Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ratih S.A. Loekito

Bekerja Dalam Hening

Disaat yang lain tertidur pulas, Ratih bercanda dalam belantara. Tidak ada kata malam atau siang. Ia senang akan keheningan. Bekerja demi kebahagiaan orang lain.

 

Duduk di atas puing, Ratih menatap sekumpulan anak yang menangis.  Tsunami dan gempa menimbun semua harapan. Hari-hari wanita ini-pun berubah.

“Di Meulaboh, setiap orang sudah lelah menangis. Sekarang, mereka harus berpijak. Melihat kenyataan, dan bangkit kembali,” ujar Ratih suatu hari.

Peluh membasahi wajah. Terik matahari sudah berhari-hari membakar kulitnya. Ratih tetap ayu dalam kelelahannya.

Wanita Modern

Dibawah bendera Tanoto Foundation, Ratih masuk kedalam wilayah-wilayah terkena musibah gempa dan tsunami. Ia hanya dibantu segelintir orang.

“Hanya sebulan sesudah musibah kita bergerak. Kita kumpulkan orang-orang untuk membantu. Kita bangkitkan semangat hidup mereka. Bangun kembali yang tersisa. Bahwa hidup itu terus berjalan,” kata Ratih di suatu siang, di warung kecil dekat pelabuhan udara kota Meulaboh-Aceh.

Wanita bersuara lirih, ramah, dan hangat, berbulan-bulan ‘berkantor’ di kota kecil yang porak poranda. Profesi menempatkannya di tengah-tengah warga yang haus masa depan. Hasilnya, satu Sekolah Dasar berdiri megah. Lengkap dengan sarana dan prasarana.

Tidak berhenti disitu. Direktur Eksekutif Tanoto Foundation ini kembali berjuang di Pulau Nias. Berbulan-bulan ia ber‘kantor’ di pulau terpencil.

Setiap malam, Ratih dan beberapa temannya bercengkrama dalam sepi. Kadang dalam gelap. Itu membuatnya semakin merasa memiliki.

Ratih, wanita Jakarta modern. Di balik segala yang gemerlap, ia sering merasa ingin mencari tempat sunyi dan jauh dari hiruk pikuk. Di tempat-tempat ini ia merasa menjadi diri sendiri. Ia bukan Ratih yang memimpin sebuah yayasan besar. Ia juga bukan Ratih yang sejak pagi hingga malam sibuk dengan urusan meeting atau menerima tamu-tamu penting.

Di Pedalaman Kalimantan

Lulusan Intistitut Teknologi Bandung jurusan Pertambangan ini senang travelling.

“Sebelumnya, saya di LSM Dana Mitra Lingkungan. Sebenarnya antara keduanya tidak ada kaitan sama sekali. Tetapi ada benang merahnya. Di tempat kerja yang lama, kita sering melakukan edukasi ke masyarakat dan anak-anak sekolah, agar lebih aware dengan lingkungan sekitar,” kata wanita bernama lengkap Ratih SA Loekito.

Tahun 2005 ia bergabung di Tanoto Foundation, yayasan milik pengusaha Soekamto Tanoto yang fokus di dunia pendidikan. Alasan Ratih, ia sedih melihat SDM di Indonesia masih lemah di sisi pendidikan.

Pernah Ratih masuk ke pedalaman Kalimantan Timur. Ia sedih. Dilihatnya pendidikan anak-anak suku pedalaman jauh tertinggal.

“Saat itu saya sedang lakukan kegiatan berorentasi pada lingkungan. Masuk ke sekolah-sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Kalau hal yang berkaitan dengan lingkungan harus dipupuk dari kecil. Tidak bisa ujuk-ujuk setelah dewasa. Kalau masih kecil pelan-pelan sudah tertanam lama-lama, maka jadi kebiasaan,” kata Ratih.

Ratih juga singgah ke Kabupaten Kutai Barat. Tempat yang sangat terpencil.

