Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Clara Ng

‘Waktu Akan Datang ke Saya’

Siapa sangka, ibu rumah tangga yang senang mengurus anak dan keluarga ini telah menerbitkan 50 lebih karya fiksi. Hingga kini, karya-karya Clara masih terus mengalir, tak terbendung.

Ada dua tempat yang ditawarkan Clara, sebagai tempat untuk bertemu. Di rumah atau di kantor sebuah penerbitan terkemuka. Katanya, di dua tempat ini ia biasa menghabiskan waktunya.

Ketika akhirnya disepakati bertemu di kantor penerbitan, Clara langsung menjawab, “wah, bisa sekalian lihat draft novel terbaru saya.” Suaranya terdengar bersemangat. Itulah karya Clara yang ke 56, yang terbit akhir tahun lalu.

Tiga Tahun Berturut-turut

Ketika ditanya, apa yang membuat Clara Ng menulis? Ia langsung menyebut salah satu judul novelnya, ‘Dinsum Terakhir’. Katanya, ia menulis karena usia itu singkat, dan banyak hal yang harus diungkapkan. Hidup tidak abadi dan imajinasi seluas alam semesta. Dan, karena ia tidak punya sayap sementara komitmennya pada seni, bis amembawanya ke langit ke tujuh.

Di tahun 2002, untuk pertama kalinya Clara Ng menulis novel. Judulnya, ‘Tujuh Musim Setahun’. Diluar dugaan, tulisan iseng ini membuahkan penghargaan baginya sebagai salah satu novelis berbakat di Indonesia. Sayangnya, Clara langsung vakum selama dua tahun.

Setelah sekian lama tak menulis novel, Clara muncul dengan buku berjudul ‘Indiana Chronicle-Blues’, buku pertama dari trilogi ‘Indiana Chronicle’. Buku ini memposisikan dirinya sebagai pelopor genre Metropop.

Tak sampai setahun, wanita lulusan Ohio State University, jurusan Interpersonal Communication ini langsung mengeluarkan dua novel sekaligus, ‘Indiana Chronicle-Lipstick’, dan The (Un)Reality Show. Dan di tahun 2005, ‘Indiana Chronicle – Bridesmaid’ pun terbit.

Tak hanya menulis novel, Clara juga menulis buku anak-anak. Istri NicholasNg Hock Hooi ini bahkan mendapat penghargaan Adikarya Ikapi tiga tahun berturut-turut untuk buku anak-anaknya.

“Saya cukup bangga setelah menyadari buku anak-anak saya mendapatkan penghargaan Adikarya dari pemerintah tiga kali berturut-turut. Tapi, saya masih merasa penulis buku anak-anak masih sepi dari penghargaan dan dari pelakunya. Minat baca masyarakat kita khususnya untuk buku anak-anak juga masih rendah. Mereka masih memikirkan sandang pangan papan, baru memikirkan kebutuhan membaca anak-anak,” kata Clara.

Padahal, lanjut Clara, di Amerika, setiap minggunya, terbit puluhan ribu buku. “Di sini, seminggu baru beberapa ratus buku. Perbandingannya jomplang sekali. Buku laris, di sana bisa terjual jutaan eksemplar. Di sini, untuk buku yang best seller, hanya berapa ratus ribu eksemplar. Lantas, bagaimana dengan buku yang biasa-biasa saja ?’

Sering Mengejutkan

Membaca karya-karya Clara, seolah membuka cakrawali imajinasi yang berbeda-beda. Ia bisa menulis dalam beberapa genre. Kisah pun sangat beragam. Mulai dari kisah perempuan metropolitan, ibu, janda, anak-anak, hingga remaja. Tema pun mulai dari cerita keluarga, manusia dengan kepribadian terpecah, hingga kisah fantasi dewa-dewa Mesopotamia.

‘Jelas tidak ada cerita dari pengalaman pribadi,’ tegas Clara. Baginya, penulis adalah profesi yang soliter dan berat. ‘Penulis harus bisa masuk ke dalam dunia di mana hanya ada kau dan tokoh-tokoh ciptaannya. Tokoh-tokoh dalam novel saya itu sering mengejutkan saya. Mereka bisa ‘hidup’ sendiri.’ Clara pun tertawa lepas.

Setiap menulis novel, Clara selalu punya benang merah. ‘Awal dan akhirnya saya sudah tahu. Tapi di tengah-tengahnya, bisa dikejutkan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan. Tapi ya saya ikuti, apa yang diinginkan cerita itu. Bukan saya yang membuat cerita. Toh akhirnya, tetap ke tujuan akhir. Karena cerita tetap harus masuk akal dan sesuai dengan kaidah yang logis,” ujar Clara.

Selain menulis, Clara tak pernah lupa untuk membaca. Katanya, membaca adalah bagian dari proses menulis itu sendiri. Tidak heran kalau koleksi buku Clara saat ini mencapai 1000-an judul. Jumlah itu terus bertambah karena ia dan dua anaknya gemas sekali berbelanja buku.

‘Kalau lagi nggak mood, biasanya saya tidak nulis. Tapi itu bisa kok diatasi. Karena begitu saya baca tulisan itu, saya akan langsung lupa dengan ke-bete-an saya. Menulis itu seperti relaksasi,’ ucap Clara, tersenyum.

Ciptakan Waktu Sendiri

Clara begitu menikmati perannya menjadi istri dan ibu dua anak. Setiap hari ia bangun jam lima pagi untuk menyiapkan keperluan anak dan suaminya. Ia mengantar dan menjemput sendiri anak-anaknya sekolah.

‘Kewajiban pertama saya adalah sebagai ibu. Saya punya tanggung jawab antar anak sekolah, punya waktu untuk tidurkan anak di waktu malam, inilah saat-saat saya dekat dengan anak dan suasana paling enak. Saya juga harus menemani mereka makan, menemani belajar dan membuat PR. Jadi, diantara waktu-waktu itulah saya menulis. Misalnya diantara waktu saya jemput anak sekolah, itu ada kesempatan yang bisa saya manfaatkan untuk menulis,’ ujar Clara.

Agar tetap produktif, lanjut Clara, ia harus punya jadual menulis. ‘Saya biasa menulis disaat saya ada waktu luang. Jadi saya menciptakan waktu sendiri untuk saya menulis. Waktu akan datang ke saya, dan saya akan memanfaatkan waktu itu. Kalau Stephanie Meyer (penulis The Twilight Saga), itu kan menerkam waktu. Dan saya tidak bisa menerkam waktu, “ ujar Clara, tertawa kecil.

Clara juga punya ruang kerja, tempat ini menulis dan melakukan riset. Kalaupun ia harus meninggalkan rumah, ia mengirim tulisannya ke email, dan dilanjutkan menggunakan BlackBerry-nya. Itulah yang membuat Clara tidak pernah berhenti menulis. Setiap naskah bukunya rata-rata dirampungkan empat bulan.

‘Kuncinya cuma satu,’ kata Clara. ‘Kalau penulis pingin sejahtera serta hidup dari karyanya, ia harus konsisten menulis. Penulis bisa menikmati pendapatan setingkat manajer perusahaan besar asalkan terus berkarya. Selain itu, penulis harus punya idealisme yang bersanding dengan pertimbangan bisnis. Penulis harus bisa menjadikan namanya semacam brand untuk dijual,’  ujar Clara membagi kiat suksesnya.

