Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ermey Dewanto

Setelah Mengirim 2000 Surat

 

Lima tahun membesarkan Dapur Cokelat, untuk pertama kalinya Ermey mendapat protes dari ‘penggemar’nya.

 

Mama sih nggak gaul,” Ermey menirukan protes anak pertamanya, Aditya Pratama, 16.

“Tapi, gimana dong nanti reaksi pelanggan Mama yang lain,” ujar Ermey membalas protes anaknya.

“Ini ‘kan untuk anak-anak ABG, Ma. Dicoba aja deh, nanti kita lihat hasilnya,” ujar Aditya penuh antusias.

Akhirnya, bulan Februari lalu, untuk pertama kalinya Ermey membuat tema baru untuk coklat-coklatnya yang unik dan menggemaskan. Coklat warna warni itu diberi nama Retro. Sesuai permintaan Adit.

“Adit sejak dulu jadi penggemar berat cokelat-cokelat buatan Mamanya. Selama ini dia hanya mencoba, menggemari, sekaligus menggilai. Tetapi, baru kali itu dia bisa protes dan kasih masukan. Ternyata luar biasa, cokelat-cokelat tema Retro khas ABG, justru paling diminati. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang fungky,” ujar Eyi, panggilan akrab Ermey, dengan mata berbinar.

Eyi kini mulai melibatkan Adit dalam bisnis Dapur Cokelat. Ada satu camiln cokelat yang dibuat sesuai keinginan anaknya, Choco Monkey. Terbuat dari pisang yang diolah bersama cokelat, menjadi camilan unik untuk anak-anak remaja.

Menejemen Keluarga

Ermey tidak sendirian membesarkan Dapur Cokelat. Dibelakang kesuksesannya, ada dukungan kedua orangtuanga HM Noor Matulia dan Hj. Darniati, juga suaminya, Okky Dewanto. Mereka berempat menjadi komisaris Dapur Cokelat.

“Jadi memang benar kalau ini bisnis keluarga. Walaupun begitu, Dapur Cokelat tetap kita kelola dengan profesional. Pembagian profit tetap ada. Menejemen tetap berjalan sesuai dengan relnya. Karena kalau tidak begitu, bisnis ini tidak akan berkembang dengan baik,” kata Eyi yang telah membuka tiga outlet Dapur Cokelat di Jakarta.

Eyi bisa berbangga hati. Dapur Cokelat saat ini mulai jadi icon jajanan cokelat paling digemari. Di dalam toko berkonsep dapur ini tersedia berbagai macam pastries cokelat.

“Saya berpegang pada satu kiat dalam membesarkan Dapur Cokelat, yaitu fokus di konsep. Ini adalah toko kue dari cokelat. Jadi sejak berdiri tahun 2001, usaha kita yang itu-itu saja, tidak melenceng kemana-mana,” ujar Eyi yang mencontohkan beberapa usaha lain yang terpaksa tutup karena tidak fokus di konsep.

Cokelat bukanlah barang baru bagi Eyi. Sejak kecil, ia sudah tergila-gila dengan camilan dari cokelat. Begitu sukanya, Eyi jadi hafal nama-nama cokelat yang ia gemari. Baik buatan lokal maupun luar.

“Lulus SMA, saya kuliah di NHI (National Hotel Institute) Bandung. Ketika masuk semester dua, saya mempelajari tentang cokelat. Jadi saya tahu banyak tentang cokelat, juga tahu bagaimana membuatnya. Ternyata gampang sekali,” kisah Eyi.

Uji coba pertama Eyi adalah membuat cake cokelat. Diluar dugaan, cake penuh hiasa cokelat itu digemari teman-teman satu kosnya. Esok harinya, Eyi kembali coba-coba membuat rosce, malako, dan praline atau permen cokelat. Ternyata peminatnya semakin banyak.

Sejak itulah Eyi punya kesibukan baru, kuliah sambil berdagang cokelat hasil kreasinya sendiri. Hanya bermodal satu kompor yang ditaruh di dapur kos, Eyi akhirnya bisa menarik untung berlipat-lipat.

“Mereka suka karena murah. Masak satu ons hanya 5000 rupiah,” kata wanita ini.

Cokelat Untuk Calon Suami

Rasa ingin tahu dan kecintaan yang besar akan cokelat membuat Eyi melanjutkan kuliah di Agrobisnis IPB Bogor yang banyak mempelajari tanam-tanaman dan sayur-sayuran. Di tempat ini Eyi justru menemukan cintanya yang lain. Pria itu bernama Okky Dewanto, alumnus IPB dan pendiri perusahaan kue Apple Pie. Kencan pertama, Eyi membuat Tiramisu dari cokelat untuk sang kekasih.

