Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Aty Mannawi

Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’

 

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

 

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.

“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Lebih Sensitif

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di  Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.

“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.

“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.

“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan American University, Washington DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.

“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Tren Sulit Konsentrasi

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, gangguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.

“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Orang Tua Harus Berani

Jangan pernah menunda.

“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.

“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

Ujian Untuk Terapis

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.

“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.

Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.

Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dokter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara.

Aien Hisyam

*wawancara 20 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik, Profil Psikolog | Leave a comment

Dewi Yogo Pratomo

Gaya Hidup Hipnosis


Ingin berbuat lebih banyak, Dewi pun mendirikan Club Hypnosis Sehati. Ternyata, baru setahun lebih, CHS sudah melakukan 118 bakti sosial. Bulan ini, ia pun siap melakukan kegiatan besar, yang kelak akan dimasukkan dalam rekor MURI.


Ada canda ada pula keseriusan. Namun, suasana di dalam ruangan berhawa dingin itu, terbangun dengan sendirinya. Semua orang seolah terbawa ke alam lain, yang tercipta dengan ‘nyata’. Dewi, telah membawa dunia lain pada sugesti orang-orang di depannya. Sebuah dunia yang penuh ketenangan.

“Itulah hipnosis,” katanya, usai membuka kesadaran. Ia baru saja menyelesaikan mantra-mantranya. Di depan Dewi, beberapa wanita berusaha menghapus air mata. Yang lainnya, hanya duduk tercenung.

Dihipnosis, memang jadi satu sesi yang paling ditunggu peserta workshop hynotherapy. Ada rasa ingin tahu, bagaimana berada dalam satu keadaan, yang selama ini hanya menjadi pikiran, keinginan, hingga ketakutan dalam hidup mereka.

“Di dalam kehidupan negara-negara maju, hipnoterapi sudah bukan untuk orang sakit saja. Hipnoterapi sudah menjadi gaya hidup. Contohnya, Michael Schumacher, Steffi Graf, Vanessa William, hingga politisi, artis seperti Madonna, Tom Cruise dan banyak lagi, mereka punya terapis. Ada waktu satu hari, 2 X 45 menit hanya untuk di hipno. Bagaimana mereka memperbaiki perilaku supaya bisa the winning dalam mind set,” terang Dewi.

Dalam wadah Club Hypnosis Sehati yang didirikan Dewi satu setengah tahun silam, Hipnosis memiliki warna yang berbeda. Tidak lagi berbau mistik –seperti anggapan banyak orang-, justru menjadi kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.

Trauma Berkurang

Menjadi terapis hipnoterapi, bukanlah suatu kebetulan bagi wanita aktif bernama lengkap Dewi Yogo Pratomo. Bermula ketika ia kuliah di University of Maryland. Dewi memilih memperdalam dua bidang sekaligus, Keuangan dan Psikologi Industri. Lulus S1, wanita ini meneruskan pendidikannya dengan memperdalam Psikologi Perilaku Manusia (Human Behaviour), yang merupakan perpotongan disiplin ilmu Psikologi Industri dan Psikologi Murni Klinis.

Sampai suatu hari, Dewi bertemu dengan seorang profesor di Maryland yang memperkenalkan dunia hipnoterapi padanya.

“Saya juga beberapa kali jadi kelinci percobaan. Saya menemukan inside, setelah di regresi, trauma-trauma itu sudah mulai berkurang, aku mendapatkan pencerahan disitu. Aku merasakan ilmu ini bisa dijadikan suatu alat di profesiku. Kebetulan aku konsultan Sumber Daya Manusia,’ ujar Dewi.

Dewi mengakui bahwa dirinya juga pernah mengalami turbulensi dalam hidupnya. Dan saat itu dengan ilmu hipnoterapi yang telah ia kuasai, Dewi mampu bangkit kembali. Merasa tertolong dengan ilmu tersebut, Dewi yakin dia bisa membantu banyak orang. Inilah yang ia sebut multiplier effect. Membuat ia juga ingin menolong orang lain dalam memberdayakan batinnya, membuat orang menjadi produktif.

