Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Yulianti Setyohadi

Hobi Yang Jadi Profesi

 

            Yuli merubah imej hidupnya lewat lukisan. Bermula dari hobi, kini  ia menjadi art dealer sekaligus event organizer khusus painting exhibition.

Di gedung yang sama, Yuli Setyohadi menyewa dua ruangan Di lantai tiga, ia fungsikan sebagai kantor dan kelas melukis khusus anak-anak. Di lantai dua, dengan ruang yang lebih luas, ia gunakan sebagai galeri. Ada 50 lebih lukisan yang dipertontonkan.

“Saya selalu tertarik ke hal-hal yang indah. Lukisan adalah satu hal yang indah. Indah dilihat, juga indah dikoleksi. Lukisan, ditaruh di tempat manapun, selalu membarikan keindahan pada ruangan itu. Selalu bisa dinikmati, karena lukisan sebagai penujang interior, bisa juga menjadi penyejuk hati dikala suasana hati bergejolak,” kata Yuli bersemangat.

Senang Yang Indah

Siang itu Yuli terlihat santai. Celana pajang dipadu tanktop warna senada coklat tua, membungkus tubuhnya yang ramping. Beragam asesoris menghiasi kedua tangan dan jari-jarinya.

“Saya senang yang indah-indah,” tegas Yuli.

Maka, tidak pernah sekalipun Yuli keluar rumah tanpa riasan di wajah. Bahkan untuk penampilan, Yuli sangat memperhatikan. Harus cantik dan indah dilihat.

“Tidak seperti seniman pada umumnya. Tetapi, kalau orang bertanya tentang profesi saya, mereka pasti terkejut. Banyak yang mengira saya ini pemain sinetron. Tetapi waktu saya bilang saya ini painting artist, mereka selalu bilang ‘wow!’ Terus mereka tanya ini itu. Tanya melukis apa, sudah berapa lama melukisnya, sampai lukisannya jenis apa, kok bisa tetap eksis. Setelah itu pembicaraan pasti akan mengalir dengan menyenangkan. Itulah yang membuat saya sangat bangga,” ujar Yuli.

Yuli memang lebih senang berbicara tentang lukisan. Tentang aktifitasnya sebagai art lover sekaligus painting artist daripada berbicara dunia gemerlap yang dijalani sebagian teman-temannya.

“Karena melukis bisa merubah hidup kita. Bisa membuat orang  lain senang lewat hasil karya kita. Apalagi kalau lukisan kita dihargai, dibeli dengan harga tinggi. Wah senang sekali,” ujar Yuli bangga.

Pelukis Rumahan

Sejak SMP Yuli gemar membuat sketsa mode. Ia sudah merasa ada darah seni mengalir dalam tubuhnya. Hanya saja, lulus SMA Yuli justru memilih masuk ke Stanford College jurusan Bahasa Inggris dan Komputer. Ia juga menikah muda saat masih berusia 22 tahun.

“Saya jadi tidak punya waktu lagi buat melukis. Setiap hari, waktu saya sudah habis buat ngurusin rumah dan anak-anak. Barulah setelah anak-anak besar, saya coba-coba melukis lagi,” kata Yuli.

Yuli akhirnya menjadi pelukis rumahan. Ia datangkan guru privat untuk melatih kelenturan tangannya saat melukis. Ia juga punya studio khusus tempat menyimpan semua lukisan hasil karyanya.

“Akhirnya saya pikir-pikir, saya punya hobi melukis, kenapa tidak saya jadikan hobi itu sebagai profesi saja. Bekerja di dunia yang saya sukai pasti akan membuat saya enjoy dan tidak terpaksa. Selama ini saya melukis dengan hati. Saya belajar secara otodidak, tidak ambil sekolah lukis. Jadi, melukis sudah menjadi jiwa saya,” kata ibu tiga anak, Adindara, Akbar Gustiana, dan Ameralda Claudia.

Tahun 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, Yuli justru membuka sekolah lukis untuk anak-anak di kawasan Pondok Indah diberi nama Sekolah Lukis Yudhacitra. Ia juga meresmikan EO-nya yang khusus menangani painting exhibition.

Empat tahun kemudian, Yuli kembali membuka sekolah lukis anak-anak di daerah Kemang. Ia juga serius menekuni pekerjaan barunya sebagai art dealer dan penyalur lukisan khusus hotel-hotel berbintang. Jumlah pesanan bisa mencapai 400 lukisan untuk satu hotel.

“Itulah, kalau kita sudah menekuni satu bidang jangan tanggung-tanggung, harus total. Saya seniman yang punya sense of bisnis. Seni lukispun bisa dibisniskan, jadi kenapa tidak kita seriusin,” ujar wanita yang kerap diundang mengikuti acara lelang ini bangga.

Begitupun menjadi art dealer. Menurut Yuli butuh keahlian khusus.

“Karena tidak hanya menjual karya-karya pelukis yang masih ada, tetapi juga dari lukisan-lukisan yang sudah lama dan kuno, atau yang pelukisnya sudah meninggal. Kita punya komunitas sendiri yang bisa mencari lukisa-lukisan tersebut. Seperti lukisan Basuki Abdullah, Affandi sampai Raden Saleh. Dan itu sangat susah sekali. Karena kita harus pakai kurator supaya tahu mana yang palsu dan tidak,” ujar wanita kelahiran 25 Juli 1967 ini dengan mimik serius.

Membicarakan lukisan Raden Saleh yang spektakuler, dahi Yuli langsung berkerut.

“Lukisan Raden Saleh itu hanya ada 9 buah di dunia. Jadi untuk menemukannya, kita benar-benar seperti masuk lubang jarum, Butuh waktu, uang dan pikiran. Itu harganya sudah diatas 5 Milyar. Ada yang di Belanda, di Amerika, dan beberapa Museum. Di Indonesia saja hanya ada 2 orang yang puya salah satunya di Istana,” kata Yuli menerangkan.

Impian Di Apartemen

Satu hari Yuli berjalan-jalan ke Sydney, Australia. Ia masuk ke sebuah galeri. Ia juga sempat singgah di satu mal besar.

“Di galeri itu, semuanya berhubungan dengan dunia seni lukis. Bahkan sampai meja-mejanya semua dilukis. Lalu saya masuk ke mal, di sana ada perangkat makan juga ada satu set meja makan. Semuanya saya sambung-sambungin. Bukan lewat foto, tetapi semua ada diotak saya. Lalu sampai di Jakarta saya aplikasikan ke kertas,” kenang Yuli.

Hasilnya, Yuli menyelesaikan satu lukisan yang indah. Diberi judul “Diantara Waktu Breakfast’.