“Bangunan fisik sekolahnya memprihatinkan. Level SMA tapi tidak punya laboratorium. Kendalanya selalu klasik, masalah dana. Kalau saya bilang, oke masalah dana iya, tapi kita tidak boleh tergantung oleh dana saja, kita harus kreatif dong. Dimana dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa mengajar dengan tepat dan benar. Sebenarnya alam bisa mengajarkan banyak hal pada kita untuk belajar dan berpraktek,” kata mantan asisten dosen ini.

Lain kisah di Mahakam. Di satu pulau kecil, “Saya lihat satu SD dan SMP gurunya hanya 2 orang. Suami istri pula. Dia ngajar anak-anak dari pagi sampai siang. Sabtu pagi mereka ke ibukota kecamatan untuk ketemu keluarganya. Anak-anak si pasangan ini di ibukota kecamatan,” cerita Ratih.

Untuk menuju pulau itu, Ratih naik boat atau ketinting selama 2 jam.

“Nah, kita bisa lihat bagaimana mereka jadi guru demikian sengsaranya. Dedikasinya dan kesetiaan pada profesinya mau berkorban,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang, 7 April 1963.

Tak Peduli Jabatan

Di Tanoto Foundation Ratih bisa leluasa mengeluarkan semua kontribusinya untuk dunia pendidikan.

“Seperti motonya, reducing poverty, advancing human achievement dimana diharapkan dengan makin meningkatnya SDM akan memerangi tingkat kemiskinan. Kalau kita makin pintar kita akan survive dalam hidup,” katanya.

Ibu satu putri, Audrey A. Cr. Van Waardenburg ini tak segan turun ke lapangan.

“Kayaknya saya merasa lebih nyaman terjun langsung. Kalau ada konsep lebih sreg saya harus ikut realisasinya. Kalau saya ikut, disitu saya jadi tahu mana-mana saja yang harus dikoreksi dan ditingkatkan lagi. Gatal saja,” Ratih tertawa lepas.

Ia bukan tipe wanita belakang meja. Rela berhari-hari di tempat terpencil.

“Dari dulu saya tidak pernah peduli jabatan. Yang lebih aku pentingkan, kalau kita membuat sesuatu yang benar, kita harus bisa terjun. Sehingga kita tahu kondisi di lapangan. Saya rasa tidak ada yang istimewa, yang penting segala sesuatunya lancar,” katanya bijaksana.

Di tempat itu, istri Budhy Ch. Van Waardenburg bisa menemukan keseimbangan hidup.

“Di Jakarta, orang-orang sangat konsumtif dan materialistik. Segala sesuatu dinilai dengan uang. Kalau kita ke daerah-daerah, kita disadarkan bahwa uang bukan segalanya. Banyak cara lain yang bisa diraih untuk membahagiakan diri kita,” kata Ratih lagi.

Kontemplasi Sisi Kehidupan

Wanita ini sering merenung. Betapa beruntung dirinya.

“Di sana (daerah terpecil) kita melihat masih banyak orang yang kurang beruntung,. Mereka cukup kuat dengan hal yang sederhana. Bisa bahagia dan kita juga melihat bahwa segala sesuatu tidak dilihat dari sisi materi. Pemikiran mereka amat sangat sederhana, tidak njlimet. Yang penting keluarga bisa cukup makan dan anak bisa sekolah,” komentarnya.

Dalam kesunyian alam pedesaan, Ratih melakukan retrait, “juga kontemplasi melihat bagaimana sisi kehidupan orang selain yang biasa kita temui di Jakarta. Saya pernah ke Sumbawa, Lombok, seputar Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan Utara. Pedalaman di Sumatera. Kita 3 bulan di pedalaman Bengkulu.  Juga ke Kutai Barat, Kutai Timur dan di Kertanegara,” kisahnya.

Bagi anak sulung Loekito Rekso Sumitro, petinggi di Dirjen Pertambangan, setiap orang perlu peyeimbang hidup. Caranya, melebur denagn alam dan masuk dalam kehidupan pedesaan.

“Coba dulu, dan rasakan. Disana, kita akan temukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujarnya dengan senyum.

 

Aien Hisyam

*wawancara 15 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pecinta Lingkungan, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Perucha Hutagaol

Serunya Memecahkan Misteri

Ala backpacker, Ucha menjelajahi 37 negara. Ia enjoyed karena dengan biaya murah, ratusan tempat bisa ia kunjungi.


