Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ester Indahyani

Kalau Helai Rambut Belum Jatuh

 

 

Ia baru tiga bulan menikah ketika kerusuhan Mei 1998 membara. Seperti lintah, peristiwa itu jadi kenangan buruk dalam ingatan.

 

Seorang teman datang padanya sambil menangis. Adiknya diperkosa beramai-ramai di jalan tol. Ia etnis Tionghoa, seperti Ester yang duduk tertegun di depannya.

Di lain hari, wanita ayu berkulit kuning langsat ini mendengar penuturan jujur dokter ginekologi. Lebih dari 5 pasiennya dirawat dalam kondisi menyedihkan, alat kelaminnya (maaf) rusak berat dan ada yang rahimnya ‘berantakan’. Semua keturunan Cinta, dan mengalami saat bumi Indonesia dihantam tragedi Mei 1998.

Ester jadi sulit tidur. Dia marah dan menangis. Belum lagi memikirkan saudara-saudaranya se-etnis yang mati hangus terbakar di dalam rumah dan toko. Spontan didirikannya LSM Solidaritas Nusa Bangsa (SNB).

“LSM itu alat perjuangan. Kalau SNB itu alat untuk penghapusan diskriminasi rasial. Jadi kenapa di SNB, aku dan teman-teman lain berjalan untuk tujuan itu,” kata wanita yang terlahir dengan nama Sim Ai Ling.

Sempat Menolak

Hampir 9 tahun Ester berjuang. “tapi ‘berhenti’ dimana-mana,” ucapnya, mengeluh.

“Secara hukum pemerkosaan itu sulit (dibuktikan). Tetapi secara umum, kasusnya ini pelanggaran berat HAM, itu jelas bisa dibuktikan. Terbukti rentetan kejadian lain jelas sekali mengarah ke satu gerakan kejahatan yang sistematis yang luas. Waktu di Komnas (Komisi Nasional) kita mendata ledakannya di lebih 50 titik lokasi. SNB dan YPHI (Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia)  mendata lagi di 80 titik ledakan sosial. Jadi ada pola yang jelas kerusuhannya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ester staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia gadis peranakan Tionghoa yang berpikiran maju. Seperti orangtuanya, Immanuel Jusuf yang guru, dan Maria Tjandra yang bekas guru.

Lulus Fakultas Hukum UI, Ester masuk ke dunia korps jubah hitam.

“Awalnya ingin jadi Hakim, dengan pemikiran naif-ku saat itu. Hakim yang memberikan keadilan. Dia bisa memutuskan perkara. Orang benar dibebaskan, orang salah dihukum. Tapi waktu aku mempelajari kehidupan Hakim baik secara hukum, politik dan ekonomi, ternyata jauh dari harapan,” kata Ester.

Ia tidak suka ketidakadilan. Sering melawan hukum apabila hukum berjalan diluar sistem.

Kegigihan Ester menjadi ‘pengacara rakyat’ membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. Mulai dari Forum of Human Rights (1999), Yap Thiam Hien (2001) hingga Ashoka World Foundation (2003) yang bertaraf Internasional.

“Dulu sempat mau menolak Yap. Kan yang berjuang bukan hanya aku. Kalaupun muncul, itu karena gerakan. Semua membicarakan. Aku hanya satu unsur disana. Tapi teman-teman yang memaksa. Apabila wacana HAM yang diangkat, itu akan sangat menguntungkan perjuangan anti diskriminasi. Dan buat aku sendiri ke depan juga sangat baik. Orang akan menghargai saat aku membicarakan diskrimasi rasial atau masalah-masalah lain,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah kerusuhan Mei 1998, masalah etnis Tionghoa ramai dibicarakan.

“Bahkan jadi komoditas. Kalaupun aku dianggap tokoh itu peran media. Padahal peranku hanya kecil sekali. Yang bicara pada tanggal yang sama ada beberapa. Tapi mungkin karena aku perempuan, jelas Tionghoa dan muda, masih 27 tahun. Aku juga dari LBH dan dianggap baru,” jelasnya lagi.

Ditembak Peluru Karet

Pernikahan Ester dengan Arnorld Fransiskus Purba, aktivis ‘garis keras’ membuat perjuangan wanita kelahiran 15 Januari 1971 ini kian runcing. Meski suaminya bukan etnis Cina, keduanya gigih membongkar dan membela para korban kerusuhan Mei. Purba meninggal tahun 2001 akibat livernya rusak.

“Bang Ucok (panggilan untuk suaminya) mengajar aku berani melawan struktur. Menghadapi tentara dan belajar melawan sistem dan hal-hal feodal,” kenang Ester.

Ia kembali menikah tahun 2005 dengan pria Jawa yang juga bukan etnis Tionghoa, Albertus Suryo WIcaksono. Pria ini justru mengajarkan Ester untuk  ‘mengakar ke bawah’.

“Memahami pikiran masyarakat bawah. Memahami kultur bangsa Indonesia. Jadi keduanya bertolak belakang, Satu ke atas, yang satu ke bawah. Membuatku jadi lebih lengkap,” katanya, bangga.

Bekerja melawan arus pastilah beresiko dengan nyawa.

“Orangtua sempat kuatir. Apalagi aku tidak pernah cerita apa yang aku alami,” ujar Ester.

Seperti ketika Ester jalan sendirian menuju LBH Jakarta dekat Megaria. Hari sudah gelap, sudah jam 7 malam. Tiba-tiba bahu kanannya perih. Ia terjatuh. Sepintas ia melihat dua pria berboncengan motor menenteng pistol sambil tersenyum.

“Sakit sekali seperti mau mati. Ternyata ada lebam dan luka di tengah. Aku menduga ditembak peluru karet. Teman-temanku banyak yang mengalami seperti itu, karena kebetulan waktu itu aku sedang menangani kasus orang-orang hilang. Aku biasa lembur. Suamiku masih di LBH,” kenang Ester.

Teman-teman memaksa Ester siaran pers. Esoknya, semua media cetak dan elektronik menulis kisahnya. Orang tuanya membaca.

“Mereka kaget dan bilang kalau sudah taruhan nyawa kenapa juga masih diteruskan. Tapi kemudian mereka berdoa dan telepon lagi, Papa bilang, rambut di kepalamu tidak akan jatuh kalau tanpa Tuhan mau. Kalau Tuhan mau, di rumah pun kita bisa meninggal. Aku bersyukur sekali,” ujar Ester, matanya berbinar bahagia.

Ester jadi kebal dengan terror. “Capek kalau dipikirin!”

Buku Yang Dilarang

Ester kesal. Bulan lalu satu bukunya dilarang terbit Komnas HAM.

“Padahal, buku itu murni dari hasil investigasi selama 1 tahun. Data dari Komnas yang saya ambil adalah hanya data TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Kemudian mereka mengkaim bahwa data itu semua milik mereka. Padahal data saya ada tambahan dari hasil investigasi selama 1 tahun. Lebih detail, lebih lengkap dan lebih luas,” ujar Ester tentang buku berjudul ‘Analisa Data dan Fakta Kasus Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei

Imbasnya, ia diprotes korban-korban kerusuhan Mei. “Karena mereka juga ikut dalam investigasi. Kesal kenapa bukunya kok dilarang.”

Dua buku lainnya berjudul ‘Reka Ulang Kerusuhan Mei 1998’ dan ‘Menatap Wajah Korban: Upaya Mendorong Penyelesaian Hukum Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Peristiwa Kesusuhan Mei 1998

“Buku Menatap Wajah Korban, isinya sketsa para korban yang tidak punya foto. Miskin kota yang mati di bunuh di Plaza-plaza, kebanyakan tidak punya foto,” terang Ester.

Para pelukis, lanjut Ester, berbicara dengan keluarga korban. Mereka menggambarkan wajah korban, dan dilukis. Ada puluhan wajah yang muncul.

“Dan itu ternyata jadi trauma healing pada keluarganya. Jadi begitu mereka lihat sketsa wajah itu, muncul lagi kejadian itu. Mereka pada menangis. Tapi setelah itu mereka jadi kuat. Ini seperti terapi. Mereka merasa perjuangan masih panjang. Korban tidak hilang begitu saja,” lanjut Ester.

Buku Reka Ulang juga berupa sketsa kejadian. Misalnya di Glodok, di Pondok Indah dan puluhan titik lokasi. Minimal ada dua saksi dalam satu tempat. Masing-masing bercerita tentang kejadiannya, dan dibuat sketsa. Seperti rekonstruksi kejadian saat itu.

