Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Novita Tandry

Anak 6 Bulan-pun Bisa ‘Sekolah’

 

Urusan anak jangan dianggap sepele. Kalau tidak siap, jangan punya anak dulu.

 

Novita Tandry mengatakan itu dengan tegas. Ia memperkenalkan diri lewat dua kartu nama. Sebagai psychologist, juga Owner Tumble Tots Indonesia.

“Ibu yang baik adalah Ibu yang punya waktu buat anak. Kesannya sederhana, tetapi sangat dalam maknanya,” kata Novi.

Punya waktu yang dimaksudnya, “adalah punya waktu tanda kutip. Bukannya ada disitu tapi yang ngerjain tetap suster atau pembantunya.”

“Ada waktu dalam arti kualitas dan kuantiti. Saya tidak percaya hanya dengan kualitas. Secara percaya ada kualitas dan kuantiti. Yaitu dia ada disana untuk anak dengan pengetahuan yang benar, dan untuk anak ada pengorbanan waktu. Jadi, dimanfaatkanlah waktu sedemikian rupa itu,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Dari Usia 6 Bulan

Pengalaman membuat Novi membeli franchise education.

“Tahun 1993, saya tinggal di Singapura,” kata Novi yang baru menikah dan punya satu anak, Joel Joshua Jovianus. Ia sedih melihat perkembangan anaknya.

“Anak saya pemalu sekali. Tiap ketemu orang ngumpet di belakang saya. Wah gawat banget nih,” kenang Novi.

Joshua ia masukkan ke center education Tumble Tots Singapura.

“Saya lihat perubahan sangat signifikan sekali. Dari yang pemalu, dia jadi berani banget. Sama orang, dia justru berani nyamperin, bilang ‘Hai uncle, hai aunti’. Dia selalu tanya, “what’s your name”. Ini surprise,” ucap Novi.

Wanita yang menikah diusia 21 tahun ini kian bergairah. Pulang ke Indonesia tahun 1994, Novi mencari tempat sejenis. Ternyata tidak ada.

“Yang bikin tempat anak 6 bulan sekolah belum ada. Bahkan sampai sekarang kalau kita tanya orang tua yang baru menikah tentang anak 6 bulan sekolah, pasti mereka bilang, “yang bener 6 bulan sekolah?” seru Novi sambil tersenyum.

“Padahal saya lihat program ini bisa dibawa dan diterapkan ke Indonesia. Knowledge tentang dunia pendidikan anak di Indonesia saat itu zero masih. Kalau sekarang media dan televisi sudah banyak berperan sehinga orang tua mulai tahu betapa pentingnya pedidikan tersebut,” ujarnya.

Padahal, kata Novi, hasil yang kelihatan anak menjadi percaya diri dan merasa di hargai.

“Ini bonding, relasi antara orang tua dan anak. Bagaimana supaya orang tua mengerti bahwa anak usia 0 sampai 5 tahun disebut masa keemasan, dimana di usia itu masa penyerapan terjadi,” kata Novi.

70 Persen Mencontoh

Novi geregetan.

“Kadang-kadang orang tua habis melahirkan setelah 40 hari sudah kerja. Anak dikasihkan ke orang lain. Padahal kepribadian anak dibentuknya di usia 0 hingga 5 tahun sebanyak 70 persen. 30 persen diserap dari lingkungannya. Kadang kita tidak percaya atau bahkan tidak mau tahu,” ujarnya.

Ia ibaratkan air minum. Kalau 70 persen yang dicontoh dan jadi panutan adalah hal-hal negatif dan salah, “anak tidak ada filter, dia akan minum semua air yang kotor itu,” kata lulusan London Montessori International, London.

Sulit sekali Novi meyakinkan orang tua betapa berharganya masa-masa 0 hingga 5 tahun. Ia coba melalui seminar-seminar, talk show hingga menulis sendiri di media cetak.

13 tahun tahun lulusan Psychology, University of New South Wales, Sidney-Australia  ‘berjuang’. Sekarang Tumble Tots Indonesia sudah punya 38 cabang seluruh Indonesia.

Dikejar Hingga 3 Negara

Total hidup Novi untuk anak dan dunia pendidikan. Ia teringat 13 tahun silam berjuang mendapat franchise education.

“Awal-awal tidak dikasih franchise. Mereka bilang saya masih terlalu muda. Masih bocah banget. Mereka juga lihat CV (Curriculum Vitae)-ku, ini anak masih bau kencur. Waktu itu saya masih 21 tahun,” kenang Novi

Buat meyakinkan, Novi berjuang untuk bisa bertemu pimpinan Tumble Tots Asia.

“Saya kejar ke Singapura, dia tidak mau ketemu. Ke Malaysia, dia juga tidak mau ketemu. Dia ke UK (Inggris) dia juga tidak mau ketemu, padahal saya bawa-bawa anak segala. Sampai akhirnya di Singapura lagi, dia mau ketemu. Mungkin juga sudah capek dikejar-kejar,” sesaat Novi tertawa lepas.

Punya center aducation sendiri, “say harus konsekuen mau mengajar sendiri dan terjun kedalam. Untungnya saya memang hobi di dunia anak. Jadi ini anugerah buat saya,” katanya dengan mata berbinar.

Novi juga curahkan semua waktunya untuk kedua anaknya, Joshua dan Joelle Joscelyne Joviana.

“Jarak mereka berdua sangat jauh. Itu karena saya konsentrasi dulu sama yang pertama sampai character building-nya beres dan saya rasa pendampingannya cukup. Bagaimanapun kalau ada anak lagi perhatian akan terbagi. Dan kebetulan waktu itu umurku masih muda,” ujar wanita kelahiran Kendari tanggal 09 Maret 1971.

Ibarat Spon Kering

Dengan bangga, Novi bercerita, Joscelyne atau disapa Jojo, di usianya yang baru ….. sudah bisa bicara bahasa Inggris, Mandarin, dan Indonesia. dengan baik dan benar.

“Belajar bahasa itu harus konsisten dan jangan dicampur biar anak tidak bingung. Saya hanya bahasa Inggris sama dia. Bapaknya hanya bahasa Mandarin dan dengan mbaknya dengan bahasa Indonesia. Dia seperti robot. Kalau misalnya kita berjalan bertiga. Dia tanya pakai bahasa Mandarin, saya tidak akan jawab. Karena dari lahir kita sudah bikin komitmen seperti itu,” ujar Novi.

Novi mengibaratkan anak seperti spon kering.

“Kalau spon kering dimasukkan ke dalam air, ia akan menyerap air masuk kedalam lobang dengan berlomba-lomba. Ibarat komputer, anak sudah pentium lima. Kencang sekali. Nah kalau kita ini spon yang tiga perempatnya basah. Kita sudah terlalu penuh.

Begitupun dengan dunia anak yang ia sebut dunia bermain.

“Kalau kita perhatikan anak usia di bawah 5 tahun, atau anak dibawah 3 tahun, yang bekerja otot-otot besarnya, motorik kasarnya. Menendang, melempar, menangkap. Yang kelihatan itu yang dia siap. Tidak bisa diam. Duduk tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena memang dia tidak siap karena dunianya adalah dunia bergerak,” kata Novi.

Sementara buat orang tua, lanjut Novi, bermain adalah dunia rekreasi.

“Tetapi buat anak bermain adalah dunia belajar. Belajar untuk membentuk kepribadian mereka melalui permainan. Itulah konsep yang kami pakai,” ujarnya.

Novi berkeinginan, setiap anak bisa menjadi diri sendiri,

“Bukan karena orang tua kepingin anak jadi apa. Ada pengarahan tiap anak itu satu individu yang berbeda dengan anak yang lain. Individu yang unik dan harus diperlakukan berbeda dengan orang lain. Ini yang biasanya orang tua lupa. Orang tua harus bisa memberikan kebebasan yang terikat. Tetap bisa disiplin, tetap dengan adanya tanggung jawab dan ada aturan main di dalam keluarga. Itu yang sulit,” ujar Novi.

Aien Hisyam

*wawancara 22 Desember 2006*

Advertisements

June 21, 2013 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Yani Motik

Matahari Tak Harus Satu

 

Tak mudah memimpin sekumpulan wanita pengusaha. Doktor cantik ini 5 tahun menjalaninya, dan masih tak puas juga dengan hasilnya.

 

Tahun 2007 adalah akhir masa jabatan kedua Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) ini. Dan Yani tidak mengingkari kalau ia telah bekerja dan berusaha  cukup keras memajukan organisasi beranggotakn wanita-wanita cantik yang rata-rata juga pekerja keras.

“Tapi saya nggak terlalu puas. Saya bersyukur saja. Banyak yang didapat, tapi  Inginnya saya bisa lebih dari itu,” kata pemilik nama lengkap Dra. Suryani Sidik Motik. MGA ini.

Merawat Banyak Bunga

Banyak PR masih harus ia selesaikan dalam waktu yang tinggal sedikit.

“Sistemnya perlu diubah, juga pola pikir anggota IWAPI,” kata Yani.

Maksudnya,  “Dulu orientasinya central life, kalau tidak ada Ketua tidak jalan. Inii yang harus dihilangkan,” lanjutnya.

“Dulu,” katanya lagi. “Orang berpikir matahari itu mesti satu. Saya bilang tidak. Kita pengusaha, kita pengurus, dan organisasi kita nirlaba, maka di situ bunganya harus banyak. Kita harus bisa menyebarkan  harumnya masing-masing. Setiap orang harus berfungsi, setiap pengurus harus aktif, tidak harus ada saya,” kata Yani penuh semangat.

Dibilang Macam-macam

Di kepengurusan periode pertama, Yani membiarkan organisasi berjalan seperti air mengalir.