“Saya merasa bagus sekali, dan ternyata semua orang bilang itu lukisan memang bagus. Saya melukiskan interior disain. Ada meja makan breakfast dengan pernak-perniknya yang unik, cantik dan bagus itu. Terus di samping meja makan itu ada jendela yang terbuka, kita langsung lihat pegunungan. Lukisan itu bahkan pernah masuk di majalah luar negeri.  Dan ternyata waktu saya pamerkan, semua orang appreciated banget,” ujar Yuli yang identik degnan lukisan cat air ini bangga.

Lukisan itu sudah terjual dan dikoleksi penggemar lukisan-lukisan Yuli. Total, wanita cantik ini telah menjual lebih dari 50 lukisan hasil karyanya.

Satu keinginan Yuli saat ini, “mudah-mudahan dalam waktu dekat, tempat workshop saya bisa diresmikan,” ujarnya.

Yuli tengah merancang satu tempat yang kelak ia gunakan sebagai tempat ‘kumpul-kumpul’ para pecinta seni lukis. Ia membeli satu unit apartemen di Bumi Mas Apartment. Di tempat ini ia buat geleri kecil dan tempat workshop yang cozy dan nyaman.

“Supaya kita bisa diskusi dan kolektor bisa lihat lukisannya. Ada ruang home teaternya, ada juga mini barnya. Dan kita akan rutin undang pecinta seni lukis. Kenapa saya plih apartemen, itu karena tempatnya bisa  24 jam saya pakai. Tidak seperti di hotel-hotel yang jam 10 malam sudah harus selesai,” ucap istri Indra Setyohadi ini dengan wajah senang.

Aien Hisyam

*wawancara 13 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment

Upi

Tidak Pernah Mengecilkan Pekerjaan


Upi punya banyak sisi dalam kehidupannya. Sebagian, telah ia ungkapkan di 5 film yang ia sutradarai. Masih ada sisi-sisi lain yang belum terungkap.

Banyak gebrakan dilakukan Upi ketika namanya menembus jajaran sutradara muda Indonesia. Kali pertama ia terjun menjadi sutradara, ia hadir dengan konsep kelam di Video grup band rock ‘Zamrud’. Upi pun mendapat imej baru sebagai sutradara ‘bersetting gelap’.

Mata pun terbelalak manakala Upi muncul lagi, di film pertamanya 30 Hari Mencari Cinta yang fun, ceria, dan sangat wanita. Konsep film layar lebar ini berbeda 180 derajat dengan beberapa Video Klip yang telah ia buat.

Uniknya, dari 5 film layar lebar yang ia sutradarai, kesemuanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Bukti bahwa Upi lihai membuat film dari banyak genre. Termasuk di film terakhirnya, Serigala Terakhir yang penuh adegan laga, special effect, dan berseting kelam.

Melap Keringat Artis

Kecintaan Upi pada film terjadi sejak ia masih kanak-kanak.

“Sejak kecil, sekitar umur 5 tahunan, saya sudah suka menulis. Tidak hanya itu. Saya dulu selalu didongengin sama Bapak dan Ibu. Barulah, mulai agak besar, saya sering diajak nonton sama Bapak saya. Dari situlah saya mulai tertarik nulis dan film,” kenang Upi.

Upi mengawali karirnya sebagai penulis di usia yang masih remaja. Saat masih kelas 3 SMA, ia sudah dipercaya membuat konsep cerita sitkom Opera Tiga Zaman untuk televisi RCTI.

“Tapi saya kecewa. Apa yang saya tulis tidak sama dengan apa yang ditayangkan. Sejak itulah, saya punya mimpi ingin menulis sekaligus menvisualisasikan. Berarti, saya harus jadi sutradara,” kata Upi, mantap.

Lulus SMA di Perguruan Cikini, Upi harus memilih, kuliah ‘formal’ atau kuliah sesuai pilihan hatinya menjadi orang perfilman.

“Tapi, mau ambil IKJ, saya tidak dikasih. Karena waktu itu televisi belum banyak, film  juga belum marak. Orangtua cemas sama masa depan saya,” sesaat Upi tersenyum, “tapi saya sudah tahu bahwa saya memang pengin jadi sutradara. Jadi saya tidak mau buang-buang waktu ambil kuliah yang tidak saya sukai.”

Meski akhirnya kuliah di juruan Komunikasi, Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), Upi iseng bekerja di PH milik Rizal Mantovani, Broadcasting Indonesia. Ia bangga mendapat pekerjaan pertamanya, menjadi tukang lap keringat musisi-musisi yang membuat video klip.

‘Saya duduk di pinggir, bawa kotak tisunya. Kalau cut, saya langsung lari lap-lap keringat mereka. Ada Kahitna, Gigi, dan banyak lagi,’ ujar Upi, tertawa senang.

Hargai Tiap Pekerjaan

Upi antusias bekerja di bagian produksi. Katanya, inilah sekolah yang yang paling ia hargai.

‘Untuk orang seperti saya yang tidak punya background apa-apa tapi bisa terlibat di produksi, disitu saya belajar. Saya bangga banget. Saya tidak pernah mengecilkan pekerjaan apapun, karena saya menghargai apa yang saya miliki. Saya cuma merasa orang yang nol. Itulah cikal bakal saya,” ujar Upi.

Berkat keuletan Upi bekerja, ia pun dipercaya menyutradarai video klip pertamanya dari grup band Zamrud. Di luar dugaan, video klip yang kata Upi gila-gilaan itu, menjadi runner up Video Musik Indonesia.

“Tapi, ketika saya dapat tawaran film pertama, saya ingin membalikkan imej saya. Saya bikin film yang bertolak belakang dengan imej saya. Saya bikin film yang fun, riang, ceria, girly banget,” ungkap Upi. Dan di tahun 2004 muncul film 30 Hari Mencari Cinta.

Terus terang, Upi mengakui dirinya ketika menyutradarai film, dibuat terkaget-kaget. Kalau biasanya ia hanya berhubungan dengan belasan kru, tapi saat membuat film, ia harus memenej ratusan orang.

“Ditambah lagi, rata-rata kru saya sudah berpengalaman di film. Ibaratnya saya ini outsider. Saya orang luar. Pengalaman saya masih nol. Tapi, ternyata selama saya punya visi dan misi ke depan, segala hambatan dan kendala itu tidak akan pernah terjadi,” ucap ibu satu anak, Farrell.

Sukses film pertama, membuat Upi mendapat tawaran dari beberapa produser untuk membuat film sejenis. Tapi Upi langsung menolak tawaran-tawaran tersebut.

“Saya mau berkembang. Saya kan punya ruang, dimana saya bisa mengekspresikan cerita-cerita saya yang lain. Saya tidak mau bikin film karena ditekan. Saya akan datang dengan diri saya sendiri. Film itu harus jujur. Ketika saya bikin, saya harus senang dulu, baru saya bisa bekerja,” tegas Upi.

Upi pun membuat 4 film lagi dengan genre yang berbeda-beda; ‘Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), Radit dan Jani (2008), dan Serigala Terakhir (2009).

