Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Hanny

Senang Dibilang Aneh

 

 

“Namaku Hanny. Segitu saja.” Ia wanita keturunan yang ingin hidup ‘berbeda’. Dibilang antik, justru membuatnya senang.

 

Tak sesingkat namanya. Perjalanan hidup Hanny relatif berliku. Ia suka hal-hal yang tak lazim –seperti hidup warga keturunan pada umumnya.

“Memilih sekolah saja sudah beda. Termasuk keinginanku dalam hidup. Pokoknya, beda deh sama saudara-saudaraku yang lain (baca: keluarga besarnya),” kata Hanny.

Keluarga Pedagang

Hanny dididik keras Ayahnya, pemilik perangkat rumah tangga bermerek Vicenza.

“Dari kecil saya dibiasakan jadi pedagang. Nenek, Ibu, dan semua keluarga besar adalah pedagang. Nenek usia 85 tahun masih kerja di Senen,” tutur Hanny.

Ia mengaku dari keluarga sederhana. Sering dibawa ke toko usai pulang sekolah. Dari kecil, Hanny terbiasa melihat orang berdagang.

“Saya tidak lihat kehidupan lain selain berdagang. Saya tinggal juga dilingkungan pedangan, di Jembatan Lima. Apalagi kita orag perantauan dan  Sumatera pula yang notabene pedagang. Uniknya, keluarga besarku rata-rata bikin kue,” ujar Hanny.

Sejak kecil Hanny bercita-cita ingin jadi profesional, seperti dokter dan pengacara.

“Bukannya dipuji tapi malah dicela, ‘Mau apa jadi dokter?’. Untungnya saya dibiarin begitu saja,” katanya, dengan nada lega.

Di sekolah, diam-diam Hanny bermain drama. Ia juga belajar membaca prosa. Pernah, ia juara baca Prosa se-DKI. “Pulang, Mama cuek saja. Apalagi Papa. Tapi saya senang. Ada kepuasaan pribadi sendiri,” ujar Hanny, bangga.

Jaman Sekolah Dasar, lanjut Hanny, “etnik (istilah warga keturunan) jarang ikut teater. Waktu itu ada teater anak-anak betawi untuk ultah Jakarta, saya tidak dikasih ikut. Mama bilang, “Ny buat apa?” apalagi Papa, sama sekali tidak boleh. Yah sudah, sekolah lagi sekolah lagi,” kenang Hanny.

Pantang putus asa, Hanny –tanpa sepengetahuan orangtuanya- bergabung di grup paduan suara dan tari. Demi kepuasan diri.

Keluarga Aneh

Dua tahun kuliah di Atmajaya, Hanny berubah pikiran. Dia ingin sekali hidup di Luar Negeri.

“Cita-cita dari kecil tuh. Bagaimana caranya bagaimana, ya saya bayar pakai sekolah. Harus lulus dalam jangka waktu 2 tahun saja. Kalau tidak selesai ya pulang. Oke deh yang penting bisa hidup di luar negeri,” ucap wanita kelahiran Jakarta 13 Maret 1977.

Ia pilih sendiri kota yang akan disinggahi. Katanya, harus yang paling sepi dan tidak banyak orang Indonesianya.

“Saya pilih Perth, Australia. Kuliah di Curtin University. Disana saya tidak punya teman. Karena kalau saya ngumpul dengan teman-teman, saya tidak bisa masuk ke kehidupan yang ingin saya ketahui. Yang ada, saya hanya kumpul dengan orang Indonesia saja, makan makanan Indonesia, dan waktu istirahat seperti orang Indonesia pada umumnya. Buat saya ya ngapain jauh-jauh ke Australia kalau hidupnya masih sepeti itu,” ujar Hanny. Dia justru senang dibilang aneh.

Hanny tidak mau tinggal dengan keluarga Indonesia, juga bukan orang Asia, dan bukan bule. Ia pilih tinggal di keluarga Eurosian, yaitu campuran Eropa Asia.

Basic-nya Singapura. Saya baru tahu kalau orang Singapura tidak harus Chinese. Mungkin mereka lama dengan Inggris, Portugis dan segala macam. Mereka unik dan aneh. Perempuannya kayak bule tapi rambutnya coklat mukanya ada Asia karena dia ada campuran Taiwan, Inggris dan Portugis. Sementara suaminya ada campuran Indian dan Portugis. Punya anak yang keren-keren,” kenang Hanny sambil tertawa.

Bulan pertama, Hanny sering bertengkar dengan pemilik rumah. “Kaku, melebihi orang tua. Malam lampu harus mati, mandi di timing katanya air mahal. Padahal saya bayar seminggu 150 dolar. Lama-lama saya mulai mengerti. Mereka hemat karena tidak selamanya kita punya air. Disana negara tandus. Listrik dan air dijaga dengan sangat baik,” kenang Hanny.

Di Demo Karyawan

Di Australia Hanny juga masuk ke sekolah Sekretaris. Atas desakan Ayahnya.

“Bokap punya pikiran, anak perempuan tidak harus bikin kue. Karena di keluarganya semua anak perempuan jualan dan bikin kue. Bapak lihat perempuan itu punya segala-galanya. Perempuan tergantung dirinya masing-masing. Karena kita punya sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain. Lelaki belum tentu bisa seperti itu,” ujar istri Sapta Widya.

Masih kata Ayahnya, “kamu jadi perempuan yang selalu  minta dilindungi. Seandainya kamu bisa memainkan peran kamu pada saat bisa dilindungi dan satu saat tidak bisa dilindungi dan kamu bisa berdiri sendiri, kenapa tidak. Hari gini perempuan harus bisa berdiri sendiri.”

Lepas kuliah, Hanny bekerja di perusahaan Ayahnya menjadi sales.  Ia ‘belajar’ dicuekin orang, diomelin, sampai ditolak mentah-mentah.

“Baru beberapa bulan kerja, tiba-tiba kantor di demo. Saya lagi hamil besar. Justru saya layani mereka. Saya bawa kertas satu rim dan pensil dua kotak. Saya suruh mereka tulis surat pengunduran diri, saat itu juga. Eh, ternyata tidak ada yang mau. Kesal juga sih, ternyata mereka diprovokasi,” kenang ibu satu putri, Kai Amory Widya.

Seperti Pilih Pacar

Di Vicenza, Hanny mengepalai bagian Marketing sekaligus HRD, juga memimpin tim artistik.

“Ide semua Papa, saya cuma mengembangkan dan mengolah. Kalau Papa sudah oke, dikirim ke pabrik. Setelah sample-nya jadi, kita diskusi lagi. Kalau ada kekurangan, diolah lagi. Apakah bisa dimasukkan ke pasaran atau tidak

Pengalaman Ayahnya 30 tahun membesarkan produk Vicenza dijadikan ‘sekolah’ buat Hanny.

“Belajar dengan orang yang punya pengalaman jauh lebih berharga dibanding hanya membaca buku. Jadi, daripada saya belajar dengan orang lain,  lebih baik belajar sendiri dengan Bapak saya. Bapak punya imajinasi. Idenya tidak pernah stop. Dia akan ngomong begini begitu. Nah, saya belajar dari situ,” kata Hanny.

Ciri khas disain produk Vicenza, “kita banyak bermain di emas. Tidak pernah lepas dan harus menonjol. Karena dari dulu saya lihat dari ujung Indonesia timur sampai barat, hampir rata-rata yang menunjukkan kemewahan adalah emas. Dari kain hingga perhiasan. Semua yang ada benang emas masuk barang mewah,” jelas Hanny.

Kesal sering ditiru, Hanny mempatenkan tiap disainnya.

“Saya mendisain dengan tim art yang hebat. Saya sendiri yang cari  disainer grafisnya. Seperti nyari pacar. Dia harus ngerti pikiran saya. Apa yang saya inginkan. Dan saya harus bisa menyapaikan apa yang saya mau. Saya tidak punya kemampuan gambar tapi saya punya imajinasi. Saya hanya bisa gambar oret-oretan yang harus diketahui,” kata Hanny.

Aien Hisyam

*wawancara 15 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Novita Tandry

Anak 6 Bulan-pun Bisa ‘Sekolah’

 

Urusan anak jangan dianggap sepele. Kalau tidak siap, jangan punya anak dulu.

 

Novita Tandry mengatakan itu dengan tegas. Ia memperkenalkan diri lewat dua kartu nama. Sebagai psychologist, juga Owner Tumble Tots Indonesia.

“Ibu yang baik adalah Ibu yang punya waktu buat anak. Kesannya sederhana, tetapi sangat dalam maknanya,” kata Novi.

Punya waktu yang dimaksudnya, “adalah punya waktu tanda kutip. Bukannya ada disitu tapi yang ngerjain tetap suster atau pembantunya.”

“Ada waktu dalam arti kualitas dan kuantiti. Saya tidak percaya hanya dengan kualitas. Secara percaya ada kualitas dan kuantiti. Yaitu dia ada disana untuk anak dengan pengetahuan yang benar, dan untuk anak ada pengorbanan waktu. Jadi, dimanfaatkanlah waktu sedemikian rupa itu,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Dari Usia 6 Bulan

Pengalaman membuat Novi membeli franchise education.

“Tahun 1993, saya tinggal di Singapura,” kata Novi yang baru menikah dan punya satu anak, Joel Joshua Jovianus. Ia sedih melihat perkembangan anaknya.

“Anak saya pemalu sekali. Tiap ketemu orang ngumpet di belakang saya. Wah gawat banget nih,” kenang Novi.

Joshua ia masukkan ke center education Tumble Tots Singapura.

“Saya lihat perubahan sangat signifikan sekali. Dari yang pemalu, dia jadi berani banget. Sama orang, dia justru berani nyamperin, bilang ‘Hai uncle, hai aunti’. Dia selalu tanya, “what’s your name”. Ini surprise,” ucap Novi.

Wanita yang menikah diusia 21 tahun ini kian bergairah. Pulang ke Indonesia tahun 1994, Novi mencari tempat sejenis. Ternyata tidak ada.

“Yang bikin tempat anak 6 bulan sekolah belum ada. Bahkan sampai sekarang kalau kita tanya orang tua yang baru menikah tentang anak 6 bulan sekolah, pasti mereka bilang, “yang bener 6 bulan sekolah?” seru Novi sambil tersenyum.

“Padahal saya lihat program ini bisa dibawa dan diterapkan ke Indonesia. Knowledge tentang dunia pendidikan anak di Indonesia saat itu zero masih. Kalau sekarang media dan televisi sudah banyak berperan sehinga orang tua mulai tahu betapa pentingnya pedidikan tersebut,” ujarnya.

