Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Leticia Paramita

Setiap Buka Mata, Pasti Ada Batu Baru

Setelah Ayahnya meninggal, Leticia mewarisi Lembaga Pendidikan Batu Permata satu-satunya di Indonesia. Ia berupaya memadukan dua sistem pendidikan, yang lama dan yang baru.

 

Dan itu tidak mudah,” kata Leticia. Namun, berbekal ilmu, pengalaman, dan ide kreatif, perlahan-lahan Institut Gemology Paramita (IGP) berkembang. Leticia berhasil membawa perbaharuan.

Dengan tegas, Leticia mengatakan bahwa ilmu gemologi tidak kalah pentingnya dengan bisnis perhiasan itu sendiri. Dengan kecintaannya yang tinggi, Leticia yakin bahwa lembaga yang telah berusia 12 tahun itu tetap diminati banyak orang. Ia harus tetap mempertahankan sampai kapan pun.

Tidak Mau Ada Yang Tertipu

Banyak yang bertanya tentang ilmu gemologi. Dengan sabar, Leticia selalu menjelaskan ilmu langka ini pada siapapun yang bertanya. ”Ini ilmu yang mempelajari teknik identifikasi, klasifikasi, dan penilaian terhadap kualitas batu permata,” jelas wanita kelahiran 12 Januari 1978.

Boleh dibilang, Leticia sangat mengenal ilmu tersebut. Ia sempat menuntut ilmu gemolog di Gemological Institute of America (GIA) di Bangkok, Thailand.

“Tapi sebenarnya, terjun di dunia ini juga tidak sengaja. Karena, dulu cita-cita saya bukan di bidang ini,” ujar Leticia, tersenyum.

Diceritakan Letis –sapa wanita cantik ini-, ketikaIGP berdiri tahun 1989, ia masih berusia 11 tahun. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan Ayahnya, (alm) Mahardi Paramita. Begitu pun ketika remaja, ia tidak tertarik dengan ilmu yang telah ditekuni Ayahnya ini, membuat Letis tidak tertarik mempelajarinya.

Lulus sekolah pun, Letis masih memilih bidang humas untuk ia tekuni. Dia kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Bekerja pun Letis masih memilih perusahaan lain, dan ia menjadi marketing di dua perusahaan.

Hatinya tersentuh manakala Ayahnya yang sudah tua akhirnya meminta Letis untuk mempelajari ilmu gemologi. Mahardi ingin sekali membimbing Letis untuk memperdalam ilmu gemologi. Mendengar permintaan tulus Ayahnya, akhirnya hati Letis tersentuh. Dia mau menerima tawaran sekolah di Bangkok, di tahun 2002.

Di sekolah batu permata yang bersertifikat internasional ini, Letis sekolah bersama adiknya, Delfina Paramita, selama delapan bulan.

”Setelah sekolah di sana, saya semakin tahu dan cinta pada ilmu ini. Ilmu ini belum banyak berkembang di Indonesia, jadi belum banyak gemolog di negara kita,” ujar istri Eddy Karmana.

Tekat Letis, ia ingin masyarakat Indonesia kian paham tentang batu permata. Ia prihatin dengan proses penaksiran batu permata yang kerap hanya didasarkan pada dugaan. “Jadi, banyak orang yang terkena kasus penipuan. Nah, saya tidak ingin hal itu masih terjadi di masa akan datang,” tegas Letis.

Susah Dipelajari

Diakui Letis, ilmu gemologi sangat unik.

‘Bagi saya, sangat menarik, karena kita tidak akan habis-habisnya mempelajari jenis batu-batuan. Batu mulia itu kekayaan alam yang diciptakan Tuhan untuk dinikmati karena keindahannya. Begitu banyak, sampai-samai bisa kita umpamakan, setiap buka mata pasti ada batu-batu baru yang muncul,’ kata Letis.

Meski kecil bentuknya, diakui Letis kalau batu-batu permata itu punya nilai yang tak bisa diukur. ‘Kalau kita mendapatkan batu kualitas kelas satu, nilainya bisa lebih mahal dari harga mobil atau rumah loh. Jangan lihat ukurannya. Karena permata itu kita sebut portable wealth, yaitu mudah dibawa kemana-mana tapi nilainya sangat tinggi,” ujar Letis.

Mempelajari batu permata pun tidak mudah. Seperti yang terjadi di kelas favorit Diamond Grading. Diceritakan Letis, kelas yang harus diikuti selama 10 kali pertemuan ini –masing-masing selama 3 jam-, mempelajari cara menentukan 4C dari berlian, yaitu color, cut, clarity, dan carat.

“Butuh ketelitian yang tinggi untu menentukan 4C ini. Makanya, belajarnya juga lama,” ujar Letis, tertawa lepas.

Kelas lain yang tidak kalah peminatnya, adalah kelas yang memberi pelajaran tentang mengenali karakteristik dan mengidentifikasiikan batu permata berwarna. “Dengan memiliki ilmu ini, kita bisa terhindar dari kecurangan dan kesalahan dalam jual beli batu permata,” tegas ibu satu putra ini.

Agar ilmu gemologinya mudah diserap, IGP membatasi siswanya hanya sekitar 2 hingga 10 orang saja.  “Peminatnya sangat beragam. Mulai dari pemilik toko perhiasan, penggemar perhiasan, pengacara, dampai ibu rumah tangga. Bahkan ada wisatawan asing yang berlibur di Indonesia ikut kelas di IGP.

