Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Mony Suriany

Air Mata Di Keringat Tubuh


 

But something bad happened.” Mony menerawang 3 tahun silam. Ia terhempas dalam depresi berat, di negeri orang, dan seorang diri.

 

Jatuh bangun Mony berjuang supaya  tegar. Toh ia tak kuat juga.

“Mama telepon, ‘Ny, kamu pulang saja ke Indonesia.’,” kenang Mony.

Ditemani sepupunya, Mony mencari ketenangan di Sydney-Australia selama 2 bulan. Awalnya, ia akan ke Tibet. tetapi perjalanan dibatalkan.

Benar saja. “Kita tidak pernah menduga apa yang terjadi esok hari. Hidup saya dijungkir balikkan. Sekarang, saya dapatkan kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya,” ungkap Mony.

Sendiri Di Negeri Orang

Lulus SMA, Mony ke Indiana-Amerika. Kuliah di Indiana University hingga meraih gelar Bachelor of Sciences, Accounting and Finance. Tiga tahun kemudian ia bergelar Master of Business Administration.

“Hidup saya memang enak. Lulus kuliah kerja di GE (General Electric),” kata Novi.

Tahun pertama kerja, Mony tingal di Barrington sebagai Marketing Analyst. Berturut-turut ia di pindah tugaskan ke Stamford, Fairfield, Danbury, New York, dan terakhir di Chicago.

“Pertama-tama excited banget. Saya merasa jadi orang yang sangat beruntung. Pendapatan juga lumayan. Tapi lama-lama kerja bikin saya stres. Apalagi, saya cewek minority, orang Asia juga. Kalau orang hanya kerja 8 jam sehari, saya harus kerja double. Yang ada jadi over work,” kata Mony.

Di negeri orang, Mony sendirian. Stres sendiri, sedih sendiri, happy sendiri, apa-apa sendiri. “Kalau mau kaya gampang saja. Tapi saya berpikir, apa itu yang saya cari selama ini?”  Dalam kesendirian Mony merenung. Ia telusuri jalan kota Philadelphia yang dingin. Ia singgah di Bikram  Yoga.

Tahun 2001 Mony mulai coba-coba yoga.

“Bikram Yoga ini beda. Benar-benar physical dengan 26 gerakan. Ruangan panas berkisar 42 derajat,” terang Mony.

Pertama kali masuk ruang yoga yang panas, “Saya langsung suka. Saya tidak mau cari yang gampang-gampang saja,” kata Mony. Ia tidak merasa ‘sendiri’ lagi.

Cobaan Di Tahun Yang Sama

Ketika Chicago diselimuti musim dingin, awal tahun 2003, Mony hendak menyeberang jalan raya sepanjang 4 lines. Belum selesai kakinya menapak pedestrian, mobil melaju kencang. Tubuhnya melayang ke udara dan terhempas di atas kap mesin. Untung saja ia ‘hanya’ jatuh setengah duduk.

Mony mengalami retak tulang bahu 1,5 sentimeter. Mony keukeuh tidak mau operasi. Ada keyakinan ia bisa sembuh lewat hot yoga.

“Mau tak mau saya harus memaksa menggerakkan lenganku sampai bisa bergerak. Lagi pula ruangan yang panas bisa menghangatkan tulangku,” kata Mony.

Di tahun yang sama Mony menikah dengan pria yang sudah 12 tahun jadi pacarnya. Ironis, pernikahan itu hanya berlangsung 6 bulan saja. Mony syok melihat suaminya berselingkuh.

“Saya berada di titik zero. Depresi berat. Bayangkan, di negeri orang, saya sendirian mengalami hal berat ini,” kata Mony.

Mony melepas kariernya, pulang ke Indonesia. Ia gambarkan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Mony yang cerdas, enerjik, dan metropolis, tiba-tiba menjadi wanita yang sangat menyedihkan.

Mulai Fall In Love

Di Sydney –saat menenangkan diri- Mony iseng masuk ke kelas Bikram Yoga.

“Padahal, saya sudah stop lama. Setelah itu justru jadi fall in love. Berkat hot yoga saya tidak depresi lagi. Tulang bahu juga makin membaik,” ujar Mony.

Hampir setiap hari Mony hot yoga. Gerakan-gerakannya yang lentur dan gemulai bahkan  menarik hati pemilik Bikram Yoga.

“Saya bilang kalau saya sebenarnya guru. Di LA saya sempat ikut training instruktur 3 bulan,” ujar Mony.

Sayangnya tawaran jadi menejer Bikram Yoga di Sydney tidak bisa dipenuhi. Visa Mony hanya berlaku 2 bulan saja. Singgah di Singapore lagi-lagi Mony mencuri perhatian pemilik Bikram Yoga Singapore. Ia bahkan mau dikontrak 1 tahun untuk mengelola Bikram Yoga Bangkok.

“Lama-lama saya mikir, kenapa saya tidak buka sendiri di Jakarta, bukan kerja dengan orang lain. Dari situ timbul semangat lagi,” ucap Mony dengan mata berbinar.

Sempat ia ditentang Ibunya.

“Saya yakinkan bahwa saya mau kerja 100%,” ujar Mony optimis Berkat pengalaman mengajar di beberapa tempat, ditambah rekomendasi dari guru-gurunya, Yoga@42 Bikram Yoga Studio buka Januari 2005. Hanya 4 bulan sejak kedatangan Mony di Indonesia.

Hari pertama buka Mony menerima 2 orang murid.

“Saya tidak pernah pakai marketing. Akhirnya berkembang pelan-pelan. Bulan kedua masuk televisi terus masuk majalah dan begitu seterusnya. Sekarang setelah 2 tahun, muridnya sudah ratusan,” ujar Mony bangga.

Investasi Organ Tubuh

Kesehatan, kata Mony, adalah investasi jangka panjang.

“Saya 2 tahun kerja, tapi tidak pernah sakit. Padahal dari pagi sampai malam. Padahal kelemahan saya, saya suka makan junk food dan gorengan. Tidak ada pantangan. Bukankah kita mau menikmati hidup,”  kata wanita berkulit putih dan tubuh langsing ini sambil tersenyum.

Kalau organ-organ tubuh bekerja dengan baik, “yang mana nutrisi dia tahan, yang racun-racun diproses dan dikeluarin, tubuh akan selalu sehat.”

“Kita punya investasi di bank. Tapi kita tidak pernah inves di body kita. Bukannya ikut hot yoga hanya karena ingin kurus. Itu memang iya, tapi hanya untuk jangka pendek. Pikirkan yang jangka panjangnya. Dengan hot yoga, semua organ tubuh bisa bekerja dengan baik sampai usia kita 70 tahun,” ucap Mony tegas.