Padahal, kata Novi, hasil yang kelihatan anak menjadi percaya diri dan merasa di hargai.

“Ini bonding, relasi antara orang tua dan anak. Bagaimana supaya orang tua mengerti bahwa anak usia 0 sampai 5 tahun disebut masa keemasan, dimana di usia itu masa penyerapan terjadi,” kata Novi.

70 Persen Mencontoh

Novi geregetan.

“Kadang-kadang orang tua habis melahirkan setelah 40 hari sudah kerja. Anak dikasihkan ke orang lain. Padahal kepribadian anak dibentuknya di usia 0 hingga 5 tahun sebanyak 70 persen. 30 persen diserap dari lingkungannya. Kadang kita tidak percaya atau bahkan tidak mau tahu,” ujarnya.

Ia ibaratkan air minum. Kalau 70 persen yang dicontoh dan jadi panutan adalah hal-hal negatif dan salah, “anak tidak ada filter, dia akan minum semua air yang kotor itu,” kata lulusan London Montessori International, London.

Sulit sekali Novi meyakinkan orang tua betapa berharganya masa-masa 0 hingga 5 tahun. Ia coba melalui seminar-seminar, talk show hingga menulis sendiri di media cetak.

13 tahun tahun lulusan Psychology, University of New South Wales, Sidney-Australia  ‘berjuang’. Sekarang Tumble Tots Indonesia sudah punya 38 cabang seluruh Indonesia.

Dikejar Hingga 3 Negara

Total hidup Novi untuk anak dan dunia pendidikan. Ia teringat 13 tahun silam berjuang mendapat franchise education.

“Awal-awal tidak dikasih franchise. Mereka bilang saya masih terlalu muda. Masih bocah banget. Mereka juga lihat CV (Curriculum Vitae)-ku, ini anak masih bau kencur. Waktu itu saya masih 21 tahun,” kenang Novi

Buat meyakinkan, Novi berjuang untuk bisa bertemu pimpinan Tumble Tots Asia.

“Saya kejar ke Singapura, dia tidak mau ketemu. Ke Malaysia, dia juga tidak mau ketemu. Dia ke UK (Inggris) dia juga tidak mau ketemu, padahal saya bawa-bawa anak segala. Sampai akhirnya di Singapura lagi, dia mau ketemu. Mungkin juga sudah capek dikejar-kejar,” sesaat Novi tertawa lepas.

Punya center aducation sendiri, “say harus konsekuen mau mengajar sendiri dan terjun kedalam. Untungnya saya memang hobi di dunia anak. Jadi ini anugerah buat saya,” katanya dengan mata berbinar.

Novi juga curahkan semua waktunya untuk kedua anaknya, Joshua dan Joelle Joscelyne Joviana.

“Jarak mereka berdua sangat jauh. Itu karena saya konsentrasi dulu sama yang pertama sampai character building-nya beres dan saya rasa pendampingannya cukup. Bagaimanapun kalau ada anak lagi perhatian akan terbagi. Dan kebetulan waktu itu umurku masih muda,” ujar wanita kelahiran Kendari tanggal 09 Maret 1971.

Ibarat Spon Kering

Dengan bangga, Novi bercerita, Joscelyne atau disapa Jojo, di usianya yang baru ….. sudah bisa bicara bahasa Inggris, Mandarin, dan Indonesia. dengan baik dan benar.

“Belajar bahasa itu harus konsisten dan jangan dicampur biar anak tidak bingung. Saya hanya bahasa Inggris sama dia. Bapaknya hanya bahasa Mandarin dan dengan mbaknya dengan bahasa Indonesia. Dia seperti robot. Kalau misalnya kita berjalan bertiga. Dia tanya pakai bahasa Mandarin, saya tidak akan jawab. Karena dari lahir kita sudah bikin komitmen seperti itu,” ujar Novi.

Novi mengibaratkan anak seperti spon kering.

“Kalau spon kering dimasukkan ke dalam air, ia akan menyerap air masuk kedalam lobang dengan berlomba-lomba. Ibarat komputer, anak sudah pentium lima. Kencang sekali. Nah kalau kita ini spon yang tiga perempatnya basah. Kita sudah terlalu penuh.

Begitupun dengan dunia anak yang ia sebut dunia bermain.

“Kalau kita perhatikan anak usia di bawah 5 tahun, atau anak dibawah 3 tahun, yang bekerja otot-otot besarnya, motorik kasarnya. Menendang, melempar, menangkap. Yang kelihatan itu yang dia siap. Tidak bisa diam. Duduk tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena memang dia tidak siap karena dunianya adalah dunia bergerak,” kata Novi.

Sementara buat orang tua, lanjut Novi, bermain adalah dunia rekreasi.

“Tetapi buat anak bermain adalah dunia belajar. Belajar untuk membentuk kepribadian mereka melalui permainan. Itulah konsep yang kami pakai,” ujarnya.

Novi berkeinginan, setiap anak bisa menjadi diri sendiri,

“Bukan karena orang tua kepingin anak jadi apa. Ada pengarahan tiap anak itu satu individu yang berbeda dengan anak yang lain. Individu yang unik dan harus diperlakukan berbeda dengan orang lain. Ini yang biasanya orang tua lupa. Orang tua harus bisa memberikan kebebasan yang terikat. Tetap bisa disiplin, tetap dengan adanya tanggung jawab dan ada aturan main di dalam keluarga. Itu yang sulit,” ujar Novi.

Aien Hisyam

*wawancara 22 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Ratu Atut Chosiyah

Satu Tahun Yang Menyesakkan

Kartu nama putih dihiasi lis warna keemasan -senada dengan warna gambar burung Garuda dan tulisan ‘Gubernur Banten’- di letakkan Atut di atas meja.

“Pelantikan baru dilaksanakan 11 Januari besok,” kata Atut sambil tersenyum.

Tetapi,  sejak awal Desember lalu, Atut sudah menjadi orang nomor satu di Banten. Ia menang mutlak atas dua pesaing lainnya. Dan Atut berhak mencantumkan nama beserta ‘status’ barunya di kartu nama itu.

“Doakan saja ya, semoga bisa amanah,” kata wanita bergelas Sarjana Ekonomi ini lagi.

 

SMA Jadi Pengusaha

20 tahun Atut menjadi pengusaha. Sejak tahun 1981 hingga 2001, setahun sebelum ia dillantik jadi Wakil Gubernur Banten.

“Jadi sudah 20 tahun saya bergelut di dunia enteprenuer. Dan saya berkeinginan bisa berbuat yang terbaik untuk tanah kelahiran saya, Banten. Oleh karena itu pemilihan 2001 saya manfaatkan sekali,” kata Atut penuh semangat.

Atut mengaku berjuang sendiri. Paling tidak, ia juga melihat latar belakang orang tuanya yang juga pengusaha.

“Saya TK sampat SD di Banten, baru SMP saya di Bandung. Di Bandung saya mandiri. Saya usaha sendiri. Saya hanya minta masukan pada orang tua, tetapi saya lakukan sendiri semuanya,” ujar Atut.

Atut yang saat itu masih kelas 3 di SMA 12 Bandung mengurus sendiri semua surat dan berkas-berkas perusahaan.

“Usaha kecil-kecilan, seperti pengadaan ATK (alat tulis kantor), suplai beras, dan sebagainya, yang sifatnya pengadaan. Dan Lama-lama kontruksi dan lain-lain,” kata Atut.

Sukses jadi pengusaha, Atut ingin berbagi kesuksesan di pemerintahan.

“Jadi, ini (keputusannya terjun ke politik dan birokrasi) murni keinginan saya. Saya berpikir, wilayah mana yang bisa saya masuki untuk memberikan terbaik untuk Banten setelah jadi Propinsi. Yang sifatnya subjek bukan objek. Dari situ saya sampaikan ke suami dan keluarga. Awalnya mereka sepintas menanggapi dingin-dingin saja, karena saat itu mereka tahu, saya ini sedang betul-betul menikmati kesuksesan saya di dunia usaha,” kenang istri Drs H. Hikmat Tomet.

Pro dan Kontra

Pencalonan Atut langsung menuai pro kontra. Beberapa ulama menolak perempuan di provinsi yang saat itu baru saja dimekarkan. Alasan penolakan, didasarkan kapasitas perempuan yang tidak boleh menjadi imam, sehingga tidak boleh menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah.

Atut mengaku sedih. Anggota Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi  Banten ini sampai menitikkan air mata di tengah-tengah perenungan atas kodradnya. Apakah itu menjadi alasan dia tidak boleh memimpin? Sesaat, penolakan ini  membuat nyalinya ciut.

“Tetapi, tidak semua ulama atau pemimpin pesantren berpandangan demikian. Ada pemimpin pesantren yang sangat tradisional, bahkan mesjidnya diharamkan menggunakan pengeras suara, justru tidak menyetujui pandangan yang menolak kepemimpinan perempuan. Pemimpin pesantren ini juga mengutip salah satu ayat Al-Quran, yang menyatakan bahwa Islam tidak menolak kepemimpinan perempuan,” tutur angggota Angkatan Muda Siliwangi Propinsi Banten ini tegar.

Semangat Atut muncul lagi. Ternyata, waktu berpihak padanya. Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Provinsi Banten ini berhasil menjadi Wakil Gubernur Provinsi Banten pertama di bawah kepemimpinan Gubernur H. Djoko Munandar.

“Derajat seseorang, tidak ditentukan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi amal ibadahnya,” katanya.

Under Estimate Orang

Atut menyadari masih ada orang-orang yang memandang rendah pada kemampuannya.

“Tapi saya tidak pernah memikirkan sampai situ walaupun saya tahu ada orang yang under estimate pada kemampuan saya. Pada akhirnya mereka akan menilai kinerja yang telah saya lakukan. Itu prinsip saya. Saya tidak mau pusing dengan apa kata orang. Tetapi bukan berarti saya tidak peduli. Kalaupun ada kritik saya anggap sebagai masukan dan introspeksi buat saya. Tetapi terhadap yang mencibir saya anggap sebagai cambuk saja, bukan sebagai pikiran,” kata lulusan Akuntansi Perbankan ini.

Terbukti, banyak gebrakantelah dilakukan Atut selama 5 tahun menjadi Kepala Daerah. Salah satunya Perda yang ia buat untuk pemberdayaan Perempuan Banten.