“Bukunya jadi penuh sketsa. Masyarakat Indonesia kan susah kalau membaca. Bahasa gambar lebih bisa diterima. Harapannya bisa rekonstruksi kejadian dan wajah pelaku. Kebanyakan korban tidak mengenali pelakunya. Ada yang mengenali tapi kesaksiannya tidak signifikan. Kebanyakan lari. Ada yang lihat tapi tidak ngeh karena banyak pelakunya,” kata Ester, lagi.

Aien Hisyam

*wawancara 12 Februari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | 1 Comment

Ratih S.A. Loekito

Bekerja Dalam Hening

Disaat yang lain tertidur pulas, Ratih bercanda dalam belantara. Tidak ada kata malam atau siang. Ia senang akan keheningan. Bekerja demi kebahagiaan orang lain.

 

Duduk di atas puing, Ratih menatap sekumpulan anak yang menangis.  Tsunami dan gempa menimbun semua harapan. Hari-hari wanita ini-pun berubah.

“Di Meulaboh, setiap orang sudah lelah menangis. Sekarang, mereka harus berpijak. Melihat kenyataan, dan bangkit kembali,” ujar Ratih suatu hari.

Peluh membasahi wajah. Terik matahari sudah berhari-hari membakar kulitnya. Ratih tetap ayu dalam kelelahannya.

Wanita Modern

Dibawah bendera Tanoto Foundation, Ratih masuk kedalam wilayah-wilayah terkena musibah gempa dan tsunami. Ia hanya dibantu segelintir orang.

“Hanya sebulan sesudah musibah kita bergerak. Kita kumpulkan orang-orang untuk membantu. Kita bangkitkan semangat hidup mereka. Bangun kembali yang tersisa. Bahwa hidup itu terus berjalan,” kata Ratih di suatu siang, di warung kecil dekat pelabuhan udara kota Meulaboh-Aceh.

Wanita bersuara lirih, ramah, dan hangat, berbulan-bulan ‘berkantor’ di kota kecil yang porak poranda. Profesi menempatkannya di tengah-tengah warga yang haus masa depan. Hasilnya, satu Sekolah Dasar berdiri megah. Lengkap dengan sarana dan prasarana.

Tidak berhenti disitu. Direktur Eksekutif Tanoto Foundation ini kembali berjuang di Pulau Nias. Berbulan-bulan ia ber‘kantor’ di pulau terpencil.

Setiap malam, Ratih dan beberapa temannya bercengkrama dalam sepi. Kadang dalam gelap. Itu membuatnya semakin merasa memiliki.

Ratih, wanita Jakarta modern. Di balik segala yang gemerlap, ia sering merasa ingin mencari tempat sunyi dan jauh dari hiruk pikuk. Di tempat-tempat ini ia merasa menjadi diri sendiri. Ia bukan Ratih yang memimpin sebuah yayasan besar. Ia juga bukan Ratih yang sejak pagi hingga malam sibuk dengan urusan meeting atau menerima tamu-tamu penting.

Di Pedalaman Kalimantan

Lulusan Intistitut Teknologi Bandung jurusan Pertambangan ini senang travelling.

“Sebelumnya, saya di LSM Dana Mitra Lingkungan. Sebenarnya antara keduanya tidak ada kaitan sama sekali. Tetapi ada benang merahnya. Di tempat kerja yang lama, kita sering melakukan edukasi ke masyarakat dan anak-anak sekolah, agar lebih aware dengan lingkungan sekitar,” kata wanita bernama lengkap Ratih SA Loekito.

Tahun 2005 ia bergabung di Tanoto Foundation, yayasan milik pengusaha Soekamto Tanoto yang fokus di dunia pendidikan. Alasan Ratih, ia sedih melihat SDM di Indonesia masih lemah di sisi pendidikan.

Pernah Ratih masuk ke pedalaman Kalimantan Timur. Ia sedih. Dilihatnya pendidikan anak-anak suku pedalaman jauh tertinggal.

“Saat itu saya sedang lakukan kegiatan berorentasi pada lingkungan. Masuk ke sekolah-sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Kalau hal yang berkaitan dengan lingkungan harus dipupuk dari kecil. Tidak bisa ujuk-ujuk setelah dewasa. Kalau masih kecil pelan-pelan sudah tertanam lama-lama, maka jadi kebiasaan,” kata Ratih.

Ratih juga singgah ke Kabupaten Kutai Barat. Tempat yang sangat terpencil.

“Bangunan fisik sekolahnya memprihatinkan. Level SMA tapi tidak punya laboratorium. Kendalanya selalu klasik, masalah dana. Kalau saya bilang, oke masalah dana iya, tapi kita tidak boleh tergantung oleh dana saja, kita harus kreatif dong. Dimana dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa mengajar dengan tepat dan benar. Sebenarnya alam bisa mengajarkan banyak hal pada kita untuk belajar dan berpraktek,” kata mantan asisten dosen ini.

Lain kisah di Mahakam. Di satu pulau kecil, “Saya lihat satu SD dan SMP gurunya hanya 2 orang. Suami istri pula. Dia ngajar anak-anak dari pagi sampai siang. Sabtu pagi mereka ke ibukota kecamatan untuk ketemu keluarganya. Anak-anak si pasangan ini di ibukota kecamatan,” cerita Ratih.

Untuk menuju pulau itu, Ratih naik boat atau ketinting selama 2 jam.

“Nah, kita bisa lihat bagaimana mereka jadi guru demikian sengsaranya. Dedikasinya dan kesetiaan pada profesinya mau berkorban,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang, 7 April 1963.

Tak Peduli Jabatan

Di Tanoto Foundation Ratih bisa leluasa mengeluarkan semua kontribusinya untuk dunia pendidikan.

“Seperti motonya, reducing poverty, advancing human achievement dimana diharapkan dengan makin meningkatnya SDM akan memerangi tingkat kemiskinan. Kalau kita makin pintar kita akan survive dalam hidup,” katanya.

Ibu satu putri, Audrey A. Cr. Van Waardenburg ini tak segan turun ke lapangan.

“Kayaknya saya merasa lebih nyaman terjun langsung. Kalau ada konsep lebih sreg saya harus ikut realisasinya. Kalau saya ikut, disitu saya jadi tahu mana-mana saja yang harus dikoreksi dan ditingkatkan lagi. Gatal saja,” Ratih tertawa lepas.

Ia bukan tipe wanita belakang meja. Rela berhari-hari di tempat terpencil.

“Dari dulu saya tidak pernah peduli jabatan. Yang lebih aku pentingkan, kalau kita membuat sesuatu yang benar, kita harus bisa terjun. Sehingga kita tahu kondisi di lapangan. Saya rasa tidak ada yang istimewa, yang penting segala sesuatunya lancar,” katanya bijaksana.

Di tempat itu, istri Budhy Ch. Van Waardenburg bisa menemukan keseimbangan hidup.

“Di Jakarta, orang-orang sangat konsumtif dan materialistik. Segala sesuatu dinilai dengan uang. Kalau kita ke daerah-daerah, kita disadarkan bahwa uang bukan segalanya. Banyak cara lain yang bisa diraih untuk membahagiakan diri kita,” kata Ratih lagi.

Kontemplasi Sisi Kehidupan

Wanita ini sering merenung. Betapa beruntung dirinya.

“Di sana (daerah terpecil) kita melihat masih banyak orang yang kurang beruntung,. Mereka cukup kuat dengan hal yang sederhana. Bisa bahagia dan kita juga melihat bahwa segala sesuatu tidak dilihat dari sisi materi. Pemikiran mereka amat sangat sederhana, tidak njlimet. Yang penting keluarga bisa cukup makan dan anak bisa sekolah,” komentarnya.

Dalam kesunyian alam pedesaan, Ratih melakukan retrait, “juga kontemplasi melihat bagaimana sisi kehidupan orang selain yang biasa kita temui di Jakarta. Saya pernah ke Sumbawa, Lombok, seputar Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan Utara. Pedalaman di Sumatera. Kita 3 bulan di pedalaman Bengkulu.  Juga ke Kutai Barat, Kutai Timur dan di Kertanegara,” kisahnya.

Bagi anak sulung Loekito Rekso Sumitro, petinggi di Dirjen Pertambangan, setiap orang perlu peyeimbang hidup. Caranya, melebur denagn alam dan masuk dalam kehidupan pedesaan.