“Tapi kalau terus seperti itu, organisasi tidak bisa berkembang. Maka pada periode kedua saya rombak habis. Ada 70 orang baru dan 30 orang lama yang sejalan dengan saya. Waktu itu benturannya luar biasa. Saya dibilang sombong. Ada yang menuduh saya seperti  kacang lupa kulitnya, segala macam. Saya tidak peduli,” cerita Doktor Bidang Administrasi lulusan UI ini.

Terbiasa berpikir jauh ke depan, Yani tak berbakat  membuat keputusan yang asal-asalan. Ia sadar benar harus membesarkan organisasi yang telah berusia 32 tahun.

“Saya bilang, kalau saya mau nikmat, saya pakai pola lama saja. Cukup hanya dengan beberapa beberapa orang saja yang sudah mengerti,  organisasi juga sudah jalan. Tapi saya tidak bisa seperti itu  selamanya di IWAPI. Saya punya tanggung jawab agar begitu masa jabatan saya selesai, IWAPI bisa jalan terus dengan bagus,” kata istri Faizal Iskandar Motik ini.

Kian Egaliter

Masuknya orang-orang baru yang sepemikiran, mengembangkan  organisasi jadi lebih egaliter.

“Matahari tidak harus satu – artinya, tidak ada dominasi. Semua orang harus muncul, semua orang bisa jadi pembicara – kalau perlu, didorong untuk itu. Ada tidak ada Ketua, organisasi harus jalan,”  cerita Yani.

Tak heran kalau selama ia menjadi Ketua IWAPI, Yani tetap mampu  menyelesaikan Phd nya.

“Juga bisa saya tinggal tiga bulan ke Amerika untuk studi banding. Juga  saya tinggal ke Australia dua bulan,” ceritanya senang.

Lulusan Maryland University, USA, yang  bergelar Master of General Administration ini selalu bangga melihat orang lain sukses.

“Kebanggan saya luar biasa kalau lihat orang lain sukses. Yang tadinya tidak bisa ngomong jadi berani ngomong. Yang belum pernah ke luar negeri, pulangnya bisa berhasil. Yang nggak pede jadi pede. Itu semua tidak bisa dibeli dari keuntungan yang sekian puluh miliar,” ujar Yani.

Yani tidak pernah patah semangat. Kalaupun harus turun langsung, ia siap 24 jam. Mulai dari menyiapkan materi presentasi sampai jadi tempat konsultasi.

Kalau Jadi Pemimpin

“Pemimpin itu harus dikasih kesempatan. Ini yang orang sering salah. Tidak bisa orang tiba-tiba jadi pemimpin. Yang belum, harus diberi kesempatan memimpin. Nanti kita evaluasi kekurangan dan kelebihannya,”  Yani berbagi tips suksesnya ‘merombak’ IWAPI.

Termasuk menghadapi orang banyak.

“Kecuali kalau urgent banget atau ada kerjasama baru dengan pihak luar. Saya selalu ajak teman-teman yang lain bertukar pikiran,” ceritanya.

Memantau Iklim Lain

Banyak sukses diraih Yani yang juga lulusan George Washington University, USA, ini.

“Saya mulai membangun kerjasama dengan pihak luar, nasional dan internasional. Alhamdulillah, sekarang setiap tahun IWAPI mengirim 9 orang ke Kanada untuk studi banding, mempelajari iklim  pengusaha dan organisasi sejenis IWAPI disana,” cerita wanita kelahiran Jakarta 17 Juli 1961 ini.

IWAPI juga bekerjasama dengan Australia, Jepang, Filipina dan Malaysia.

“Website kita ngelink dengan website IWAPInya Malaysia. Dengan Filipina untuk training di Women Center yang dibiayai Jepang. Dengan Cina,  terakhir kita bikin kerjasama untuk China Asian Bussiness Woman. Dari Europe Union (EU) kita datangkan ahli-ahli desain dan teknologinya untuk anggota yang perajin perak, kerramik, kayu dari Jawa dan Bali. Perhiasan, kita kerjasama dengan Jepang di butiknya Reny Feby,” kata ibu 2 anak ini bangga.

Dua Penghambat

Saat masuk IWAPI, usia Yani baru 30 tahun. Setahun kemudian ia menjadi Sekjen (Sekertaris Jenderal) IWAPI.

“Mbak Dewi (Dewi Motik, mantan Ketua IWAPI Pusat,) bilang, kalau konsep-konsep kamu bisa diterapkan di IWAPI, kenapa tidak? Coba saja. Akhirnya ya saya jalani saja. Jujur, saya ini sebenarnya tidak terbiasa dengan Ibu-ibu dan perempuan. Kalau sama Bapak-bapak dan laki-laki, kita bisa lepas omongnya. Kalau sama Ibu-ibu kan main perasaan. Lebih banyak otak kanannya yang bekerja, daripada otak kiri.,” kata Yani.

Apalagi, lanjut Yani, ketika itu anggota IWAPI mayoritas ibu-ibu yang lebih senior. “Jadi, kita tidak boleh kelihatan kritis dan lebih pintar,” komentarnya.

Ia melihat 2 hal yang menghambat wanita Indonesia sulit berkembang.

“Yang pertama, gender, yaitu ketidakpercayaan terhadap wanita sebagai pengusaha. Kalau masih muda dikira hanya jual kecantikan. Kalau anak orang kaya dibilang modal orangtuanya,” cerita Yani.

“Kedua, kalau dia pintar, dibilang, ‘Terang aja, pintar’. Jadi nggak pernah bisa dilihat secara utuh,” lanjutnya gemas.

Tak Perlu Atas Nama Suami

Di Indonesia, lanjut Yani, maju tidaknya wanita sangat tergantung dukungan keluarganya.

“Penelitian saya dengan ILO tentang problem wanita dalam mengembangkan bisnisnya, di tahun 2002. Satu hal yang menarik, dimana perempuan apabila punya kesempatan maju dan berkembang, misalnya dari sekala kecil ke menengah atau dari informal ke formal, kalau suaminya belum siap mental, kesempatan itu tidak akan diambil, karena takut rumah tangganya berantakan,” papar Yani.

“Ini perlu disosialisasi. Kalau opportunity di istrinya lebih tinggi, mereka harus bisa terima. Dalam konsep Islam, lelaki pakaian istri, istri pakaian suami, kan bisa disharing saja,” lanjut Yani.

Yani mengingatkan anggota IWAPI agar mendaftar atas nama diri sendiri, bukan nama suami. Ia senang sekali melihat perkembangan anggotanya.

“Sekarang wanita sudah masuk ke semua sektor bisnis. Ada anggota IWAPI di Jawa Tengah yang produksi senapan. Ibu Lina Fahmi, impor senjata untuk olah raga. Pembangunan jalan banyak dikerjakan anggota IWAPI. Yang bisnis perhotelan juga banyak,” ujar Yani bangga.

 

Aien Hisyam

*wawancara 11 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Susan Bachtiar

Indahnya Dikritik Anak-anak

 

Suatu hari, wanita cantik itu dikritik. “Miss Susan, hari ini seksi sekali,” ujar bocah 5 tahun itu, lugu.

 

Wajah Susan Bachtiar memerah. “Kok bisa?” Susan bertanya, penuh rasa ingin tahu.

“Iya. Pakaian Miss Susan kinclong sekali,” jawab anak itu ceplas-ceplos.

Susan-pun tersenyum. Ia pandangi bajunya. Memang, hari itu Susan sengaja memakai baju warna merah muda yang sangat cerah.

“Ternyata, menurut si anak, seksi itu kalau pakai baju kinclong dan mentereng,” cerita Susan.

Tak hanya itu. Di lain hari, ketika ia memakai baju terusan berkancing dan berpita, lagi-lagi ia diprotes. “Miss-miss, jangan pakai baju ini lagi, kayak piyama.”

“Lucunya lagi, saya ini kan pakai cincin di kaki. Mereka kritik, ‘Miss Susan, cincin itu dipakai di tangan. Bukannya kaki.’ Alhasil saya pindahkan cincin saya ke jari kelingking,” ujar Susan sambil tertawa lepas.

Begitupun ketika ia dikomentari tentang cat kukunya yang warna putih. Si anak bilang, “Miss, di rumah saya ada nail polish warna pink, red. Besok saya bawain. Tapi Miss jangan pakai tip-ex (cairan putih penghapus tinta).”

“Kedengarnya lucu saja. Itu karena ketidak tahuan mereka. Setiap diprotes atau dikritik, saya selalu punya obligasi untuk menerangkan,” kata Susan dengan nada senang.

Mengajar Itu Enak

10 tahun Susan menjadi guru Bahasa Inggris. Dua tahun terakhir, artis dan juga presenter cantik ini ternyata harus berhadapan dengan anak-anak usia 4 hingga 5 tahunan. Yang polos, apa adanya, juga kritis.

“Siapapun gurunya, berhadapan dengan anak-anak usia 5 tahunan, harus punya kesabaran yang tinggi. Bete tidak. Hanya saja awalnya mengatur mereka agak melelahkan. Anak kecil itu kan tidak bisa diam. Apalagi anak sekarang lebih aktif berbicara dan lebih kritis. Jadi kita pakai sistem belajar dengan metode communicated approach. Kita mengajar Bahasa Inggris dengan media suara, gerak untuk bercerita, dan media benda-benda yang ada di ruangan,” kata Susan Bachtiar.

Suka cita Susan menjalani profesinya sebagai guru.

Bermula ketika Susan memilih kuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Atmajaya. Sebelum lulus, wanita kelahiran 2 Mei 1973 ini diwajibkan mengikuti PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Susan memilih almamaternya, SMP Santa Maria Ursulin untuk 5 kali praktek mengajar. Sisanya, 5 kali mengajar, ia memilih SMA Kristen 3 di Gunung Sahari.

