Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Yenny Zannuba Wahid

Memilih Pekerjaan Sesuka Hati

 

“Saya perempuan beruntung,” kata Yenny tentang dirinya. Sayangnya, hingga kini ia belum beruntung menggapai jodoh.

 

Staf ahli presiden RI, seolah menjadi penegasan status Yenny saat ini. Deretan status lainnya, sebagai pimpinan di Departemen Pengembangan NU, Sekretaris Jenderal PKB, Direktur The Wahid Institute, hingga asisten pribadi mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, ayahnya sendiri.

Setiap menit, katanya, sangat berharga. Ia perempuan sendiri dari 7 staf ahli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Ini salah satu keberuntungan,” kata wanita bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, dengan mata berbinar.

Panggung Hampir Roboh

Siang terik di Jombang, Yenny berdiri di samping Gus Dur, panggilan ayahnya. Wajahnya tegang. Di depan, ratusan ribu orang beristighosah. Panggung mulai limbung disesaki pendukung.

“Belum selesai Bapak pidato, panggung mau roboh. Tiba-tiba ratusan orang menyangga panggung agar tidak roboh sampai pidato Ayah selesai. Saya nangis. Dalam hati saya, Ya Allah, begitu besar kecintaan orang, kepercayaan orang terhadap Ayah dan keluarga saya,” kenang Yenny.

Kejadian di tahun 2001, -saat Gus Dur dipaksa meletakkan jabatan Presidennya- membekas di hati Yenny.

“Padahal, awalnya saya tidak mau terjun di dunia politik,” katanya.

Tiga tahun mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) ini bimbang.

“Saya begitu beruntung, bisa sekolah di Harvard, bisa aktualisasikan diri, bahkan pekerjaan saja saya milih sesuai kesukaan saya. Karena itu saya berpikir kembali untuk memberikan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Saya harus berikan kontribusi pada masyarakat,” ujar Yenny.

Desakan orang-orang partai dan kader-kader NU tidak goyahkan hati Yenny. Tahun 2002, Yenny justru pergi ke Cambridge-Amerika, kuliah di Harvard University.

“Lulus setahun kemudian, pulang, saya bikin Wahid Institute. Saya senang kerja di belakang layar,” ucap Yenny.

Kembali, tawaran menjadi anggota parlemen ditolak wanita bersuara lembut ini.

“Saya tidak mau. Jangan sampai saya dicalonkan karena saya anaknya Gus Dur. Saya tidak mau seperti itu. Terlalu gampang,” kata peraih penghargaan Australia’s Premier Journalistic Award – The Walkleys.

Terdesak Keputusan

Ketika partai PKB diguncang masalah, “ada kelpmpok yang mau mendepak Bapak dari parpol. Saya pikir itu tidak bisa ditoleransi. Saya harus turun dan ikut masuk. Dan mempertahankan partai ini. Partai ini kan yang buat Bapak. Ibaratnya ada yang mau ngusir dari rumah kita sendiri. Itu tidak bisa diterima,” suara Yenny meninggi.

Tahun 2004, sarjana desain dan komunikasi visual Universitas Trisakti ini menerima jabatan formal Sekretaris Jenderal PKB. Katanya, demi keutuhan PKB.

“Kalau masuk politik ya harus kuat. Politik itu sebuah lingkungan yang kalau tidak kuat bisa terpental. Ada kejamnya. Tidak hanya siap mental saja. Dulu kalau ada yang jahat dan nyakitin sama saya, padahal saya tidak kenal orang itu, saya sampai nangis,” kenang Yenny sambi tersenyum.

Sekarang, lanjutnya, “saya sudah bisa baca, tuh orang kepentingannya mau apa. Sekarang saya sudah bisa bedakan komentar yang punya substansi dan tidak ada substansinya. Kalau komentar punya substansi, harus kita dengarkan. Apalagi kalau niatnya mau memperbaiki keadaan. Kalau perlu orang yang ngomong ajak diskusi.”

Awal pemilu tahun lalu, Yenny dan partainya protes ke KPU.

“Kita golput. Saya kesal karena Bapak tidak boleh mencalonkan (Presiden RI). Alasannya karena kesehatan. Berarti orang yang yang cacat tidak boleh maju ke kancah seperti itu. Buat saya tidak penting kalah atau menang. Gus Dur itu anti diskriminasi, tapi kok malah di disriminasi begitu. Buat saya, itu yang harus diperjuangkan. Lebih baik ikut tapi kalah daripada haknya dirampas. Realitanya begitu,” kata Yenny dengan nada kesal.