“Coba dulu, dan rasakan. Disana, kita akan temukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujarnya dengan senyum.

 

Aien Hisyam

*wawancara 15 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pecinta Lingkungan, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Rini Hariyani

Saya Pengemis Intelektual

 

Festival Wayang ASEAN I di TMII minggu lalu membuat Rini ‘sesak nafas’. Capek, senang, bangga, kecewa, campur aduk dalam hatinya.

 

Tinggi sekali impian Rini. Idealnya, kata wanita bertubuh mungil ini, Indonesia bisa menjadi pusat kebudayaan wayang dunia.

“Nyatanya, semua orang kagum dengan koleksi yang ada di museum kita. Jangan berkecil hati. Percaya diri saja, toh kita sudah diakui dunia,” kata Rini. Sejak tahun 1999, ia menjabat Kepala Museum Wayang.

Rini memang sangat percaya diri. Tidak sia-sia. Buktinya, berkat kerja keras dan kecintaannya pada wayang, untuk pertama kalinya Indonesia bisa jadi tuan rumah festival wayang yang diikuti puluhan negara.

Karir Minim Peminat

Sempit, kuno, jadul (jaman dulu), dan ‘gelap’. Itulah anggapan miring tentang keberadaan Museum Wayang yang ada di daerah Jakarta Kota.

“Jangan hanya dilihat dari fisik luarnya. Masuk dulu kedalam. Liha isinya. Kita akan cinta kalau kita kenal lebih dekat lagi,” ujar Rini Hariyani.

Rini juga senang memposisikan diri sebagai PR (Public Relation). Bahkan, kalau saja waktunya longgar, tanpa canggung, ia sempatkan diri menemani tamu-tamu yang berkunjung ke museumnya.

“Tak apalah jadi guide. Justru itu buatku sangat menyenangkan. Kita tahu keinginan mereka, berbagi cerita sekaligus bernostalgia,” ungkap Rini dengan wajah cerah.

Mengapa Rini antusias menggeluti dunia wayang? Tak lain karena keinginan masa kecilnya. “Waktu itu saya tanya ke kakak ipar yang sedang ambil S2 di Honolulu. ‘Jurusan apa ya yang bisa bikin saya bisa keluar negeri?’ Dia bilang ‘ambil saja jurusan budayamu sendiri’. Makanya begitu lulus saya ambil jurusan Sastra Jawa UI,” cerita Rini.

Rini sadar jurusan yang ia pilih sangatlah tidak populer. Toh, dia tetap bersemangat.

“Karena sejak awal, saya memang cinta wayang. Lewat wayang saya diajarkan banyak hal, mulai dari filsafat wayang, karakter tokoh-tokoh wayang, dan sebagainya,” ujar Ibu dua anak ini. Bahkan berkat wayang pula Rini bisa beberapa kali keliling Eropa membawa misi budaya wayang Indonesia.

Rini lahir di Solo tanggal 10 Desember 1950. Oleh orangtuanya yang masih berdarah Mangkunegaran, setiap bulan sekali Rni yang masih kanak-kanak selalu diajak menonton pagelaran Wayang Orang di Sriwedari. Saat masih kuliah, setiap tanggal 1 Suro, mau tidak mau Rini harus menonton Wayang Kulit semalam suntuk. Kewajiban yang harus dijalani sejak masuk kuliah sampai lulus.

“Makanya, ibaratnya duplikasi bahasa, saya makin cinta dengan wayang. Di Museum Wayang, saya juga jadi sering nonton wayang semalam suntuk. Kantor jadi rumah kedua saya. Cinta sekali,” kata Rini. Skripsinya juga mengupas filosofi wayang, tentang tokoh Adipati Karno.

Jadi Karya Agung

Rini selalu ingin mengukir prestasi. Satu keberhasilan yang membuat wanita ini bangga adalah mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan atau Wayang Revolusi milik Indonesia yang sudah 40 tahun lebih disimpan di Museum Rotherdam, tahun 2005 lalu.

“Sejak menjabat (jadi Kepala Museum Wayang), saya selalu berjuang dapatkan tambahan koleksi dengan cara pembelian juga meminta sumbangan entah dari tamu beberapa negara, atau dari indonesia sendiri. Ada istilah, saya ini pengemis intelek. Karena mengemisnya untuk Museum bukan untuk koleksi pribadi. Kebetulan yang membuat saya bangga, yaitu berhasil mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan milik kita yang dibuat Raden Mas Sayid dari Mangkunegaran,” ujar Rini bangga.

Selain itu, lanjut Rini, “bangsa Indonesia boleh bangga karena sejak tanggal 7 November 2003 wayang Indonesia sudah diakui dunia melalui lembaga Unesco menjadi salah satu karya agung budaya dunia di antara 28 budaya dunia. Bangga dong. Ternyata Indonesiapun punya budaya yang begitu agungnya. Nah, sekarang yang sedang dirintis adalah keris supaya diakui sebagai budaya agung.”

Satu hal yang disesalkan Rini, wayang Indonesia justru lebih populer di mancanegara ketimbang di negara asalnya.

“Justru selama ini mancanegara yang lebih tahu keberadaan museum wayang ketimbang masyarakat Jakarta. Jadi, wajar saya kalau target utama saya adalah ingin membuat wayang tak hanya mendunia. Tapi juga men-Jakarta, dan meng-Indonesia. Saya juga ingin generasi muda kita bangga dan mencintai wayang. Makanya saya undang anak-anak siswa belajar gamelan dan buat wayang disini. Jangan sampai kita belajar dengan orang asing. Jangan sampai kebakaran jenggot kalau itu sudah lebih dicintai orang asing,” ujar Rini sungguh-sungguh.

Rini bercerita tentang pengalamanya saat berkunjung ke KBRI Perancis di Paris. “Disana, yang latih gamelan justru orang Perancis,” suara Rini terdengar kesal.

“Jangan sampai generasi muda kita belajar budaya dengan orang asing. Dulu bahkan kita mau ambil S2 Sastra Jawa harus ke Leaden. Karena literaturnya ada di Leaden semua. Syukurlah, sekarang mereka yang pernah ke Leaden menularkan ilmunya di Indonesia,” kata Rini lagi.

Belajarlah Lewat Wayang

Di dalam wayang banyak sekali yang bisa diambil hikmahnya.

“Kita bisa bercermin lewat setiap peristiwa yang terjadi di dunia wayang. Seperti di kehidupan sehari-hari. Didalamnya ada tokoh baik dan buruk. Dan  juga tidak mungkin manusia hidup tanpa susah. Pasti ada lawannya. Ada susah, pasti ada senang. Kayaknya wayang ini benar-benar personifikasi dari kehidupan kita yang harus bisa kita ikuti,” kata Rini.

“Bahkan sampai sekarang masih banyak orang tua yang beri nama anaknya dengan nama-nama wayang. Misalnya Wibisono, Kresna, Abimanyu. Karena ortu berharap anaknya punya karakter seperti tokoh itu. Tapi jarang yang beri nama Burisworo. Itu kan tokoh jelek,” lanjut Rini.

Rini bersungguh-sungguh mengajak siapa saja yang ia temui untuk mencintai wayang. “Karena banyak sekali manfaatnya. Ajak anak menonton pagelaran wayang. Ajak keluarga datang ke museum wayang. Bahkan, temani anak-anak belajar membuat wayang, berlatih gamelan, dan bercerita tentang cerita-cerita pewayangan,” kata Rini.

Tidak perlu bingung bagaimana memulainya. Kata Rini, “sekarang sudah banyak diterbitkan komik-komik wayang. Bahkan ada VCD dan DVD tentang cerita wayang. Ada juga DVD wayang orang yang dikeluarkan grup Sekar Budaya Nusantara miliknya Ibu Nanik Sudarsono.”

“Karena orang baru sadar dan mulai cinta budayanya justru setelah pergi ke luar negeri. Begitu di luar negeri dia disuruh tampil, disuruh cerita, apa budayamu yang paling menarik? Tolong ceritakan ke kita, mereka gelagapan. Itu karena masyarakat kita belum bisa menghargai karya-karya leluhur kita,” lanjut Rini bersemangat.

 

Aien Hisyam

*wawancara 1 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik | Leave a comment

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Aty Mannawi

Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’

 

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

 

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.

“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Lebih Sensitif

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di  Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.

“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.

“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.

“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan American University, Washington DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.

