Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Aty Mannawi

Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’

 

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

 

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.

“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Lebih Sensitif

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di  Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.

“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.

“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.

“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan American University, Washington DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.

“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Tren Sulit Konsentrasi

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, gangguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.

“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Orang Tua Harus Berani

Jangan pernah menunda.

“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.

“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

Ujian Untuk Terapis

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.

“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.

Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.

Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dokter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara.

Aien Hisyam

*wawancara 20 November 2006*

Advertisements

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik, Profil Psikolog | Leave a comment

Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo

Another Time Competitors Can be Partners

Ia pioner web design di Indonesia. Juga penggagas kompetisi bergensi di Indonesia khusus untuk para disainer. Lantas, apa yang masih dicari wanita cantik dan sukses bernama lengkap Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo ini?

Baru dua bulan Shinta menempati kantor barunya di kawasan Mendawai- Kebayoran Baru. Rumah dua lantai itu didesain milimalis. Dinding hanya dihiasi beberapa lukisan yang didominasi warna oranye mencolok. Berpadu serasi dengan warna tembok yang abu-abu.

“Kali ini kantornya benar-benar aku disain sesuai keinginanku. Simpel dan tidak banyak ornamen. Khusus untuk ruang kerja, semuanya ada di lantai dua. Biar terjaga privacynya,” ujar Shinta dengan mata berbinar.

Uniknya, kesan simpel justru tidak terlihat di ruang kerja Shinta yang berada di salah satu sudut ruangan. Ia justru bermain dengan warna-warna gelap dan interior bergaya Eropa.

“Hahaha, biar ada suasana yang beda aja, tidak monoton, dan bisa membuat kerja lebih bergairah,” kata Shinta sambil tertawa lepas.

Sebagai pekerja kantoran yang lebih banyak berkutat dengan komputer juga ide-ide segar, tentu saja Shinta butuh tempat kerja yang nyaman. Pemandangan itulah yang nampak di kantor PT.Bubu Internet saat ini.

One Stop Solution

Bulan Juli tahun ini, usia Bubu genap sepuluh tahun. “Tidak terasa yah? Aku tahunya, Bubu ulang tahun setiap bulan Juli. Tanggalnya sih lupa. Dan sekarang, umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah ABG,” ujar Shinta dengan wajah cerah.

Sejauh ini, diakui Shinta, ia sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Bubu Internet. Apalagi, sebagai CEO sekaligus pemiliknya, Shinta harus lebih kreatif menciptakan hal-hal baru.

“Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin membutuhkan Web Page yang baik agar bisa berkompetisi dengan para pesaingnya di negara-negara lain. Nah, mereka bisa melakukan aktifitas bisnis di Internet. Sebagai Web Develompment company, Bubu.Com fokus melayani designing webpages, intranet solution, e-commerce, networking solution, internet marketing and training,” jelas Shinta.

Shinta menyebut usahanya sebagai one stop solution untuk web development.

Jadi kalo ada perusahaan yang ingin ada presence di internet, Bubu bisa membantu dari mendesain situs, hosting, dan sampai me”marketing”kan situs web dalam bentuk pembuatan banner dan mendaftarkan di dalam search engines juga. Bubu juga mengembangkan web programmings yang didevelop tailor made to suit the clients’ needs,” kata ibu dua putra ini antusias.

Shinta juga aktif menjadi pembicara tentang internet di acara seminar disejumlah sekolah dan universitas bergengsi.

Ditanya tentag kompetitor yang sekarang kian menjamur di Indonesia, dengan bijak Shinta mengatakan, “everyone can be competitors but on another time competitiors can be partners. Saya adalah believers dari stategic alliance. We can always try to partner or alliance with any one dimana kita akan bisa menonjolkan kemampuan dari masing2 pihak. Never thought of you guys that way. Just wondering, is that how you guys feel about us, since you asked the question? Hope not,” ujar lulusan University of South Australia yang kemudian mengambil gelar master of business Administration di Portland State University, Portland, Oregon, USA, dan memperdalam ilmu Arsitektur dan Interior di University of Oregon di Eugene-USA.

Nama Anjing Kesayangan

Ketika pertama kali mendirikan perusahaan ini, Shinta mengaku bingung akan memberinya nama apa.

