian, tersenyum.

Tapi, Tian mengaku senang. Katanya, ia mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan orang lain.

“Dan UT, tidak punya teman yang senasib. Saya lihatnya tidak dari segi kompetitor. Jadi misalnya kalau rektor perguruan tinggi tatap muka, kalau ada masalah dia bisa belajar dari rektor perguruan tinggi lainnya. Nah, kalau UT, kalau kita punya masalah, umumnya masalah kita berbeda dengan perguruan tinggi yang lain. Sehingga kita tidak bisa tanya ke mereka,” kata Tian.

Karenanya, bekerja di UT, kata Tian, dituntut kreatif dan pintar mengambil solusi. “Itulah menariknya. Kita tidak punya teman sejawat yang memiliki problema mirip dengan kita. Itu membuat kita jadi tidak bosan,” ujar Tian.

Begitupun dengan masalah teknologi yang cepat berubah. Karena sistem pengajaran UT yang jarak jauh, maka dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan teknologi.

“Kita selalu dikejar-kejar teknologi. Namanya teknologi cepat sekali. Disatu sisi masyarakat kita menuntut kita menggunakan teknologi yang terkini. Disisi lain sebagian mahasiswa UT belum punya akses ke teknologi itu. Nah, menyeimbangkan inilah yang jadi pekerjaan kita. Jadi tantangan tersendiri buat kita,” kata Tian.

Tian memegang teguh mandat UT yang telah berjalan puluhan tahun.

“Yaitu, UT harus bisa dijangkau siapapun. Bahwa kita harus bisa menawarkan program pendidikan tinggi yang terjangkau masyarakat dari segi biaya dan sistem. Jangan sampai orang di pedalaman tidak bisa kuliah karena sistem tidak menjangkau mereka. Makanya kita tetap mempertahankan modul yang tercetak, walaupun sudah ada internet,” tegas Tian, bangga.


Sering Tidak ‘Dilirik’

Tian memaklumi, jika keberadaannya sebagai Rektor wanita masih dipandang ‘tidak biasa’.

“Padahal, kalau wanita itu mengerjakan sesuatu, selalu dikerjakan dengan benar dan total. Pikiran juga tidak kemana-mana. Istilah saya, pantatnya nggak panas, jadi kalau kerja tekun,” kata wanita kelahiran 1 April 1962 ini.

Tian lantas tersenyum. Ia sering mendapat ‘perlakuan’ yang membuatnya tertawa sendiri. “Kalau belum kenal dengan saya, pada saat pertemuan Rektor, para pejabat ini menyalami semua rektor, kecuali saya. Itu sudah sering terjadi. Bahkan, belum lama, salah satu pejabat negara justru menyalami Pembantu Rektor 3 UT. Begitu PR 3 bilang kalau saya Rektornya, orang itu langsung kaget,’ ungkap Tian, tersenyum.

Tian menilai, bahwa masih banyak orang yang menganggap bahwa perempuan tidak mampu menduduk posisi tertentu. Apalagi, lanjt Tian, anggapan itu ditambah dengan kriteria seorang pemimpin yang harus anggun, berwibawa, dan rambutnya bersasak tinggi.

‘Lama-lama, saya mengganggap itu sebagai compliment. Bahwa saya itu awet muda,” ujar Tian yang kemudian tertawa lepas.

Bagi wanita yang telah berumah tangga dan juga berkarir di luar rumah, Tian mengatakan bahwa para wanita ini harus punya suporting yang besar dari keluarganya.

‘Harus balance,’ katanya.

Tian mencontohkan dirinya sendiri. ‘Bahwa saya bisa kerja, bisa penelitian, bisa menulis untuk jurnal, dan bisa berkarir, tapi saya masih sempat ke bioskop, jalana-jalan, dan belanja. Hidup saya tidak menderita amat. Saya senang sekali nonton. Itulah hiburan termurah yang tidak pernah saya tinggalkan,” ujar Tian.

“Intinya kita tidak boleh kerja keras, tapi harus kerja cerdas. Kita harus work hard juga play hard. Jadi harus seimbang. Kalau orang tidak seimbang, maka tidak akan produktif. Kalau pun produktif pastilah kualitas hasil kerjanya tidak bagus, karena ia tidak happy. Kalau mau buat orang lain happy, kita dulu yang happy,” kata Tian.