“Isinya, tentang alokasi anggaran 20 persen dari setiap program satuan kerja perangkat daerah, dinas biro, badan, harus dialokasikan untuk yang terkait dengan sentuhan pada hal-hal yang dibutuhkan perempuan. Tidak hanya di lingkup perempitah Provinsi, tapi juga dilakukan pemerintah Kabupaten Kota,” kata Peraih Anugerah Citra Kartini tahun 2003 ini

Atut turun langsung mensosialisaikan perda tersebut. Dan sudah di realisasikan, salah satunya lewat PKK.

“Mereka betul-betul melakukan pembinaan sampai ke tingkat terendah di desa-desa. Pembinaan dilakukan oleh ibu-ibu istri pejabat. Termasuk bergabung dengan BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita). Sekaragn ada 50 organisasi perempuan di Banten yang masuk BKOW. Tujuang membina kaum perempuan. Itu program saya waktu jadi Wakil Gubernur. Dan akan terus di kembangkan setelah saya jadi Gubernur,” tegas Atut.

Bukti lainnya, meski usia Provinsi Banten masih 5 Tahun, lewat Pendapatan Asli Daerah sudah menduduki peringkat 6 dari 33 provinsi di Indonesia.

“Ini sukses bersama,” ujar Atut merendah.

Sudah Jadi Takdir

Ternyata satu tahun silam, Atut hampir-hampir tidak bisa ‘bernafas’.

“Sejak Oktober 2005, saya diangkat jadi Pelaksana Tugas Gubernur karena Pak Gubernur sedang berhalangan. Disitulah saya betul-betul harus menjadi seorang pemimpin yang selain melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Wakil, tetapi saya pun harus bisa menggantikan tugas dan fungsi Pak Gubernur,” kata Atut.

“Awalnya”, katanya lagi. “Saya kaget. Saya sempat merenung, karena saya memang tidak berharap. Saya berharap bisa menyelesaikan sampai 5 tahun bersama Pak Gubernur,” ujar Atut sungguh-sungguh.

“Itu sudah jadi takdir saya. Saya menjalankan tugas dan fungsi saya sebagai Kepala Daerah. Yah double. Setelah saya renung sesaat, saya harus tegar. Dan disitulah saya mempersiapkan diri untuk selalu sehat. Harus bekerja keras. Saya harus mempelajari semua program yang sudah ada. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Akhir tahun ini sudah selesai semua tugas dan kewajiban kita,” lanjut Atut.

Permintaan Ananda

Atut berjanji, lima tahun mendatang, ia ingin berbagi waktu lebih ‘adil’ pada keluarganya.

“Kelihatannya mereka memang tidak protes. Tapi terkadang mereka ingin ketemu, makan bareng dan lebih sering jalan sama-sama. Sebenarnya selama ini selalu saya sempatkan. Tapi InsyaAllah tahun depan akan saya sempatkan dan saya beri waktu lebih lama,” kata wanita kelahiran Ciomas Serang, 16 Mei 1962.

Berbicara tentang ketiga anaknya, Andika Hazrumi, Andriana Aprilia,  dan Ananda Trianh Salichan, suara Atut melembut.

“Putra saya yang paling kecil, Alhamdulillah dewasa sekali. Dia SD kelas 4. Mungkin di hatinya itu (protes pada Ibunya) ada. Tetapi dia memahami apa yang jadi tugas saya. Kadang saya ajak dia kerja supaya dia bisa melihat. Dia selalu bilang, “Bunda, hari ini ada kerjaan nggak?” Kalau sudah begitu, pasti dia ingin sesuatu atau ingin diantar. Dia suka tanya dulu, tidak meminta dulu,” kata Atut dengan tatapan menerawang ke depan.

Saat itu, ia memang tida bisa langsung menjawab.

“Tapi kalau saya sampaikan, ‘Bunda ada kerjaan dulu yang tidak bisa ditinggalkan,” yah sudah, dia tidak akan minta lagi. Kalau sifatnya penting sekali, saya akan tanyakan lagi. ‘Ananda mau apa?’ Kalau dia bilang mau diantar kesana, yah saya akan sempatkan,” ujar Atut.

Sesibuk apapun, Atut berusaha menjadi Ibu rumah tangga saat di rumah.

“Tahun depan saya akan fokuskan perhatian ke keluarga. Bagaimanapun saya ingin mereka tumbuh sebagai anak dengan kemampuan pendidikan yang baik. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang bagaimanapun juga tidak lepas dari pantauan Ibu,” Atut berjanji.

Dengan adanya Wakil Gubernur, Atut berharap tugas-tugas kepemimpinannya mendatang bisa dibagi. “Semoga saya bisa bernafas lagi,” ujar Atut sambil tersenyum, lega.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Politikus, Profil Wanita | 1 Comment

Yani Motik

Matahari Tak Harus Satu

 

Tak mudah memimpin sekumpulan wanita pengusaha. Doktor cantik ini 5 tahun menjalaninya, dan masih tak puas juga dengan hasilnya.

 

Tahun 2007 adalah akhir masa jabatan kedua Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) ini. Dan Yani tidak mengingkari kalau ia telah bekerja dan berusaha  cukup keras memajukan organisasi beranggotakn wanita-wanita cantik yang rata-rata juga pekerja keras.

“Tapi saya nggak terlalu puas. Saya bersyukur saja. Banyak yang didapat, tapi  Inginnya saya bisa lebih dari itu,” kata pemilik nama lengkap Dra. Suryani Sidik Motik. MGA ini.

Merawat Banyak Bunga

Banyak PR masih harus ia selesaikan dalam waktu yang tinggal sedikit.

“Sistemnya perlu diubah, juga pola pikir anggota IWAPI,” kata Yani.

Maksudnya,  “Dulu orientasinya central life, kalau tidak ada Ketua tidak jalan. Inii yang harus dihilangkan,” lanjutnya.

“Dulu,” katanya lagi. “Orang berpikir matahari itu mesti satu. Saya bilang tidak. Kita pengusaha, kita pengurus, dan organisasi kita nirlaba, maka di situ bunganya harus banyak. Kita harus bisa menyebarkan  harumnya masing-masing. Setiap orang harus berfungsi, setiap pengurus harus aktif, tidak harus ada saya,” kata Yani penuh semangat.

Dibilang Macam-macam

Di kepengurusan periode pertama, Yani membiarkan organisasi berjalan seperti air mengalir.

“Tapi kalau terus seperti itu, organisasi tidak bisa berkembang. Maka pada periode kedua saya rombak habis. Ada 70 orang baru dan 30 orang lama yang sejalan dengan saya. Waktu itu benturannya luar biasa. Saya dibilang sombong. Ada yang menuduh saya seperti  kacang lupa kulitnya, segala macam. Saya tidak peduli,” cerita Doktor Bidang Administrasi lulusan UI ini.

Terbiasa berpikir jauh ke depan, Yani tak berbakat  membuat keputusan yang asal-asalan. Ia sadar benar harus membesarkan organisasi yang telah berusia 32 tahun.

“Saya bilang, kalau saya mau nikmat, saya pakai pola lama saja. Cukup hanya dengan beberapa beberapa orang saja yang sudah mengerti,  organisasi juga sudah jalan. Tapi saya tidak bisa seperti itu  selamanya di IWAPI. Saya punya tanggung jawab agar begitu masa jabatan saya selesai, IWAPI bisa jalan terus dengan bagus,” kata istri Faizal Iskandar Motik ini.

Kian Egaliter

Masuknya orang-orang baru yang sepemikiran, mengembangkan  organisasi jadi lebih egaliter.

“Matahari tidak harus satu – artinya, tidak ada dominasi. Semua orang harus muncul, semua orang bisa jadi pembicara – kalau perlu, didorong untuk itu. Ada tidak ada Ketua, organisasi harus jalan,”  cerita Yani.

Tak heran kalau selama ia menjadi Ketua IWAPI, Yani tetap mampu  menyelesaikan Phd nya.

“Juga bisa saya tinggal tiga bulan ke Amerika untuk studi banding. Juga  saya tinggal ke Australia dua bulan,” ceritanya senang.

Lulusan Maryland University, USA, yang  bergelar Master of General Administration ini selalu bangga melihat orang lain sukses.

“Kebanggan saya luar biasa kalau lihat orang lain sukses. Yang tadinya tidak bisa ngomong jadi berani ngomong. Yang belum pernah ke luar negeri, pulangnya bisa berhasil. Yang nggak pede jadi pede. Itu semua tidak bisa dibeli dari keuntungan yang sekian puluh miliar,” ujar Yani.

Yani tidak pernah patah semangat. Kalaupun harus turun langsung, ia siap 24 jam. Mulai dari menyiapkan materi presentasi sampai jadi tempat konsultasi.

Kalau Jadi Pemimpin

“Pemimpin itu harus dikasih kesempatan. Ini yang orang sering salah. Tidak bisa orang tiba-tiba jadi pemimpin. Yang belum, harus diberi kesempatan memimpin. Nanti kita evaluasi kekurangan dan kelebihannya,”  Yani berbagi tips suksesnya ‘merombak’ IWAPI.

Termasuk menghadapi orang banyak.

“Kecuali kalau urgent banget atau ada kerjasama baru dengan pihak luar. Saya selalu ajak teman-teman yang lain bertukar pikiran,” ceritanya.

Memantau Iklim Lain

Banyak sukses diraih Yani yang juga lulusan George Washington University, USA, ini.

“Saya mulai membangun kerjasama dengan pihak luar, nasional dan internasional. Alhamdulillah, sekarang setiap tahun IWAPI mengirim 9 orang ke Kanada untuk studi banding, mempelajari iklim  pengusaha dan organisasi sejenis IWAPI disana,” cerita wanita kelahiran Jakarta 17 Juli 1961 ini.

IWAPI juga bekerjasama dengan Australia, Jepang, Filipina dan Malaysia.

“Website kita ngelink dengan website IWAPInya Malaysia. Dengan Filipina untuk training di Women Center yang dibiayai Jepang. Dengan Cina,  terakhir kita bikin kerjasama untuk China Asian Bussiness Woman. Dari Europe Union (EU) kita datangkan ahli-ahli desain dan teknologinya untuk anggota yang perajin perak, kerramik, kayu dari Jawa dan Bali. Perhiasan, kita kerjasama dengan Jepang di butiknya Reny Feby,” kata ibu 2 anak ini bangga.

Dua Penghambat

Saat masuk IWAPI, usia Yani baru 30 tahun. Setahun kemudian ia menjadi Sekjen (Sekertaris Jenderal) IWAPI.