“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Tren Sulit Konsentrasi

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, gangguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.

“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Orang Tua Harus Berani

Jangan pernah menunda.

“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.

“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

Ujian Untuk Terapis

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.

“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.

Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.

Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dokter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara.

Aien Hisyam

*wawancara 20 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik, Profil Psikolog | Leave a comment

Dyah Anita Prihapsari

3 Wanita Paling Berkesan

 

            Nita menjadi wanita Indonesia pertama yang mengikuti International Women Leaders Mentoring Partneship  (IWLMP) di Amerika. 

 

“Sebulan saya di Amerika. Ini benar-benar luar biasa. Saya satu-satunya wanita dari Asia yang terpilih ikut program tersebut,” ujar Dyah Anita Prihapsari bangga.

Nita memang tidak pernah berhenti beraktifitas. Tahun ini, sejumlah tanggung jawab ia pegang. Mulai dari Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ketua DPD IWAPI Provinsi DKI Jakarta, Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan IWAPI Pusat, hingga Komisaris di 3 perusahaan.

Tidak salah bila Fortune memilih Nita sebagai pemimpin wanita di Asia untuk mengikuti IWLMP. Di Amerika Serikat, Nita berkumpul bersama 16 pemimpin wanita lainnya. Diantaranya dari Ukraine, Kenya, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Afrika, Bangladesh, Bolivia, dan sebagainya.

Laura Bush Dan Hillary

IWLMP baru pertama kali diadakan. Program ini menjadi kegiatan tahunan, kerjasama Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Fortune Magazine untuk mencari pemimpin wanita berkualitas. Yaitu wanita muda yang sukses memimpin perusahaan, aktif di kegiatan sosial, punya perhatian yang besar pada dunia pendidikan dan kesehatan, serta punya visi misi bagi keberhasilan para perempuan. Proses seleksi dilakukan setiap Kedutaan Besar AS.

Dari 30 wanita pilihan, Lulusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management, Oklahoma City University ini lolos mewakili Indonesia sekaligus wakil Asia. Sejak tanggal 29 April hingga 28 Mei Nita dididik menjadi leader dan mentor yang handal.

“Hari pertama kita dibawa ke Wasingthon DC bertemu Laura Bush (Istri Presiden AS George W. Bush). Sebelumnya kita diterima empat staf ahli White House dan kepala security yang semuanya perempuan,” cerita Nita bangga.

Ia mendapat ‘ilmu’ tentang kepemimpinan wanita di Gedung Putih. “Mereka dipilih karena punya kriteria peran ganda.  Sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai pemimpin yang bisa membagi waktu, melobi dan memimpin karyawan tanpa emosional,” ujar Nita.

Di kesempatan ini Nita memberi kenang-kenangan buku kuliner Taste of Indonesia yang dibuat IWAPI. Sore hari, Nita berkunjung ke Departemen Luar Negeri AS.

“Di Deplu justru lebih ketat. Handphone dan kamera tidak boleh masuk. Ternyata ada Menteri Luar Negeri Concolezza Rice,” cerita Nita antusias.

Nita memperoleh pengetahuan tentang kriteria menjadi pemimpin dunia, tentang kerjasama dan kemitraan. “Dia bilang woman can change the world. Wow, hebat sekali,” ujar Nita.

Hari kedua, Nita diajak bertemu Kay Bailey Hutchison. Senator perempuan pertama dari Texas. Barulah esok harinya Ibu dua anak ini bertemu Hillary Clinton.

“Begitu Hillary lihat buku Taste of Indonesia, dia langsung komentar, ‘I love Indonesia’. Dia senang sekali bahkan mengirim ucapan terima kasih lewat surat setelah saya pulang,” cerita Nita. Di akhir pekan Nita bertemu Menteri Tenaga Kerja bersama 5 staf ahli yang semuanya juga perempuan.

“Mereka semua pemimpin hebat. Punya visi misi kuat bagi keberhasilan wanita. Hebatnya, meski Laura, Hilarry dan Rice sibuk dengan urusan pekerjaan, mereka selalu tekankan bahwa secara kodrat, wanita adalah Ibu bagi anak-anak, dan istri bagi suami. Dua tanggung jawab ini harus berjalan seimbang,” ujar Nita penuh keyakinan.

Anti Perokok

Mengenal Nita, tidak akan lepas dari aktifitasnya mengkampanyekan gerakan anti rokok. Sejak dilantik menjadi ketua WITT tahun 2004, disetiap kesempatan, Nita  selalu mengingatkan orang bahaya merokok. Ia selalu meminta orang tidak merokok atau berhenti merokok.

“Kerja WITT dimulai dari scope terkecil, yaitu keluarga. Kalau Ibu Bapaknya perokok, dan anak-anaknya di ajak merokok oleh lingkungannya, pasti tidak akan menolak. Berbeda kalau keluarga yang tidak merokok. Pasti anak-anaknya akan batuk-batuk kalau ada yang merokok. Dia akan menghindar dengan sendirinya. Dan saya himpun ibu-ibu bergabung di WITT karena Ibu adalah panutan keluarga. Ia yang selalu dilihat dan ditiru anak-anak. Kalau ibunya kurang benar, anak pasti terkontaminasi diluar. Jadi, kunciya adalah Ibu,” tegas wanita kelahiran 22 Juni 1964.

Kerja keras Nita berbuah manis. Perda No.22 tahun 2005 dan Pergub 75 tahun 2005 disyahkan. Masyarakat dilarang merokok di tempat-tempat tertentu.

Mendapat dukungan, WITT gencar mengadakan kegiatan dan penyuluhan setiap bulan. Sasarannya dari murid SD hingga Perguruan Tinggi.

“Sejak tanggal 3 Februari 2006 kita jadi Mitra Pemda. Kita berhak menegur orang yang merokok tidak pada tempatnya. Kita berhak menjadi penyuluh agar mereka merokok pada tempatnya. Kita juga dapat kartu khusus dari Pemda untuk mengkampanyekan gerakan anti rokok,” ujar Nita bangga.

WITT juga mencari payung serba berguna. “Karena merokok berkaitan dengan Narkoba, kita kerjasama dengan BNN. Kita masuk ke Kapolri dan minta biikin MOU agar bisa dimekar ke daerah-daerah,” ujar Nita. Ia berniat membuka cabang Yogyakarta, Surabaya, Bandung dan Manado.

Khusus untuk kader-kader WITT, Nita membuat pelatihan khusus yang baru saja diadakan di The Peak Apartement bulan Agustus lalu.

“Kita butuh pasukan lebih banyak yang tidak hanya Ibu-ibu dan perempuan. Tetapi harus ada kader yang laki-laki. Sekarang ada 60 murid dari SMP hingga Mahasiswa. Mereka siap jadi kader WITT.

Life Style Yang Berbahaya

Nita selalu memotivasi wanita untuk tidak merokok. “Bahayanya banyak sekali,” tegas Nita.

“Di dalam rokok ada 4000 bahan kimia yang berbahaya. Perokok wanita bisa terkena kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker gusi, kanker lidah, dan banyak sekali. Juga oesteoporosis, jantung dan bronkhitis. Penampilan juga kena imbasnya, muka cepat keriput, kuku kuning, gigi kuning, bibir hitam, tidak cerah dan lebih tua, tidak segar dan mulut berbau. Perokok wanita  lebih emosional karena mereka penuh ketergantungan,” ujar Nita

Merokok kerap dianggap sebagai lifestyle. Iklan televisi, menurut Nita, sering menjerumuskan wanita sebagai pecandu. “Iklan rokok itu pintar. Dia bikin rokok slim dengan warna yang sejuk, putih dan biru muda dengan kadar tar yang rendah juga rasa mild yang ringan. Ini sangat mempengaruhi pergaulan. Dianggap life style padahal salah besar,” tegas Nita bersemangat.

Tanpa kenal lelah, Nita mulai membidik Mal-mal di Jakarta untuk mengkampanyekan anti rokok.

“Kita buat road show Mal to Mal. Kita hadirkan Gubernur Sutiyoso dan beberapa selebritis. Kita sosialisasikan perda tersebut. Bukan melarang tapi kita hanya menempatkan para perokok di ruangan-ruangan khusus. Smoking Area yang harus menempel pengumuman bahaya merokok,” ujar Nita lagi.

“Semoga kegiatan ini mampu menyadarkan kita sehingga kita bisa menyelamatkan generasi bangsa. Karena dari merokok seseornag bisa terkena Narkoba dan HIV,” lanjut Nita tak kenal putus asa.