“Ternyata setelah PPL, saya baru merasakan mengajar itu enak,” ungkap Susan bersemangat.

Bahkan, ketika datang tawaran dari dosen seniornya untuk mengajar di Sekolah Abdi Siswa, Jakarta Barat, langsung ia terima.

Kerja Non Stop

“Setelah lulus kuliah, tahun 1996 saya langsung ngajar di Abdi Bangsa. Saya jadi guru bahasa Inggris honorer. Satu kelas ada 2 guru. Dipisah sendiri-sendiri. Awalnya kita shiftnya seminggu dua kali untuk 2 kelas. Pertama kali saya ngajar kelas 3 dan 6. Dengan pertimbangan saya pernah mengajar di SMP dan SMA waktu PPL. Selanjutnya saya ambil shift 4 kali atau empat kali dalam satu minggu,” terang wanita bernama lengkap Susan Meilani Bachtiar.

Susan semakin terampil mengajar. Ia juga dipercaya menjadi guru bahasa inggris di SD Pangudi Luhur dan SD Tarakanita. Otomatis Susan mengajar nonstop dari hari Senin sampai Sabtu

“Saya juga diangkat menjadi koordinator untuk guru-guru, yang menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan guru untuk mengajar dan memberikan masukan kapan harus ujian. Guru berhubungan dengan Koordinator, dan Koordinator-lah yang berhubungan dengan sekolah,” ujar wanita yang terjun di dunia entertaint sejak tahun 1988 ini bangga.

Tidak puas mengajar anak-anak sekolahan, Susan tertantang menjadi dosen.

“Kebetulan Atmajaya sedang cari dosen untuk Speaking Class. Saya coba melamar ternyata diterima. Jadi selain di Abdi Siswa, saya juga di Atmajaya. Disini saya hanya mengajar 2 tahun saja karena terputus saya menikah,” kata bungsu dari pasangan warga keturunan Tionghoa Sarief Bachtiar dan Desi Murni Firmansjah.

Tahun 2003, Susan berhenti dari Abdi Bangsa. Ia memilih ganti haluan, menjadi guru Taman Kanak-kanak di Santa Theresia.

“Ada pertimbangan, semakin kecil si anak, semakin besar tantangannya. Anak kecil kan susah sekali diaturnya. Tetapi dari banyak level pendidikan yang saya alami, pengalaman yang menyenangkan adalah mengajar anak-anak. Mereka lebih fun, lebih polos, apa adanya, interaksi belajar mengajarnya lebih aktif. Anak-anak kan egonya belum keluar. Awalnya saya pikir susah, setelah jalani ternyata enggak.,” lanjut Susan.

Guru Yang Galak

Mengapa Susan yang cantik ini begitu antusias menjadi guru?

“Seorang guru itu memiliki kepuasan yang tak terhingga bila melihat muridnya yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Istilahnya, meskipun gaji saya kecil, bayaran yang saya terima adalah kemampuan mereka untuk bisa,” ujar Susan.

Kalaupun ada muridnya yang ‘berulah’, Susan berusaha tegas.

“Kadang akan saya marahi. Kalau keterlaluan sekali saya jewer. Saya kasih warning sampai 3 kali. Kalau sampai 3 kali sudah diperingati, itu sudah kelewatan sekali dan harus disetrap di depan kelas dan harus mengikuti pelajaran di kelas. Saya dididik di sekolah katolik yang punya disiplin tinggi. Itu yang saya terapkan dan jadi pola pengajaran saya,” kata Susan yang dijuluki anak didiknya sebagai guru yang galak.

“Saya memang marah habis-habisan ke si anak. Tetapi setelah itu saya pasti akan panggil dan omong empat mata dengan si anak. Akan saya tanya, “Kenapa kamu saya setrap.” Saya ingin tahu apakah dia sadar apa yang telah dia lakukan. Dia harus tahu salahnya dimana. Jangan bilang saya tidak akan melakukan itu. Coba untuk tidak akan melakukan lagi,” lanjut istri Sumardi Supangat.

Aturan disiplin yang diterapkan Susan, “masuk kelas baju harus rapi, kelas harus bersih, tidak boleh ada tampang ngantuk, kalau ngantuk saya suruh ke WC cuci muka. Tidak boleh ngomong di kelas. Boleh ngomong pada saat diskusi, istirahat atau main game. Saat guru menerangkan, harus didengarkan. Itu pola yang masih ke bawa.”

“Mereka memang bilang Miss Susan galak sekali. Saya tidak ingin murid saya hanya pintar bahasa Inggris saja. Tetapi harus juga punya disiplin tinggi. Karena bagi saya disiplin harus diterapkan sejak kecil. Belajar bahasa bisa dari besar, tetapi diplin tidak bisa diajarkan setelah anak besar karena polanya sudah terbentuk,” tegas Susan.

Apakah kecintaan Susan pada anak-anak karena kondisi dirinya yang sudah 6 tahun menikah tetapi belum juga diberi momongan? Wanita berwajah putih bersih ini tersenyum.

“Saya bukan orang religius walaupun saya membawakan acara di Indosiar “Penyejuk Imani Katolik”. Dari acara itu saya belajar banyak, bahwa jadi orang itu tidak boleh ngoyo. Tidak boleh ngeyelan. Harus bisa nerima dan bisa melihat. Mungkin pintu ke arah itu belum dibuka Tuhan, tetapi pintu yang lain sudah. Saya menginginkan anak, sudah 6 tahun ini. Dulu awal-awal menikah saya ngeyel sekali sama Tuhan. Sempat marah. Tetapi setelah membawakan acara itu, saya melihat ada orang yang punya problem jauh lebih besar dari saya. Saya jadi bisa lebih terima. Mungkin saya lebih dibutuhkan anak-anak yang butuh ilmu saya. Saya mencoba menempatkan posisi saya di orang lain, tidak mau berharap lebih,” ujar Susan.

 

Aien Hisyam

*wawancara 13 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Artis, Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Rini Hariyani

Saya Pengemis Intelektual

 

Festival Wayang ASEAN I di TMII minggu lalu membuat Rini ‘sesak nafas’. Capek, senang, bangga, kecewa, campur aduk dalam hatinya.

 

Tinggi sekali impian Rini. Idealnya, kata wanita bertubuh mungil ini, Indonesia bisa menjadi pusat kebudayaan wayang dunia.

“Nyatanya, semua orang kagum dengan koleksi yang ada di museum kita. Jangan berkecil hati. Percaya diri saja, toh kita sudah diakui dunia,” kata Rini. Sejak tahun 1999, ia menjabat Kepala Museum Wayang.

Rini memang sangat percaya diri. Tidak sia-sia. Buktinya, berkat kerja keras dan kecintaannya pada wayang, untuk pertama kalinya Indonesia bisa jadi tuan rumah festival wayang yang diikuti puluhan negara.

Karir Minim Peminat

Sempit, kuno, jadul (jaman dulu), dan ‘gelap’. Itulah anggapan miring tentang keberadaan Museum Wayang yang ada di daerah Jakarta Kota.

“Jangan hanya dilihat dari fisik luarnya. Masuk dulu kedalam. Liha isinya. Kita akan cinta kalau kita kenal lebih dekat lagi,” ujar Rini Hariyani.

Rini juga senang memposisikan diri sebagai PR (Public Relation). Bahkan, kalau saja waktunya longgar, tanpa canggung, ia sempatkan diri menemani tamu-tamu yang berkunjung ke museumnya.

“Tak apalah jadi guide. Justru itu buatku sangat menyenangkan. Kita tahu keinginan mereka, berbagi cerita sekaligus bernostalgia,” ungkap Rini dengan wajah cerah.

Mengapa Rini antusias menggeluti dunia wayang? Tak lain karena keinginan masa kecilnya. “Waktu itu saya tanya ke kakak ipar yang sedang ambil S2 di Honolulu. ‘Jurusan apa ya yang bisa bikin saya bisa keluar negeri?’ Dia bilang ‘ambil saja jurusan budayamu sendiri’. Makanya begitu lulus saya ambil jurusan Sastra Jawa UI,” cerita Rini.

Rini sadar jurusan yang ia pilih sangatlah tidak populer. Toh, dia tetap bersemangat.

“Karena sejak awal, saya memang cinta wayang. Lewat wayang saya diajarkan banyak hal, mulai dari filsafat wayang, karakter tokoh-tokoh wayang, dan sebagainya,” ujar Ibu dua anak ini. Bahkan berkat wayang pula Rini bisa beberapa kali keliling Eropa membawa misi budaya wayang Indonesia.

Rini lahir di Solo tanggal 10 Desember 1950. Oleh orangtuanya yang masih berdarah Mangkunegaran, setiap bulan sekali Rni yang masih kanak-kanak selalu diajak menonton pagelaran Wayang Orang di Sriwedari. Saat masih kuliah, setiap tanggal 1 Suro, mau tidak mau Rini harus menonton Wayang Kulit semalam suntuk. Kewajiban yang harus dijalani sejak masuk kuliah sampai lulus.

“Makanya, ibaratnya duplikasi bahasa, saya makin cinta dengan wayang. Di Museum Wayang, saya juga jadi sering nonton wayang semalam suntuk. Kantor jadi rumah kedua saya. Cinta sekali,” kata Rini. Skripsinya juga mengupas filosofi wayang, tentang tokoh Adipati Karno.

Jadi Karya Agung

Rini selalu ingin mengukir prestasi. Satu keberhasilan yang membuat wanita ini bangga adalah mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan atau Wayang Revolusi milik Indonesia yang sudah 40 tahun lebih disimpan di Museum Rotherdam, tahun 2005 lalu.

