Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ester Indahyani

Kalau Helai Rambut Belum Jatuh

 

 

Ia baru tiga bulan menikah ketika kerusuhan Mei 1998 membara. Seperti lintah, peristiwa itu jadi kenangan buruk dalam ingatan.

 

Seorang teman datang padanya sambil menangis. Adiknya diperkosa beramai-ramai di jalan tol. Ia etnis Tionghoa, seperti Ester yang duduk tertegun di depannya.

Di lain hari, wanita ayu berkulit kuning langsat ini mendengar penuturan jujur dokter ginekologi. Lebih dari 5 pasiennya dirawat dalam kondisi menyedihkan, alat kelaminnya (maaf) rusak berat dan ada yang rahimnya ‘berantakan’. Semua keturunan Cinta, dan mengalami saat bumi Indonesia dihantam tragedi Mei 1998.

Ester jadi sulit tidur. Dia marah dan menangis. Belum lagi memikirkan saudara-saudaranya se-etnis yang mati hangus terbakar di dalam rumah dan toko. Spontan didirikannya LSM Solidaritas Nusa Bangsa (SNB).

“LSM itu alat perjuangan. Kalau SNB itu alat untuk penghapusan diskriminasi rasial. Jadi kenapa di SNB, aku dan teman-teman lain berjalan untuk tujuan itu,” kata wanita yang terlahir dengan nama Sim Ai Ling.

Sempat Menolak

Hampir 9 tahun Ester berjuang. “tapi ‘berhenti’ dimana-mana,” ucapnya, mengeluh.

“Secara hukum pemerkosaan itu sulit (dibuktikan). Tetapi secara umum, kasusnya ini pelanggaran berat HAM, itu jelas bisa dibuktikan. Terbukti rentetan kejadian lain jelas sekali mengarah ke satu gerakan kejahatan yang sistematis yang luas. Waktu di Komnas (Komisi Nasional) kita mendata ledakannya di lebih 50 titik lokasi. SNB dan YPHI (Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia)  mendata lagi di 80 titik ledakan sosial. Jadi ada pola yang jelas kerusuhannya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ester staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia gadis peranakan Tionghoa yang berpikiran maju. Seperti orangtuanya, Immanuel Jusuf yang guru, dan Maria Tjandra yang bekas guru.

Lulus Fakultas Hukum UI, Ester masuk ke dunia korps jubah hitam.

“Awalnya ingin jadi Hakim, dengan pemikiran naif-ku saat itu. Hakim yang memberikan keadilan. Dia bisa memutuskan perkara. Orang benar dibebaskan, orang salah dihukum. Tapi waktu aku mempelajari kehidupan Hakim baik secara hukum, politik dan ekonomi, ternyata jauh dari harapan,” kata Ester.

Ia tidak suka ketidakadilan. Sering melawan hukum apabila hukum berjalan diluar sistem.

Kegigihan Ester menjadi ‘pengacara rakyat’ membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. Mulai dari Forum of Human Rights (1999), Yap Thiam Hien (2001) hingga Ashoka World Foundation (2003) yang bertaraf Internasional.

“Dulu sempat mau menolak Yap. Kan yang berjuang bukan hanya aku. Kalaupun muncul, itu karena gerakan. Semua membicarakan. Aku hanya satu unsur disana. Tapi teman-teman yang memaksa. Apabila wacana HAM yang diangkat, itu akan sangat menguntungkan perjuangan anti diskriminasi. Dan buat aku sendiri ke depan juga sangat baik. Orang akan menghargai saat aku membicarakan diskrimasi rasial atau masalah-masalah lain,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah kerusuhan Mei 1998, masalah etnis Tionghoa ramai dibicarakan.

“Bahkan jadi komoditas. Kalaupun aku dianggap tokoh itu peran media. Padahal peranku hanya kecil sekali. Yang bicara pada tanggal yang sama ada beberapa. Tapi mungkin karena aku perempuan, jelas Tionghoa dan muda, masih 27 tahun. Aku juga dari LBH dan dianggap baru,” jelasnya lagi.

Ditembak Peluru Karet

Pernikahan Ester dengan Arnorld Fransiskus Purba, aktivis ‘garis keras’ membuat perjuangan wanita kelahiran 15 Januari 1971 ini kian runcing. Meski suaminya bukan etnis Cina, keduanya gigih membongkar dan membela para korban kerusuhan Mei. Purba meninggal tahun 2001 akibat livernya rusak.

“Bang Ucok (panggilan untuk suaminya) mengajar aku berani melawan struktur. Menghadapi tentara dan belajar melawan sistem dan hal-hal feodal,” kenang Ester.

Ia kembali menikah tahun 2005 dengan pria Jawa yang juga bukan etnis Tionghoa, Albertus Suryo WIcaksono. Pria ini justru mengajarkan Ester untuk  ‘mengakar ke bawah’.

“Memahami pikiran masyarakat bawah. Memahami kultur bangsa Indonesia. Jadi keduanya bertolak belakang, Satu ke atas, yang satu ke bawah. Membuatku jadi lebih lengkap,” katanya, bangga.

Bekerja melawan arus pastilah beresiko dengan nyawa.

“Orangtua sempat kuatir. Apalagi aku tidak pernah cerita apa yang aku alami,” ujar Ester.

Seperti ketika Ester jalan sendirian menuju LBH Jakarta dekat Megaria. Hari sudah gelap, sudah jam 7 malam. Tiba-tiba bahu kanannya perih. Ia terjatuh. Sepintas ia melihat dua pria berboncengan motor menenteng pistol sambil tersenyum.

“Sakit sekali seperti mau mati. Ternyata ada lebam dan luka di tengah. Aku menduga ditembak peluru karet. Teman-temanku banyak yang mengalami seperti itu, karena kebetulan waktu itu aku sedang menangani kasus orang-orang hilang. Aku biasa lembur. Suamiku masih di LBH,” kenang Ester.

Teman-teman memaksa Ester siaran pers. Esoknya, semua media cetak dan elektronik menulis kisahnya. Orang tuanya membaca.

“Mereka kaget dan bilang kalau sudah taruhan nyawa kenapa juga masih diteruskan. Tapi kemudian mereka berdoa dan telepon lagi, Papa bilang, rambut di kepalamu tidak akan jatuh kalau tanpa Tuhan mau. Kalau Tuhan mau, di rumah pun kita bisa meninggal. Aku bersyukur sekali,” ujar Ester, matanya berbinar bahagia.

Ester jadi kebal dengan terror. “Capek kalau dipikirin!”

Buku Yang Dilarang

Ester kesal. Bulan lalu satu bukunya dilarang terbit Komnas HAM.

“Padahal, buku itu murni dari hasil investigasi selama 1 tahun. Data dari Komnas yang saya ambil adalah hanya data TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Kemudian mereka mengkaim bahwa data itu semua milik mereka. Padahal data saya ada tambahan dari hasil investigasi selama 1 tahun. Lebih detail, lebih lengkap dan lebih luas,” ujar Ester tentang buku berjudul ‘Analisa Data dan Fakta Kasus Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei

Imbasnya, ia diprotes korban-korban kerusuhan Mei. “Karena mereka juga ikut dalam investigasi. Kesal kenapa bukunya kok dilarang.”

Dua buku lainnya berjudul ‘Reka Ulang Kerusuhan Mei 1998’ dan ‘Menatap Wajah Korban: Upaya Mendorong Penyelesaian Hukum Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Peristiwa Kesusuhan Mei 1998

“Buku Menatap Wajah Korban, isinya sketsa para korban yang tidak punya foto. Miskin kota yang mati di bunuh di Plaza-plaza, kebanyakan tidak punya foto,” terang Ester.

Para pelukis, lanjut Ester, berbicara dengan keluarga korban. Mereka menggambarkan wajah korban, dan dilukis. Ada puluhan wajah yang muncul.

“Dan itu ternyata jadi trauma healing pada keluarganya. Jadi begitu mereka lihat sketsa wajah itu, muncul lagi kejadian itu. Mereka pada menangis. Tapi setelah itu mereka jadi kuat. Ini seperti terapi. Mereka merasa perjuangan masih panjang. Korban tidak hilang begitu saja,” lanjut Ester.