“Sebenarnya, dulu sudah banyak profesor dan psikiater yang menggunakan metode ini. Tetapi masih belum populer seperti sekarang. Dulu ilmu ini masih masuk grey area, apakah itu scientific atau tradisional. Kesininya baru bisa dijabarkan masuk ke dalam scientific dan bisa dicerna serta ada kaitannya dengan ilmu- ilmu medis,” ujar Dewi.

Banyak Cobaan Hidup

Sepulang dari Amerika, tahun 1987, Dewi bekerja di perusahaan pengeboran minyak di lepas pantai. Banyak sekali masalah yang dihadapi karyawan, dan segera butuh solusi.

‘Ternyata setelah memakai hipnoterapi ini, kita menasehatinya jadi seperti jalan tol. Resistensinya lebih sedikit, dan kita bisa merubah perilaku orang itu. Cara ini sangat efisien,” kata wanita kelahiran 10 Maret 1964, bersemangat.

Hipnosis, kata Dewi, sangat bermanfaat, efektif dan efisien digunakan orang. Dari atasan yang menasehati bawahannya, orangtua pada anak, hingga suami pada istrinya.

Sampai suatu hari suami Dewi memberikan pilihan hidup yang cukup berat. Tetap bekerja menjadi konsultan yang dalam 12 bulan hanya 4 bulan berada di rumah, atau berheti bekerja.

‘Jadi aku harus memprioritaskan hidup. Padahal aku tidak bisa nganggur. Di dalam pertapaanku, timbulah nuansa-nuansa, apa kegiatan yang bisa bermanfaat denan orang lain tanpa mengorbankan keluarga. Maka munculah praktek itu,’ kata Dewi.

Di rumahnya di kawasan elit Menteng, Dewi membuka klinik hipnoterapi yang ia beri nama ‘Cendana 4A’. Sayangnya, ijin praktek sulit keluar karena klinik Dewi berada di daerah pemukiman. Barulah pertengahan 2007 ia resmi membuka kantor dan klinik di Menara Kebon Sirih.

“Klien, ternyata terus bertambah. Ternyata, orang sudah mulai mengenal ilmu ini dengan baik,” kata Dewi.

Meski dibuka untuk umum, Dewi tetap memprioritaskan melakukan pengobatan untuk ibu, anak dan keluarga.

“Ada tiga hal yang dibutuhkan dalam hipnoterapi ini. Yang pertama harus ada hubungan timbal balik antara terapis dan pasien, paling tidak pasien harus percaya 100 persen dengan terapisnya. Yang kedua, pasien harus sadar kalau terapi ini jadi satu kebutuhan. Yang terakhir, pasien harus ada keinginan untuk berubah. Ini menjamin efektifitas hipnoterapi,’ terang Dewi.

Bakti Sosial 118 Kali

Melalui Club Hypnosis Sehati, Dewi ingin berbuat lebih banyak. Dengan rendah hati, Dewi mengatakan bahwa CHS lebih banyak melakukan kegiatan bakti sosial. Dalam satu setengah tahun, sejak CHS berdiri, Dewi beserta teman-temannya telah melakiuan 118 kali bakti sosial.

‘Baksos kita ini berbeda dengan baksos-baksos lainnya. Simpelnya, kita datang, peserta kita dudukkan, lalu kita hipno. Kalau anak-anak sekolah, manfaatnya bisa gampang menghafal sampai gampang belajar. Nilai-nilai rapotnya ternyata mengalami kenaikan yang siginifikan. Kalau ibu-ibu dhuafa, kita sugestikan untuk sehat dan tegar menjalani hidup. Lain lagi kalau panti wreda, kita pakai musik hipnonya agar jiwanya tenang,” jelas Dewi.

Selain menghipnosis, CHS yang beranggotakan lebih dari 100 orang ini, juga memberi santunan uang atau sembako, kesehatan atau pengobatan gratis, juga hiburan gratis.

“Pernah. Mereka kita ajak nonton di Mega Blitz rama-ramai. Seru banget deh,” ujar Dewi, senang.

Hypnobirthing Massal


CHS akan membuat gebrakan dalam memperingati Hari Ibu di bulan Desember ini.