“Sejak menjabat (jadi Kepala Museum Wayang), saya selalu berjuang dapatkan tambahan koleksi dengan cara pembelian juga meminta sumbangan entah dari tamu beberapa negara, atau dari indonesia sendiri. Ada istilah, saya ini pengemis intelek. Karena mengemisnya untuk Museum bukan untuk koleksi pribadi. Kebetulan yang membuat saya bangga, yaitu berhasil mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan milik kita yang dibuat Raden Mas Sayid dari Mangkunegaran,” ujar Rini bangga.

Selain itu, lanjut Rini, “bangsa Indonesia boleh bangga karena sejak tanggal 7 November 2003 wayang Indonesia sudah diakui dunia melalui lembaga Unesco menjadi salah satu karya agung budaya dunia di antara 28 budaya dunia. Bangga dong. Ternyata Indonesiapun punya budaya yang begitu agungnya. Nah, sekarang yang sedang dirintis adalah keris supaya diakui sebagai budaya agung.”

Satu hal yang disesalkan Rini, wayang Indonesia justru lebih populer di mancanegara ketimbang di negara asalnya.

“Justru selama ini mancanegara yang lebih tahu keberadaan museum wayang ketimbang masyarakat Jakarta. Jadi, wajar saya kalau target utama saya adalah ingin membuat wayang tak hanya mendunia. Tapi juga men-Jakarta, dan meng-Indonesia. Saya juga ingin generasi muda kita bangga dan mencintai wayang. Makanya saya undang anak-anak siswa belajar gamelan dan buat wayang disini. Jangan sampai kita belajar dengan orang asing. Jangan sampai kebakaran jenggot kalau itu sudah lebih dicintai orang asing,” ujar Rini sungguh-sungguh.

Rini bercerita tentang pengalamanya saat berkunjung ke KBRI Perancis di Paris. “Disana, yang latih gamelan justru orang Perancis,” suara Rini terdengar kesal.

“Jangan sampai generasi muda kita belajar budaya dengan orang asing. Dulu bahkan kita mau ambil S2 Sastra Jawa harus ke Leaden. Karena literaturnya ada di Leaden semua. Syukurlah, sekarang mereka yang pernah ke Leaden menularkan ilmunya di Indonesia,” kata Rini lagi.

Belajarlah Lewat Wayang

Di dalam wayang banyak sekali yang bisa diambil hikmahnya.

“Kita bisa bercermin lewat setiap peristiwa yang terjadi di dunia wayang. Seperti di kehidupan sehari-hari. Didalamnya ada tokoh baik dan buruk. Dan  juga tidak mungkin manusia hidup tanpa susah. Pasti ada lawannya. Ada susah, pasti ada senang. Kayaknya wayang ini benar-benar personifikasi dari kehidupan kita yang harus bisa kita ikuti,” kata Rini.

“Bahkan sampai sekarang masih banyak orang tua yang beri nama anaknya dengan nama-nama wayang. Misalnya Wibisono, Kresna, Abimanyu. Karena ortu berharap anaknya punya karakter seperti tokoh itu. Tapi jarang yang beri nama Burisworo. Itu kan tokoh jelek,” lanjut Rini.

Rini bersungguh-sungguh mengajak siapa saja yang ia temui untuk mencintai wayang. “Karena banyak sekali manfaatnya. Ajak anak menonton pagelaran wayang. Ajak keluarga datang ke museum wayang. Bahkan, temani anak-anak belajar membuat wayang, berlatih gamelan, dan bercerita tentang cerita-cerita pewayangan,” kata Rini.

Tidak perlu bingung bagaimana memulainya. Kata Rini, “sekarang sudah banyak diterbitkan komik-komik wayang. Bahkan ada VCD dan DVD tentang cerita wayang. Ada juga DVD wayang orang yang dikeluarkan grup Sekar Budaya Nusantara miliknya Ibu Nanik Sudarsono.”

“Karena orang baru sadar dan mulai cinta budayanya justru setelah pergi ke luar negeri. Begitu di luar negeri dia disuruh tampil, disuruh cerita, apa budayamu yang paling menarik? Tolong ceritakan ke kita, mereka gelagapan. Itu karena masyarakat kita belum bisa menghargai karya-karya leluhur kita,” lanjut Rini bersemangat.

 

Aien Hisyam

*wawancara 1 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik | Leave a comment

Aty Mannawi

Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’

 

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

 

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.

“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Lebih Sensitif

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di  Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.

“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.

“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.

“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan American University, Washington DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.

“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Tren Sulit Konsentrasi

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, gangguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.

“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Orang Tua Harus Berani

Jangan pernah menunda.

“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.

“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

Ujian Untuk Terapis

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.

“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.

Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.

Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dokter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara.

Aien Hisyam

*wawancara 20 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik, Profil Psikolog | Leave a comment

Leticia Paramita

Setiap Buka Mata, Pasti Ada Batu Baru

Setelah Ayahnya meninggal, Leticia mewarisi Lembaga Pendidikan Batu Permata satu-satunya di Indonesia. Ia berupaya memadukan dua sistem pendidikan, yang lama dan yang baru.

 

Dan itu tidak mudah,” kata Leticia. Namun, berbekal ilmu, pengalaman, dan ide kreatif, perlahan-lahan Institut Gemology Paramita (IGP) berkembang. Leticia berhasil membawa perbaharuan.

Dengan tegas, Leticia mengatakan bahwa ilmu gemologi tidak kalah pentingnya dengan bisnis perhiasan itu sendiri. Dengan kecintaannya yang tinggi, Leticia yakin bahwa lembaga yang telah berusia 12 tahun itu tetap diminati banyak orang. Ia harus tetap mempertahankan sampai kapan pun.

Tidak Mau Ada Yang Tertipu

Banyak yang bertanya tentang ilmu gemologi. Dengan sabar, Leticia selalu menjelaskan ilmu langka ini pada siapapun yang bertanya. ”Ini ilmu yang mempelajari teknik identifikasi, klasifikasi, dan penilaian terhadap kualitas batu permata,” jelas wanita kelahiran 12 Januari 1978.

Boleh dibilang, Leticia sangat mengenal ilmu tersebut. Ia sempat menuntut ilmu gemolog di Gemological Institute of America (GIA) di Bangkok, Thailand.

“Tapi sebenarnya, terjun di dunia ini juga tidak sengaja. Karena, dulu cita-cita saya bukan di bidang ini,” ujar Leticia, tersenyum.

Diceritakan Letis –sapa wanita cantik ini-, ketikaIGP berdiri tahun 1989, ia masih berusia 11 tahun. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan Ayahnya, (alm) Mahardi Paramita. Begitu pun ketika remaja, ia tidak tertarik dengan ilmu yang telah ditekuni Ayahnya ini, membuat Letis tidak tertarik mempelajarinya.

Lulus sekolah pun, Letis masih memilih bidang humas untuk ia tekuni. Dia kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Bekerja pun Letis masih memilih perusahaan lain, dan ia menjadi marketing di dua perusahaan.

Hatinya tersentuh manakala Ayahnya yang sudah tua akhirnya meminta Letis untuk mempelajari ilmu gemologi. Mahardi ingin sekali membimbing Letis untuk memperdalam ilmu gemologi. Mendengar permintaan tulus Ayahnya, akhirnya hati Letis tersentuh. Dia mau menerima tawaran sekolah di Bangkok, di tahun 2002.

Di sekolah batu permata yang bersertifikat internasional ini, Letis sekolah bersama adiknya, Delfina Paramita, selama delapan bulan.

”Setelah sekolah di sana, saya semakin tahu dan cinta pada ilmu ini. Ilmu ini belum banyak berkembang di Indonesia, jadi belum banyak gemolog di negara kita,” ujar istri Eddy Karmana.

Tekat Letis, ia ingin masyarakat Indonesia kian paham tentang batu permata. Ia prihatin dengan proses penaksiran batu permata yang kerap hanya didasarkan pada dugaan. “Jadi, banyak orang yang terkena kasus penipuan. Nah, saya tidak ingin hal itu masih terjadi di masa akan datang,” tegas Letis.

Susah Dipelajari

Diakui Letis, ilmu gemologi sangat unik.

‘Bagi saya, sangat menarik, karena kita tidak akan habis-habisnya mempelajari jenis batu-batuan. Batu mulia itu kekayaan alam yang diciptakan Tuhan untuk dinikmati karena keindahannya. Begitu banyak, sampai-samai bisa kita umpamakan, setiap buka mata pasti ada batu-batu baru yang muncul,’ kata Letis.

Meski kecil bentuknya, diakui Letis kalau batu-batu permata itu punya nilai yang tak bisa diukur. ‘Kalau kita mendapatkan batu kualitas kelas satu, nilainya bisa lebih mahal dari harga mobil atau rumah loh. Jangan lihat ukurannya. Karena permata itu kita sebut portable wealth, yaitu mudah dibawa kemana-mana tapi nilainya sangat tinggi,” ujar Letis.

Mempelajari batu permata pun tidak mudah. Seperti yang terjadi di kelas favorit Diamond Grading. Diceritakan Letis, kelas yang harus diikuti selama 10 kali pertemuan ini –masing-masing selama 3 jam-, mempelajari cara menentukan 4C dari berlian, yaitu color, cut, clarity, dan carat.

“Butuh ketelitian yang tinggi untu menentukan 4C ini. Makanya, belajarnya juga lama,” ujar Letis, tertawa lepas.

Kelas lain yang tidak kalah peminatnya, adalah kelas yang memberi pelajaran tentang mengenali karakteristik dan mengidentifikasiikan batu permata berwarna. “Dengan memiliki ilmu ini, kita bisa terhindar dari kecurangan dan kesalahan dalam jual beli batu permata,” tegas ibu satu putra ini.

Agar ilmu gemologinya mudah diserap, IGP membatasi siswanya hanya sekitar 2 hingga 10 orang saja.  “Peminatnya sangat beragam. Mulai dari pemilik toko perhiasan, penggemar perhiasan, pengacara, dampai ibu rumah tangga. Bahkan ada wisatawan asing yang berlibur di Indonesia ikut kelas di IGP.