Menjadi backpacker, kata Ucha, tidaklah mudah. Kondisi itu digambarkan dalam buku Ucha berjudul ‘The Naked Traveler’ –selanjutnya, Ucha memplesetkan; The Nekad Traveler. Buku yang pengarangnya ditulis dengan nama Trinity. “Saya terisnpirasi dengan tokoh Trinity di film Matrix,” jelas Ucha, singkat.

Banyak yang terkagum-kagum dengan kenekatan wanita single ini. Bayangkan. Ia sendirian ‘berwisata’ ke puluhan negara, berbekal uang yang terbatas, dan cuek saja bila harus menginap di hostel (penginapan murah) yang satu kamar bisa memuat 10 tempat tidur, dan Ucha perempuan satu-satunya.

“Kepuasannya beda. Kalau kita jalan sendiri, kita bisa datang ke tempat-tempat yang benar-benar menarik buat kita. Pengin ke pantai, ya kita ke pantai. Pengin ke gunung, ya kita bisa ke gunung. Tanpa ada ikatan. Beda kalau dengan tour leader, jadi tidak ada pilihan,” katanya.

Proposal di Libur Panjang

Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya. Ungkapan yang sama di kehidupan Ucha dan keluarga.

“Bapak polisi dan Ibu bekas Menwa (Resimen Mahasiswa). Jadi dari kecil, keluargaku suka pindah-pindah. Ditambah lagi, waktu masih kecil, kita suka liburan bareng ke tempat yang aneh-aneh. Misalnya, kalau banyak keluarga liburan ke Bandung, kita justru ke pantai Pelabuhan Ratu, ke tempat yang asing buat kita. Jadi, sejak kecil kita suka diajak berpetualang,” kenang wanita kelahiran 11 Januari 1973.

Ibunya pun kerap memancing rasa ingin tahu anak-anaknya. Setiap kali tugas ke luar negeri, Ibu Ucha, Liya Djajadisastra, mengirim postcard-postcard cantik.

“Dulu waktu kecil, pengin sekali lihat salju. Suka membayangkan, seperti apa ya gunung es itu? Kayak apa ya rasanya ke negara orang lain? cuma  waktu kecil, saya nggak pernah diajak ke luar negeri,” ujar Ucha sambil tertawa lepas.

Di bangku SMP, Ucha mulai tidak tertarik turut serta di acara piknik keluarga. Orang tuanya, RB. Hutagaol dan Liya, juga tidak bisa mengantar-ngantar anak-anaknya berlibur.

“Akhirnya kalau liburan, ibu bilang, “ya sudah bebas berlibur, tapi kamu bikin proposal. Tulis keinginanmu mau kemana, biayanya berapa, dan sama siapa.”  Dan hebatnya, Ibu selalu meng-acc proposal-proposal kita. Sekarang saya berpikir, ternyata kami sudah dimenej sejak kecil,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini, senang.

Meski usia baru belasan tahun, Ucha pernah berwisata bersama teman-teman sebaya ke Bandung, Sukabumi, dan banyak lagi.

Nekat ke Luar Negeri

Jiwa petualang Ucha, juga terasah di kegiatan Pramuka, PMR dan Pecinta Alam. Meski ia sering berpetualang mendatangi kota-kota di Indonesia, Ucha mengaku tak cukup puas.

“Ingin sekali bisa ke luar negeri,” katanya, singkat.

Hanya saja, lanjut Ucha, untuk ke luar negeri ongkosnya sangat mahal. Mulailah, di tahun 1995, disaat usianya baru 22 tahun, Ucha mencari cara-cara yang murah agar bisa ke luar negeri.

“Terus saya lihat bule-bule yang ada di Jalan Jaksa (tempat mangkal backpacker di daerah Jakarta Pusat). Saya mikir, kok bisa ya mereka sampai ke sini, padahal mereka juga baru saja kerja dan lulus SMA. Uang pun terbatas. Bahkan ada yang tukang pos. Ternyata, mereka selalu cari yang murah. Mereka tidak tinggal di hotel, juga cari tiket selalu yang paling murah,” ujar alumnus Asian Institute of Management, Makati, Philippines bergelar Master in Management..

