Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Susan Bachtiar

Indahnya Dikritik Anak-anak

 

Suatu hari, wanita cantik itu dikritik. “Miss Susan, hari ini seksi sekali,” ujar bocah 5 tahun itu, lugu.

 

Wajah Susan Bachtiar memerah. “Kok bisa?” Susan bertanya, penuh rasa ingin tahu.

“Iya. Pakaian Miss Susan kinclong sekali,” jawab anak itu ceplas-ceplos.

Susan-pun tersenyum. Ia pandangi bajunya. Memang, hari itu Susan sengaja memakai baju warna merah muda yang sangat cerah.

“Ternyata, menurut si anak, seksi itu kalau pakai baju kinclong dan mentereng,” cerita Susan.

Tak hanya itu. Di lain hari, ketika ia memakai baju terusan berkancing dan berpita, lagi-lagi ia diprotes. “Miss-miss, jangan pakai baju ini lagi, kayak piyama.”

“Lucunya lagi, saya ini kan pakai cincin di kaki. Mereka kritik, ‘Miss Susan, cincin itu dipakai di tangan. Bukannya kaki.’ Alhasil saya pindahkan cincin saya ke jari kelingking,” ujar Susan sambil tertawa lepas.

Begitupun ketika ia dikomentari tentang cat kukunya yang warna putih. Si anak bilang, “Miss, di rumah saya ada nail polish warna pink, red. Besok saya bawain. Tapi Miss jangan pakai tip-ex (cairan putih penghapus tinta).”

“Kedengarnya lucu saja. Itu karena ketidak tahuan mereka. Setiap diprotes atau dikritik, saya selalu punya obligasi untuk menerangkan,” kata Susan dengan nada senang.

Mengajar Itu Enak

10 tahun Susan menjadi guru Bahasa Inggris. Dua tahun terakhir, artis dan juga presenter cantik ini ternyata harus berhadapan dengan anak-anak usia 4 hingga 5 tahunan. Yang polos, apa adanya, juga kritis.

“Siapapun gurunya, berhadapan dengan anak-anak usia 5 tahunan, harus punya kesabaran yang tinggi. Bete tidak. Hanya saja awalnya mengatur mereka agak melelahkan. Anak kecil itu kan tidak bisa diam. Apalagi anak sekarang lebih aktif berbicara dan lebih kritis. Jadi kita pakai sistem belajar dengan metode communicated approach. Kita mengajar Bahasa Inggris dengan media suara, gerak untuk bercerita, dan media benda-benda yang ada di ruangan,” kata Susan Bachtiar.

Suka cita Susan menjalani profesinya sebagai guru.

Bermula ketika Susan memilih kuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Atmajaya. Sebelum lulus, wanita kelahiran 2 Mei 1973 ini diwajibkan mengikuti PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Susan memilih almamaternya, SMP Santa Maria Ursulin untuk 5 kali praktek mengajar. Sisanya, 5 kali mengajar, ia memilih SMA Kristen 3 di Gunung Sahari.

“Ternyata setelah PPL, saya baru merasakan mengajar itu enak,” ungkap Susan bersemangat.

Bahkan, ketika datang tawaran dari dosen seniornya untuk mengajar di Sekolah Abdi Siswa, Jakarta Barat, langsung ia terima.

Kerja Non Stop

“Setelah lulus kuliah, tahun 1996 saya langsung ngajar di Abdi Bangsa. Saya jadi guru bahasa Inggris honorer. Satu kelas ada 2 guru. Dipisah sendiri-sendiri. Awalnya kita shiftnya seminggu dua kali untuk 2 kelas. Pertama kali saya ngajar kelas 3 dan 6. Dengan pertimbangan saya pernah mengajar di SMP dan SMA waktu PPL. Selanjutnya saya ambil shift 4 kali atau empat kali dalam satu minggu,” terang wanita bernama lengkap Susan Meilani Bachtiar.