Harus Sabar

Setelah menyandang gelar Graduate Gemologist, Letis ikut mengajar di IGP. Menjadi pengajar, dikatakan Letis sebagai pekerjaan yang menantang.

“Disini, banyak fasilitas yang kita sediakan. Selain buku teks untuk panduan, ada pula berbagai contoh batu permata dan berlian asli untuk latihan,” kata Letis. Saat mengajar ia harus satu persatu menemani siswa agar hasil yang didapat maksimal.

Siswa juga dapat menggunakan laboraturium, seperti mikroskop, refraktometer (alat pengukur indeks bias batu), leveridge (alat pengukur dimensi batu), hingga dichrooscope (alat untuk melihat sifat batu).

Menghadapi siswa yang beragam usia dan latar belakang, kata Letis, butuh kesabaran yang tinggi.

“Ada yang ngotot maunya belajar D, padahal dia belum belajar yang A dan B. Jadi kita harus sabar memberikan pengertian pada mereka bahwa untuk mendapat ilmu yang itu, kita harus belajar yang ini dulu. Karena belajar batu permata itu tidak bisa instan. Tapi, sekarang di IGP kita sudah punya kurikulum-kurikulum yang memang sesuai kebutuhan,’ ujar Letis.

Ide membuat kurikulum baru itu didapat Letis selama sekolah batu permata di luar negeri. Kini ada kelas gemologi dasar, mutiara, desain perhiasan, hingga kursus pendek khusus batu delima, safir, dan zamrud.

‘Kita buat kelas-kelas ini karena minat orang itu beda-beda. Dan kita berusaha mengakomodasi keinginan tersebut,” jelas Letis.

Selain IGP, di gedung sama juga terdapat Adamas Gemological Laboratory (AGL) yang didirikan Ayah Letis tahun 1983.  AGL adalah laboratorium untuk pemeriksaan dan sertifikasi batu permata. Dengan adanya sertifikat pada setiap batu permata, hal itu akan berpengaruh pada harga jual batu tersebut.

 


Dari Mata Turun Ke Hati

Batu permata itu unik. Begitu uniknya, sampai Letis pun dibuat jatuh hati pada batu-batu mungil ini.

‘Saya bersyukup papa memperkenalkan ilmu ini pada saya,’ ungkap Letis. Wajah Letis terlihat sendu. Itu karena beberap abulan silam, ayahnya meninggal dunia.

Kata Letis, ayahnya seorang inspirator terbesar yang sangat sabar, tidak otoriter, dan sahabat yang baik. Ayahnya juga sangat demokratis dan selalu berusaha mengerti point of view anak-anaknya –kebetulan tiga putri Mahardi terjun langsung membesarkan IGP dan AGL-, baru kemudian memebrikan pendapat.

‘Kata-kata papa banyak sekali yang masih terekam dalam ingatan saya, Kata-kata yang saya ucapkan saat mengajar, sama dengan kata-kata yang selalu beliau tuturkan. Jadi saya sulit sekali melupakan Papa,’ ujar Letis sambil menghela nafa panjang,

Letis pun yakin, siapapun yang serius mempelajari ilmu gemologi, ia akan dibuat jatuh cinta. ‘Jadi cinta itu turun dari mata ke hati,’ kata Letis, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

Advertisements

March 19, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pendidik | 7 Comments

Mella Noviani

Keputusan Di Puncak Karir

Ketika memutuskan menjadi Wedding Planner, Mella hanya berbekal keahliannya membantu teman-temannya menata dekorasi pernikahan. Kini di bawah bendera Seven Heaven, ia menjadi salah satu perancang pernikahan tersukses di Jakarta.

Sejak kecil, Mella selalu bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Tak pernah terlintas dalam impiannya menjadi pekerja di bidang seni. Tapi, ‘sejak kecil saya sudah senang menata. Kalau ada pernikahan, saya suka bantuin,’ kenang Mella.

Lulus sekolah, Mella justru melanjutkan kuliah, mengambil jurusan banking finance. Satu pilihan yang bertolak belakang dengan cita-citanya menjadi insinyur.

“Setelah lulus, saya malah kerja di perkebunan kelapa sawit. Semakin jauh ‘kan dari pekerjaanku sekarang,’ ujar Mella tertawa lepas.

Di kantornya yang tenang, Mella pun bercerita tentang perjalanan hidupnya yang naik turun. Katanya, pengalaman hidup justru membuatnya kian matang dan kuat.

Ilmu Dari ‘Kelapa Sawit’

Sudah menjadi pilihan yang bulat bagi Mella, untuk bekerja di perkebunan. Ia lebih memilih kata hatinya, meski saat itu orangtuanya bersikeras agar Mella bekerja di kantor perbankan. Atau, kata wanita asal Palembang ini, kantor yang lebih ‘wanita’.

“Sebenarnya tidak jauh-jauh amat dengan kegiatan saya waktu SMP dan SMA. Dulu saya itu tomboi sekali. Suka heking dan kemping,” katanya, ceria.

Mella pun merasa bahagia meski harus bekerja di dalam hutan kelapa sawit di daerah Bengkulu. Ia tidak risih berada di tengah-tengah pekerja laki-laki. Justru ia sangat menikmati perannya sebagai pekerja lapangan.

Selain itu, Mella juga bekerja di perusahaan penyuplai barang-barang untuk angkatan darat. Lagi-lagi, wanita anggun ini harus berhubungan dengan mayoritas pekerja laki-laki.