Sisi-sisi Lainnya

“Saya punya banyak sisi,” kata Upi tentang kehidupannya yang erat berkaitan dengan tema 5 filmnya. “Film 30 Hari Mencari Cinta itu mewakili sisi kanak-kanak saya. Nah, saya ingin tunjukkan sisi saya yang lain. Waktu proses Realita, Cinta dan Rock ’n Roll, filmnya cowok banget. Cowok yang bengal-bengal. Itu sesuatu yang berbeda dari sisi Upi. Film Radit dan Jani itu drama yang temanya cinta banget, tapi bukan yang berbunga-bunga. Tentang suami istri yang muda yang hadapi banyak masalah,” jelas Upi.

Satu hal yang membuat Upi terus berkreasi, karena selalu menantang dirinya sendiri untuk melawan zona kenyamanan. Katanya, kalau ia terus-terusan berada di posisi yang nyaman, ia akan terlena dan tidak berkembang.

“Makanya, banyak yang heran dengan film terakhir saya. Syutingnya dan teknisnya rumit, kru-nya banyak, efeknya juga banyak dan rumit. Awalnya ngeri juga membayangkan akan memproduksi film ini. Ternyata begitu saya coba, bisa juga,” ujar Upi, tersenyum.

Wanita yang tengah berhubungan dekat dengan artis tampan, Vino G. Bastian, sedang mempersiapkan produksi film selanjutnya. Ditanya bertemakan apa? Ia tersenyum. “Yang pasti, sisi hidup saya yang lainnya,” kata Upi.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Artis, Profil Penulis, Profil Seniman | Leave a comment

Hetty Heriani Sobary

Di Televisi Wanita Harus Cantik

 

 

Di depan mantan pekerja seks, Cheche terharu. Ada hikmah yang telah ia petik.

“Bayangkan, dia mau datang ke pesantren. Mau pakai baju muslim. Mau belajar ngaji. Mau pakai jilbab dan mau salat tahajud. Ini kan benar-benar sebuah hidayah. Kalau dia tidak benar-benar mau jadi wanita muslimah, itu sangat susah. Butuh niat yang suci langsung dari lubuk hati,” kata Cheche Kirani.

Menjelang sore, di sela-sela syuting ‘7 Hari Menuju Tobat’ di Pondok Pesantren Al-Ittihad Sawangan, Bogor, Cheche mengungkapkan isi hatinya.

Tanpa Script

Istri ustaz H. Hadi Wibawa ini masih aktif bermain sinetron.

“Sinetron yang ada misi dakwahnya,” kata wanita Sunda ini.

Misalnya saat jadi presenter, Cheche menyelipkan hadis dan ayat Al Quran. “kecil-kecilan saja, dan biasanya spontan,” ujarnya.

Di depan kamera, ketika berdialog dengan psk yang bertobat, spontan Cheche berujar, “Allah sangat mencintai orang yang sungguh-sungguh bertobat di jalan Allah. Yang setelah bertobat berjanji tidak akan mengulanginya, dan tobat itu diisi dengan hari-hari beribadah yang bersungguh-sungguh kepada Allah.”

Tidak pernah pakai scrip. Otomatis, Cheche harus benar-benar menguasai dan mendalami kandungan Al Quran.

“Sebagai presenter, Cheche harus bisa mencari itu sendiri ayat-ayat yang berhubungan. Acara ini tidak ada scrip. Dan target kita, dia (si pelaku yang bertobat) tidak di briefing dulu. Ini on the spot. Saya harus menyorotnya selama 7 hari. Saya hanya diberi tahu kalau tadi malam begini-begini, kemarin begini-begini, yah sudah. Mengalir begitu saja,” kata Ibu satu putri. Saat ini Cheche sedang hamil satu bulan.

Gemas Seniteron Reliji

Cheche memang sedang belajar mentausiah orang. Padahal, ia mengaku belum bisa menjadi wanita ‘sempurna’. Justru, segala sesuatu yang telah ia sampaikan pada orang lain jadi bahan instrospeksi diri.

“Alhadulillah pekerjaan yang diberikan ke saya ini berkaitan dengan dakwah juga. Sejak saya pakai jilbab, tawaran pekerjaan yang ke saya seputar itu saja. Presenter juga presenter agama yang ketemu dengan ustaz juga. Mau syuting sietron pasti sinetron yang agama juga. Dan saya maunya syuting sinetron yang benar-benar agama tujuannya untuk syiar. Bukan yang dibungkus dengan mistis. Itu sangat tidak baik,” ujar Cheche.

Hati Cheche menentang ketika melihat sinetron religi yang tidak agamis. Ditambah lagi, kalau ada peran wanita muslimah yang tidak bisa mencerminkan pribadi muslimah.

“Saya sedikit menyayangkan. Pernah saya lihat ada peran wanita berjilbab, dia marah-marah, dia bentak-bentak, dia maki-maki. Ini sinetron reliji yang hanya dibungkus dengan pakaian muslim, baju koko, sorban dan jilbab. Tapi isinya tetap ke sinetron drama lainnya,” gemas suara Cheche.

Lebih disayangkan lagi, lanjut Cheche, sinetron model itu sangat diminati. Diikuti dengan PH-PH lain yang akhirnya justru menjatuhkan wanita muslimah dan agamanya.

Batasan Bermain Sinetron

Karena itulah Cheche sekarang selektif memiilh peran.

“Baca dulu adegan-adegannya. Kalau tidak melenceng dari syari’ah Islam dan bisa didakwahkan, saya mau. Yang disayangkan kalau sinetron religi dibuat menyimpang dari syariah Islam. Nanti orang beranggapan bahwa Islam kok seperti itu. Ternyata matinya orang Islam seperti itu atau akhlak wanita berjilbab kok seperti itu. Berarti dia orang yang munafik, yang tidak bisa menjilbabi hatinya. Kalau sudah begitu, nanti orang jadi tidak mau pakai jilbab,” ujar Cheche.

Selayaknya, wanita muslim bisa membungkus aurat dengan baik. Yang tertutup dan tidak menyerupai laki-laki. Yang menutupi telapak tangan dan telapak kaki.

“Bukannya pakai kerudung tapi leher kebuka. Pakai kerudung tapi pakai baju ketat. Ini tidak sesuai juga dengan ajaran syar’i. Malah kadang sutradaranya juga non muslim. Padahal dalam surat Al Azab, berbunyi ulurkan jilbabmu maksudnya pakaian,” lanjut Cheche.

Sebaiknya, lanjut Cheche, sinetron sinteron Islam dibuat oleh orang yang mengerti ajaran agama Islam.

“Pernah saya ikut di sinetron reliji, ada adegan wanita muslimah meninggal. Tapi kok yang mandiin laki-laki. Itu kan tidak boleh. Sampai saya bilang, tolong dong jangan begitu. Bukan karena sok jadi guru. Tapi kalau yang meninggal perempuan maka yang mandiin harus perempuan. Sutradaranya bilang ini kan hanya sinetron. Lho saya jawab, tapi kan yang nonton seluruh Indonesia. Ayo dong kita lebih sensitif. Karena salah berbuat bahkan salah pengucapan ayat saja bisa bermasalah,” ujar Cheche mengelus dada.