Aien Hisyam

Advertisements

January 15, 2010 Posted by | Profil Penulis | 1 Comment

Upi

Tidak Pernah Mengecilkan Pekerjaan


Upi punya banyak sisi dalam kehidupannya. Sebagian, telah ia ungkapkan di 5 film yang ia sutradarai. Masih ada sisi-sisi lain yang belum terungkap.

Banyak gebrakan dilakukan Upi ketika namanya menembus jajaran sutradara muda Indonesia. Kali pertama ia terjun menjadi sutradara, ia hadir dengan konsep kelam di Video grup band rock ‘Zamrud’. Upi pun mendapat imej baru sebagai sutradara ‘bersetting gelap’.

Mata pun terbelalak manakala Upi muncul lagi, di film pertamanya 30 Hari Mencari Cinta yang fun, ceria, dan sangat wanita. Konsep film layar lebar ini berbeda 180 derajat dengan beberapa Video Klip yang telah ia buat.

Uniknya, dari 5 film layar lebar yang ia sutradarai, kesemuanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Bukti bahwa Upi lihai membuat film dari banyak genre. Termasuk di film terakhirnya, Serigala Terakhir yang penuh adegan laga, special effect, dan berseting kelam.

Melap Keringat Artis

Kecintaan Upi pada film terjadi sejak ia masih kanak-kanak.

“Sejak kecil, sekitar umur 5 tahunan, saya sudah suka menulis. Tidak hanya itu. Saya dulu selalu didongengin sama Bapak dan Ibu. Barulah, mulai agak besar, saya sering diajak nonton sama Bapak saya. Dari situlah saya mulai tertarik nulis dan film,” kenang Upi.

Upi mengawali karirnya sebagai penulis di usia yang masih remaja. Saat masih kelas 3 SMA, ia sudah dipercaya membuat konsep cerita sitkom Opera Tiga Zaman untuk televisi RCTI.

“Tapi saya kecewa. Apa yang saya tulis tidak sama dengan apa yang ditayangkan. Sejak itulah, saya punya mimpi ingin menulis sekaligus menvisualisasikan. Berarti, saya harus jadi sutradara,” kata Upi, mantap.

Lulus SMA di Perguruan Cikini, Upi harus memilih, kuliah ‘formal’ atau kuliah sesuai pilihan hatinya menjadi orang perfilman.

“Tapi, mau ambil IKJ, saya tidak dikasih. Karena waktu itu televisi belum banyak, film  juga belum marak. Orangtua cemas sama masa depan saya,” sesaat Upi tersenyum, “tapi saya sudah tahu bahwa saya memang pengin jadi sutradara. Jadi saya tidak mau buang-buang waktu ambil kuliah yang tidak saya sukai.”

Meski akhirnya kuliah di juruan Komunikasi, Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), Upi iseng bekerja di PH milik Rizal Mantovani, Broadcasting Indonesia. Ia bangga mendapat pekerjaan pertamanya, menjadi tukang lap keringat musisi-musisi yang membuat video klip.

‘Saya duduk di pinggir, bawa kotak tisunya. Kalau cut, saya langsung lari lap-lap keringat mereka. Ada Kahitna, Gigi, dan banyak lagi,’ ujar Upi, tertawa senang.

Hargai Tiap Pekerjaan

Upi antusias bekerja di bagian produksi. Katanya, inilah sekolah yang yang paling ia hargai.

‘Untuk orang seperti saya yang tidak punya background apa-apa tapi bisa terlibat di produksi, disitu saya belajar. Saya bangga banget. Saya tidak pernah mengecilkan pekerjaan apapun, karena saya menghargai apa yang saya miliki. Saya cuma merasa orang yang nol. Itulah cikal bakal saya,” ujar Upi.

Berkat keuletan Upi bekerja, ia pun dipercaya menyutradarai video klip pertamanya dari grup band Zamrud. Di luar dugaan, video klip yang kata Upi gila-gilaan itu, menjadi runner up Video Musik Indonesia.

“Tapi, ketika saya dapat tawaran film pertama, saya ingin membalikkan imej saya. Saya bikin film yang bertolak belakang dengan imej saya. Saya bikin film yang fun, riang, ceria, girly banget,” ungkap Upi. Dan di tahun 2004 muncul film 30 Hari Mencari Cinta.

Terus terang, Upi mengakui dirinya ketika menyutradarai film, dibuat terkaget-kaget. Kalau biasanya ia hanya berhubungan dengan belasan kru, tapi saat membuat film, ia harus memenej ratusan orang.

“Ditambah lagi, rata-rata kru saya sudah berpengalaman di film. Ibaratnya saya ini outsider. Saya orang luar. Pengalaman saya masih nol. Tapi, ternyata selama saya punya visi dan misi ke depan, segala hambatan dan kendala itu tidak akan pernah terjadi,” ucap ibu satu anak, Farrell.

Sukses film pertama, membuat Upi mendapat tawaran dari beberapa produser untuk membuat film sejenis. Tapi Upi langsung menolak tawaran-tawaran tersebut.

“Saya mau berkembang. Saya kan punya ruang, dimana saya bisa mengekspresikan cerita-cerita saya yang lain. Saya tidak mau bikin film karena ditekan. Saya akan datang dengan diri saya sendiri. Film itu harus jujur. Ketika saya bikin, saya harus senang dulu, baru saya bisa bekerja,” tegas Upi.

Upi pun membuat 4 film lagi dengan genre yang berbeda-beda; ‘Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), Radit dan Jani (2008), dan Serigala Terakhir (2009).

Sisi-sisi Lainnya

“Saya punya banyak sisi,” kata Upi tentang kehidupannya yang erat berkaitan dengan tema 5 filmnya. “Film 30 Hari Mencari Cinta itu mewakili sisi kanak-kanak saya. Nah, saya ingin tunjukkan sisi saya yang lain. Waktu proses Realita, Cinta dan Rock ’n Roll, filmnya cowok banget. Cowok yang bengal-bengal. Itu sesuatu yang berbeda dari sisi Upi. Film Radit dan Jani itu drama yang temanya cinta banget, tapi bukan yang berbunga-bunga. Tentang suami istri yang muda yang hadapi banyak masalah,” jelas Upi.

Satu hal yang membuat Upi terus berkreasi, karena selalu menantang dirinya sendiri untuk melawan zona kenyamanan. Katanya, kalau ia terus-terusan berada di posisi yang nyaman, ia akan terlena dan tidak berkembang.

“Makanya, banyak yang heran dengan film terakhir saya. Syutingnya dan teknisnya rumit, kru-nya banyak, efeknya juga banyak dan rumit. Awalnya ngeri juga membayangkan akan memproduksi film ini. Ternyata begitu saya coba, bisa juga,” ujar Upi, tersenyum.

Wanita yang tengah berhubungan dekat dengan artis tampan, Vino G. Bastian, sedang mempersiapkan produksi film selanjutnya. Ditanya bertemakan apa? Ia tersenyum. “Yang pasti, sisi hidup saya yang lainnya,” kata Upi.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Artis, Profil Penulis, Profil Seniman | Leave a comment

Perucha Hutagaol

Serunya Memecahkan Misteri

Ala backpacker, Ucha menjelajahi 37 negara. Ia enjoyed karena dengan biaya murah, ratusan tempat bisa ia kunjungi.