Susan semakin terampil mengajar. Ia juga dipercaya menjadi guru bahasa inggris di SD Pangudi Luhur dan SD Tarakanita. Otomatis Susan mengajar nonstop dari hari Senin sampai Sabtu

“Saya juga diangkat menjadi koordinator untuk guru-guru, yang menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan guru untuk mengajar dan memberikan masukan kapan harus ujian. Guru berhubungan dengan Koordinator, dan Koordinator-lah yang berhubungan dengan sekolah,” ujar wanita yang terjun di dunia entertaint sejak tahun 1988 ini bangga.

Tidak puas mengajar anak-anak sekolahan, Susan tertantang menjadi dosen.

“Kebetulan Atmajaya sedang cari dosen untuk Speaking Class. Saya coba melamar ternyata diterima. Jadi selain di Abdi Siswa, saya juga di Atmajaya. Disini saya hanya mengajar 2 tahun saja karena terputus saya menikah,” kata bungsu dari pasangan warga keturunan Tionghoa Sarief Bachtiar dan Desi Murni Firmansjah.

Tahun 2003, Susan berhenti dari Abdi Bangsa. Ia memilih ganti haluan, menjadi guru Taman Kanak-kanak di Santa Theresia.

“Ada pertimbangan, semakin kecil si anak, semakin besar tantangannya. Anak kecil kan susah sekali diaturnya. Tetapi dari banyak level pendidikan yang saya alami, pengalaman yang menyenangkan adalah mengajar anak-anak. Mereka lebih fun, lebih polos, apa adanya, interaksi belajar mengajarnya lebih aktif. Anak-anak kan egonya belum keluar. Awalnya saya pikir susah, setelah jalani ternyata enggak.,” lanjut Susan.

Guru Yang Galak

Mengapa Susan yang cantik ini begitu antusias menjadi guru?

“Seorang guru itu memiliki kepuasan yang tak terhingga bila melihat muridnya yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Istilahnya, meskipun gaji saya kecil, bayaran yang saya terima adalah kemampuan mereka untuk bisa,” ujar Susan.

Kalaupun ada muridnya yang ‘berulah’, Susan berusaha tegas.

“Kadang akan saya marahi. Kalau keterlaluan sekali saya jewer. Saya kasih warning sampai 3 kali. Kalau sampai 3 kali sudah diperingati, itu sudah kelewatan sekali dan harus disetrap di depan kelas dan harus mengikuti pelajaran di kelas. Saya dididik di sekolah katolik yang punya disiplin tinggi. Itu yang saya terapkan dan jadi pola pengajaran saya,” kata Susan yang dijuluki anak didiknya sebagai guru yang galak.

“Saya memang marah habis-habisan ke si anak. Tetapi setelah itu saya pasti akan panggil dan omong empat mata dengan si anak. Akan saya tanya, “Kenapa kamu saya setrap.” Saya ingin tahu apakah dia sadar apa yang telah dia lakukan. Dia harus tahu salahnya dimana. Jangan bilang saya tidak akan melakukan itu. Coba untuk tidak akan melakukan lagi,” lanjut istri Sumardi Supangat.

Aturan disiplin yang diterapkan Susan, “masuk kelas baju harus rapi, kelas harus bersih, tidak boleh ada tampang ngantuk, kalau ngantuk saya suruh ke WC cuci muka. Tidak boleh ngomong di kelas. Boleh ngomong pada saat diskusi, istirahat atau main game. Saat guru menerangkan, harus didengarkan. Itu pola yang masih ke bawa.”

“Mereka memang bilang Miss Susan galak sekali. Saya tidak ingin murid saya hanya pintar bahasa Inggris saja. Tetapi harus juga punya disiplin tinggi. Karena bagi saya disiplin harus diterapkan sejak kecil. Belajar bahasa bisa dari besar, tetapi diplin tidak bisa diajarkan setelah anak besar karena polanya sudah terbentuk,” tegas Susan.

Apakah kecintaan Susan pada anak-anak karena kondisi dirinya yang sudah 6 tahun menikah tetapi belum juga diberi momongan? Wanita berwajah putih bersih ini tersenyum.