Harus Sabar

Setelah menyandang gelar Graduate Gemologist, Letis ikut mengajar di IGP. Menjadi pengajar, dikatakan Letis sebagai pekerjaan yang menantang.

“Disini, banyak fasilitas yang kita sediakan. Selain buku teks untuk panduan, ada pula berbagai contoh batu permata dan berlian asli untuk latihan,” kata Letis. Saat mengajar ia harus satu persatu menemani siswa agar hasil yang didapat maksimal.

Siswa juga dapat menggunakan laboraturium, seperti mikroskop, refraktometer (alat pengukur indeks bias batu), leveridge (alat pengukur dimensi batu), hingga dichrooscope (alat untuk melihat sifat batu).

Menghadapi siswa yang beragam usia dan latar belakang, kata Letis, butuh kesabaran yang tinggi.

“Ada yang ngotot maunya belajar D, padahal dia belum belajar yang A dan B. Jadi kita harus sabar memberikan pengertian pada mereka bahwa untuk mendapat ilmu yang itu, kita harus belajar yang ini dulu. Karena belajar batu permata itu tidak bisa instan. Tapi, sekarang di IGP kita sudah punya kurikulum-kurikulum yang memang sesuai kebutuhan,’ ujar Letis.

Ide membuat kurikulum baru itu didapat Letis selama sekolah batu permata di luar negeri. Kini ada kelas gemologi dasar, mutiara, desain perhiasan, hingga kursus pendek khusus batu delima, safir, dan zamrud.

‘Kita buat kelas-kelas ini karena minat orang itu beda-beda. Dan kita berusaha mengakomodasi keinginan tersebut,” jelas Letis.

Selain IGP, di gedung sama juga terdapat Adamas Gemological Laboratory (AGL) yang didirikan Ayah Letis tahun 1983.  AGL adalah laboratorium untuk pemeriksaan dan sertifikasi batu permata. Dengan adanya sertifikat pada setiap batu permata, hal itu akan berpengaruh pada harga jual batu tersebut.

 


Dari Mata Turun Ke Hati

Batu permata itu unik. Begitu uniknya, sampai Letis pun dibuat jatuh hati pada batu-batu mungil ini.

‘Saya bersyukup papa memperkenalkan ilmu ini pada saya,’ ungkap Letis. Wajah Letis terlihat sendu. Itu karena beberap abulan silam, ayahnya meninggal dunia.

Kata Letis, ayahnya seorang inspirator terbesar yang sangat sabar, tidak otoriter, dan sahabat yang baik. Ayahnya juga sangat demokratis dan selalu berusaha mengerti point of view anak-anaknya –kebetulan tiga putri Mahardi terjun langsung membesarkan IGP dan AGL-, baru kemudian memebrikan pendapat.

‘Kata-kata papa banyak sekali yang masih terekam dalam ingatan saya, Kata-kata yang saya ucapkan saat mengajar, sama dengan kata-kata yang selalu beliau tuturkan. Jadi saya sulit sekali melupakan Papa,’ ujar Letis sambil menghela nafa panjang,

Letis pun yakin, siapapun yang serius mempelajari ilmu gemologi, ia akan dibuat jatuh cinta. ‘Jadi cinta itu turun dari mata ke hati,’ kata Letis, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

March 19, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pendidik | 7 Comments

Tian Belawati

‘Modalnya Mau Saja’

Di bawah kepemimpinannya, 2 dari 4 Pembantu Rektor adalah wanita. Tian pun melakukan banyak terobosan. Inilah bukti bahwa ia wanita tangguh di balik sukses Universitas Terbuka saat ini.


Bertemu dengan Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., jauh dari kesan formal. Padahal, sejak bulan Juni 2009, ia menjadi Rektor di Universitas Terbuka (UT), rektor wanita pertama di UT sejak perguruan tinggi ini berdiri tahun 1984.

Ajak Kuliah TKI

Tian baru saja pulang dari Singapura. Belum lama ia berkunjung ke Hongkong. Di dua tempat ini Tian punya visi dan misi. ‘Sekarang, banyak TKW dan TKI di Singapura yang kuliah. Mereka memilih UT karena bisa kuliah sambil bekerja. Barulah, kalau ada tutorial, kita akan pakai gedung sekolah Indonesia,’ kata Tian, senang.

Di Arab Saudi, UT bahkan sudah memiliki 150 lebih mahasiswa. “Yang kuliah bukan TKW, tapijustru pekerja-pekerja kita yang ada di Arab. Kita juga sedang melayani para TKI di Korea dan di Macau,’ lanjut Tian.

Tak hanya ‘urusan’ luar negeri, Tian pun aktif mensosialisaikan kegiatan UT di banyak lapisan masyarakat. Ia sudah menjalin kerjasama dengan POLRI, KOWANI dan beberapa Lembaga Pemasyarakatan. Baru-baru ini, Tian juga diminta untuk mengirim ratusan formulir ke Papua Barat. Ada sekitar 100 anggota IKAPI yang ingin menuntut studi di Universitas Terbuka.

‘Mau pengusaha, ibu rumah tangga, buruh, TKW, orang yang kurang beruntung di LAPAS dan sebagainya, semua punya kesempatan yang sama untuk bisa kuliah. Modalnya mau saja,’ tegas Tian. Kini mahasiswa UT yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri, berjumlah lebih dari 522 ribu orang. Uniknya, 80 persen adalah wanita.

Diawali Jadi Pejabat ‘Teras’

Ketika Universitas Terbuka berdiri di tahun 1984, Tian baru saja menyelesaikan kuliahnya di IPB.

‘Sebenarnya kalau dibilang cita-cita itu enggak juga,’ sesaat Tian tertawa kecil. Ia kerap dibuat tersenyum kalau ditanya tentang cita-cita. ‘Jadi, kebetulan waktu saya lulus kuliah, UT baru saja berdiri. Saya lulus bulan Desember 1984, UT berdiri September 1984. Kantornya juga dekat rumah saya di Rawamangun. Rektornya juga tetangga saya. Dia tawari pekerjaan ke saya. Tapi, waktu itu saya bilang tidak mau. Saya mau kerja di swasta.’

Alhasil, sambil menunggu panggilan kerja, Tian menerima tawaran Rektor UT kala itu, membantu proses berdirinya UT. Karena belum memiliki kantor tetap, kegiatan UT pun berpindah-pindah, terkadang di hotel atau di luar kota. Tian juga mendapat tugas mengelola dan mengundang dosen-dosen ekonomi dari perguruan tinggi lain untuk menulis modul UT. Tian juga yang mengedit tulisan-tulisan yang masuk.

“Saya kerja juga di tikar karena ruangannya belum ada. Begitu sudah ada kursi, eh nggak kebagian ruangan. Jadilah kerjanya di teras. Jadi saya sejak dulu sudah jadi ‘pejabat teras’,” ujar Tian sambil tertawa lepas.

Tian juga merasa punya ‘ikatan khusus’ dengan UT. “Setiap saya dapat panggilan kerja, pasti saya lagi di luar kota. Akhirnya sering gagal. Nah, waktu saya di panggil perusahaan swasta, saya justru ditawari sekolah ke Kanada sama UT. Yah saya pilih sekolahnya. Mulai dari situlah saya akhirnya melebur di UT,’ cerita wanita peraih gelar Master of Education, dari Simon Fraser University, Burnaby, B.C., Canada.

Selesai kuliah S2, Tian kembali disekolahkan UT ke Kanada untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy di University of British Columbia, Vancouver.

Tidak Punya Teman Senasib

“Seninya jadi dosen di UT, kita itu kerjanya nggak selesai-selesai menerangkan dan menjelaskan pertanyaan orang. Sampai 23 tahun di UT, kerjanya ya nerangin terus,” ujar Tian, tersenyum.

Tapi, Tian mengaku senang. Katanya, ia mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan orang lain.

“Dan UT, tidak punya teman yang senasib. Saya lihatnya tidak dari segi kompetitor. Jadi misalnya kalau rektor perguruan tinggi tatap muka, kalau ada masalah dia bisa belajar dari rektor perguruan tinggi lainnya. Nah, kalau UT, kalau kita punya masalah, umumnya masalah kita berbeda dengan perguruan tinggi yang lain. Sehingga kita tidak bisa tanya ke mereka,” kata Tian.

Karenanya, bekerja di UT, kata Tian, dituntut kreatif dan pintar mengambil solusi. “Itulah menariknya. Kita tidak punya teman sejawat yang memiliki problema mirip dengan kita. Itu membuat kita jadi tidak bosan,” ujar Tian.

Begitupun dengan masalah teknologi yang cepat berubah. Karena sistem pengajaran UT yang jarak jauh, maka dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan teknologi.

“Kita selalu dikejar-kejar teknologi. Namanya teknologi cepat sekali. Disatu sisi masyarakat kita menuntut kita menggunakan teknologi yang terkini. Disisi lain sebagian mahasiswa UT belum punya akses ke teknologi itu. Nah, menyeimbangkan inilah yang jadi pekerjaan kita. Jadi tantangan tersendiri buat kita,” kata Tian.

Tian memegang teguh mandat UT yang telah berjalan puluhan tahun.

“Yaitu, UT harus bisa dijangkau siapapun. Bahwa kita harus bisa menawarkan program pendidikan tinggi yang terjangkau masyarakat dari segi biaya dan sistem. Jangan sampai orang di pedalaman tidak bisa kuliah karena sistem tidak menjangkau mereka. Makanya kita tetap mempertahankan modul yang tercetak, walaupun sudah ada internet,” tegas Tian, bangga.