Menjadi backpacker, kata Ucha, tidaklah mudah. Kondisi itu digambarkan dalam buku Ucha berjudul ‘The Naked Traveler’ –selanjutnya, Ucha memplesetkan; The Nekad Traveler. Buku yang pengarangnya ditulis dengan nama Trinity. “Saya terisnpirasi dengan tokoh Trinity di film Matrix,” jelas Ucha, singkat.

Banyak yang terkagum-kagum dengan kenekatan wanita single ini. Bayangkan. Ia sendirian ‘berwisata’ ke puluhan negara, berbekal uang yang terbatas, dan cuek saja bila harus menginap di hostel (penginapan murah) yang satu kamar bisa memuat 10 tempat tidur, dan Ucha perempuan satu-satunya.

“Kepuasannya beda. Kalau kita jalan sendiri, kita bisa datang ke tempat-tempat yang benar-benar menarik buat kita. Pengin ke pantai, ya kita ke pantai. Pengin ke gunung, ya kita bisa ke gunung. Tanpa ada ikatan. Beda kalau dengan tour leader, jadi tidak ada pilihan,” katanya.

Proposal di Libur Panjang

Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya. Ungkapan yang sama di kehidupan Ucha dan keluarga.

“Bapak polisi dan Ibu bekas Menwa (Resimen Mahasiswa). Jadi dari kecil, keluargaku suka pindah-pindah. Ditambah lagi, waktu masih kecil, kita suka liburan bareng ke tempat yang aneh-aneh. Misalnya, kalau banyak keluarga liburan ke Bandung, kita justru ke pantai Pelabuhan Ratu, ke tempat yang asing buat kita. Jadi, sejak kecil kita suka diajak berpetualang,” kenang wanita kelahiran 11 Januari 1973.

Ibunya pun kerap memancing rasa ingin tahu anak-anaknya. Setiap kali tugas ke luar negeri, Ibu Ucha, Liya Djajadisastra, mengirim postcard-postcard cantik.

“Dulu waktu kecil, pengin sekali lihat salju. Suka membayangkan, seperti apa ya gunung es itu? Kayak apa ya rasanya ke negara orang lain? cuma  waktu kecil, saya nggak pernah diajak ke luar negeri,” ujar Ucha sambil tertawa lepas.

Di bangku SMP, Ucha mulai tidak tertarik turut serta di acara piknik keluarga. Orang tuanya, RB. Hutagaol dan Liya, juga tidak bisa mengantar-ngantar anak-anaknya berlibur.

“Akhirnya kalau liburan, ibu bilang, “ya sudah bebas berlibur, tapi kamu bikin proposal. Tulis keinginanmu mau kemana, biayanya berapa, dan sama siapa.”  Dan hebatnya, Ibu selalu meng-acc proposal-proposal kita. Sekarang saya berpikir, ternyata kami sudah dimenej sejak kecil,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini, senang.

Meski usia baru belasan tahun, Ucha pernah berwisata bersama teman-teman sebaya ke Bandung, Sukabumi, dan banyak lagi.

Nekat ke Luar Negeri

Jiwa petualang Ucha, juga terasah di kegiatan Pramuka, PMR dan Pecinta Alam. Meski ia sering berpetualang mendatangi kota-kota di Indonesia, Ucha mengaku tak cukup puas.

“Ingin sekali bisa ke luar negeri,” katanya, singkat.

Hanya saja, lanjut Ucha, untuk ke luar negeri ongkosnya sangat mahal. Mulailah, di tahun 1995, disaat usianya baru 22 tahun, Ucha mencari cara-cara yang murah agar bisa ke luar negeri.

“Terus saya lihat bule-bule yang ada di Jalan Jaksa (tempat mangkal backpacker di daerah Jakarta Pusat). Saya mikir, kok bisa ya mereka sampai ke sini, padahal mereka juga baru saja kerja dan lulus SMA. Uang pun terbatas. Bahkan ada yang tukang pos. Ternyata, mereka selalu cari yang murah. Mereka tidak tinggal di hotel, juga cari tiket selalu yang paling murah,” ujar alumnus Asian Institute of Management, Makati, Philippines bergelar Master in Management..

Saat itu, Ucha belum mengenal istilah backpacker.

Ucha juga masih berstatus karyawan. Ia pernah menjadi part timer di Mac Donalds, pernah menjual kartu-kartu previllege hotel, menjadi LO,  dan mengajar  bahasa Indonesia untuk ekspatriat.

“Nah, barulah, setelah punya uang sedikit, jalan deh,” katanya, senang.

Ucha ingat betul saat pertama kali berpetualang ala backpacker.

“Saya ke agen-agen travel. Ngembatin (mengambil) brosur-brosur. Waktu itu saya juga kenalan sama orang, dan dikasih tahu cara-caranya menjadi backpacker,” kenang Ucha.

Ia ditemani seorang teman yang punya saudara di Belanda. Ia urus sendiri visa di kedutaan besar. Karena belum ada Uni Eropa, khusus untuk mengurus Visa, Ucha mendatangi satu persatu kedutaan. Waktunya, sampai 1 bulan, hanya untuk apply Visa.

“Akhirnya, tahun 95, untuk pertama kalinya saya ke Eropa,  selama 1,5 bulan. Keliling mulai dari Inggris, Belanda, Belgia, Luxemberg, Perancis, Ceko dan Jerman. Dan saya puas bisa berkeliling ke puluhan tempat, karena saya hanya mengeluarkan biaya yang sangat minim,” ujar Ucha.

Trik Ala Backpacker

Pengalaman pertama ke luar negeri, tentu saja sangat berkesan.

“Saya bikin kartu pelajar Internasional. Di sana pelajar masuk museum, nginep, beli tiket kereta, semua dapat diskon. Saya juga beli tiket Eurail Pass, atau tiket terusan naik kereta di Eropa. Di sana ada buku-buku yang dikasih gratis, dan ada petunjuknya dengan jelas. Jadi, saya merasa tertolong,” kenang Ucha yang saat ini bekerja di PT. Excelcomindo Pratama Tbk.

Ditambah lagi, Ucha kerap melakukan perjalanan di kala musim winter, dimana orang-orang enggan melakukan perjalanan jauh. Katanya, saat itu harga-harga banyak yang turun.

Biaya yang dikeluarkan Ucha sangat minim. “Dulu, tiket pesawat masih 600 US Dollar dengan kurs masih 2000 rupiah. Menginap di hostel juga sekitar 10 dolar satu malam,” jelas Ucha.

Orang Eropa memang terbiasa melalukan perjalanan. Ucha punya pengalaman berkesan. Saat ia melakukan perjalanan dari Belanda ke Perancis, “sampai di Paris, ada subway. Kita nggak tahu, seperti apa metro bawah tanah itu. Kita juga bingung baca petanya. Warna ini kemana, warna itu kemana. Dan lagi, tourism information-nya tidak bisa bahasa Inggris. Kita benar-benar seperti memecahkan misteri,” Ucha mengenang pengalamannya.

Menginap pun, Ucha tak berharap lebih.