Aien Hisyam

*wawancara 5 September 2006*

October 13, 2012 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Dewi Yogo Pratomo

Gaya Hidup Hipnosis


Ingin berbuat lebih banyak, Dewi pun mendirikan Club Hypnosis Sehati. Ternyata, baru setahun lebih, CHS sudah melakukan 118 bakti sosial. Bulan ini, ia pun siap melakukan kegiatan besar, yang kelak akan dimasukkan dalam rekor MURI.


Ada canda ada pula keseriusan. Namun, suasana di dalam ruangan berhawa dingin itu, terbangun dengan sendirinya. Semua orang seolah terbawa ke alam lain, yang tercipta dengan ‘nyata’. Dewi, telah membawa dunia lain pada sugesti orang-orang di depannya. Sebuah dunia yang penuh ketenangan.

“Itulah hipnosis,” katanya, usai membuka kesadaran. Ia baru saja menyelesaikan mantra-mantranya. Di depan Dewi, beberapa wanita berusaha menghapus air mata. Yang lainnya, hanya duduk tercenung.

Dihipnosis, memang jadi satu sesi yang paling ditunggu peserta workshop hynotherapy. Ada rasa ingin tahu, bagaimana berada dalam satu keadaan, yang selama ini hanya menjadi pikiran, keinginan, hingga ketakutan dalam hidup mereka.

“Di dalam kehidupan negara-negara maju, hipnoterapi sudah bukan untuk orang sakit saja. Hipnoterapi sudah menjadi gaya hidup. Contohnya, Michael Schumacher, Steffi Graf, Vanessa William, hingga politisi, artis seperti Madonna, Tom Cruise dan banyak lagi, mereka punya terapis. Ada waktu satu hari, 2 X 45 menit hanya untuk di hipno. Bagaimana mereka memperbaiki perilaku supaya bisa the winning dalam mind set,” terang Dewi.

Dalam wadah Club Hypnosis Sehati yang didirikan Dewi satu setengah tahun silam, Hipnosis memiliki warna yang berbeda. Tidak lagi berbau mistik –seperti anggapan banyak orang-, justru menjadi kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.

Trauma Berkurang

Menjadi terapis hipnoterapi, bukanlah suatu kebetulan bagi wanita aktif bernama lengkap Dewi Yogo Pratomo. Bermula ketika ia kuliah di University of Maryland. Dewi memilih memperdalam dua bidang sekaligus, Keuangan dan Psikologi Industri. Lulus S1, wanita ini meneruskan pendidikannya dengan memperdalam Psikologi Perilaku Manusia (Human Behaviour), yang merupakan perpotongan disiplin ilmu Psikologi Industri dan Psikologi Murni Klinis.

Sampai suatu hari, Dewi bertemu dengan seorang profesor di Maryland yang memperkenalkan dunia hipnoterapi padanya.

“Saya juga beberapa kali jadi kelinci percobaan. Saya menemukan inside, setelah di regresi, trauma-trauma itu sudah mulai berkurang, aku mendapatkan pencerahan disitu. Aku merasakan ilmu ini bisa dijadikan suatu alat di profesiku. Kebetulan aku konsultan Sumber Daya Manusia,’ ujar Dewi.

Dewi mengakui bahwa dirinya juga pernah mengalami turbulensi dalam hidupnya. Dan saat itu dengan ilmu hipnoterapi yang telah ia kuasai, Dewi mampu bangkit kembali. Merasa tertolong dengan ilmu tersebut, Dewi yakin dia bisa membantu banyak orang. Inilah yang ia sebut multiplier effect. Membuat ia juga ingin menolong orang lain dalam memberdayakan batinnya, membuat orang menjadi produktif.

“Sebenarnya, dulu sudah banyak profesor dan psikiater yang menggunakan metode ini. Tetapi masih belum populer seperti sekarang. Dulu ilmu ini masih masuk grey area, apakah itu scientific atau tradisional. Kesininya baru bisa dijabarkan masuk ke dalam scientific dan bisa dicerna serta ada kaitannya dengan ilmu- ilmu medis,” ujar Dewi.

Banyak Cobaan Hidup

Sepulang dari Amerika, tahun 1987, Dewi bekerja di perusahaan pengeboran minyak di lepas pantai. Banyak sekali masalah yang dihadapi karyawan, dan segera butuh solusi.

‘Ternyata setelah memakai hipnoterapi ini, kita menasehatinya jadi seperti jalan tol. Resistensinya lebih sedikit, dan kita bisa merubah perilaku orang itu. Cara ini sangat efisien,” kata wanita kelahiran 10 Maret 1964, bersemangat.

Hipnosis, kata Dewi, sangat bermanfaat, efektif dan efisien digunakan orang. Dari atasan yang menasehati bawahannya, orangtua pada anak, hingga suami pada istrinya.

Sampai suatu hari suami Dewi memberikan pilihan hidup yang cukup berat. Tetap bekerja menjadi konsultan yang dalam 12 bulan hanya 4 bulan berada di rumah, atau berheti bekerja.

‘Jadi aku harus memprioritaskan hidup. Padahal aku tidak bisa nganggur. Di dalam pertapaanku, timbulah nuansa-nuansa, apa kegiatan yang bisa bermanfaat denan orang lain tanpa mengorbankan keluarga. Maka munculah praktek itu,’ kata Dewi.

Di rumahnya di kawasan elit Menteng, Dewi membuka klinik hipnoterapi yang ia beri nama ‘Cendana 4A’. Sayangnya, ijin praktek sulit keluar karena klinik Dewi berada di daerah pemukiman. Barulah pertengahan 2007 ia resmi membuka kantor dan klinik di Menara Kebon Sirih.

“Klien, ternyata terus bertambah. Ternyata, orang sudah mulai mengenal ilmu ini dengan baik,” kata Dewi.

Meski dibuka untuk umum, Dewi tetap memprioritaskan melakukan pengobatan untuk ibu, anak dan keluarga.

“Ada tiga hal yang dibutuhkan dalam hipnoterapi ini. Yang pertama harus ada hubungan timbal balik antara terapis dan pasien, paling tidak pasien harus percaya 100 persen dengan terapisnya. Yang kedua, pasien harus sadar kalau terapi ini jadi satu kebutuhan. Yang terakhir, pasien harus ada keinginan untuk berubah. Ini menjamin efektifitas hipnoterapi,’ terang Dewi.

Bakti Sosial 118 Kali

Melalui Club Hypnosis Sehati, Dewi ingin berbuat lebih banyak. Dengan rendah hati, Dewi mengatakan bahwa CHS lebih banyak melakukan kegiatan bakti sosial. Dalam satu setengah tahun, sejak CHS berdiri, Dewi beserta teman-temannya telah melakiuan 118 kali bakti sosial.

‘Baksos kita ini berbeda dengan baksos-baksos lainnya. Simpelnya, kita datang, peserta kita dudukkan, lalu kita hipno. Kalau anak-anak sekolah, manfaatnya bisa gampang menghafal sampai gampang belajar. Nilai-nilai rapotnya ternyata mengalami kenaikan yang siginifikan. Kalau ibu-ibu dhuafa, kita sugestikan untuk sehat dan tegar menjalani hidup. Lain lagi kalau panti wreda, kita pakai musik hipnonya agar jiwanya tenang,” jelas Dewi.

Selain menghipnosis, CHS yang beranggotakan lebih dari 100 orang ini, juga memberi santunan uang atau sembako, kesehatan atau pengobatan gratis, juga hiburan gratis.

“Pernah. Mereka kita ajak nonton di Mega Blitz rama-ramai. Seru banget deh,” ujar Dewi, senang.

Hypnobirthing Massal


CHS akan membuat gebrakan dalam memperingati Hari Ibu di bulan Desember ini.

“Awalnya, kita mau melakukan hipno massal pemecahan rekor MURI. Kita mau menghipnotis 2000 orang. Sayangnya setelah kita pikirkan matang-matang, kegiatan ini tidak efektif. Akhirnya kita ubah, bagaimana kalau kualitas kita tingkatkan tapi jumlah kita kurangi. Apalagi berkaitan dengan Hari Ibu. Lantas, kita spesifikan pada ibu hamil,” ujar Dewi.

Lantas, apa itu hypnobirthing?