“Saya bukan orang religius walaupun saya membawakan acara di Indosiar “Penyejuk Imani Katolik”. Dari acara itu saya belajar banyak, bahwa jadi orang itu tidak boleh ngoyo. Tidak boleh ngeyelan. Harus bisa nerima dan bisa melihat. Mungkin pintu ke arah itu belum dibuka Tuhan, tetapi pintu yang lain sudah. Saya menginginkan anak, sudah 6 tahun ini. Dulu awal-awal menikah saya ngeyel sekali sama Tuhan. Sempat marah. Tetapi setelah membawakan acara itu, saya melihat ada orang yang punya problem jauh lebih besar dari saya. Saya jadi bisa lebih terima. Mungkin saya lebih dibutuhkan anak-anak yang butuh ilmu saya. Saya mencoba menempatkan posisi saya di orang lain, tidak mau berharap lebih,” ujar Susan.

 

Aien Hisyam

*wawancara 13 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Artis, Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Upi

Tidak Pernah Mengecilkan Pekerjaan


Upi punya banyak sisi dalam kehidupannya. Sebagian, telah ia ungkapkan di 5 film yang ia sutradarai. Masih ada sisi-sisi lain yang belum terungkap.

Banyak gebrakan dilakukan Upi ketika namanya menembus jajaran sutradara muda Indonesia. Kali pertama ia terjun menjadi sutradara, ia hadir dengan konsep kelam di Video grup band rock ‘Zamrud’. Upi pun mendapat imej baru sebagai sutradara ‘bersetting gelap’.

Mata pun terbelalak manakala Upi muncul lagi, di film pertamanya 30 Hari Mencari Cinta yang fun, ceria, dan sangat wanita. Konsep film layar lebar ini berbeda 180 derajat dengan beberapa Video Klip yang telah ia buat.

Uniknya, dari 5 film layar lebar yang ia sutradarai, kesemuanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Bukti bahwa Upi lihai membuat film dari banyak genre. Termasuk di film terakhirnya, Serigala Terakhir yang penuh adegan laga, special effect, dan berseting kelam.

Melap Keringat Artis

Kecintaan Upi pada film terjadi sejak ia masih kanak-kanak.

“Sejak kecil, sekitar umur 5 tahunan, saya sudah suka menulis. Tidak hanya itu. Saya dulu selalu didongengin sama Bapak dan Ibu. Barulah, mulai agak besar, saya sering diajak nonton sama Bapak saya. Dari situlah saya mulai tertarik nulis dan film,” kenang Upi.

Upi mengawali karirnya sebagai penulis di usia yang masih remaja. Saat masih kelas 3 SMA, ia sudah dipercaya membuat konsep cerita sitkom Opera Tiga Zaman untuk televisi RCTI.

“Tapi saya kecewa. Apa yang saya tulis tidak sama dengan apa yang ditayangkan. Sejak itulah, saya punya mimpi ingin menulis sekaligus menvisualisasikan. Berarti, saya harus jadi sutradara,” kata Upi, mantap.

Lulus SMA di Perguruan Cikini, Upi harus memilih, kuliah ‘formal’ atau kuliah sesuai pilihan hatinya menjadi orang perfilman.

“Tapi, mau ambil IKJ, saya tidak dikasih. Karena waktu itu televisi belum banyak, film  juga belum marak. Orangtua cemas sama masa depan saya,” sesaat Upi tersenyum, “tapi saya sudah tahu bahwa saya memang pengin jadi sutradara. Jadi saya tidak mau buang-buang waktu ambil kuliah yang tidak saya sukai.”

Meski akhirnya kuliah di juruan Komunikasi, Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), Upi iseng bekerja di PH milik Rizal Mantovani, Broadcasting Indonesia. Ia bangga mendapat pekerjaan pertamanya, menjadi tukang lap keringat musisi-musisi yang membuat video klip.

‘Saya duduk di pinggir, bawa kotak tisunya. Kalau cut, saya langsung lari lap-lap keringat mereka. Ada Kahitna, Gigi, dan banyak lagi,’ ujar Upi, tertawa senang.