Cheche sendiri punya batasan dalam bermain sinetron. Asalkan tidak bersentuhan, tidak ada adegan pegangan, pelukan dan ciuman pastilah ia terima.

Dua Dunia Berbeda

Ditanya keinginan terbesar Cheche saat ini, “saya ingin seperti Siti Khadijah,” jawabnya

Cheche mengaku sedang menuju ke arah itu.

“Siti Khadijah itu luar biasa. Dia rela melepaskan seluruh hartanya demi perjuangan suaminya. Yah kalau saya tidak punya harta, ya dukungan, spiritual ke suami. Orang berpikir hidup Aa itu sudah enak. Tidak ada masalah. Tapi ustaz tetap manusia. Kita harus lebih sabar dan memperhatikan,” kata Cheche

Apabila ada wanita yang berkonsultasi pada suaminya, sebisa mungkin Cheche tidak cemburu. Dianggapnya, kondisi tersebut sebagai proses pembelajaran.

“Dan yang terpenting apa yang suami tausiahkan, harus kita amalin setiap hari. Aa tidak pernah menyuruh, Bunda begini-begini. Tapi Aa hanya mengajak Cheche ikut mendengarkan ceramahnya. Dan praktekin. Termasuk dalam mengurus anak. Penginnya Cheche bisa menjadi istri dan Ibu yang baik buat anak-anaknya. Kebetulan dititipi Allah anak perempuan. Jadi butuh ilmu yang banyak dan selalu dijaga agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan,” cerita Cheche.

Kalaupun ia berbeda dunia dengan suaminya, hal itu tidak jadi masalah. Ia sangat bersyukur karena memiliki suami yang sangat pengertian.

“Alhamdulillah saya dikasih suami yang ilmu agama baik. Tetapi bukan berarti suami saya otoriter dan kaku. Justru Aa orang yang mengkritik saya dalam pakaian. Aa justru ingin istinya pakai pakaian semodis mungkin. Jangan sampai dilihat orang terkesan kumuh, jelek karena memakai jilbab yang acak-acakan. Justru Aa ingin tunjukin bahwa wanita muslimah harus tampil dengan menarik, cantik dan pakai jilbabnya nyaman,” kata Cheche.

“Cheche bahkan masih diberi kebebasan beraktifitas. Boleh apa saja. Ikut arisan saja boleh. Yang penting Zalfa (anak pertama Cheche) sudah keurus, makan, mandi, minum vitamin. Kalau suami mengijinkan yah sudah. Kalaupun Aa berdakwah, sebisa mungkin ikut,” ujar Cheche dengan sumringah.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Artis, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment

Keke Soeryo

Ketika Insting Datang

Dunia model tak pernah lepas dari hidup Keke. Namun, ia juga  pemilik sekolah akting, sekaligus pemilik restoran. Apa keinginan Keke selanjutnya?


Wajah Keke masih terlihat cantik. Tahun ini, ia genap berusia 40 tahun. “Karena hidup saya enjoyed,” kata Keke, senang.

Ia pernah melewati era, menjadi top model Indonesia. Sebelas tahun silam, ia mendirikan Look Model Inc. Tanpa diprediksi muluk-muluk, modelling agency-nya berkembang sangat pesat.

Tampaknya, Keke tak ingin sukses di satu bidang saja. Dunia lain mulai ia rambah. Kini, ia juga dikenal sebagai artis dan pemain film, pemilik Performing Art School, bekerjasama dengan Didi Petet, juga pemilik Soeryo Café.

“Selain enjoyed, saya juga hidup seperti air mengalir. Tidak pernah dibawa susah apalagi stres,” tegasnya.

Berawal dari Model

Sudah 11 tahun Keke membawa Look Model Agency menjadi salah satu agensi khusus model papan atas.

“Selanjutnya, berkembang menjadi event organizer. Lulu (Lulu Dewayanti) yang pegang EO. Bahkan, sekarang punya sekolah sendiri. Ada sekolah modeling, performing art school, acting, public speaking,” ungkap Keke, bangga.

Khusus untuk sekolah akting, lanjut Keke, ia bekerjasama dengan Didi Petet. “Mas Didi kan pakar akting. Memang akan kelihatan hasilnya orang yang sekolah dengan yang enggak. Jadi, kalau ditanya gimana Look sekarang? Look sih terus berkembang.”

Keke merasa, akting sudah menjadi kebutuhan. Menjadi model saja tidak cukup. “Di modeling, orang hanya model saja. Kalau talent yang dilihat bakatnya. Nah sekarang alangkah baiknya kalau orang punya dua-duanya. Dan, sekolah saya ini diperuntukkan siapa saja yang mau terjun ke entertainment. Tidak harus model, karena akting, fisik bukan nomor satu. Beda sama model,” jelas Keke berpromosi.

Performing Art School baru 3 tahun berdiri. “Membikin sekolah akting ini, saya harus riset 2 tahun. Karena, sekolah ini buat orang lain, sifatnya sekunder. Tapi saya pikir, ilmu akting sudah diperlukan dimana-mana. Dalam keseharian saja kita butuh akting,” lanjut wanita yang pernah bermain sinetron berjudul ‘Turu Ranjang’, ‘Inikah Cinta’, Anak-Anak Surga’, dan ‘Gadis.

Tahun pertama, Keke mengaku agak berat. Tapi di tahun kedua dan ketiga ia mulai menjalankan dengan mudah. Sekolah akting ini bahkan sudah mencapai 15 angkatan. Tiap angkatan ada 10 orang.

Antara Palsu Dan Jujur

“Orang suka tanya, akting itu artinya apa sih? Palsu, bohong, atau jujur,” ujar Keke, tiba-tiba.

Wanita bernama lengkap Sri Nurhandayani Harun antusias bila bercerita tentang dunianya, akting -ia baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar berjudul ‘Ten’.

“Saya sering dipanggil di berbagai lomba. Saya kasih pembekalan. Saya selalu sarankan mereka untuk belajar akting. Jadi akting yang tidak hanya untuk main film saja. Karena, kalau kita berbicara, meyakinkan orang, itu harus jelas dan mudah dimengerti. Nah, itu perlu belajar akting. Jadi akting itu kejujuran. Inilah edukasi yang saya tanam dari awal,” jelas Keke, bersemangat.

Keke sedih melihat kulitas sinetron Indonesia. Padahal, katanya, 75 persen masyarakat Indonesia penyuka tayangan televisi. Apalagi anak-anak.

“Bagaimana kita mengedukasi yang benar kalau acaranya kita saja seperti itu. Nah, saya ingin beri kontribusi walaupun hanya sedikit,” ungkap Keke.