“Ya ampun, Mas Okky bukannya memuji. Dia malah ajak dagang, sama-sama membuat kue-kue dari cokelat,” kenang Eyi sambil tertawa kecil.

Eyi menganggap sebagai mukjizat, hanya dengan bermodalkan uang Rp.75.000,- untuk biaya operasional selama 1 minggu, mereka bisa membuat pastries cokelat dalam jumlah banyak

“Awalnya kita hanya menstok cokelat 12 kilogram saja, Hasilnya lumayan bagus. Baru pertama kali buka, produk kita bisa laku 2 kilo sehari,” cerita Eyi.

Eyi akhirnya membuka toko dan diberi nama Dapur Cokelat di Jalan hamad Dahlan, Jakarta Selatan, bersama Okky yang akhirnya menjadi suaminya.

“Dibantu teman-teman untuk operasional, kami harus mengenalkan Dapur Cokelat tanpa memiliki biaya promosi. Kami benar-benar bergerak dengan hanya dilandasi keyakinan, bahwa produk DC layak jual, dan akan disukai. Bahwa konsumen, akan bisa dan tidak akan kecewa menerima produk Dapur Cokelat,” ujar Eyi penuh keyakinan.

Kirim 2000 Surat

Strategi awal, Eyi dan Okky adalah mencari mailing list dari teman-teman marketing. Mereka juga mengundang calon konsumen untuk terus melakukan check and retesting.

“Target utama adalah orang harus mengenal dulu, sementara, apakah mereka akan membeli atau tidak, masih prioritas kesekian. Kalau tak salah, masa itu kami mengirimkan surat undangan dan pemberitahuan ke 1000 sampai dengan 2000 alamat yang tidak kami kenal sebelumnya,” ujar ibu dua putra, Adit dan Akheela Candra, 20 bulan.

Dan dari pengiriman surat ke ribuan alamat tersebut, hasilnya cukup menggembirakan.

“Sebagian dari mereka ada yang menelepon, menanyakan ini itu, sebagian ada yang langsung datang menguji rasa. Kemudian, yang paling menggembirakan adalah: yang sudah pernah datang, kemudian datang lagi dengan membawa teman-teman mereka. Mereka menguji rasa dan membeli. Lalu, karena disebelah Dapur Cokelat kebetulan ada supermarket, pembeli yang sudah berbelanja ke supermarket tersebut kami undang pula masuk ke Dapur Cokelat, untuk ikut menguji rasa dan mengenali kue-kue Dapur Cokelat,” kenang Eyi.

Dapur Cokelat memang unik, seunik namanya. “Awalnya saya ingin membuat toko dengan desain seperti galeri. Tapi setelah dipikir-pikir, kok rasanya desain galeri itu berat sekali, dan bisa berimbas ke produk yang akan saya jual, jadinya tidak akan terekspos. Entah gimana tiba-tiba saya dan kakak muncul ide pakai nama Dapur. Lebih kena,” ujar Eyi sambil tersenyum.

Dapur Cokelat milik Eyi memang dibuat sangat menarik. Ia tidak menghilangkan pakem dan ciri khas dapur. Yaitu mendesain ruangan dengan meletakkan kitchen set sebagai hiasan utama sehingga terlihat lebih unik dan menarik.

“Pernah loh  ada orang masuk ke toko saya tanya, “Mbak, jualan kicthen set ya?” kisah Eyi sambil tertawa lepas.

Kesan dapur memang sangat menonjol. Hampir diseluruh ruangan didominasi warna cokelat dan kuning, hingga terkesan hangat dan akrab. Apa beragam potongan cake, praline serta gundukan permen cokelat menghiasi setiap sisi ruangan.     

Aien Hisyam

 

Advertisements

December 1, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 3 Comments

Lely Purnama Simatupang

Investasi Untuk Anak

Lely merasa pencapaian hidupnya belum utuh. Masih ada celah yang harus diisi. Inilah alasan mengapa ia akhirnya mendirikan Chezlely.


Usia Chezlely masih sangat belia, baru 3 tahun. Tapi, jangan tanya prestasinya.

“Justru, sekarang Chezlely jadi rujukan di kalangan para chef,” kata Lely, bersemangat.

Lely boleh berbangga hati. Kerja kerasnya memang telah berbuah manis. Chezlely Culinary School menjadi satu-satunya tempat kursus memasak yang diakui di banyak tempat dan negara.