Aien Hisyam

March 9, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | 3 Comments

Mayadewi Hartarto

Dirikan Sekolah Demi Kemajuan Fashion


Maya dididik di sekolah Bisnis. Namun, Esmod Jakarta justru menjadi tempat ia bekerja dan menuangkan segala ide-idenya.

Menjadi orang nomor satu di sekolah mode terbesar di Indonesia, ESMOD Jakarta, tentu saja Mayadewi memiliki jadwal yang sangat padat. Apalagi, ibu dua anak ini juga memiliki beberapa perusahaan yang berbeda dengan dunianya yang satu ini. Toh, Maya masih sempat meluangkan waktunya, berbincang-bincang tentang dunia fashion yang sebenarnya tak sengaja ia geluti.

Di ruang kerjanya yang luas, di lantai atas ESMOD Jakarta, Maya mengatakan bahwa ia terisnpirasi pada sekolah mode ternama Ecole Superieure des Arts et techniques de la Mode. Ia ingin sekali mencetak anak-anak muda yang ahli di bidangnya, khususnya di bidang fashion.

Maya menilai, bahwa potensi di dunia fashion saat ini kian terbuka lebar dan berkembang dengan pesatnya. Bahkan, fashion -baik hasil maupun orang yang bekerja di dalamnya- menjadi salah satu lahan yang mampu menghidupi siapapun juga.

Di sekolah mode, kata Maya, bisa menjadi tempat untuk mengasah talenta-talenta muda yang berbakat dan punya minat besar pada dunia fashion dan Mode. Dan di ESMOD Jakarta, mimpi itu berusaha diwujudkan Maya.

Memilih Paris

Sudah 14 tahun ESMOD Jakarta berdiri. Itu berarti, sudah ratusan anak muda yang lulus dari sekolah ini. Maya pun mengaku bangga.

‘Dulu, industri garmen belum sebesar ini. SDM juga terbatas. Kalaupun ada, untuk posisi-posisi tertentu, mereka masih memakai SDM dari luar. Nah, dari situlah saya berpikir, sudah saatnya Indonesia punya institusi pendidikan yang bisa menghasilkan SDM-SDM di bidang fashion,’ kata wanita yang lahir tanggal 21 Desember 1969.

Keinginan Maya ini berbanding lurus dengan kondisi saat itu yang juga menuntut adanya SDM yang andal. Tanpa berpikir panjang, wanita yang aktif di Yayasan Pengembangan Desain Indonesia (YPDI) milik ibunya, Hartini Hartarto. langsung membeli franchise Esmod Internasional di Paris. Apalagi, saat itu belum ada pendidikan yang khusus di dunia fashion.

Maya memang bukan perancang mode, tapi ia sangat peduli dengan dunia fashion. Itu ia buktikan ketika bergabung di YPDI. Di yayasan ini ia bisa dengan leluasa melakukan kegiatan pembinaan dan mendidik para pengrajin. ‘Yaitu, membawa orang yang ahli dan punya pengetahuan di bidan kerajinan itu, dan di bawa di daerah yang sedang kita bina,’ jelas Maya.

Mengapa harus dari Paris? Maya pun tersenyum. ‘Itu melalui banyak pertimbangan. Waktu saya berpikir, kalau kita menyebut pusat fashion, dimana lagi kalau bukan di Paris. Nah, sampai disitu, saya masih harus memilih-milih lagi, karena di Paris sekolah fashion masih terbagi-bagi,’ kata Maya.

Beberapa sekolah fashion di Paris masih dibagi atas haute couture (adi busana), ready-to-wear (pakaian siap pakai), dan masih banyak lagi. Dan Maya harus memilih jenis sekolah yang akan dia dirikan. Wanita anggun ini juga tidak mau mendirikan sekolah yang asal-asalan. Dan, dipilihlah sekolah yang berbasis pendidikan fashion-to-wear, yang kata Maya, sesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia saat itu.

Esmod adalah salah satu sekolah terbaik yang ada di Paris. Sekolah ini juga telah memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh dunia. Maka, tanggal 6 September 1996, Esmod Jakarta berdiri.