“Bekerja di wilayah yang keras, maka kita juga harus kuat. Saya tidak pernah merasa diri saya perempuan. Dengan begitu, pekerjaan apapun akan saya lakukan, sama seperti pekerja laki-laki lainnya. Kita jadi tidak cengeng. Kerja keras kalau kita tidak mencinta, memang berhasil, tapi pasti ada rasa capeknya,” kata ibu satu putra ini.

Walaupun waktunya banyak tersita di luar kota, Mella masih meluangkan waktunya membantu teman-temannya mendekor. Ia ingin mendapat ‘hiburan’ di tengah-tengah kesibukannya yang sangat menyita.

“Banyak temanku yang sampai tidak enak karena saya bantu mendekor ruangannya, bunga-bunganya, dan sebagainya. Padahal aku tidak apa-apa,” kata Mella, senang.

Berawal Protes Anak

Suatu hari, anak semata wayang Mella protes. Ia menuntut Mella untuk lebih ‘memikirkan’ keluarga dibandingkan urusan pekerjaan.

“Saat itulah saya berdoa,” ungkap Mella. Sesaat itu tertegun dan menghela nafas panjang. “Saya merasa, ternyata selama ini waktu saya sudah habis terbuang begitu saja. Saya jadi ingin kerja yang masih bisa dekat dan kontrol anak. Dan itu (ide menjadi wedding planner) terjadi begitu saja dan langsung tercipta.”

Cukup lama Mella merenung dan berpikir. Ia menghadapi satu dilema besar. Disaat karirnya sudah berada di atas, ia harus melepas semua jerih payah yang telah iarintis puluhan tahun lamanya.

”Sampai 5 tahun saya berpikir. Kalau kita sudah di atas, untuk melepas profesi kita, kita mulai dari nol. Kecuali kalau kita extend. Misalnya dari supplier terus kita meningkat ke batubara. Nah, beda kalau kita sudah di tahap atas jadi supplier terus ke wedding planner, itu sangat berubah,” ungkap Mella, tentang kegelisahannya.

”Tapi saya juga berpikir, kalau selamanya begini, Tuhan selalu bilang, kita ini perempuan, jangan melebihi kodrat kita sebagai wanita. Karena dengan pilihan itu pasti ada yang dikorbankan, yaitu keluarga,” ujar Mella.

Apakah itu juga menyangkut satu peristiwa, Mella tersenyum.

”Banyak peristiwa yang membuat saya berpikir. Saya sering belajar dari teman-teman. Banyak teman saya, yang perempuan diatas perempuan. Karirnya sangat tinggi, tapi urusan di rumah tidak  terlalu dipikirkan. Kurang komunikasi dengan anak dan keluarga. Itulah ketakutan terbesar saya. Akhirnya saya putuskan kembali ke ‘darat’. Maksudnya bekerja yang tidak perlu keluar kota,” ujar Mella.

Pilihan pun jatuh menjadi wedding planner.

Tempat Curhat Klien

3 tahun silam, Seven Heaven berdiri.

“Waktu Seven Heaven lahir, kita sudah punya 5 klien. Jadi saya belum sempat berpromosi dan lain sebagainya. Awalnya, yang menggunakan jasa saya teman-teman dekat. Mereka butuh sekali dibantu pernikahannya,” kata Mella.

Mella hanya punya satu keyakinan, kalau ia memberikan yang terbaik, pasti ia akan dimudahkan dalam mendapatkan rejeki.

Mella pun ingin ‘berbeda dengan wedding planner pada umumnya. “Saya selalu research, apa saja yang selalu mereka berikan pada pengantin. Kalau hanya sebatas AB, saya akan memberikan yang ABC. Niat saya yang utama adalah membantu orang, memberikan pertolongan, agar mereka bahagia. Dan pastinya di bidang ini, kita punya market masing-masing,” kata Mella.

Niat baik itu juga dilengkapi Mella dengan menggunakan anak-anak dari keluarga tidak mampu sebagai petugas saat acara pernikahan itu berlangsung. “Anak-anak dari yayasan yang saya dirikan sejak lama. Ada ratusan anak yang saya beri beasiswa. Saya juga bantu orangtuanya. Mereka banyak yang tinggal di pinggir-pinggir rel,” ujar Mella.

Menjadi Wedding Planner, diakui Mella, membuat hidupnya jadi lebih bermakna.

“Sering malam-malam. Klien telepon saya hanya untuk curhat. Mereka bilang, tidak bisa cerita kemana-mana karena takut bocor,” cerita Mella, tersenyum.

Tentu saja Mella, senang. Karena walaupun kliennya berasal dari banyak kalangan, dengan agama yang berbeda-beda, ia bahagia bisa melihat orang lain senang.

‘Setiap minggu, pasti ada satu acara pernikahan. Setiap para mempelai ini meminta maaf pada orang tuanya, disaat itulah saya selalu menangis. Jadi, di setiap pernikahan, saya selalu menangis, “ ujar Mella dengan bibir tersungging senyum.


Harus Bawa Tas ‘Ajaib’

Terinspirasi film wedding planner yang dibintangi Jenifer Lopez, Mella punya cara yang unik saat ia turun langsung ke lapangan.

“Kalau hari H, tim saya dan dari pihak vendor, masing-masing harus bawa tas ‘ajaib’. Isinya, mulai dari peniti, karet, jepit rambut, pulpen, gunting kecil., cutter, silet, dan sebagainya. Semprotan untuk muka juga harus ada. Jadi kalau ada yang mukanya benar-benar capek, langsung kita semprot, supaya fresh lagi. Saya ini orangnya sangat perfect,” kata Mella.