Buku Reka Ulang juga berupa sketsa kejadian. Misalnya di Glodok, di Pondok Indah dan puluhan titik lokasi. Minimal ada dua saksi dalam satu tempat. Masing-masing bercerita tentang kejadiannya, dan dibuat sketsa. Seperti rekonstruksi kejadian saat itu.

“Bukunya jadi penuh sketsa. Masyarakat Indonesia kan susah kalau membaca. Bahasa gambar lebih bisa diterima. Harapannya bisa rekonstruksi kejadian dan wajah pelaku. Kebanyakan korban tidak mengenali pelakunya. Ada yang mengenali tapi kesaksiannya tidak signifikan. Kebanyakan lari. Ada yang lihat tapi tidak ngeh karena banyak pelakunya,” kata Ester, lagi.

Aien Hisyam

*wawancara 12 Februari 2007*

Advertisements

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | 1 Comment

Yenny Zannuba Wahid

Memilih Pekerjaan Sesuka Hati

 

“Saya perempuan beruntung,” kata Yenny tentang dirinya. Sayangnya, hingga kini ia belum beruntung menggapai jodoh.

 

Staf ahli presiden RI, seolah menjadi penegasan status Yenny saat ini. Deretan status lainnya, sebagai pimpinan di Departemen Pengembangan NU, Sekretaris Jenderal PKB, Direktur The Wahid Institute, hingga asisten pribadi mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, ayahnya sendiri.

Setiap menit, katanya, sangat berharga. Ia perempuan sendiri dari 7 staf ahli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Ini salah satu keberuntungan,” kata wanita bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, dengan mata berbinar.

Panggung Hampir Roboh

Siang terik di Jombang, Yenny berdiri di samping Gus Dur, panggilan ayahnya. Wajahnya tegang. Di depan, ratusan ribu orang beristighosah. Panggung mulai limbung disesaki pendukung.

“Belum selesai Bapak pidato, panggung mau roboh. Tiba-tiba ratusan orang menyangga panggung agar tidak roboh sampai pidato Ayah selesai. Saya nangis. Dalam hati saya, Ya Allah, begitu besar kecintaan orang, kepercayaan orang terhadap Ayah dan keluarga saya,” kenang Yenny.

Kejadian di tahun 2001, -saat Gus Dur dipaksa meletakkan jabatan Presidennya- membekas di hati Yenny.

“Padahal, awalnya saya tidak mau terjun di dunia politik,” katanya.

Tiga tahun mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) ini bimbang.

“Saya begitu beruntung, bisa sekolah di Harvard, bisa aktualisasikan diri, bahkan pekerjaan saja saya milih sesuai kesukaan saya. Karena itu saya berpikir kembali untuk memberikan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Saya harus berikan kontribusi pada masyarakat,” ujar Yenny.

Desakan orang-orang partai dan kader-kader NU tidak goyahkan hati Yenny. Tahun 2002, Yenny justru pergi ke Cambridge-Amerika, kuliah di Harvard University.

“Lulus setahun kemudian, pulang, saya bikin Wahid Institute. Saya senang kerja di belakang layar,” ucap Yenny.

Kembali, tawaran menjadi anggota parlemen ditolak wanita bersuara lembut ini.

“Saya tidak mau. Jangan sampai saya dicalonkan karena saya anaknya Gus Dur. Saya tidak mau seperti itu. Terlalu gampang,” kata peraih penghargaan Australia’s Premier Journalistic Award – The Walkleys.

Terdesak Keputusan

Ketika partai PKB diguncang masalah, “ada kelpmpok yang mau mendepak Bapak dari parpol. Saya pikir itu tidak bisa ditoleransi. Saya harus turun dan ikut masuk. Dan mempertahankan partai ini. Partai ini kan yang buat Bapak. Ibaratnya ada yang mau ngusir dari rumah kita sendiri. Itu tidak bisa diterima,” suara Yenny meninggi.

Tahun 2004, sarjana desain dan komunikasi visual Universitas Trisakti ini menerima jabatan formal Sekretaris Jenderal PKB. Katanya, demi keutuhan PKB.

“Kalau masuk politik ya harus kuat. Politik itu sebuah lingkungan yang kalau tidak kuat bisa terpental. Ada kejamnya. Tidak hanya siap mental saja. Dulu kalau ada yang jahat dan nyakitin sama saya, padahal saya tidak kenal orang itu, saya sampai nangis,” kenang Yenny sambi tersenyum.

Sekarang, lanjutnya, “saya sudah bisa baca, tuh orang kepentingannya mau apa. Sekarang saya sudah bisa bedakan komentar yang punya substansi dan tidak ada substansinya. Kalau komentar punya substansi, harus kita dengarkan. Apalagi kalau niatnya mau memperbaiki keadaan. Kalau perlu orang yang ngomong ajak diskusi.”

Awal pemilu tahun lalu, Yenny dan partainya protes ke KPU.

“Kita golput. Saya kesal karena Bapak tidak boleh mencalonkan (Presiden RI). Alasannya karena kesehatan. Berarti orang yang yang cacat tidak boleh maju ke kancah seperti itu. Buat saya tidak penting kalah atau menang. Gus Dur itu anti diskriminasi, tapi kok malah di disriminasi begitu. Buat saya, itu yang harus diperjuangkan. Lebih baik ikut tapi kalah daripada haknya dirampas. Realitanya begitu,” kata Yenny dengan nada kesal.

Diputaran akhir pemilu, Yenny menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono, untuk jadi Presiden. “Setelah Pak SBY menjabat setahun, baru saya diangkat sebagai staf ahli,” ujar Yenny.

Saat Di Amerika

Yenny sadar ada anggapan miring tentang ‘keberuntungan’nya. “Itu dalam konteks orang selalu bilang saya anaknya Gus Dur. Mereka bilang kalau bukan anak Gus Dur pasti tidak bisa. Yah biarin saja,” katanya.

Yenny ditelepon staf SBY saat dirinya di Bandara, sedang dalam perjalanan ke Jember, mengunjungi korban banjir dan tanah longsor.

“Saya diminta menghadap pak SBY, tapi tidak bisa. Setelah itu tidak dipanggil lagi. Saya tunggu sampai 1 mingguan. Nah, pas di telepon lagi saya mau ke Amerika. Sore saya ke Amerika, siang SK-nya di antar ke Wahid Institute. Jadi waktu diumumkan ke publik saya sudah berangkat. Saya tidak bisa kasih komentar apa-apa,” kata Yenny lagi.

Ia menjadi Staf Ahli Presiden bidang Politik dan Komunikasi. Tidak kaget, tidak juga surprais. Yenny merasa pas saja, “karena saya memang orang komunikasi juga orang politik,” ia tersenyum cerah.

Komunikasi, kata Yenny, tidak harus di depan umum. Atau harus tampil. Ia bertugas merancang strategi komunikasi Presiden. Melakukan pendekatan-pendekaan di belakang layar.

“Juga komunikasi private one on one dengan individu. Mungkin kalau di istilah populernya pelobi. Ini yang tidak terekspos ke publik dan tidak boleh terekspos,” ujar Yenny.

Yenny mencontohkan, saat di Amerika, ia aktif melobi anggota-anggota konggres, bertemu senator-senantor juga staf senator. Termasuk menjelaskan pada masyarakat policy-policy dan sikap pemerintah. Misalnya melalui pengajian-pengajian, social gathering, diskusi publik, forum-forum dialog, dan sebagainya.

Pidato Di Harvard

Yenny pintar berkomunikasi. Buktinya, ia lolos seleksi lomba pidato mahasiswa. Pesertanya ratusan. Ia menjadi perwakilan mahasiswa pidato di puncak acara wisuda Harvard University.