“Tapi kalau kita tidak olah raga,” sesaat Mony terdiam, “10 tahun kemudian tidak apa-apa, atau 20 tahun kemudian baru terasa sedikit-sedikit. Setelah 30 tahun sudah mulai deh organ-organnya tidak bekerja baik. Efeknya memang tidak selalu kelihatan.”

Hot yoga ini hanya terdiri dari 26 gerakan.

“Gerakan dilakukan dua kali dalam kurun waktu satu setangah jam. Ruangan berkisar 38-42 derajat celcius untuk merangsang keringat dan membantu proses detosifikasi,” terang Mony.

Ruang yoga yang panas menjadi bagian efek terapi. Otot-otot jadi lentur, memperkuat jantung serta membantu pembakaran lemak dalam tubuh. Bisa memperbaiki tulang belakang, memperlancar sirkulasi darah, oksigen dan pernafasan. Yang juga bermanfaat adalah menghilangkan stres, rasa cemas dan meningkatkandaya kekebalan tubuh.

Aien Hisyam

*wawancara 18 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Profil Olahragawati, Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment

Vivi Vinata Guizot

Operasi Penuh Cinta

Bagi Vivi, bahagia adalah, ketika suatu hari pasien-pasiennya bisa tersenyum lagi, punya semangat hidup dan meningkat kualitas hidupnya.

 

Anak itu baru 9 tahun. Separuh wajahnya rusak akibat luka bakar. Vivi tertegun.

“Ya Tuhan, semoga usaha ini berjalan dengan lancar,” Vivi berdoa dalam hati. Doa yang sama, yang selalu ia ucapkan ketika tangannya mulai memegang pisau bedah.

Setelah dua kali operasi, pasien kanak-kanaknya itu mulai ‘berubah’. Wajahnya kembali normal.

“Kemarin, dia bilang, ‘dokter, terima kasih,” suara Vivi terdengar haru, “dan kalau tidak ada halangan, satu kali operasi lagi wajahnya sudah pulih kembali. Seperti sediakala.”

Menjadi Normal

Sejak kecil, Vivi bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah plastik. Bukan karena penghasilannya yang besar. Dan bukan pula karena jumlah dokter bedah plastik di Indonesia yang sangat sedikit.

“Waktu SMA, saya perhatikan kakak saya ada kekurangan sedikit di wajahnya. Matanya kecil satu,” kenang Vivi Vinata Guizot. Saat itu ia masih kelas 2 SMP.

Hatinya sedih melihat kakak perempuannya sering mengurung diri, enggan bertemu orang lain, dan selalu menghindar bila disapa.

“Terus, sekitar tahun 1989, dia dioperasi plastik di Singapura. Setelah operasi, dia percaya diri sekali. Kepribadiannya jadi sangat menarik dan bisa bergaul dengan normal,” lanjut Vivi.

Sejak itulah Vivi bertekad memperdalam ilmu bedah plastik.

“Saya ingin mengembalikan yang tidak normal menjadi normal, sampai jiwanya juga kembali normal. Yang tadinya pemalu, setelah normal, self esteem-nya meningkat. Itu yang jadi alasan kuat saya kenapa memilih jadi dokter bedah plastik,” kata Vivi yang Ayahnya juga seorang dokter di Bali.

Punya Sense of Art

Hingga kini, jumlah dokter spesialis bedah plastik di Indonesia hanya berkisar 50 orang.

“Itupun tidak menyebar dengan merata. Ada bagian yang tidak ada dokter plastik. Sebagian besar ngumpul di Jakarta. Padahal, banyak yang membutuhkan dokter plastik,” kata wanita kelahiran Denpasar tanggal 15 Juli 1974.

Untuk memperdalam ilmu bedah plastik-pun, di Indonesia hanya tersedia dua Universitas saja. Di Universitas Airlangga (Unair) dan di Universitas Indonesia (UI).

Barulah setelah lulus SMA Negeri 1 Bali, Vivi melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Unair. Lulus tahun 1998, ia masih mengikuti PPT di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Setelah itu saya coba-coba mendaftar ke spesialis bedah plastik. Tesnya susah sekali, karena kita sangat kompetitif. Waktu itu dari 16 orang yang diterima hanya 2 lulus tes. Tes-nya di UI. 16 orang itu sebenarnya juga dari proses penyeleksian yang ketat. Bisa jadi yang daftar ratusan,” Vivi menerangkan.

Banyak tes yang harus dilalui. Mulai dari tes pengetahuan, tes menggambar proporsi wajah orang, menggambar perspektif, psikotes, hingga wawancara.

“Kita (dokter bedah plastik) harus punya sense of art. Bisa menggambar dari depan, samping kanan dan kiri. Karena, sebelum dokter melakukan pembedahan, dia harus bisa menggambar bentuk wajah dan badan dengan baik,” ujar wanita yang tengah hamil 5 bulan.

Luruskan Kaki Bengkok

Tugas pertama Vivi di awal kuliah adalah mengoperasi bibir sumbing di RSCM.

“Pasienku, dua-duanya perempuan. Umur 4 tahun dan 6 bulan. Awalnya, deg-degan juga. Tapi setelah berdoa, dan semua berjalan dengan lancar, syukurlah, akhirnya bibir mereka bisa puilh kembali. Bahkan terlihat normal. Operasinya cuma setengah jam sampai 45 menit, tapi bisa merubah hidup orang luar biasa,” ungkap Vivi.

Vivi jadi ‘ketagihan’ mempercantik wajah orang. Setiap ada ajakan mengoperasi bibir sumbing, tidak pernah ia tolak.

“Saya senang merubah dan merawat pasien. Dari yang jelek banget sampai di operasi, jadi cantik. Ada juga yang kakinya bengkok karena luka bakar, saya rawat sampai lurus lagi. Itu luar biasa,” ujar Vivi dengan nada bahagia.

Sikap keluarga pasien yang sangat apresiasi, juga membuat Vivi semakin cinta pada pekerjaanya.

“Keluarga pasien sangat apresiet. Bahkan sampai bertahun-tahu masih ingat sama aku. Luar biasa. Kadang-kadang mereka mampir ke RSCM hanya untuk say hello. Mereka bilang kalau sekarang anak mereka sudah bagus, sudah cantik. Saya menyelamatkan quality of life seseorang. Wah senang sekali,” katanya.

Banyak ilmu yang kini tengah dipelajari Vivi.