“Awalnya, kita mau melakukan hipno massal pemecahan rekor MURI. Kita mau menghipnotis 2000 orang. Sayangnya setelah kita pikirkan matang-matang, kegiatan ini tidak efektif. Akhirnya kita ubah, bagaimana kalau kualitas kita tingkatkan tapi jumlah kita kurangi. Apalagi berkaitan dengan Hari Ibu. Lantas, kita spesifikan pada ibu hamil,” ujar Dewi.

Lantas, apa itu hypnobirthing?

“Ini satu proses pra persalinan untuk bisa menenangkan para ibu hamil menghilangkan rasa sakit saat si ibu persalinan. Lalu kita memperkenalkan rasa sakit itu apa, dan bagaimana memerangi rasa takut,” terang Dewi

Pada saat para ibu hamil ini di hipnosis, “mereka aku bawa ke proses persalinan. Aku giring mereka ke visualisasi yang mendekati aktual, pada saat mereka masuk ke ruang persalinan, pada saat operasi, ketemu dokternya. Dengan begitu, kita sudah melatih mental mereka hingga pada saat persalinan nanti, perasaan itu bukan jadi hal baru.’

“Kita sudah lakukan penelitian testimoni ke beberapa ibu yang telah di hipnoterapi saat hamil. Pada saat melahirkan mereka memang jauh lebih tenang, lebih fokus dan rasa sakitnya tidak terasa. Itulah keajaiban Tuhan yang ada di mind set orang,” lanjut Dewi, bersemangat.

Aien Hisyam

December 15, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Psikolog, Profil Wanita | 29 Comments

Claudia Massie

Hidup Tidak Pernah Sia-Sia

Claudia memandang hidup demikian sempurna. Kesempurnaan itu lah yang ia bagi pada orang lain, dengan caranya sendiri.


Berhenti kerja, tak membuat Claudia berkecil hati. Ia justru termotiasi untuk mebuat hal-hal baru yang jauh lebih bermanfaat. Salah satunya yang kini menuai hasil, adalah Majelis Taklim yang ia namai Zakia-Nandjar. Zakia berarti indah.

“Saya ingin, hidup orang lain lebih indah,” Claudia menterjemahkan maksud kata tersebut.

Tak hanya majelis taklim. Sejalan dengan waktu dan kebutuhan, Claudia pun mendirikan family counseling, khusus menangani permasalahan diseputar rumah tangga, anak dan remaja, maslaha pribadi, dan komunikasi.

“Konseling ini sangat terbuka untuk siapapun,” kata Hj. Claudia Massie, S.Sos.

“Mengapa saya membentuk satu wadah ini, semata untuk sharing, dimana seseorang mereka tidak perlu merasa risi atau merasa terikat aturan-aturan yang baku ketika mereka mengungkapkan satu permasalahan.”

Hidup Seimbang

Alasan utama Claudia menjadi counselor, karena sebelumnya, 8 tahun silam, ia sudah mendirikan Majelis Taklim atau pengajian Zakia-Nandjar, berikut Yayasannya.

“Kita bergerak di bidang syiar islam, kemanusiaan, pendidikan anak dan pemberdayaan muslimah. Sebagai pengamalan Hablum minallah & Hablum minannas, secara lintas mazhab dan profesi, untuk kerukunan umat dan kecerdasan sosial. Itu misinya. Visinya jelas untuk persatuan umat islam melalui dakwah bil hal,“ kata Claudia.

Claudia ingin, wadah pengajian ini, menjadi tempat dimana para muslimah bisa menggali ilmu agama, meningkatkan sisi spiritualitas diri.

“Saya meyakini bahwa seorang manusia, muslimah khususnya, harus seimbang dunia dan akhirat. Itu yang akan jadikan dia bisa jalankan hidup dengan sebaiknya. Kalau spiritual, jelas hubungannya dengan Tuhannya. Tapi kalau dunia, dia bertanggung jawab atas dirinya pemikirannya, kelakuannya, sebagai ibu, istri dan diri sendiri,” Claudia memaparkan dnegan sangat ditail.

Ia berharap, melalui majelis taklim yang ia dirikan, niat itu dapat terlaksana. Karena, kata Claudia, peserta majelis taklim tidak hanya menulis dan mendengar materi pengajian, tapi mereka juga berdiskusi dengan guru-gurunya.