“Mbak Dewi (Dewi Motik, mantan Ketua IWAPI Pusat,) bilang, kalau konsep-konsep kamu bisa diterapkan di IWAPI, kenapa tidak? Coba saja. Akhirnya ya saya jalani saja. Jujur, saya ini sebenarnya tidak terbiasa dengan Ibu-ibu dan perempuan. Kalau sama Bapak-bapak dan laki-laki, kita bisa lepas omongnya. Kalau sama Ibu-ibu kan main perasaan. Lebih banyak otak kanannya yang bekerja, daripada otak kiri.,” kata Yani.

Apalagi, lanjut Yani, ketika itu anggota IWAPI mayoritas ibu-ibu yang lebih senior. “Jadi, kita tidak boleh kelihatan kritis dan lebih pintar,” komentarnya.

Ia melihat 2 hal yang menghambat wanita Indonesia sulit berkembang.

“Yang pertama, gender, yaitu ketidakpercayaan terhadap wanita sebagai pengusaha. Kalau masih muda dikira hanya jual kecantikan. Kalau anak orang kaya dibilang modal orangtuanya,” cerita Yani.

“Kedua, kalau dia pintar, dibilang, ‘Terang aja, pintar’. Jadi nggak pernah bisa dilihat secara utuh,” lanjutnya gemas.

Tak Perlu Atas Nama Suami

Di Indonesia, lanjut Yani, maju tidaknya wanita sangat tergantung dukungan keluarganya.

“Penelitian saya dengan ILO tentang problem wanita dalam mengembangkan bisnisnya, di tahun 2002. Satu hal yang menarik, dimana perempuan apabila punya kesempatan maju dan berkembang, misalnya dari sekala kecil ke menengah atau dari informal ke formal, kalau suaminya belum siap mental, kesempatan itu tidak akan diambil, karena takut rumah tangganya berantakan,” papar Yani.

“Ini perlu disosialisasi. Kalau opportunity di istrinya lebih tinggi, mereka harus bisa terima. Dalam konsep Islam, lelaki pakaian istri, istri pakaian suami, kan bisa disharing saja,” lanjut Yani.

Yani mengingatkan anggota IWAPI agar mendaftar atas nama diri sendiri, bukan nama suami. Ia senang sekali melihat perkembangan anggotanya.

“Sekarang wanita sudah masuk ke semua sektor bisnis. Ada anggota IWAPI di Jawa Tengah yang produksi senapan. Ibu Lina Fahmi, impor senjata untuk olah raga. Pembangunan jalan banyak dikerjakan anggota IWAPI. Yang bisnis perhotelan juga banyak,” ujar Yani bangga.

 

Aien Hisyam

*wawancara 11 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Dyah Anita Prihapsari

3 Wanita Paling Berkesan

 

            Nita menjadi wanita Indonesia pertama yang mengikuti International Women Leaders Mentoring Partneship  (IWLMP) di Amerika. 

 

“Sebulan saya di Amerika. Ini benar-benar luar biasa. Saya satu-satunya wanita dari Asia yang terpilih ikut program tersebut,” ujar Dyah Anita Prihapsari bangga.

Nita memang tidak pernah berhenti beraktifitas. Tahun ini, sejumlah tanggung jawab ia pegang. Mulai dari Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ketua DPD IWAPI Provinsi DKI Jakarta, Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan IWAPI Pusat, hingga Komisaris di 3 perusahaan.

Tidak salah bila Fortune memilih Nita sebagai pemimpin wanita di Asia untuk mengikuti IWLMP. Di Amerika Serikat, Nita berkumpul bersama 16 pemimpin wanita lainnya. Diantaranya dari Ukraine, Kenya, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Afrika, Bangladesh, Bolivia, dan sebagainya.

Laura Bush Dan Hillary

IWLMP baru pertama kali diadakan. Program ini menjadi kegiatan tahunan, kerjasama Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Fortune Magazine untuk mencari pemimpin wanita berkualitas. Yaitu wanita muda yang sukses memimpin perusahaan, aktif di kegiatan sosial, punya perhatian yang besar pada dunia pendidikan dan kesehatan, serta punya visi misi bagi keberhasilan para perempuan. Proses seleksi dilakukan setiap Kedutaan Besar AS.

Dari 30 wanita pilihan, Lulusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management, Oklahoma City University ini lolos mewakili Indonesia sekaligus wakil Asia. Sejak tanggal 29 April hingga 28 Mei Nita dididik menjadi leader dan mentor yang handal.

“Hari pertama kita dibawa ke Wasingthon DC bertemu Laura Bush (Istri Presiden AS George W. Bush). Sebelumnya kita diterima empat staf ahli White House dan kepala security yang semuanya perempuan,” cerita Nita bangga.

Ia mendapat ‘ilmu’ tentang kepemimpinan wanita di Gedung Putih. “Mereka dipilih karena punya kriteria peran ganda.  Sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai pemimpin yang bisa membagi waktu, melobi dan memimpin karyawan tanpa emosional,” ujar Nita.

Di kesempatan ini Nita memberi kenang-kenangan buku kuliner Taste of Indonesia yang dibuat IWAPI. Sore hari, Nita berkunjung ke Departemen Luar Negeri AS.

“Di Deplu justru lebih ketat. Handphone dan kamera tidak boleh masuk. Ternyata ada Menteri Luar Negeri Concolezza Rice,” cerita Nita antusias.

Nita memperoleh pengetahuan tentang kriteria menjadi pemimpin dunia, tentang kerjasama dan kemitraan. “Dia bilang woman can change the world. Wow, hebat sekali,” ujar Nita.

Hari kedua, Nita diajak bertemu Kay Bailey Hutchison. Senator perempuan pertama dari Texas. Barulah esok harinya Ibu dua anak ini bertemu Hillary Clinton.

“Begitu Hillary lihat buku Taste of Indonesia, dia langsung komentar, ‘I love Indonesia’. Dia senang sekali bahkan mengirim ucapan terima kasih lewat surat setelah saya pulang,” cerita Nita. Di akhir pekan Nita bertemu Menteri Tenaga Kerja bersama 5 staf ahli yang semuanya juga perempuan.

“Mereka semua pemimpin hebat. Punya visi misi kuat bagi keberhasilan wanita. Hebatnya, meski Laura, Hilarry dan Rice sibuk dengan urusan pekerjaan, mereka selalu tekankan bahwa secara kodrat, wanita adalah Ibu bagi anak-anak, dan istri bagi suami. Dua tanggung jawab ini harus berjalan seimbang,” ujar Nita penuh keyakinan.

Anti Perokok

Mengenal Nita, tidak akan lepas dari aktifitasnya mengkampanyekan gerakan anti rokok. Sejak dilantik menjadi ketua WITT tahun 2004, disetiap kesempatan, Nita  selalu mengingatkan orang bahaya merokok. Ia selalu meminta orang tidak merokok atau berhenti merokok.

“Kerja WITT dimulai dari scope terkecil, yaitu keluarga. Kalau Ibu Bapaknya perokok, dan anak-anaknya di ajak merokok oleh lingkungannya, pasti tidak akan menolak. Berbeda kalau keluarga yang tidak merokok. Pasti anak-anaknya akan batuk-batuk kalau ada yang merokok. Dia akan menghindar dengan sendirinya. Dan saya himpun ibu-ibu bergabung di WITT karena Ibu adalah panutan keluarga. Ia yang selalu dilihat dan ditiru anak-anak. Kalau ibunya kurang benar, anak pasti terkontaminasi diluar. Jadi, kunciya adalah Ibu,” tegas wanita kelahiran 22 Juni 1964.

Kerja keras Nita berbuah manis. Perda No.22 tahun 2005 dan Pergub 75 tahun 2005 disyahkan. Masyarakat dilarang merokok di tempat-tempat tertentu.

Mendapat dukungan, WITT gencar mengadakan kegiatan dan penyuluhan setiap bulan. Sasarannya dari murid SD hingga Perguruan Tinggi.

“Sejak tanggal 3 Februari 2006 kita jadi Mitra Pemda. Kita berhak menegur orang yang merokok tidak pada tempatnya. Kita berhak menjadi penyuluh agar mereka merokok pada tempatnya. Kita juga dapat kartu khusus dari Pemda untuk mengkampanyekan gerakan anti rokok,” ujar Nita bangga.

WITT juga mencari payung serba berguna. “Karena merokok berkaitan dengan Narkoba, kita kerjasama dengan BNN. Kita masuk ke Kapolri dan minta biikin MOU agar bisa dimekar ke daerah-daerah,” ujar Nita. Ia berniat membuka cabang Yogyakarta, Surabaya, Bandung dan Manado.

Khusus untuk kader-kader WITT, Nita membuat pelatihan khusus yang baru saja diadakan di The Peak Apartement bulan Agustus lalu.

“Kita butuh pasukan lebih banyak yang tidak hanya Ibu-ibu dan perempuan. Tetapi harus ada kader yang laki-laki. Sekarang ada 60 murid dari SMP hingga Mahasiswa. Mereka siap jadi kader WITT.

Life Style Yang Berbahaya

Nita selalu memotivasi wanita untuk tidak merokok. “Bahayanya banyak sekali,” tegas Nita.

“Di dalam rokok ada 4000 bahan kimia yang berbahaya. Perokok wanita bisa terkena kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker gusi, kanker lidah, dan banyak sekali. Juga oesteoporosis, jantung dan bronkhitis. Penampilan juga kena imbasnya, muka cepat keriput, kuku kuning, gigi kuning, bibir hitam, tidak cerah dan lebih tua, tidak segar dan mulut berbau. Perokok wanita  lebih emosional karena mereka penuh ketergantungan,” ujar Nita

Merokok kerap dianggap sebagai lifestyle. Iklan televisi, menurut Nita, sering menjerumuskan wanita sebagai pecandu. “Iklan rokok itu pintar. Dia bikin rokok slim dengan warna yang sejuk, putih dan biru muda dengan kadar tar yang rendah juga rasa mild yang ringan. Ini sangat mempengaruhi pergaulan. Dianggap life style padahal salah besar,” tegas Nita bersemangat.

Tanpa kenal lelah, Nita mulai membidik Mal-mal di Jakarta untuk mengkampanyekan anti rokok.

“Kita buat road show Mal to Mal. Kita hadirkan Gubernur Sutiyoso dan beberapa selebritis. Kita sosialisasikan perda tersebut. Bukan melarang tapi kita hanya menempatkan para perokok di ruangan-ruangan khusus. Smoking Area yang harus menempel pengumuman bahaya merokok,” ujar Nita lagi.