“Cita-cita saya dari dulu adalah ingin sekali pidato di depan Bapak saya. Ternyata saya menang kompetisi. Senangnya minta ampun. Mungkin karena isi pidato saya dinilai yang paling representatif dengan kondisi saat itu. Isinya tentang sulitnya kita membuat keputusan padahal kita harus membuat keputusan,” kenang Yenny.

Yenny sengaja tidak memberitahu orangtuanya.

“Ternyata kaget semua. Dan lucunya, disana pihak Universitas juga kaget karena Bapak saya mantan presiden. Sampai diumumkan segala. Orangtua disuruh duduk di depan tapi tidak mau. Jadi sama-sama kaget. Itu kebanggan sekali,” cerita wanita kelahiran 29 Oktober 1974 ini bahagia.

Nampaknya, kebahagian kian lengkap jika Yenny segera mengakhiri masa lajangnya.

“Moga-moga tahun ini ketemu jodoh terus married 2008. Belum ketemu orangnya saja sih. Padahal saya pingin jatuh cinta saja. Nah orangnya belum ada. Doakan saja,” katanya penuh harap.

Satu keinginan terbesar Yenny, “Saya ini pingin sekali punya anak. Nah kalau nanti umur terus bertambah, secara biologis kan pasti akan susah. Gimana dong. Jadi harus ada deadlinenih,” ucap Yenny yang ingin punya dua anak.

Aien Hisyam

*wawancara 4 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Politikus, Profil Wanita | Leave a comment

Ratih S.A. Loekito

Bekerja Dalam Hening

Disaat yang lain tertidur pulas, Ratih bercanda dalam belantara. Tidak ada kata malam atau siang. Ia senang akan keheningan. Bekerja demi kebahagiaan orang lain.

 

Duduk di atas puing, Ratih menatap sekumpulan anak yang menangis.  Tsunami dan gempa menimbun semua harapan. Hari-hari wanita ini-pun berubah.

“Di Meulaboh, setiap orang sudah lelah menangis. Sekarang, mereka harus berpijak. Melihat kenyataan, dan bangkit kembali,” ujar Ratih suatu hari.

Peluh membasahi wajah. Terik matahari sudah berhari-hari membakar kulitnya. Ratih tetap ayu dalam kelelahannya.

Wanita Modern

Dibawah bendera Tanoto Foundation, Ratih masuk kedalam wilayah-wilayah terkena musibah gempa dan tsunami. Ia hanya dibantu segelintir orang.

“Hanya sebulan sesudah musibah kita bergerak. Kita kumpulkan orang-orang untuk membantu. Kita bangkitkan semangat hidup mereka. Bangun kembali yang tersisa. Bahwa hidup itu terus berjalan,” kata Ratih di suatu siang, di warung kecil dekat pelabuhan udara kota Meulaboh-Aceh.

Wanita bersuara lirih, ramah, dan hangat, berbulan-bulan ‘berkantor’ di kota kecil yang porak poranda. Profesi menempatkannya di tengah-tengah warga yang haus masa depan. Hasilnya, satu Sekolah Dasar berdiri megah. Lengkap dengan sarana dan prasarana.

Tidak berhenti disitu. Direktur Eksekutif Tanoto Foundation ini kembali berjuang di Pulau Nias. Berbulan-bulan ia ber‘kantor’ di pulau terpencil.

Setiap malam, Ratih dan beberapa temannya bercengkrama dalam sepi. Kadang dalam gelap. Itu membuatnya semakin merasa memiliki.

Ratih, wanita Jakarta modern. Di balik segala yang gemerlap, ia sering merasa ingin mencari tempat sunyi dan jauh dari hiruk pikuk. Di tempat-tempat ini ia merasa menjadi diri sendiri. Ia bukan Ratih yang memimpin sebuah yayasan besar. Ia juga bukan Ratih yang sejak pagi hingga malam sibuk dengan urusan meeting atau menerima tamu-tamu penting.

Di Pedalaman Kalimantan

Lulusan Intistitut Teknologi Bandung jurusan Pertambangan ini senang travelling.

“Sebelumnya, saya di LSM Dana Mitra Lingkungan. Sebenarnya antara keduanya tidak ada kaitan sama sekali. Tetapi ada benang merahnya. Di tempat kerja yang lama, kita sering melakukan edukasi ke masyarakat dan anak-anak sekolah, agar lebih aware dengan lingkungan sekitar,” kata wanita bernama lengkap Ratih SA Loekito.

Tahun 2005 ia bergabung di Tanoto Foundation, yayasan milik pengusaha Soekamto Tanoto yang fokus di dunia pendidikan. Alasan Ratih, ia sedih melihat SDM di Indonesia masih lemah di sisi pendidikan.

Pernah Ratih masuk ke pedalaman Kalimantan Timur. Ia sedih. Dilihatnya pendidikan anak-anak suku pedalaman jauh tertinggal.

“Saat itu saya sedang lakukan kegiatan berorentasi pada lingkungan. Masuk ke sekolah-sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Kalau hal yang berkaitan dengan lingkungan harus dipupuk dari kecil. Tidak bisa ujuk-ujuk setelah dewasa. Kalau masih kecil pelan-pelan sudah tertanam lama-lama, maka jadi kebiasaan,” kata Ratih.

Ratih juga singgah ke Kabupaten Kutai Barat. Tempat yang sangat terpencil.

“Bangunan fisik sekolahnya memprihatinkan. Level SMA tapi tidak punya laboratorium. Kendalanya selalu klasik, masalah dana. Kalau saya bilang, oke masalah dana iya, tapi kita tidak boleh tergantung oleh dana saja, kita harus kreatif dong. Dimana dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa mengajar dengan tepat dan benar. Sebenarnya alam bisa mengajarkan banyak hal pada kita untuk belajar dan berpraktek,” kata mantan asisten dosen ini.

Lain kisah di Mahakam. Di satu pulau kecil, “Saya lihat satu SD dan SMP gurunya hanya 2 orang. Suami istri pula. Dia ngajar anak-anak dari pagi sampai siang. Sabtu pagi mereka ke ibukota kecamatan untuk ketemu keluarganya. Anak-anak si pasangan ini di ibukota kecamatan,” cerita Ratih.

Untuk menuju pulau itu, Ratih naik boat atau ketinting selama 2 jam.

“Nah, kita bisa lihat bagaimana mereka jadi guru demikian sengsaranya. Dedikasinya dan kesetiaan pada profesinya mau berkorban,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang, 7 April 1963.

Tak Peduli Jabatan

Di Tanoto Foundation Ratih bisa leluasa mengeluarkan semua kontribusinya untuk dunia pendidikan.

“Seperti motonya, reducing poverty, advancing human achievement dimana diharapkan dengan makin meningkatnya SDM akan memerangi tingkat kemiskinan. Kalau kita makin pintar kita akan survive dalam hidup,” katanya.

Ibu satu putri, Audrey A. Cr. Van Waardenburg ini tak segan turun ke lapangan.

“Kayaknya saya merasa lebih nyaman terjun langsung. Kalau ada konsep lebih sreg saya harus ikut realisasinya. Kalau saya ikut, disitu saya jadi tahu mana-mana saja yang harus dikoreksi dan ditingkatkan lagi. Gatal saja,” Ratih tertawa lepas.

Ia bukan tipe wanita belakang meja. Rela berhari-hari di tempat terpencil.

“Dari dulu saya tidak pernah peduli jabatan. Yang lebih aku pentingkan, kalau kita membuat sesuatu yang benar, kita harus bisa terjun. Sehingga kita tahu kondisi di lapangan. Saya rasa tidak ada yang istimewa, yang penting segala sesuatunya lancar,” katanya bijaksana.

Di tempat itu, istri Budhy Ch. Van Waardenburg bisa menemukan keseimbangan hidup.

“Di Jakarta, orang-orang sangat konsumtif dan materialistik. Segala sesuatu dinilai dengan uang. Kalau kita ke daerah-daerah, kita disadarkan bahwa uang bukan segalanya. Banyak cara lain yang bisa diraih untuk membahagiakan diri kita,” kata Ratih lagi.

Kontemplasi Sisi Kehidupan

Wanita ini sering merenung. Betapa beruntung dirinya.