Backpacker menginapnya di hostel (satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, biasanya model bertingkat disebut bunk bed). Waktu di Eropa, pernah saya nginep ada 10 tempat tidur, 5 bunk bed. Saya cewek sendiri, dan satu-satunya dari Indonesia. 9 lainnya, cowok. Saya biasa saja. Mandi pun pakai shower yang digabung dengan yang lain. Waktu itu di Scotland. Yah, mau gimana lagi?,” ucap Ucha sambil mengangkat bahu.

Biasanya, lanjut Ucha, di satu tempat, ia berkenalan dengan orang lokal. Selalu saya tanya, “eh, kamu kalau hang out dengan teman-teman dimana?” nah dari situ, diajaklah saya ke satu tempat yang selalu berkesan.”

Seluruh pengalaman Ucha selama 13 tahun berpetualang, ditulis dengan lengkap di dalam buku bersampul biru, ‘The Naked Traveler’. Tak hanya petualangannya di luar negeri, tapi ada juga cerita-cerita menarik Ucha saat ber-traveling di kota-kota Indonesia.


Terpenting, Pakai Feeling!

Menulis Buku…

Itu tidak sengaja. Dari dulu saya memang suka menulis. Awalnya, saya hanya membuat catatan harian setiap kali saya traveling.  Saya ketik, dan saya bagi-bagikan ke teman-teman. Setiap saya pulang, oleh-olehnya begituan. Ada teman  yang bikinkan blog. Saya sih gaptek. Akhirnya saya tinggal posting-posting tulisan saya. Karena yang hit banyak, akhirnya ada penerbit yang tertarik membuat bukunya. Saya bikin blog tahun 2005, dan tahun 2008 bukunya diterbitkan.

Kuncinya Menjadi Backpacker…

Hanya satu. Rajinlah menabung. Ditambah lagi, saya tidak suka belanja, tidak suka dandan, dan tidak suka beli baju-baju bermerek. Punya uang, saya jalan. Yang terpenting adalah bisa memenej diri sendiri. Menghadapi situasi dan orang, kita harus pakai feeling. Misalnya kita bertemu orang yang ngomongnya manis sekali, justru kita harus curiga. Kita juga harus banyak bertanya dan punya toleransi yang tinggi. Misalnya tidur di hostel, dengan banyak orang, ada yang ngorok, ada yang bau, dan sebagainya. Prinsipnya, ada harga ada mutu. Kalau mau gembel ya fasilitas gembel. Ekspektasi jangan terlalu tinggi. Memang tidak mudah, tapi kepuasan disitu sangat besar.

Menjadi Backpacker Selamanya…

Justru baru saja kemarin saya pikirin. Gimana ya kalau saya jadi orang kaya, apakah saya masih tetap jadi backpacker. Mungkin faktor umur berpengaruh, pasti sudah tidak selincah dulu. Atau sistemnya bisa seperti ibu saya. Dia ‘terbang’, terus dia cari tur lokal. Itu jauh lebih murah. Ibu sampai sekarang masih suka jalan. Ibu suka jalan sendiri, kadang sama adik saya. Kadang-kadang kita suka ketemuan di luar. Saya pernah ke Finlandia, Ibu ke Rumania, kita ketemu di Austria. Kalau saya nginepnya di hostel, beliau nginapnya di hotel bintang tiga.


Kisah Unik Backpacker Wanita

Banyak kisah menarik yang terjadi, selama Ucha berkeliling ke luar negeri ala backpacker.

“Di Athena (Yunani), saya yang tukang nyasar memilih untuk mengikuti walking tour ke Acropolis yang terletak di atas bukit dan situs-situs lainnya yang terletak di kota tua dengan jalan-jalan yang ruwet dan sempit. Semalam sebelumnya, saya sudah deg-degan membayangkan harus kejar-kejaran jalan sama bule-bule jangkung. Ternyata, besok paginya, peserta cuma seorang, saya doang. Jadilah saya yang mengatur kecepatan jalan dan ternyata si guide yang gendut napasnya pendek. Lebih sering dia yang minta berhenti karena terengah-engah,” kenang Ucha, seperti yang ia kisahkan di bukunya.

Ketika bercerita tentang alat transportasi, Ucha mengenang kejadian di Puerto Princessa.

“Saya naik Jeepney (angkot di Filipina yang menggunakan Jeep Willis jaman Perang Dunia yang telah dimodifikasi). Dari kota Puerto Proncessa ke Sabang di Pulau Palawan membutuhkan waktu 4 jam dengan jalan offroad. Jeepney yang kecil itu bisa dinaiki 45 orang sampai ke atap, bahkan sopirnya pun pangku-pangkuan dengan penumpang. Di tengah jalan, turunlah hujan deras dan semua orang berdesak-desakan masuk. Jendelanya yang tanpa kaca ditutupi plastik gulung. Duh, pengapnya tidak keruan!” Ucha mengenang.

Ucha senang dugem. Ia kerap mendatangi tempat-tempat hang out anak muda di satu kota.

“Di Amsterdam, yang terkenal dengan kempanye legalize canabis, merupakan salah satu pusat dugem dunia. Apakah karena legal menggunakan ganja, saya tidak tahu. Tapi memang mudah mendapatkan ganja yang ingin Anda pilih di antara jejeran ganja yang berasal dari mancanegara. Ganja Indonesia termasuk yang ngetop dan mahal, lho. Tapi jangan harap Anda dapat membeli bir atau alkohol lainnya di tempat ini. Coffee Shop hanya menjual kopi dan ganja, sedangkan bar hanya menjual alkohol tanpa ganja,” terang Ucha.

Masih banyak kisah Ucha yang menggetarkan. Termasuk cara dan reaksi dia terhadap para pria yang berniat menggoda. “Kalau macam-macam, saya bilang saja kalau saya lesbian,” katanya, santai.

Aien Hisyam

November 25, 2009 Posted by | Profil Pecinta Lingkungan, Profil Penulis | 1 Comment

Dewi Lestari

Inilah Proyek Cinta

 


Karya Rectoverso, menjadi karya cinta Dee pertama. Seperti judulnya, Dee tampaknya tengah menyatukan dua bagian yang terpisah dalam satu cinta yang utuh.


Saya merasa sebagai seniman. Banyak aspek dalam hidup saya. Aspek spiritual, sains, humor dan sebagainya. Saya juga senang drama dan serial. Aspek-aspek ini selalu jadi tema dalam karya-karya saya,” ujar Dewi Lestari.

“Namun, di karya terbarunya yang berjudul Rectoverso, Dee –sapa wanita ini-, seolah ‘melahirkan bayi sepasang ‘bayi kembar’. Karya yang penuh cinta, dan dikemas dalam bentuk musik dan fiksi. “Karena, saya pun punya aspek romantis. Saya senang baca puisi cinta, melamun, dan berandai-andai. Nah baru kali ini aspek ini saya pakai. Ini hanya aspek cinta, romantis, personal, hati, perasaan. Ini karya paling romantis,” katanya.

Pengalaman Baru

Dewi memperkenalkan karya barunya yang ia sebut karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan dua dunia dalam satu karya yang utuh, meski terpisah wujud. Ia sebut : Rectoverso.

“Ini karya jenis baru. Ini bukan sekedar buku dan bukan sekedar musik. saya ingin menawarkan sebuah pengalaman baru. Pengalaman menghayati yang baru,” ujar Dee.