“Semoga kegiatan ini mampu menyadarkan kita sehingga kita bisa menyelamatkan generasi bangsa. Karena dari merokok seseornag bisa terkena Narkoba dan HIV,” lanjut Nita tak kenal putus asa.

Aien Hisyam

*wawancara 5 September 2006*

October 13, 2012 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Vivit Arivianti Arifin

“Aku Bersyukur Meski Dua Anakku Meninggal”

 

            Kalau boleh meminta, tentu Vivit saja tidak ingin kehilangan dua anaknya. Berkat keikhlasan dan kesabaran, ia justru diberi kenikmatan yang lain, sukses membesarkan bisnis Baby Born face Video Clip.

 

Di teras yang sama Vivit menerima WI. Ada satu perbedaan mencolok di wajah Ibu muda ini. Ia tampak lebih segar dan bercahaya.

“Oh iya, dulu kita ketemuan aku baru saja kehilangan anak keduaku. Nah, sekarang aku sudah punya Kenzie,” ujar Vivit dengan nada bahagia.

Vivit kemudian berdiri dan menghilang di balik pintu. Tiga menit kemudian ia muncul, “wah sayang, Kenzie lagi tidur. Tapi nggak apa-apa, nanti setelah wawancara pasti dia sudah bangun,” kata Vivit yang ingin sekali memperlihatkan anak ketiganya, Muhammad Kenzie Danendra, 1,2 tahun.

Vivit bercerita panjang lebar tentang kebahagiaannya dikaruniai Kenzie. Anak ketga yang semata wayang, yang amat diharapkan.

“Aku selalu berpikir positif bahwa Allah punya rencana besar padaku. Kenapa dua anakku terdahulu begitu cepat diambil dari hidupku, dan kenapa baru sekarang aku bisa bernafas lega punya anak yang sangat aku harapkan. Ini semua bagian dari skenario Allah pada hidupku. Termasuk bisnis Baby Born Face yang aku rintis dan kini berkembang dengan luar biasa. Aku selalu bersyukur,” kata Vivit Arivianti Arifin, 29.

Seolah Berbicara Pada Anak

Kehadiran si Kecil dipandang Vivit sebagai anugerah-Nya yang terindah dalam hidupnya, juga semua pasangan laiinya. Baginya, sayang sekali bila momen itu terlewati begitu saja.

“Aku benar-benar merasakan momen indah itu setelah kehilangan anak keduaku, Rayhan Syahandra. Dia lahir setelah aku mulai bisnis ini. Semua yang terjadi di awal kehidupannya terekan dengan indah dalam video. Aku yang edit sendiri. Sayangnya Tuhan langsung mengambil anakku. Tentu saja aku sedih. Tapi hingga kini aku masih merasakan bahwa Rayhan ada disisiku. Aku bisa melihat wajahnya meskipun hanya melalui video rekaman,” ujar Vivit.

Kenangan itu menjadi bagian terindah dalam hidup Vivit. Sejak itulah ia serius mengembangkan bisnis Baby Born Face Video Clip (BBFVC).

“Semua orang tua pasti ingin mengabadikan momen indah itu. Dan, momen itu hanya sekali seumur hidup. Tidak bisa diulang lagi. Jadi sayang dilewatkan,” kata istri pengusaha Abdhy P. Azis.

Bisnis ini memang barus dimulai Vivit sejak pertengahan tahun 2002, menjelang kelahiran Rayhan Syahandra. Vivit berinisiatif membuat rekaman videonya. Namun, kali ini dia menggunakan format yang agak berbeda. Dia mulai membuat satu cerita skenario untuk persiapan kelahiran bayinya.

”Saya mempersiapkan cerita itu seperti mengemas infotainment. Mulai wawancara dokter, orang tua si bayi, hingga wawancara kakek neneknya,” urai Vivit.

Rekaman juga dilengkapi dengan kegiatan pasangan muda ini ketika mengunjungi dokter untuk periksa USG, upacara 7 bulanan (akekahan atau mitoni), senam hamil, berburu pernik-pernik si kecil di mall dan banyak lagi. Paling tidak ada pertemuan empat kali.

Tidak Ada Bekas Anak

Di dalam rekaman berdurasi singkat 20 menit atau 40 menit itu, para ‘narasumber’ berbicara di depan kamera. Mereka seperti berbicara pada anaknya.

“Bukankah pernyataan itu akhirnya untuk anak juga. Anak harus tahu bagaimana perasaan orang tua dan orang-orang terdekat dalam hidupnya ini tentang dirinya. Anak juga harus tahu bagaimana pengorbanan ibunya saat melahirkan agar selalu tetap mencintai, menghormati, dan melindungi sepanjang hidupnya. Bukankah tidak pernah ada istilah bekas anak. Walaupun orang tuanya bercerai, anak ya tetap anak,” ujar Vivit.

Nampaknya Vivit kini tengah menikmati kesuksesannya. Di bawah bendera Creator Visual Sejahtera. Hampir setiap hari ia terima order, minimal 2 klien. Vivit bahkan sudah menjalin kerjasama dengan 12 Rumah Sakit terkemuka di Jakarta. Paling tidak, setiap hari kru BBFVC – yang semuanya wanita – mengambil gambar satu kelahiran.

“Kru harus siap 24 jam. Bukankah Peristiwa kelahiran tidak seperti acara pernikahan yang bisa ditunda-tunda. Kalau memang sudah waktunya, yah harus dikejar. Jadi kalau misalnya klien sudah masuk Rumah Sakit, paling tidak 5 menit kemudian, kru kami sudah datang. Mereka akan ikut semua proses kelahiran, dan mensyut dari dekat,” kata Vivit yang mengaku lega karena dokter-dokter di Rumah Sakit dengan senang hati mau bekerjasama.

Menurut dia, yang paling seru adalah saat menjelang kelahiran. Kru yang terdiri atas dua orang harus stand by meski baru bukaan dua. “Mereka tidak boleh pulang meski itu tengah malam atau dini hari. Padahal, bukaan dua itu bisa bertahan dua hari,” terang anak kedua di antara dua bersaudara itu.

Semua peristiwa itu direkam dengan manis oleh para kru BBFVC. Di edit dengan rapi, diberi gambar-gambar visual yang menarik, diisi lagu-lagu lembut yang disukai kedua orang tuanya, juga diberi kata-kata yang menyentuh. Ada pula suara narator yang membacakan penggalan-penggalan kalimat indah.

“Kalau klien pilih paket B yang 40 menit, jauh lebih lama. Bisa memuat lebih banyak peristiwa,” ujar  lulusan London School of Public Relation.

Lebih Human Interest

Vivit menawarkan beberapa paket untuk dokumentasi tersebut. Dokumen yang berdurasi 40 menit dalam bentuk VCD atau DVD seharga Rp 4 juta. Paket itu berisi wawancara ke dokter, syuting dalam ruang bersalin, dan kegiatan selama masa kehamilan. Selain itu, klip senam dan belanja keperluan bayi.

Klip yang berdurasi 20 menit dalam bentuk VCD seharga Rp 2 juta. Berisi rekaman di ruang bersalin dan wawancara dengan keluarga. Ada pula paket baby face. Paket ini berupa foto yang mendokumentasikan sewaktu berada di ruang bersalin. Untuk album kecil, harganya Rp 550 ribu dan album besar Rp 1,1 juta.

Album itu juga terdiri atas cerita dari pasangan ketika sama-sama masih kecil, dewasa, pacaran, sampai akhirnya menikah dan melahirkan bayi.

Bisnis yang dirintis Vivit memang pertama kalinya di Indonesia. Untuk menjaga kreatifitasnya agar tidak ditiru orang lain, wanita asali Jawa Timur ini mendaftarkan karyanya ke Departemen Kehakiman untuk mendapat hak cipta.

“Lega rasanya begitu suratnya keluar. Sekarang aku tidak cemas lagi kalau ada yang nekat meniru bisnis ini bisa dikanai sangsi hukum,” kata ibu tiga anak, Talitha Sadiya, Rayhan dan Kenzie.

Vivit mengaku karyanya itu orisinal meski sebenarnya ada tayangan Dicovery Channel yang merekam kelahiran bayi dari sisi medis. “Memang, ada tayangan semacam itu. Namun, itu lebih menunjukkan cara-cara melahirkan dengan mudah dengan upaya medis, sedangkan saya lebih ke human interest-nya,” urainya.

Aien Hisyam

*wawancara 14 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo

Another Time Competitors Can be Partners

Ia pioner web design di Indonesia. Juga penggagas kompetisi bergensi di Indonesia khusus untuk para disainer. Lantas, apa yang masih dicari wanita cantik dan sukses bernama lengkap Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo ini?

Baru dua bulan Shinta menempati kantor barunya di kawasan Mendawai- Kebayoran Baru. Rumah dua lantai itu didesain milimalis. Dinding hanya dihiasi beberapa lukisan yang didominasi warna oranye mencolok. Berpadu serasi dengan warna tembok yang abu-abu.

“Kali ini kantornya benar-benar aku disain sesuai keinginanku. Simpel dan tidak banyak ornamen. Khusus untuk ruang kerja, semuanya ada di lantai dua. Biar terjaga privacynya,” ujar Shinta dengan mata berbinar.

Uniknya, kesan simpel justru tidak terlihat di ruang kerja Shinta yang berada di salah satu sudut ruangan. Ia justru bermain dengan warna-warna gelap dan interior bergaya Eropa.

“Hahaha, biar ada suasana yang beda aja, tidak monoton, dan bisa membuat kerja lebih bergairah,” kata Shinta sambil tertawa lepas.

Sebagai pekerja kantoran yang lebih banyak berkutat dengan komputer juga ide-ide segar, tentu saja Shinta butuh tempat kerja yang nyaman. Pemandangan itulah yang nampak di kantor PT.Bubu Internet saat ini.

One Stop Solution

Bulan Juli tahun ini, usia Bubu genap sepuluh tahun. “Tidak terasa yah? Aku tahunya, Bubu ulang tahun setiap bulan Juli. Tanggalnya sih lupa. Dan sekarang, umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah ABG,” ujar Shinta dengan wajah cerah.

Sejauh ini, diakui Shinta, ia sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Bubu Internet. Apalagi, sebagai CEO sekaligus pemiliknya, Shinta harus lebih kreatif menciptakan hal-hal baru.

“Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin membutuhkan Web Page yang baik agar bisa berkompetisi dengan para pesaingnya di negara-negara lain. Nah, mereka bisa melakukan aktifitas bisnis di Internet. Sebagai Web Develompment company, Bubu.Com fokus melayani designing webpages, intranet solution, e-commerce, networking solution, internet marketing and training,” jelas Shinta.

Shinta menyebut usahanya sebagai one stop solution untuk web development.

Jadi kalo ada perusahaan yang ingin ada presence di internet, Bubu bisa membantu dari mendesain situs, hosting, dan sampai me”marketing”kan situs web dalam bentuk pembuatan banner dan mendaftarkan di dalam search engines juga. Bubu juga mengembangkan web programmings yang didevelop tailor made to suit the clients’ needs,” kata ibu dua putra ini antusias.

Shinta juga aktif menjadi pembicara tentang internet di acara seminar disejumlah sekolah dan universitas bergengsi.

Ditanya tentag kompetitor yang sekarang kian menjamur di Indonesia, dengan bijak Shinta mengatakan, “everyone can be competitors but on another time competitiors can be partners. Saya adalah believers dari stategic alliance. We can always try to partner or alliance with any one dimana kita akan bisa menonjolkan kemampuan dari masing2 pihak. Never thought of you guys that way. Just wondering, is that how you guys feel about us, since you asked the question? Hope not,” ujar lulusan University of South Australia yang kemudian mengambil gelar master of business Administration di Portland State University, Portland, Oregon, USA, dan memperdalam ilmu Arsitektur dan Interior di University of Oregon di Eugene-USA.

Nama Anjing Kesayangan

Ketika pertama kali mendirikan perusahaan ini, Shinta mengaku bingung akan memberinya nama apa.

“Tiba-tiba aku ingat anjing kesayanganku. Bubu itu memang nama anjingku. Tetapi aku pakai nama itu karena sangat simpel, mudah diingat and because it sounds so funny it will stick in your mind,” ujar Shinta sambil tersenyum.

Lahir di Jakarta tanggal 18 Januari, Shinta dibesarkan di Manila, Filipina. Tujuh tahun ia habiskan berkuliah di Amerika. Berbekal pengalaman yang sangat beragam, Shinta kemudian mendirikan Bubu. Di perusahaan yang hanya berpegawai 25 orang ini, Shinta menjadi CEO sekaligus founder dan shareholder.

Berkat hasil kerja kerasnya, Bubu kini dipercayai lebih dari 70 klien.

“Untuk perusahaan seperti BuBu, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebersamaan atau team work antara setiap individu di perusahaan. Fleksibilitas dimana perusahaan dapat bereaksi terhadap permintaan pasar dan bukan memaksakan diri kepada pasar. Sedangkan kebersamaan melahirkan kemampuan yang terkoordinasi untuk melayani permintaan klien yang pastinya sangat variatif,” ujar peraih sejumlah penghargaan diantaranya Executive Women 2001, Young Modern Hero of Indonesia dari Hard Rock FM, 10 Young and Creative Individuals dan Lucky Strike Award.

Namun dari sekian banyak prestasinya, ada satu kebanggaan yang membuat nama Shinta kian bersinar, yaitu Kompetisi Bubu Award.

Bubu Awards adalah kompetisi web design yang diklaim paling bergengsi di Indonesia. Diadakan setiap Bubu Internet sejak tahun 2001. Setiap tahun ada tema khusus yang diperlombakan, semisal tema Pariwisata Indonesia (Indonesian Tourism) yang menjadi tema Bubu Award tahun 2005.

Bubu Awards selalu mengundang puluhan nama terkenal yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri untuk menjadi juri serta menggandeng Ernst and Young sebagai tabulator resmi . Adapun beberapa kategori atau kelas yang bisa diikuti dalam Bubu Awards. Mulai dari Individual, Corporate, dan People’s Choice Awards: Best Web Celebrities Awards and Best Blog Awards.

Dan yang paling membanggakan, mulai tahun 2005 Bubu Awards terpilih sebagai perwakilan World Summit Award di Indonesia. World Summit Awards adalah kontes global untuk pemilihan dan mempromosikan e-contents dan application terbaik di tingkat dunia yang didukung oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UNESCO, International Telecommunication Union, United Nations Information and Communication Technologies Task Force, dan Ministry of Industry & Commerce Kingdom of Bahrain.

Aien Hisyam

*wawancara 10 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Mella Noviani

Keputusan Di Puncak Karir

Ketika memutuskan menjadi Wedding Planner, Mella hanya berbekal keahliannya membantu teman-temannya menata dekorasi pernikahan. Kini di bawah bendera Seven Heaven, ia menjadi salah satu perancang pernikahan tersukses di Jakarta.

Sejak kecil, Mella selalu bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Tak pernah terlintas dalam impiannya menjadi pekerja di bidang seni. Tapi, ‘sejak kecil saya sudah senang menata. Kalau ada pernikahan, saya suka bantuin,’ kenang Mella.

Lulus sekolah, Mella justru melanjutkan kuliah, mengambil jurusan banking finance. Satu pilihan yang bertolak belakang dengan cita-citanya menjadi insinyur.

“Setelah lulus, saya malah kerja di perkebunan kelapa sawit. Semakin jauh ‘kan dari pekerjaanku sekarang,’ ujar Mella tertawa lepas.

Di kantornya yang tenang, Mella pun bercerita tentang perjalanan hidupnya yang naik turun. Katanya, pengalaman hidup justru membuatnya kian matang dan kuat.

Ilmu Dari ‘Kelapa Sawit’

Sudah menjadi pilihan yang bulat bagi Mella, untuk bekerja di perkebunan. Ia lebih memilih kata hatinya, meski saat itu orangtuanya bersikeras agar Mella bekerja di kantor perbankan. Atau, kata wanita asal Palembang ini, kantor yang lebih ‘wanita’.

“Sebenarnya tidak jauh-jauh amat dengan kegiatan saya waktu SMP dan SMA. Dulu saya itu tomboi sekali. Suka heking dan kemping,” katanya, ceria.

Mella pun merasa bahagia meski harus bekerja di dalam hutan kelapa sawit di daerah Bengkulu. Ia tidak risih berada di tengah-tengah pekerja laki-laki. Justru ia sangat menikmati perannya sebagai pekerja lapangan.

Selain itu, Mella juga bekerja di perusahaan penyuplai barang-barang untuk angkatan darat. Lagi-lagi, wanita anggun ini harus berhubungan dengan mayoritas pekerja laki-laki.

“Bekerja di wilayah yang keras, maka kita juga harus kuat. Saya tidak pernah merasa diri saya perempuan. Dengan begitu, pekerjaan apapun akan saya lakukan, sama seperti pekerja laki-laki lainnya. Kita jadi tidak cengeng. Kerja keras kalau kita tidak mencinta, memang berhasil, tapi pasti ada rasa capeknya,” kata ibu satu putra ini.

Walaupun waktunya banyak tersita di luar kota, Mella masih meluangkan waktunya membantu teman-temannya mendekor. Ia ingin mendapat ‘hiburan’ di tengah-tengah kesibukannya yang sangat menyita.

“Banyak temanku yang sampai tidak enak karena saya bantu mendekor ruangannya, bunga-bunganya, dan sebagainya. Padahal aku tidak apa-apa,” kata Mella, senang.

Berawal Protes Anak

Suatu hari, anak semata wayang Mella protes. Ia menuntut Mella untuk lebih ‘memikirkan’ keluarga dibandingkan urusan pekerjaan.

“Saat itulah saya berdoa,” ungkap Mella. Sesaat itu tertegun dan menghela nafas panjang. “Saya merasa, ternyata selama ini waktu saya sudah habis terbuang begitu saja. Saya jadi ingin kerja yang masih bisa dekat dan kontrol anak. Dan itu (ide menjadi wedding planner) terjadi begitu saja dan langsung tercipta.”

Cukup lama Mella merenung dan berpikir. Ia menghadapi satu dilema besar. Disaat karirnya sudah berada di atas, ia harus melepas semua jerih payah yang telah iarintis puluhan tahun lamanya.

”Sampai 5 tahun saya berpikir. Kalau kita sudah di atas, untuk melepas profesi kita, kita mulai dari nol. Kecuali kalau kita extend. Misalnya dari supplier terus kita meningkat ke batubara. Nah, beda kalau kita sudah di tahap atas jadi supplier terus ke wedding planner, itu sangat berubah,” ungkap Mella, tentang kegelisahannya.

”Tapi saya juga berpikir, kalau selamanya begini, Tuhan selalu bilang, kita ini perempuan, jangan melebihi kodrat kita sebagai wanita. Karena dengan pilihan itu pasti ada yang dikorbankan, yaitu keluarga,” ujar Mella.

Apakah itu juga menyangkut satu peristiwa, Mella tersenyum.

”Banyak peristiwa yang membuat saya berpikir. Saya sering belajar dari teman-teman. Banyak teman saya, yang perempuan diatas perempuan. Karirnya sangat tinggi, tapi urusan di rumah tidak  terlalu dipikirkan. Kurang komunikasi dengan anak dan keluarga. Itulah ketakutan terbesar saya. Akhirnya saya putuskan kembali ke ‘darat’. Maksudnya bekerja yang tidak perlu keluar kota,” ujar Mella.

Pilihan pun jatuh menjadi wedding planner.

Tempat Curhat Klien

3 tahun silam, Seven Heaven berdiri.

“Waktu Seven Heaven lahir, kita sudah punya 5 klien. Jadi saya belum sempat berpromosi dan lain sebagainya. Awalnya, yang menggunakan jasa saya teman-teman dekat. Mereka butuh sekali dibantu pernikahannya,” kata Mella.

Mella hanya punya satu keyakinan, kalau ia memberikan yang terbaik, pasti ia akan dimudahkan dalam mendapatkan rejeki.

Mella pun ingin ‘berbeda dengan wedding planner pada umumnya. “Saya selalu research, apa saja yang selalu mereka berikan pada pengantin. Kalau hanya sebatas AB, saya akan memberikan yang ABC. Niat saya yang utama adalah membantu orang, memberikan pertolongan, agar mereka bahagia. Dan pastinya di bidang ini, kita punya market masing-masing,” kata Mella.