“Sebagai dokter pemula, ia harus bisa cangkok kulit. Misalnya ada luka yang besar dan lebar, ia harus bisa menyeset kulit tipis sekali dari paha sebelah, nempel di sebelahnya. Terus operasi bibir sumbing yang sederhana. Itu yang pertama kali harus dikuasai. Setelah itu mulai deh rekonstruksi-rekonstruksi yang lebih sulit,” ujar Vivi.

Kelak, ia harus bisa melakukan bedah plastik yang tingkatannya sangat tinggi. Seperti operasi face off yang dilakukan dokter-dokter senior pada Dini di Bandung.

“Itu tahap yang paling tinggi. Di Indonesia hanya sekitar 3 dokter saja yang bisa lakukan bedah mikro. Tak hanya sekedar menempel. Dokter harus bisa menyambung semua pembuluh darah supaya barang yang baru ditempel itu dapat nutrisi. Kalau nggak kulit akan mati, kering dan tidak ada berfungsi lagi. Syaraf juga disambung supaya nantinya dia bisa gerak. Itu operasi yang luar biasa,” kata wanita yang hobi diving dan surfing.

Mancungkan Hidung

Vivi justru tidak tertarik memasuki wilayah bedah estetik, walaupun lebih ‘menguntungkan.

“Karena orang yang sudah normal pingin menjadi lebih cantik lagi. Kasusnya paling sering di Indonesia mata dan hidung. Hidung orang Indonesia itu kan tidak mancung. Umumnya mereka ingin dimancungkan. Juga Matanya oriental itu kan sipit. Banyak yang pingin digedein,” ujar Vivi.

Bedah yang ingin Vivi tekuni adalah bedah rekonstruksi.

“Misalnya bedah trauma wajah. Patah-patah tulang wajah. Rahang patah beberapa tempat. Atau patah frame-nya mata, juga tulang hidung. Itu operasinya sangat luar biasa. Artistik sekali. Wajah dibuka dan disusun lagi satu persatu. Itu salah satu operasi besar di bidang bedah plastik. Buatku sangat menantang,” kata Vivi yang kini bekerja di RSCM Jakarta. Kelak ia berencana pindah ke Bali untuk mengabdikan hidupnya sebagai dokter bedah plastik di tanah kelahirannya.

Aien Hisyam

 *wawancara 25 September 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment

Deby Susanti Vinski

Tak Ingin Ada Stroke Kedua

 

Banyak ‘dunia’ dipijaki Deby. Namun ia tetap fokus dan profesional. Hasilnya pun memuaskan. Deby sukses berkarir dan berumah tangga.

 

Deby Vinski memang lebih mirip model ketimbang dokter. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan segar.

“Saya dulu suka dipanggil. Karena saya suka dandan. Pernah di tanya, kamu ini mau jadi dokter atau pragawati. Saya bilang dua-duanya,” kata Deby, tertawa lepas.

Deby membuktikan. Di usianya yang sudah 40 tahun, Deby masih terlihat cantik dan bugar. Tak hanya itu. Deby pun aktif menjadi Director of Perfect Anti Aging Clinic, owner franchise President of Institute of Aethetics & Anti Aging Medicine (IAAM) dan Public Relation Indonesia Anti-Aging Society (PASTI/ PERPASTI).

Di kegiatan lain, Deby masih memimpin PT Eradunia Internasonal sebagai Chief Executive Officer, menjadi President-Director Perfect Model & Image, dan owner sekaligus specialist practitioner ‘Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic’.

Ketika Stroke Menyerang

Pengalaman pahit, menjadi alasan Deby terjun menjadi dokter, dan akhirnya mengambil spesialisi anti aging.

“Ibuku dulu sering sakit. Setiap punya anak, pasti dirawat. Saya pikir kenapa  saya tidak jadi dokter, bisa nolong banyak orang.  Itu pikiran saya waktu masih kecil.  Ya itu, Karena dulu lihat ibu kalau hamil pendarahan, melahirkan juga pendarahan,” kenang Deby.

Anak sulung dari empat bersaudara ini kian termotivasi ketika Bapak terkena stroke tahun 2000-an.

“Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Karena Ayah tidak tidak mau diperiksa kesehatannya. Padahal saya dokter, dan ibu saya mau diperiksa. Tapi kalau Ayah, selalu menunggu dan terus menunggu. Dia juga perokok. Dan suatu hari, tiba-tiba bibirnya miring dan separuh tangannya kena stroke.” Suara Deby terdengar sedih.

Ia tak ingin kenangan pahit terulang lagi. Sebelumnya, nenek Deby meninggal karena stroke.

Saat itu, Deby baru kuliah tingkat 3 Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Makasar “Nenek stroke sampai tiga kali, dan meninggal. Padahal dia ditangani dokter-dokter profesional dari bagian internis dan neurologi. Bukan karena salah dokternya, tapi memang karena ilmunya cuma sampai disitu. Itu yang dikatakan teman-teman saya di Paris,” ujar Deby, sedih.

“Saya tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Oma saya. Saya harus berbuat daripada saya hanya duduk-duduk saya. Stroke itu tidak bisa didiamkan. Jangan hanya berharap,” kata Deby.

Berangkat dari pengalaman itu, Deby akhirnya mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Anti Aging. Sebuah ilmu yang tergolong baru, karena baru popular sekitar tahun 1985.

 Belajar Anti Aging

“Kenapa kita belajar Anti Aging? Di kelas saya ada beberapa profesor di internis, mereka kuliah lagi untuk memperdalam anti aging. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang mereka mulai menerapkan anti aging,” ujar wanita yang tengah kuliah lagi di Perancis.

Deby mencontohkan, ketika seseorang mulai terserang livernya. “Kalau di kasih obat terus, ternyata sel livernya tidak bisa terima karena sudah tua, kan tidak banyak efeknya. Padahal, sel itu bisa diperbaharui, dan orang ternyata tidak kepikir. Padahal, itulah anti aging, yaitu memperbaharui sel,” terang Deby.

Ibu satu anak ini kian gemas ketika masyarakat salah kaprah. 

“Berapapun umur kamu, tensi darah kita harus dibatas normal. Jangan karena sudah tua, tidak apa-apa tensi 160,” ujar Deby.

Ternyata, lanjut Deby, kita bisa memilih mau sakit apa. “Mau sakit jantung, liver dan sebagainya. Kalau kita mau mati karena stroke, ya kita makan aja seenaknya, yang berlemak-lemak dan makanan tidak sehat. Hidup ini kita yang pilih kok.