Diputaran akhir pemilu, Yenny menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono, untuk jadi Presiden. “Setelah Pak SBY menjabat setahun, baru saya diangkat sebagai staf ahli,” ujar Yenny.

Saat Di Amerika

Yenny sadar ada anggapan miring tentang ‘keberuntungan’nya. “Itu dalam konteks orang selalu bilang saya anaknya Gus Dur. Mereka bilang kalau bukan anak Gus Dur pasti tidak bisa. Yah biarin saja,” katanya.

Yenny ditelepon staf SBY saat dirinya di Bandara, sedang dalam perjalanan ke Jember, mengunjungi korban banjir dan tanah longsor.

“Saya diminta menghadap pak SBY, tapi tidak bisa. Setelah itu tidak dipanggil lagi. Saya tunggu sampai 1 mingguan. Nah, pas di telepon lagi saya mau ke Amerika. Sore saya ke Amerika, siang SK-nya di antar ke Wahid Institute. Jadi waktu diumumkan ke publik saya sudah berangkat. Saya tidak bisa kasih komentar apa-apa,” kata Yenny lagi.

Ia menjadi Staf Ahli Presiden bidang Politik dan Komunikasi. Tidak kaget, tidak juga surprais. Yenny merasa pas saja, “karena saya memang orang komunikasi juga orang politik,” ia tersenyum cerah.

Komunikasi, kata Yenny, tidak harus di depan umum. Atau harus tampil. Ia bertugas merancang strategi komunikasi Presiden. Melakukan pendekatan-pendekaan di belakang layar.

“Juga komunikasi private one on one dengan individu. Mungkin kalau di istilah populernya pelobi. Ini yang tidak terekspos ke publik dan tidak boleh terekspos,” ujar Yenny.

Yenny mencontohkan, saat di Amerika, ia aktif melobi anggota-anggota konggres, bertemu senator-senantor juga staf senator. Termasuk menjelaskan pada masyarakat policy-policy dan sikap pemerintah. Misalnya melalui pengajian-pengajian, social gathering, diskusi publik, forum-forum dialog, dan sebagainya.

Pidato Di Harvard

Yenny pintar berkomunikasi. Buktinya, ia lolos seleksi lomba pidato mahasiswa. Pesertanya ratusan. Ia menjadi perwakilan mahasiswa pidato di puncak acara wisuda Harvard University.

“Cita-cita saya dari dulu adalah ingin sekali pidato di depan Bapak saya. Ternyata saya menang kompetisi. Senangnya minta ampun. Mungkin karena isi pidato saya dinilai yang paling representatif dengan kondisi saat itu. Isinya tentang sulitnya kita membuat keputusan padahal kita harus membuat keputusan,” kenang Yenny.

Yenny sengaja tidak memberitahu orangtuanya.

“Ternyata kaget semua. Dan lucunya, disana pihak Universitas juga kaget karena Bapak saya mantan presiden. Sampai diumumkan segala. Orangtua disuruh duduk di depan tapi tidak mau. Jadi sama-sama kaget. Itu kebanggan sekali,” cerita wanita kelahiran 29 Oktober 1974 ini bahagia.

Nampaknya, kebahagian kian lengkap jika Yenny segera mengakhiri masa lajangnya.

“Moga-moga tahun ini ketemu jodoh terus married 2008. Belum ketemu orangnya saja sih. Padahal saya pingin jatuh cinta saja. Nah orangnya belum ada. Doakan saja,” katanya penuh harap.

Satu keinginan terbesar Yenny, “Saya ini pingin sekali punya anak. Nah kalau nanti umur terus bertambah, secara biologis kan pasti akan susah. Gimana dong. Jadi harus ada deadlinenih,” ucap Yenny yang ingin punya dua anak.

Aien Hisyam

*wawancara 4 Januari 2007*

Advertisements

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Politikus, Profil Wanita | Leave a comment

Ratu Atut Chosiyah

Satu Tahun Yang Menyesakkan

Kartu nama putih dihiasi lis warna keemasan -senada dengan warna gambar burung Garuda dan tulisan ‘Gubernur Banten’- di letakkan Atut di atas meja.

“Pelantikan baru dilaksanakan 11 Januari besok,” kata Atut sambil tersenyum.

Tetapi,  sejak awal Desember lalu, Atut sudah menjadi orang nomor satu di Banten. Ia menang mutlak atas dua pesaing lainnya. Dan Atut berhak mencantumkan nama beserta ‘status’ barunya di kartu nama itu.

“Doakan saja ya, semoga bisa amanah,” kata wanita bergelas Sarjana Ekonomi ini lagi.