Sering Tidak ‘Dilirik’

Tian memaklumi, jika keberadaannya sebagai Rektor wanita masih dipandang ‘tidak biasa’.

“Padahal, kalau wanita itu mengerjakan sesuatu, selalu dikerjakan dengan benar dan total. Pikiran juga tidak kemana-mana. Istilah saya, pantatnya nggak panas, jadi kalau kerja tekun,” kata wanita kelahiran 1 April 1962 ini.

Tian lantas tersenyum. Ia sering mendapat ‘perlakuan’ yang membuatnya tertawa sendiri. “Kalau belum kenal dengan saya, pada saat pertemuan Rektor, para pejabat ini menyalami semua rektor, kecuali saya. Itu sudah sering terjadi. Bahkan, belum lama, salah satu pejabat negara justru menyalami Pembantu Rektor 3 UT. Begitu PR 3 bilang kalau saya Rektornya, orang itu langsung kaget,’ ungkap Tian, tersenyum.

Tian menilai, bahwa masih banyak orang yang menganggap bahwa perempuan tidak mampu menduduk posisi tertentu. Apalagi, lanjt Tian, anggapan itu ditambah dengan kriteria seorang pemimpin yang harus anggun, berwibawa, dan rambutnya bersasak tinggi.

‘Lama-lama, saya mengganggap itu sebagai compliment. Bahwa saya itu awet muda,” ujar Tian yang kemudian tertawa lepas.

Bagi wanita yang telah berumah tangga dan juga berkarir di luar rumah, Tian mengatakan bahwa para wanita ini harus punya suporting yang besar dari keluarganya.

‘Harus balance,’ katanya.

Tian mencontohkan dirinya sendiri. ‘Bahwa saya bisa kerja, bisa penelitian, bisa menulis untuk jurnal, dan bisa berkarir, tapi saya masih sempat ke bioskop, jalana-jalan, dan belanja. Hidup saya tidak menderita amat. Saya senang sekali nonton. Itulah hiburan termurah yang tidak pernah saya tinggalkan,” ujar Tian.

“Intinya kita tidak boleh kerja keras, tapi harus kerja cerdas. Kita harus work hard juga play hard. Jadi harus seimbang. Kalau orang tidak seimbang, maka tidak akan produktif. Kalau pun produktif pastilah kualitas hasil kerjanya tidak bagus, karena ia tidak happy. Kalau mau buat orang lain happy, kita dulu yang happy,” kata Tian.

Aien Hisyam

March 9, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | 3 Comments

Mayadewi Hartarto

Dirikan Sekolah Demi Kemajuan Fashion


Maya dididik di sekolah Bisnis. Namun, Esmod Jakarta justru menjadi tempat ia bekerja dan menuangkan segala ide-idenya.

Menjadi orang nomor satu di sekolah mode terbesar di Indonesia, ESMOD Jakarta, tentu saja Mayadewi memiliki jadwal yang sangat padat. Apalagi, ibu dua anak ini juga memiliki beberapa perusahaan yang berbeda dengan dunianya yang satu ini. Toh, Maya masih sempat meluangkan waktunya, berbincang-bincang tentang dunia fashion yang sebenarnya tak sengaja ia geluti.

Di ruang kerjanya yang luas, di lantai atas ESMOD Jakarta, Maya mengatakan bahwa ia terisnpirasi pada sekolah mode ternama Ecole Superieure des Arts et techniques de la Mode. Ia ingin sekali mencetak anak-anak muda yang ahli di bidangnya, khususnya di bidang fashion.

Maya menilai, bahwa potensi di dunia fashion saat ini kian terbuka lebar dan berkembang dengan pesatnya. Bahkan, fashion -baik hasil maupun orang yang bekerja di dalamnya- menjadi salah satu lahan yang mampu menghidupi siapapun juga.

Di sekolah mode, kata Maya, bisa menjadi tempat untuk mengasah talenta-talenta muda yang berbakat dan punya minat besar pada dunia fashion dan Mode. Dan di ESMOD Jakarta, mimpi itu berusaha diwujudkan Maya.

Memilih Paris

Sudah 14 tahun ESMOD Jakarta berdiri. Itu berarti, sudah ratusan anak muda yang lulus dari sekolah ini. Maya pun mengaku bangga.

‘Dulu, industri garmen belum sebesar ini. SDM juga terbatas. Kalaupun ada, untuk posisi-posisi tertentu, mereka masih memakai SDM dari luar. Nah, dari situlah saya berpikir, sudah saatnya Indonesia punya institusi pendidikan yang bisa menghasilkan SDM-SDM di bidang fashion,’ kata wanita yang lahir tanggal 21 Desember 1969.

Keinginan Maya ini berbanding lurus dengan kondisi saat itu yang juga menuntut adanya SDM yang andal. Tanpa berpikir panjang, wanita yang aktif di Yayasan Pengembangan Desain Indonesia (YPDI) milik ibunya, Hartini Hartarto. langsung membeli franchise Esmod Internasional di Paris. Apalagi, saat itu belum ada pendidikan yang khusus di dunia fashion.

Maya memang bukan perancang mode, tapi ia sangat peduli dengan dunia fashion. Itu ia buktikan ketika bergabung di YPDI. Di yayasan ini ia bisa dengan leluasa melakukan kegiatan pembinaan dan mendidik para pengrajin. ‘Yaitu, membawa orang yang ahli dan punya pengetahuan di bidan kerajinan itu, dan di bawa di daerah yang sedang kita bina,’ jelas Maya.

Mengapa harus dari Paris? Maya pun tersenyum. ‘Itu melalui banyak pertimbangan. Waktu saya berpikir, kalau kita menyebut pusat fashion, dimana lagi kalau bukan di Paris. Nah, sampai disitu, saya masih harus memilih-milih lagi, karena di Paris sekolah fashion masih terbagi-bagi,’ kata Maya.

Beberapa sekolah fashion di Paris masih dibagi atas haute couture (adi busana), ready-to-wear (pakaian siap pakai), dan masih banyak lagi. Dan Maya harus memilih jenis sekolah yang akan dia dirikan. Wanita anggun ini juga tidak mau mendirikan sekolah yang asal-asalan. Dan, dipilihlah sekolah yang berbasis pendidikan fashion-to-wear, yang kata Maya, sesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia saat itu.

Esmod adalah salah satu sekolah terbaik yang ada di Paris. Sekolah ini juga telah memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh dunia. Maka, tanggal 6 September 1996, Esmod Jakarta berdiri.

Yakinkan Orangtua

Awal berdirinya Esmod Jakarta, banyak hal baru yang harus dipelajari Maya. Lulusan Business Administration di Pine Manor College, Boston dan Sacred Heart School, Chicago ini, harus bekerja keras memberi keyakinan pada para orangtua, bahwa sekolah fashion pun berpeluang untuk menjadi lahan pekerjaan yang menguntungkan. Cukup sulit bagi Maya, karena saat itu minat orang masih  ke sekolah-sekolah formal. Esmod Jakarta juga baru saja berdiri.

Maya tak kenal lelah. Dia kian gencar mempromosikan sekolahnya, mulai dari kegiatan workshop, seminar, hingga open house. Ia juga memperkenalkan kurikulum Esmod yang telah disesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia. Di luar dugaan, baru tahun pertama, Esmod Jakarta sudah mampu menjaring 43 siswa.

“Makin kesini, jumlah siswa terus bertambah. Kita juga makin sering mengikuti perlombaan untuk siswa sekolah mode ke luar negeri. Baru-baru ini, 2 siswa dari Esmod Jakarta mampu memperoleh penghargaan di Korea,” ujar Maya, bangga.

Maya mengakui, untuk materi pelajaran di Esmod Jakarta, memang telah dikombinasi dengan pelajaran lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan budaya di Indonesia. Meski begitu, lulusan Esmod Jakarta, tetap sebanding dengan lulusan sekolah fashion lainnya yang ada di luar negeri.

“Salah satu buktinya, waktu krisis ekonomi, ada beberapa siswa Esmod yang pindahan dari sekolah fashion di luar. Mereka bilang, daripada sekolah jauh-jauh di luar negeri, toh di Esmod Jakarta kualitasnya juga sama,” ujar Maya.

Tetap Bertahan

Maya memegang teguh prinsip ‘education is very long term investment’. Maksudnya, “tidak mudah kita mengubah pikiran orang. Kalaupun bisa, itu butuh waktu yang lama. Oleh karenanya, kita harus bisa membuktikan kualitas kita dulu, dan mempertahankan kualitas itu, baru orang akan respek pada kita. Nah, kalau kita bisa memberikan yang terbaik, maka dengan sendirinya orang akan mengakui kualitas kita.”

Untuk membuktikan keberhasilan itu yang butuh waktu yang tidak sebentar. Dan Esmod Jakarta sudah membuktikannya hingga 14 tahun lamanya.

“Dengan prinsip itu, saya selalu punya keyakinan. Seburuk apapun kondisi yang kita alami, kita berkomitmen untuk tetap bertahan. Bukan demi keuntungan finansial saja, tapi lebih pada kepuasan melihat anak didiknya lulus dengan baik dan berhasil terjun ke dunia mode,” kata Maya, mantap.

Komitmen mendidik anak-anak ini pula yang membuat Maya gigih menjaga kualitas Esmod Jakarta secara profesional. Khusus untuk pengajar, ia datangkan 2 pengajar dari Paris. “Ini bukti bahwa belajar fashion pun tidak main-main, butuh kerja keras dan usaha agar bisa lulus dengan kemampuan sesuai standar internasional,” tegas Maya.

Karenanya, Maya bangga lulusannya banyak diterima di perusahaan fashion. “Belum lulus saja sudah di-hire banyak perusahaan,” ujarnya, senang.