Niat baik itu juga dilengkapi Mella dengan menggunakan anak-anak dari keluarga tidak mampu sebagai petugas saat acara pernikahan itu berlangsung. “Anak-anak dari yayasan yang saya dirikan sejak lama. Ada ratusan anak yang saya beri beasiswa. Saya juga bantu orangtuanya. Mereka banyak yang tinggal di pinggir-pinggir rel,” ujar Mella.

Menjadi Wedding Planner, diakui Mella, membuat hidupnya jadi lebih bermakna.

“Sering malam-malam. Klien telepon saya hanya untuk curhat. Mereka bilang, tidak bisa cerita kemana-mana karena takut bocor,” cerita Mella, tersenyum.

Tentu saja Mella, senang. Karena walaupun kliennya berasal dari banyak kalangan, dengan agama yang berbeda-beda, ia bahagia bisa melihat orang lain senang.

‘Setiap minggu, pasti ada satu acara pernikahan. Setiap para mempelai ini meminta maaf pada orang tuanya, disaat itulah saya selalu menangis. Jadi, di setiap pernikahan, saya selalu menangis, “ ujar Mella dengan bibir tersungging senyum.


Harus Bawa Tas ‘Ajaib’

Terinspirasi film wedding planner yang dibintangi Jenifer Lopez, Mella punya cara yang unik saat ia turun langsung ke lapangan.

“Kalau hari H, tim saya dan dari pihak vendor, masing-masing harus bawa tas ‘ajaib’. Isinya, mulai dari peniti, karet, jepit rambut, pulpen, gunting kecil., cutter, silet, dan sebagainya. Semprotan untuk muka juga harus ada. Jadi kalau ada yang mukanya benar-benar capek, langsung kita semprot, supaya fresh lagi. Saya ini orangnya sangat perfect,” kata Mella.

Pernah suatu hari, salah satu pegawainya lupa bawa cutter di dalam tasnya. ‘Padahal ada ranting yang cukup mengganggu dan harus dipotong. Itu saya marah sekali,” kenang Mella.

Mella juga sangat detail mempersiapkan pernikahan. Ia tidak hanya membuat rundown acara. Tapi juga terlibat jauh di dalamnya, seperti menjadi perantara, menjadi penengah kalau ada masalah, hingga menjadi pengingat dan penghubung antara kedua belah pihak calon mempelai melalui telepon. Cara ini yang jarang dilakukan wedding planner pada umumnya.

“Makanya, saya lebih suka disebut wedding planner. Bukan wedding organize. Kalau planner, dia akan mengurusi sampai detail-detailnya. Sampai acara tersebut selesai,” katanya.

Mella punya pertanyaan ‘pembuka’ pada setiap kliennya, sebelum kerjasama itu berjalan.

“Saat pasangan sudah memutuskan untuk menikah, pertama yang selalu saya tanya, mereka mau menikah di gedung atau hotel. Selalu pertanyaan itu. Karena setelah tahu jawabannya, kita akan lebih mudah menentukan vendor-vendor mana saja yang akan diajak kerjasama. Jadi, justru bukan tanya mau pakai baju apa dan sebagainya. Itu pertanyaan selanjutnya. Disinilah seorang wedding planner bertugas,” ujar Mella yang punya keinginan membuat buku Dinamika Wedding.

“Prinsip saya, kesenangan klien itu kepuasan kita semua,” lanjut Mella dengan senyum merekah.

Aien Hisyam

March 10, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | 4 Comments

Peni Cameron

Saatnya Animasi Indonesia Berjaya


Meski tak berbekal background animasi, Peni telah melakukan banyak hal untuk animasi Indonesia. 6 studio telah ia bangun di 6 daerah. Tahun ini ia siap meluncurkan Hotel Animasi di 33 propinsi di Indonesia.

Tidak mudah menemui Peni Cameron. Kesibukan wanita ini luar biasa. Sebelum acara penganugerahan Indonesia Ceative Icon (ICI) -satu penghargaan yang telah ia gagas sejak dua tahun silam- dibuka, Peni berbincang-bincang tentang dunia yang membuatnya jatuh hati.

Berbicara tentang ICI, dengan bangga, Peni katakan bahwa ada sembilan spektrum yang diperlombakan, yaitu digital music, digital comic, animation, music performance, dance, fashion, craft, applied science, dan game. Saat itu, ada puluhan anak remaja dari belasan daerah, yang siap memperebutkan gelar juara ICI 2010.

“Acara ini untuk mendorong dan mengembangkan industri kreatif. Yaitu dengan mengangkat budaya daerah untuk menciptakan peluang bisnis bagi kreatir dan produsen, pelaku distribusi dan pasar serta pengguna di tingkat nasional,” kata wanita bernama lengkap Peni Iswahyurani.

Diawali Dari Cinta

“Sejak kapan ya saya suka animasi?” sesaat Peni bertanya, dan terdiam. Bibirnya tersenyum. “Yang pasti itu terjadi sejak kecil.”

Peni pun bercerita tentang masa kecilnya. ‘Dulu, Ayah ku sering pinjam rol-rol film bioskop kepunyaan Mabes TNI Angkatan Laut. Di Surabaya. Kita, sekeluarga, selalu nonton bersama-sama. Waktu itu, filmnya masih hitam putih dan diputar pakai proyektor,” kenang Peni, tersenyum.

Meski dengan sarana yang terbatas, Peni langsung jatuh hati pada film-film animasi. Katanya, dengan animasi, orang bisa berimajinasi apa saja, bahkan setinggi-tingginya. Bebas berekspresi hingga membuat kejadian-kejadian yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Animasi juga bisa membangun karakter seseorang, menjadi tokoh pujaan, dan menjadi imajinasi anak-anak.

“Ada persahabatan, kompetisi, kerja keras, dan banyak lagi. Dengan animasi, anak-anak bisa belajar dan terbangun perilakunya. Inilah media yang disukai anak-anak hingga orang dewasa,” kata Peni.

Meski menyukai film animasi, saat itu Peni belum terpikir akan terjun di bidang tersebut. Ia justru mengambil kuliah teknik arsitektur.

Lulus kuliah, Peni menekuni bidang pemasaran. Pengetahuan di bidang arsitektur, ia pakai untuk memetakan konsep-konsep pemasaran bidang tertentu. Lama kelamaan, Peni menyukai pekerjaannya menjadi sales person produk furnitur dan software. Peni juga sempat berbisnis seprai, pernak pernik rumah tangga, dan parcel.

Tidak Berkembang

Pertemuan Peni dengan Dian, seorang animator, di tahun 1996, merubah hidup Peni selanjutnya. Obrolan santai sesama teman ini memunculkan banyak ide di kepala Peni. Dengan penuh keyakinan, Peni mendirikan PT. Adianimas Cipta, perusahaan yang bergerak di bidang animasi. Peni berharap, banyak perusahaan yang tertarik membuat film animasi.

Sembari menunggu produser yang mau membuat film animasi, Peni membuat animasi untuk iklan-iklan. Sayangnya, apa yang dinanti-nantikan tak kunjung datang. Peni prihatin karena tidak ada produsen yang mau ‘menghidupi’ film animasi produksi Indonesia.

Peni pun banting stir membuka lembaga pendidikan dan pelatihan (training company). Wanita ini mengaku kecewa, saat itu ia tidak bisa berbuat banyak di bidang animasi. Meski begitu, Peni tetap berjanji dalam hati, suatu saat ia akan kembali ke dunia yang ia cintai, animasi.

Gayung bersambut. Tak berapa lama, ia bersama 12 temannya yang lain mendirikan AINAKI (Asosiasi Industri Animasi & Konten Indonesia) di tahun 2004. Tentu saja Peni senang.

“Tapi, sayangnya AINAKI tidak berjalan sesuai harapan,” sesaat Peni menghela nafas panjang, “pelaku industri animasi masih sering kesulitan membiayai hidupnya. Bidang ini masih kurang populer di Indonesia. Walaupun pemerintah mensuport dan membantu, itu belum cukup.”

Melalui pengamatan Peni –setelah wanita ini terjun lebih jauh di dunia animasi- banyak hal yang harus diperbaiki. Berbekal ilmu pemasaran yang telah ia jalani, Peni nekat mendirikan PT. Citra Andra Media (CAM Solutions) atau biasa disingkat CAMS pada 5 Juni 2006.

Kali ini, Peni bertekat untuk maju terus membesarkan dunia animasi Indonesia. Langkah awal yang ia lakukan adalah mencari dana untuk menjalankan program-program AINAKI.

Lagi-lagi Peni rencana Peni tidak berjalan mulus. Ia harus menerima kenyataan tidak ada film yang bisa diedarkan ke masayarakat. “Tapi, itulah resiko, harus dihadapi,” tegas Peni, yang tidak pernah merasa putus asa.

Cari Ke Daerah-Daerah

Peristiwa ini membuat Peni mendapat pelajaran baru, bahwa untuk menjual animasi, maka harus ada filmnya dulu. Ia pun mulai melakukan road show ke kota-kota Indonesia untuk memperkenalkan dunia animasi, sekaligus menjaring pelaku-pelaku industri Animasi.

Ada sekitar 12 daerah yang didatangi Peni, yakni Jakarta, Makasar, Yogyakarta, Medan, Padang, Bandung, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, Balikpapan, hingga Jayapura. Peni tak hanya menjadi pelaku industri animasi di daerah. Ia juga bekerjasama dengan televisi lokal, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Peni bersyukur, kerja kerasnya berjalan sesuai rencana. Ia bahkan bangga karena pemerintah memintanya membantu pemetaan penyebaran industri animasi di Indonesia.Sayangnya sukses ini tidak diikuti dengan antusias televisi nasional.

“Akhirnya, film-film animasi ini saya jual ke televisi-televisi lokal,” kata Peni. Ia pun satu per satu membangun studio animasi di daerah. Diantara di Bandung, Yogya, Malang, Surabaya, dan Bali. Ini ada 6 studio animasi yang tersebat di  kota-kota tersebut. Dan, kata Peni, jumalh itu akan terus bertambah.

“Ada yang khawatir dengan biaya. Tapi, saya selalu bilang bahwa orang kreatif tidak pernah memikirkan biaya. Ia diberi kelebihan untuk memutar otak, mewujudkan semua rencananya. Kita harus kreatif mewujudkannya,” kata wanita kelahiran Surabaya, 13 September 1966.

Sembari studio animasinya berjalan, Peni kembali harus menjalankan satu rencana besarnya, yakni mewujudkan Hotel Animasi sesuai dengan impiannya. “Rencana tahun ini sudah di launching satu hotel animasi,” katanya, bersemangat. Dimana tempatnya, sambil tersenyum Peni menjawab, “masih rahasia ya.”