 

SMA Jadi Pengusaha

20 tahun Atut menjadi pengusaha. Sejak tahun 1981 hingga 2001, setahun sebelum ia dillantik jadi Wakil Gubernur Banten.

“Jadi sudah 20 tahun saya bergelut di dunia enteprenuer. Dan saya berkeinginan bisa berbuat yang terbaik untuk tanah kelahiran saya, Banten. Oleh karena itu pemilihan 2001 saya manfaatkan sekali,” kata Atut penuh semangat.

Atut mengaku berjuang sendiri. Paling tidak, ia juga melihat latar belakang orang tuanya yang juga pengusaha.

“Saya TK sampat SD di Banten, baru SMP saya di Bandung. Di Bandung saya mandiri. Saya usaha sendiri. Saya hanya minta masukan pada orang tua, tetapi saya lakukan sendiri semuanya,” ujar Atut.

Atut yang saat itu masih kelas 3 di SMA 12 Bandung mengurus sendiri semua surat dan berkas-berkas perusahaan.

“Usaha kecil-kecilan, seperti pengadaan ATK (alat tulis kantor), suplai beras, dan sebagainya, yang sifatnya pengadaan. Dan Lama-lama kontruksi dan lain-lain,” kata Atut.

Sukses jadi pengusaha, Atut ingin berbagi kesuksesan di pemerintahan.

“Jadi, ini (keputusannya terjun ke politik dan birokrasi) murni keinginan saya. Saya berpikir, wilayah mana yang bisa saya masuki untuk memberikan terbaik untuk Banten setelah jadi Propinsi. Yang sifatnya subjek bukan objek. Dari situ saya sampaikan ke suami dan keluarga. Awalnya mereka sepintas menanggapi dingin-dingin saja, karena saat itu mereka tahu, saya ini sedang betul-betul menikmati kesuksesan saya di dunia usaha,” kenang istri Drs H. Hikmat Tomet.

Pro dan Kontra

Pencalonan Atut langsung menuai pro kontra. Beberapa ulama menolak perempuan di provinsi yang saat itu baru saja dimekarkan. Alasan penolakan, didasarkan kapasitas perempuan yang tidak boleh menjadi imam, sehingga tidak boleh menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah.

Atut mengaku sedih. Anggota Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi  Banten ini sampai menitikkan air mata di tengah-tengah perenungan atas kodradnya. Apakah itu menjadi alasan dia tidak boleh memimpin? Sesaat, penolakan ini  membuat nyalinya ciut.

“Tetapi, tidak semua ulama atau pemimpin pesantren berpandangan demikian. Ada pemimpin pesantren yang sangat tradisional, bahkan mesjidnya diharamkan menggunakan pengeras suara, justru tidak menyetujui pandangan yang menolak kepemimpinan perempuan. Pemimpin pesantren ini juga mengutip salah satu ayat Al-Quran, yang menyatakan bahwa Islam tidak menolak kepemimpinan perempuan,” tutur angggota Angkatan Muda Siliwangi Propinsi Banten ini tegar.

Semangat Atut muncul lagi. Ternyata, waktu berpihak padanya. Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Provinsi Banten ini berhasil menjadi Wakil Gubernur Provinsi Banten pertama di bawah kepemimpinan Gubernur H. Djoko Munandar.

“Derajat seseorang, tidak ditentukan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi amal ibadahnya,” katanya.

Under Estimate Orang

Atut menyadari masih ada orang-orang yang memandang rendah pada kemampuannya.

“Tapi saya tidak pernah memikirkan sampai situ walaupun saya tahu ada orang yang under estimate pada kemampuan saya. Pada akhirnya mereka akan menilai kinerja yang telah saya lakukan. Itu prinsip saya. Saya tidak mau pusing dengan apa kata orang. Tetapi bukan berarti saya tidak peduli. Kalaupun ada kritik saya anggap sebagai masukan dan introspeksi buat saya. Tetapi terhadap yang mencibir saya anggap sebagai cambuk saja, bukan sebagai pikiran,” kata lulusan Akuntansi Perbankan ini.

Terbukti, banyak gebrakantelah dilakukan Atut selama 5 tahun menjadi Kepala Daerah. Salah satunya Perda yang ia buat untuk pemberdayaan Perempuan Banten.