Meski Bukan Orang Fashion

Banyak yang mengira bahwa Maya memiliki latar belakang dunia fashion. Menjawab pertanyaan itu, Maya hanya tertawa kecil.

“Saya tidak punya background fashion,” jawabnya, singkat. “Latar belakang saya di dunia bisnis khususnya menangangi manajemen. Tapi, ketertarikan saya pada fashion sudah pasti ada. Karena saya tahu kemampuan saya, untuk menjalankan bisnis sekolah ini saya banyak konsultasi dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bergerak di bidang fashion,” kata Maya.

Selain di Esmod, Maya juga disibukkan dengan bisnis lain yang jauh berbeda dari dunia fashion. Meski begitu, ia enggan menyebutkannya.

“Sekarang, setelah Esmod sudah berjalan belasan tahun, saya tidak terlalu dipusingkan. Perusahaan sudah berjalan dengan sendirinya. Saya juga punya tim yang handal,” ucapnya.

Waktu-waktu luang inilah yang dimanfaatkan Maya untuk membesarkan dua buah hatinya, Nandadevi (11) dan Ranganatha (3). “Apalagi, anak perempuanku ini sekarang sudah remaja. Oya, dulu waktu kecil, Nanda sua melukis. Ini semua lukisannya lo,” sesaat Maya menunjuk dinding ruang kerjanya yang dipenuhi lukisan kanak-kanak, “sebenarnya dinding yang sebelah sana, saya sediakan untuk ukisan-lukisan Nanda. Tapi kayaknya dia sudah berhenti melukis.” Maya pun tertawa lepas.

Aien Hisyam

January 20, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | 3 Comments

Deby Susanti Vinski

Tak Ingin Ada Stroke Kedua

 

Banyak ‘dunia’ dipijaki Deby. Namun ia tetap fokus dan profesional. Hasilnya pun memuaskan. Deby sukses berkarir dan berumah tangga.

 

Deby Vinski memang lebih mirip model ketimbang dokter. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan segar.

“Saya dulu suka dipanggil. Karena saya suka dandan. Pernah di tanya, kamu ini mau jadi dokter atau pragawati. Saya bilang dua-duanya,” kata Deby, tertawa lepas.

Deby membuktikan. Di usianya yang sudah 40 tahun, Deby masih terlihat cantik dan bugar. Tak hanya itu. Deby pun aktif menjadi Director of Perfect Anti Aging Clinic, owner franchise President of Institute of Aethetics & Anti Aging Medicine (IAAM) dan Public Relation Indonesia Anti-Aging Society (PASTI/ PERPASTI).

Di kegiatan lain, Deby masih memimpin PT Eradunia Internasonal sebagai Chief Executive Officer, menjadi President-Director Perfect Model & Image, dan owner sekaligus specialist practitioner ‘Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic’.

Ketika Stroke Menyerang

Pengalaman pahit, menjadi alasan Deby terjun menjadi dokter, dan akhirnya mengambil spesialisi anti aging.

“Ibuku dulu sering sakit. Setiap punya anak, pasti dirawat. Saya pikir kenapa  saya tidak jadi dokter, bisa nolong banyak orang.  Itu pikiran saya waktu masih kecil.  Ya itu, Karena dulu lihat ibu kalau hamil pendarahan, melahirkan juga pendarahan,” kenang Deby.

Anak sulung dari empat bersaudara ini kian termotivasi ketika Bapak terkena stroke tahun 2000-an.

“Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Karena Ayah tidak tidak mau diperiksa kesehatannya. Padahal saya dokter, dan ibu saya mau diperiksa. Tapi kalau Ayah, selalu menunggu dan terus menunggu. Dia juga perokok. Dan suatu hari, tiba-tiba bibirnya miring dan separuh tangannya kena stroke.” Suara Deby terdengar sedih.

Ia tak ingin kenangan pahit terulang lagi. Sebelumnya, nenek Deby meninggal karena stroke.

Saat itu, Deby baru kuliah tingkat 3 Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Makasar “Nenek stroke sampai tiga kali, dan meninggal. Padahal dia ditangani dokter-dokter profesional dari bagian internis dan neurologi. Bukan karena salah dokternya, tapi memang karena ilmunya cuma sampai disitu. Itu yang dikatakan teman-teman saya di Paris,” ujar Deby, sedih.

“Saya tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Oma saya. Saya harus berbuat daripada saya hanya duduk-duduk saya. Stroke itu tidak bisa didiamkan. Jangan hanya berharap,” kata Deby.

Berangkat dari pengalaman itu, Deby akhirnya mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Anti Aging. Sebuah ilmu yang tergolong baru, karena baru popular sekitar tahun 1985.

 Belajar Anti Aging

“Kenapa kita belajar Anti Aging? Di kelas saya ada beberapa profesor di internis, mereka kuliah lagi untuk memperdalam anti aging. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang mereka mulai menerapkan anti aging,” ujar wanita yang tengah kuliah lagi di Perancis.

Deby mencontohkan, ketika seseorang mulai terserang livernya. “Kalau di kasih obat terus, ternyata sel livernya tidak bisa terima karena sudah tua, kan tidak banyak efeknya. Padahal, sel itu bisa diperbaharui, dan orang ternyata tidak kepikir. Padahal, itulah anti aging, yaitu memperbaharui sel,” terang Deby.

Ibu satu anak ini kian gemas ketika masyarakat salah kaprah. 

“Berapapun umur kamu, tensi darah kita harus dibatas normal. Jangan karena sudah tua, tidak apa-apa tensi 160,” ujar Deby.

Ternyata, lanjut Deby, kita bisa memilih mau sakit apa. “Mau sakit jantung, liver dan sebagainya. Kalau kita mau mati karena stroke, ya kita makan aja seenaknya, yang berlemak-lemak dan makanan tidak sehat. Hidup ini kita yang pilih kok.

Setelah mempelajari anti aging, dan membuka klinik, Deby bisa bernafas lega. Ayahnya terbebaskan dari stroke.

“Ayah jadi bisa nyetir sendiri, bisa terbang kemana-mana seperti bussines man,” kata Deby, senang.

Bahkan dari 58 pasien yang berobat dengannya. “Semua terbukti tidak pernah kena stroke untuk kedua kalinya. Dan sekarang segar bugar,” kata Deby, bangga.

 Aktif Sejak SMA

Belajar hal-hal baru menjadi keasyikan Deby sejak sekolah.

“Waktu kuliah saya senang dance. Rata-rata yang ikut dari fakultas Hukum dan Ekonomi, saya sendirian yang dari Kedokteran. Dan waktu itu saya sering dikirim ke luar negeri. Biasanya pas acara pertukaran budaya. Pernah ke beberapa negara Asia. Mewakili Indonesia dari Dinas Pariwisata. Dan saya juga sering ikut pemilihan-pemilihan model,” cerita Deby, senang.

Masih di bangku kuliah, Deby yang cantik dan lembut, juga aktif mengikuti kegiatan menyelam.

“Bahkan, saya jadi instruktur scuba diving saat kuliah. Padahal itu olah raga berat dan bahaya. Saya tebiasa menyelam sampai kedalaman 120 –140 feet,” terang Deby, bangga.

Bahkan, Deby sempat menjadi model di sebuah produksi film negara

“Saya ketemu suami saya saat pembuatan film tersebut. Itu film tentang laut. Bekerjasama dengan NHK Jepang. Mereka cari model yang bisa nyelam tidak banyak. Akhirnya jalan-jalan pakai baju renang dan baju selam. Memang syutingnya di laut. Dulu sih tidak merasa seksi. Mungkin lebih sporty. Padahal badan justru lebih bagus sekarang. Dulu nomor celana jeans 28-29, sekarang 26-27. Jadi dulu lebih padat dan montok,” Deby pun tertawa lepas.

Deby juga pernah mengambil cuti akademis untuk mendirikan perusahaan.

“Waktu itu tingkat 4. Saya bikin Eradunia Group, sampai sekarang masih ada. Salah satu proyek yang baru kita kerjaan yaitu bikin IT system untuk gedung MPR/DPR. Nah, saya awali perusahaan ini dari saya dari tingkat 4. Sahamku 99%,” jelas Deby.

Darah bisnis, kata Deby, mengalir dari Ayahnya yang juga pengusaha.

“Saya berasal dari keluarga yang orang tuanya jatuh dan bangun. Kita pernah punya pembantu 8 orang, tap kita pernah tidak punya pembantu. Hidup seperti roda. Dan hidup itu yang saya pelajari. Disaat saya bisa memberi pekerjaan sama orang, itu saya lakoni. Prinsip saya itu,” kata Deby.

“Justru waktu saya belum muncul debagai dokter, waktu Ayah saya kena stroke, saya lebih sering muncul di majalh SWA untuk bisnis,” ujar Deby, mantap.

 Rektor Termuda

Tahun 2001, Deby menjadi Rektor Sedaya International University. Sayangnya, pusat pendidikan yang dirintis Deby ini tak bisa berjalan lama.

“Ada masalah intern dan masalah dengan government. Dulu saya sudah menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris,” kata Deby. Kini Deby masih menjabat Wakil Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se DKI.

Deby gemas. Ia merasa sudah saatnya perguruan tinggi di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat kuliah.

“Supaya pelajar kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri. Makanya saya membuat Putri Kampus supaya menjual education kita ke luar negeri. Kita tidak boleh berpikir di dalam tempurung saja. Nanti kita ketinggalan,” kata Deby.

Meski sempat kecewa dan pernah menjadi Rektor termuda, Deby masih punya semangat untuk terus berkarya.

“Saya lagi bikin buku tips kecantikan. Saya ingin orang paham bahwa investasi kesehatan harus dimulai dari sekarang. Kita jaga makanan dan berolah raga agar nanti tua, kita bisa menikmatinya,” ujar Deby menasehati.