Rectoverso memang dibuat dalam dua bentuk yang berbeda. Novel setebal 150 halaman yang di dalamnya ada 11 cerita, dan CD musik dengan 11 lagu. Uniknya, 11 judul lagu dan cerita yang ada di dalam Rectoverso; sama. Inilah, kata Dee, satu pengalaman yang berbeda.

Fiksi Rectoverso, kata Dee, bisa dinikmati utuh sebagai suatu buku. “Jadi, seperti definisinya, dua citra yang seolah terpisah tapi satu kesatuan. Ketika dia menjadi satu individu, dia bisa dinikmati tanpa terganggu dan tanpa tergantung yang lain. CD musiknya juga begitu. Tapi ketika mengalami keduanya, inilah pengalaman Rectoverso.”

Dua pengalaman yang dijadikan satu dalam satu pengalaman. Oleh karenanya, lanjut Dee, Rectoverso itu bukan produk tapi pengalaman. “Orang mau nggak mengalami ini? Ini lah yang membuat dia berbeda. Baik dari teman-teman bukunya dan dengan teman-teman CD-nya yang lain.”

Termasuk saat mendapatkan Rectoverso. Dee sengaja menjual dua karyanya ini di tempat yang berbeda. Fiksi di toko buku, CD  musik di toko musik. Untuk mendapatkan keduanya sekaligus, Dee membuka online melalui internet.

”Saya ingin orang memiliki petualangannya sendiri. Kalau saya jual satu paket, dia akan dapat kedua-duanya dengan mudah. Bagi saya, pengalaman Rectoverso, yaitu bagaimana orang itu menemukannya. Orang menemukan bukunya dulu, kemudian menemukan CD-nya. Atau sebaliknya. Inilah proses menemukan,” kata Dee, semangat.

Ada 36 Hati

Ada banyak orang yang mendukung proyek Rectoverso ini. Proses pengerjaannya pun tidak main-main. Dee merencanakannya dengan sangat matang.

Dee menggandeng banyak musisi di album Rectoverso-nya. Khusus para musisi ini, Dee bahkan mewajibkan mereka untuk membaca bukunya. “Saya kasih ceritanya, ini loh ceritanya supaya mereka tahu apa yang dibutuhkan lagu itu.”

Satu gebrakan Dee adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan rekaman secara live. Proses ini melibatkan 36 pemain musik. Sulitkah itu? Dee pun tersenyum.  “Kalau mereka pemain profesional, mereka sudah seharusnya ready untuk berikan yang terbaik. saya juga menjelaskan pada mereka, proyeknya untuk ini-ini-ini. Secara otomatis, terangkat untuk jadi semangat. Makanya, kalau dibilang, ini proyek cinta, itu memang benar, ” ujar Dee.

Rekaman secara live memang jarang dilakukan di industri rekaman. Lantas, apa yang membuat Dee tertarik melibatkan banyak pemain musik di rekaman musiknya?

”Kita ingin, Rectoverso ini dibikin personal dan punya nyawa. 36 orang main bareng. Ada 36 orang kasih hatinya untuk si lagu,” kata Dee.

Dee ingin juga, di rekaman ini setiap soul dari para pemainnya,  mampu tertampung secara otimal. “Kalau rekamannya satu-satu, itu bisa berbulan-bulan. Dampak tidak positifnya, saya gampang jenuh. Yang terjadi di industri rekaman yaitu gampang jenuh karena rekaman bisa setahun. Nah, kalau yang ini sekali langsung jadi,” ujar Dee.

Proyek Cinta

Berkali-kali, Dee menyebutkan, proyeknya kali ini sebagai proyek cinta.

“Ketika mereka membaca bukunya dan mendengar musiknya, yang pada saat itu masih sangat sederhana, mereka jatuh cinta pada konsepnya. Walaupun ini lahir dari saya, tapi ini jadi milik ramai-ramai,“ ucap Dee.

Proses yang singkat. Hanya dalam 4 hari saja, album musikknya selesai. Proyek ini, kata Dee, berjalan dengan sistem paralel. Musik jalan, grafis jalan, melibatkan banyak orang. Dee merasa, bukan hanya produknya yang berharga, “tapi pengalaman kami semua yang berharga dalam menyelesaikan produk ini.”

Begitupun Dee dan pasangan duetnya. “Kalau kita duet, yang kasih nyawa bukan hanya aku sendiri, tapi ada orang lain juga yang kasih nyawa. Ada kolaborasi nyawa di lagu itu,” ujarnya, mantap.


Malas Tapi Produktif

Dee baru saja mengambil keputusan besar. Pindah ke Jakarta, setelah belasan tahun berkarir. Demi satu tujuan, keseimbangan hidup.

“Saat ini, saya baru menyadari betul hidup seimbang. Karena penyakit orang kota, selalu berat pada satu aspek saja. Kerja melulu. Sekarang saya lagi menyeimbangkan porsi antara kerja, berkarya, rileks dan malas-malasan,“ kata Dee, tersenyum.

Ibu satu anak, Keenan Avalokita Kirana, merasa aktifitas malas, juga penting buatnya. Misalnya, satu hari tidak madi dan tidak keluar rumah. Rileks pun perlu dilakuan, seperti meditasi, atau spa. Aktifitas ini khusus untuk memanjakan dirinya.

“Nah, berkarya itu seperti sekarang ini. Ada Rectoverso. Dan bekerja, ya misalnya dengan mempromosikan Rectoverso. Kalau dulu saya tidak peduli (pada keseimbangan hidup). Kalau kerja, kerja terus. Kalau sekarang, dalam seminggu saya harus membagi hidup saya ini,” kata Dee.

Dee justru merasa produktif di saat hidupnya mulai balance. ”Ketika saya jalankan itu, saya merasa optimal. Sebenarnya tahun 2007 kemarin saya berkarya 2, Rectoverso dan Perahu Kertas, novel digital saya. Dulu waktu saya ngoyo bekerja, saya malah hanya menghasilkan satu karya. Tapi setelah saya mengapresiasikan kemalasan saya, saya jadi lebih produktif. Saya lagi mencoba menerapkan paradigma,  malas tapi produktif,“ Dee pun tertawa.

Kalaupun Dewi memutuskan pindah rumah ke Jakarta, katanya, semata-mata demi anaknya.

“Anak saya mulai beranjak besar, sekarang 4 tahun, saya merasa saya kehilangan quality time sama dia, karena, saat itu saya begitu banyak kerjaan yang harus dikerjakan di Jakarta. Dan saya akhirnya membuat keputusan yang sangat besar, karena saya berpikir kalau ini diteruskan saya akan kehilangan banyak waktu saya dengan anak saya. Karena, waktu saya pasti akan habis di jalan. Bagi saya ini tranformasi besar,“ ujar Dee yang selama ini tinggal di Bandung.


Cinta Itu Energi

Arti Cinta Sesungguhnya…

Menurut saya, Cinta itu energi. Kalau energi, berarti segala sesuatu di bumi ini adalah cinta. Saya merasa bumi berputar karena cinta. Matahari bersinar karena cinta. Bagi saya, cinta yang hanya sekedar relationship, itu hanya sesuatu wajah kecil dari cinta. Hidup ini juga cinta.