Saat itu, Ucha belum mengenal istilah backpacker.

Ucha juga masih berstatus karyawan. Ia pernah menjadi part timer di Mac Donalds, pernah menjual kartu-kartu previllege hotel, menjadi LO,  dan mengajar  bahasa Indonesia untuk ekspatriat.

“Nah, barulah, setelah punya uang sedikit, jalan deh,” katanya, senang.

Ucha ingat betul saat pertama kali berpetualang ala backpacker.

“Saya ke agen-agen travel. Ngembatin (mengambil) brosur-brosur. Waktu itu saya juga kenalan sama orang, dan dikasih tahu cara-caranya menjadi backpacker,” kenang Ucha.

Ia ditemani seorang teman yang punya saudara di Belanda. Ia urus sendiri visa di kedutaan besar. Karena belum ada Uni Eropa, khusus untuk mengurus Visa, Ucha mendatangi satu persatu kedutaan. Waktunya, sampai 1 bulan, hanya untuk apply Visa.

“Akhirnya, tahun 95, untuk pertama kalinya saya ke Eropa,  selama 1,5 bulan. Keliling mulai dari Inggris, Belanda, Belgia, Luxemberg, Perancis, Ceko dan Jerman. Dan saya puas bisa berkeliling ke puluhan tempat, karena saya hanya mengeluarkan biaya yang sangat minim,” ujar Ucha.

Trik Ala Backpacker

Pengalaman pertama ke luar negeri, tentu saja sangat berkesan.

“Saya bikin kartu pelajar Internasional. Di sana pelajar masuk museum, nginep, beli tiket kereta, semua dapat diskon. Saya juga beli tiket Eurail Pass, atau tiket terusan naik kereta di Eropa. Di sana ada buku-buku yang dikasih gratis, dan ada petunjuknya dengan jelas. Jadi, saya merasa tertolong,” kenang Ucha yang saat ini bekerja di PT. Excelcomindo Pratama Tbk.

Ditambah lagi, Ucha kerap melakukan perjalanan di kala musim winter, dimana orang-orang enggan melakukan perjalanan jauh. Katanya, saat itu harga-harga banyak yang turun.

Biaya yang dikeluarkan Ucha sangat minim. “Dulu, tiket pesawat masih 600 US Dollar dengan kurs masih 2000 rupiah. Menginap di hostel juga sekitar 10 dolar satu malam,” jelas Ucha.

Orang Eropa memang terbiasa melalukan perjalanan. Ucha punya pengalaman berkesan. Saat ia melakukan perjalanan dari Belanda ke Perancis, “sampai di Paris, ada subway. Kita nggak tahu, seperti apa metro bawah tanah itu. Kita juga bingung baca petanya. Warna ini kemana, warna itu kemana. Dan lagi, tourism information-nya tidak bisa bahasa Inggris. Kita benar-benar seperti memecahkan misteri,” Ucha mengenang pengalamannya.

Menginap pun, Ucha tak berharap lebih.

Backpacker menginapnya di hostel (satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, biasanya model bertingkat disebut bunk bed). Waktu di Eropa, pernah saya nginep ada 10 tempat tidur, 5 bunk bed. Saya cewek sendiri, dan satu-satunya dari Indonesia. 9 lainnya, cowok. Saya biasa saja. Mandi pun pakai shower yang digabung dengan yang lain. Waktu itu di Scotland. Yah, mau gimana lagi?,” ucap Ucha sambil mengangkat bahu.

Biasanya, lanjut Ucha, di satu tempat, ia berkenalan dengan orang lokal. Selalu saya tanya, “eh, kamu kalau hang out dengan teman-teman dimana?” nah dari situ, diajaklah saya ke satu tempat yang selalu berkesan.”

Seluruh pengalaman Ucha selama 13 tahun berpetualang, ditulis dengan lengkap di dalam buku bersampul biru, ‘The Naked Traveler’. Tak hanya petualangannya di luar negeri, tapi ada juga cerita-cerita menarik Ucha saat ber-traveling di kota-kota Indonesia.