Alasan itu pula yang membuat Keke punya visi ke depan, mencetak murid-murid yang berkualitas.

“Tapi kalau, mereka mau begitu, ya sah-sah saja. Itu kan pilihan. Mereka mau main sinteron seperti itu atau mau main film berkualitas, itu terserah mereka. Kan mereka juga butuh uang. Mau bagaimana lagi. Cuma saya arahkan ke mereka, lebih ke kualitas. Kalau kamu mau berkualitas, belajarlah pada tempatnya,” ujar Keke, bijak.

Keliling Daerah

Meski tengah asik di sekolah akting, Keke tak melupakan pekerjaannya di dunia modeling.

Beberapa tahun terakhir, Keke banyak menjalin kerjasama dengan agen-agen modeling di luar negeri. Tujuannya, agar ia bisa menyalurkan bakat anak-anak didiknya.

“Semacam pertukaran. Kalau kita mau masuk era globalisasi, alangkah baiknya kita kerjasama dengan modelling agency luar. Modal kita untuk ke sana. Saya ingin menghidupkan dunia fashion Indonesia, bisa sama dengan di luar,” ujar Keke, mantap.

Ia yakin karena, katanya, orang Indonesia, khusus di wilayah Asia, wajahnya paling bagus, termasuk dalam fashion industry. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan desain, orang Indonesia tidak kalah.

“Tapi untuk model, orang Indonesia tidak seperti orang asing. Orang asing hidungnya mancung, matanya biru, tulang pipinya tinggi. Kita memang kalah dalam gen. Tapi setelah saya keliling Indonesia, orang kita ternyata unik. Banyak yang tinggi juga. Cuma, diamond-diamond ini belum ditemukan,” ujar Keke.

Keke sudah 2 tahun menjalin kerjasama dengan Depdiknas, dan 1 tahun bekerjasama dengan Telkomsel, untuk mencari anak-anak remaja berbakat di daerah-daerah di Indonesia.

“Saya mencari anak-anak normal dan anak-anak tuna rungu. Saya hanya melihat, dunia yang saya punya ini ada sisi sosialnya juga. Saya ingin anak-anak tuna rungu ini bisa bersaing dengan anak-anak normal, dan saya juga ingin melihat bibit-bibit di daerah ini. Kadang mereka tidak mampu,” ungkap Keke.

Ia membina para remaja berbakat ini. Ada yang di bina di daerah, tapi ada juga yang dibawa ke Jakarta. Katanya, belum 100 persen berhasil, tapi paling tidak, Keke telah melakukan kegiatan 75 persen.

Insting Melihat Model

Keke bersyukur diberi insting tajam. Ia bisa melihat bakat seseorang, di pertemuan pertama.

“Saya suka bisa lihat. Memang tidak banyak. Walaupun dia lugu, padahal mereka keren. Karena mereka pada dasarnya fisiknya keren, tapi nggak bisa dandan. Nah untuk melihat itu, perlu dipoles dulu. Kalau saya tidak. Walaupun tanpa polesan, saya sudah bisa lihat bakat itu. Mungkin ini sebagai anugerah,” ujar Keke.

Ia mencontohkan, saat ke Medan, ia menemukan gadis manis berkulit hitam. Tingginya 178. Sekali bertemu, Keke langsung suka. Namanya Kimi. “Sekarang sudah jadi top model Indonesia,” katanya.

Beberapa kali Keke bertemu model asal daerah yang siap ‘dipoles’. Kini, ia makin rajin berkunjung di Medan, Menado, Semarang, Yogya, Surabaya, Balikpapan, dan Bali. Ia berencana mencari ‘diamond’ asal Papua, Padang dan Palembang.

“Orang Indonesia kan macam-macam. Saya yakin ‘diamond’ ini ada di daerah, tapi belum ditemukan. Nanti mereka bisa ke Jakarta, dilatih, ditingkatkan percaya dirinya, bahasa Inggris, dan akhirnya mereka siap bersaing di dunia internasional,” ujar Keke, bersemangat. Aien Riyadi

“Kalau Saya Tahu, Saya Tegur!”

Menjadi Model Terkenal Berarti Siap…

Terima resiko. Itu masalah pilihan hidup. Yang memilih hidup ya kita sendiri. Kalau sudah jadi somebody, itu pilihan. Kalau kita mau digosipin, itu juga bisa. Hal-hal itu memang bisa menambah mereka jadi famous dan diketahui orang. Tapi ada artis yang tidak perlu begitu tapi tetap eksis. Dan itu juga banyak. Kalau sudah jadi public figure, kita harus siap dilihat orang. Karena pekerjaan memang begitu. Seperti model yang juga dilihat orang. Badanpun, dilihat dari angle manapun harus terlihat bagus. Kalau mental nggak tahan, kita terlindas dengan yang lain. Yang perlu diingat, model juga menyangkut usia. Kalau kita sudah tua, pasti mulai banyak keriput-keripout. Makanya saya menuntut mereka bisa acting dan bisa ngomong, supaya nanti bisa kemana-mana.

Kalau Ada ‘Anggapan’ Miring…

Itu juga pilihan, mereka mau begitu. Kita dikenal itu dari kehidupan kita seperti apa. Kita mau pacaran dengan suami orang, mau jadi lesbian, jadi gay, itu pilihan. Saya juga bukan ibunya (ibu para model yang ia didik). Tapi kalau saya kasih tahu, itu saya lakukan. Saya selalu bilang, kalau mau jadi model profesional, kamu harus lakukan ini-ini-ini. Dan kalau saya tahu itu, saya tegur. Tapi itu diluar pantauan saya. Saya orangnya terbuka saja. Dengan mereka saya tempatkan sebagai couching. Karena kalau saya tempatkan jadi orang tua juga susah. Saya juga tidak bisa tempatkan diri sebagai teman. Memang harus seperti itu, karena kalau nggak, mereka tidak disiplin. Tapi kalau lagi pergi keluar, fun, kita bisa seperti temen. Tapi dalam bekerja yah sabagai couching.

Problem Buat Saya…

Hal yang harus segera diatasi. Saya sudah terbiasa untuk selesaikan problem itu sendiri. Tidak panik. Begitupun setiap ada kerjaan, saya kerjakan dengan senang hati, dan itu bisa. Dan tidak terbeban. Kerjaan dibikin hobi. Saya juga tidak takut gendut. Kalau kita takut gendut kita justru malah bisa gendut. Yang terpenting buat saya, agar hidup enjoyed adalah olah raga 45 menit, seminggu paling tidak 2 kali. Saya tidak diet. Makan apa saja. Makan lemak, nggak pantang. Paling porsinya yang diatur. Saya selalu mengerjakan sesuatu yang saya sukai. Saya enjoyed sekali dalam hdup saya. Kalau kita bekerja, kita mencintai pekerjaan itu.

Anak, Impian Keke Selanjutnya

Belum lama, Keke bercerai dengan Benno Harun. Namun, impiannya untuk memiliki anak tak pernah padam.