“Pada saat yang sama, kita terjun ke masyarakat untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah kita peroleh,” ujar Claudia bangga.

Cantik Tak Hanya Fisik

Banyak kegiatan telah dilakukan Claudia dan teman-temannya melalui Majelis Taklim Zakia-Nandjar. Salah satu program yang baru saja dilaksanakan adalah membantu korban tanah longsor di Cianjur, dan terakhir berbagi kasih dengan anak-anak penyandang Thalassaemia di RS Cipto Mangunkusumo.

“Ibu-ibu akan semakin cantik tidak baik secara fisik, tapi akan makin cantik ketika rohaninya juga berperan. Makanya kita turun langsung, berlumpur-2 dan berbau-bau di tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang. Kita tidak hanya menerima ilmunya saja, tapi juga diaplikasikan ke masyarakat,” ujar Claudia.

Claudia tidak menganggap Majelisnya ini eksklusif. Kini ada 500 lebih anggota yang tergabung di dalamnya. Semua berasal dari banyak kalangan, demi kebersamaan, sharing dan caring.

Masih merasa ‘kurang’ melalui yayasannya, Claudia menyantuni ratusan anak yatim sejak tahun 1996. Dan tiga tahun silam, ia mendirikan family counseling. Khusus untuk bidang ini, Claudia khusus mengambil pendidikan psikolog di satu lembaga pendidikan.

“Alhamdulillah selama ini teman-teman cukup senang ngobrol dengan saya. Artinya, saya tidak hanya duduk menjadi pendengar saja. Tapi mungkin sharing kita bisa bermanfaat buat dia, entah sebagai input atau motivasi. Itu tadi, kepercayaan. Bagaimana seseorang ketika dia menyampaikan segala permasalahannya, curhat, dia nyaman itu semua hanya sampai di saya. Ini sangat aman dijaga,” ujar Claudia.

Dia tersenyum ketika harus menyebut beberpa kliennya. Tak hanya dari kalangan peserta Majelis Taklim, tapi juga ibunya teman anak-anaknya.

Pendekatan Psikologi Islam

Motivasi Saya …

Tentunya dari apa yang saya pelajari, agama, khususnya melalui majelis taklim, mengenai istri mengurus rumah tangga, akhlak dan sebagainya. Saya sebetulnya ingin meperbaiki diri. Wadah konseling ini sebagai wadah dan sarana saya untuk memperbaiki diri saya. Motivasi saya ingin mudah2an dari apa yang saya lakukan ini ada manfaatnya bagi mereka. Alhadulillah ketika mereka datang dengan berbagai macam persoalan. Itulah pengalaman2 mereka yang menempa diri saya. Kebanyakan problem rumah tangga.

Tujuan Konseling …

Saya mengajak mereka bagaimana kita bisa positive thinking. Dengan positive thingking jasmani dan rohani kita akan sehat. Dengan metode sharing yang saya lakukan, salah satunya adalah pendekatan ke psikologi islam. Jadi landasannya memang agama. Agama itu adalah tiang dan fondasi. Kalau kita berpegang pada itu, kita berpegang pada siapa. Jadi setiap persoalan dan permasalahan, itu harus ada keseimbangan. Bagaimana secara logika kita mampu menyelesaikan itu, tapi kita mengacu atau berpegang teguh pada ketentuan yang ada.

Keinginan Pada Mereka …

Paling tidak saya sebagai perempuan dan sebagai muslimah, saya ingin sekali membawa manfaat pada saudara muslimah. Supaya mereka punya motivasi dan tegar saat punya masalah, mereka tidak pantang mundur, tapi juga berakhlak baik. Karena muslimah itu luar biasa diciptakan oleh Allah. Ibu yang seperti apa yang mencetak anak-anaknya jadi seperti apa. Kalau ibunya baik, insyaallah anak-anaknya juga akan kualitasnya baik. Dia cukup punya kasih sayang, dia cukup punya ilmu mendidik anak, tidak hanya punya insting.