Yakinkan Orangtua

Awal berdirinya Esmod Jakarta, banyak hal baru yang harus dipelajari Maya. Lulusan Business Administration di Pine Manor College, Boston dan Sacred Heart School, Chicago ini, harus bekerja keras memberi keyakinan pada para orangtua, bahwa sekolah fashion pun berpeluang untuk menjadi lahan pekerjaan yang menguntungkan. Cukup sulit bagi Maya, karena saat itu minat orang masih  ke sekolah-sekolah formal. Esmod Jakarta juga baru saja berdiri.

Maya tak kenal lelah. Dia kian gencar mempromosikan sekolahnya, mulai dari kegiatan workshop, seminar, hingga open house. Ia juga memperkenalkan kurikulum Esmod yang telah disesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia. Di luar dugaan, baru tahun pertama, Esmod Jakarta sudah mampu menjaring 43 siswa.

“Makin kesini, jumlah siswa terus bertambah. Kita juga makin sering mengikuti perlombaan untuk siswa sekolah mode ke luar negeri. Baru-baru ini, 2 siswa dari Esmod Jakarta mampu memperoleh penghargaan di Korea,” ujar Maya, bangga.

Maya mengakui, untuk materi pelajaran di Esmod Jakarta, memang telah dikombinasi dengan pelajaran lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan budaya di Indonesia. Meski begitu, lulusan Esmod Jakarta, tetap sebanding dengan lulusan sekolah fashion lainnya yang ada di luar negeri.

“Salah satu buktinya, waktu krisis ekonomi, ada beberapa siswa Esmod yang pindahan dari sekolah fashion di luar. Mereka bilang, daripada sekolah jauh-jauh di luar negeri, toh di Esmod Jakarta kualitasnya juga sama,” ujar Maya.

Tetap Bertahan

Maya memegang teguh prinsip ‘education is very long term investment’. Maksudnya, “tidak mudah kita mengubah pikiran orang. Kalaupun bisa, itu butuh waktu yang lama. Oleh karenanya, kita harus bisa membuktikan kualitas kita dulu, dan mempertahankan kualitas itu, baru orang akan respek pada kita. Nah, kalau kita bisa memberikan yang terbaik, maka dengan sendirinya orang akan mengakui kualitas kita.”

Untuk membuktikan keberhasilan itu yang butuh waktu yang tidak sebentar. Dan Esmod Jakarta sudah membuktikannya hingga 14 tahun lamanya.

“Dengan prinsip itu, saya selalu punya keyakinan. Seburuk apapun kondisi yang kita alami, kita berkomitmen untuk tetap bertahan. Bukan demi keuntungan finansial saja, tapi lebih pada kepuasan melihat anak didiknya lulus dengan baik dan berhasil terjun ke dunia mode,” kata Maya, mantap.

Komitmen mendidik anak-anak ini pula yang membuat Maya gigih menjaga kualitas Esmod Jakarta secara profesional. Khusus untuk pengajar, ia datangkan 2 pengajar dari Paris. “Ini bukti bahwa belajar fashion pun tidak main-main, butuh kerja keras dan usaha agar bisa lulus dengan kemampuan sesuai standar internasional,” tegas Maya.

Karenanya, Maya bangga lulusannya banyak diterima di perusahaan fashion. “Belum lulus saja sudah di-hire banyak perusahaan,” ujarnya, senang.


Meski Bukan Orang Fashion

Banyak yang mengira bahwa Maya memiliki latar belakang dunia fashion. Menjawab pertanyaan itu, Maya hanya tertawa kecil.

“Saya tidak punya background fashion,” jawabnya, singkat. “Latar belakang saya di dunia bisnis khususnya menangangi manajemen. Tapi, ketertarikan saya pada fashion sudah pasti ada. Karena saya tahu kemampuan saya, untuk menjalankan bisnis sekolah ini saya banyak konsultasi dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bergerak di bidang fashion,” kata Maya.

Selain di Esmod, Maya juga disibukkan dengan bisnis lain yang jauh berbeda dari dunia fashion. Meski begitu, ia enggan menyebutkannya.

“Sekarang, setelah Esmod sudah berjalan belasan tahun, saya tidak terlalu dipusingkan. Perusahaan sudah berjalan dengan sendirinya. Saya juga punya tim yang handal,” ucapnya.