Hidup Berkaitan dengan Tulisan…

Sebetulnya kalau dibilang langsung, enggak. Tapi setelah selesai dan saya baca ulang (Rectoverso), ada beberapa lagu, bicara tentang kehidupan dan kematian. Entah kenapa saya juga tertarik, bergerak untuk menulis tema itu. Mungkin saya merasa keberadaan Tuhan pencipta, itu bisa dirasakan seperti kita merasakan Rectoverso. Dia terasa begitu dekat. Seperti Nabi, dia begitu dekat dari pada urat lehermu sendiri. Itu saya rasakan saat menulis Rectoverso. Semacam ada guide ketika menulis.

Kalaupun Ide Ditiru…

Sebetulnya aku tidak terlalu mempermasalahkan. Walaupun kita punya hak paten untuk ide itu, tapi ide nggak ada tuannya. Kalau ada orang bikin sama, ya nggak masalah. Tapi, salah satu syarat kalau kita bikin Rectoverso, harus  penyanyi, pencipta lagu dan penulis. Aku sih senang-senang saja. tapi memang Rectoverso ini sangat spesifik. Kalau ingin persis sama konsepnya, harus dibuat dengan sangat spesifik. Minimal creator-nya harus menguasai bidang-bidang itu.

Inspirasi Karyaku…

Inspirasi banyak banget. Saya kalau nulis lagu atau bikin lagu, rumusnya 4, yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, mengamati lingkungan sekitar, dan imajinasi. Dalam Rectoverso ini, yang lebih ditekankan, kepada apa yang tokohnya rasakan. Bukan kata-kata, ketokohan atau mengedepankan alur. Tapi lebih mengedepankan emosi apa yang dirasakan si tokohnya.

Tentang Rencana Heksalogi…

Supernova, Akar, dan Petir itu bukan trilogi. Saya masih menyisakan tiga konsep lagi untuk dibentuk. Artinya, akan ada heksalogi. Saya suka enam karena bermakna heksagonal yang maksudnya kesempurnaan. Maka, saya pilih untuk menggenapkan Supernova menjadi enam seri. Inspirasinya, ya kehidupan sehari-hari. Rencananya, saya akan mengeksplorasi ide dengan konsep yang lebih fresh dibandingkan buku-buku sebelumnya.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Penulis, Profil Seniman | 1 Comment

CM Rien Kuntari

Satu Menit Terakhir

 

Rien pernah kesal karena bentuk rambut dan warna kulitnya. Namun setelah ia menjadi wartawan, ia merasa diuntungkan dengan ‘kekurangan’nya itu.


Rien wartawan perang. Ia pernah meliput beberapa daerah konflik di Irak, Rwanda, Kamboja, dan Timor-Timur. Yang negara terakhir inilah ia akhirnya memutuskan membuat buku setebal 483 halaman berjudul; Timor Timur-Satu Menit Terakhir. Ia ungkapkan segala kondisi Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia, termasuk luapan keharuan dan emosi, yang dibalut dalam obyektifitas seorang wartawan.

Seperti yang dituturkan sahabat Rien, “Saya minta maaf, Rien… selama ini informasi tentang kamu simpang siur. Saya sempat yakin pada apa yang dikatakan orang-orang tentag kamu, bahwa kamu sangat pro-kemerdekaan, tidak setia kawan, tidak nasionalis … Tetapi terus terang pandangan saya tentang kamu luntur dan berubah 180 derajat saat melihat kamu menitikkan air mata dan menangis tak henti ketika mendengar Kornelis (wartawan Kompas yang tertembak di Bekora, Dili timur) hilang. Aku juga terharu ketika kamu pun memutuskan mencari sendiri keberadaan Kornelis, dengan menempuh segala resiko. Aku benar-benar terharu…“

Kesal Dengan Rambut

Melihat wajah Rien, sulit meyakini bawah wanita ini benar-benar keturunan Indonesia asli. Ia bahkan sempat tertawa ketika ditanya apakah ada darah Timor dalam tubuhnya ?

Tidak marah, Rien langsung meralat. “Keluarga ibu saya memang ada darah Arab, walaupun sudah keturunan kedua. Bapak saya orang Yogyakarta asli. Dan saya tinggal di Panembahan (satu wilayah di kota Yogya),” terang wanita bernama asli Cordula Maria Rien Kuntari.

“Waktu dulu,” kata Rien, “saya sempat marah dengan rambut keriting saya. Saya berusaha meluruskan. Tapi, begitu saya jadi wartawan, ternyata yang menguntungkan dari semua yang saya miliki adalah bentuk rambut saya. Di Afrika, saya diterima baik karena wajah saya. Waktu di Rwanda, saya mulus saja. mereka tidak pernah tahu Indonesia apa. Mereka hanya tahu Eropa, dan sya bukan orang Eropa,” ujar Rien, senang.

Diakui bungsu 10 bersaudara ini, ia merasa diuntungkan dengan bentuk rambut dan warna kulitnya.

“Ditanya saya orang mana? nggak jelas,” ungkap Rien tertawa lepas. “Kalau di Arab, wajah dan kulit saya ini termasuk Arab tengah. Waktu saya ke Irak, orang lain tidak bisa masuk, saya bisa. Ya lagi-lagi karena warna kulit dan bentuk wajah saya,” kata Rien.

“Di Indonesia, saya pasti diterima. Di Arab, mereka menerima saya sebagai orang Arab, di Filipina saya diterima sebagai Filipino, di Eropa dengan kulit coklat saya, mereka sangat terpesona. Di Amerika, saya Americanos. Saya tidak pernah di kasih entry form, karena mereka selalu pikir saya Americanos. Malah tidak ada yang percaya kalau tanya asal saya, saya bilang dari indonesia. Jadi saya senyum-senyum saja,” kata Rien.

Bahkan, nama pun bisa berubah. “Kalau di Papua, saya selalu dibilang orang Serui. Mereka lebih percaya nama saya Maria Dacosta Gutere, dibanding nama Rien Kuntari. Saya sih oke-oke saja.” Senyum Rien mengembang. Sekarang, Rien mentah-mentah menolak kalau rambutnya di luruskan.

Tugas Berat Di Awal Kerja

Tahun 1991, Rien ditugaskan meliput konflik Irak dan Kuwait. Padahal, Rien baru 2 bulan menjadi karyawan di koran harian Kompas. Ketika diterima di Kompas tahun 1990, Rien masih harus mengikuti training.

“Inilah penugasan pertama saya ke luar. Waktu itu, saya belum pernah ke luar negeri, belum pernah naik pesawat. Dan saya harus masuk Irak, 15 hari setelah perang darat,” kenang Rien.

Rien justru merasa senang. Katanya, itulah hebatnya Kompas. Dia tidak  tahu apa yang menjadi pertimbangan kantornya mengirimnya pergi ke daerah konflik. Yang juga membuat Rien heran, Saddam justru hanya mau menerima namanya untuk datang dan masuk ke Irak, dari sekian banyak nama wartawan yang disodorkan Kompas, saat itu.

Di Irak, Rien didampingi guide dan supir, yang orang lokal. “Supir saya, kulitnya hampir sama dengan saya. Dimana-mana saya dibilang keponakannya,” sesaat Rien tertawa kecil, “jadi, saya bisa masuk Karbala tenang saja. Saya disuruh tidur di jok belakang, meringkuk saja, terus supir saya bilang ini keponakannya. Saya tidak pernah diminta paspor.”