Pernah suatu hari, salah satu pegawainya lupa bawa cutter di dalam tasnya. ‘Padahal ada ranting yang cukup mengganggu dan harus dipotong. Itu saya marah sekali,” kenang Mella.

Mella juga sangat detail mempersiapkan pernikahan. Ia tidak hanya membuat rundown acara. Tapi juga terlibat jauh di dalamnya, seperti menjadi perantara, menjadi penengah kalau ada masalah, hingga menjadi pengingat dan penghubung antara kedua belah pihak calon mempelai melalui telepon. Cara ini yang jarang dilakukan wedding planner pada umumnya.

“Makanya, saya lebih suka disebut wedding planner. Bukan wedding organize. Kalau planner, dia akan mengurusi sampai detail-detailnya. Sampai acara tersebut selesai,” katanya.

Mella punya pertanyaan ‘pembuka’ pada setiap kliennya, sebelum kerjasama itu berjalan.

“Saat pasangan sudah memutuskan untuk menikah, pertama yang selalu saya tanya, mereka mau menikah di gedung atau hotel. Selalu pertanyaan itu. Karena setelah tahu jawabannya, kita akan lebih mudah menentukan vendor-vendor mana saja yang akan diajak kerjasama. Jadi, justru bukan tanya mau pakai baju apa dan sebagainya. Itu pertanyaan selanjutnya. Disinilah seorang wedding planner bertugas,” ujar Mella yang punya keinginan membuat buku Dinamika Wedding.

“Prinsip saya, kesenangan klien itu kepuasan kita semua,” lanjut Mella dengan senyum merekah.

Aien Hisyam

March 10, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | 4 Comments

Shinta Dewi DST

“Saya Cuma Pengamat & Pecinta”

Sukses, tak bisa ditebak, tapi bisa dirasakan. Shinta pun yakin, kebesaran House of Jasmine, bagian dari perasaan yang peka, atau istilah Shinta; insting.


Usia House of Jasmine, baru 1 tahun.

“Masih sangat muda, kan?” Shinta mengatakan dengan senyum mengembang.

Namun, Shinta bangga. Ia akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Memiliki usaha sendiri, yang dikelola berdua dengan sahabatnya, Tina. Tugas pun dibagi dua. Shinta lebih memilih menjadi marketing, Tina fokus di bagian produksi.

“Tapi, disain tetap saya yang memikirkan. Supaya visi misi saya tersampaikan dengan baik,” ucap wanita bernama lengkap Shinta Dewi Dhiah Sekar Tanjung.

Jasmine, kini menjadi satu brand busana pengantin muslimah, yang paling dicari sejumlah kalangan.

Saat Wedding Expo

Shinta mengawali karirnya, dari sebuah bisnis fotografi yang dikelola bersama suaminya, Budi Santoso. Diberi nama: Studio 55.

Studio khusus pemotretan ini dibuka di tahun 2004. Konsep Studio 55, kata Shinta, fokus pada foto-foto wedding atau pernikahan.

“Dengan berkembanganya waktu, 2007 saya berfikir adanya studio ini sangat baik kalau ditunjang baju-baju pengantin. Keduanya sangat berhubungan. Apalagi, saya berkerudung. Saya pikir kalau saya punya kontribusi di baju pengantin, akan sangat bermanfaat. Dan lagi, di tahun 2006 dan 2007, saya lihat belum ada perancang yang fokus disitu,” kata wanita kelahiran Tanjung Pinang, 1 Juni 1976.

Shinta bersyukur, dia dipertemukan Tina Wahyudi, disainer baju-baju muslim, oleh guru ngajinya. Dari obrolan panjang, dan masing-masing kasih masukan, Shinta mantap membuat brand baru, Naura, di bawah House of Jasmine. Naura, menjadi brand khusus baju-baju penganti muslimah.

“Mbak Tina selama ini membuat baju-baju harian. Kita sepakat satukan brand, namanya Naura, khusus baju-baju pengantin. Sementara Jasmine lebih ke casual dan baju-baju pesta,” kata Shinta.

Tepat di Perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2007, House of Jasmine, resmi berdiri. Shinta menganggap jadi satu momen yang sangat spesial.

“Pas ada pameran wedding expo dan studio 55 ikut. Saya minta sedikit space untuk perkenalkan Naura. Saat itu, juga ada fashion show, dan kita ikut,” Shinta mengisahkan gebrakan awalnya dengan antusias.

Satu kesempatan, kata Shinta, yang kelak akan jadi momen bersejarah yang tidak pernah ia lupakan.

Hanya 4 Bulan

Shinta mengaku tak punya target berlebihan. Ia hanya melihat, Naura, menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi, Shinta sadar. Ia tidak punya latar belakang seorang disainer mode. Shinta lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, Trisakti.

“Jadi, saya ini memang cuma pengamat dan pecinta,” ujar Shinta.

Sesaat Shinta tertawa lepas. Ia teringat kejadian satu silam. Kali pertama ia turun langsung mempersiapkan pameran wedding expo untuk Naura.

”Jadi, waktu saya ketemu Mbak Tina awal tahun, kita langsung mengerjakan itu semua, dengan cepat. Karena momentumnya bagus banget. Kita bikin 12 baju pengantin. Kita kerjakan dalam waktu hanya 4 bulan. Bahkan ada 3 baju, saya terinspirasi sebulan sebelumnya, itu dikerjakan 2 minggu sebelum tanggal 17. Subhanallah respon sangat bagus dari para pengunjung. Kita surprais juga,” ungkap Shinta, bangga.