Ketika bercerita tentang bahtera rumah tangganya yang kandas, Keke terlihat lebih rileks. Ia mengatakan tak ada trauma lagi.

“Sedih, pasti. Hidup kan up and down. Sedih dalam arti gagal dalam rumah tangga, ada juga kesedihan itu. Tapi saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi dalam perkawinan saya. Saya tidak mau trauma. Kalau saya trauma, nanti saya tidak menikah lagi,” sesaat Keke tersenyum.

“Target, dalam pribadi, kalau saya menikah lagi, saya ingin punya anak. Orang kan kalau sudah tua pasti pengin punya teman  Hal yang sederhana saja. Saya bisa pensiun dari pekerjaan saya. Saya bisa punya banyak waktu dengan anak saya,” lanjut Keke.

Tentang hidupnya yang sekarang, Keke langsung menjawab, “enak juga sendiri.” Ia kemudian tertawa lepas. “Kalaupun tiba-tiba sedih, saya share dengan teman. Itulah gunanya teman yang bisa dipercayai, saya bisa share dengan dia. Alhamdulillah saya berteman sudah 20 tahun. Dia bisa simpan semua rahasia-rahasia saya. Kita berdiskusi dan ngomong apa saja. Sudah seperti soulmate.”

Keke mengatur rutinitasnya dengan detail. Jumat ia gunakan waktunya bersama teman-teman, Sabtu dengan anak Benno, Primansyah –Keke sudah menganggap seperti anak sendiri, dan Minggu waktu untuk dirinya sendiri. Ia manfaatkan untuk pergi ke salon, spa atau kemana saja yang ia suka. Senin hingga kamis, ia bekerja.

Adakah pria yang saat ini singgah dihatinya? Keke tersenyum, manis. “Ada sih, cuma dia tidak tinggal disini. Kita tidak sering ketemu.”

“Tapi kalau ditanya keinginan saya yang lainnya, saya ingin punya yayasan di bidang modeling, talenta, dan akting untuk anak-anak yang tidak mampu,” ucap Keke, penuh makna.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Seniman | 1 Comment

Dewi Lestari

Inilah Proyek Cinta

 


Karya Rectoverso, menjadi karya cinta Dee pertama. Seperti judulnya, Dee tampaknya tengah menyatukan dua bagian yang terpisah dalam satu cinta yang utuh.


Saya merasa sebagai seniman. Banyak aspek dalam hidup saya. Aspek spiritual, sains, humor dan sebagainya. Saya juga senang drama dan serial. Aspek-aspek ini selalu jadi tema dalam karya-karya saya,” ujar Dewi Lestari.

“Namun, di karya terbarunya yang berjudul Rectoverso, Dee –sapa wanita ini-, seolah ‘melahirkan bayi sepasang ‘bayi kembar’. Karya yang penuh cinta, dan dikemas dalam bentuk musik dan fiksi. “Karena, saya pun punya aspek romantis. Saya senang baca puisi cinta, melamun, dan berandai-andai. Nah baru kali ini aspek ini saya pakai. Ini hanya aspek cinta, romantis, personal, hati, perasaan. Ini karya paling romantis,” katanya.

Pengalaman Baru

Dewi memperkenalkan karya barunya yang ia sebut karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan dua dunia dalam satu karya yang utuh, meski terpisah wujud. Ia sebut : Rectoverso.

“Ini karya jenis baru. Ini bukan sekedar buku dan bukan sekedar musik. saya ingin menawarkan sebuah pengalaman baru. Pengalaman menghayati yang baru,” ujar Dee.

Rectoverso memang dibuat dalam dua bentuk yang berbeda. Novel setebal 150 halaman yang di dalamnya ada 11 cerita, dan CD musik dengan 11 lagu. Uniknya, 11 judul lagu dan cerita yang ada di dalam Rectoverso; sama. Inilah, kata Dee, satu pengalaman yang berbeda.

Fiksi Rectoverso, kata Dee, bisa dinikmati utuh sebagai suatu buku. “Jadi, seperti definisinya, dua citra yang seolah terpisah tapi satu kesatuan. Ketika dia menjadi satu individu, dia bisa dinikmati tanpa terganggu dan tanpa tergantung yang lain. CD musiknya juga begitu. Tapi ketika mengalami keduanya, inilah pengalaman Rectoverso.”

Dua pengalaman yang dijadikan satu dalam satu pengalaman. Oleh karenanya, lanjut Dee, Rectoverso itu bukan produk tapi pengalaman. “Orang mau nggak mengalami ini? Ini lah yang membuat dia berbeda. Baik dari teman-teman bukunya dan dengan teman-teman CD-nya yang lain.”

Termasuk saat mendapatkan Rectoverso. Dee sengaja menjual dua karyanya ini di tempat yang berbeda. Fiksi di toko buku, CD  musik di toko musik. Untuk mendapatkan keduanya sekaligus, Dee membuka online melalui internet.

”Saya ingin orang memiliki petualangannya sendiri. Kalau saya jual satu paket, dia akan dapat kedua-duanya dengan mudah. Bagi saya, pengalaman Rectoverso, yaitu bagaimana orang itu menemukannya. Orang menemukan bukunya dulu, kemudian menemukan CD-nya. Atau sebaliknya. Inilah proses menemukan,” kata Dee, semangat.

Ada 36 Hati

Ada banyak orang yang mendukung proyek Rectoverso ini. Proses pengerjaannya pun tidak main-main. Dee merencanakannya dengan sangat matang.

Dee menggandeng banyak musisi di album Rectoverso-nya. Khusus para musisi ini, Dee bahkan mewajibkan mereka untuk membaca bukunya. “Saya kasih ceritanya, ini loh ceritanya supaya mereka tahu apa yang dibutuhkan lagu itu.”

Satu gebrakan Dee adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan rekaman secara live. Proses ini melibatkan 36 pemain musik. Sulitkah itu? Dee pun tersenyum.  “Kalau mereka pemain profesional, mereka sudah seharusnya ready untuk berikan yang terbaik. saya juga menjelaskan pada mereka, proyeknya untuk ini-ini-ini. Secara otomatis, terangkat untuk jadi semangat. Makanya, kalau dibilang, ini proyek cinta, itu memang benar, ” ujar Dee.

Rekaman secara live memang jarang dilakukan di industri rekaman. Lantas, apa yang membuat Dee tertarik melibatkan banyak pemain musik di rekaman musiknya?

”Kita ingin, Rectoverso ini dibikin personal dan punya nyawa. 36 orang main bareng. Ada 36 orang kasih hatinya untuk si lagu,” kata Dee.

Dee ingin juga, di rekaman ini setiap soul dari para pemainnya,  mampu tertampung secara otimal. “Kalau rekamannya satu-satu, itu bisa berbulan-bulan. Dampak tidak positifnya, saya gampang jenuh. Yang terjadi di industri rekaman yaitu gampang jenuh karena rekaman bisa setahun. Nah, kalau yang ini sekali langsung jadi,” ujar Dee.