Terpenting, Pakai Feeling!

Menulis Buku…

Itu tidak sengaja. Dari dulu saya memang suka menulis. Awalnya, saya hanya membuat catatan harian setiap kali saya traveling.  Saya ketik, dan saya bagi-bagikan ke teman-teman. Setiap saya pulang, oleh-olehnya begituan. Ada teman  yang bikinkan blog. Saya sih gaptek. Akhirnya saya tinggal posting-posting tulisan saya. Karena yang hit banyak, akhirnya ada penerbit yang tertarik membuat bukunya. Saya bikin blog tahun 2005, dan tahun 2008 bukunya diterbitkan.

Kuncinya Menjadi Backpacker…

Hanya satu. Rajinlah menabung. Ditambah lagi, saya tidak suka belanja, tidak suka dandan, dan tidak suka beli baju-baju bermerek. Punya uang, saya jalan. Yang terpenting adalah bisa memenej diri sendiri. Menghadapi situasi dan orang, kita harus pakai feeling. Misalnya kita bertemu orang yang ngomongnya manis sekali, justru kita harus curiga. Kita juga harus banyak bertanya dan punya toleransi yang tinggi. Misalnya tidur di hostel, dengan banyak orang, ada yang ngorok, ada yang bau, dan sebagainya. Prinsipnya, ada harga ada mutu. Kalau mau gembel ya fasilitas gembel. Ekspektasi jangan terlalu tinggi. Memang tidak mudah, tapi kepuasan disitu sangat besar.

Menjadi Backpacker Selamanya…

Justru baru saja kemarin saya pikirin. Gimana ya kalau saya jadi orang kaya, apakah saya masih tetap jadi backpacker. Mungkin faktor umur berpengaruh, pasti sudah tidak selincah dulu. Atau sistemnya bisa seperti ibu saya. Dia ‘terbang’, terus dia cari tur lokal. Itu jauh lebih murah. Ibu sampai sekarang masih suka jalan. Ibu suka jalan sendiri, kadang sama adik saya. Kadang-kadang kita suka ketemuan di luar. Saya pernah ke Finlandia, Ibu ke Rumania, kita ketemu di Austria. Kalau saya nginepnya di hostel, beliau nginapnya di hotel bintang tiga.


Kisah Unik Backpacker Wanita

Banyak kisah menarik yang terjadi, selama Ucha berkeliling ke luar negeri ala backpacker.

“Di Athena (Yunani), saya yang tukang nyasar memilih untuk mengikuti walking tour ke Acropolis yang terletak di atas bukit dan situs-situs lainnya yang terletak di kota tua dengan jalan-jalan yang ruwet dan sempit. Semalam sebelumnya, saya sudah deg-degan membayangkan harus kejar-kejaran jalan sama bule-bule jangkung. Ternyata, besok paginya, peserta cuma seorang, saya doang. Jadilah saya yang mengatur kecepatan jalan dan ternyata si guide yang gendut napasnya pendek. Lebih sering dia yang minta berhenti karena terengah-engah,” kenang Ucha, seperti yang ia kisahkan di bukunya.

Ketika bercerita tentang alat transportasi, Ucha mengenang kejadian di Puerto Princessa.

“Saya naik Jeepney (angkot di Filipina yang menggunakan Jeep Willis jaman Perang Dunia yang telah dimodifikasi). Dari kota Puerto Proncessa ke Sabang di Pulau Palawan membutuhkan waktu 4 jam dengan jalan offroad. Jeepney yang kecil itu bisa dinaiki 45 orang sampai ke atap, bahkan sopirnya pun pangku-pangkuan dengan penumpang. Di tengah jalan, turunlah hujan deras dan semua orang berdesak-desakan masuk. Jendelanya yang tanpa kaca ditutupi plastik gulung. Duh, pengapnya tidak keruan!” Ucha mengenang.

Ucha senang dugem. Ia kerap mendatangi tempat-tempat hang out anak muda di satu kota.