Hargai Tiap Pekerjaan

Upi antusias bekerja di bagian produksi. Katanya, inilah sekolah yang yang paling ia hargai.

‘Untuk orang seperti saya yang tidak punya background apa-apa tapi bisa terlibat di produksi, disitu saya belajar. Saya bangga banget. Saya tidak pernah mengecilkan pekerjaan apapun, karena saya menghargai apa yang saya miliki. Saya cuma merasa orang yang nol. Itulah cikal bakal saya,” ujar Upi.

Berkat keuletan Upi bekerja, ia pun dipercaya menyutradarai video klip pertamanya dari grup band Zamrud. Di luar dugaan, video klip yang kata Upi gila-gilaan itu, menjadi runner up Video Musik Indonesia.

“Tapi, ketika saya dapat tawaran film pertama, saya ingin membalikkan imej saya. Saya bikin film yang bertolak belakang dengan imej saya. Saya bikin film yang fun, riang, ceria, girly banget,” ungkap Upi. Dan di tahun 2004 muncul film 30 Hari Mencari Cinta.

Terus terang, Upi mengakui dirinya ketika menyutradarai film, dibuat terkaget-kaget. Kalau biasanya ia hanya berhubungan dengan belasan kru, tapi saat membuat film, ia harus memenej ratusan orang.

“Ditambah lagi, rata-rata kru saya sudah berpengalaman di film. Ibaratnya saya ini outsider. Saya orang luar. Pengalaman saya masih nol. Tapi, ternyata selama saya punya visi dan misi ke depan, segala hambatan dan kendala itu tidak akan pernah terjadi,” ucap ibu satu anak, Farrell.

Sukses film pertama, membuat Upi mendapat tawaran dari beberapa produser untuk membuat film sejenis. Tapi Upi langsung menolak tawaran-tawaran tersebut.

“Saya mau berkembang. Saya kan punya ruang, dimana saya bisa mengekspresikan cerita-cerita saya yang lain. Saya tidak mau bikin film karena ditekan. Saya akan datang dengan diri saya sendiri. Film itu harus jujur. Ketika saya bikin, saya harus senang dulu, baru saya bisa bekerja,” tegas Upi.

Upi pun membuat 4 film lagi dengan genre yang berbeda-beda; ‘Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), Radit dan Jani (2008), dan Serigala Terakhir (2009).

Sisi-sisi Lainnya

“Saya punya banyak sisi,” kata Upi tentang kehidupannya yang erat berkaitan dengan tema 5 filmnya. “Film 30 Hari Mencari Cinta itu mewakili sisi kanak-kanak saya. Nah, saya ingin tunjukkan sisi saya yang lain. Waktu proses Realita, Cinta dan Rock ’n Roll, filmnya cowok banget. Cowok yang bengal-bengal. Itu sesuatu yang berbeda dari sisi Upi. Film Radit dan Jani itu drama yang temanya cinta banget, tapi bukan yang berbunga-bunga. Tentang suami istri yang muda yang hadapi banyak masalah,” jelas Upi.

Satu hal yang membuat Upi terus berkreasi, karena selalu menantang dirinya sendiri untuk melawan zona kenyamanan. Katanya, kalau ia terus-terusan berada di posisi yang nyaman, ia akan terlena dan tidak berkembang.

“Makanya, banyak yang heran dengan film terakhir saya. Syutingnya dan teknisnya rumit, kru-nya banyak, efeknya juga banyak dan rumit. Awalnya ngeri juga membayangkan akan memproduksi film ini. Ternyata begitu saya coba, bisa juga,” ujar Upi, tersenyum.

Wanita yang tengah berhubungan dekat dengan artis tampan, Vino G. Bastian, sedang mempersiapkan produksi film selanjutnya. Ditanya bertemakan apa? Ia tersenyum. “Yang pasti, sisi hidup saya yang lainnya,” kata Upi.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Artis, Profil Penulis, Profil Seniman | Leave a comment

Hetty Heriani Sobary

Di Televisi Wanita Harus Cantik

 

 

Di depan mantan pekerja seks, Cheche terharu. Ada hikmah yang telah ia petik.