Waktu-waktu luang inilah yang dimanfaatkan Maya untuk membesarkan dua buah hatinya, Nandadevi (11) dan Ranganatha (3). “Apalagi, anak perempuanku ini sekarang sudah remaja. Oya, dulu waktu kecil, Nanda sua melukis. Ini semua lukisannya lo,” sesaat Maya menunjuk dinding ruang kerjanya yang dipenuhi lukisan kanak-kanak, “sebenarnya dinding yang sebelah sana, saya sediakan untuk ukisan-lukisan Nanda. Tapi kayaknya dia sudah berhenti melukis.” Maya pun tertawa lepas.

Aien Hisyam

January 20, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | 3 Comments

Yeane Keet

Jarum Jatuh pun Harus Tahu

Yeane dididik keras oleh Ayahnya, demi kesuksesan. Kalaupun di usia 8 tahun ia harus ‘berpisah’ dengan orangtuanya, itulah bagian dari pelajaran ‘hidup’ yang harus dijalani. Dan ia sangat mensyukuri.

Di usia yang masih muda, Yeane Keet telah memimpin sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan besar milik Ayahnya, PT. Denpoo Mandiri Indonesia Group. Ia dipersiapkan untuk memegang kendali perusahaan yang bergerak di bidang elektronik ini.

Dengan rendah hati, wanita keturunan ini justru lebih suka disebut Sales & Marketing Director, seperti yang tertulis di kartu namanya.

“Itu karena passion saya disitu. Lebih ke dealing penjualan. Jadi mulai dari barang diproduksi sampai barang jadi. Dari hulu ke hilir. Dengan begitu, kita  direspek senior yang sudah lebih dulu di Denpoo, juga dengan karyawan-karyawan lain,’ ujar Yeane, penuh semangat.

Dari tangan dingin Yeane, perusahaan Denpoo memenangi tender pengadaan kompor gas untuk rakyat miskin yang diadakan Kementerian Koperasi dan UKM. Mesin cuci Denpoo juga menjadi pemimpin pasar, versi Gabungan Elektronik Indonesia.

Pisah dengan Keluarga

Keberhasilan Yeane tak lepas dari didikan Ayahnya, Lim Tjen Hong, pemilik Dempoo Group, di masa lalu. Di usianya yang baru 8 tahun, Yeane telah dilepas orangtuanya untuk tinggal dan bersekolah seorang diri di Singapura. Yeane dibesarkan dan tinggal dengan gurunya.

“Di Singapura, guru yang membesarkan saya. Baru liburan saya pulang atau orangtua saya datang. Begitupun waktu ke Amerika, juga sendirian,” kenang Yeane.

Otomatis, Yeane tumbuh menjadi sosok mandiri dan tegas. “Problem-problem harus saya selesaikan sendiri, karena memang tidak ada orangtua. Begitupun dengan figur. Itu saya dapatkan dimana saja. Bahkan, orangtua saya sampai bilang, saya ini orangnya aneh. Positive thinking-nya kebanyakan,” kata Yeane, tertawa lepas.

Anak kecil atau teenager, lanjut Yeane, tergantung dari isinya. “Kalau dia terlau sering diisi negatif-negatif, dia akan negatif. Begitupun sebaliknya. Jadi figur bisa didapat dimana saja. dari guru, dari kakak kelas. Tidak harus dari orangtua,” tutur wanita kelahiran 10 Agustus 1974.

Yeane, bahkan mengucapkan rasa syukur telah diberi pelajaran hidup,  menjadi sosok yang mandiri di usia yang masih belia. “Kalau tidak, saya akan jadi orang yang manja,” ucap Yeane, dengan senyum mengembang.

Barulah lulus kuliah tahun 1996 dari University Of Southern California, California, USA, dengan gelar Bachelor of Industrial Psychology, Yeane pulang ke Indonesia. “Total, saya tinggal di luar negeri 20 tahun. Tapi jangan tanya tentang nasionalisme saya. Jujur, saya sangat nasionalis,” tegas Yeane, tersenyum cerah.

Karir Dari Bawah

Pulang ke Indonesia, tidak serta merta Yeane memperoleh kenikmatan. Ia sempat bekerja di Sinar Mas Group untuk mencari pengalaman kerja. Barulah setelah krisis ekonomi, Yeane ‘ditarik’ untuk bergabung di Denpoo Group. Itu pun, lagi-lagi Yeane tidak langsung menduduki kursi empun. Ia mulai karirnya di bagian administrasi.