“Ini satu proses pra persalinan untuk bisa menenangkan para ibu hamil menghilangkan rasa sakit saat si ibu persalinan. Lalu kita memperkenalkan rasa sakit itu apa, dan bagaimana memerangi rasa takut,” terang Dewi

Pada saat para ibu hamil ini di hipnosis, “mereka aku bawa ke proses persalinan. Aku giring mereka ke visualisasi yang mendekati aktual, pada saat mereka masuk ke ruang persalinan, pada saat operasi, ketemu dokternya. Dengan begitu, kita sudah melatih mental mereka hingga pada saat persalinan nanti, perasaan itu bukan jadi hal baru.’

“Kita sudah lakukan penelitian testimoni ke beberapa ibu yang telah di hipnoterapi saat hamil. Pada saat melahirkan mereka memang jauh lebih tenang, lebih fokus dan rasa sakitnya tidak terasa. Itulah keajaiban Tuhan yang ada di mind set orang,” lanjut Dewi, bersemangat.

Aien Hisyam

December 15, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Psikolog, Profil Wanita | 29 Comments

Noni Sri Ayati

Dulu Dipanggil Om-Tante

Di usia yang baru 37 tahun Noni mengepalai 20 ribu lebih karyawan yang 95 persen adalah pria.

Tentu saja tidak mudah baginya memimpin orang-orang yang dahulu ia panggil Om dan Tante ini. Usia diantara mereka terpaut jauh. Bahkan, tingkat pemahaman yang telah dibedakan oleh zaman, membuat Noni berhadapan dengan sejumlah  pekerjaan ‘rumah’ yang butuh kesabaran tinggi.

“Kuncinya adalah respek,” ujar Noni Sri Ayati Purnomo, B. Eng., MBA, sambil tersenyum.

Karet Gelang Dalam Minyak

Tahun 1997 Noni resmi bekerja full time di Blue Bird Grup. Ia dipercaya memegang satu departemen baru, Business Development, sebagai Vice President.

“Awalnya kita tidak punya departemen yang khusus menghandle perusahaan secara keseluruhan. Baik dari marketing strategy maupun corporate image-nya. Masing-masing jalan sendiri. Blue Bird berkembang seperti karet gelang dalam minyak tanah. Tiba-tiba besar sendiri,” ujar lulusan Universitas San Fransisco, USA bergelar Master of Business Administration, major in Finance and Marketing.

Gebrakan pertama, Noni membuat divisi humas.

“Kenapa baru sekarang dibuatnya? Karena dulu dianggap belum terlalu dibutuhkan. Sementara sekarang konsumen sudah mulai kritis dan perusahaan berkembang dengan cepat. Salah sedikit jadi sorotan. Jadi kita perlu humas,” ujar Noni yang sempat bekerja Jakarta Convention Bureau sebagai Market Research Officer untuk belajar ilmu marketing.

Humas atau hubungan masyarakat ini menjembatani masalah-masalah eksternal dan internal. “Bayangkan, disini ada 20 ribu orang lebih. Bagaimana kita mengkomunikasikan policy kita ke mereka kalau tidak ada humas?” lanjut ibu dua anak, Amanda dan Sasha.

Ia juga tidak peduli harus berhadapan dengan pemilik perusahaan yang juga orang tuanya, dr. H.Purnomo Prawiro dan Hj.Endang Basuki.

“Kita sering adu ngotot. Ayah juga sering protes dengan ide-ide baruku. Bagaimanapun orang baru lulus pasti punya idealisme sendiri. Kita punya ide banyak sekali tetapi saya sadar ada yang bisa diterapkan ada yang tidak. Akhirnya Ayah saya hanya bilang, ‘ya sudah coba saja. Nanti kamu akan belajar sendiri,” kata lulusan Universitas Newcastle, Australia bergelar Bachelor of Engineering bangga.

Noni sadar, selama ia kreatif, inovatif, dan berada dalam koridor yang benar termasuk tidak meminta bujet yang tidak terlalu besar serta tidak menyalahi norma-norma, Perusahaan tidak akan keberatan.

Gebrakan pertama yang dibuat Noni adalah membuat tiga proyek besar. Pertama menyangkut coorporate image, meliputi logo, iklan, marketing strategi dan humas. Kedua menyangkut TPM, berkait proses pengerjaan standart operating procedur (SOP), yang juga melakukan bisnis engineering dan memikirkan proses operasional sehari-hari. Dan proyek ketiga menyangkut IT (Teknologi Informasi) menggunakan project-project SAP.

“Sebagai Project Director, saya melakukan project besar di bidang infrastruktur dari segi IT-nya. Kita menerapkan sistem ARP untuk back office. Semuanya terhubung dengan teknologi, supaya kita bisa dapatkan data-data akurat. Jadi mulai dari administrasinya, bengkelnya, finance-nya, semua pakai SAP, terhubung ke pusat,” ujar Noni yang mengaku bangga dipuji Ayahnya membawa angin segar di Blue Bird yang telah berusia 35 tahun.

Bertugas Melayani

Noni sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Blue Bird Group. Ia sadar harus selalu siap dengan ide-ide kreatif dan hal-hal baru. “Maka dibutuhkan tim yang solid,” katanya.

Lantas, bagaimana ia menyikapi perbedaan mendasar di lingkungan pekerjaannya. Salah satunya dari faktor usia, mengingat banyak karyawan yang berusia jauh di atas usianya.

“Saya kenal mereka sejak masih kecil. Dulu mereka saya panggil om-tante. Jadi, menurut saya kuncinya adalah respek. Kalau kita merespek mereka, pasti mereka akan respek dengan kita. Kita tidak bisa mengharapkan mereka menerima kita dengan begitu saja . Pastilah ada ‘perasaan’ itu,” ujar Noni bijak

Walaupun kadang-kadang Noni masih mendengar guyonan, ‘Dulu kamu kan saya pangku-pangku.’ ‘Dulu kamu kan suka ngedot.’ ‘Dulu kamu kan tidak pakai baju’. “Dan itu diutarakan di depan orang-orang. Saya tidak marah. Saya pikir, itu berarti mereka merasa dekat. Yah sudahlah, kita anggap becanda saja,” kata Noni sambil tersenyum.

Walaupun di luar pekerjaan Noni masih memanggil dengan sebutan om dan tante, saat bekerja, rapat misalnya, ia tetap memanggilnya Bapak dan Ibu.

“Kalau mereka berbuat salah, ya sebisa mungkin saya tegur. Diatasi dengan cara bicaranya saja. Bagaimanapun juga orang yang lebih tua merasa, “saya kan berharga disini. Saya punya pengalaman lebih dari kamu. Kamu anak kecil mau tau apa sih.” Kalau kita sudah tahu pemikiran mereka, kita harus tahu bagaimana cara ngomongnya. Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya rasakan. Pasti kan nggak enak. Bagaimanapun juga ‘perasaan’ itu ada,” ujar Noni. Saat ini ia juga menjabat sebagai Director Sales & Marketing Golden Bird Bali & Bali Taksi, Director Pusaka Group, dan Koordinator Blue Bird Peduli

“Pak Pur (Ayahnya) selalu bilang, atasan itu harus jadi pelayan, bukan atasan harus dilayani. Kalau anak buahnya menemui kesulitan, ia harus dilayani oleh atasannya. Jadi kalau ada kesalahan-kesalahan anak buah, itu kesalahan atasannya. Kalau atasannya tidak bisa membantu bawahannya, jangan jadi atasan,” ujar istri Klaas Redmer Schukken sambil tersenyum.

Beasiswa 400 Juta

Puas sekali hati Noni. Satu kerja kerasnya kini berbuah manis.

“Program Blue Bird Peduli berkembang pesat. Saya koordinatornya,” jelas Wanita yang aktif sebagai Ketua Bidang Humas, Pengurus Pusat, Masyarakat Transportasi Indonesia.

BBP memberi beasiswa untuk seluruh anak-anak karyawan Blue Bird Group yang  tengah melanjutkan SMU, D1, D3 dan S1. Juga sunatan masal dan bantuan khusus anak-anak cacat, mulai dari kesejahteraan, penyuluhan dan pendidikan. Diluar itu BBP membantu sekolah-sekolah miskin bekerja sama dengan Yayasan Kurnia.

“Yang terpenting, seluruh karyawan Blue Bird, anak-anaknya bisa sekolah sampai tinggi. Mimpi dan cita-cita para orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa berpendidikan lebih dari mereka. Tidak harus berprestasi. Khusus yang berprestasi akan kita beri bonus,” ujar Noni.