Karakter Itu Penting

Tidak mudah menciptakan karakter untuk film animasi yang sesuai dengan budaya Indonesia. Termasuk membuat dialog-dialog yang berkualitas dan enak di dengar.

Ada beberapa film animasi yang telah dibuat Peni dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, dan ‘Serial Catatan Dian, ‘Kuci-Kojo’, ‘Bany’, ‘Bakpia vs Geplak’, dan ‘Him & Her’.

“Tapi saya belum puas,” kata Peni dengan nada tegas.

Peni masih ingin menggali lebih jauh lagi budaya-budaya lokal dari 33 provinsi. Ia ingin tokoh-tokoh karakter film animasinya, bisa melekat di hati dan ingatan masyarakat Indonesia. Ia punya mimpi, karakter-karakter tersebut tidak kalah dengan karakter buatan luar negeri. Kata Peni, karakter dari tokoh dalam film animasi itu sangatlah penting.

“Siapapun bisa menciptakan karakter atau tokoh animasi sesuai imajinasi mereka. Contohnya saja, yang tim yang membuat Catatan Dian, kata si pembuatanya, itu terinspirasi dari saya, dengan rambut yang juga warnanya merah,’ ujar Peni sambil tertawa lepas.

Saat ini, Peni tengah sibuk mempromosikan film-film dan tokoh-tokoh animasi buatan CAM’s di sejumlah televisi nasional. ‘Semoga, semangat kita membesarkan animasi Indonesia bisa menular ke siapa saja,’ kata Peni, bersemangat.

Aien Hisyam

February 11, 2010 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Mayadewi Hartarto

Dirikan Sekolah Demi Kemajuan Fashion


Maya dididik di sekolah Bisnis. Namun, Esmod Jakarta justru menjadi tempat ia bekerja dan menuangkan segala ide-idenya.

Menjadi orang nomor satu di sekolah mode terbesar di Indonesia, ESMOD Jakarta, tentu saja Mayadewi memiliki jadwal yang sangat padat. Apalagi, ibu dua anak ini juga memiliki beberapa perusahaan yang berbeda dengan dunianya yang satu ini. Toh, Maya masih sempat meluangkan waktunya, berbincang-bincang tentang dunia fashion yang sebenarnya tak sengaja ia geluti.

Di ruang kerjanya yang luas, di lantai atas ESMOD Jakarta, Maya mengatakan bahwa ia terisnpirasi pada sekolah mode ternama Ecole Superieure des Arts et techniques de la Mode. Ia ingin sekali mencetak anak-anak muda yang ahli di bidangnya, khususnya di bidang fashion.

Maya menilai, bahwa potensi di dunia fashion saat ini kian terbuka lebar dan berkembang dengan pesatnya. Bahkan, fashion -baik hasil maupun orang yang bekerja di dalamnya- menjadi salah satu lahan yang mampu menghidupi siapapun juga.

Di sekolah mode, kata Maya, bisa menjadi tempat untuk mengasah talenta-talenta muda yang berbakat dan punya minat besar pada dunia fashion dan Mode. Dan di ESMOD Jakarta, mimpi itu berusaha diwujudkan Maya.

Memilih Paris

Sudah 14 tahun ESMOD Jakarta berdiri. Itu berarti, sudah ratusan anak muda yang lulus dari sekolah ini. Maya pun mengaku bangga.

‘Dulu, industri garmen belum sebesar ini. SDM juga terbatas. Kalaupun ada, untuk posisi-posisi tertentu, mereka masih memakai SDM dari luar. Nah, dari situlah saya berpikir, sudah saatnya Indonesia punya institusi pendidikan yang bisa menghasilkan SDM-SDM di bidang fashion,’ kata wanita yang lahir tanggal 21 Desember 1969.

Keinginan Maya ini berbanding lurus dengan kondisi saat itu yang juga menuntut adanya SDM yang andal. Tanpa berpikir panjang, wanita yang aktif di Yayasan Pengembangan Desain Indonesia (YPDI) milik ibunya, Hartini Hartarto. langsung membeli franchise Esmod Internasional di Paris. Apalagi, saat itu belum ada pendidikan yang khusus di dunia fashion.

Maya memang bukan perancang mode, tapi ia sangat peduli dengan dunia fashion. Itu ia buktikan ketika bergabung di YPDI. Di yayasan ini ia bisa dengan leluasa melakukan kegiatan pembinaan dan mendidik para pengrajin. ‘Yaitu, membawa orang yang ahli dan punya pengetahuan di bidan kerajinan itu, dan di bawa di daerah yang sedang kita bina,’ jelas Maya.

Mengapa harus dari Paris? Maya pun tersenyum. ‘Itu melalui banyak pertimbangan. Waktu saya berpikir, kalau kita menyebut pusat fashion, dimana lagi kalau bukan di Paris. Nah, sampai disitu, saya masih harus memilih-milih lagi, karena di Paris sekolah fashion masih terbagi-bagi,’ kata Maya.

Beberapa sekolah fashion di Paris masih dibagi atas haute couture (adi busana), ready-to-wear (pakaian siap pakai), dan masih banyak lagi. Dan Maya harus memilih jenis sekolah yang akan dia dirikan. Wanita anggun ini juga tidak mau mendirikan sekolah yang asal-asalan. Dan, dipilihlah sekolah yang berbasis pendidikan fashion-to-wear, yang kata Maya, sesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia saat itu.

Esmod adalah salah satu sekolah terbaik yang ada di Paris. Sekolah ini juga telah memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh dunia. Maka, tanggal 6 September 1996, Esmod Jakarta berdiri.

Yakinkan Orangtua

Awal berdirinya Esmod Jakarta, banyak hal baru yang harus dipelajari Maya. Lulusan Business Administration di Pine Manor College, Boston dan Sacred Heart School, Chicago ini, harus bekerja keras memberi keyakinan pada para orangtua, bahwa sekolah fashion pun berpeluang untuk menjadi lahan pekerjaan yang menguntungkan. Cukup sulit bagi Maya, karena saat itu minat orang masih  ke sekolah-sekolah formal. Esmod Jakarta juga baru saja berdiri.

Maya tak kenal lelah. Dia kian gencar mempromosikan sekolahnya, mulai dari kegiatan workshop, seminar, hingga open house. Ia juga memperkenalkan kurikulum Esmod yang telah disesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia. Di luar dugaan, baru tahun pertama, Esmod Jakarta sudah mampu menjaring 43 siswa.

“Makin kesini, jumlah siswa terus bertambah. Kita juga makin sering mengikuti perlombaan untuk siswa sekolah mode ke luar negeri. Baru-baru ini, 2 siswa dari Esmod Jakarta mampu memperoleh penghargaan di Korea,” ujar Maya, bangga.

Maya mengakui, untuk materi pelajaran di Esmod Jakarta, memang telah dikombinasi dengan pelajaran lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan budaya di Indonesia. Meski begitu, lulusan Esmod Jakarta, tetap sebanding dengan lulusan sekolah fashion lainnya yang ada di luar negeri.

“Salah satu buktinya, waktu krisis ekonomi, ada beberapa siswa Esmod yang pindahan dari sekolah fashion di luar. Mereka bilang, daripada sekolah jauh-jauh di luar negeri, toh di Esmod Jakarta kualitasnya juga sama,” ujar Maya.

Tetap Bertahan

Maya memegang teguh prinsip ‘education is very long term investment’. Maksudnya, “tidak mudah kita mengubah pikiran orang. Kalaupun bisa, itu butuh waktu yang lama. Oleh karenanya, kita harus bisa membuktikan kualitas kita dulu, dan mempertahankan kualitas itu, baru orang akan respek pada kita. Nah, kalau kita bisa memberikan yang terbaik, maka dengan sendirinya orang akan mengakui kualitas kita.”

Untuk membuktikan keberhasilan itu yang butuh waktu yang tidak sebentar. Dan Esmod Jakarta sudah membuktikannya hingga 14 tahun lamanya.

“Dengan prinsip itu, saya selalu punya keyakinan. Seburuk apapun kondisi yang kita alami, kita berkomitmen untuk tetap bertahan. Bukan demi keuntungan finansial saja, tapi lebih pada kepuasan melihat anak didiknya lulus dengan baik dan berhasil terjun ke dunia mode,” kata Maya, mantap.

Komitmen mendidik anak-anak ini pula yang membuat Maya gigih menjaga kualitas Esmod Jakarta secara profesional. Khusus untuk pengajar, ia datangkan 2 pengajar dari Paris. “Ini bukti bahwa belajar fashion pun tidak main-main, butuh kerja keras dan usaha agar bisa lulus dengan kemampuan sesuai standar internasional,” tegas Maya.

Karenanya, Maya bangga lulusannya banyak diterima di perusahaan fashion. “Belum lulus saja sudah di-hire banyak perusahaan,” ujarnya, senang.


Meski Bukan Orang Fashion

Banyak yang mengira bahwa Maya memiliki latar belakang dunia fashion. Menjawab pertanyaan itu, Maya hanya tertawa kecil.

“Saya tidak punya background fashion,” jawabnya, singkat. “Latar belakang saya di dunia bisnis khususnya menangangi manajemen. Tapi, ketertarikan saya pada fashion sudah pasti ada. Karena saya tahu kemampuan saya, untuk menjalankan bisnis sekolah ini saya banyak konsultasi dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bergerak di bidang fashion,” kata Maya.

Selain di Esmod, Maya juga disibukkan dengan bisnis lain yang jauh berbeda dari dunia fashion. Meski begitu, ia enggan menyebutkannya.

“Sekarang, setelah Esmod sudah berjalan belasan tahun, saya tidak terlalu dipusingkan. Perusahaan sudah berjalan dengan sendirinya. Saya juga punya tim yang handal,” ucapnya.

Waktu-waktu luang inilah yang dimanfaatkan Maya untuk membesarkan dua buah hatinya, Nandadevi (11) dan Ranganatha (3). “Apalagi, anak perempuanku ini sekarang sudah remaja. Oya, dulu waktu kecil, Nanda sua melukis. Ini semua lukisannya lo,” sesaat Maya menunjuk dinding ruang kerjanya yang dipenuhi lukisan kanak-kanak, “sebenarnya dinding yang sebelah sana, saya sediakan untuk ukisan-lukisan Nanda. Tapi kayaknya dia sudah berhenti melukis.” Maya pun tertawa lepas.

Aien Hisyam

January 20, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | 3 Comments