‘Memang diharuskan begitu. Intinya, di perusahaan saya, jarum jatuh pun harus tahu. Itu didikan dari Ayah saya,’ kata Yeane.

Di bagian sales marketing, Yeane pun memulai karirnya dari seorang supervisor. Dealing ke satu toko ke toko lain. Dalam sehari, ia bisa mendatangi 5 toko.

“Sampai sekarang pun saya masih terjun ke lapangan. Mereka juga masih kenal saya, karena hubungan baik ini terus terjaga sejak 8-9 tahun yang lalu. Mereka pun tahu, saya orang lapanga, jadi saya lebih enak kalau dealing bisnis,” ungkap Yeane.

Yeane mengakui, kekuatan team work sangatlah penting. “Saya pernah ditegur orang. Kenapa saya yang maju, padahal anak buah yang salah. Saya bilang, kalau anak buah saya yang salah, berarti saya juga yang salah. Saya bilang ke anak buah, kalau kamu jatuh, saya juga jatuh. Jadi, please kamu jangan jatuh, karena kalau jatuh, kita harus sama-sama bangkit,” kata Yeane.

Action Proof Everything

Datang sebagai ‘orang baru’ dengan usia muda, membuat Yeane harus pintar-pintar mengambil keputusan dan bersikap. Maklum saja, perusahaan Ayahnya sudah berusia lebih dari 20 tahun.

Rasa canggung, tentu saja ada. “Tapi saya bukan ke arah saya adalah anak yang punya, tapi lebih ke arah, ‘menurut bapak bagaimana? kalau saya begini. Mari kita kompromikan.’ Saya juga lebih ke action proof everything. Daripada saya ngomong, saya kerjain dulu. Selanjutnya saya kasih tunjuk kalau hasilnya lebih bagus. Lama-lama kerjasama jadi lebih enak. Itu semua bisa dibuktikan oleh waktu dan hasil. Dari situ lah mereka bisa respek,” ujar Yeane.

Untungnya, lanjut Yeane, para senior di perusahaannya, senang akan perubahan. “Apalagi industri tahun depan harus berubah karena ada free trade ASEAN-China. Industri itu salah satu peluang kerja. Disini kita menyerap sumbar daya manusia paling banyak. Kalau pemerintah tidak melindungi industri kita, yang dirugikan siapa? Ya, masyarakatnya sendiri,” ungkap Yeane panjang lebar.

Rasa cinta pada tanah air, ditambah kepedulian Yeane yang besar akan industri dalam negeri, membuat wanita ini bergabung di banyak forum komunikasi di perdagangan. Diantaranya di KADIN menjadi Wakil Ketua Komite Tetap Inovasi dan Produktivitas,  pengurus di GABEL (Electronic Association of Indonesia), serta di Association of Gas Cookers.

“Sayang kalau kita hanya memikirkan untuk indutri kita sendiri. Kita punya pemikiran untuk improve. Aspirasi-aspirasi ini harus disalurkan ke asosiasi. Untuk memperbaiki industri, kalau tidak ada orang yang ngurus, trus bagaimana.

Capek, ya capek juga. Rasanya tidak enak juga kalau punya pemikiran tapi tidak disalurkan. Itu memang harus ada passion dan nasionalis yang tinggi,” ungkap Yeane.

Lagi-lagi, wanita yang senang mengenakan baju batik mengatakan, “itu karena saya sangat cinta Indonesia.”

Aien Hisyam

December 22, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 1 Comment

Dewi Yogo Pratomo

Gaya Hidup Hipnosis


Ingin berbuat lebih banyak, Dewi pun mendirikan Club Hypnosis Sehati. Ternyata, baru setahun lebih, CHS sudah melakukan 118 bakti sosial. Bulan ini, ia pun siap melakukan kegiatan besar, yang kelak akan dimasukkan dalam rekor MURI.


Ada canda ada pula keseriusan. Namun, suasana di dalam ruangan berhawa dingin itu, terbangun dengan sendirinya. Semua orang seolah terbawa ke alam lain, yang tercipta dengan ‘nyata’. Dewi, telah membawa dunia lain pada sugesti orang-orang di depannya. Sebuah dunia yang penuh ketenangan.