Dua Karakter

Kata Lely, secara umum menurut hasil survey yang dilakukannya, didapati bahwa kursus khusus memasak, terbagi dalam dua karakter. Pertama, kursus untuk penggemar masak. Istilahnya amatir. Kelas amatir ini banyak diminati oleh para ibu rumah tangga, dan para pemula yang ingin membuka usaha restoran, atau mulai menjual aneka kue. Sedangkan untuk kelas profesional, termasuk dalam kategori kedua.

“Itu biasanya ada dalam institusi-institusi pendidikan formal seperti NHI-Bandung, sekolah-sekolah perhotelan di Jakarta, dan lain-lain. Mereka banyak mempelajari ilmu-ilmu perhotelan, tidak terlalu detail membahas mengenai kuliner. Chezlely Culinary School sebenarnya dibuka untuk memenuhi kebutuhan dua kategori kursus tersebut. Semua orang dengan aneka latar belakang pendidikan, bisa ikut belajar di sini,” terang Lely.

Tempat ini, lanjut Lely, menyiapkan konsep yang dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta kursus. Untuk kategori kelasnya, terbagi dalam dua kelompok besar. Le Cuistot, untuk kelas dewasa.

Kelas ini terdiri dari dua kategori. Amatir dan profesional. Untuk kelas amatir, biasanya diminati para pemula dan penggemar dunia kuliner. Sedangkan untuk kelas profesional, banyak dikuti oleh orang-orang yang ingin lebih serius terlibat di dunia kuliner, sebagai pengusaha, pengelola restoran, dan chef profesional.

Sedangkan kelompok Le Petit Chef, adalah kelas khusus untuk anak-anak usia 5 sampai dengan 13 tahun. Kelas ini terbagi juga dalam dua kategori, kelas amatir dan kelas intensif. Yaitu kelas khusus untuk anak-anak yang benar-benar berminat dan serius menekuni bidang kuliner. Baik kelas amatir yang hanya belajar dalam sehari (short course method), maupun kelas intensif yang ditempuh selama 10 kali pertemuan setiap minggunya, dua kelas ini sama-sama banyak peminatnya.

Konsep Edukasi

Mengenai konsep edukatif di sana, Lely menjelaskan panjang lebar, “Untuk kelas amatir pun, kursusnya didesain untuk bisa melihat sesi demo. Sambil melihatnya, peserta didik bisa bertanya sebanyak-banyaknya melalui sesi demo ini. Setelah itu mereka mempraktekkannya sendiri-sendiri.”

Tentu saja, lanjut Lely, tetap dalam bimbingan pengajar yang juga mengawasi dan menemani mereka. Desain untuk kategori dewasa dan kelompok anak-anak, dikonsep hampir sama bentuk. Hanya bobot materi-materinya saja yang dibedakan.

“Misalnya untuk anak-anak, kami berangkat dari konsep “I like to eat”. Karena suka makan, maka mereka juga ingin menyediakannya. Anak-anak bisa lebih paham dan lebih dekat dengan makanan-makanan kesenangannya. Pizza, Apple Pie, Brownies, Little Fairy Cake, dan lain-lain. Mereka bisa belajar dan bermain sambil berkreasi,” kata Lely.

Didukung oleh para pengajar profesional, kelengkapan peralatan dan fasilitas yang dibuat dengan standar internasional, serta suasana kursus yang nyaman, tak sedikit orang memilih tempat ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Walaupun kegiatan ini dilakukan pada saat-saat liburan maupun pada waktu-waktu luang.

Untuk bisa lebih mengenal dunia kuliner, tak hanya perempuan yang punya tempat khusus di dalamnya. Tempat ini terbuka luas untuk siapa saja yang ingin “berkenalan” dengan dunia kuliner. Biaya kursusnya pun relatif murah.

Para peserta didik, akan mengenakan seragam khas chef di tempat ini. Topi chef yang berdiri tinggi, diberikan untuk para peserta yang mengikuti kelas amatir (short course method), sedangkan untuk kelas intensif dan profesional, mengenakan topi yang bentuknya lebih membulat dengan ukuran yang lebih rendah.

Pakaian Khusus

Suasana yang dibangun, menjadi cukup menarik. Bagi anak-anak dan orang-orang dewasa yang belum terbiasa dengan seragam ini, akan membuat mereka semakin merasakan benar-benar sebagai chef professional, dan sesi belajarnya pun menjadi lebih terasa. Benar-benar berada di dapur dengan seluruh peralatan standar internasional dan aman untuk digunakan oleh anak-anak maupun dewasa.