Yang Mereka Rasakan …

Rata-rata yang konsultasi dengan saya, adalah mereka yang takut menghadapi hidup kedepan, kalau berpisah dengan suaminya. Jadi, mau saja menerima perlakukan-perlakukan yang tidak adil dan tidak semestinya dari suaminya. Ada yang berani mengambil keputusan, dan itu justru membuatnya jadi lebih konsentrasi pada anak-anaknya, dan anak-anaknya jadi lebih ke urus. Saya jelas tidak ada keberpihakan. Karena toh akhirnya saya, juga meminta suaminya duduk bersama konseling disini. Kalau konseling sudah 3 tahun. Lumayan banyak. Hari ini saja ada 4 klien.

Pelajaran Berharga

Claudia sangat mematuhi suaminya. Katanya, suami adalah segala-galanya.

“Waktu itu saya tidak diijinkan suami ke Aceh, waktu ada tsunami. Saya jelas nurut sama suami saya, karena buat saya, suami adalah segala-galanya. Karena saya bisa eksis, saya yakin itu keikhlasan dia,” kata Claudia.

Ia tidak kecewa meski tidak bisa berbagi pada korban-korban bencana. Sampai akhirnya, ia memutuskan pergi ke korban gempa di Yogyakarta. Ia begitu bersemangat, hingga mengumpulkan banyak sumbangan.

“Baru keluar Indramayu, supir saya sakit. Akhirnya saya yang menyetir sendiri sampai Yogya. Supir saya jelas masih ikut dan tidur saja di belakan,” kenang Claudia, tersenyum.

Claudia tidak merasa ada yang aneh. Justru ia merasa, Allah memberinya kenikmatan dan tanda, “kalau kamu mampu untuk melihat sesuatu itu dalam persepsi agama dan kerohanian, ini belum seberapa. Itu saya nikmati betul. Sampai akhirnya saya sampai bantul jam 2 pagi. Padahal di jalan bekali-kali kita kena macet dan hujan deras.”

Sampai di lokasi bencana, “runtuhlah hati saya. Mereka para korban, ada anak-anak, bayi-bayi, orang tua. Mereka tinggaldi tenda-tenda yang tidak layak. saya menyaksikan semua itu, mengingatkan diri saya. Dalam perenuangan saya, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah makhluk yang sudah selayaknay untuk terus bersyukur,” katanya, haru.

Seolah terbebas dari perenungan yang dalam.

“Ketika saya masak, saya berperan sebagai ibu rumah tangga. Tentunya saya masak untuk suami yang saya cintai. Ternyata segala sesuatu itu harus kita lakukan dengan berkualitas dan ikhlas. Kenapa saya masak? Karena saya cinta dan ikhlas. Saya ingin berikan yang terbaik buat dia,” ujar ibu dua anak ini.

“Ketika saya menjadi seorang ibu, saya memberikan perhatian sepenuhnya pada anak-anak. Saya dengarkan saat mereka bicara. Ada juga ibu-ibu yangkalau anaknya ajak bicara, mereka tidak mau mendengarkan karena sibuk. Dan itu menjadikan kepribadan anak menjadi tidak baik. Dan itu bibitnya dari kita. Makanya disitu saya punya dorongan yang kuat, ingin berbuat sesuatu. Dan saya menikmai karunia ini melalui majelis taklim. Tidak ada yang sia-sia disaat kita melakukan sesuatu diatas kebenaran. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kita bertemu lagi, dan rahasia Allah adalah kematian. Saya berlomba-lomba saja, untuk jadi lebih baik,” ujarnya lagi, penuh makna.

Aien Hisyam

November 17, 2009 Posted by | Profil Psikolog, Profil Wanita | 1 Comment

Ratih Andjayani Ibrahim

‘Makin Lama Makin Jatuh Cinta’

Gayanya yang lincah dan pergaulannya yang luas, membuat Ratih kian diterima di banyak kalangan. Ia psikolog yang memberi warna berbeda dunia selebriti.


Suatu hari, datang seorang ibu ke kantor Ratih di kawasan Jakarta Barat. Seperti biasa, Ratih selalu menepati janjinya menjadi tempat curhat siapa saja yang butuh teman sharing. Ternyata, si ibu tidak minta ‘ditemani’.