“Di sana (daerah terpecil) kita melihat masih banyak orang yang kurang beruntung,. Mereka cukup kuat dengan hal yang sederhana. Bisa bahagia dan kita juga melihat bahwa segala sesuatu tidak dilihat dari sisi materi. Pemikiran mereka amat sangat sederhana, tidak njlimet. Yang penting keluarga bisa cukup makan dan anak bisa sekolah,” komentarnya.

Dalam kesunyian alam pedesaan, Ratih melakukan retrait, “juga kontemplasi melihat bagaimana sisi kehidupan orang selain yang biasa kita temui di Jakarta. Saya pernah ke Sumbawa, Lombok, seputar Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan Utara. Pedalaman di Sumatera. Kita 3 bulan di pedalaman Bengkulu.  Juga ke Kutai Barat, Kutai Timur dan di Kertanegara,” kisahnya.

Bagi anak sulung Loekito Rekso Sumitro, petinggi di Dirjen Pertambangan, setiap orang perlu peyeimbang hidup. Caranya, melebur denagn alam dan masuk dalam kehidupan pedesaan.

“Coba dulu, dan rasakan. Disana, kita akan temukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujarnya dengan senyum.

 

Aien Hisyam

*wawancara 15 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pecinta Lingkungan, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Yani Motik

Matahari Tak Harus Satu

 

Tak mudah memimpin sekumpulan wanita pengusaha. Doktor cantik ini 5 tahun menjalaninya, dan masih tak puas juga dengan hasilnya.

 

Tahun 2007 adalah akhir masa jabatan kedua Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) ini. Dan Yani tidak mengingkari kalau ia telah bekerja dan berusaha  cukup keras memajukan organisasi beranggotakn wanita-wanita cantik yang rata-rata juga pekerja keras.

“Tapi saya nggak terlalu puas. Saya bersyukur saja. Banyak yang didapat, tapi  Inginnya saya bisa lebih dari itu,” kata pemilik nama lengkap Dra. Suryani Sidik Motik. MGA ini.

Merawat Banyak Bunga

Banyak PR masih harus ia selesaikan dalam waktu yang tinggal sedikit.

“Sistemnya perlu diubah, juga pola pikir anggota IWAPI,” kata Yani.

Maksudnya,  “Dulu orientasinya central life, kalau tidak ada Ketua tidak jalan. Inii yang harus dihilangkan,” lanjutnya.

“Dulu,” katanya lagi. “Orang berpikir matahari itu mesti satu. Saya bilang tidak. Kita pengusaha, kita pengurus, dan organisasi kita nirlaba, maka di situ bunganya harus banyak. Kita harus bisa menyebarkan  harumnya masing-masing. Setiap orang harus berfungsi, setiap pengurus harus aktif, tidak harus ada saya,” kata Yani penuh semangat.

Dibilang Macam-macam

Di kepengurusan periode pertama, Yani membiarkan organisasi berjalan seperti air mengalir.

“Tapi kalau terus seperti itu, organisasi tidak bisa berkembang. Maka pada periode kedua saya rombak habis. Ada 70 orang baru dan 30 orang lama yang sejalan dengan saya. Waktu itu benturannya luar biasa. Saya dibilang sombong. Ada yang menuduh saya seperti  kacang lupa kulitnya, segala macam. Saya tidak peduli,” cerita Doktor Bidang Administrasi lulusan UI ini.

Terbiasa berpikir jauh ke depan, Yani tak berbakat  membuat keputusan yang asal-asalan. Ia sadar benar harus membesarkan organisasi yang telah berusia 32 tahun.

“Saya bilang, kalau saya mau nikmat, saya pakai pola lama saja. Cukup hanya dengan beberapa beberapa orang saja yang sudah mengerti,  organisasi juga sudah jalan. Tapi saya tidak bisa seperti itu  selamanya di IWAPI. Saya punya tanggung jawab agar begitu masa jabatan saya selesai, IWAPI bisa jalan terus dengan bagus,” kata istri Faizal Iskandar Motik ini.

Kian Egaliter

Masuknya orang-orang baru yang sepemikiran, mengembangkan  organisasi jadi lebih egaliter.

“Matahari tidak harus satu – artinya, tidak ada dominasi. Semua orang harus muncul, semua orang bisa jadi pembicara – kalau perlu, didorong untuk itu. Ada tidak ada Ketua, organisasi harus jalan,”  cerita Yani.

Tak heran kalau selama ia menjadi Ketua IWAPI, Yani tetap mampu  menyelesaikan Phd nya.

“Juga bisa saya tinggal tiga bulan ke Amerika untuk studi banding. Juga  saya tinggal ke Australia dua bulan,” ceritanya senang.

Lulusan Maryland University, USA, yang  bergelar Master of General Administration ini selalu bangga melihat orang lain sukses.

“Kebanggan saya luar biasa kalau lihat orang lain sukses. Yang tadinya tidak bisa ngomong jadi berani ngomong. Yang belum pernah ke luar negeri, pulangnya bisa berhasil. Yang nggak pede jadi pede. Itu semua tidak bisa dibeli dari keuntungan yang sekian puluh miliar,” ujar Yani.

Yani tidak pernah patah semangat. Kalaupun harus turun langsung, ia siap 24 jam. Mulai dari menyiapkan materi presentasi sampai jadi tempat konsultasi.

Kalau Jadi Pemimpin

“Pemimpin itu harus dikasih kesempatan. Ini yang orang sering salah. Tidak bisa orang tiba-tiba jadi pemimpin. Yang belum, harus diberi kesempatan memimpin. Nanti kita evaluasi kekurangan dan kelebihannya,”  Yani berbagi tips suksesnya ‘merombak’ IWAPI.

Termasuk menghadapi orang banyak.

“Kecuali kalau urgent banget atau ada kerjasama baru dengan pihak luar. Saya selalu ajak teman-teman yang lain bertukar pikiran,” ceritanya.

Memantau Iklim Lain

Banyak sukses diraih Yani yang juga lulusan George Washington University, USA, ini.

“Saya mulai membangun kerjasama dengan pihak luar, nasional dan internasional. Alhamdulillah, sekarang setiap tahun IWAPI mengirim 9 orang ke Kanada untuk studi banding, mempelajari iklim  pengusaha dan organisasi sejenis IWAPI disana,” cerita wanita kelahiran Jakarta 17 Juli 1961 ini.

IWAPI juga bekerjasama dengan Australia, Jepang, Filipina dan Malaysia.

“Website kita ngelink dengan website IWAPInya Malaysia. Dengan Filipina untuk training di Women Center yang dibiayai Jepang. Dengan Cina,  terakhir kita bikin kerjasama untuk China Asian Bussiness Woman. Dari Europe Union (EU) kita datangkan ahli-ahli desain dan teknologinya untuk anggota yang perajin perak, kerramik, kayu dari Jawa dan Bali. Perhiasan, kita kerjasama dengan Jepang di butiknya Reny Feby,” kata ibu 2 anak ini bangga.

Dua Penghambat

Saat masuk IWAPI, usia Yani baru 30 tahun. Setahun kemudian ia menjadi Sekjen (Sekertaris Jenderal) IWAPI.

“Mbak Dewi (Dewi Motik, mantan Ketua IWAPI Pusat,) bilang, kalau konsep-konsep kamu bisa diterapkan di IWAPI, kenapa tidak? Coba saja. Akhirnya ya saya jalani saja. Jujur, saya ini sebenarnya tidak terbiasa dengan Ibu-ibu dan perempuan. Kalau sama Bapak-bapak dan laki-laki, kita bisa lepas omongnya. Kalau sama Ibu-ibu kan main perasaan. Lebih banyak otak kanannya yang bekerja, daripada otak kiri.,” kata Yani.

Apalagi, lanjut Yani, ketika itu anggota IWAPI mayoritas ibu-ibu yang lebih senior. “Jadi, kita tidak boleh kelihatan kritis dan lebih pintar,” komentarnya.

Ia melihat 2 hal yang menghambat wanita Indonesia sulit berkembang.

“Yang pertama, gender, yaitu ketidakpercayaan terhadap wanita sebagai pengusaha. Kalau masih muda dikira hanya jual kecantikan. Kalau anak orang kaya dibilang modal orangtuanya,” cerita Yani.

“Kedua, kalau dia pintar, dibilang, ‘Terang aja, pintar’. Jadi nggak pernah bisa dilihat secara utuh,” lanjutnya gemas.

Tak Perlu Atas Nama Suami

Di Indonesia, lanjut Yani, maju tidaknya wanita sangat tergantung dukungan keluarganya.

“Penelitian saya dengan ILO tentang problem wanita dalam mengembangkan bisnisnya, di tahun 2002. Satu hal yang menarik, dimana perempuan apabila punya kesempatan maju dan berkembang, misalnya dari sekala kecil ke menengah atau dari informal ke formal, kalau suaminya belum siap mental, kesempatan itu tidak akan diambil, karena takut rumah tangganya berantakan,” papar Yani.

“Ini perlu disosialisasi. Kalau opportunity di istrinya lebih tinggi, mereka harus bisa terima. Dalam konsep Islam, lelaki pakaian istri, istri pakaian suami, kan bisa disharing saja,” lanjut Yani.

Yani mengingatkan anggota IWAPI agar mendaftar atas nama diri sendiri, bukan nama suami. Ia senang sekali melihat perkembangan anggotanya.

“Sekarang wanita sudah masuk ke semua sektor bisnis. Ada anggota IWAPI di Jawa Tengah yang produksi senapan. Ibu Lina Fahmi, impor senjata untuk olah raga. Pembangunan jalan banyak dikerjakan anggota IWAPI. Yang bisnis perhotelan juga banyak,” ujar Yani bangga.

 

Aien Hisyam

*wawancara 11 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Rini Hariyani

Saya Pengemis Intelektual

 

Festival Wayang ASEAN I di TMII minggu lalu membuat Rini ‘sesak nafas’. Capek, senang, bangga, kecewa, campur aduk dalam hatinya.

 

Tinggi sekali impian Rini. Idealnya, kata wanita bertubuh mungil ini, Indonesia bisa menjadi pusat kebudayaan wayang dunia.

“Nyatanya, semua orang kagum dengan koleksi yang ada di museum kita. Jangan berkecil hati. Percaya diri saja, toh kita sudah diakui dunia,” kata Rini. Sejak tahun 1999, ia menjabat Kepala Museum Wayang.

Rini memang sangat percaya diri. Tidak sia-sia. Buktinya, berkat kerja keras dan kecintaannya pada wayang, untuk pertama kalinya Indonesia bisa jadi tuan rumah festival wayang yang diikuti puluhan negara.

Karir Minim Peminat

Sempit, kuno, jadul (jaman dulu), dan ‘gelap’. Itulah anggapan miring tentang keberadaan Museum Wayang yang ada di daerah Jakarta Kota.

“Jangan hanya dilihat dari fisik luarnya. Masuk dulu kedalam. Liha isinya. Kita akan cinta kalau kita kenal lebih dekat lagi,” ujar Rini Hariyani.

Rini juga senang memposisikan diri sebagai PR (Public Relation). Bahkan, kalau saja waktunya longgar, tanpa canggung, ia sempatkan diri menemani tamu-tamu yang berkunjung ke museumnya.

“Tak apalah jadi guide. Justru itu buatku sangat menyenangkan. Kita tahu keinginan mereka, berbagi cerita sekaligus bernostalgia,” ungkap Rini dengan wajah cerah.

Mengapa Rini antusias menggeluti dunia wayang? Tak lain karena keinginan masa kecilnya. “Waktu itu saya tanya ke kakak ipar yang sedang ambil S2 di Honolulu. ‘Jurusan apa ya yang bisa bikin saya bisa keluar negeri?’ Dia bilang ‘ambil saja jurusan budayamu sendiri’. Makanya begitu lulus saya ambil jurusan Sastra Jawa UI,” cerita Rini.

Rini sadar jurusan yang ia pilih sangatlah tidak populer. Toh, dia tetap bersemangat.

“Karena sejak awal, saya memang cinta wayang. Lewat wayang saya diajarkan banyak hal, mulai dari filsafat wayang, karakter tokoh-tokoh wayang, dan sebagainya,” ujar Ibu dua anak ini. Bahkan berkat wayang pula Rini bisa beberapa kali keliling Eropa membawa misi budaya wayang Indonesia.

Rini lahir di Solo tanggal 10 Desember 1950. Oleh orangtuanya yang masih berdarah Mangkunegaran, setiap bulan sekali Rni yang masih kanak-kanak selalu diajak menonton pagelaran Wayang Orang di Sriwedari. Saat masih kuliah, setiap tanggal 1 Suro, mau tidak mau Rini harus menonton Wayang Kulit semalam suntuk. Kewajiban yang harus dijalani sejak masuk kuliah sampai lulus.

“Makanya, ibaratnya duplikasi bahasa, saya makin cinta dengan wayang. Di Museum Wayang, saya juga jadi sering nonton wayang semalam suntuk. Kantor jadi rumah kedua saya. Cinta sekali,” kata Rini. Skripsinya juga mengupas filosofi wayang, tentang tokoh Adipati Karno.

Jadi Karya Agung

Rini selalu ingin mengukir prestasi. Satu keberhasilan yang membuat wanita ini bangga adalah mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan atau Wayang Revolusi milik Indonesia yang sudah 40 tahun lebih disimpan di Museum Rotherdam, tahun 2005 lalu.

“Sejak menjabat (jadi Kepala Museum Wayang), saya selalu berjuang dapatkan tambahan koleksi dengan cara pembelian juga meminta sumbangan entah dari tamu beberapa negara, atau dari indonesia sendiri. Ada istilah, saya ini pengemis intelek. Karena mengemisnya untuk Museum bukan untuk koleksi pribadi. Kebetulan yang membuat saya bangga, yaitu berhasil mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan milik kita yang dibuat Raden Mas Sayid dari Mangkunegaran,” ujar Rini bangga.

Selain itu, lanjut Rini, “bangsa Indonesia boleh bangga karena sejak tanggal 7 November 2003 wayang Indonesia sudah diakui dunia melalui lembaga Unesco menjadi salah satu karya agung budaya dunia di antara 28 budaya dunia. Bangga dong. Ternyata Indonesiapun punya budaya yang begitu agungnya. Nah, sekarang yang sedang dirintis adalah keris supaya diakui sebagai budaya agung.”

Satu hal yang disesalkan Rini, wayang Indonesia justru lebih populer di mancanegara ketimbang di negara asalnya.

“Justru selama ini mancanegara yang lebih tahu keberadaan museum wayang ketimbang masyarakat Jakarta. Jadi, wajar saya kalau target utama saya adalah ingin membuat wayang tak hanya mendunia. Tapi juga men-Jakarta, dan meng-Indonesia. Saya juga ingin generasi muda kita bangga dan mencintai wayang. Makanya saya undang anak-anak siswa belajar gamelan dan buat wayang disini. Jangan sampai kita belajar dengan orang asing. Jangan sampai kebakaran jenggot kalau itu sudah lebih dicintai orang asing,” ujar Rini sungguh-sungguh.

Rini bercerita tentang pengalamanya saat berkunjung ke KBRI Perancis di Paris. “Disana, yang latih gamelan justru orang Perancis,” suara Rini terdengar kesal.

“Jangan sampai generasi muda kita belajar budaya dengan orang asing. Dulu bahkan kita mau ambil S2 Sastra Jawa harus ke Leaden. Karena literaturnya ada di Leaden semua. Syukurlah, sekarang mereka yang pernah ke Leaden menularkan ilmunya di Indonesia,” kata Rini lagi.

Belajarlah Lewat Wayang

Di dalam wayang banyak sekali yang bisa diambil hikmahnya.

“Kita bisa bercermin lewat setiap peristiwa yang terjadi di dunia wayang. Seperti di kehidupan sehari-hari. Didalamnya ada tokoh baik dan buruk. Dan  juga tidak mungkin manusia hidup tanpa susah. Pasti ada lawannya. Ada susah, pasti ada senang. Kayaknya wayang ini benar-benar personifikasi dari kehidupan kita yang harus bisa kita ikuti,” kata Rini.

“Bahkan sampai sekarang masih banyak orang tua yang beri nama anaknya dengan nama-nama wayang. Misalnya Wibisono, Kresna, Abimanyu. Karena ortu berharap anaknya punya karakter seperti tokoh itu. Tapi jarang yang beri nama Burisworo. Itu kan tokoh jelek,” lanjut Rini.

Rini bersungguh-sungguh mengajak siapa saja yang ia temui untuk mencintai wayang. “Karena banyak sekali manfaatnya. Ajak anak menonton pagelaran wayang. Ajak keluarga datang ke museum wayang. Bahkan, temani anak-anak belajar membuat wayang, berlatih gamelan, dan bercerita tentang cerita-cerita pewayangan,” kata Rini.

Tidak perlu bingung bagaimana memulainya. Kata Rini, “sekarang sudah banyak diterbitkan komik-komik wayang. Bahkan ada VCD dan DVD tentang cerita wayang. Ada juga DVD wayang orang yang dikeluarkan grup Sekar Budaya Nusantara miliknya Ibu Nanik Sudarsono.”

“Karena orang baru sadar dan mulai cinta budayanya justru setelah pergi ke luar negeri. Begitu di luar negeri dia disuruh tampil, disuruh cerita, apa budayamu yang paling menarik? Tolong ceritakan ke kita, mereka gelagapan. Itu karena masyarakat kita belum bisa menghargai karya-karya leluhur kita,” lanjut Rini bersemangat.

 

Aien Hisyam

*wawancara 1 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik | Leave a comment

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Irene F Mongkar

“Saya toh Sudah Bisa Lihat Ujungnya”

Irene rela meninggalkan kenyamanan hidup, demi ketenangan jiwa. Ia bangun perpustakaan di kampung-kampung, dan membantu anak-anak cidera otak.

Di ujung telepon, Irene menyebutkan satu nama yang ia inginkan. Sebuah kantor, yang jauh dari kebisingan, meski berada di tengah kota. “Saya sudah tidak di gedung TIRA, mbak,” katanya, dengan suara riang.

Tentu saja, jawaban spontan itu menjadi tanda tanya. ”Ceritanya panjang,” sesaat Irene tertawa dengan suara khasnya, ”nanti saja kalau kita ketemu. Sekarang saya punya kegiatan lain yang lebih seru.”

Tahun silam, Irene meletakkan jabatannya sebagai General Manager di Tira Pustaka. Irene kini lebih memilih menjadi ‘pekerja sosial’, dan membantu anak-anak cidera otak.

“Sudah cukup sampai disini. Sejak dulu, saya sudah kepingin keluar tapi selalu ditahan. Akhirnya, bulan Agustus 2008 saya resmi mengundurkan diri. Berarti, 25 tahun saya bekerja di sana,” ujar Irene, tersenyum.

Dengan rendah hati, Irene mengatakan, untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan tersebut, ia lalui dari jabatan terendah sebagai resepsionis.

Hanya Mau Berbagi

Menyebut metode Glenn Doman, orang selalu teringat satu nama, Irene F. Mongkar. Sosok Irene sangat erat dengan ketenaran metode asal Amerika ini. Berawal ketika anak semata wayangnya, Dhea.

“Metode ini saya praktekkan di anak saya sejak tahun 1992, dari umur 3 bulan. Setelah 3 tahun berhasil, Dhea bisa baca buku, saya baru bikin seminar. Sebenarnya bukan seminasr, tapi orang bilang seminar. Saya hanya mau berbagi bahwa saya senang anak saya bisa begini. Mulailah dari situ saya ngoceh dimana-mana, “ kenang Irene.

Metode Glenn Doman adalah metode untuk menstimulasi otak agar berkembang lebih baik, dengan menggunakan flash card.

“Ini (metode Glenn Doman) untuk stimulasi. Sayangnya orang kenalnya hanya sebagai metode untuk membaca. Padahal dasarnya stimulasi,” terang Irene.

Dengan menstimulasi otak, anak-anak cidera otak pun akan lebih cepat sembuh. Kalaupun anak akhirnya bisa lebih cepat mengenal huruf dan membaca, “pada akhirnya akan jadi lebih mudah diajak suka membaca,” tegas Irene.

“Kan tujuan kita, anak bukan cuma bisa baca. Kalau mau bisa baca, kita kirim saja anak kita ke TK, pasti bisa baca. Cuma, bikin anak suka baca itu kan susah, butuh perjuangan. Memang, cara mudahnya, orang tua beli buku supaya anak suka baca. Tapi kalau tidak punya uang, bagaimana dong. Dengan anak sudah bisa baca sejak kecil, selanjutnya ia akan beralih menjadi suka baca,” kata wanita yang membuat flash card Indonesia dan Arab.

Bikin Perpustakaan

Irene sangat memperhatikan dunia baca anak-anak. Meski, katanya, minat baca di Indonesia masih sangat kurang, di banding negara lain, ia bangga telah terjadi peningkatan.

“Dibanding tahun-tahun kita, ada peningkatan kok. Sekarang, sudah banyak orang, terutama anak-anak yang suka baca. Toko buku juga sekarang sudah benar. Yang dijual memang buku, tidak campur dengan stationary, tas, mesin penghacur kertas, dan sebagainya. Jadi, orang datang hanya untuk beli buku bukan yang lainnya,” katanya.

Buku anak-anak, menurut penilaian Irene, saat ini juga sangat beragam dan bagus-bagus. “Dulu buku impor yang bagus, sekarang buku lokal juga bagus. Kalau bikin perpustakaan juga jadi cakep. Itu merangsang anak suka membaca,” ujar Irene dengan nada bangga.

Sejak mengenal metode Glenn Doman, Irene punya keinginan besar, setiap keluarga punya perpustakaan keluarga.

“Kita belum bisa mengharapkan pemerintah punya perpustakaan yang bagus. Urusan mereka terlalu banyak. Jadi, siapa dong yang mengurus anak-anaknya kalau bukan orangtuanya sendiri. Nah, cara ini bisa dilakukan pelan-pelan. Misalnya setahun terkumpul segini, tahun depan terkumpul lagi, lama-lama jadi banyak dan jadi perpustakaan kecil,” kata Irene.

Irene bercerita, keinginannya yang besar untuk mensosialisasikan gemar membaca dan perpustakaan keluarga, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar kerja. Ia terisnpirasi kehidupan Sumanto, pria asal Bantul Yogyakarta yang bersepeda mendatangi 4 hingga 5 desa di setiap harinya, untuk membawa buku-buku yang siap di pinjam anak-anak.

“Waktu gempa, perpustakaannya rata dengan tanah. Bukunya ada 1300an jadi lusuh dan rusak. Saat itu saya masih bekerja di Tiga Raksa. Saya bilang kalau saya tidak bisa bantu dengan bangunan, tapi saya bisa bantu membuat perpustakaan. Syukurlah sekarang sudah berdiri. Bahkan Sumanto sudah punya 12 motor dan ada beberapa anak-anak karang taruna yang putar-putar dengan motornya meminjamkan buku ke anak-anak,” cerita Irene, bangga.

Meski engan disebut nominalnya, Irene mengaku rela menjual emas-emasnya untuk membuat perpustakaan di kampung-kampung.

Kalau segala sesuatu dimulai dari yang baik, pasti hasilnya akan baik. Kalau kenyataannya ribet di depan, saya toh sudah bisa lihat ujungnya,’ ujar Irene.

Sembuhkan Cidera Otak

Tak cukup sampai disana. Keinginan besar Irene lainnnya, adalah membantu anak-anak cidera otak yang saat ini jumlahnya terus bertambah.

“Sekarang, setelah waktu saya semakin banyak, saya larinya ke anak-anak yang cidera otak. Saya punya teman-teman yang siap membantu. Mau kaya mau miskin,‘ Irene.