“Itulah hipnosis,” katanya, usai membuka kesadaran. Ia baru saja menyelesaikan mantra-mantranya. Di depan Dewi, beberapa wanita berusaha menghapus air mata. Yang lainnya, hanya duduk tercenung.

Dihipnosis, memang jadi satu sesi yang paling ditunggu peserta workshop hynotherapy. Ada rasa ingin tahu, bagaimana berada dalam satu keadaan, yang selama ini hanya menjadi pikiran, keinginan, hingga ketakutan dalam hidup mereka.

“Di dalam kehidupan negara-negara maju, hipnoterapi sudah bukan untuk orang sakit saja. Hipnoterapi sudah menjadi gaya hidup. Contohnya, Michael Schumacher, Steffi Graf, Vanessa William, hingga politisi, artis seperti Madonna, Tom Cruise dan banyak lagi, mereka punya terapis. Ada waktu satu hari, 2 X 45 menit hanya untuk di hipno. Bagaimana mereka memperbaiki perilaku supaya bisa the winning dalam mind set,” terang Dewi.

Dalam wadah Club Hypnosis Sehati yang didirikan Dewi satu setengah tahun silam, Hipnosis memiliki warna yang berbeda. Tidak lagi berbau mistik –seperti anggapan banyak orang-, justru menjadi kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.

Trauma Berkurang

Menjadi terapis hipnoterapi, bukanlah suatu kebetulan bagi wanita aktif bernama lengkap Dewi Yogo Pratomo. Bermula ketika ia kuliah di University of Maryland. Dewi memilih memperdalam dua bidang sekaligus, Keuangan dan Psikologi Industri. Lulus S1, wanita ini meneruskan pendidikannya dengan memperdalam Psikologi Perilaku Manusia (Human Behaviour), yang merupakan perpotongan disiplin ilmu Psikologi Industri dan Psikologi Murni Klinis.

Sampai suatu hari, Dewi bertemu dengan seorang profesor di Maryland yang memperkenalkan dunia hipnoterapi padanya.

“Saya juga beberapa kali jadi kelinci percobaan. Saya menemukan inside, setelah di regresi, trauma-trauma itu sudah mulai berkurang, aku mendapatkan pencerahan disitu. Aku merasakan ilmu ini bisa dijadikan suatu alat di profesiku. Kebetulan aku konsultan Sumber Daya Manusia,’ ujar Dewi.

Dewi mengakui bahwa dirinya juga pernah mengalami turbulensi dalam hidupnya. Dan saat itu dengan ilmu hipnoterapi yang telah ia kuasai, Dewi mampu bangkit kembali. Merasa tertolong dengan ilmu tersebut, Dewi yakin dia bisa membantu banyak orang. Inilah yang ia sebut multiplier effect. Membuat ia juga ingin menolong orang lain dalam memberdayakan batinnya, membuat orang menjadi produktif.

“Sebenarnya, dulu sudah banyak profesor dan psikiater yang menggunakan metode ini. Tetapi masih belum populer seperti sekarang. Dulu ilmu ini masih masuk grey area, apakah itu scientific atau tradisional. Kesininya baru bisa dijabarkan masuk ke dalam scientific dan bisa dicerna serta ada kaitannya dengan ilmu- ilmu medis,” ujar Dewi.

Banyak Cobaan Hidup

Sepulang dari Amerika, tahun 1987, Dewi bekerja di perusahaan pengeboran minyak di lepas pantai. Banyak sekali masalah yang dihadapi karyawan, dan segera butuh solusi.

‘Ternyata setelah memakai hipnoterapi ini, kita menasehatinya jadi seperti jalan tol. Resistensinya lebih sedikit, dan kita bisa merubah perilaku orang itu. Cara ini sangat efisien,” kata wanita kelahiran 10 Maret 1964, bersemangat.

Hipnosis, kata Dewi, sangat bermanfaat, efektif dan efisien digunakan orang. Dari atasan yang menasehati bawahannya, orangtua pada anak, hingga suami pada istrinya.

Sampai suatu hari suami Dewi memberikan pilihan hidup yang cukup berat. Tetap bekerja menjadi konsultan yang dalam 12 bulan hanya 4 bulan berada di rumah, atau berheti bekerja.