“Tiba-tiba aku ingat anjing kesayanganku. Bubu itu memang nama anjingku. Tetapi aku pakai nama itu karena sangat simpel, mudah diingat and because it sounds so funny it will stick in your mind,” ujar Shinta sambil tersenyum.

Lahir di Jakarta tanggal 18 Januari, Shinta dibesarkan di Manila, Filipina. Tujuh tahun ia habiskan berkuliah di Amerika. Berbekal pengalaman yang sangat beragam, Shinta kemudian mendirikan Bubu. Di perusahaan yang hanya berpegawai 25 orang ini, Shinta menjadi CEO sekaligus founder dan shareholder.

Berkat hasil kerja kerasnya, Bubu kini dipercayai lebih dari 70 klien.

“Untuk perusahaan seperti BuBu, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebersamaan atau team work antara setiap individu di perusahaan. Fleksibilitas dimana perusahaan dapat bereaksi terhadap permintaan pasar dan bukan memaksakan diri kepada pasar. Sedangkan kebersamaan melahirkan kemampuan yang terkoordinasi untuk melayani permintaan klien yang pastinya sangat variatif,” ujar peraih sejumlah penghargaan diantaranya Executive Women 2001, Young Modern Hero of Indonesia dari Hard Rock FM, 10 Young and Creative Individuals dan Lucky Strike Award.

Namun dari sekian banyak prestasinya, ada satu kebanggaan yang membuat nama Shinta kian bersinar, yaitu Kompetisi Bubu Award.

Bubu Awards adalah kompetisi web design yang diklaim paling bergengsi di Indonesia. Diadakan setiap Bubu Internet sejak tahun 2001. Setiap tahun ada tema khusus yang diperlombakan, semisal tema Pariwisata Indonesia (Indonesian Tourism) yang menjadi tema Bubu Award tahun 2005.

Bubu Awards selalu mengundang puluhan nama terkenal yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri untuk menjadi juri serta menggandeng Ernst and Young sebagai tabulator resmi . Adapun beberapa kategori atau kelas yang bisa diikuti dalam Bubu Awards. Mulai dari Individual, Corporate, dan People’s Choice Awards: Best Web Celebrities Awards and Best Blog Awards.

Dan yang paling membanggakan, mulai tahun 2005 Bubu Awards terpilih sebagai perwakilan World Summit Award di Indonesia. World Summit Awards adalah kontes global untuk pemilihan dan mempromosikan e-contents dan application terbaik di tingkat dunia yang didukung oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UNESCO, International Telecommunication Union, United Nations Information and Communication Technologies Task Force, dan Ministry of Industry & Commerce Kingdom of Bahrain.

Aien Hisyam

*wawancara 10 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment

Dewi Yogo Pratomo

Gaya Hidup Hipnosis


Ingin berbuat lebih banyak, Dewi pun mendirikan Club Hypnosis Sehati. Ternyata, baru setahun lebih, CHS sudah melakukan 118 bakti sosial. Bulan ini, ia pun siap melakukan kegiatan besar, yang kelak akan dimasukkan dalam rekor MURI.


Ada canda ada pula keseriusan. Namun, suasana di dalam ruangan berhawa dingin itu, terbangun dengan sendirinya. Semua orang seolah terbawa ke alam lain, yang tercipta dengan ‘nyata’. Dewi, telah membawa dunia lain pada sugesti orang-orang di depannya. Sebuah dunia yang penuh ketenangan.

“Itulah hipnosis,” katanya, usai membuka kesadaran. Ia baru saja menyelesaikan mantra-mantranya. Di depan Dewi, beberapa wanita berusaha menghapus air mata. Yang lainnya, hanya duduk tercenung.

Dihipnosis, memang jadi satu sesi yang paling ditunggu peserta workshop hynotherapy. Ada rasa ingin tahu, bagaimana berada dalam satu keadaan, yang selama ini hanya menjadi pikiran, keinginan, hingga ketakutan dalam hidup mereka.

“Di dalam kehidupan negara-negara maju, hipnoterapi sudah bukan untuk orang sakit saja. Hipnoterapi sudah menjadi gaya hidup. Contohnya, Michael Schumacher, Steffi Graf, Vanessa William, hingga politisi, artis seperti Madonna, Tom Cruise dan banyak lagi, mereka punya terapis. Ada waktu satu hari, 2 X 45 menit hanya untuk di hipno. Bagaimana mereka memperbaiki perilaku supaya bisa the winning dalam mind set,” terang Dewi.