Kebetulan lagi, Rien menguasai bahasa Arab yang biasa digunakan warga Irak. Ia merasa, bahasa bukan kendala. Justru, makananlah yang jadi kendala Rien saat di Irak. Saat itu, ia hanya bisa makan appel dan anggur. Sesekali roti, kalau kebetulan ia menemukan. Setelah 4 kali bolak-balik ke Irak, Rien sudah mulai terbiasa.

Sampai di Irak, tentu saja Rien ingin mendapatkan berita ekslusif. Hanya saja untuk bertemu Saddam Husein (Presiden yang berkuasa saat itu), tidaklah mudah. Pada kunjungan berikutnya, Rien akhirnya bisa bertemu.

”Syaratnya luar biasa sulit. Syarat awal, kita para media ini harus bayar mobil pribadi, supir dan guide. Ternyata semua wartawan disitu tidak jadi soal. Pada saat ke Irak untuk ketiga kalinya, saat referendum pertama, saya apply, ternyata syaratnya kita harus punya heli. Ternyata dijabani (dilakukan –red) wartawan dunia. Mungkin ini cara mereka untuk menolak. Akhirnya, digelar jumpa pers,” ujar Rien.

Beginilah Wartawan Perang

Hanya ada dua nama yang dikenal publik dan kalangan pers, sebagai wartawan perempuan yang biasa bertugas di daerah konflik. Salah satunya Rien Kuntari.

”Namanya juga perang. Kondisinya ya seperti itu, » ungkap Rien, melukiskan medan yang pernah disinggahi.

Beberapa kali Rien ke Irak, serta masuk daerah konflik seperti Rwanda, Kamboja, dan Timor Timur.

”Memang sulit berada di wilaah yang sedang berperang. Tapi, saya bukan wartawan yang asal masuk. Semua saya perhitungkan dengan baik. Mentally kita harus siap. Saya sedih, kalau ada yang berangkat asal berani, tanpa persiapan mental. Kita harus hitung secara cermat dan tepat, apa yang ada di depan kita. Saya selalu prepair dalam kondisi apapun walaupun hanya 2 hari,” tegas Rien.

Tapi, Rien tetap manusia biasa. Ia juga punya rasa takut. ”Nah, bagaimana kita mengelola rasa takut ini. Saya takutnya tertembak, nah tertembaknya darimana. Takut diperkosa, oke diperkosa karena apa. Ternyata saya lebih takut diperkosa daripada ditembak. Kalau ditembak langsug mati, diperkosa bisa seumur hidup. Saya pelajari pemerkosaan, mulai dari culture atau karakter masyarakat di sana. saya harus jaga diri sebaik-baiknya. Protek baju yang khusus untuk perang. Pada akhirnya, bisa saja tidak mandi sampai 2 minggu,” ujar Rien.

Di Irak, Rien pernah ‘diculik’ Garda Republik selama 3 hari untuk bertemu opisisi. Proses penculikan adalah bagian dari sistem, dan ia ‘dipulang’kan di negara Yordania.

Di Rwanda -negara yang puluhan tahun mengalami perang saudara- ia menjadi satu-satunya wartawan di dunia yang dibawa langsung menemui Jendral Paul Kagame. Rien hampir gagal. Akses masuk ke Rwanda ditutup sama sekali. Ia berusaha mencari link dengan cara nongkrong di kafe, duduk di pinggir jalan. Pihak Hutu menolak, di Neirobi ia masuk melalui link Tutsi. Rien memang dikenal jago bernegosiasi.

Di Kamboja, Rien harus menempuh jalan darat selama 6 jam dari Battambang untuk bisa masuk ke Pailin, wilayah konflik paling berbahaya. Dari sekian banyak kejadian, Rien justru mengaku, Timor-Timur adalah daerah konflik yang peling berat.

“Di Rwanda dan Irak, saya bilang dari Indonesia, tidak jadi soal. Karena negara kita berteman baik dengan mereka. Begitu juga di kamboja. Tapi begitu di Timor Timur saya bilang Indonesia, jadi persoalan. Inilah liputan terbarat yang pernah saya jalani,” ujar Rien.


Tangis Untuk Timor Timur

Rien juga seorang  wanita. Betapapun bengis dan kejam medan konflik yang dihadapinya, ia selalu bisa melihat dan menangkapnya dengan mata hati seorang perempuan yang penuh kelembutan, kejujuran dan cinta kasih.

Inilah yang membuat tulisan jurnalistiknya tentang peristiwa dramatis di sekitar jajak pendapat di Timor Timur 1999, menjadi begitu indah dan mengharukan tapi juga menegangkan.

“Saya terlibat dengan Timor Timur sejak tahun 1992, setelah insiden Santa Cruz. Hampir setiap tahun saya ke Timtim, dan Timtim sudah jadi bagian dari saya. Itu juga karena saya 14 tahun di Kompas di bagian Hubungan Internasional. Timtim waktu itu bagian internasional,” jelas Rien.

Ketika terjadi referendum, kata Rien, pihak kantor merasa ia  cocok ditugaskan ke Timor-Timur. Lagi-lagi karena wajah timor-nya. Awal penugasan Rien ‘tinggal’ di Timtim sejak 15 Juli 1999 sampai 4 November. Kemudian pulang, dan tahun 2000 kembali lagi.

“Saya ikuti Timtim sampai jadi negara baru. Sebenarnya buku ini baru dari episode Juli sampai November. Belum sampai lahirnya Timor Leste. Rencananya saya akan bikin bikin trilogi,” ujar Rien mantap.

Ketika berada di daerah konflik, lanjut Rien, sebagai wartawan ia tidak bisa mengganti indetitas. Jadi segala resiko harus ia tempuh. “Dan memang yang jadi persoalan. Di sana ada dua fraksi, pro otonomi dan pro kemerdekaan. Saya orang Indonesia, dan kalau Indonesia pasti harus pro otonomi,” suara Rien terdengar bergetar.

“Padahal, sebagai wartawan yang harus kita jaga adalah ketidak berpihakan kita. Saya tidak mau meliput otonomi saja. Problemnya disitu. Untungnya saya dilindungi Falintil, wakilnya Xanana di Timtim. Dan saya juga dekat dengan Xanana. Itulah resiko yang dihadapi karena saya tidak berpihak,” ujar Rien. Dan ketika Timtim lepas dari Indonesia, Rien terdiam, sedih. Ada kekecewaan menggelayut di hatinya. Apa yang tengah dipikirkan wanita ini, semua ditulis dengan lengkap di buku tersebut.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Penulis, Profil Wanita | 2 Comments

Zeventina Octaviani

Susahnya Menyatukan Dua Pikiran

IT menjadi dunia Zev sebenarnya. Manakala ia ditawarkan untuk menulis novel fiksi, bukan main senangnya.


Tantangan terbesar Zev saat itu, ia harus menulis fiksi bersama pria yang ia kenal di dunia maya. Berbeda tempat dan berbeda waktu. Satu di Surabaya, satu lagi di Jerman. Inilah novel pertama berjudul ‘Elle Eleanor’ yang dibuat dua orang, yang menuntut homogenitas gaya.

”Benar-benar menguras pikiran. Proses pengerjaannya berbeda dengan membuat cerita estafet. Kita melihat ada tantangan besar disini. Yaitu untuk menyatukan dua gaya yang benar-benar berbeda, digabungkan menjadi novel yang menuntut homogenitas gaya,” ungkap Zeventina Octaviani Bouwmeester.