Setelah mempelajari anti aging, dan membuka klinik, Deby bisa bernafas lega. Ayahnya terbebaskan dari stroke.

“Ayah jadi bisa nyetir sendiri, bisa terbang kemana-mana seperti bussines man,” kata Deby, senang.

Bahkan dari 58 pasien yang berobat dengannya. “Semua terbukti tidak pernah kena stroke untuk kedua kalinya. Dan sekarang segar bugar,” kata Deby, bangga.

 Aktif Sejak SMA

Belajar hal-hal baru menjadi keasyikan Deby sejak sekolah.

“Waktu kuliah saya senang dance. Rata-rata yang ikut dari fakultas Hukum dan Ekonomi, saya sendirian yang dari Kedokteran. Dan waktu itu saya sering dikirim ke luar negeri. Biasanya pas acara pertukaran budaya. Pernah ke beberapa negara Asia. Mewakili Indonesia dari Dinas Pariwisata. Dan saya juga sering ikut pemilihan-pemilihan model,” cerita Deby, senang.

Masih di bangku kuliah, Deby yang cantik dan lembut, juga aktif mengikuti kegiatan menyelam.

“Bahkan, saya jadi instruktur scuba diving saat kuliah. Padahal itu olah raga berat dan bahaya. Saya tebiasa menyelam sampai kedalaman 120 –140 feet,” terang Deby, bangga.

Bahkan, Deby sempat menjadi model di sebuah produksi film negara

“Saya ketemu suami saya saat pembuatan film tersebut. Itu film tentang laut. Bekerjasama dengan NHK Jepang. Mereka cari model yang bisa nyelam tidak banyak. Akhirnya jalan-jalan pakai baju renang dan baju selam. Memang syutingnya di laut. Dulu sih tidak merasa seksi. Mungkin lebih sporty. Padahal badan justru lebih bagus sekarang. Dulu nomor celana jeans 28-29, sekarang 26-27. Jadi dulu lebih padat dan montok,” Deby pun tertawa lepas.

Deby juga pernah mengambil cuti akademis untuk mendirikan perusahaan.

“Waktu itu tingkat 4. Saya bikin Eradunia Group, sampai sekarang masih ada. Salah satu proyek yang baru kita kerjaan yaitu bikin IT system untuk gedung MPR/DPR. Nah, saya awali perusahaan ini dari saya dari tingkat 4. Sahamku 99%,” jelas Deby.

Darah bisnis, kata Deby, mengalir dari Ayahnya yang juga pengusaha.

“Saya berasal dari keluarga yang orang tuanya jatuh dan bangun. Kita pernah punya pembantu 8 orang, tap kita pernah tidak punya pembantu. Hidup seperti roda. Dan hidup itu yang saya pelajari. Disaat saya bisa memberi pekerjaan sama orang, itu saya lakoni. Prinsip saya itu,” kata Deby.

“Justru waktu saya belum muncul debagai dokter, waktu Ayah saya kena stroke, saya lebih sering muncul di majalh SWA untuk bisnis,” ujar Deby, mantap.

 Rektor Termuda

Tahun 2001, Deby menjadi Rektor Sedaya International University. Sayangnya, pusat pendidikan yang dirintis Deby ini tak bisa berjalan lama.

“Ada masalah intern dan masalah dengan government. Dulu saya sudah menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris,” kata Deby. Kini Deby masih menjabat Wakil Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se DKI.

Deby gemas. Ia merasa sudah saatnya perguruan tinggi di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat kuliah.

“Supaya pelajar kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri. Makanya saya membuat Putri Kampus supaya menjual education kita ke luar negeri. Kita tidak boleh berpikir di dalam tempurung saja. Nanti kita ketinggalan,” kata Deby.

Meski sempat kecewa dan pernah menjadi Rektor termuda, Deby masih punya semangat untuk terus berkarya.

“Saya lagi bikin buku tips kecantikan. Saya ingin orang paham bahwa investasi kesehatan harus dimulai dari sekarang. Kita jaga makanan dan berolah raga agar nanti tua, kita bisa menikmatinya,” ujar Deby menasehati.

 Motivasi Karena Sakit Hati

Deby yang lembut, selalu ingin berbagi dan membuat hidup orang lain berharga.

“Karena saya pernah sakit hati,” kata Deby.

Peristiwa tak mengenakkan itu terjadi ketika Deby masih kuliah.

“Waktu itu saya masih mahasiswa, saya juga masih aktif scuba diving. Saya demam tinggi, padahal kita tidak boleh berobat ke dokter umum. Saya bilang, ‘dok saya sakit, demam tinggi. Bisa nggak ya telinga saya.’ Aturannya di kedokteran, kalau sakit telinga harus diobati di THT,” kenang Deby.

Namun, Deby sengat terkejut.

“Dokter itu langsung jawab, ‘enggak, saya sudah di jemput!’ Padahal satu jam setelah itu dia duduk dengan kaki di atas meja, nonton tivi. Soalnya saya lagi praktek di radiologi di dekat situ. Hati saya sedih sekali. Padahal dia tinggal lihat saja,” kenang Deby, kesal.

Deby belajar, bahwa ia tidak akan jadi dokter seperti itu. Dan sampai hari ini, Deby akan melayani setiap pasien yang datang.

Dan dunia berputar. “Ternyata, dia, dokter itu, melamar di salah satu bagian, dan profesor bagian saya tanya, ‘Deb,ada yang ngelamar dari Sam Ratulangi. Kamu kenal nggak?’ Saya kaget sekali.”

“Itu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu. Seperti waktu saya praktek di hotel. Pasien saya dari tukang masak sampai GM. Saya memperlakukan pasien seperti saya ingin diperlakukan. Sedih kalau kita lagi sakit. Nggak enak sekali rasanya,” ujar Deby, mantap.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pendidik, Profil Pengusaha | 5 Comments

Amaranila Lalita Drijono

Keseimbangan Seutuhnya

 

           

One-stop female clinic menjadi satu layanan yang dibutuhkan tiap perempuan. Nila memahami betul kebutuhan tersebut.

 

Amaranila gemas. Ia menyadari, perempuan kerap menomortigakan kesehatan pribadinya, terutama bila ia telah menikah.

“Anak sakit, ibunya yang merawat. Suami sakit, istrinya yang merawat. Ibu sakit, siapa yang peduli kalau tidak dirinya sendiri,” ujar Amaranila CEO Puan Jakarta Boutique Clinic.

Kegelisahan di hati, membuat Nila, panggilannya, mantap mendirikan Puan Clinic. Ia ingin memberikan layanan untuk tiap perempuan, mulai dari urusan kandungan hingga kulit dan kecantikan.

 

Kearifan Lokal

Nila, fasih berbicara kesehatan. Ia jalani pendidikan kedoterannya di Universitas Indonesia. Termasuk melanjutkan Spesialis Kulit dan Kelamin di tempat yang sama.

  Keinginan memberikan layanan kesehatan maksimal, membuat Nila tertegun ketika ia singgah di San Fransisco dan London. Di dua tempat ini, ia mengunjungi klinik-klinik khusus perempuan.

“Sangat professional,” ungkap Nila, kagum.

Dalam hati, Nila bertanya, “kenapa di Indonesia tidak ada klinik seperti itu? Bukankah masyarakat Indonesia menginginkan pelayanan profesinal. Ini akan menjadi pasar yang potensial.”

Pulang ke Indonesia, Nila bertekad membuat klinik sejenis. Satu tempat yang menjadi rumah kedua bagi para perempuan. Yang tidak sekedar memberi pelayanan kesehatan, tapi juga menjadi pusat edukasi dan perawatan kecantikan.

“Edukasi bagi wanita Indonesia agar senantiasa memperhatikan kearifan lokal bangsanya,” ujar Nila.

Nila mencontohkan tradisi wanita jaman dulu yang memakai bedak dingin untuk perawatan kulit di Indonesia. Sesuai dengan kondisi alam tropis Indonesia yang panas dan lembab.

“Sekarang lagi tren pakai produk pemutih. Hampir tiap perempuan Indonesia ingin kulitnya putih, jadi ramai-ramai pakai pemutih. Setelah pakai produk itu, saya justru sering mendapat pasien yang terkena efek sampingya,” kata Nila.

Agar edukasi itu sampai ke sasarannya, Nila mendirikan Puan Jakarta Boutique Clinic di akhir tahun 2003.

 

Kunci Sukses Database

Nila tahu, perempuan malas ke rumah sakit karena tidak mau waktunya terbuang percuma untuk mengantre, takut divonis sakit, dan ngeri melihat alat-alat kedokteran yang tidak akrab di hati.

Ketika mendirikan Puan Clinic, Nila berusaha memenuhi semua keinginan pasien perempuannya.

“Agar tidak antre, kita menerapkan konsep by appointment. Jadi kunci suksesnya ada pada database pasien,” ujar Nila.

Kalaupun pasiennya langsung datang, “tetap kita layani selama ada dokter yang bertugas saat itu. Tiap pasien yang datang mendapat layanan personal,” ujar Nila.

One by one yang diterapkan Puan Clinic membuat klinik perpegang kuat pada database pasien, berisi semua data pasien mulai dari nama, pekerjaan, medical record, hobi sampai minuman favorit.

Pentingnya database juga dirasakan saat pemberikan layanan kesehatan. Dokter akan memberikan edukasi yang dibutuhkan pasiennya.

“Pasien akan tahu, perawatan apa yang ia butuhkan,” ujar Nila.

Untuk memenuhi semua kebutuhan pasiennya, Nila menyediakan beragam fasilitas kesehatan, mulai dari dokter ahli gizi, kebugaran, ahli saraf, penyakit dalam, psikiatri dan psikologi medis, bedah plastik, akupunktur, psychopuncture, naturopathy, gigi, pap smear, hingga general check up untuk kesehatan perempuan.

“Jangan bayangkan ruangan yang seram seperti di rumah sakit. Seluruh desain interior ruangan di klinik ini dibuat homy. Pada saat konsultasi, pasien harus dibuat rileks. Karenanya kita taruh sofa agar suasana lebih kekeluargaan,” terang wanita kelahiran Jakarta 10 September 1962.

 

Menari Untuk Keseimbangan

Di kala longgar, Nila sempatkan waktunya berlatih menari. Katanya, menari adalah bagian dari olah tubuh untuk mengatasi masalah osteoporosis.

“Gerakan-gerakan tari yang luwes dan lentur itu seperti stretching. Ada juga nilai aerobiknya yang baik untuk kardiovaskuler. Dan paling utama, menari itu sangat baik untuk kekuatan tulan,” ujar Nila.

Nila luwes menggerakkan badannya menari tarian klasik jawa, seperti tari Bedoyo, Golek, dan Sarikusumo. Ia mulai mencintai tari sejak SD. Kini ia bergabung di Sanggar Tari Sumber Cipta pimpinan Farida Oetojo. Dan ketika waktunya sedikit lebih longgar, ia sempatkan bermeditasi ala yoga.

“Hidup harus seimbang,” ujar Nila memaknai hidup.

Menurut Nila, pemahaman mendasar tentang ke-Tuhanan, kemanusiaan, dan budaya penting sekali diajarkan dalam keluarga. Khususnya bagi pendidikan dasar anak.

Kalau nilai budaya ia tanamkan lewat tarian jawa –suami dan dua anak Nila ikut menari jawa -, khusus untuk nilai ke-Tuhanan ia tanamkan sehari-hari di dalam rumah juga melalui pengajaran di sekolah. Begitupun dengan nilai kemanusiaan.

“Sekarang saya sedang membantu program kampanye gizi seimbang dan makanan sehat di sekolah-sekolah. Launching-nya bulan Agustus di sekolah Al-Izhar. Kita ingin program ini ditiru di sekolah-sekolah lain,” kata Nila yang dua anak perempuannya bersekolah di Al-Izhar.

Nila berharap, kelak anak-anak bisa memilih makanan sehat untuk dirinya sendiri. “Bisa melalui edukasi, pemberian makanan di sekolah, juga melalui cooking class.”

Meski kegiatan tersebut menyita pikiran dan tenaganya, Nila senang-senang saja. “Itulah keseimbangan. Disaat kita sudah sibuk oleh pekerjaan kantor, di sisa waktu yang lain, kita harus seimbangkan dengan kegiatan lain, untuk diri sendiri, kemanusiaan, dan ke-Tuhanan,” ujar Nila.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | 2 Comments

Dr. Muthia Bachrum

‘Aku Pribadi Kontroversial’

Rasa peduli membuat Thia pulang ke Indonesia. Ia tidak peduli disebut ‘pahlawan kesiangan’, karena 5 tahun kemudian, dia harus kembali ke Washington.

 

Lantas, apa yang dilakukan Thia selama di Indonesia ?

Wanita berkulit putih ini langsung tersenyum lebar. Mantap ia mengatakan bahwa ia ingin menyelamatkan bangsa indonesia dari hydroquinon.

“Banyak yang tidak paham bahayanya hydroquinon ini. Saya tergerak untuk mensosialisasikan dampaknya,” kata Thia.

Thia begitu percaya diri. Di Amerika -tempatnya menetap selama ini- Thia bergabung dalam tim riset khusus produk-produk kosmetik. Thia bahkan mendapat penghargaan Woman of the years dalam skin care research dari White House Washington D.C tahun 2007.

Bahaya Terselubung

Mengapa hydroquinon membuat Thia gundah ? Untuk menjelaskannya, Thia merasa perlu berbicara detail dan sangat hati-hati. Sesekali, ia meminta untuk tidak menyebut nama produk-produk kosmetik.

“Hydroquinon banyak dipakai didalam kandungan produk-produk pemutih untuk kulit,“ kata Thia yang dikenal sebagai dokter kulit serta ahli bedah estetis dan kosmetik yang dineal di Amerika dan Swiss.

Sejak tanggal 1 Januari 2008, pemerintah melalui BPOM telah melarang penggunaan hydroquinon dan merkuri pada kosmetik. Pemakaian yang berlebihan dalam krem pemutih, kata Thia, dapat menimbulkan flek pada kulit, alergi, iritasi kulit, hingga kerusakan permanen pada otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin.

“Bahkan si pemakai bisa muntah-muntah, diare, dan kerusakan paru-paru. Serta zat korsinegenik dapat menyebabkan kanker. Khusus pemakaian hydroquinon, akan bertambah bahayanya, yaitu menyebabkan kelainan pada ginjal (nephropathy), kanker darah (leukimia), dan kanker sel hati (hepatocelluler adenoma),“ jelas Thia.

“Saya selamatkan bangsa Indonesia ini dari hidrokinon. Efek sangat banyak,” sesaat Thia menghela nafas panjang. “Sampai sekarang, di supermarket banyak sekali  produk kosmetik dari Cina, Bangkok, dan banyak lagi, yang sangat berbahaya. Masyarakat kita, yang penting putih. Ada kasus atau tidak ada kasus.”

Belasan tahun bekerja sebagai peneliti di Eropa dan Amerika, Thia bermimpi, ia bisa mendirikan lembaga independen sebagai pusat riset untuk produk-produk kosmetik.

“Inilah perlunya lembaga independent yang bisa membuktikan bahwa produk tersebut terkontaminasi. Masyarakat harus pro aktif mencari lembaga yang peduli dengan ini. Saya rindu sekali punya lembaga seperti ini,“ ujar Thia, sungguh-sungguh.

Riset Dan Penghargaan

Puluhan tahun Thia bergelut dibidang kosmetik. Ia meraih beberapa gelar, diantaranya ; Dipl. United Kingdom of General Physician Antiaging Medicine (1979), Dipl. European of Esthetic Laser Sugery (1997), Dipl. European of Cosmetologie Dermatology (1998), Dipl. European Society of Anti Aging Medicine (1999), Dipl. American Board of Laser Micropigmentation (2000), Dipl. Euro-Russian Converderation of Societed (2000), Plastic Aesthetic Sugery and Aesthetic Cosmetic (2002), dan Dipl. AAAMS (America Association of Aesthetic Medicine) (2003).

Meski berbekal banyak ilmu, Thia justru memfokuskan pada anti aging atau masalah penuaan dini.

“Ini berkesinambungan dengan pekerjaan saya di riset. Saya melihat banyak wanita menggunakan produk yang salah untuk memperlambat penuaan,” kata pemilik Derma Pro Clinic Aesthetic Center.

Keadaan inilah yang membuat Thia bersemangat melakukan riset di Amerika dan Swiss untuk menemukan produk anti aging yang tidak berbahaya.

Kata Thia, produk-produk EvidermA diakui di seluruh Eropa dan Amerika sebagai produk anti aging yang paling aman. Thia bangga, kaena dialah yang menemukan formula tersebut. “Ini bakti nyata kepedulian saya akan kesehatan kulit masyakat. Juga keinginan saya untuk menyediakan produk perawatan kulit yang siap digunakan oleh setiap orang tanpa rasa kuatir dan memberikan hasil pasti,” ujar ibu tiga anak ini, bangga.

Peran besar Vitamin A dan C didalam proses formulasi produk perawtan kulit The EvitdermA telah membuat suatu terobosan dan memulai era baru didalam proses pengobatan kulit yang tercemar maupun terkena sinar matahari (UV-B).

Salah satu misi Thia datang ke Indonesia memang untuk mensosialisasikan penggunaan vitamin A dan C dengan dosis tinggi, dikombinasikan dengan anti-oksidant sebagai penangkal radikal bebas.

Riset inilah yang membuat Thia mendapat banyak penghargaan di banyak momen. Diantaranya, Indonesian Profesional and Educator Award (2005), Indonesian Creative and Innovative Award (2005), Indonesian Profesional Branding Award (2005), Golden Trophy Award (2005), International Profesional Award (2005), dan terakhir penghargaan dari Berkley University USA (2007).

“Jadi kesimpulannya kita back to nature. Sesuatu yang natural itu memang tidak instant. Tapi proses itu jangka panjangnya baik. Seperti tradisional itu baik keadaannya,” ujar Thia.

Lebih Tua Dari Usianya

Penuan Dini

Adalah bagaimana kita menahan laju penuaan dini. Tua itu tidak mungkin dihindari. Dan aku berhasil. Penuaan dini itu menyangkut flek, kerutan, kekendoran daripada jaringan kulit. Biasanya erat hubungan dengan pigmentasi, kekeringan kulit, kulit tidak terawat, wrinkle. Orang tampak lebih tua daripada usianya. Itu karena lifestyle mereka. Kulit kita masuk golongan kulit Melanesia. Kulit bewarna. Jadi rentan pada kanker. Ultraviolet atau matahari itu faktor pertama.

Produk-produk kosmetik di Indonesia…

Untuk menyebutkan nama-namnya tentu saja tidak etis. Tapi produk-produk di Indonesia dibedakan dengan produk-produk Eropa. Kita lebih ke arah cosmetofisical bukan ke aesthetic. Aku lebih senang ambil yang base on nya natural tapi tetap ada teknologinya. Karena kita tidak bisa dengan natural biasa-biasa saja. Untuk mensosialisasikan ini tidak mudah. Karena Melawan arus itu tidak gampang. Tetapi, kalau kami berhasil sampai tujuan, kami akan jadi pemenang. Dan itu berarti telah menyelamatkan banyak orang. Aku mencintai kebenaran.

Harapan dan mimpi…

Aku mencintai pengetahuan. Aku suka belajar. Aku orang idealis yang mencintai negaranya. Aku juga mencintai Amerika. Itulah yang membuat aku terus bertanya pada Tuhan. Apakah aku harus pulang ke Indonesia? Setiap orang punya harapan dan mimpi. Tapi jangan mendahulukan keinginan pribadi diatas kepentingan masyarakat. Saya belajar hidup untuk orang lain. Karena dengan saya belajar banyak, prestasi itu akan terus bertambah dan membawa aku ke puncak tertinggi.

Cita-cita membuat buku…

Banyak penerbit yang mau beli hak cipta dari saya. Tawaran terakhir 150 ribu US Dolar. Tapi sampai saat inisaya belum berani memutuskan. Saya masih ingin berusaha sendiri. Mengedukasi mereka dengan biaya sendiri. Berapapun habisanya. Tapi saya akan membuat buku-buku filosofi, kesehatan, dan edukasi.

Pribadi dalam diri…

Saya sering disebut pribadi yang konroversial. Karena saya mencintai kebenaran. Kita tidak bisa kompromi dalam tanda petik. Kita harus melayani masyarakat. Kebenaran harus kita utarakan. Kalau berbahaya, ya harus katakan itu berbahaya. Tahun 2009 ini saya harus pulang ke Washington untuk menikah lagi. Anak-anak saya yang sedang selesaikan S2 dan S3, akan pulang teruskan misi ini.

Filosofi Kasih Ibu

Mama, du wirst doch nicht um deinen jungen weinen.

Mama, bald wird das wieder uns vereinen

Ich werd es nie vergessen, was ich an dir hab besessen…

“Lagu ini mahadahsyat. Sangat inspiratif, selalu menuangkan semangat serta kebesaran kasih sayang mama,” ujar Muthia tentang lagu Mama milik penyanyi cilik Belanda, Heintje.

Thia ini memang sangat mengagumi sosok mama atau ibu. Baginya, keberhasilan sebagai pakar evitderma selalu menyelipkan inspirasi sosok ibu yang sangat berperan dalam hidupnya.

“Momentum itu bermakna khusus, mulai saya di Tanah Air melakukan pencapaian luar biasa hingga ketika didera keputusasaan. Perasaan terabaikan sampai kembali meraih sukses, semua tertuang dalam filosofi kasih ibu,” suaranya bersemangat.

Wanita berusia 50-an ini menuturkan, seusai belajar ilmu antiaging dari Eropa, ia tergoda memberikan langkah praktis cantik dan awet muda dalam sekejap. Namun, ia harus menebusnya dengan harga mahal. Bersamaan dengan kesibukan serta keberhasilannya menciptakan obat cantik tadi, ia harus kehilangan suami tercinta. “Suami tergoda perempuan lain. Ngotot minta kawin lagi, tapi tidak mau menceraikan saya. Hidup saya porak poranda dan nyaris kehilangan semua.”

Penyuka olahraga dan makanan serba sayur itu lalu menyadari bahwa kekukuhan kasih ibulah yang membuatnya bisa bangkit. Sang ibu memintanya bangun kembali menata hari esok. Dia pun meninggalkan langkah konyolnya membuat produk kecantikan berbahan salah dan menyesatkan. “Akhirnya saya bercerai dengan suami. Kami pisah baik-baik meski dia sudah menyiksa saya lahir-batin,” ujarnya penuh lega saat itu.

Muthia mengubur kepedihan dengan memperdalam kecantikan di Amerika dan Eropa. Selesai kuliah, penyuka renang dan jalan-jalan ini meniti karier sebagai peneliti dan tim dokter di Dermatology Cosmetology Aesthetic Clinic Beauty America Aesthetic, Amerika Serikat. Di klinik yang mayoritas diminati anggota Partai Republik ini namanya berkibar sebagai pakar kecantikan evitderma.

Evitderma mengandung vitamin A dan C yang dalam proses formulasi produk perawatannya bisa mengobati kulit yang tercemar. Di Amerika, evitderma sangat populer karena aman dan nyaman. Laura George Bush, Cameron Diaz, adalah contoh figur pengguna setia. Bahkan, kadar kanker yang diidap Laura G. Bush bisa berkurang.

Pernah tiga kali menikah tak membuatnya putus asa. “Saya percaya suatu saat ada jodoh terindah yang dipersiapkan Tuhan. Saya tetap berdoa dan berusaha,” ucapnya bijak.

Tentang kebijakan, dia berkaca ke kakek buyutnya, Wolter Monginsidi, seorang pahlawan dari Sulawesi Utara. “Saya mendapat kesahajaan sikap bijak beliau dari cerita almarhum kakek saya, dokter Paul Santo Monginsidi. Dalam hidup, jika menanam suatu kebaikan, akan memanen hasil yang sama,” ujar Muthia yang belakangan bergiat kemanusiaan di Papua. Anak kedua dari enam bersaudara ini memang bercita-cita menjadi dokter. “Dokter profesi mulia. Hidupnya menolong orang.”

Aien Hisyam

November 18, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | 1 Comment

Suzy D. Hutomo

Bukan Wanita yang Senang Publikasi


Banyak hal terjadi, yang membuat Suzy harus berkompromi. Termasuk ketika anak-anaknya memilih bersekolah secara homeschooling, dan ketika global warming menyerang. Apa hubungan keduanya?


Ia bukan wanita yang senang dipublikasi. Ketika, lampu kamera tak henti memotret tubuhnya, Suzy gelisah. “Wah, saya bukan artis loh, kok banyak bener motretnya,” ucapnya.

Usai memberikan mempresentasikan bahaya global warning di depan mahasiswa, Suzy bercerita panjang tentang aktifitasnya di bidang lingkungan. Termasuk, kepergiannya mengikuti training Al Gore, bulan Juli lalu di Melbourne, Australia.

“Dibagi-bagi ‘lah waktunya,” kata Suzy tentang kesibukannya. Wajar saja Suzy berkata demikian. Ia tak hanya ibu dari anak remaja yang menjalankan pendidikan secara homeschooling, tapi juga CEO The Body Shop Indonesia (TBS). Satu toko perlengkapan perawatan tubuh asal Inggris yang didirikan Anita Roddick.

Ada benang merah antara aktifitas Suzy di bidang sosial dan lingkungan. Selama ini, TBS sangat konsen pada lingkungan juga masalah-masalah perempuan.

Peduli Sejak Remaja

Pribadi Suzy terbentuk sejak ia masih kecil. Terus berlanjut ketika ia kuliah di New York, Amerika Serikat.