Tahun ini tercatat 3000 lebih anak yang diberi beasiswa BBP. Total biaya yang dikeluarkan setiap enam bulan adalah lebih dari 400 juta rupiah. “Anak-anak selalu menjadi prioritas. Apa lagi yang bisa kita berikan kalau tidak membahayakan anak-anak kita?” ujar wanita kelahiran Jakarta 20 Juni 1969.

Aien Riyadi

December 7, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 5 Comments

Inti Nusantari Subagio

Adicction Bukan Aib

 

 

Selasa dua pekan lalu ketika dihubungi, dia sedang berada di Singapura. Rabu pekan lalu, ketika akhirnya ia ada di Indonesia, wanita ini Inti tidak bisa berlama-lama menerima telepon.

“Maaf saya sedang ketemuan dengan Pak Ical (Aburizal Bakrie). Siangan, telepon lagi saja ya?” pintanya.

Siang hari, “Aduh, maaf. Saya sedang di rumahnya Pak Ginanjar (Ginanjar Kartasasmita). Gimana kalau telepon sorean?” kembali Inti meminta waktu.

Di sore hari, suara Inti terdengar lebih santai. “Hari ini memang sangat padat. Tapi, oke lah, kita ketemuan Senin siang. Kebetulan saya free di hari itu,” ujar Inti penuh semangat.

Senin pekan lalu ketika akhirnya kami bertemu, Inti seperti tak terbendung. Ceritanya mengalir kemana-mana, ke berbagai hal, dari barang antik, urusan bisnis, pergaulannya sesama sosialite hingga kegiatannya di sosial. Gambaran kesibukan dirinya yang luar biasa.

‘Ibu’ Para Pecandu

Inti memang selalu penuh kejutan. Suatu hari, ia pernah dijumpai di acara sosialite. Ketika bertemu lagi, ia ada di pasar tradisional Rawa Bening di Jatinegara sedang memilih-milih batu permata. Ia juga sering terlihat di acara WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), di kegiatan Yayasan Asma Indonesia, hingga yang berurusan dengan Narkoba.

“Berurusan dengan pecandu, itu makanan sehari-hari saya,” kata wanita berparas ayu ini sambil tersenyum.

Ia bercerita, pernah suatu malam dirinya ditelepon dari kantor polisi. “Katanya ada anakku yang terjaring bawa Narkoba. Kok bisa?, padahal, anak-anakku tidak ada satupun yang terkena Narkoba,” ujar Inti.

Bingung tapi ingin tahu. Walaupun sempat dilarang suami ke kantor polisi, Inti akhirnya pergi juga ditemani anak tertuanya.

“Ternyata, pelakunya anak didik saya di pusat rehabilitasi. Nangis-nangis dia minta dikeluarin. Yah sudahlah, mau gimana lagi, awalnya polisi minta tebusan ratusan juta, setelah diskusi, mereka mau terima 5 juta sebagai uang jaminan,” ujar Inti sambil geleng-geleng kepala.

Puluhan cerita memang menjadi warna-warni kehidupan ibu tiga anak ini.

“Itulah resikonya. Sejak saya putuskan terjun ke dunia rehabilitasi narkoba, berarti saya harus siap dengan segala hal yang akan terjadi,” kata Inti.

Diakui Inti, awalnya ia sama sekali tidak menahu tentang narkoba.

Tahun 1998 temannya berkeluk kesah tidak adanya tempat rehabilitasi yang bisa menampung para pecandu yang pulang dari rehabilitasi di Malaysia.

“Dia tanya, ‘In punya rumah kosong nggak. Ada rehabilitasi di Malaysia butuh tempat di Indonesia. Sistemnya, sebelum pulang ke rumah harus ada masa transisi dulu.’ Saya pikir, walaupun waktu itu saya tidak tahu apa-apa, yah sudah nggak apa-apa,” ujar Inti.

80 Persen Anak Indonesia

Saat ini Inti yang menjabat Staf Ahli Badan Narkotika Nasional.

“Life is mistery. We never know, kemana kita ini akan berlabuh. Saya juga tidak tahu alasan apa saya mendirikan FAN CAMPUS. Tetapi itu tidak penting, ang terjadi adalah, kita harus menjawab tantangan yang ada di masyarakat. There is a problem. Kita harus atasi,” katanya.

FAN CAMPUS atau For All Nation berdiri akhir 1998.

“Awalnya saya sediakan rumah singgah bagi anak-anak yang baru menyelesaikan rehabilitasi di Yayasan Pengasih di Kuala Lumpur Malaysia. Bayangkan 80 persen penghuninya anak-anak Indonesia. Sementara disini orang masih malu-malu mengakui anaknya terkena Narkoba. Padahal, banyak dari mereka adalah anak-anak petinggi atau dari kalangan atas. Mereka mau ngumpetin tapi tempatnya belum ada. Waktu itu drug belum menyentuh kalangan bawah,” cerita wanita yang juga komisaris di tiga perusahaan besar..

Lambat laun, kepedulian Inti akan masalah Narkoba kian bertambah.

“Saya perluas lagi FAN CAMPUS. Tidak hanya sekedar menjadi tempat singgah, tetapi juga menjadi pusat rehabilitasi,” ujarnya. Tidak tanggung-tanggung, ia memakai tanahnya di daerah Cisarua seluas 5 hektar menjadi tempat rehabilitasi.            

“Saya yakin, bahwa tidak sekedar pepatah. Nasib kita dan hidup kita merupakan cerminan dari pola pikir kita. Saya yakin pasti bisa, pastilah bisa. Dan saya tidak terlalu terbebani. Dari pada tidak berbuat sesuatu,” ujarnya tentang keputusan terjun membuka pusat rehabilitasi di dua tempat, termasuk di kawasan Lebak Bulus.

Metode Therapeutic Community

“Ini bukan kerja negatif. Saya justru aktif menyuarakan Adicction adalah bukan aib. Yang aib adalah perilaku yang menyertai ketergantungan ini. Misalnya demi memenuhi ketergantungan ini mereka harus menjual diri, mencuri. Adicction adalah sesuatu penyakit yang sangat mengerikan saya kategorikan sebagai penyakit sangat komplek,” kata wanita kelahiran 30 September 1949.

FAN Campus menerapkan metode Therapeutic Community (TC). TC dikembangkan oleh organisasi sosial yang dikenal dengan sebutan DAY TOP, berkantor pusat di kota New York, Amerika Serikat. Metode ini sangat dikenal di seluruh dunia karena tingkat keberhasilannya yang tinggi.

Setiap hari, para penghuni rehabilitasi mempraktekkan hidup sehat dan harmonis dalam suatu komunitas yang sangat terjaga rasa persaudaraan.

“Metode ini juga menekankan pentingnya pelatihan kedisiplinan dan kepatuhan dengan pemahaman. Kita berharap, mereka bisa keluar dengan kondisi benar-benar bebas narkoba,” kata Inti yang aktif dua kali seminggu menengok anak-anak didiknya.

Sebagai aktifis masalah-masalah Narkoba, Inti melihat masalah adiccting bukan sebagai persoalan fisik semata. “Melainkan sudah lebih sebagai masalah interaksi antara biologis, psikologis, emosi, spiritual dan sosial,” lanjutnya.

Oleh karena itu, setiap pecandu yang ingin terbebas dari ketergantungan, harus melalui dua tahapan rehabilitasi

“Yang pertama disebut masa entry and induction phase. Masa ini dijalani selama 3 hingga 4 minggu. Yaitu masa obeservasi dan penilaian terhadap perilaku. Memulai perubahan awal,” terang Inti.

Selanjutnya, pecandu memasuki masa Primary Phase, yang dijalani selama 6 sampai 9 bulan yang bertujuan penstabilan dan peningkatan perubahan serta pembentukan perilaku. Barulah pecandu melewati Re-entry Phase selama 6 bulan. Tujuannya untuk penanaman kembali norma-norma dasar dan perkembangan pribadi dan Persiapan untuk kembali ke dunia luar. Masa-masa ini dilalui di asrama.

Lepas dari asrama, barulah mereka menjalani proses Aftercare Phase yang dilalui selama 12 bulan setelah kelulusan dari program-program tersebut.

“Anak didik sudah bisa tinggal dengan orang tua dan keluarga. Kita hanya memonitor proses pemulihan, mempertahankan norma dasar yang telah dipelajari, mendukung gaya hidup bersih/sober dan pencegahan kekambuhan,” kata wanita yang juga penasehat Kowani ini..