“Bayangkan, dia mau datang ke pesantren. Mau pakai baju muslim. Mau belajar ngaji. Mau pakai jilbab dan mau salat tahajud. Ini kan benar-benar sebuah hidayah. Kalau dia tidak benar-benar mau jadi wanita muslimah, itu sangat susah. Butuh niat yang suci langsung dari lubuk hati,” kata Cheche Kirani.

Menjelang sore, di sela-sela syuting ‘7 Hari Menuju Tobat’ di Pondok Pesantren Al-Ittihad Sawangan, Bogor, Cheche mengungkapkan isi hatinya.

Tanpa Script

Istri ustaz H. Hadi Wibawa ini masih aktif bermain sinetron.

“Sinetron yang ada misi dakwahnya,” kata wanita Sunda ini.

Misalnya saat jadi presenter, Cheche menyelipkan hadis dan ayat Al Quran. “kecil-kecilan saja, dan biasanya spontan,” ujarnya.

Di depan kamera, ketika berdialog dengan psk yang bertobat, spontan Cheche berujar, “Allah sangat mencintai orang yang sungguh-sungguh bertobat di jalan Allah. Yang setelah bertobat berjanji tidak akan mengulanginya, dan tobat itu diisi dengan hari-hari beribadah yang bersungguh-sungguh kepada Allah.”

Tidak pernah pakai scrip. Otomatis, Cheche harus benar-benar menguasai dan mendalami kandungan Al Quran.

“Sebagai presenter, Cheche harus bisa mencari itu sendiri ayat-ayat yang berhubungan. Acara ini tidak ada scrip. Dan target kita, dia (si pelaku yang bertobat) tidak di briefing dulu. Ini on the spot. Saya harus menyorotnya selama 7 hari. Saya hanya diberi tahu kalau tadi malam begini-begini, kemarin begini-begini, yah sudah. Mengalir begitu saja,” kata Ibu satu putri. Saat ini Cheche sedang hamil satu bulan.

Gemas Seniteron Reliji

Cheche memang sedang belajar mentausiah orang. Padahal, ia mengaku belum bisa menjadi wanita ‘sempurna’. Justru, segala sesuatu yang telah ia sampaikan pada orang lain jadi bahan instrospeksi diri.

“Alhadulillah pekerjaan yang diberikan ke saya ini berkaitan dengan dakwah juga. Sejak saya pakai jilbab, tawaran pekerjaan yang ke saya seputar itu saja. Presenter juga presenter agama yang ketemu dengan ustaz juga. Mau syuting sietron pasti sinetron yang agama juga. Dan saya maunya syuting sinetron yang benar-benar agama tujuannya untuk syiar. Bukan yang dibungkus dengan mistis. Itu sangat tidak baik,” ujar Cheche.

Hati Cheche menentang ketika melihat sinetron religi yang tidak agamis. Ditambah lagi, kalau ada peran wanita muslimah yang tidak bisa mencerminkan pribadi muslimah.

“Saya sedikit menyayangkan. Pernah saya lihat ada peran wanita berjilbab, dia marah-marah, dia bentak-bentak, dia maki-maki. Ini sinetron reliji yang hanya dibungkus dengan pakaian muslim, baju koko, sorban dan jilbab. Tapi isinya tetap ke sinetron drama lainnya,” gemas suara Cheche.

Lebih disayangkan lagi, lanjut Cheche, sinetron model itu sangat diminati. Diikuti dengan PH-PH lain yang akhirnya justru menjatuhkan wanita muslimah dan agamanya.

Batasan Bermain Sinetron

Karena itulah Cheche sekarang selektif memiilh peran.

“Baca dulu adegan-adegannya. Kalau tidak melenceng dari syari’ah Islam dan bisa didakwahkan, saya mau. Yang disayangkan kalau sinetron religi dibuat menyimpang dari syariah Islam. Nanti orang beranggapan bahwa Islam kok seperti itu. Ternyata matinya orang Islam seperti itu atau akhlak wanita berjilbab kok seperti itu. Berarti dia orang yang munafik, yang tidak bisa menjilbabi hatinya. Kalau sudah begitu, nanti orang jadi tidak mau pakai jilbab,” ujar Cheche.