“Di Amsterdam, yang terkenal dengan kempanye legalize canabis, merupakan salah satu pusat dugem dunia. Apakah karena legal menggunakan ganja, saya tidak tahu. Tapi memang mudah mendapatkan ganja yang ingin Anda pilih di antara jejeran ganja yang berasal dari mancanegara. Ganja Indonesia termasuk yang ngetop dan mahal, lho. Tapi jangan harap Anda dapat membeli bir atau alkohol lainnya di tempat ini. Coffee Shop hanya menjual kopi dan ganja, sedangkan bar hanya menjual alkohol tanpa ganja,” terang Ucha.

Masih banyak kisah Ucha yang menggetarkan. Termasuk cara dan reaksi dia terhadap para pria yang berniat menggoda. “Kalau macam-macam, saya bilang saja kalau saya lesbian,” katanya, santai.

Aien Hisyam

November 25, 2009 Posted by | Profil Pecinta Lingkungan, Profil Penulis | 1 Comment

Amalia Yunita Korua

SMS di Puncak Tertinggi


Yuni melepas zona kenyamanan, demi kualitas hidup yang lebih baik. Ia pun berharap, ketiga anaknya merasakan hal yang sama.


Usia Yuni hampir 42 tahun ketika kakinya menjejakkan gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro. Mereka membawa ‘bendera’ : Kilimanjaro For Lupus. Inilah kedua kalinya ia mendaki gunung demi misi sosial, mensosialisasi dan berkampanye demi penyakit mematikan, Lupus.

Sebelumnya, tahun 2006, Yuni berhasil menaklukkan Kalla Pathar -5.545 m dpl- di Himalaya, Nepal, demi misi sosial yang sama. Saat itu ia melakukan ekspedisi ‘Perempuan Indonesia Menapak Himalaya Untuk Lupus’.

Yuni memang bukan ibu rumah tangga biasa. Sebelumnya saat masih kuliah di Universitas Trisakti, ia aktif berkegiatan adventure. Ia pernah menjadi Ketua Umum Aranyacala Trisakti (Organisasi Pecinta Alam Universitas, Sekolah Tinggi dan Akademi Trisakti). Kini, ia CEO Lintas Jeram Nusantara (Arus Liar) dan CEO Regulo Lintas Nusantara (Regulo).

“Kuliahnya apa, kerjanya apa,” ucap Yuni, tertawa lepas.

Gemes Saat Ke Luar

Yuni paling senang bicara kegiatan adventure-nya. Kata istri Lody Korua –juga pecinta alam-, karena seringnya ia pergi ke luar untuk kegiatan adventure, ia sempt khawatir di Droup Out dari kuliahnya.

Selama 7 tahun, hampir setiap tahun saya pergi ekspedisi. Memang sih, banyak kegiatannya daripada kuliahnya. Untung nggak sampai di DO,” ungkap Yuni, tersenyum.

Saat keliling-keliling itulah Yuni sering dibuat terkagum-kagum. Apalagi ketika ia ekpedisi ke luar negeri, salah satunya ke Amerika di tahun 1992. Dia melihat kegiatan arung jeram mulai menjadi bisnis komersial yang dikelola sangat baik dan profesional.

“Tahun 94, saya ke Afrika. Termasuk ke Zimbabwe. Nah, Zimbabwe kan negara berkembang seperti Indonesia. Tapi , wisata arung jeramnya sangat maju sehingga bisa menghidupi masyarakat yang tinggal di pinggiran Victoria Falls. Ada restoran yang dibuat oleh persatuan arung jeram dengan menu yang temanya arung jeram. Ada juga tempat jualan sovenirnya,” cerita wanita kelahiran Bandung, 15 Juni 1967.

Yuni gemas karena potensi alam Indonesia justru lebih bagus, tapi belum banyak yang memulai bisnis di bidang arung jeram.

Ditambah lagi, Yuni sering dibilang, “ngapain bisnis di bidang itu, kuliah capek-capek di teknik sipil, eh kerjanya nggak ada hubungannya.” Ada yang lagi yang bilang, “emang bisa hidup, kerja di bidang itu?”