House of Jasmine, kata Shinta, menjadi kerja mereka berdua. Shinta pun merasa diuntungkan karena Tina sudah punya SDM-SDM yang mendukung. Khusus model-model busana pengantin, Shinta turun langsung. Tina bertugas mengarahkan.

Inspirasi Berbeda

Naura diambil dari bahasa Arab, artinya burung cantik dari padang pasir bernama burung Naura. Bentuknya seperti burung unta. Sementara Jasmine, adalah bunga yang harum.

Shinta ingin, Naura berbeda dengan busana pengantin muslimah lainnya. Kata ibu tiga anak ini, justru ia ingin ciptakan sesuatu yang berbeda. Jadi inspirasi baru, di dunia fashion baju-baju pengantin.

”Pada dasarnya, orang biasa pakai kebaya adat untuk busana pengantin. Memang bagus untuk melestarikannya. Tapi, sekarang saya tawarkan inspirasi baru dengan abaya-abaya. Dengan disain menarik. Lebih ke timur tengah tapi lebih cantik karena dimodifikasi dengan motif dan bahan lokal, seperti batik,” terang Shinta.

Walaupun abaya, kata Shinta, disainnya tidak meninggalkan budaya Indonesia. Shinta prihatin karena banyak pengantin muslimah, tampil berlebihan.

“Padahal, dengan touch elegan, namun tetap manis, pengantin akan tampil memikat. Tidak perlu berlebihan. Saya memodifikasi saja. Kita juga memperhatikan detail, mulai dari brokat, list, payet dan bordir, sesuai pesanan,” ujar Shinta.

Shinta juga memperhatikan kualitas produk Naura dan Jasmine. Tanggal 20 Agustus lalu, ia membuka outlet yang diberi label House of Jasmine.

“Alhamdulillah, menjelang Ramadhan lalu, untuk baju-baju lebaran, kita iklan di beberapa media, dan dapat respon yang sangat bagus. Kalau untuk pengantin kita iklan di majalah wedding, lengkap dengan paket-paket pernikahan, kerjasama dengan studio 55,” ujar Shinta, bangga.

One Stop Wedding

Konstribusi…

Saya berpikir, dari studio 55 harus ada kontribusi saya sebagai seorang muslimah. Karena sebelum ini saya lihat-lihat di majalah muslimah, terlalu memaksakan. Tidak ada yang fokus urusin busana pengantin muslimah. Misalnya itu baju kebaya secara umum, terus dipaksain untuk berjilbab. Belum satu kesatuan konsep dari atas sampai bawah. Karena, busana muslimah itu tidak hanya bajunya saja yang dipikirkan, tepi keindahan kerudungnya juga dipikirkan. Sampai asesorisnya. Kita dituntut untuk berinovasi.

Target…

Ke depan saya ingin lebih banyak di kenal. Ahamdulillah ada beberapa daerah yang sudah mau kerjasama dengan kita. Respon dari bulan Agustus, sudah banyak telepon dari luar, seperti Banjarmasin, Pekanbaru dan Papua. Kita lagi olah dan coba pelajari, sistem seperti apa yang bisa kita gunakan.

Kerja Berdua…

Saya berpikiran, kalau bisnis dibagi 2 pemikir, itu bagus. Produksi dan Marketing. Saya lebih ke marketing. Walaupun ide awal untuk bikin busana muslimah pengantin tetap saya. Termasuk tetap memberikan kontribusi untuk urusan disain. Mbak Tina yang lebih banyak memikirkan masalah produksi.

Sinergi Bisnis…

Konsep awal studio ini, kita mau bikin sesuatu yang berbeda dengan studio-studio lain.  Yatu pre wedding in door. Boleh dibilang, inilah yang pertama kali, yaitu Studio 55 membuat foto dengan konsep out door tapi pemotretan di studio. Pakai teknik grafis komputer. Sekarang kita ingin menyatukan dua bisnis ini jadi satu. Pemotretan, dengan menggunakan busana produk Naura. Catering dan dekorasi InsyaAllah, akan kita realisasikan tahun depan. Studio 55 akan menjadi one stop wedding. Sebenarnya vendoir-vendor sudah dapat. Cuma kita ingin bikin konsep di studio ini lebih matang lagi.

Aien Hisyam

November 20, 2009 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | 3 Comments

Indri Rezeki IG

Berimprovisasi Dengan Zaman

Allure bukanlah yang pertama. Namun, Allure hadir untuk mengangkat citra batik menjadi produk berkelas, bergengsi serta mampu memberi sentuhan motif, warna dan kreasi baru pada busana batik di Indonesia.


Usia Allure belum genap empat tahun. Penuh percaya diri, Allure telah membuka salah satu butiknya di Singapura. Apa keistimewaan batik ini ?

Indri Rezeki, salah satu pemilik butik Allure, tersenyum senang. Ia bersemangat ketika bercerita tentang seni batik dan keistimewaan bisnisnya ini. Kalau selama ini batik identik dengan hal-hal klasik dan tua, namun kata Indri, batik Allure benar-benar beda.

“Allure punya visi menjadikan batik sebagai warisan luhur budaya bangsa Indonesia yang diminati sepanjang masa,” jelas Indri, semangat.

Sejak kehadirannya di tahun 2005, Allure menciptakan rancangan busana dari bahan batik yang memiliki tampilan masa kini, modis dan up to date. Sejalan dengan tren fashion di dunia internasional. Bisa dipakai dari usia anak-anak hingga orang dewasa.