Selayaknya, wanita muslim bisa membungkus aurat dengan baik. Yang tertutup dan tidak menyerupai laki-laki. Yang menutupi telapak tangan dan telapak kaki.

“Bukannya pakai kerudung tapi leher kebuka. Pakai kerudung tapi pakai baju ketat. Ini tidak sesuai juga dengan ajaran syar’i. Malah kadang sutradaranya juga non muslim. Padahal dalam surat Al Azab, berbunyi ulurkan jilbabmu maksudnya pakaian,” lanjut Cheche.

Sebaiknya, lanjut Cheche, sinetron sinteron Islam dibuat oleh orang yang mengerti ajaran agama Islam.

“Pernah saya ikut di sinetron reliji, ada adegan wanita muslimah meninggal. Tapi kok yang mandiin laki-laki. Itu kan tidak boleh. Sampai saya bilang, tolong dong jangan begitu. Bukan karena sok jadi guru. Tapi kalau yang meninggal perempuan maka yang mandiin harus perempuan. Sutradaranya bilang ini kan hanya sinetron. Lho saya jawab, tapi kan yang nonton seluruh Indonesia. Ayo dong kita lebih sensitif. Karena salah berbuat bahkan salah pengucapan ayat saja bisa bermasalah,” ujar Cheche mengelus dada.

Cheche sendiri punya batasan dalam bermain sinetron. Asalkan tidak bersentuhan, tidak ada adegan pegangan, pelukan dan ciuman pastilah ia terima.

Dua Dunia Berbeda

Ditanya keinginan terbesar Cheche saat ini, “saya ingin seperti Siti Khadijah,” jawabnya

Cheche mengaku sedang menuju ke arah itu.

“Siti Khadijah itu luar biasa. Dia rela melepaskan seluruh hartanya demi perjuangan suaminya. Yah kalau saya tidak punya harta, ya dukungan, spiritual ke suami. Orang berpikir hidup Aa itu sudah enak. Tidak ada masalah. Tapi ustaz tetap manusia. Kita harus lebih sabar dan memperhatikan,” kata Cheche

Apabila ada wanita yang berkonsultasi pada suaminya, sebisa mungkin Cheche tidak cemburu. Dianggapnya, kondisi tersebut sebagai proses pembelajaran.

“Dan yang terpenting apa yang suami tausiahkan, harus kita amalin setiap hari. Aa tidak pernah menyuruh, Bunda begini-begini. Tapi Aa hanya mengajak Cheche ikut mendengarkan ceramahnya. Dan praktekin. Termasuk dalam mengurus anak. Penginnya Cheche bisa menjadi istri dan Ibu yang baik buat anak-anaknya. Kebetulan dititipi Allah anak perempuan. Jadi butuh ilmu yang banyak dan selalu dijaga agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan,” cerita Cheche.

Kalaupun ia berbeda dunia dengan suaminya, hal itu tidak jadi masalah. Ia sangat bersyukur karena memiliki suami yang sangat pengertian.

“Alhamdulillah saya dikasih suami yang ilmu agama baik. Tetapi bukan berarti suami saya otoriter dan kaku. Justru Aa orang yang mengkritik saya dalam pakaian. Aa justru ingin istinya pakai pakaian semodis mungkin. Jangan sampai dilihat orang terkesan kumuh, jelek karena memakai jilbab yang acak-acakan. Justru Aa ingin tunjukin bahwa wanita muslimah harus tampil dengan menarik, cantik dan pakai jilbabnya nyaman,” kata Cheche.

“Cheche bahkan masih diberi kebebasan beraktifitas. Boleh apa saja. Ikut arisan saja boleh. Yang penting Zalfa (anak pertama Cheche) sudah keurus, makan, mandi, minum vitamin. Kalau suami mengijinkan yah sudah. Kalaupun Aa berdakwah, sebisa mungkin ikut,” ujar Cheche dengan sumringah.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Artis, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment