Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Vivit Arivianti Arifin

“Aku Bersyukur Meski Dua Anakku Meninggal”

 

            Kalau boleh meminta, tentu Vivit saja tidak ingin kehilangan dua anaknya. Berkat keikhlasan dan kesabaran, ia justru diberi kenikmatan yang lain, sukses membesarkan bisnis Baby Born face Video Clip.

 

Di teras yang sama Vivit menerima WI. Ada satu perbedaan mencolok di wajah Ibu muda ini. Ia tampak lebih segar dan bercahaya.

“Oh iya, dulu kita ketemuan aku baru saja kehilangan anak keduaku. Nah, sekarang aku sudah punya Kenzie,” ujar Vivit dengan nada bahagia.

Vivit kemudian berdiri dan menghilang di balik pintu. Tiga menit kemudian ia muncul, “wah sayang, Kenzie lagi tidur. Tapi nggak apa-apa, nanti setelah wawancara pasti dia sudah bangun,” kata Vivit yang ingin sekali memperlihatkan anak ketiganya, Muhammad Kenzie Danendra, 1,2 tahun.

Vivit bercerita panjang lebar tentang kebahagiaannya dikaruniai Kenzie. Anak ketga yang semata wayang, yang amat diharapkan.

“Aku selalu berpikir positif bahwa Allah punya rencana besar padaku. Kenapa dua anakku terdahulu begitu cepat diambil dari hidupku, dan kenapa baru sekarang aku bisa bernafas lega punya anak yang sangat aku harapkan. Ini semua bagian dari skenario Allah pada hidupku. Termasuk bisnis Baby Born Face yang aku rintis dan kini berkembang dengan luar biasa. Aku selalu bersyukur,” kata Vivit Arivianti Arifin, 29.

Seolah Berbicara Pada Anak

Kehadiran si Kecil dipandang Vivit sebagai anugerah-Nya yang terindah dalam hidupnya, juga semua pasangan laiinya. Baginya, sayang sekali bila momen itu terlewati begitu saja.

“Aku benar-benar merasakan momen indah itu setelah kehilangan anak keduaku, Rayhan Syahandra. Dia lahir setelah aku mulai bisnis ini. Semua yang terjadi di awal kehidupannya terekan dengan indah dalam video. Aku yang edit sendiri. Sayangnya Tuhan langsung mengambil anakku. Tentu saja aku sedih. Tapi hingga kini aku masih merasakan bahwa Rayhan ada disisiku. Aku bisa melihat wajahnya meskipun hanya melalui video rekaman,” ujar Vivit.

Kenangan itu menjadi bagian terindah dalam hidup Vivit. Sejak itulah ia serius mengembangkan bisnis Baby Born Face Video Clip (BBFVC).

“Semua orang tua pasti ingin mengabadikan momen indah itu. Dan, momen itu hanya sekali seumur hidup. Tidak bisa diulang lagi. Jadi sayang dilewatkan,” kata istri pengusaha Abdhy P. Azis.

Bisnis ini memang barus dimulai Vivit sejak pertengahan tahun 2002, menjelang kelahiran Rayhan Syahandra. Vivit berinisiatif membuat rekaman videonya. Namun, kali ini dia menggunakan format yang agak berbeda. Dia mulai membuat satu cerita skenario untuk persiapan kelahiran bayinya.

”Saya mempersiapkan cerita itu seperti mengemas infotainment. Mulai wawancara dokter, orang tua si bayi, hingga wawancara kakek neneknya,” urai Vivit.

Rekaman juga dilengkapi dengan kegiatan pasangan muda ini ketika mengunjungi dokter untuk periksa USG, upacara 7 bulanan (akekahan atau mitoni), senam hamil, berburu pernik-pernik si kecil di mall dan banyak lagi. Paling tidak ada pertemuan empat kali.

Tidak Ada Bekas Anak

Di dalam rekaman berdurasi singkat 20 menit atau 40 menit itu, para ‘narasumber’ berbicara di depan kamera. Mereka seperti berbicara pada anaknya.

“Bukankah pernyataan itu akhirnya untuk anak juga. Anak harus tahu bagaimana perasaan orang tua dan orang-orang terdekat dalam hidupnya ini tentang dirinya. Anak juga harus tahu bagaimana pengorbanan ibunya saat melahirkan agar selalu tetap mencintai, menghormati, dan melindungi sepanjang hidupnya. Bukankah tidak pernah ada istilah bekas anak. Walaupun orang tuanya bercerai, anak ya tetap anak,” ujar Vivit.

Nampaknya Vivit kini tengah menikmati kesuksesannya. Di bawah bendera Creator Visual Sejahtera. Hampir setiap hari ia terima order, minimal 2 klien. Vivit bahkan sudah menjalin kerjasama dengan 12 Rumah Sakit terkemuka di Jakarta. Paling tidak, setiap hari kru BBFVC – yang semuanya wanita – mengambil gambar satu kelahiran.

“Kru harus siap 24 jam. Bukankah Peristiwa kelahiran tidak seperti acara pernikahan yang bisa ditunda-tunda. Kalau memang sudah waktunya, yah harus dikejar. Jadi kalau misalnya klien sudah masuk Rumah Sakit, paling tidak 5 menit kemudian, kru kami sudah datang. Mereka akan ikut semua proses kelahiran, dan mensyut dari dekat,” kata Vivit yang mengaku lega karena dokter-dokter di Rumah Sakit dengan senang hati mau bekerjasama.

Menurut dia, yang paling seru adalah saat menjelang kelahiran. Kru yang terdiri atas dua orang harus stand by meski baru bukaan dua. “Mereka tidak boleh pulang meski itu tengah malam atau dini hari. Padahal, bukaan dua itu bisa bertahan dua hari,” terang anak kedua di antara dua bersaudara itu.

Semua peristiwa itu direkam dengan manis oleh para kru BBFVC. Di edit dengan rapi, diberi gambar-gambar visual yang menarik, diisi lagu-lagu lembut yang disukai kedua orang tuanya, juga diberi kata-kata yang menyentuh. Ada pula suara narator yang membacakan penggalan-penggalan kalimat indah.

“Kalau klien pilih paket B yang 40 menit, jauh lebih lama. Bisa memuat lebih banyak peristiwa,” ujar  lulusan London School of Public Relation.

Lebih Human Interest

Vivit menawarkan beberapa paket untuk dokumentasi tersebut. Dokumen yang berdurasi 40 menit dalam bentuk VCD atau DVD seharga Rp 4 juta. Paket itu berisi wawancara ke dokter, syuting dalam ruang bersalin, dan kegiatan selama masa kehamilan. Selain itu, klip senam dan belanja keperluan bayi.

Klip yang berdurasi 20 menit dalam bentuk VCD seharga Rp 2 juta. Berisi rekaman di ruang bersalin dan wawancara dengan keluarga. Ada pula paket baby face. Paket ini berupa foto yang mendokumentasikan sewaktu berada di ruang bersalin. Untuk album kecil, harganya Rp 550 ribu dan album besar Rp 1,1 juta.

Album itu juga terdiri atas cerita dari pasangan ketika sama-sama masih kecil, dewasa, pacaran, sampai akhirnya menikah dan melahirkan bayi.

Bisnis yang dirintis Vivit memang pertama kalinya di Indonesia. Untuk menjaga kreatifitasnya agar tidak ditiru orang lain, wanita asali Jawa Timur ini mendaftarkan karyanya ke Departemen Kehakiman untuk mendapat hak cipta.

“Lega rasanya begitu suratnya keluar. Sekarang aku tidak cemas lagi kalau ada yang nekat meniru bisnis ini bisa dikanai sangsi hukum,” kata ibu tiga anak, Talitha Sadiya, Rayhan dan Kenzie.

Vivit mengaku karyanya itu orisinal meski sebenarnya ada tayangan Dicovery Channel yang merekam kelahiran bayi dari sisi medis. “Memang, ada tayangan semacam itu. Namun, itu lebih menunjukkan cara-cara melahirkan dengan mudah dengan upaya medis, sedangkan saya lebih ke human interest-nya,” urainya.

Aien Hisyam

*wawancara 14 Juli 2006*

Advertisements

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo

Another Time Competitors Can be Partners

Ia pioner web design di Indonesia. Juga penggagas kompetisi bergensi di Indonesia khusus untuk para disainer. Lantas, apa yang masih dicari wanita cantik dan sukses bernama lengkap Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo ini?

Baru dua bulan Shinta menempati kantor barunya di kawasan Mendawai- Kebayoran Baru. Rumah dua lantai itu didesain milimalis. Dinding hanya dihiasi beberapa lukisan yang didominasi warna oranye mencolok. Berpadu serasi dengan warna tembok yang abu-abu.

“Kali ini kantornya benar-benar aku disain sesuai keinginanku. Simpel dan tidak banyak ornamen. Khusus untuk ruang kerja, semuanya ada di lantai dua. Biar terjaga privacynya,” ujar Shinta dengan mata berbinar.

Uniknya, kesan simpel justru tidak terlihat di ruang kerja Shinta yang berada di salah satu sudut ruangan. Ia justru bermain dengan warna-warna gelap dan interior bergaya Eropa.

“Hahaha, biar ada suasana yang beda aja, tidak monoton, dan bisa membuat kerja lebih bergairah,” kata Shinta sambil tertawa lepas.

Sebagai pekerja kantoran yang lebih banyak berkutat dengan komputer juga ide-ide segar, tentu saja Shinta butuh tempat kerja yang nyaman. Pemandangan itulah yang nampak di kantor PT.Bubu Internet saat ini.

One Stop Solution

Bulan Juli tahun ini, usia Bubu genap sepuluh tahun. “Tidak terasa yah? Aku tahunya, Bubu ulang tahun setiap bulan Juli. Tanggalnya sih lupa. Dan sekarang, umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah ABG,” ujar Shinta dengan wajah cerah.

Sejauh ini, diakui Shinta, ia sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Bubu Internet. Apalagi, sebagai CEO sekaligus pemiliknya, Shinta harus lebih kreatif menciptakan hal-hal baru.

“Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin membutuhkan Web Page yang baik agar bisa berkompetisi dengan para pesaingnya di negara-negara lain. Nah, mereka bisa melakukan aktifitas bisnis di Internet. Sebagai Web Develompment company, Bubu.Com fokus melayani designing webpages, intranet solution, e-commerce, networking solution, internet marketing and training,” jelas Shinta.

Shinta menyebut usahanya sebagai one stop solution untuk web development.

Jadi kalo ada perusahaan yang ingin ada presence di internet, Bubu bisa membantu dari mendesain situs, hosting, dan sampai me”marketing”kan situs web dalam bentuk pembuatan banner dan mendaftarkan di dalam search engines juga. Bubu juga mengembangkan web programmings yang didevelop tailor made to suit the clients’ needs,” kata ibu dua putra ini antusias.

Shinta juga aktif menjadi pembicara tentang internet di acara seminar disejumlah sekolah dan universitas bergengsi.

Ditanya tentag kompetitor yang sekarang kian menjamur di Indonesia, dengan bijak Shinta mengatakan, “everyone can be competitors but on another time competitiors can be partners. Saya adalah believers dari stategic alliance. We can always try to partner or alliance with any one dimana kita akan bisa menonjolkan kemampuan dari masing2 pihak. Never thought of you guys that way. Just wondering, is that how you guys feel about us, since you asked the question? Hope not,” ujar lulusan University of South Australia yang kemudian mengambil gelar master of business Administration di Portland State University, Portland, Oregon, USA, dan memperdalam ilmu Arsitektur dan Interior di University of Oregon di Eugene-USA.

Nama Anjing Kesayangan

Ketika pertama kali mendirikan perusahaan ini, Shinta mengaku bingung akan memberinya nama apa.

“Tiba-tiba aku ingat anjing kesayanganku. Bubu itu memang nama anjingku. Tetapi aku pakai nama itu karena sangat simpel, mudah diingat and because it sounds so funny it will stick in your mind,” ujar Shinta sambil tersenyum.

Lahir di Jakarta tanggal 18 Januari, Shinta dibesarkan di Manila, Filipina. Tujuh tahun ia habiskan berkuliah di Amerika. Berbekal pengalaman yang sangat beragam, Shinta kemudian mendirikan Bubu. Di perusahaan yang hanya berpegawai 25 orang ini, Shinta menjadi CEO sekaligus founder dan shareholder.

Berkat hasil kerja kerasnya, Bubu kini dipercayai lebih dari 70 klien.

“Untuk perusahaan seperti BuBu, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebersamaan atau team work antara setiap individu di perusahaan. Fleksibilitas dimana perusahaan dapat bereaksi terhadap permintaan pasar dan bukan memaksakan diri kepada pasar. Sedangkan kebersamaan melahirkan kemampuan yang terkoordinasi untuk melayani permintaan klien yang pastinya sangat variatif,” ujar peraih sejumlah penghargaan diantaranya Executive Women 2001, Young Modern Hero of Indonesia dari Hard Rock FM, 10 Young and Creative Individuals dan Lucky Strike Award.

Namun dari sekian banyak prestasinya, ada satu kebanggaan yang membuat nama Shinta kian bersinar, yaitu Kompetisi Bubu Award.

Bubu Awards adalah kompetisi web design yang diklaim paling bergengsi di Indonesia. Diadakan setiap Bubu Internet sejak tahun 2001. Setiap tahun ada tema khusus yang diperlombakan, semisal tema Pariwisata Indonesia (Indonesian Tourism) yang menjadi tema Bubu Award tahun 2005.

Bubu Awards selalu mengundang puluhan nama terkenal yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri untuk menjadi juri serta menggandeng Ernst and Young sebagai tabulator resmi . Adapun beberapa kategori atau kelas yang bisa diikuti dalam Bubu Awards. Mulai dari Individual, Corporate, dan People’s Choice Awards: Best Web Celebrities Awards and Best Blog Awards.

Dan yang paling membanggakan, mulai tahun 2005 Bubu Awards terpilih sebagai perwakilan World Summit Award di Indonesia. World Summit Awards adalah kontes global untuk pemilihan dan mempromosikan e-contents dan application terbaik di tingkat dunia yang didukung oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UNESCO, International Telecommunication Union, United Nations Information and Communication Technologies Task Force, dan Ministry of Industry & Commerce Kingdom of Bahrain.

Aien Hisyam

*wawancara 10 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Peni Cameron

Saatnya Animasi Indonesia Berjaya


Meski tak berbekal background animasi, Peni telah melakukan banyak hal untuk animasi Indonesia. 6 studio telah ia bangun di 6 daerah. Tahun ini ia siap meluncurkan Hotel Animasi di 33 propinsi di Indonesia.

Tidak mudah menemui Peni Cameron. Kesibukan wanita ini luar biasa. Sebelum acara penganugerahan Indonesia Ceative Icon (ICI) -satu penghargaan yang telah ia gagas sejak dua tahun silam- dibuka, Peni berbincang-bincang tentang dunia yang membuatnya jatuh hati.

Berbicara tentang ICI, dengan bangga, Peni katakan bahwa ada sembilan spektrum yang diperlombakan, yaitu digital music, digital comic, animation, music performance, dance, fashion, craft, applied science, dan game. Saat itu, ada puluhan anak remaja dari belasan daerah, yang siap memperebutkan gelar juara ICI 2010.

“Acara ini untuk mendorong dan mengembangkan industri kreatif. Yaitu dengan mengangkat budaya daerah untuk menciptakan peluang bisnis bagi kreatir dan produsen, pelaku distribusi dan pasar serta pengguna di tingkat nasional,” kata wanita bernama lengkap Peni Iswahyurani.

Diawali Dari Cinta

“Sejak kapan ya saya suka animasi?” sesaat Peni bertanya, dan terdiam. Bibirnya tersenyum. “Yang pasti itu terjadi sejak kecil.”

Peni pun bercerita tentang masa kecilnya. ‘Dulu, Ayah ku sering pinjam rol-rol film bioskop kepunyaan Mabes TNI Angkatan Laut. Di Surabaya. Kita, sekeluarga, selalu nonton bersama-sama. Waktu itu, filmnya masih hitam putih dan diputar pakai proyektor,” kenang Peni, tersenyum.

Meski dengan sarana yang terbatas, Peni langsung jatuh hati pada film-film animasi. Katanya, dengan animasi, orang bisa berimajinasi apa saja, bahkan setinggi-tingginya. Bebas berekspresi hingga membuat kejadian-kejadian yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Animasi juga bisa membangun karakter seseorang, menjadi tokoh pujaan, dan menjadi imajinasi anak-anak.

“Ada persahabatan, kompetisi, kerja keras, dan banyak lagi. Dengan animasi, anak-anak bisa belajar dan terbangun perilakunya. Inilah media yang disukai anak-anak hingga orang dewasa,” kata Peni.

Meski menyukai film animasi, saat itu Peni belum terpikir akan terjun di bidang tersebut. Ia justru mengambil kuliah teknik arsitektur.

Lulus kuliah, Peni menekuni bidang pemasaran. Pengetahuan di bidang arsitektur, ia pakai untuk memetakan konsep-konsep pemasaran bidang tertentu. Lama kelamaan, Peni menyukai pekerjaannya menjadi sales person produk furnitur dan software. Peni juga sempat berbisnis seprai, pernak pernik rumah tangga, dan parcel.

Tidak Berkembang

Pertemuan Peni dengan Dian, seorang animator, di tahun 1996, merubah hidup Peni selanjutnya. Obrolan santai sesama teman ini memunculkan banyak ide di kepala Peni. Dengan penuh keyakinan, Peni mendirikan PT. Adianimas Cipta, perusahaan yang bergerak di bidang animasi. Peni berharap, banyak perusahaan yang tertarik membuat film animasi.

Sembari menunggu produser yang mau membuat film animasi, Peni membuat animasi untuk iklan-iklan. Sayangnya, apa yang dinanti-nantikan tak kunjung datang. Peni prihatin karena tidak ada produsen yang mau ‘menghidupi’ film animasi produksi Indonesia.

Peni pun banting stir membuka lembaga pendidikan dan pelatihan (training company). Wanita ini mengaku kecewa, saat itu ia tidak bisa berbuat banyak di bidang animasi. Meski begitu, Peni tetap berjanji dalam hati, suatu saat ia akan kembali ke dunia yang ia cintai, animasi.

Gayung bersambut. Tak berapa lama, ia bersama 12 temannya yang lain mendirikan AINAKI (Asosiasi Industri Animasi & Konten Indonesia) di tahun 2004. Tentu saja Peni senang.

“Tapi, sayangnya AINAKI tidak berjalan sesuai harapan,” sesaat Peni menghela nafas panjang, “pelaku industri animasi masih sering kesulitan membiayai hidupnya. Bidang ini masih kurang populer di Indonesia. Walaupun pemerintah mensuport dan membantu, itu belum cukup.”

Melalui pengamatan Peni –setelah wanita ini terjun lebih jauh di dunia animasi- banyak hal yang harus diperbaiki. Berbekal ilmu pemasaran yang telah ia jalani, Peni nekat mendirikan PT. Citra Andra Media (CAM Solutions) atau biasa disingkat CAMS pada 5 Juni 2006.