“Saya konsen di masalah llingkungan dari muda. Dari SMA. Saya dulu sering ikut aktivitas pecinta alam, juga pecinta binatang. Lalu saya sekolah di New York, mulailah saya join gerakan-gerakan lingkungan. Waktu itu masih simpel tidak seperti sekarang,” kenang Suzy.

“Dulu, waktu saya sekolah di luar, di sana ada banyak aktifitas kurikuler. Pecinta alam dan pecinta binatang itu masuknya buat anak-anak muda,” kata Suzy.

Berlanjut hingga Suzy menikah. “Saya dan suami mencari bisnis, dan kebetulan kita sama-sama senang dengan The Body Shop. Dari situlah kita menjadi semakin konsen di lingkungan,” ujar Suzy, bersemangat.

Bersama Hutomo Santosa, suami Suzy, mereka berdua mendirikan TBS di Indonesia, di tahun 1992, di bawah naungan PT Monica Hijau Lestari.  Awalnya, TBS bergerak sebagai Provider Manager. Karena prestasi kinerjanya, iapun  diberi kepercayaan oleh Gordon Roddick untuk menset-up kantor The Body Shop Asia Pasific Regional.  Posisinya saat itu sebagai Regional Marketing dan Values Director Asia Pasifik.

Suzy tidak hanya merasa dekat secara pekerjaan. Dengan si pemilik, mendiang Anita Roddick, Suzy mengaku sangat dekat. Ia juga sangat terpukul dan kehilangan ketika Anita meninggal dunia.

TBS sangat peduli dengan lingkungan. Suzy mencontohkan, saat ini seluruh toko TBS tidak lagi memakai pajangan yang terbuat dari kayu. Semua didesain dari bambu, metal dan kaca. TBS juga menerima kembali botol-botol bekas TBS.

“Awalnya Kita lebih banyak mengurus emisi kita sendiri. Itu komitmen nomor satu,” tegas Suzy. Lambat laun, TBS mulai melakukan aktivitas berupa kampanye dan pemberian informasi melalui liflet. Kegiatan yang pernah dilakukan diantaranya melakukan penanaman 10 ribu pohon.

Setelah Jadi Presenter

Suzy selalu total dalam bekerja. Pilihannya sebagai aktivis lingkungan, ia jalani dengan sangat serius. Pun ketika ada tawaran training Al Gore di Melbourne, Australia belum lama ini, Suzy langsung mengambil kesempatan tersebut.

“Kegiatannya, baru tanggal 12 Juli lalu, selama 3 hari. Ada sekitar 25 negara yang ikut, dan dari  Indonesia ada 50 orang. Ada yang dari pemerintahan sekitar 10 orang, ada juga yang meneliti Badak Jawa, ada aktivis lingkungan, aktvis sosial, sampai wartawan,” cerita Suzy antusias.

Awalnya, kata Suzy, ia ditawari untuk mengisi aplikasi yang ada di di internet, yang dibuat BNPI. ‘Ibu Amanda Tapili, presenter pertama di Amerika. Dia yang menyebarkan berita ada Training Al Gore. Kita harus ikut tes berhalaman-halaman. Dan ternyata, dari Indonesia yang apply lebih dari 250. Setelah disaring, terpilih 50 orang. Itupun, Indonesia sudah dapat jatah banyak, karena Indonesia penting untuk gerakan lingkungan. Indonesia menjadi salah satu Tropical Forest di dunia,” ujar Suzy.

Kini, Suzy semakin percaya diri saat berbicara tentang kondisi lingkungan yang sedang terjadi di dunia, termasuk salah satunya adalah masalah Global Warning.

“Melihat presentasi ini, orang pasti akan sadar. Apalagi masalah ini terjadi secara progresif. Meningkatnya semakin cepat dan semakin tinggi. Kita harus segera sadar dan mengantisipasinya. Liha saja, badai-badai semakin sering. Kecepatan perubahan iklim ini sedang terjadi, dan kita harus peduli,” kata Suzy.

‘Profesi’ baru Suzy sebagai presenter, dijalaninya dengan penuh antusias. Itu berarti, Suzy akan semakin sering mempresentasikan tentang bahaya perubahan iklim ini, termasuk berkampanye di ruang publik.

“Memang susah sih. Itulah kenapa saya ikut jadi presenter. Karena ya itu, sering kali kita ngomong-ngomong begitu, orang hanya berkomentar, “apa sih”. Tapi, sejak saya jadi presenter, jadi lebih mudah. Karena saya sudah di training, jadi saya bisa jawab. Dan yang kedua, saya punya alat ini,” ujar Suzy, senang.

Masalah Trafficking

Selain masalah global warning, perempuan, dan AIDS, saat ini Suzy bersama TBS tengah mempersiapkan isu baru yaitu trafficking pada anak-anak.

“Sekarang kita ada tema lain lagi, trafficking. Nanti bulan November mulai dikampanyekan. Itu urusan sosial, selain urusan lingkungan. Kalau ligkungan itu sudah menjadi dasarnya, dari awal sampai sekarang. Ke depan, kita akan mangangkat masalah perdagangan manusia. Secara global Body Shop lagi mengkampanyekan ini. Semua negara lagi kampanyekan juga. Karena, ada negara penerima, dan ada negara pengirim. Indonesia adalah negara pengirim. Kalau negara penerima seperti Amerika, Jepang dan banyak lagi,” ujar Suzy. Untuk masalah ini, TBS bekerjasama dengan ECTAT, Yayasan yang menyebar di dunia yang bergerak di masalah trafficking.

Trafficking yang dijadikan tema pun, adalah trafficking yang menimpa anak-anak, yaitu yang di bawah usia 18 tahun. “Kasihan sekali kalau mendengarnya,” ungkap Suzy, dengan nada lirih.

Suzy memang sangat respect terhadap masalah anak. Meski kesibukannya sangat padat, Suzy tak pernah meninggalkan waktu-waktu kebersamaan dengan tiga anaknya, Luisa, Leonardo dan Lyria.

“Masak saya bisa respek dengan orang lain, tapi tidak dengan anak saya?” ujar Suzy tentang pilihan anak-anaknya yang memilih homeschooling. “Untungnya, meskipun homeschooling, bukan berarti mereka tidak suka bersosialisasi. Tapi, dia memiliki personaliti yang kuat, seperti ayahnya. I respect my children, dan perubahan terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya menghargai anak saya,” lanjutnya, bangga.

Aien Hisyam

November 3, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | Leave a comment