Ia membantu perkumpulan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) yang dikelola Bapak Untung di daerah Magelang, juga masuk dalam KOACI (Komunitas Orang Tua Anak Cidera Otak Indonesia) yang berkantor pusat di Bandung.

‘Memang perjalanan tidak semulus harapan. Tahun 2005, ada bangunan di Magelang untuk pusat tumbuh kembang. Ada terapi laser, tapi mereka butuh metode stimulasi. Makanya, saya diajak membantu stimulasi. Saya mau tolong, tapi tidak mau setengah-setengah. Saya sudah punya rencana taruh fasilitas dan ribuan buku disana. Ternyata tahun 2007 saya mau isi dalamnya, tapi tidak dikasih. Sedih sekali. Dan sampai sekarang bangunan ini tidak dipakai sama sekali. Padahal, saya berhenti kerja juga karena tempat ini. Sedih jadinya,” ungkap Irene.

Irene mengibaratkan, kalaupun dia sudah bisa melihat ‘ujung’nya, saat ini sedag berada ditengah-tengahnya. Memang. ada yang hilang pasti ada yang dapat. Saya dapat KOACI di Bandung,” ujarnya, tersenyum.

Di KOACI, Irene punya komitmen. Tak sekedar membantu, ia ikut berjuang demi kesembuhan anak cidera otak, dan memotivasi para orangtua yang punya cidera otak agar tidak malu membawa anaknya tersebut keluar rumah.

“Hasilnya, sekarang banyak orang tua yang tidak malu membawa anaknya yang cidera otak keluar rumah. “Kita datang, anak tidak maju, kita yang bayar. Nah, tentunya kita tidak mau rugi. Makanya kita punya komitmen, anak yang kita stimulasi harus maju dan perkembangannya makin baik,” kata Irene.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Wanita | 6 Comments

Inti Nusantari Subagio

Adicction Bukan Aib

 

 

Selasa dua pekan lalu ketika dihubungi, dia sedang berada di Singapura. Rabu pekan lalu, ketika akhirnya ia ada di Indonesia, wanita ini Inti tidak bisa berlama-lama menerima telepon.

“Maaf saya sedang ketemuan dengan Pak Ical (Aburizal Bakrie). Siangan, telepon lagi saja ya?” pintanya.

Siang hari, “Aduh, maaf. Saya sedang di rumahnya Pak Ginanjar (Ginanjar Kartasasmita). Gimana kalau telepon sorean?” kembali Inti meminta waktu.

Di sore hari, suara Inti terdengar lebih santai. “Hari ini memang sangat padat. Tapi, oke lah, kita ketemuan Senin siang. Kebetulan saya free di hari itu,” ujar Inti penuh semangat.

Senin pekan lalu ketika akhirnya kami bertemu, Inti seperti tak terbendung. Ceritanya mengalir kemana-mana, ke berbagai hal, dari barang antik, urusan bisnis, pergaulannya sesama sosialite hingga kegiatannya di sosial. Gambaran kesibukan dirinya yang luar biasa.

‘Ibu’ Para Pecandu

Inti memang selalu penuh kejutan. Suatu hari, ia pernah dijumpai di acara sosialite. Ketika bertemu lagi, ia ada di pasar tradisional Rawa Bening di Jatinegara sedang memilih-milih batu permata. Ia juga sering terlihat di acara WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), di kegiatan Yayasan Asma Indonesia, hingga yang berurusan dengan Narkoba.

“Berurusan dengan pecandu, itu makanan sehari-hari saya,” kata wanita berparas ayu ini sambil tersenyum.

Ia bercerita, pernah suatu malam dirinya ditelepon dari kantor polisi. “Katanya ada anakku yang terjaring bawa Narkoba. Kok bisa?, padahal, anak-anakku tidak ada satupun yang terkena Narkoba,” ujar Inti.

Bingung tapi ingin tahu. Walaupun sempat dilarang suami ke kantor polisi, Inti akhirnya pergi juga ditemani anak tertuanya.

“Ternyata, pelakunya anak didik saya di pusat rehabilitasi. Nangis-nangis dia minta dikeluarin. Yah sudahlah, mau gimana lagi, awalnya polisi minta tebusan ratusan juta, setelah diskusi, mereka mau terima 5 juta sebagai uang jaminan,” ujar Inti sambil geleng-geleng kepala.

Puluhan cerita memang menjadi warna-warni kehidupan ibu tiga anak ini.

“Itulah resikonya. Sejak saya putuskan terjun ke dunia rehabilitasi narkoba, berarti saya harus siap dengan segala hal yang akan terjadi,” kata Inti.

Diakui Inti, awalnya ia sama sekali tidak menahu tentang narkoba.

Tahun 1998 temannya berkeluk kesah tidak adanya tempat rehabilitasi yang bisa menampung para pecandu yang pulang dari rehabilitasi di Malaysia.

“Dia tanya, ‘In punya rumah kosong nggak. Ada rehabilitasi di Malaysia butuh tempat di Indonesia. Sistemnya, sebelum pulang ke rumah harus ada masa transisi dulu.’ Saya pikir, walaupun waktu itu saya tidak tahu apa-apa, yah sudah nggak apa-apa,” ujar Inti.

80 Persen Anak Indonesia

Saat ini Inti yang menjabat Staf Ahli Badan Narkotika Nasional.

“Life is mistery. We never know, kemana kita ini akan berlabuh. Saya juga tidak tahu alasan apa saya mendirikan FAN CAMPUS. Tetapi itu tidak penting, ang terjadi adalah, kita harus menjawab tantangan yang ada di masyarakat. There is a problem. Kita harus atasi,” katanya.

FAN CAMPUS atau For All Nation berdiri akhir 1998.

“Awalnya saya sediakan rumah singgah bagi anak-anak yang baru menyelesaikan rehabilitasi di Yayasan Pengasih di Kuala Lumpur Malaysia. Bayangkan 80 persen penghuninya anak-anak Indonesia. Sementara disini orang masih malu-malu mengakui anaknya terkena Narkoba. Padahal, banyak dari mereka adalah anak-anak petinggi atau dari kalangan atas. Mereka mau ngumpetin tapi tempatnya belum ada. Waktu itu drug belum menyentuh kalangan bawah,” cerita wanita yang juga komisaris di tiga perusahaan besar..

Lambat laun, kepedulian Inti akan masalah Narkoba kian bertambah.

“Saya perluas lagi FAN CAMPUS. Tidak hanya sekedar menjadi tempat singgah, tetapi juga menjadi pusat rehabilitasi,” ujarnya. Tidak tanggung-tanggung, ia memakai tanahnya di daerah Cisarua seluas 5 hektar menjadi tempat rehabilitasi.            

“Saya yakin, bahwa tidak sekedar pepatah. Nasib kita dan hidup kita merupakan cerminan dari pola pikir kita. Saya yakin pasti bisa, pastilah bisa. Dan saya tidak terlalu terbebani. Dari pada tidak berbuat sesuatu,” ujarnya tentang keputusan terjun membuka pusat rehabilitasi di dua tempat, termasuk di kawasan Lebak Bulus.

Metode Therapeutic Community

“Ini bukan kerja negatif. Saya justru aktif menyuarakan Adicction adalah bukan aib. Yang aib adalah perilaku yang menyertai ketergantungan ini. Misalnya demi memenuhi ketergantungan ini mereka harus menjual diri, mencuri. Adicction adalah sesuatu penyakit yang sangat mengerikan saya kategorikan sebagai penyakit sangat komplek,” kata wanita kelahiran 30 September 1949.

FAN Campus menerapkan metode Therapeutic Community (TC). TC dikembangkan oleh organisasi sosial yang dikenal dengan sebutan DAY TOP, berkantor pusat di kota New York, Amerika Serikat. Metode ini sangat dikenal di seluruh dunia karena tingkat keberhasilannya yang tinggi.

Setiap hari, para penghuni rehabilitasi mempraktekkan hidup sehat dan harmonis dalam suatu komunitas yang sangat terjaga rasa persaudaraan.