“Dia langsung naik ke lantai lantai atas, kebetulan kantor kami memang di lantai atas, dan duduk di sofa. Berjam-jam dia duduk dan hanya melihat ke kaca luar. Setelah itu pulang. Katanya sudah plong,” cerita Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, MM, psikolog, sambil tertawa kecil.

Ratih tidak mengada-ada. Ketika berkunjung ke kantornya yang menyatu dengan rumah pribadi, terasa suasana berbeda. Sebagian besar besar dinding ruang terbuat dari kaca besar. Kaca-kaca tersebut menghadap teras atas yang ditumbuhi rimbunan daun berwarna hijau. Ada kesejukan dan ketenangan, ketika mata menatap ke arah luar.

Orangnya Hore

Berbicara dengan dengan Ratih, layaknya berbicara dengan teman sendiri. Apa saja bebas diungkapkan, tanpa harus ditutup-tutupi. Dan Ratih pun, akan melayani pembicaraan dengan hangat. Penuh canda dan tawa riang.

“Saya ini orangnya hore,” katanya, tersenyum. Artinya, apa saja dibuat senang.

Tak salah ia memutuskan menjadi menjadi psikolog. Dengan kehangatan diri, Ratih bisa masuk di segala kalangan. Kini ia menjadi Brand Council unuk POND’s, Brand Expert untuk Citra, dan menjadi psikolog dalam kontes Indonesian Idol.

Sejak tahun 2002, bersama saudaranya, ia mendirikan Personal Growth. Ratih juga aktif di Associate Psychologist-Klinik Perkembangan, di Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI.

“Padahal, dulu saya tuh disuruh jadi akuntan,“ kenang Ratih.

Ayah Ratih seorang akuntan. Sejak keci, ia selau diarahkan untuk menjadi akuntan, dan harus kuliah di Universitas Indonesia.

“Kebetulan, pada saat SMA, saya masuk IPS. Waktu belajar akuntansi, tata buku dan segala macam, saya langsung mabuk,” sesaat Ratih tertawa lepas. “Pusing deh. Kalau ngomongin konsep yang besar-besar, saya bisa, tapi kalau sudah yang kecil-kecil, saya kesusahan.”

Lulus dari SMA Santa Ursula tahun 1984, Ratih mendapat pencerahan. Ketika ia sedang mengisi formulir untuk mengikuti tes masuk Universitas, Kepala Sekolahnya memerintahkan agar murid-muridnya memikirkan dengan sungguh-sungguh jurusan yang akan diambil.

“Akhirnya saya bersemangat, tanya-tanya tentang dunia psikologi. Waktu itu itu psikologi tidak populer. Saya berpikiran sama dengan tipikal anak muda saat itu. Kita masuk psikologi supaya bisa dengar orang curhat. Kalau kayak gitu tidak perlu belajar susah-susah. Saya bilang ke Ibu saya pilihan pertama psikologi, kedua FISIP untuk politik. Ibu saya setuju, bapak tidak,” ungkap Ratih, menerawang.

Rupanya, Ratih Ratih berkeinginan juga jadi seniman. Namun pilihan keduanya masuk di Seni Rupa ITB, tidak terkabul. Seperti sudah jadi jalan hidupnya, Ratih masuk di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

Cinta, Buku, Pesta

Ada banyak kisah, ketika Ratih menjadi mahasiswa UI.

“Di semester-semester pertama, saya tukang main. Apalagi lagi anak UI punya slogan Pesta Buku Cinta. Ditambah lagi, waktu waktu itu satu semester masih 40 ribu, murah bener. Terus, sering dengar senior-senior kuliahnya lama-lama. Katanya, “masuknya susah ngapain cepet-cepet keluarnya”. Dasar saya bodoh saja waktu itu,” kenang Ratih, tersenyum.

Sampai satu hari, pacar Ratih pulang dari Amerika.

“Saya pacaran sejak kelas 3 SMP. Dia Cina Palembang, usianya 4 tahun lebih tua dari saya. Dia lihat kok saya hore banget. Dia bilang “kamu gimana sih kuliah kok main-main. Sementara saya di Amerika, harus membuktikan belajar betul-betul karena bayar sendiri. Itu tidak fair.”,” ujar Ratih yang juga meraih gelar Magister Manajemen untuk bidang Pemasaran dari Prasetya Mulya Business School, Jakarta.