Dalam wadah Club Hypnosis Sehati yang didirikan Dewi satu setengah tahun silam, Hipnosis memiliki warna yang berbeda. Tidak lagi berbau mistik –seperti anggapan banyak orang-, justru menjadi kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.

Trauma Berkurang

Menjadi terapis hipnoterapi, bukanlah suatu kebetulan bagi wanita aktif bernama lengkap Dewi Yogo Pratomo. Bermula ketika ia kuliah di University of Maryland. Dewi memilih memperdalam dua bidang sekaligus, Keuangan dan Psikologi Industri. Lulus S1, wanita ini meneruskan pendidikannya dengan memperdalam Psikologi Perilaku Manusia (Human Behaviour), yang merupakan perpotongan disiplin ilmu Psikologi Industri dan Psikologi Murni Klinis.

Sampai suatu hari, Dewi bertemu dengan seorang profesor di Maryland yang memperkenalkan dunia hipnoterapi padanya.

“Saya juga beberapa kali jadi kelinci percobaan. Saya menemukan inside, setelah di regresi, trauma-trauma itu sudah mulai berkurang, aku mendapatkan pencerahan disitu. Aku merasakan ilmu ini bisa dijadikan suatu alat di profesiku. Kebetulan aku konsultan Sumber Daya Manusia,’ ujar Dewi.

Dewi mengakui bahwa dirinya juga pernah mengalami turbulensi dalam hidupnya. Dan saat itu dengan ilmu hipnoterapi yang telah ia kuasai, Dewi mampu bangkit kembali. Merasa tertolong dengan ilmu tersebut, Dewi yakin dia bisa membantu banyak orang. Inilah yang ia sebut multiplier effect. Membuat ia juga ingin menolong orang lain dalam memberdayakan batinnya, membuat orang menjadi produktif.

“Sebenarnya, dulu sudah banyak profesor dan psikiater yang menggunakan metode ini. Tetapi masih belum populer seperti sekarang. Dulu ilmu ini masih masuk grey area, apakah itu scientific atau tradisional. Kesininya baru bisa dijabarkan masuk ke dalam scientific dan bisa dicerna serta ada kaitannya dengan ilmu- ilmu medis,” ujar Dewi.

Banyak Cobaan Hidup

Sepulang dari Amerika, tahun 1987, Dewi bekerja di perusahaan pengeboran minyak di lepas pantai. Banyak sekali masalah yang dihadapi karyawan, dan segera butuh solusi.

‘Ternyata setelah memakai hipnoterapi ini, kita menasehatinya jadi seperti jalan tol. Resistensinya lebih sedikit, dan kita bisa merubah perilaku orang itu. Cara ini sangat efisien,” kata wanita kelahiran 10 Maret 1964, bersemangat.

Hipnosis, kata Dewi, sangat bermanfaat, efektif dan efisien digunakan orang. Dari atasan yang menasehati bawahannya, orangtua pada anak, hingga suami pada istrinya.

Sampai suatu hari suami Dewi memberikan pilihan hidup yang cukup berat. Tetap bekerja menjadi konsultan yang dalam 12 bulan hanya 4 bulan berada di rumah, atau berheti bekerja.

‘Jadi aku harus memprioritaskan hidup. Padahal aku tidak bisa nganggur. Di dalam pertapaanku, timbulah nuansa-nuansa, apa kegiatan yang bisa bermanfaat denan orang lain tanpa mengorbankan keluarga. Maka munculah praktek itu,’ kata Dewi.

Di rumahnya di kawasan elit Menteng, Dewi membuka klinik hipnoterapi yang ia beri nama ‘Cendana 4A’. Sayangnya, ijin praktek sulit keluar karena klinik Dewi berada di daerah pemukiman. Barulah pertengahan 2007 ia resmi membuka kantor dan klinik di Menara Kebon Sirih.

“Klien, ternyata terus bertambah. Ternyata, orang sudah mulai mengenal ilmu ini dengan baik,” kata Dewi.

Meski dibuka untuk umum, Dewi tetap memprioritaskan melakukan pengobatan untuk ibu, anak dan keluarga.