“Omongan seperti itulah yang justru memotivasi saya. Ternyata, saya tidak hanya hidup dari situ, tapi bisnis ini bisa menghidupi masyarakat-masyarakat di situ. Kami benar-benar bisa merintis dari bawah,” kata Yuni, bangga.

‘Nangis Darah’

Awalnya, Yuni membantu bisnis adventure Lody Korua, Tropical, yang sudah mulai lebih dulu, sejak tahun 80an. Mendampingi tamu-tamu dari luar negeri belajar survival di gunung-gunung di Indonesia. Ia juga melakukan survey arung jeram.

Barulah tahun 1995, Arus Liar berdiri, di bawah bendera Lintas Jeram Nusantara. Yuni memilih sungai Citarik di daerah Sukabumi sebagai tempat berarung jeram. Paketnya masih sederhana, hanya arung jeram dan menginap.

“Kita rekrut orang-orang lokal. Karena, misi kita memberdayakan masyarakat lokal untuk pemandu dan sebagainya,” kata Yuni.

18 tahun berkegiatan, Arus Liar kini makin ‘lengkap’. Selain arung jeram sebagai main product, ada pula Nusa Traditional Cottages, Ed-Adventure Programme, camping ground, trekking trip, paint ball, hingga aooroad adventure trip.

“Sekarang kita bahkan sudah punya ‘anak’ di Jawa Timur, Regulo Adventure di sungai Pekalen di Probolinggo. Awalnya, perusahaan ini milik orang lokal. Sekarang sudah kita ambil alih. Pusatnya dan kantor di Surabaya, tapi kita yang pegang menejemennya,” jelas Yuni senang.

Membesarkan Arus Liar, kata Yuni, tidaklah mudah, bahkan ia sampai harus ‘nangis darah’.

“Karena kita memang komit dengan pemberdayaan dan mendidik masyarakat lokal. Ya ampun, pertama kali kita buka, benar-benar belum berkembang. Kita cari lulusan SMP saja sangat susah. Sekolah SMP baru dibangun 5 tahun yang lalu,” kenang Yuni.

Pertama kali melakukan kegiatan arung jeram, “orang-orang masih lari-lari menonton kita. Waktu saya bawa mentega, mereka bingung, ini benda apa? Bahkan listrik baru masuk tahun 1997. Jalan bagus baru 7 tahun lalu. Benar-benar masih jauh dari harapan,” ungkap Yuni.

Tekad Yuni membesarkan Arus Liar, bukan semata-mata untuk hobi. Ia mengaku gemas karena melihat banyak operator arung jeram di Bali, dimiliki warga asing.

“Masak sih kita yang punya sungai, tapi kita nggak bisa. Juga karena menjalankan bisnis ini bukan nggak mudah. Kalau tidak hobi kita tidak punya passion. Ambil beberapa contoh, dulu banyak operator baru arung jeram, tapi ketika krisis ekonomi, tutup. Justru kita beda. Kita merasa, kalau krisis ekonomi, banyak yang stres justru banyak yang arung jeram. Pada saat kita di bawah, tidak kita tinggalin. Itu dunia kita,” ujar Yuni, tersenyum.

Krisis, justru kalau terjadi musibah saat berkegiatan arung jeram. Yuni mencontohkan seperti kejadian Raymond Van Beekum di Sungai Cisadane. Dampaknya, bisa mematikan banyak operator.

Merambah Pulau Lain

Tahun ini, Yuni tengah berkonsentrasi pada pekerjaan barunya.

”Saya ingin ini tidak berhenti di Sukabumi dan Jawa TImur. Kita sudah mulai merambah ke tempat lain tapi masih berupa paket-paket. Seperti di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Inginnya seluruh indonesia. Semuanya arung jeram. Selain perahu karet, di Kalimantan ada yang pakai ketinting. Seperti open kano yang panjang dan tradisional,” jelas Yuni.

Banyak Nggak Enaknya”

Setelah lama absen mendaki gunung, Yuni akhirnya
memutuskan melakukan ekspedisi.