Ratih merenungi kata-kata pacarnya –kini sang pacar sudah sudah menjadi jadi suami Ratih. Sejak saat saat itu, Ratih berkomitmen tidak mau tidak membolos kuliah lagi. “Saya mulai duduk di depan. Jadi, mau tidak mau saya jadi nyimak materinya. Tiba-tiba, saya mengalami pencerahan. Ilmu psikologi, di mata saya jadi menarik sekali,” ungkap Ratih. Ia menyayangkan, saat itu ia sudah kuliah semester 6.

Ditambah lagi, ketika Ratih mulai serius belajar, “saya jadi sangat tertarik dan berbinar. Semakin saya belajar, saya semakin jatuh cinta pada ilmunya. Terus sampai saya lulus. Pada saat lulus, teman-teman selalu membayangkan saya akan kerja di advetising. Ternyata begitu itu lulus, saya bekerja di sekolahan, jadi psikolog sekolah yang pada saat itu sangat tidak populer,” ujar Ratih yang langsung bekerja sebagai konselor di SMPK Abdi Siswa, dilanjutkan menjadi konselor di SMA Santa Ursula.

Demi Anak

Ratih sempat ‘berhenti’ menjadi psikolog, ketika ia dinyatakan hamil tahun 1998. Ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga, hanya mengurus anak dan keluarga. Dua tahun kemudian, ia melahirkan anak kedua. Dua-duanya laki-laki. Barulah ia beraktivitas lagi setelah anaknya berusia 2 tahun.

“Tahun 2002 sampai 2006 saya benar-benar full di anak-anak semoga mereka bisa tumbuh benar. Pada saat saat itu banyak orang yang minta jasa saya, kalau mereka datang ke LPT agak sungkan.  Pada orang-orang yang dekat, saya datang ke rumah-rumah mereka sebagai psikolog. Pada saat itu cikal bakal Personal Gowth sudah mulai,” kata Ratih.

Ratih pun kian bersemangat mendirikan kantor, agar pekerjaannya menjadi lebih efektif.

“Itu pun kantornya di rumah. Kantor saya ini jadi tempat layanan psikologi untuk masyarakat. Khususnya bagi pendidikan, anak-anak, dan keluarga. Kami pun melibatkan sejumlah psikolog handal yang berpengalaman,“ kata Ratih yang mendirikan Personal Growth bersama Ratih Pramanik.

Ratih ingin dia bisa membagi waktunya dengan  baik, antara bekerja dan mengasuh anak. Seperti rumahnya yang didesain nyaman, Ratih pun mendisain kantornya juga dengan kenyamanan yang sama. Dia ingin privacy kliennya terjaga, sekaligus memberikan kenyamanan pada siapa saja yang datang kesana.

Kegiatan Ratih kian hari kian bertambah. Selain membesarkan Personal Growth, ia mengisi waktunya yang lain menjadi staf pengajar di Fakultas Psikologi Ukrida, Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, dan Fakultas Komunikasi Universitas Tarumanegara.

Ratih juga kerap berperan sebagai nara sumber di berbagai media publik, serta berkiprah sebagai psikolog di dunia hiburan, di antaranya Indonesian Idol 1, 2, 3, 4 di RCTI dan program televisi Cinta di O Channel setiap minggu pertama dan ketiga di hari Senin, pukul 13.30.

Di samping itu, Ratih juga sering memberi memberi ceramah tentang sex dan seksualitas sejak tahun 1993 untuk berbagai sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, antara lain Santa Ursula, Santa Theresia, Kolese Kanisius, Don Bosco, Al Azhar, SMP 115, dan lain-lain. Selain di sekolah, Ratih pun memberi ceramah tentang hal serupa di berbagai instansi umum dan sosial, antara lain Mudika Gereja, Komisi Kerasulan Kelluarga, Keuskupan Agung Jakarta, psikolog di Lembaga Psikologi Terapan UI, dan lain-lain.

Aien Hisyam

October 27, 2009 Posted by | Profil Psikolog | 2 Comments