Kali ini, Peni bertekat untuk maju terus membesarkan dunia animasi Indonesia. Langkah awal yang ia lakukan adalah mencari dana untuk menjalankan program-program AINAKI.

Lagi-lagi Peni rencana Peni tidak berjalan mulus. Ia harus menerima kenyataan tidak ada film yang bisa diedarkan ke masayarakat. “Tapi, itulah resiko, harus dihadapi,” tegas Peni, yang tidak pernah merasa putus asa.

Cari Ke Daerah-Daerah

Peristiwa ini membuat Peni mendapat pelajaran baru, bahwa untuk menjual animasi, maka harus ada filmnya dulu. Ia pun mulai melakukan road show ke kota-kota Indonesia untuk memperkenalkan dunia animasi, sekaligus menjaring pelaku-pelaku industri Animasi.

Ada sekitar 12 daerah yang didatangi Peni, yakni Jakarta, Makasar, Yogyakarta, Medan, Padang, Bandung, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, Balikpapan, hingga Jayapura. Peni tak hanya menjadi pelaku industri animasi di daerah. Ia juga bekerjasama dengan televisi lokal, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Peni bersyukur, kerja kerasnya berjalan sesuai rencana. Ia bahkan bangga karena pemerintah memintanya membantu pemetaan penyebaran industri animasi di Indonesia.Sayangnya sukses ini tidak diikuti dengan antusias televisi nasional.

“Akhirnya, film-film animasi ini saya jual ke televisi-televisi lokal,” kata Peni. Ia pun satu per satu membangun studio animasi di daerah. Diantara di Bandung, Yogya, Malang, Surabaya, dan Bali. Ini ada 6 studio animasi yang tersebat di  kota-kota tersebut. Dan, kata Peni, jumalh itu akan terus bertambah.

“Ada yang khawatir dengan biaya. Tapi, saya selalu bilang bahwa orang kreatif tidak pernah memikirkan biaya. Ia diberi kelebihan untuk memutar otak, mewujudkan semua rencananya. Kita harus kreatif mewujudkannya,” kata wanita kelahiran Surabaya, 13 September 1966.

Sembari studio animasinya berjalan, Peni kembali harus menjalankan satu rencana besarnya, yakni mewujudkan Hotel Animasi sesuai dengan impiannya. “Rencana tahun ini sudah di launching satu hotel animasi,” katanya, bersemangat. Dimana tempatnya, sambil tersenyum Peni menjawab, “masih rahasia ya.”


Karakter Itu Penting

Tidak mudah menciptakan karakter untuk film animasi yang sesuai dengan budaya Indonesia. Termasuk membuat dialog-dialog yang berkualitas dan enak di dengar.

Ada beberapa film animasi yang telah dibuat Peni dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, dan ‘Serial Catatan Dian, ‘Kuci-Kojo’, ‘Bany’, ‘Bakpia vs Geplak’, dan ‘Him & Her’.

“Tapi saya belum puas,” kata Peni dengan nada tegas.

Peni masih ingin menggali lebih jauh lagi budaya-budaya lokal dari 33 provinsi. Ia ingin tokoh-tokoh karakter film animasinya, bisa melekat di hati dan ingatan masyarakat Indonesia. Ia punya mimpi, karakter-karakter tersebut tidak kalah dengan karakter buatan luar negeri. Kata Peni, karakter dari tokoh dalam film animasi itu sangatlah penting.

“Siapapun bisa menciptakan karakter atau tokoh animasi sesuai imajinasi mereka. Contohnya saja, yang tim yang membuat Catatan Dian, kata si pembuatanya, itu terinspirasi dari saya, dengan rambut yang juga warnanya merah,’ ujar Peni sambil tertawa lepas.

Saat ini, Peni tengah sibuk mempromosikan film-film dan tokoh-tokoh animasi buatan CAM’s di sejumlah televisi nasional. ‘Semoga, semangat kita membesarkan animasi Indonesia bisa menular ke siapa saja,’ kata Peni, bersemangat.

Aien Hisyam

February 11, 2010 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Jacqueline Losung

Senang Membuat Isi Materi


Banyak ‘dunia’ yang ia ‘singgahi’, dan akhirnya, Jacquline memilih menjadi pemimpin di situs entertainment terkenal KapanLagi.com. Apakah ini menjadi akhir ‘persinggahan’ wanita cantik ini? Jacqueline pun tersenyum.

‘Maklum kantor baru,’ ujar Jacqueline, tersenyum. ‘Jadi belum ada papan namanya.’ Rupanya, perusahaan situs entertainment ini baru beberapa bulan menempati ruang barunya. Begitupun dengan Jacqueline yang juga baru beberapa bulan memegang kendali perusahaan tersebut.

Bukan hal baru bagi wanita muda ini terjun di dunia internet. Jauh sebelumnya, Jacqueline sudah malang melintang di bidang ini. Ia bahkan pernah di percaya perusahaan besar Yahoo, untuk menjadi Authorized Re-seller di Indonesia.

“Sejak saya bergabung dengan Yahoo, dunia online dan internet menjadi daya tarik yang luar biasa bagi saya,” kata Jacquliene, antusias.

Maka, tak salah ketika tawaran memegang KapanLagi.Com datang, Jacqueline langsung menerima dengan senang hati. Ia menganggap bahwa kesempatan tak akan datang untuk kedua kali.

Jual Beli Film

Jacqueline mengawali karir media di dunia televisi. Ia bekerja hampir selama 14 tahun di Divisi Programming RCTI, dan sesekali menjadi TV Announcer atau pembawa acara quiz untuk event special.

“Ketika saya di televisi saya berkesempatan untuk membangun networking yang lebih luas dengan berbagai producer dan distributor film di seluruh dunia,” cerita Jacqueline.

Setelah meninggalkan RCTI, Jacqueline dan beberapa temannya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang TV and Film Licensing.

“Pada saat itu, salah satu property terbesar yang kami miliki adalah Liga Italia Serie A untuk 3 tahun berturut-turut. Kita satu-satunya distributor yang bisa menjual program bola ke dua stasiun televisi sekaligus,” ujar Jacqueline, bangga.

Selanjutnya, Jacqueline menjalin kerjasama dengan mitra dari Malaysia, untuk memasok program-program hiburan dari Indonesia.  Bersamaan dengan itu Jacqueline diajak teman-temannya asal Malaysia dan Singapura untuk membentuk sebuah perusahaan yang bidang usahanya adalah Media Online.

“Dari sinilah saya mulai bergelut dengan bidang yang sangat baru ini buat saya dan kami menjadi Authorized Reseller Yahoo di Indonesia. Tugas saya adalah membantu memperkenalkan Yahoo di Indonesia dan ‘memonetize’ web network mereka,” ujar Jacqueline.

Banyak hal baru yang dipelajari Jacqueline dengan cepat. Sambil tersenyum cerah, ia mengaku senang memikirkan, mengkonsep dan membuat content.

“Kalau di bidang online, saya memang masih sangat baru, tetapi intinya apapun yang saya lakukan harus bermanfaat bagi banyak orang. Kalau di televisi bagaimana kita menghadirkan program yang disukai dan menghibur banyak orang. Waktu di mobile saya membuat inovasi dengan Global Starter Pack. Mudah-mudahan di online juga demikian, saya bisa membuat content cerdas dan menarik.

Menarik dan Berbobot

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia media, Jacqueline percaya dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat terhadap akses informasi yang lebih luas, media online akan menjadi media yang sangat penting.

“Oleh karena itu saya sangat tertarik bergabung dengan Kapanlagi.com karena ini adalah “the biggest entertainment website in Indonesia”  dan disini saya tidak saja bertugas bagaimana me-monetize sebuah entertainment portal, tetapi yang lebih menarik lagi saya diberikan kesempatan untuk mengembangkan isi dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak yang lebih luas agar sajian Kapanlagi.com dapat lebih menarik dan berbobot .”

Ketika, Jacqueline diberi kesempatan mengembangkan isi materi di situs KapanLagi.com, hal itu membuatnya kian bersemangat. ”Karena ini adalah bagian dari keinginan saya selama ini sejak terjun di bidang online. Sejak dulu, saya ingin menjadi ahli di bidangnya. Dimana pun saya ditempatkan saya ingin menjadi ahli dan yang terbaik di bidang tersebut,’ tegas Jacqueline.

Khusus di KapanLagi.com, Jacqueline dan timnya tengah mmepersiapkan empat kanal baru.

”Itulah kenapa mereka menempatkan perempuan disini,” sesaat Jacqueline tertawa renyah, ”karena itu akan berhubungan dengan dunia perempuan. Ada women only, ada life style, olah raga bola dan otomotif. Yang empat ini akan lebih kita seriusi lagi. Selama ini KapanLagi.com dikenal sebagai situs entertainment.”

Dengan adanya empat kanal tersebut, diharapkan KapanLagi.com akan semakin lengkap. Toh begitu, Jacqueline tidak merasa bersaing dengan media-media online lainnya.

”Di dunia media ini kita saling bergandengan tangan. Sebagai contoh, Yahoo itu juga mengambil berita dari situs lain, salah satunya dari KapanLagi.com. begitupun dengan media-media online lainnya, yang saling mendukung dan saling support. Sumber bisa dari kita, tapi distribusi bisa dari siapa saja,” jelas Jacqueline.

Melalui Doa

Oleh karenanya, Jacqueline tidak begitu tertekan saat harus memimpin perusahaan media online. Menjadi pemimpin yang baik, lanjutnya, ”klasik saja, visioner dan yang pasti harus mempunyai tujuan yang jelas, dapat menjadi contoh tauladan bagi orang lain, mau mendengarkan orang di sekitar kita, mempunyai wawasan luas.”

”Kalaupun ada kendala, ya kita hadapi saja. Di dunia kerja apapun, kendala dan tantangan selalu ada dan bervariasi, ada yang mudah dilalui tetapi ada juga yang menguras energi, tetapi dengan penyertaan Tuhan itu semua dapat saya lalui. Karena saya percaya ini adalah proses kehidupan yang harus saya jalani agar saya lebih baik lagi, lebih maju lagi. Ke Tuhan, melalui doa, terutama doa bersama dengan keluarga terdekat, saya akan menjadi lebih kuat dan tegar. Saya mempunyai keluarga yang mempunyai persekutuan yang sangat erat di antara kita,” kata wanita cantik ini dengan suara teduh.

Jacqueline merasa hidupnya biasa-biasa saja. ”Kebetulan saya dibesarkan dari keluarga yang baik . Jadi saya bersyukur dibekali prinsip-prinsip kehidupan yang baik oleh mereka. Jadi ketika tantangan datang ya saya jalani saja sesuai dengan yang orang tua saya ajarkan, demikian juga ketika ada sesuatu yang menggembirakan terjadi juga kita tidak terlalu terjebak dalam euforia yang berlebihan.  Jadi kalau ditanya hal apa yang paling berkesan ya banyak, apalagi waktu masih kecil ketika orang tua saya lengkap, rasanya hidup nggak pernah susah,” ujarnya, tersenyum.

Karenanya, Jacqueline berusaha hidup seimbang dalam segala hal. Keseimbangan fisik dan mental.

”Saya suka bekerja keras, tetapi saya juga harus punya my ”me time” untuk melakukan hal-hal yang saya senangi. Saya suka makan enak, tetapi saya juga ada ukuran atau takarannya dan yang pasti harus olah raga juga,” kata Jacqueline.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Jessica Violetta Schwarze

Don’t Be Shy, Look What I Did!

 

 

Meski ia tak mengerti dunia IT, PT SAP tetap mempercayakan Jessica menjadi Marketing Manager. Kiatnya, mau belajar dan bertanya.

 

Ketika bergaung dengan PT. SAP Indonesia –perusahaan software atau piranti lunak khusus untuk bisnis terbesar di dunia- usia Jessica baru berusia 30 tahun. Yang lebih menarik, Jessi nekat melamar menjadi Marketing Manager walaupun ia buta IT (information technology)

I’m so curious and I want to jump on it,” ujar Jessi penuh keyakinan.

Selalu Cari Tantangan

Baru tiga tahun Jessica Violetta Schwarze berkecimpung di bidang Marketing. Meski tergolong ‘baru’, prestasi Jessi sebagai marketer sudah membuat banyak orang berdecak kagum. Perempuan berdarah Jerman-Indonesia ini berhasil masuk dalam Top Achievement SAP Award of Asia Pasific. Juga mendapat beasiswa ke Hawai untuk bersekolah di American Institute of Management Science.

Satu prestasi terbesar Jessi setelah bergabung di SAP adalah membuat event besar SAP ‘the biggest IT event conference’ di Jakarta. Acara ini mampu mendatangkan pengunjung lebih dari 2000 orang.

We’ve never seen an event like this. You have to work hard to get their respect,” puji seorang CEO dari Asia Pasific dengan bangga.

Jessica memang pantas dipuji. Kerja kerasnya sebagai seorang Marketing Manager membuat semua orang tercengang. Ia bahkan menerima penghargaan Best Graduate & 1st Place Winner Business Plan Competition di Japan American Institute of Management Science.

“Saya memang senang mencari tantangan. Sebagai marketing manager, tugas utama saya adalah mencari calon customer sebanyak-banyaknya. Itulah tantangan saya. Selain itu, saya harus sering mengadakan media coverage, konferensi pers, hingga menulis cerita sukses dari beberapa perusahaan besar yang telah menjadi pelanggan. Serta membuat printed material,” ujar wanita yang hobi membaca ini.

Selain itu, lanjut Jessi, sebagai Marketing Manager, ia harus selalu melihat market service. “Yaitu meperkirakan tempat dan kesempatan di Indonesia. Khususnya yang menjanjikan bagi PT SAP agar dapat bergerak agresif ke tempat tersebut,” jelasnya.

Cita-cita Ke Perusahaan Multinasional

Sebelum lulus kuliah dari Fakultas Kejuruan Bahasa Inggris Universitas Atmajaya Jakarta, Jessica sudah bekerja di PT. Produk Indonesia (Prodin) milik BJ  Habibie.

“Waktu itu umurku masih 22 tahun. Saya langsung di-hire menjadi marketing executive,” ujar Jessi berbagi pengalaman.

Prodin adalah perusahaan lokal yang rutin menggelar acara berupa pameran-pameran di Jerman, Perancis, dan banyak negara lagi. Karena kepintarannya, Jessi kerap dikerim ke sejumlah negara.

“Ini perusahaan high profile. Jadi saya kerja di bagian marketing bersama orang-orang yang posisinya sangat tinggi di perusahaan lokal dan internasional. Sebuah pengalaman yang sangat menarik buat saya yagn sedang belajar. Saya jadi terbiasa bertemu dengan orang-orang yang levelnya diatas saya. From me, exciting banget bisa bertemu any people,” kata Jessi. Salah event besar Prodin di Indonesia adalah acara Indonesia Air Show.

4 tahun di Prodin, Jessi tertantang mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang ekshibisi. “Disini saya bekerja di bidang business development sebagai marketing manager,” kata Jessi.

Pengalaman baru yang amat menantang buat istri I Made Hadi Wigraha ini. “Saya harus cari peluang-peluang baru agar bisnis ini bisa berkembang. Membuat pameran-pameran belum ada di Indonesia. Diantaranya Franchise Exhibition, Grand Wedding Exhibition dan Renovation Expo yang saat itu bertepatan dengan kondisi Jakarta yang sedang banjir. Tiga pameran ini menjadi pameran pertama yang terbesar di Indonesia yang didatangi puluhan ribu pengujung,” ujar Jessi bangga.

Jenuh bergelut di Event Organizer, lagi-lagi Jessi ingin mencari tantangan baru. “Waktu itu saya tertarik dengan teman-teman yang kerja di perusahaan multinasional. Seperti apa ya? Kayaknya sangat menantang,” kata Jessi.

Justru Buta IT

Jessi termasuk sangat percaya diri ketika coba melamar menjadi Marketing Manager di PT SAP Indonesia. “Padahal saya buta tentang IT. Tapi saat wawancara, saya yakinkan bahwa saya bisa bawa perusahaan ini menjadi lebih besar lagi dengan membuat event-event untuk PT SAP,” ujar Jessi.

Satu kebetulan, saat itu PT SAP justru sedang mencari Marketing Manager di luar bidang IT.

 “I was chosen and I was so lucky. Mereka ingin orang diluar dunia IT yang bisa bawa ide-ide baru. Karena di dunia IT, orangnya itu-itu saja,” cerita Jessica.

Setelah diterima, esok harinya Jessica dikirim mengikuti training IT di Singapura selama 2 minggu. Pesertanya adalah semua marketing manager PT SAP diseluruh Asia Pasific. Mulai dari Singapura, China, Australia, India, Philipine, Thailand, dan masih banyak lagi.

It was so scary. Bayangkan, saat itu saya satu-satunya peserta yang tidak tahu tentang IT. Apalagi trainingnya advance basic. Jadinya saya terus bertanya. Mungkin orang lain yang dengar, wah ini orang kok ngerti sih?” ujar Jessi sambil tertawa.

Hanya 2 tahun Jessi mempelajari sepak terjang perusahaan dalam bisnis software, produk-produkIT hingga berbagai perbedaan karakteristik industri IT.

Jessi sangat memahami dunia barunya juga posisinya sebagai marketing manager. “Seorang marketing harus banyak membaca, melebarkan dan menjaga networking, serta mengetahui berbagai kejadian secara umum di belahan dunia manapun,” kata Jessi.

Marketing, lanjut Jessica, fungsinya sangat penting. “Ia yang membuka pasar pada sebuah perusahaan. Kita jadi tahu karakteristik pasar, peluang-peluang ada dimana, karenanya pikiran kita harus diasah terus.”

Bagaimana dengan ukuran fisik yang kerap jadi patokan di dunia marketing?

“Itu tidak bisa dipungkiri. It’s not only in Indonesia, but all over the world. Memang, dengan kelebihan fisikia akan mudah diingat dan diperhatikan. Tetapi yang lebih penting, untuk mengenal, mendalami dan membawa sebuah produk, seorang marketing harus punya intelektual yang tinggi. Apalagi ia mewakili citra perusahaan. Sayang kalau sudah cantik-catikn tapi otaknya kosong,” ujar wanita kelahiran 13 April 1973 ini.

Menjadi marketing yang baik, kata Jessi, “find out what your competitors doing, what your partners doing dan bekerja sama dengan baik. Harus selalu mengasah kreativitas dan berani ambil resikko. Mencoba segala sesuatu yang baru, dan mau belajar dari kesalahan,” ujar Jessica.

“Dan tak lupa, promosikan selalu apa yang sudah kita kerjakan. Dengan begit perusahaan akan menghargainya. Don’t be shy, look what I did!. Kalau berhasil, jangan diam saja,” ujar Jessica berbagi tips.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Wanita | Leave a comment