Proyek Cinta

Berkali-kali, Dee menyebutkan, proyeknya kali ini sebagai proyek cinta.

“Ketika mereka membaca bukunya dan mendengar musiknya, yang pada saat itu masih sangat sederhana, mereka jatuh cinta pada konsepnya. Walaupun ini lahir dari saya, tapi ini jadi milik ramai-ramai,“ ucap Dee.

Proses yang singkat. Hanya dalam 4 hari saja, album musikknya selesai. Proyek ini, kata Dee, berjalan dengan sistem paralel. Musik jalan, grafis jalan, melibatkan banyak orang. Dee merasa, bukan hanya produknya yang berharga, “tapi pengalaman kami semua yang berharga dalam menyelesaikan produk ini.”

Begitupun Dee dan pasangan duetnya. “Kalau kita duet, yang kasih nyawa bukan hanya aku sendiri, tapi ada orang lain juga yang kasih nyawa. Ada kolaborasi nyawa di lagu itu,” ujarnya, mantap.


Malas Tapi Produktif

Dee baru saja mengambil keputusan besar. Pindah ke Jakarta, setelah belasan tahun berkarir. Demi satu tujuan, keseimbangan hidup.

“Saat ini, saya baru menyadari betul hidup seimbang. Karena penyakit orang kota, selalu berat pada satu aspek saja. Kerja melulu. Sekarang saya lagi menyeimbangkan porsi antara kerja, berkarya, rileks dan malas-malasan,“ kata Dee, tersenyum.

Ibu satu anak, Keenan Avalokita Kirana, merasa aktifitas malas, juga penting buatnya. Misalnya, satu hari tidak madi dan tidak keluar rumah. Rileks pun perlu dilakuan, seperti meditasi, atau spa. Aktifitas ini khusus untuk memanjakan dirinya.

“Nah, berkarya itu seperti sekarang ini. Ada Rectoverso. Dan bekerja, ya misalnya dengan mempromosikan Rectoverso. Kalau dulu saya tidak peduli (pada keseimbangan hidup). Kalau kerja, kerja terus. Kalau sekarang, dalam seminggu saya harus membagi hidup saya ini,” kata Dee.

Dee justru merasa produktif di saat hidupnya mulai balance. ”Ketika saya jalankan itu, saya merasa optimal. Sebenarnya tahun 2007 kemarin saya berkarya 2, Rectoverso dan Perahu Kertas, novel digital saya. Dulu waktu saya ngoyo bekerja, saya malah hanya menghasilkan satu karya. Tapi setelah saya mengapresiasikan kemalasan saya, saya jadi lebih produktif. Saya lagi mencoba menerapkan paradigma,  malas tapi produktif,“ Dee pun tertawa.

Kalaupun Dewi memutuskan pindah rumah ke Jakarta, katanya, semata-mata demi anaknya.

“Anak saya mulai beranjak besar, sekarang 4 tahun, saya merasa saya kehilangan quality time sama dia, karena, saat itu saya begitu banyak kerjaan yang harus dikerjakan di Jakarta. Dan saya akhirnya membuat keputusan yang sangat besar, karena saya berpikir kalau ini diteruskan saya akan kehilangan banyak waktu saya dengan anak saya. Karena, waktu saya pasti akan habis di jalan. Bagi saya ini tranformasi besar,“ ujar Dee yang selama ini tinggal di Bandung.


Cinta Itu Energi

Arti Cinta Sesungguhnya…

Menurut saya, Cinta itu energi. Kalau energi, berarti segala sesuatu di bumi ini adalah cinta. Saya merasa bumi berputar karena cinta. Matahari bersinar karena cinta. Bagi saya, cinta yang hanya sekedar relationship, itu hanya sesuatu wajah kecil dari cinta. Hidup ini juga cinta.

Hidup Berkaitan dengan Tulisan…

Sebetulnya kalau dibilang langsung, enggak. Tapi setelah selesai dan saya baca ulang (Rectoverso), ada beberapa lagu, bicara tentang kehidupan dan kematian. Entah kenapa saya juga tertarik, bergerak untuk menulis tema itu. Mungkin saya merasa keberadaan Tuhan pencipta, itu bisa dirasakan seperti kita merasakan Rectoverso. Dia terasa begitu dekat. Seperti Nabi, dia begitu dekat dari pada urat lehermu sendiri. Itu saya rasakan saat menulis Rectoverso. Semacam ada guide ketika menulis.

Kalaupun Ide Ditiru…

Sebetulnya aku tidak terlalu mempermasalahkan. Walaupun kita punya hak paten untuk ide itu, tapi ide nggak ada tuannya. Kalau ada orang bikin sama, ya nggak masalah. Tapi, salah satu syarat kalau kita bikin Rectoverso, harus  penyanyi, pencipta lagu dan penulis. Aku sih senang-senang saja. tapi memang Rectoverso ini sangat spesifik. Kalau ingin persis sama konsepnya, harus dibuat dengan sangat spesifik. Minimal creator-nya harus menguasai bidang-bidang itu.

Inspirasi Karyaku…

Inspirasi banyak banget. Saya kalau nulis lagu atau bikin lagu, rumusnya 4, yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, mengamati lingkungan sekitar, dan imajinasi. Dalam Rectoverso ini, yang lebih ditekankan, kepada apa yang tokohnya rasakan. Bukan kata-kata, ketokohan atau mengedepankan alur. Tapi lebih mengedepankan emosi apa yang dirasakan si tokohnya.

Tentang Rencana Heksalogi…

Supernova, Akar, dan Petir itu bukan trilogi. Saya masih menyisakan tiga konsep lagi untuk dibentuk. Artinya, akan ada heksalogi. Saya suka enam karena bermakna heksagonal yang maksudnya kesempurnaan. Maka, saya pilih untuk menggenapkan Supernova menjadi enam seri. Inspirasinya, ya kehidupan sehari-hari. Rencananya, saya akan mengeksplorasi ide dengan konsep yang lebih fresh dibandingkan buku-buku sebelumnya.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Penulis, Profil Seniman | 1 Comment

Natasha Pramudita

“Penyanyi Rock Kok Pakai Kerudung”


Ia penyanyi rock yang kerap pentas di atas panggung, diiringi musik cadas. Namun, Tasha juga pengacara profesional dengan sejumlah kasus-kasus berat yang siap ia tangani.


Beberapa tahun silam, di sebuah kafe, Nathasa duduk di atas bangku terkaki tinggi. Ia menyanyi diiringi 4 musisi ala akusitik. “Terimakasih,” jawabnya membalas applause sejumlah tamu.