Pelajaran kursus biasanya diawali dengan kelas demo. Berkas-berkas resep dibagikan kepada setiap peserta kursus. Pada sesi ini, peserta akan mendapat banyak paparan dan panduan sekaligus melihat cara memasak berikut dengan tips-tips praktisnya. Selain mencicipi makanan hasil demo dari pengajarnya, peserta pun punya kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.

Setelah itu, peserta diperkenankan mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke kelas praktek. Celemek, lap, dan topi chef, adalah perangkat “belajar” di kelas ini. Sedangkan segala macam peralatan yang dipakai untuk mengolah makanan dari mulai tahap persiapan bahan, mengolah hingga matang, dan disajikan dalam plate menarik, semuanya menjadi tanggung jawab pihak Chezlely Culinary School. Tempat ini juga menyediakan bahan-bahan makanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan daftar menu yang akan dibuat.

Jika hidangan telah matang, ada sesi ‘menghias’. Maka, jadilah memasak sebagai kerja kreatif yang sempurna. Menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Untuk sendirian, ataupun dinikmati bersama-sama, tak jadi soal. Tapi liburan kali ini, telah terisi dengan hal baru yang menambah wawasan pengetahuan.

Kepuasan Profesional

Banyak tempat telah disinggahi Lely, sebelum ia sampai di ‘pelabuhan’ terakhirnya.

Lely pernah menjabat sebagai Director Purchasing & Quality Assurance, serta Operation Manager McDonald’s Indonesia. Saat ini, Lely adalah Managing Director pada Chezlely Culinary School.

Pengalaman sebelumnya, ia pernah menjadi New Channel Development Manager, Wall’s Ice Cream pada Unilever Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan beliau antara lain di Strategic Executive Program (Monash Mt Eliza, Melbourne), Basic and Intermediate Cuisine (Le Cordon Bleu, Paris) dan Management Program–Wijawiyata Management, Institut Pendidikan & Pengembangan Manajemen (IPPM). Lely bahkan telah mengikuti Restaurant Operations courses, Supply Chain and Quality Assurance Courses dan Marketing and Development courses di berbagai negara.

Alasan Lely mendirikan Chezlely Culinary School, “saya memang dari awal tujuannya melatih profesionel chef. Awalnya masih yang tua-tua, tapi makin kesini relatif makin banyak yang muda-muda. Mereka seumur itu sudah melihat profesi chef itu merupakan satu alternatif,“ ujar Lely.

Namun, Lely mengakui, ia sangat menyukai dunia memasak.

“Awalnya, ketika saya masuk usia 40 tahun. Saya mereview, saya mau ngapain kedepannya,” kata Lely, menerawang. “Kalau saya mau melakukan sesuatu, saya mereview apa yang saya lakukan dan apa yang akan saya kerjakan ke depan.”

Kalau yang sifatnya ambisi dan bekerja, lanjut Lely, “saya sudah puas. Saya pernah bekerja, naik pangkat, promosi, sudah mencoba dan sudah cukup baik. Lantas apa selanjutnya.”

Akhirnya, Lely memutuskan belajar memasak di Paris, Perancis, tahun 2002. Lely memang bertekad tidak akan bekerja lagi disaat usia 45 tahun yang clock in-clock out.

“Saya ingin berbuat yang tanda petik, tapi ada kepuasan secara profesional,” tegas Lely.

Di Paris, Lely dibukakan mata hatinya. Dia melihat, banyak anak-anak usia 16 dan 17 tahun, sudah dikursuskan orangtuanya belajar memasak.

“Program 30 minggu, 3 kali seminggu, biayanya 7000 euro (sekitar Rp. 112.000.000). Tentu saja ini tidak mungkin uang sendiri, pasti dari orang tuanya. Pasti orang tuanya percaya dan paham kalau itu bukan investasi yang tidak sia-sia. Mereka berani berinvestasi sebesar itu demi anak-anaknya, » kata Lely.

Lantas, Lely menambahkan, “di Indonesia kenapa jalurnya masih setelah tamat SMA, kuliah dan baru kerja. Relatif profesi masih dianggap satu profesi yang tidak butuh keahlian. Padahal, disini semua elemen ada. Masak ada, interaksi sama orang, dan ngajarin orang. Ini bagian-bagian yang saya sukai,” ujar Lely, bersemangat.

Tak mau menunggu terlalu lama, Lely menangkap peluang ini. Dia berharap, bisa membukakan mata hati masyarakat Indonesia. Untuk berpikir, di luar ‘kotak’ yang sudah tersedia.

Aien Hisyam

November 23, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 1 Comment