“Allure memang unik. Ia kaya warna dan punya corak variatif. Bahkan dalam satu busana beberapa pola bisa bertabrakan. Belum lagi tambahan detil sulaman, manik-manik dan batu-batuan. Jenis kainnya pun beragam, mulai dari bahan dasar cotton texture, cotton emboss, viskos, sutra yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin, sutra sifone sampai organdi,” ujar Indri bangga.

Indri menjaga kualitas Allure. Dia ingin, Allure tetap tampil ekslusif, meski dibuat untuk anak dan remaja. “Produk ini hanya dibuat maksimal empat potong untuk satu model pakaian dan satu macam kain untuk sebuah model. Supaya tidak bisa ditiru. Tapi kita tetap berimprovisasi dengan zaman,” ujar Indri.

Bahkan, untuk menjaga kualitas, Allure punya tiga tempat berbeda untuk proses produksinya. Pembatikan kain di Cirebon, sementara perancangan sampai finishing di workshop kerja ada di Jakarta dan Depok.

Jiwa Semakin Solid

Hidup Indri tak lepas dari batik. Sejak kecil, ia sudah diajarkan ibunya untuk mencintai budaya Indonesia, salah satunya mencintai batik.

“Batik itu kan seni, dan saya suka seni. Kebetulan dari background keluarga, mama dari yogya dan papa sumatera, saya justru lebih dekat ke Jawa. Dekat juga dengan sudara2 dari Jawa,” kata anak bungsu pasangan H. Zulfirman Siregar dan (Alm) Rr. Endang Setiowaty.

Ibunya, ujar Indri, sangat mencintai batik. Ia Almarhumah Endang bahkan mengoleksi puluhan batik kuno. Dan sejak kecil, Indri dibuat terkagum-kagum manakala sang Bunda mengenakan kain batik, lengkap dengan kabayanya.

Akhirnya, lewat seni batik, Indri berinovasi dengan fashion.

Dunia fashion, diakui istri Rachmat Ibrahim ini, bukanlah hal baru. Ia mengawali dunia fashion sejak tahun 1995. Pernah menang di ajang pemilihan wajah cover majalah Kawanku. Hingga awal tahun 2000, wajahnya menghiasi banyak sampul majalah remaja, dan tahun 2001, Indri menjadi finalis Wajah Femina.

“Ternyata tanpa saya sedari setelah besar, itu semua jadi modal. Walaupun tidak nyemplung langsung, toh saya sudah tahu. Pada saat saya ketemu Alurre, jiwa saya semakian solid. Ini sesuatu yang menyenangkan. Kerjaan menjadi hobi. Dan banyak teman-teman lama yang sekarang ketemu lagi, padahal dulu masih usia belasan,“ ujar wanita usia 28 tahun ini, senang.

Wawasan Luas

Lahir di Medan, dan besar di Jakarta, Indri merasa beruntung menjadi anak kolong. Bapak seorang militer Angkatan Darat yang kemudian dikaryakan di pemerintahan, dan Ibu yang ibu rumah tangga.

Meski memiliki profesi yang menuntut kefemininan, Indri justru mengakui dirinya tomboi.

“Saya banyak bergaul dengan lingkungan tentara, dan punya Papa yang sangat disiplin. Nah, sisi feminin muncu dari figur Mama. Apa yang dilakukan, itulah yang dicontoh. Sekarang saya merasa ini menjadi kombinasi yang bagus,“ ucap Indri.

Meski tinggal di daerah Kabupaten, Indri tidak pernah merasa ‘terpencil. Ia mengambil hikmahnya karena dapat membuka wawasan dan lingkungan pergaulan yang lebih luas.

“Kalau saya lihat ke belakang, saya bersyukur karena saya pernah tinggal di daerah. Saya bergaul dengan banyak lapisan, ya anak-anak tukang becak, dan sebagainya. Anak-anak daerah saya kumpulin, main. Jadi, saya tidak steril. Ibu saya bilang harus bergaul dengan banyak orang, wacana berpikir kita terbuka.


Allure Dan Makna Kata

Allure memiliki makna pintar, memikat, menarik hati, indah, dan mempesona Kalaupun memakai bahasa Perancis, justru Allure terkesan sangat fleksibel.

“Sebenarnya, tidak ada arti pakemnya. Di Singapura aja kita pakai Alera, karena sudah ada yang pakai brand yang sama. Ini bukan sesuatu kata yang ada arti khusus,“ ujar Indri.

Dalam hal kepemilikan, Allure dibesarkan lima wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Indri, menjadi salah satu pemegang saham.

“Saya yang paling muda. Dan saat itu satu-satunya yang belum menikah. Saya ketemu salah satu partner saat liburan ke Korea. Kebetulan waktuitu Allure masih baru,” ujar Indri.

Langkah pertama yang dilakukan Indri adalah menembus Perusahaan Mustika Ratu. Hasilnya, Miss Universe dan Putri Indonesia, memakai batik Allure.

“Yang terpikirkan saya, simpel saja. Batik bisa dipakai untuk international event. Baik gaya modern dan desain international untuk ajang internasional,” ucap Indri, senang. Selanjutnya Allure diminati banyak investor. Salah satunya adalah investor dari Singapura yang mengajak Allure berpartner.

“Kita juga ada investor dan partner baru. Seperti di singapura. Saya punya partner orang singapura. Harus ada orang asli sana yang pegang license,” ujar Indri.