Jauh berbeda ketika Thasa –panggilan akrabnya- menyodorkan kartu nama. “Kalau kartu nama sebagai penyanyi, tidak ada. Adanya yang ini,” kata Tasha, sambil tersenyum. Tertulis ‘Law Office Nathasa & Partners’ di kartu namanya. “Jangan kaget. Sebenarnya, kalau pagi sampai sore saya pengacara, tapi sore sampai malam saya penyanyi kafe,” lanjutnya, sambil tertawa kecil.

Kata Tasha, penyanyi adalah selingan dalam hidupnya. Namun ketika ditanya, ia ingin lebih dikenal sebagai pengacara atau penyanyi, Natasha langsung tersenyum. Ia langsung menyebut dua-duanya.

Tasha sudah menjadi pengacara lebih dari 10 tahun lebih. Ia pun sering terlibat dalam kasus-kasus besar, termasuk menangani beberapa kasus di dunia selebriti. Sementara menjadi penyanyi, telah ia jalani sejak usia 3 tahun.

Merasa Dirugikan

Lulusan Universitas Trisakti, Fakultas Hukum ini punya cerita khusus mengenai pilihannya menjadi pengacara.

“Awalnya saya terlibat dalam satu perkara perdata sebagai saksi. Saya masuk ke sidang pengadilan, dan berada di pihak yang benar. Tapi, hasi persidangan, saya dirugikan. Saya berpikir, kok bisa yang salah bisa menjadi benar. Akhirnya saya berjanji akan jadi pengacara. InsyaAllah kalau saya jadi pengacara saya bela orang sesuai dengan porsinya,” kata Tasha.

10 tahun silam, Tasha resmi menjadi pengacara. Ia bekerja di sebuah Firma Hukum. Namun, karena menemukan banyak perbedaan idealisme di tempat ia bekerja, Tasha pun memilih keluar kerja.

Ia pun mendirikan Firma Hukum bersama 3 temannya.

“Kalau klien mengajukan masalahnya, saya lihat masalahnya dulu. Kalau harus membalikkan fakta, saya akan mundur. Nanti malah tidak bisa tidur. rejeki tidak seberapa, tapi tidur tidak nyenyak. Dan itu sering sekali. Pernah juga di dalam sidang saya mundur, karena dari awal tidak jujur,” ungkap Tasha.

Tasha punya idealisme tersendiri. Ia akan berjuang untuk kliennya sesuai porsinya. “Kalau tidak bersalah saya akan bela mati-matian. Misalnya dia dituntut 10 tahun, padahal dia harusnya dihukum 5 tahun. Saya akan membela dia sampai dia mendapatkan porsinya hukuman 5 tahun,” kata Tasha, lagi.

Mulut Dibikin Kelu

Tasha sadar, ia berada di lingkungan minoritas. Biasanya, profesi pengacara ini di dominasi para pria dan dari suku tertentu.

“Saya, sudah perempuan, dari Sunda pula. Teror juga sering sekali terjadi, ya ke telepon atau ke rumah. Sampai dikirimin surat-surat kaleng. Tapi, kalau saya benar, kenapa takut. Memilih menjadi pengacara, sama halnya orang memilih jadi dokter gigi. Kok berani dokter itu mencabut gigi dan melihat darah. Tapi orang harus melakukan itu karena pilihan,” ujar Tasha.

Jumlah pengacara perempuan, kata Tasha, perbandingannya 80-20 persen. “Biasanya perempuan memilih menjadi pengacara coorporate,” ujar Tasha.

Tasha tidak punya strategi khusus saat menyelesaikan kasus-kasus yang ia pegang.

“Saya doa saja. Saya ini kan cerewetnya setengah mati. Pernah waktu itu di persidangan saya sangat kelu dan pusing. Ada yang bilang, saya dan klien di bekukan mulutnya. Akhirnya saya diobati teman saya, Alhamdulillah akhirnya sembuh. MasyaAllah selama 1 bulan saya sakit-sakitan terus, dan yang menyembuhkan hanya doa,” cerita Tasha.

Setelah bekerja di kantor sendiri, Tasha lebih leluasa mengatur hidupnya. Ia bisa memilih kasus-kasus yang akan ia tangani. Termasuk mengurus si buah hati.

Selingan Main Musik

Sejak usia 3 tahun, hidup Tasha sudah bersentuhan dengan musik. Ia bahkan sering tampil disejumlah acara musik di TVRI. Ia juga aktif mengikuti perlombaan menyanyi. Barulah di bangku kuliah, Tasha menderikan rup band dan tampil di kafe-kafe.

“Bahkan saya bayar kuliah dari uang nge-band di kafe ini. Bukannya orang tua saya tidak mampu. Justru orangtua keberatan saya menyanyi, takut nilai IPK jelek. Ternyata saya bisa membuktikan dengan baik,” kata Tasha.

Seminggu, enam kali Tasha menyanyi di 6 kafe yang berbeda, dengan band-band yang berbeda. Ia pernah satu band dengan musisi terkenal seperti almarhum Andi Liyani, almarhum Imanez, juga dengan Once, dan Deni Caplin.

Bersama Deddy Dores, Tasha pernah mengeluarkan album lagu.

“Kemudian saya buat TASS Band. Lagu kami sempat menang di kategori pop alternatif di ajang Video Musik Indonsia. Kita juga pernah bikin lagu dengan Bondan Prakoso sebagai pemain bass, dan Ivan ‘Boomerang’ memegang gitar. Kita tampil di pangung-panggung rock. Kita aktif tampil di panggung-panggung musik rock dari tahun 2004 sampai tahun 2008 kemarin,” cerita Tasha.

Termasuk ketika Tasha memutuskan memakai penutup kepala. “Setelah pakai kerudung, saya tetap tampil di pangung-pangung musik rock. Tentunya dengan tetap pakai kerudung yang dibikin keren. Kemarin, waktu tampil di Makasar, ada yang komentar, penyanyi rock kok pakek kerudung. Waktu itu saya tampil dengan Once membawakan lagu-lagu rock lama yang dikemas ala kita,” kenang Tasha, tersenyum.

Saat ini, Tasha berubah haluan. Ia masih tetap menyanyi lagu-lagu rpck, tapi ia juga menyanyikan lagu-lagu religi. Satu album reliji baru saja ia luncurkan, berjudul ‘Suara Kalbu’.

“Saya sangat senang dengar lagu-lagu reliji. Setiap pemusik yang bikin album reliji, pasti saya beli, dan coba saya nyanyiin. Akhirnya saya memutuskan terjun di lagu ini. Kebetulan saya dapat produser Tohpati. Jadi, album ini tidak seperti lagu reliji bernuansa Arab, karena segala umat bisa mendengarkan lagu-lagu reliji saya,” kata Tasha, senang.

Tasha bahkan berniat memberikan hasil penjualan albumnya dan RBT, pada yayasan yang mengurus anak-anak Yatim Piatu.

Aien Hisyam

November 12, 2009 Posted by | Profil Seniman, Profil Wanita | 1 Comment