‘Jadi aku harus memprioritaskan hidup. Padahal aku tidak bisa nganggur. Di dalam pertapaanku, timbulah nuansa-nuansa, apa kegiatan yang bisa bermanfaat denan orang lain tanpa mengorbankan keluarga. Maka munculah praktek itu,’ kata Dewi.

Di rumahnya di kawasan elit Menteng, Dewi membuka klinik hipnoterapi yang ia beri nama ‘Cendana 4A’. Sayangnya, ijin praktek sulit keluar karena klinik Dewi berada di daerah pemukiman. Barulah pertengahan 2007 ia resmi membuka kantor dan klinik di Menara Kebon Sirih.

“Klien, ternyata terus bertambah. Ternyata, orang sudah mulai mengenal ilmu ini dengan baik,” kata Dewi.

Meski dibuka untuk umum, Dewi tetap memprioritaskan melakukan pengobatan untuk ibu, anak dan keluarga.

“Ada tiga hal yang dibutuhkan dalam hipnoterapi ini. Yang pertama harus ada hubungan timbal balik antara terapis dan pasien, paling tidak pasien harus percaya 100 persen dengan terapisnya. Yang kedua, pasien harus sadar kalau terapi ini jadi satu kebutuhan. Yang terakhir, pasien harus ada keinginan untuk berubah. Ini menjamin efektifitas hipnoterapi,’ terang Dewi.

Bakti Sosial 118 Kali

Melalui Club Hypnosis Sehati, Dewi ingin berbuat lebih banyak. Dengan rendah hati, Dewi mengatakan bahwa CHS lebih banyak melakukan kegiatan bakti sosial. Dalam satu setengah tahun, sejak CHS berdiri, Dewi beserta teman-temannya telah melakiuan 118 kali bakti sosial.

‘Baksos kita ini berbeda dengan baksos-baksos lainnya. Simpelnya, kita datang, peserta kita dudukkan, lalu kita hipno. Kalau anak-anak sekolah, manfaatnya bisa gampang menghafal sampai gampang belajar. Nilai-nilai rapotnya ternyata mengalami kenaikan yang siginifikan. Kalau ibu-ibu dhuafa, kita sugestikan untuk sehat dan tegar menjalani hidup. Lain lagi kalau panti wreda, kita pakai musik hipnonya agar jiwanya tenang,” jelas Dewi.

Selain menghipnosis, CHS yang beranggotakan lebih dari 100 orang ini, juga memberi santunan uang atau sembako, kesehatan atau pengobatan gratis, juga hiburan gratis.

“Pernah. Mereka kita ajak nonton di Mega Blitz rama-ramai. Seru banget deh,” ujar Dewi, senang.

Hypnobirthing Massal


CHS akan membuat gebrakan dalam memperingati Hari Ibu di bulan Desember ini.

“Awalnya, kita mau melakukan hipno massal pemecahan rekor MURI. Kita mau menghipnotis 2000 orang. Sayangnya setelah kita pikirkan matang-matang, kegiatan ini tidak efektif. Akhirnya kita ubah, bagaimana kalau kualitas kita tingkatkan tapi jumlah kita kurangi. Apalagi berkaitan dengan Hari Ibu. Lantas, kita spesifikan pada ibu hamil,” ujar Dewi.

Lantas, apa itu hypnobirthing?

“Ini satu proses pra persalinan untuk bisa menenangkan para ibu hamil menghilangkan rasa sakit saat si ibu persalinan. Lalu kita memperkenalkan rasa sakit itu apa, dan bagaimana memerangi rasa takut,” terang Dewi

Pada saat para ibu hamil ini di hipnosis, “mereka aku bawa ke proses persalinan. Aku giring mereka ke visualisasi yang mendekati aktual, pada saat mereka masuk ke ruang persalinan, pada saat operasi, ketemu dokternya. Dengan begitu, kita sudah melatih mental mereka hingga pada saat persalinan nanti, perasaan itu bukan jadi hal baru.’

“Kita sudah lakukan penelitian testimoni ke beberapa ibu yang telah di hipnoterapi saat hamil. Pada saat melahirkan mereka memang jauh lebih tenang, lebih fokus dan rasa sakitnya tidak terasa. Itulah keajaiban Tuhan yang ada di mind set orang,” lanjut Dewi, bersemangat.

Aien Hisyam

December 15, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Psikolog, Profil Wanita | 29 Comments