 Motivasi Karena Sakit Hati

Deby yang lembut, selalu ingin berbagi dan membuat hidup orang lain berharga.

“Karena saya pernah sakit hati,” kata Deby.

Peristiwa tak mengenakkan itu terjadi ketika Deby masih kuliah.

“Waktu itu saya masih mahasiswa, saya juga masih aktif scuba diving. Saya demam tinggi, padahal kita tidak boleh berobat ke dokter umum. Saya bilang, ‘dok saya sakit, demam tinggi. Bisa nggak ya telinga saya.’ Aturannya di kedokteran, kalau sakit telinga harus diobati di THT,” kenang Deby.

Namun, Deby sengat terkejut.

“Dokter itu langsung jawab, ‘enggak, saya sudah di jemput!’ Padahal satu jam setelah itu dia duduk dengan kaki di atas meja, nonton tivi. Soalnya saya lagi praktek di radiologi di dekat situ. Hati saya sedih sekali. Padahal dia tinggal lihat saja,” kenang Deby, kesal.

Deby belajar, bahwa ia tidak akan jadi dokter seperti itu. Dan sampai hari ini, Deby akan melayani setiap pasien yang datang.

Dan dunia berputar. “Ternyata, dia, dokter itu, melamar di salah satu bagian, dan profesor bagian saya tanya, ‘Deb,ada yang ngelamar dari Sam Ratulangi. Kamu kenal nggak?’ Saya kaget sekali.”

“Itu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu. Seperti waktu saya praktek di hotel. Pasien saya dari tukang masak sampai GM. Saya memperlakukan pasien seperti saya ingin diperlakukan. Sedih kalau kita lagi sakit. Nggak enak sekali rasanya,” ujar Deby, mantap.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pendidik, Profil Pengusaha | 5 Comments

Irene F Mongkar

“Saya toh Sudah Bisa Lihat Ujungnya”

Irene rela meninggalkan kenyamanan hidup, demi ketenangan jiwa. Ia bangun perpustakaan di kampung-kampung, dan membantu anak-anak cidera otak.

Di ujung telepon, Irene menyebutkan satu nama yang ia inginkan. Sebuah kantor, yang jauh dari kebisingan, meski berada di tengah kota. “Saya sudah tidak di gedung TIRA, mbak,” katanya, dengan suara riang.

Tentu saja, jawaban spontan itu menjadi tanda tanya. ”Ceritanya panjang,” sesaat Irene tertawa dengan suara khasnya, ”nanti saja kalau kita ketemu. Sekarang saya punya kegiatan lain yang lebih seru.”

Tahun silam, Irene meletakkan jabatannya sebagai General Manager di Tira Pustaka. Irene kini lebih memilih menjadi ‘pekerja sosial’, dan membantu anak-anak cidera otak.

“Sudah cukup sampai disini. Sejak dulu, saya sudah kepingin keluar tapi selalu ditahan. Akhirnya, bulan Agustus 2008 saya resmi mengundurkan diri. Berarti, 25 tahun saya bekerja di sana,” ujar Irene, tersenyum.

Dengan rendah hati, Irene mengatakan, untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan tersebut, ia lalui dari jabatan terendah sebagai resepsionis.

Hanya Mau Berbagi

Menyebut metode Glenn Doman, orang selalu teringat satu nama, Irene F. Mongkar. Sosok Irene sangat erat dengan ketenaran metode asal Amerika ini. Berawal ketika anak semata wayangnya, Dhea.

“Metode ini saya praktekkan di anak saya sejak tahun 1992, dari umur 3 bulan. Setelah 3 tahun berhasil, Dhea bisa baca buku, saya baru bikin seminar. Sebenarnya bukan seminasr, tapi orang bilang seminar. Saya hanya mau berbagi bahwa saya senang anak saya bisa begini. Mulailah dari situ saya ngoceh dimana-mana, “ kenang Irene.

Metode Glenn Doman adalah metode untuk menstimulasi otak agar berkembang lebih baik, dengan menggunakan flash card.

“Ini (metode Glenn Doman) untuk stimulasi. Sayangnya orang kenalnya hanya sebagai metode untuk membaca. Padahal dasarnya stimulasi,” terang Irene.

Dengan menstimulasi otak, anak-anak cidera otak pun akan lebih cepat sembuh. Kalaupun anak akhirnya bisa lebih cepat mengenal huruf dan membaca, “pada akhirnya akan jadi lebih mudah diajak suka membaca,” tegas Irene.

“Kan tujuan kita, anak bukan cuma bisa baca. Kalau mau bisa baca, kita kirim saja anak kita ke TK, pasti bisa baca. Cuma, bikin anak suka baca itu kan susah, butuh perjuangan. Memang, cara mudahnya, orang tua beli buku supaya anak suka baca. Tapi kalau tidak punya uang, bagaimana dong. Dengan anak sudah bisa baca sejak kecil, selanjutnya ia akan beralih menjadi suka baca,” kata wanita yang membuat flash card Indonesia dan Arab.

Bikin Perpustakaan

Irene sangat memperhatikan dunia baca anak-anak. Meski, katanya, minat baca di Indonesia masih sangat kurang, di banding negara lain, ia bangga telah terjadi peningkatan.

“Dibanding tahun-tahun kita, ada peningkatan kok. Sekarang, sudah banyak orang, terutama anak-anak yang suka baca. Toko buku juga sekarang sudah benar. Yang dijual memang buku, tidak campur dengan stationary, tas, mesin penghacur kertas, dan sebagainya. Jadi, orang datang hanya untuk beli buku bukan yang lainnya,” katanya.

Buku anak-anak, menurut penilaian Irene, saat ini juga sangat beragam dan bagus-bagus. “Dulu buku impor yang bagus, sekarang buku lokal juga bagus. Kalau bikin perpustakaan juga jadi cakep. Itu merangsang anak suka membaca,” ujar Irene dengan nada bangga.

Sejak mengenal metode Glenn Doman, Irene punya keinginan besar, setiap keluarga punya perpustakaan keluarga.

“Kita belum bisa mengharapkan pemerintah punya perpustakaan yang bagus. Urusan mereka terlalu banyak. Jadi, siapa dong yang mengurus anak-anaknya kalau bukan orangtuanya sendiri. Nah, cara ini bisa dilakukan pelan-pelan. Misalnya setahun terkumpul segini, tahun depan terkumpul lagi, lama-lama jadi banyak dan jadi perpustakaan kecil,” kata Irene.

Irene bercerita, keinginannya yang besar untuk mensosialisasikan gemar membaca dan perpustakaan keluarga, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar kerja. Ia terisnpirasi kehidupan Sumanto, pria asal Bantul Yogyakarta yang bersepeda mendatangi 4 hingga 5 desa di setiap harinya, untuk membawa buku-buku yang siap di pinjam anak-anak.

“Waktu gempa, perpustakaannya rata dengan tanah. Bukunya ada 1300an jadi lusuh dan rusak. Saat itu saya masih bekerja di Tiga Raksa. Saya bilang kalau saya tidak bisa bantu dengan bangunan, tapi saya bisa bantu membuat perpustakaan. Syukurlah sekarang sudah berdiri. Bahkan Sumanto sudah punya 12 motor dan ada beberapa anak-anak karang taruna yang putar-putar dengan motornya meminjamkan buku ke anak-anak,” cerita Irene, bangga.

Meski engan disebut nominalnya, Irene mengaku rela menjual emas-emasnya untuk membuat perpustakaan di kampung-kampung.

Kalau segala sesuatu dimulai dari yang baik, pasti hasilnya akan baik. Kalau kenyataannya ribet di depan, saya toh sudah bisa lihat ujungnya,’ ujar Irene.

Sembuhkan Cidera Otak

Tak cukup sampai disana. Keinginan besar Irene lainnnya, adalah membantu anak-anak cidera otak yang saat ini jumlahnya terus bertambah.

“Sekarang, setelah waktu saya semakin banyak, saya larinya ke anak-anak yang cidera otak. Saya punya teman-teman yang siap membantu. Mau kaya mau miskin,‘ Irene.

Ia membantu perkumpulan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) yang dikelola Bapak Untung di daerah Magelang, juga masuk dalam KOACI (Komunitas Orang Tua Anak Cidera Otak Indonesia) yang berkantor pusat di Bandung.

‘Memang perjalanan tidak semulus harapan. Tahun 2005, ada bangunan di Magelang untuk pusat tumbuh kembang. Ada terapi laser, tapi mereka butuh metode stimulasi. Makanya, saya diajak membantu stimulasi. Saya mau tolong, tapi tidak mau setengah-setengah. Saya sudah punya rencana taruh fasilitas dan ribuan buku disana. Ternyata tahun 2007 saya mau isi dalamnya, tapi tidak dikasih. Sedih sekali. Dan sampai sekarang bangunan ini tidak dipakai sama sekali. Padahal, saya berhenti kerja juga karena tempat ini. Sedih jadinya,” ungkap Irene.

Irene mengibaratkan, kalaupun dia sudah bisa melihat ‘ujung’nya, saat ini sedag berada ditengah-tengahnya. Memang. ada yang hilang pasti ada yang dapat. Saya dapat KOACI di Bandung,” ujarnya, tersenyum.

Di KOACI, Irene punya komitmen. Tak sekedar membantu, ia ikut berjuang demi kesembuhan anak cidera otak, dan memotivasi para orangtua yang punya cidera otak agar tidak malu membawa anaknya tersebut keluar rumah.

“Hasilnya, sekarang banyak orang tua yang tidak malu membawa anaknya yang cidera otak keluar rumah. “Kita datang, anak tidak maju, kita yang bayar. Nah, tentunya kita tidak mau rugi. Makanya kita punya komitmen, anak yang kita stimulasi harus maju dan perkembangannya makin baik,” kata Irene.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Wanita | 6 Comments