Zev mengaku lega, sekaligus puas. Kerja keras selama 1 tahun terbayar tuntas.

Menulis Setelah Rumit

Dunia teknologi erat sekali dalam hidup Zev. Ratusan website sudah ia buat, menjadikannya salah satu web designer terkenal. Zev pernah mendapatkan penghargaan sebagai web terbaik Indonesia di bidang pendidikan dari web designer Bali untuk web di Deutsch, Warum Nicht.

“Jadi, kalaupun akhirnya ditawari menulis fiksi, itu satu kesempatan yang luar biasa,” ujar wanita kelahiran Bandung 17 Oktober 1970.

Zev mengaku, sejak kecil ia sudah suka menulis. Dan saat internet mulai popular, ia tuangkan tulisan2 saya ke blog. Saat itu diluar dugaan, banyak penerbit yang tertarik untuk membukukan tulisannya.

“Sayangnya waktu saya memandang blog hanya sebagai sarana penumpahan uneg-uneg saja. Disamping itu kesibukan saya mendesign web sangat padat, jadi hobi saya menulis mulai terabaikan,” ungkap Zev.

Lama-kelamaan Zev mulai jenuh berkutat dengan tag-tag HTML yang rumit. Sebagai selingan, ia mulai serius menulis. “Saya bersyukur bahwa sebelum tulisan itu selesaipun penerbit sudah menunggu dengan sabar. Itu adalah anugrah terbesar yang Tuhan berikan,” ujar Zev, senang.

Menulis bagi Zev, adalah kebebasan berpikir. Ia tak suka dikungkung oleh aturan. Imajinasi di area fiksi adalah tak terbatas. Tulisan yang dikebiri, katanya, tentu akan menghasilkan sebuah karya yang sarat oleh ketakutan dan tanggung.

“Novel bagi saya adalah keabadian, karena tulisan akan selalu hidup bahkan saat kita mati. Dalam novel perdana kolaborasi ini, kekuatan cerita terletak pada komplikasi dan proses kegilaan yang melahirkan kegilaan,” kata Zev, bijak.

Pulang Kampung

Tinggal di Ulm, Jerman, ikut suami yang sedang kuliah, kesibukan Zev tidak juga berkurang. Selain mengurus anak dan suami, ia ikut-ikutan kuliah Sprachen & Philologie di Universitat Ulm Zentrum, Jerman.

“Tahun pertama dan kedua, saya masih sibuk di Universitas. Baru setelah anak naik kelas 4, di babak penentuan, seperti kalau di Indonesia penjurusan di bangku SMA, saya berkorban berhenti kuliah dulu. Saya menemani anak belajar. Sejak itulah saya isi waktu menulis novel dan mendisain web. Syukurlah, anak saya berhasil masuk Gymnasium, sekolah terbagus di Jerman. Sayangnya saat sudah 6 bulan mencicipi Gymnasium, kami harus pulang,” ujar, Zev. Ia mengaku sedih.

Pulang ke Indonesia, Zev menuntaskan novel perdananya ‘Elle Eleonir’ yang dibuat berdua, bersama Ferry Zanzad. Kini, semangat menulis Zev sedang bergelora. Ia sedang menuntaskan novel lainnya.

“Pekerjaan utama sebagai web designer, tetap dijalankan. Menulis kan hanya sebagai selingan.” Senyum Zev merekah.

Beberapa Kali Frustasi

Selain Zev, novel thriller “Elle Eleanor’ ditulis juga olhe Ferry Zanzad. Uniknya, kedua bertemu pertama kali, saat novel ini di launching.

“Saya dan mas Ferry pertama kali kenal di Penulis Indonesia. Saya baca, tulisan dia bagus banget. Selanjutnya kita bertemu lagi di blog Multiply. Justru awal-awal, kita kerja bareng ke design web, sampai kemudian mas Fer mengajak nulis bareng,” kenang Zev.

Dua penulis, dengan dua gaya yang berbeda, bahkan bertolak belakang. “Saya terbiasa dengan gaya pilu, gelap, dan tradisional. Sedang Zev cenderung metro dan ceria. Novel ini beda dengan kumcer, yang mengijinkan penulisnya membuat gaya masing-masing. Inilah tantangannya. Membuat dua gaya menjadi satu dalam homogenitas gaya. Menggabungkan susana muram dengan keceriaan,“ ujar Ferry.

Novel yag dibuat Zev dan Ferry memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Bersetting budaya Jawa dan masa kolonial yang melintas ke masa sekarang. Termasuk perang Eropa yang sedang bergolak. Berkisah tentang seorang noni belanda yang memiliki kelainan jiwa sekaligus kelainan seks.  Kelainan ini berdampak pada trauma masa lalu.

“Kita bergantian menjadi “sutradara” sesuai dengan karakter kita. Misalnya bab 1 menuntut suasana tradisional, pilu, gelap, maka saya yang menentukan bagimana bab 1 akan terbentuk. Kita berdua bekerja di bab 1, tetapi saya yang menentukan bagimana bab 1 akan terbentuk. Demikian juga dengan bab lain yg menuntut susanan berbeda, maka Zev yang akan menghandlenya. Nulisnya sih sama-sama, hanya sutradara saja yang menentukan arah cerita berdasar kerangka yg sudah ada,” terang Ferry.

Kata Ferry, proses pembuata novel thriller ini melibatkan pembicaraan yg terus menerus. Makanya Elle lahir dari kelelahan yg teramat sangat. “Belum lagi berantemnya,” Zev menyela, sambil tertawa lepas.

Proyek yang dimulai bulan Juli 2088, barus tuntas bulan Juli 2009.

“Karena kita menulis bersama, kita perlu membuat acuan, referensi bersama. Misal tokoh Johan, kita membuat CV dia lengkap, mulai dari nama lengkap, umur, tinggi badan, berat badan, kegemaran, tanggal lahir. Dari sana kita mempunyai cara pandang yg sama tentang tokoh-tokoh cerita. Kita homogenkan, alias samakan persepsinya. Pada saat membuat CV itulah kita biasanya berantem seru,” ujar Ferry, tersenyum

Zev mengaku, proses penyelesaian novel thrillernya, tak seperti yang ia bayangkan. “Beberapa kali sempat frustasi. Perbedaan waktu waktu saya masih di Jerman dan mas Fer di Surabaya, sangat menyiksa. Juga kompilasi cerita, menyatukan visi dan plot. Yang paling rumit, ya menyatukan semua gaya ini, seolah novel ini dibuat 1 penulis. Pernah nyaris kita tinggalkan, padahal itu sudah selesai 80 persen. Untung penerbit selalu memberikan semangat,” ujar Zev.

Kini, Zev bisa bernafas lega. Wanita yang pernah menjadi 10 besar lomba menulis cerita anak Blogfam dan bukunya telah diterbitkan untuk keperluan pendidikan, serta pernah Masuk MNE Magazine London untuk karya video berjudul The Moon Represent My Heart, tengah menyelesaikan 4 novelnya yang siap dicetak. Selain mengelola studio desain, Zev aktif menulis di majalah BZ online Blogfam (Tutorial Design), menulis di buku 100 Blogger Bicara.

Aien Hisyam

November 17, 2009 Posted by | Profil Penulis | Leave a comment