“Ada tiga hal yang dibutuhkan dalam hipnoterapi ini. Yang pertama harus ada hubungan timbal balik antara terapis dan pasien, paling tidak pasien harus percaya 100 persen dengan terapisnya. Yang kedua, pasien harus sadar kalau terapi ini jadi satu kebutuhan. Yang terakhir, pasien harus ada keinginan untuk berubah. Ini menjamin efektifitas hipnoterapi,’ terang Dewi.

Bakti Sosial 118 Kali

Melalui Club Hypnosis Sehati, Dewi ingin berbuat lebih banyak. Dengan rendah hati, Dewi mengatakan bahwa CHS lebih banyak melakukan kegiatan bakti sosial. Dalam satu setengah tahun, sejak CHS berdiri, Dewi beserta teman-temannya telah melakiuan 118 kali bakti sosial.

‘Baksos kita ini berbeda dengan baksos-baksos lainnya. Simpelnya, kita datang, peserta kita dudukkan, lalu kita hipno. Kalau anak-anak sekolah, manfaatnya bisa gampang menghafal sampai gampang belajar. Nilai-nilai rapotnya ternyata mengalami kenaikan yang siginifikan. Kalau ibu-ibu dhuafa, kita sugestikan untuk sehat dan tegar menjalani hidup. Lain lagi kalau panti wreda, kita pakai musik hipnonya agar jiwanya tenang,” jelas Dewi.

Selain menghipnosis, CHS yang beranggotakan lebih dari 100 orang ini, juga memberi santunan uang atau sembako, kesehatan atau pengobatan gratis, juga hiburan gratis.

“Pernah. Mereka kita ajak nonton di Mega Blitz rama-ramai. Seru banget deh,” ujar Dewi, senang.

Hypnobirthing Massal


CHS akan membuat gebrakan dalam memperingati Hari Ibu di bulan Desember ini.

“Awalnya, kita mau melakukan hipno massal pemecahan rekor MURI. Kita mau menghipnotis 2000 orang. Sayangnya setelah kita pikirkan matang-matang, kegiatan ini tidak efektif. Akhirnya kita ubah, bagaimana kalau kualitas kita tingkatkan tapi jumlah kita kurangi. Apalagi berkaitan dengan Hari Ibu. Lantas, kita spesifikan pada ibu hamil,” ujar Dewi.

Lantas, apa itu hypnobirthing?

“Ini satu proses pra persalinan untuk bisa menenangkan para ibu hamil menghilangkan rasa sakit saat si ibu persalinan. Lalu kita memperkenalkan rasa sakit itu apa, dan bagaimana memerangi rasa takut,” terang Dewi

Pada saat para ibu hamil ini di hipnosis, “mereka aku bawa ke proses persalinan. Aku giring mereka ke visualisasi yang mendekati aktual, pada saat mereka masuk ke ruang persalinan, pada saat operasi, ketemu dokternya. Dengan begitu, kita sudah melatih mental mereka hingga pada saat persalinan nanti, perasaan itu bukan jadi hal baru.’

“Kita sudah lakukan penelitian testimoni ke beberapa ibu yang telah di hipnoterapi saat hamil. Pada saat melahirkan mereka memang jauh lebih tenang, lebih fokus dan rasa sakitnya tidak terasa. Itulah keajaiban Tuhan yang ada di mind set orang,” lanjut Dewi, bersemangat.

Aien Hisyam

December 15, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Psikolog, Profil Wanita | 29 Comments

Eileen Rachman

Hidup Pun Kian Terasa Penuh

 

Eileen memiliki passion besar terhadap manajemen dan pengembangan sumberdaya manusia.


Dari sebuah biro konsultasi kecil, EXPERD kini makin memantapkan posisinya sebagai reputable business partner bagi berbagai organisasi di Indonesia yang berhasrat melakukan perbaikan dan berkomitmen untuk mengambangkan SDM-nya.

Nama Eileen, memang tak lepas dari EXPERD yang ia rintis sejak tahun 1985. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1988 ini memulai karir konsutasinya, pada usia 33 tahun.

Di usianya sekarang, semangat Eillen tak pernah kempis. Ia masih giat belajar dan mencoba hal-hal baru. Aktif berwisata kuliner, manari salsa, olahraga wall climbing, hingga membuat face book di internet.

Frutasi Saat Terapi

“Aku tadinya belajar arsitektur,” kata Eileen.

Eileen mengaku menyukai dunia arsitektur dan interior. Keasikannnya itu, ia tuangkan pada perusahaannya yang lain, Decorous.

“Setelah itu, aku kecemplung di fakultas psikologi UI. Ini tidak berjalan bersama. Setelah menikah, baru ambil psikologi. Dan, ternyata tidak mudah,” jelas Eileen.

Meski mengaku kepayahan mendalami ilmu psikologi, Eileen akhirnya  termotivasi untuk komit pada disiplin ilmu ini. “Dalam artian, bagaimana ilmu ini diterapkan di masyarakat, melalui tulisan. Sebagaimana kita lihat, ilmu ini tidak terlalu disosialisasikan oleh penulis. Tidak sama dengan yang terjadi di luar negeri. Kondisi tersebut membuat ilmu ini tidak umum,” lanjut Eileen.

Barulah, kata Eileen, 10 tahun terakhir, orang bangga menjadi seorang psikolog. “Dulu seolah tidak menarik dan tidak ilmiah.”

Lulus kuliah tahun 1983, di usia 33 tahun, Eileen menjadi dosen di Fakultas Psikologi. Barulah di tahun 1985, Eileen benar-benar bekerja di dunia komersial.

‘Karena aku berpikir kalau aku jadi dosen, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku lebih tertarik pada penerapan. Sebenarnya, aku sempat praktek, sekitar tahun 1983 hingga 1986. Nah, orang kan datang ke praktekku, selalu mencari solusi. Sometimes itu membuatku sangat frustasi,” ungkap Eileen.

Ia frustasi karena selama menuntut ilmu psikologi, Eileen tidak pernah terapi dengan tuntas. Kalau mau mahir memberikan terapi, “aku harus sekolah lagi. Dengan kondisi aku yang sudah punya anak 2, aku tidak punya waktu. Akhirnya yang aku lakukan, terapi-terapi yang bisa aku lakukan sendiri. Misalnya family therapy.”

Diajari Staf

Merasa tidak puas, Eileen memilih kerja di dunia komersial. Menjadi HRD manager.

Terus terang, aku langsung menduduki jabatan manager, dan aku diajari para stafku. Mulai dari cara ngitung orang, cara ngitung gaji, cara bikin surat oleh sekertarisku. Saya sih nekat saja. Ternyata saya perlu belajar. Sampai  3 tahun. Barulah kemudian saya mendirikan Experd,” cerita Eileen.

Eileen sempat bekerja menjadi HRD Manager di Bank Umum Asia. Bank ini kemudian merger dengan Bank Lippo. “Andai aku terus berkarir disini, aku akan di Lippo. Karena aku memang diminta bergabung di Lippo.”

Eileen merasa perlu mendirikan perusahaan jasa. “Saat itu belum banyak perusahaan jasa yang seperti saya dirikan ini. Masih malu-malu. Makanya pemasarannya tersendat-sendat. Aku juga mungkin belum terkenal. Dan kita belum tahu bagaimana memasarkan dengan baik. Biro-biro konsultasi psikologi itu memang juga tidak memasarkan. Ada juga teman-teman yang sudah ekspan. Saya memang pendatang baru,” jelas Eileen.

Eileen bergairah, manakala 10 tahun terakhir, ia menemukan warna baru dalam bisnis jasanya. Ketika Ketika banyak anak-anak muda yang sangat kreatif, yang bergabung di perusahaannya. Yang tidak membawa hawa yang dulu-dulu. “Justru yang baru-baru ini, mereka kuat di komunikasi, kuat marketing, kuat di IT, kuat baca, internet. Karena itulah kemudian aku sendiri juga berubah,”

“Saya konsentrasi di training dan assignment. Kita sadar pada saat itu kita sebagai konsultan, hanya tukang training dan tukang assignment. Kita bukan membimbing company menjadi lebih baik,” kenang Eilleen.

Namun sejalan dengan waktu, Eileen kian mantap memposisikan dirinya sebagai tenaga konsultan yang handal.

“Akhir-akhir ini saya berani meng-claim bahwa aku bisa menjadi partner para owner untuk membuat barisan man power-nya,” ujar Eileen, mantap.

Tidak Tahu Penyakitnya

“Kadang-kadang ada perusahaan yang tahu masalahnya, ada yang tidak. Seperti ke dokter saja. Ada yang bilang, ‘dok ini saya sakit’. Tapi ada yang bilang, ‘dok, seluruh badan saya sakit.’ Klien macam-macam. Ada yang mengerti apa yang diperlukan, ada yang tidak,” ujar Eileen tentang kondisi kliennya.

Beruntung, Eileen jago di bidangnya. Ia punya tenaga riset yang siap meriset kondisi perusahaan klien-kliennya. Untuk mengetahui ‘penyakit’ perusahaan kliennya.

“Bisa saja seorang direktur tidak melakukan suksesi. Kita tidak bilang, kamu tidak pantas disitu. Kita cuma bilang, ayo bikin program suksesi secepat mungkin. Jadi kita lebih detail dan profesional, tidak hanya penempatan orang saja,” ujar Eileen.

Eileen selalu bertanya, apa yang dibutuhkan kliennya. Apakah sekedar sukses, ataukan membutuhkan lebih banyak ekspertis, atau membutuhkan orang-orang yang sekolah formal, membutuhkan orang-orang yang bisa bekerja, dan lain sebagainya.

Menjadi SDM Ideal

Eileen sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia.

“SDM yang baik itu harus kompeten, komit, kontribusi. Kompeten itu mampu, komit itu mau, kalau iya-iya kalau nggak ya enggak. Sementara kontribusi berarti menyumbang. Kalau dia di perusahaan hanya sebagai pengembira saja tidak ada sumbangannya, ya percuma saja,” tegas Eileen.

Tentu saja, lanjut Eileen, harus sejalan dengan apa yang diinginkan perusahaan, apa yang diharapkan perusahaan, dan apa yang jadi filosofi perusahaan.

“Kita profesional, jadi kita punya alat dan teknik untuk menilai para SDM ini. Pada dasarnya saya sudah tidak lakukan itu sejak lama. Sekarang, sudah ada anak buah yang lakukan,” ujar Eileen.

Hidup Seimbang

Dua perusahaan Eileen, Decorous dan EXPERD, berdiri dalam jangka waktu hampir bersamaan. Perusahaan ini, kata Eileen, dibesarkan dengan rasa.

“Aku suka banget sama penerapan ilmu psikologi, tapi aku juga suka banget sama interior. Jadi ya buat aku tidak susah. Kalau beli interior terus dipakai sendiri, kan nggak bisa selamanya begitu. Akhirnya kita beli dan kemudian dijual. Tapi di perusahaan anakku ini beda, apa yang dilakukan teman-teman disini tidak hanya jual saja. Mereka juga menciptakan barang, bahkan mereka juga melakukan service yang baik, dari segi waktu, kesulitan dan problem,” ujar Eileen bangga.

Eileen senang. Karena, kata ibu dua putra ini, segala hal uang di lakukan di perusahaannya, adalah hal yang akan dikembangan. “Selama mereka mau berkembang, dan mereka tidak bosan. Terus belajar dan belajar. Saya bersyukur dengan apa yang dikasih Allah pada aku, yaitu kemampuan belajar dan mengajar,” kata ibunda DJ Riri ini dengan rona wajah bahagia.

Karenanya, Eileen merasa hidupnya selalu seimbang.

“Adalah kalau kita achieved segala hal. Relijius dengan hal emosi dan kehidupan kerja yang memuaskan. Ya dapat duitnya, untungnya. Fisikal, ya kita sehat. Semua itu, kalau kita rasanya puas dan berkembang, ya kita puas. Kesibukanku di luar kerja, ya bergaul atau mengakses internet, misalnya face book-an. Juga panjat tebing, main sama anak, cucu, dan tim wisata kuliner. Aku merasa hidupku penuh.

“Aku tidak pernah malas sama sekali,” tegas Eileen.

Ia senang berteman dan membaca buku. Dalam satu waktu, ia bisa membaca 3 buku sekaligus. “Aku senang sekali berkembang. Karena sangat mengasikkan dan menguntungkan. Aku cuma takut sakit.” Eileen pun tersenyum lepas.

Begitupun dengan hubungan antar karyawan. Eileen sangat kompeten. Ia mempunyai aturan yang ketat, mesiskipun diluar itu, Eileen mengaku selalu membuka diri pada tiap karyawannya.

“Aku mengharuskan semua karyawanku punya Yahoo Messenger. Tidak boleh invisible di hadapanku. Kalau dia pasang invisible, aku akan marah. Karena buat aku. Mereka harus bisa aku kontak. Handphone pun juga. Tapi aku tentunya tidak bisa melarang mereka. Tapi aku selalu bilang, tidak ada gunanya kalian matikan handphone dan tidak bisa dihubungi. Aku saja yang sudah tua begini masih bisa dihubungi. Nanti kalian tidak bisa berkembang. Aku kalau ngajarin orang sangat keras. Kalau kalian sedang belajar, aku teriak-teriak, itu bukan berarti aku marah. Tapi kalian harus tahu mana yang benar,” tegasnya, mantap.

Aien Hisyam

November 24, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Sarfilianty Anggiani

“Kalau Sudah Memotivasi, Hidupku Ringan”

Efi bukanlah motivator pertama di Indonesia. Tapi, ia si penyemangat hidup yang rela tidak dibayar demi kebahagiaan orang lain.


Suara tinggi Efi memenuhi dinding-dinding ruang. Ia membuat takjub puluhan mata sekaligus kekaguman sebagian besar peserta yang datang mengikuti pelatihan motivasi. Efi memang selalu membuat orang tidak berhenti mendengarkan suaranya. Bahkan sampai acara itu berakhir.

Sebagai motivator, Efi merasa, sudah kewaijbannya membuat orang lain termotivasi, Merasa hidupnya lebih baik dan bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi hidup orang lain dan lingkungan sekitarnya.

“Menjadi motivator buat saya pertama kali, saya bisa memberi manfaat pada orang lain, dan saya paling tidak suka lihat orang tidak punya motivasi. Saya ingin bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Sehingga menjadi orang yang punya motivasi yang tinggi untuk menghasilkan Negara yang besar,” Efi menegaskan. Suaranya terdengar mantap.

Hampir Bunuh Diri

“Faktor saya yang terpenting untuk memotivasi orang karena saya seorang dosen,” kata Efi.

Efi tak pernah melupakan awal kesuksesannya. Ia memulainya dari scope terkecil, di tempatnya mengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti. Ia kerap dibuat ‘senewen’ melihat mahasiwanya yang sering datang terlambat saat kuliah sampai yang malas-malasan belajar.

“Kenapa saya tidak bisa memotivasi mahasiswa saya,” katanya datar. “Dan, Alhamdulillah mahasiswa yang dari kelas saya, banyak yang berhasil. Dan sekarang, dengan mantan mahasiswa pun saya tetap berhubungan.”

Efi bercerita tentang satu mahasiswanya, yang hampir bunuh diri di tahun 1997.

“Anak itu kecewa dengan keluarganya. Orang tuanya mau bercerai, dan dia tidak diperhatikan selama 6 bulan. Dia sudah berada di bibir pinggir gedung kampus. Saya peluk dari belakang, dan dia bilang, ‘ibu, kalau bukan karena ibu.’ Sekarang anak itu sudah sukses di Surabaya. Itu berarti, saya sudah sukses memotivasi orang yang sudah putus asa,“ kenang Efi.

Efi tak pernah lupa untuk mengucapkan sebaris kata-kata motivasi, di awal ia memulai kuliahnya. Efi mengajar Menejemen SDM. “Saya lebih mengarahkan pada mereka, dan yang selalu saya ucapkan pada mereka saat memulai mengajar adalah, tidak ada seseorang yang bisa membantu kecuali dirinya sendiri. Makanya di buku saya, ditulis The Power Is Your Self.

Efi antuasias sekali untuk bisa memotivasi orang, “karena orang itu nggak ada yang nggak bisa. Pasti bisa. Asal ada dari dirinya sendiri. Karena powernya dirinya sendiri, bukan orang lain.

Di Mulai dari Palembang

Efi sangat menguasai permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM). Dan dia ingin menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. “Kalau saya kembangkan knowledge, otak kanan emosional dan kreativitas saya jalankan.”

Uniknya, meski telah menjadi motivator sejak sepuluh tahun silam, Efi baru membuka kantornya 3 tahun yang lalu.

“Sebelumnya, saya diajak teman-teman saja. Diajak jalan, ayo. Dibayar, ya saya terima. Enggak, ya sudah, tidak apa-apa. Tapi lama-lama saya mikir, kok saya nih dipakai orang? Kenapa saya nggak buka sendiri? Nah inilah awal saya ingin membuka kantor,” ujar Efi.

Pikiran Efi langsung tertuju pada tanah kelahirannya, Palembang. Disanalah ia membuka kantor pertamanya.

“Saya merasa, grassroad saya orang Palembang. Kalau bukan saya, siapa lagi yang mengembangkan orang Palembang. Saya juga mau merubah paradigma orang Palembang untuk maju. Akhirnya, saya bolak balik Palembang – Jakarta, untuk meningkatkan SDM Palembang,“ katanya, bersemangat.

Hal yang sama, yang dilakukan Efi saat memberikan motivasi-motivasinya. Ia selalu mencoba mengingatkan, “jangan lupakan darimana asalmu. Orang tua itu panutan yang paling berharga. Termasuk pada saya. My role model saya, ya ibu saya. Bukan orang lain. Walaupun pendidikan ibu saya lulusan SMA.”

Efi bersyukur bisa tumbuh menjadi sosok yang matang dan penuh inspiratif. Katanya, proses pendewasaan dan kematangan itu, semata karena banyaknya pengaruh.

“Lingkungan pertama saya, adalah mahasiswa. Yang kedua, keluarga saya. Saya pernah merasakan broken home – Efi menikah untuk kedua kalinya. sampai bertemu suami kedua saya ini. Suami saya ini sangat memotivasi saya. Walaupun beda usia kali 19 tahun. Bahkan dia bilang, bila perlu kalau kamu berada di suatu tempat, jadilah the best. Pengaruh di keluarga saya, sejak kecil jelas ibu saya. Beliau yang membangun citra diri saya,” jelas Efi.

Ternyata, ketiga faktor inilah yang ‘melatih’ Efi menjadi sangat peka pada profesinya. Ditambah lagi, Efi gemar membaca, melihat ‘penampilan’ orang lain, menonton film, dan internet sebagai tambahan.

“Dan jujur, saya tidak pernah secara formal belajar menjadi motivator. Meskipun waktu SMA pernah juga jadi peragawati lokal,” sesaat Efi tertawa kecil. “Tapi tidak begitu memahami. Talenta itu ada, tinggal bagaimana kita memolesnya.”

Selanjutnya, kata Efi, ia lebih terbuka terhadap para kritisi, yaitu keluarga dekatnya. Dari ibunya, suami, hingga anak-anaknya.  “Mereka bisa bilang, Mama kalau ngomong jangan kecepatan dong. Atau, Mama dandannya jangan begiu dong,” ujar Efi, tertawa.


Pelatihan di Rumah Susun

Banyak tempat telah ‘dijelajahi’ Efi. Dari kampung-kampung yang tertinggal, hingga lorong-lorong sempit di rumah susun.

“Pertama kali, sekitar tahun 1996, saya diajak membantu dari Trisakti. Memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru. Itu pertama kali saya keluar. Saya merasa kok bisa,” kenang Efi.

Ia bahkan bangga karena ditempatnya ia mengajar, ia mendapat predikat dosen teladan. Katanya, ia memiliki metode mengajar yang baik. Bahkan, sebagai jawaban rasa penasaran, Efi pernah bertanya pada mahasiswa-mahasiwa, “kata mereka, ibu tidak hanya mengajarkan knowladge-nya saja, tapi juga bisa memotivasi kami.”

Efi hijrah ke Jakarta tahun 1994. setahun kemudian, ia mulai berkeliling menerima ajakan teman-temanya menjadi motivator. Barulah di tahun 1996, ia memberanikan diri menjadi motivator karena dirinya sendiri.

“Yang terpenting mereka happy. Jadi dibayar berapa saja, nggak masalah. Bahkan saya pernah tahun 1997, memberikan fasilitasi di rumah susun Tebet. Selama 6 bulan tanpa dibayar setiap malam jumat. Hanya dikasih ubi rebus dan kopi. Kita ngobrol-ngobrol saja,” kata Efi.

“Rasanya kebahagiaan tersendiri. Aku bisa lihat orang bahagia, itu membuatku sangat bahagia. Daripada aku bisa membahagiakan diriku sendiri,” Efi menambahi dengan mimik wajah senang.

Tak hanya ingin berbagi kata-kata saja, Efi akhirnya menulis buku tentang motivasi berjudul ‘8 Kekuatan Keunggulan Diri’. Ini menjadi buku pertamanya, dan direncanakan akan ada 2 buku selanjutnya.

Aien Hisyam

November 19, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Wanita | 2 Comments