“Tapi kita juga harus hati-hati. Untuk berpartner kita harus kenal. Kita tidak hanya menyerahkan, tapi juga mengkontrol. Apalagi beda negara. Itu tidak mudah. Sesama Asia saja seleranya sudah beda. Kapasitas mereka, pekerjaan juga beda. Misalnya, di Indonesia yang beli kebanyakan ibu rumah tangga, di Singapura justru wanita bekerja. Tentu kegunaannya berbeda. Untuk memulai yang baru dengan kultur yang baru, itu butuh riset. Kita harus punya banyak informasi dulu,” ujar Indri.

Jadi intinya, lanjut wanita yang tengah hamil besar ini, produk Allure harus disesuaikan disainnya, kegunaannya, materalnya. Termasuk dicocokkan dengan cuaca negara tersebut.

“Nah, termasuk yang jadi masalah adalah selera. Di Indonesia senang warnanya yang bright. Di Singapura justru suka yang simpel. Itu tantangan sendiri,” lanjut Indri.

Batik, kata Indri, adalah seni. Motif masih ada yang pakem dan klasik tapi ada kombinasi dengan motif modern. Garis lebih ke kontemporer tidak terlalu klasik. Alurre berusaha menampilkan sesuaitu yang up to date. Lebih anak muda dan bisa dipakai seharian dan tidak terlalu berat.

“Kita mencapai banyak lapisan. Batik kan terkesan dipakai orang-orang tua. Makanya kita punya Allure Kids dan couture colllection. Kita juga membuat. Gaun malam. Membuat untuk Miss Universe dan Putri Indonesia,” ujar Indri.

Indri berusaha memahami selera pasar saat ia harus berjualan.

“Urusan disain, saya lebih menyerahkan ke tim disainer. Berbeda untuk yang saya pakai, karena saya tahu apa yang saya mau. Berbeda pula dengan private client. Pembeli membuat batik sesuai orderan. Allure akan didisain khusus dari corak, warna dan model. Misalnya untuk kembaran keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk acara open house. Disain batiknya kita buat. Tidak dijual, karena ini pesanan khusus. Juga waktu dipakai Kepala-kepala Negara saat pertemuan di Bali kemarin,” kata Indri, bangga.

Aien Hisyam

November 19, 2009 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | 1 Comment

Lenny Agustin

“Saya Suka Yang Ekstrim”

Hadir dan mencuri perhatian. Itulah gambaran seorang Lenny Agustin, ketika hasil karyanya membuat banyak orang berdecak kagum.


Apa jadinya bila kebaya didesain dengan warna-warna cerah dan bercorak. Memang, sulit dibayangkan. Tapi, di tangan Lenny Agustin, kebaya-kebaya tersebut terlihat indah.

Sebagai disainer muda, Lenny tidak menabrak pakem. Dia hanya berkreasi agar kebaya yang identik dengan kekunoan, makin diminati anak muda, juga anak-anak. Satu terobosan unik, yang juga membuat para ibu muda terpikat.

“Padahal, waktu itu saya sudah siap untuk dikritik. Tapi ternyata, tidak ada yang kritik. Saya tahu, tidak banyak orang yang suka. Namanya juga kreatifitas. Siapa saja bisa berekspresi,” kata Lenny.

Kata Lenny, kalau kebaya ditampilkan secara tradisional, belum tentu disukai anak muda. Jadi, ia berusaha mengangkat unsur-unsur kedaerahan ini dengan gaya remaja. Tidak hanya batik, ia meramunya dengan kain-kain tradisional dari banyak daerah, mulai dari NTT hingga Sumatera.

Bersikukuh Sekolah Fashion

Sejak kecil, Lenny sudah tertarik pada dunia fashion. Bahkan, setiap ditanya tentang cita-citanya, Lenny kecil selalu menjawab ingin jadi disainer. Ia ingin bisa mendisain baju, merancang, menjahit, dan punya butik.

“Dari kecil saya suka bikin baju boneka. Saya jahit pakai tangan. Jahit sendiri. Anak-anak tetangga minta dibikinin juga dan mereka bayarnya pakai kancing. Mereka minta ke orangtuanya kalau ada kancing sisa,” kenang wanita berdarah Kalimantan, Madura, dan Jawa ini bangga.

Lenny kian bergairah manakala ia mendapat tugas dari guru SMP-nya, menjahit baju anak kecil. “Sampai lampu mati aja, saya tetap menjahit,” ungkap Lenny, sambil tertawa lepas.

Lenny sadar, darah seni mengalir di tubuhnya.

“Di keluargaku darah seninya kuat sekali. Kakak saya juga banyak yang larinya ke seniman. Ada yang kuliah di Perbankan, kerjanya ke disain grafis. Atau ada yang ambil kuliah Akuntasi, kerja di perhotelan,” kata anak ketujuh dari 9 bersaudara ini senang.

Sayangnya, tinggal di Surabaya membuat Lenny tidak punya banyak pilihan untuk mengembangkan bakatnya. “Padahal, orangtuaku selalu menekankan anak-anaknya agar bersekolah formal. Sementara di sana hanya ada tempat-tempat kursus,” kata Lenny.

Lulus SMEA jurusan Perdagangan, Lenny sempat vakum selama 2 tahun. Ia bersikukuh ingin mengambil sekolah fashion. Sampai suatu hari Lenny membaca majalah remaja, ada informasi tentang sekolah fashion di Jakarta.

“Akhirnya aku dibolehin juga kuliah D3 bidang fashion di Asride Iswi. Pada saat yang bersamaan, aku juga kuliah di Bunka School of Fashion,” ujar Lenny yang hijrah ke Jakarta tahun 1994.