Pernah suatu Inti membuat penelitian tentang penyalahgunaan Narkoba.

“Dari 100 residen (penghuni rehabilitasi), lebih dari 74 persen mereka kenal Narkoba saat masih di SMP dan SMA. Parah-parahnya awal mahasiswa. Jadi sebagian besar residen kita anak-anak muda yang awal-awal mahasiswa. Karena itulah, penting sekali kita menyelamatkan anak-anak kita. Jangan lengah sedikit pun. Saran saya, ciptakan hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, saling mencintai, dan perhatian. Perlu sekali adanya keterbukaan,” tegas Inti.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Ika Twigley

‘Sekarang, Mereka Anak Kami’

 

 

Tanggal 11 Juli Silam, DPR mengesahkan UU Kewarganegaraan (UUK) yang terbaru. Menjadi babak baru bagi kehidupan perkawinan campur di Indonesia.

Ika Twigley tersenyum puas. Bahkan sangat puas. Bertahun-tahun berjuang demi kewarganegaraan anaknya, akhirnya berbuah manis. “Sekarang, mereka anak kami,” kata Ika dengan senyum terharu.

Bersama empat teman dekatnya, Ika berjuang melalui Keluarga Perkawinan Campuran Melalui Tangan Ibu (KPC Melati) ‘melawan’ pemerintah untuk segera mensahkan UU Kewarganegaraan baru dengan pasal-pasal dan ayat-ayat yang lebih ‘memanusiakan’ para istri dan anak.

“Bayangkan, dulu, setiap tahun aku harus mendaftarkan anakku ke Polda untuk memperpanjang Surat Keteranan Lapor Diri (SKLD), juga harus ke kantor Imigrasi untuk memperpanjang KITAS. Wah ribet sekali. Amat melelahkan,” ujar wanita Sunda-Batak ini bersemangat.

Round Table Discussion

Di sebuah lounge Hotel JW Marriot, Ika mengutak-atik laptop miliknya. Terkadang dahinya berkerut, dan kemudian suaranya menggelora mengomentari pasal-pasal yang ia baca.

“Karena harus berurusan dengan hukum, aku jadi kuliah lagi. Jangan sampai, kita kelihatan bodoh bicara hukum sementara yang kita perjuangkan adalah Undang-undang Kewarganegaraan,” kata Ika Nurzanah, 37, yang saat ini sedang menempuh kuliah di Universitas Pancasila fakultas Hukum.

Selain itu, lanjut Ika, “Kerjaan DPR itu sangat banyak. Dan tidak ada gunanya kalau kita hanya meminta tanpa kasih usulan. Oleh karena itu, sebelum maju ke DPR, kita juga melakukan round table discussion. Mengundang pakar-pakar hukum, ahli tata negara untuk mencari masukan. Agar kita dapat pandangan baru, memperluas wawasan,” kata Ika bersemangat.

 Kondisi itu membuat Ika tidak malu bertanya. Setiap hari ia bahkan disibukkan dengan pekerjaan baru, melahap buku-buku tebal tentang UUK dari beberapa Negara. Apabila ada pasal-pasal yang bisa diterapkan di Indonesia, Ika langsung berdiskusi dengan teman-temannya di KPC Melati.

“Jadi, jangan heran kalau kita yang ada di KPC Melati hampir semuanya  hafal dengan pasal-pasal dan ayat yang terdapat di Undang-Undang tersebut,” ujar Ika bangga.

“Jangan pandang kini ini Ibu-ibu doang tapi tidak bisa berbuat banyak,” ucap wanita kelahiran 8 Oktober 1969 ini sambil tersenyum.

Derita Korban KDRT

Saat ini KPC Melati tengah menunggu tahap akhir proses ‘peng-gol-an’ UUK Nomor 12 tahun 2006 yang terdiri dari 8 bab dan46 pasal. “Kita tinggal mengawal dan mengawasi Kepmen (Keputusan Menteri) dan PP (Peraturan Pemerintah). Pemerintah akan undang panitia kecil dari KPC Melati untuk berdiskusi lagi. Karena yang terkait dengan UU ini sangat banyak, termasuk pihak Imigrasi dan Kepolisian,” kata Ika.

Namun, Ika cukup puas. Terhitung tanggal 11 Juli lalu, anak-anak hasil perkawinan wanita Indonesia dengan pria asing langsung tercatat sebagai Warga Negara Indonesia.

“Kecuali anak-anak yang lahir sebelum tanggal 11 Juli masih harus ikut pasal 41 di Undang Undang tersebut. Mereka punya dua kewarganegaraan, Indonesia dan warga negara Ayahnya. Barulah di usia 18 tahun ia berhak memilih warga negara yang ia inginkan. Pemerintah akan memberi jangka waktu 3 tahun hingga usia 21 tahun untuk berpikir,” ujar ibu dua anak, Talitha Twigley (5) dan Liam Ibrahim Twigley (2,5)

Bukan hanya masalah anak. Keluhan terbesar di para wanita bersuamikan pria asing justru masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

“Yaitu KDRT yang dipertahankan dalam rumah tangga. Itu tidak sehat. Ini akibat payung hukum yang tidak melindungi, maka mereka akan melakukan segala hal termasuk mempertahankan rumah tangga agar si Ibu tidak terpencar dengan anak-anaknya,” ujar Ika yang sering menerima keluhan dari anggota-anggota KPC.

Apabila istri meminta cerai, maka ia akan kehilangan hak asuh terhadap anak-anaknya. Semua anaknya akan di deportasi keluar dari Indonesia mengikuti Ayahnya.

“Kasihan sekali. Banyak teman-teman kami mengalami nasib seperti itu,” ujar Ika.

Padahal, lanjut wanita cantik ini, “Yang namanya Ibu, kedekatan dengan anak itu luar biasa. Darah daging kita tanpa bermaksud mengecilkan peran Ayah. Dan beda sekali attach antara Ibu dengan anak dibanding anak dengan Ayahnya. Nah, selama ini tidak adanya perlindungan dalam kepastian hukum serta keadilan dalam UU kewarganegaran sehingga kasus-kasus ini banyak sekali terjadi baik di Indonesia maupun Luar Negeri,” kata Ika.

Seputih Bunga Melati

Peliknya masalah perkawinan campur membuat Ika bersama Enggi Holt, Diah Kusdinar, Mery Girsang dan Marcellina membentuk KPC Melati.

“Resmi berdiri bulan Februari 2006 lalu, setelah tercatat di Notaris,” ujar Ika.

Dipilihlah nama Melati karena menurut Ika, melati adalah bunga berwarna putih dan mungil yang menebarkan wangi yang harum semerbak. Putih melambangkan kesucian.

“Selain itu, tanamannya yang kuat dan kokoh serta merambat dengan menghasilkan ratusan bunga merupakan lambang persatuan dan kesatuan yang abadi,” kata Ika.

KCP Melati kelak berharap bisa menjadi satu wadah yang bisa memperjuangkan hak-hak pelaku perkawinan campuran di jalur hukum.

“Sekarang saja, setiap hari aku bisa terima telepon pulahan jumlahnya. Mereka sangat bahagia dengan disahkan-nya UUK ini,” ujar wanita bersuamikan Chris Twigley asal New Zealand ini bangga.      

Ada hikmah yang bisa dipetik Ika dari seluruh kerja keras yang telah dilakukan KPC Melati selama 10 bulan berjuang meng-gol-kan UUK

“Semua kerja keras ini butuh kesabaran dan niat hati yang tulus. KPC Melati berusaha dengan hati nurani yang berbicara. Karena itu saya yakin pasti berhasil, Karena kalau kita berjuang dengan suatu ketulusan, Insya Allah Tuhan akan mengabulkan. Itulah hikmah yan bisa dipetik. Lakukan sesuatu dengan hati nurani yang bersih. Tanpa hidden agenda atau strategi-strategi salig merugikan satu sama lain,” ujar Ika bijaksana.

“Bagi saya tidak perlu harus pakai barang-barang branded, walaupun kita mampu membelinya. Lebih baik uangnya dibelikan laptop untuk kerja kita memperjuangkan UUK. Juga untuk mendanai KPC agar perjuangannya tidak sia-sia. Anak-anak kita membutuhkan kerja keras kita, butuh perlindungan hukum agar mereka bisa hidup dengan tenang,” kata Ika lagi.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial | Leave a comment