“Tapi, sebenarnya naik gunung itu banyak tidak enaknya,” sesaat Yuni, tersenyum. “Yang enak cuma pemandangannya. Sisanya nggak enak semua. Ya capek, dingin, tidur tidak nyaman. Tetapi, disini ada suatu pembangunan mental. Dari situ pasti ada satu asalan tertentu yang kita dapat. Kita pasti diajak keluar dari comfort zone, dengan iklim yang ekstrim.”

Yuni menggambarkan saat ia mendaki Kilimanjaro kemarin. “Aku sampai ngerasa, ‘duh, nih gunung bukan untuk gue. Beratnya. Bukan waktunya lagi.’ Sepanjang jalan mikirnya begitu. Apalagi waktu ke summit. Udara tipis, dingin banget, capek. Muka sudah kebakar semua. Minuman di botol sudah jadi es. Pakai kaos kaki dua lapis pakai sepatu terbaik, tapi masih beku juga. Tapi dari situ, tanpa disengaja kita dibawa keluar dari zona kenyamanan kita. Kita merasa ada sesuatu yang kita dapat. Ketangguhan mental sepertinya diasah. Kita jadi mensyukuri pada hal sederhana yang kita punya. Disitu kita dibuat sengsara. Ternyata d rumah nikmat banget. Itu yang kita bayangin, begitu kita pulang, kita merasa lebih appreciate pada apa yang kita punya,” kata Yuni.

Kalau dulu saat masih usia 20 tahunan, diakui Yuni, jiwa ingin menaklukkan puncak gunung masih tinggi. Tapi setelah usia diatas 35 tahun, “yang penting kembali dengan selamat.” Yuni pun tertawa lepas.

“Sekarang, naik gunung, harus ada manfaatnya untuk orang lain. Ada anggapan, kok di Indonesia orang-orang berkegiatan adventure hanya waktu kuliah saja. setelah menikah, berhenti. Sedangkan kalau kita pergi ke luar, orang umur 60, masih saja jalan. Usia bukan faktor penghalang,” ujar Yuni.

Akhirnya timbul pemikiran-pemikiran lain. “Kenapa kita tidak sekalian punya satu misi yang bermanfaat untuk orang lain. Akhirnya kita gandeng-gandeng dengan Lupus.”

Tahun depan, tim ekpedisi wanita ini akan menaklukkan puncak Kayambe, salah satu puncak tertinggi di ekuador, selain 2 puncak lainnya, Kilimanjaro dan Cartenz Piramide.

“Orang pikir kita senang-senang, pergi terus. Siapa bilang?” alis Yuni terangkat. Di Kilimanjaro kemarin, GSM sampai di puncak. Jadi tiap hari ibu saya sms. ‘Ini jam 10 anak-anak belum pulang di bawa Lodi.’ Saya terus sms Lodi suruh bawa anak-anak pulang. Itu di ketinggian 4000 loh,” cerita Yuni sambil tertawa. “Belum lagi sms dari ibu, ‘Yun, besok mau ketemu kepala sekolah, apa yang harus diomongin ?’.”

Yuni memang sangat memperhatikan perkembangan tiga anaknya. Sejak kecil, ia dan Lody mengajak anak-anaknya mengenal alam.

“Saya baca, anak-anak yang lahir tahun 95, adalah generasi Z. Yang hidupnya sudah terlalu dikelilingi screen, mulai dari televisi, psp, gameboy, termasuk handphone. Ada plus minunya. Saya ingin mem-balance mereka. Karenanya, kalau weekend saya ajak ke citarik. Mereka bergaul dengan anak-anak kampung. Belajar juga supaya tahu bahwa kehidupannya tidak hanya teman-teman mereka di sekolah. Mainan-mainannya juga beda,” ujar Yuni.

“Mereka kita bawa ke alam, bukan karena ingin mereka seperti kita. Tapi mereka harus belajar juga hal-hal yang tidak nyaman. Bukankah anak-anak sekarang kemana-mana pakai AC. Di sana mereka harus mau tidur di tenda,” ungkap Yuni, senang.

Aien Hisyam

November 12, 2009 Posted by | Profil Pecinta Lingkungan, Profil Wanita | Leave a comment