“Isinya, tentang alokasi anggaran 20 persen dari setiap program satuan kerja perangkat daerah, dinas biro, badan, harus dialokasikan untuk yang terkait dengan sentuhan pada hal-hal yang dibutuhkan perempuan. Tidak hanya di lingkup perempitah Provinsi, tapi juga dilakukan pemerintah Kabupaten Kota,” kata Peraih Anugerah Citra Kartini tahun 2003 ini

Atut turun langsung mensosialisaikan perda tersebut. Dan sudah di realisasikan, salah satunya lewat PKK.

“Mereka betul-betul melakukan pembinaan sampai ke tingkat terendah di desa-desa. Pembinaan dilakukan oleh ibu-ibu istri pejabat. Termasuk bergabung dengan BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita). Sekaragn ada 50 organisasi perempuan di Banten yang masuk BKOW. Tujuang membina kaum perempuan. Itu program saya waktu jadi Wakil Gubernur. Dan akan terus di kembangkan setelah saya jadi Gubernur,” tegas Atut.

Bukti lainnya, meski usia Provinsi Banten masih 5 Tahun, lewat Pendapatan Asli Daerah sudah menduduki peringkat 6 dari 33 provinsi di Indonesia.

“Ini sukses bersama,” ujar Atut merendah.

Sudah Jadi Takdir

Ternyata satu tahun silam, Atut hampir-hampir tidak bisa ‘bernafas’.

“Sejak Oktober 2005, saya diangkat jadi Pelaksana Tugas Gubernur karena Pak Gubernur sedang berhalangan. Disitulah saya betul-betul harus menjadi seorang pemimpin yang selain melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Wakil, tetapi saya pun harus bisa menggantikan tugas dan fungsi Pak Gubernur,” kata Atut.

“Awalnya”, katanya lagi. “Saya kaget. Saya sempat merenung, karena saya memang tidak berharap. Saya berharap bisa menyelesaikan sampai 5 tahun bersama Pak Gubernur,” ujar Atut sungguh-sungguh.

“Itu sudah jadi takdir saya. Saya menjalankan tugas dan fungsi saya sebagai Kepala Daerah. Yah double. Setelah saya renung sesaat, saya harus tegar. Dan disitulah saya mempersiapkan diri untuk selalu sehat. Harus bekerja keras. Saya harus mempelajari semua program yang sudah ada. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Akhir tahun ini sudah selesai semua tugas dan kewajiban kita,” lanjut Atut.

Permintaan Ananda

Atut berjanji, lima tahun mendatang, ia ingin berbagi waktu lebih ‘adil’ pada keluarganya.

“Kelihatannya mereka memang tidak protes. Tapi terkadang mereka ingin ketemu, makan bareng dan lebih sering jalan sama-sama. Sebenarnya selama ini selalu saya sempatkan. Tapi InsyaAllah tahun depan akan saya sempatkan dan saya beri waktu lebih lama,” kata wanita kelahiran Ciomas Serang, 16 Mei 1962.

Berbicara tentang ketiga anaknya, Andika Hazrumi, Andriana Aprilia,  dan Ananda Trianh Salichan, suara Atut melembut.

“Putra saya yang paling kecil, Alhamdulillah dewasa sekali. Dia SD kelas 4. Mungkin di hatinya itu (protes pada Ibunya) ada. Tetapi dia memahami apa yang jadi tugas saya. Kadang saya ajak dia kerja supaya dia bisa melihat. Dia selalu bilang, “Bunda, hari ini ada kerjaan nggak?” Kalau sudah begitu, pasti dia ingin sesuatu atau ingin diantar. Dia suka tanya dulu, tidak meminta dulu,” kata Atut dengan tatapan menerawang ke depan.

Saat itu, ia memang tida bisa langsung menjawab.

“Tapi kalau saya sampaikan, ‘Bunda ada kerjaan dulu yang tidak bisa ditinggalkan,” yah sudah, dia tidak akan minta lagi. Kalau sifatnya penting sekali, saya akan tanyakan lagi. ‘Ananda mau apa?’ Kalau dia bilang mau diantar kesana, yah saya akan sempatkan,” ujar Atut.

Sesibuk apapun, Atut berusaha menjadi Ibu rumah tangga saat di rumah.

“Tahun depan saya akan fokuskan perhatian ke keluarga. Bagaimanapun saya ingin mereka tumbuh sebagai anak dengan kemampuan pendidikan yang baik. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang bagaimanapun juga tidak lepas dari pantauan Ibu,” Atut berjanji.

Dengan adanya Wakil Gubernur, Atut berharap tugas-tugas kepemimpinannya mendatang bisa dibagi. “Semoga saya bisa bernafas lagi,” ujar Atut sambil tersenyum, lega.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Politikus, Profil Wanita | 1 Comment