Hidup Sambil Belajar

Di tengah perjalanan menempuh pendidikan fashion, Lenny menikah dengan Sofian Susantio. Ia mengambil cuti 1 tahun untuk mengurus anak dan keluarga. Lulus kuliah pun molor hingga tahun 1999.

“Itu pun masih dilanjutin ngurus keluarga. Baru tahun 2002 saya buka butik sendiri. Itupun kecil-kecilan. Tempatnya masih ngontrak, hanya 50 meter persegi. Apa saja yang orang jahit aku terima,” kenang wanita kelahiran 1 Agustus 1973.

Pilihan Lenny tidak bekerja pada disainer lain, ia ingin punya waktu lebih banyak pada anak-anaknya. Ia ingin lebih fleksibel mengatur hidupnya. Karena masih butik kecil, Lenny hanya merekrut 4 karyawan.

“Saya belum punya ciri khas. Bagi saya, hidup sambil belajar. Belajar hitung harga, hitung gaji pegawai, dan sebagainya,” ujar ibu tiga anak ini tertawa renyah.

Barulah di tahun 2003, Lenny memberanikan diri mengikuti lomba fashion di Majalah Perkawinan. Baju pengantin Internasional yang ia buat meraih juara 1. Sejak itu Lenny ‘menemukan’ jati dirinya.

”Aku mulai mendisain baju-baju pengantin. Lebih produktif untuk dimuat. Lumayan tuh harganyanya naik, dan banyak yang pesan. Bahkan saya sempat masuk ke tv segala,” ungkap Lenny yang kini memiliki 2 butik dan 3 outlet.

Di tahun 2004, saat Majalah Perkawinan membuat buklet kebaya, Lenny mendapat kesempatan mendisain kebaya. Momen yang pas, karena saat itu dia juga mempekerjakan beberapa tukang batik.

“Pas aja. Saya pikir busana kebaya banyak. Akhirnya saya ambil ciri khas bikin kebaya dari 2 sampai 3 macam bahan, dan pakai kerut-kerut di dada. Biasanya ‘kan kebaya hanya 1 macam bahan,” ujar Lenny, tentang ide segarnya.

Justru keunikan kebaya Lenny inilah yang membuat pihak majalah menampilkan kebaya rancangannya sebagai cover. Nama Lenny pun mulai menjadi perhatian banyak perancang dan pakar mode. “Tapi, saya juga kesal. Ada perancang uang mulai meniru disain saya ini,” ungkap Lenny, sambil menghela nafas.

Fashion Show Tunggal

Langkah Lenny kian terbuka lebar. Di tahun yang sama ia masuk dalam wadah APPMI. Tiga tahun kemudian, di tahun 2007, ia bahkan mulai menggelar  fashion show tunggal di Four Session. Banyak mata yang terbelalak, dan mengaku surprise.

“Itu karena saya mengajarkan hal yang baru pada mereka. Ternyata kebaya bisa juga untuk anak muda. Bisa untuk anak kecil dan bisa untuk siapa saja. Tentu saja dengan gaya yang tidak terlalu tradisional,” kata Lenny, senang.


Yang Utama Adalah Anak

Sebelum Fashion…

Fashion show, itulah saya. Karena semua pemikiran saya lakukan sendiri. Tapi saya juga selalu minta saran dan kritik senior-senor dan pengamat mode pada mode yang saya buat. Itu saya lakukan sebelum fashion show. Mereka akan bilang, ini aku banget, ini bukan.

Gaya Sehari-hari…

Yah seperti ini, sangat casual. Kebetulan sekarang rambut saya sedang pendek. Tapi Saya ini suka yang ekstrim. Seperti kalau habis rambut panjang, biasanya langsung saya potong pendek sekali. Saya suka panjang trus pendek, panjang lagi, dan pendek lagi. Pendek begini sudah 3 tahunan. Anak-anak cukup bangga sama mamanya. Waktu rambut saya cat hitam, anak-anak malah protes, kok di cat hitam. Saya khawatir mereka nanti mau sama teman-temannya. Tapi jawab mereka, “kalau ada anak yang tanya kok mamanya kayak bule, saya bilang saja mama saya kan disainer.”

Pada Anak-anak…

Saya sangat dekat dengan mereka. Setiap Kamis say atidak kerja, agar bisa mengantar anak-anak kursus musik. Bahkan dari kecil saya tidak pernah menggunakan bahasa bayi, dan tidak pernah memperlakukan mereka seperti anak kecil. Saya selalu memperlakukan mereka seperti orang besar. Kalau mereka menangis, saya akan bilang kamu nangis dulu aja, jangan ngomong ke mama. Kalau mereka tanya, akan saya jawab dan saya belikan buku. Melalui buku, sekarang mereka sudah bisa riset. Dan bisa mencari jawaban dari pertanyaannya. Dengan memecahkan masalah sendiri.

Di Depan Karyawan…

Sekarang karyawan saya ada 30an. Di depan mereka, saya tidak pernah marah apalagi teriak-teriak. Jadi mereka nyaman disini. Kalau salah, saya kasih tahu. Tapi kalau sampai 3 kali masih salah juga, dan sudah dikasih tahu nggak tahu, ya potong gaji. Karena kalau kita ngomel-ngomel, nanti malah dendam dan kesal sama kita. Uring-uringan sama siapa saja. Intinya, saya tidak mau bikin orang bete.

Aien Hisyam

November 17, 2009 Posted by | Profil Disainer, Profil Wanita | 1 Comment