“Metode ini juga menekankan pentingnya pelatihan kedisiplinan dan kepatuhan dengan pemahaman. Kita berharap, mereka bisa keluar dengan kondisi benar-benar bebas narkoba,” kata Inti yang aktif dua kali seminggu menengok anak-anak didiknya.

Sebagai aktifis masalah-masalah Narkoba, Inti melihat masalah adiccting bukan sebagai persoalan fisik semata. “Melainkan sudah lebih sebagai masalah interaksi antara biologis, psikologis, emosi, spiritual dan sosial,” lanjutnya.

Oleh karena itu, setiap pecandu yang ingin terbebas dari ketergantungan, harus melalui dua tahapan rehabilitasi

“Yang pertama disebut masa entry and induction phase. Masa ini dijalani selama 3 hingga 4 minggu. Yaitu masa obeservasi dan penilaian terhadap perilaku. Memulai perubahan awal,” terang Inti.

Selanjutnya, pecandu memasuki masa Primary Phase, yang dijalani selama 6 sampai 9 bulan yang bertujuan penstabilan dan peningkatan perubahan serta pembentukan perilaku. Barulah pecandu melewati Re-entry Phase selama 6 bulan. Tujuannya untuk penanaman kembali norma-norma dasar dan perkembangan pribadi dan Persiapan untuk kembali ke dunia luar. Masa-masa ini dilalui di asrama.

Lepas dari asrama, barulah mereka menjalani proses Aftercare Phase yang dilalui selama 12 bulan setelah kelulusan dari program-program tersebut.

“Anak didik sudah bisa tinggal dengan orang tua dan keluarga. Kita hanya memonitor proses pemulihan, mempertahankan norma dasar yang telah dipelajari, mendukung gaya hidup bersih/sober dan pencegahan kekambuhan,” kata wanita yang juga penasehat Kowani ini..

Pernah suatu Inti membuat penelitian tentang penyalahgunaan Narkoba.

“Dari 100 residen (penghuni rehabilitasi), lebih dari 74 persen mereka kenal Narkoba saat masih di SMP dan SMA. Parah-parahnya awal mahasiswa. Jadi sebagian besar residen kita anak-anak muda yang awal-awal mahasiswa. Karena itulah, penting sekali kita menyelamatkan anak-anak kita. Jangan lengah sedikit pun. Saran saya, ciptakan hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, saling mencintai, dan perhatian. Perlu sekali adanya keterbukaan,” tegas Inti.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Ika Twigley

‘Sekarang, Mereka Anak Kami’

 

 

Tanggal 11 Juli Silam, DPR mengesahkan UU Kewarganegaraan (UUK) yang terbaru. Menjadi babak baru bagi kehidupan perkawinan campur di Indonesia.

Ika Twigley tersenyum puas. Bahkan sangat puas. Bertahun-tahun berjuang demi kewarganegaraan anaknya, akhirnya berbuah manis. “Sekarang, mereka anak kami,” kata Ika dengan senyum terharu.

Bersama empat teman dekatnya, Ika berjuang melalui Keluarga Perkawinan Campuran Melalui Tangan Ibu (KPC Melati) ‘melawan’ pemerintah untuk segera mensahkan UU Kewarganegaraan baru dengan pasal-pasal dan ayat-ayat yang lebih ‘memanusiakan’ para istri dan anak.

“Bayangkan, dulu, setiap tahun aku harus mendaftarkan anakku ke Polda untuk memperpanjang Surat Keteranan Lapor Diri (SKLD), juga harus ke kantor Imigrasi untuk memperpanjang KITAS. Wah ribet sekali. Amat melelahkan,” ujar wanita Sunda-Batak ini bersemangat.

Round Table Discussion

Di sebuah lounge Hotel JW Marriot, Ika mengutak-atik laptop miliknya. Terkadang dahinya berkerut, dan kemudian suaranya menggelora mengomentari pasal-pasal yang ia baca.

“Karena harus berurusan dengan hukum, aku jadi kuliah lagi. Jangan sampai, kita kelihatan bodoh bicara hukum sementara yang kita perjuangkan adalah Undang-undang Kewarganegaraan,” kata Ika Nurzanah, 37, yang saat ini sedang menempuh kuliah di Universitas Pancasila fakultas Hukum.

Selain itu, lanjut Ika, “Kerjaan DPR itu sangat banyak. Dan tidak ada gunanya kalau kita hanya meminta tanpa kasih usulan. Oleh karena itu, sebelum maju ke DPR, kita juga melakukan round table discussion. Mengundang pakar-pakar hukum, ahli tata negara untuk mencari masukan. Agar kita dapat pandangan baru, memperluas wawasan,” kata Ika bersemangat.

 Kondisi itu membuat Ika tidak malu bertanya. Setiap hari ia bahkan disibukkan dengan pekerjaan baru, melahap buku-buku tebal tentang UUK dari beberapa Negara. Apabila ada pasal-pasal yang bisa diterapkan di Indonesia, Ika langsung berdiskusi dengan teman-temannya di KPC Melati.

“Jadi, jangan heran kalau kita yang ada di KPC Melati hampir semuanya  hafal dengan pasal-pasal dan ayat yang terdapat di Undang-Undang tersebut,” ujar Ika bangga.

“Jangan pandang kini ini Ibu-ibu doang tapi tidak bisa berbuat banyak,” ucap wanita kelahiran 8 Oktober 1969 ini sambil tersenyum.

Derita Korban KDRT

Saat ini KPC Melati tengah menunggu tahap akhir proses ‘peng-gol-an’ UUK Nomor 12 tahun 2006 yang terdiri dari 8 bab dan46 pasal. “Kita tinggal mengawal dan mengawasi Kepmen (Keputusan Menteri) dan PP (Peraturan Pemerintah). Pemerintah akan undang panitia kecil dari KPC Melati untuk berdiskusi lagi. Karena yang terkait dengan UU ini sangat banyak, termasuk pihak Imigrasi dan Kepolisian,” kata Ika.

Namun, Ika cukup puas. Terhitung tanggal 11 Juli lalu, anak-anak hasil perkawinan wanita Indonesia dengan pria asing langsung tercatat sebagai Warga Negara Indonesia.

“Kecuali anak-anak yang lahir sebelum tanggal 11 Juli masih harus ikut pasal 41 di Undang Undang tersebut. Mereka punya dua kewarganegaraan, Indonesia dan warga negara Ayahnya. Barulah di usia 18 tahun ia berhak memilih warga negara yang ia inginkan. Pemerintah akan memberi jangka waktu 3 tahun hingga usia 21 tahun untuk berpikir,” ujar ibu dua anak, Talitha Twigley (5) dan Liam Ibrahim Twigley (2,5)

Bukan hanya masalah anak. Keluhan terbesar di para wanita bersuamikan pria asing justru masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

“Yaitu KDRT yang dipertahankan dalam rumah tangga. Itu tidak sehat. Ini akibat payung hukum yang tidak melindungi, maka mereka akan melakukan segala hal termasuk mempertahankan rumah tangga agar si Ibu tidak terpencar dengan anak-anaknya,” ujar Ika yang sering menerima keluhan dari anggota-anggota KPC.

Apabila istri meminta cerai, maka ia akan kehilangan hak asuh terhadap anak-anaknya. Semua anaknya akan di deportasi keluar dari Indonesia mengikuti Ayahnya.

“Kasihan sekali. Banyak teman-teman kami mengalami nasib seperti itu,” ujar Ika.

Padahal, lanjut wanita cantik ini, “Yang namanya Ibu, kedekatan dengan anak itu luar biasa. Darah daging kita tanpa bermaksud mengecilkan peran Ayah. Dan beda sekali attach antara Ibu dengan anak dibanding anak dengan Ayahnya. Nah, selama ini tidak adanya perlindungan dalam kepastian hukum serta keadilan dalam UU kewarganegaran sehingga kasus-kasus ini banyak sekali terjadi baik di Indonesia maupun Luar Negeri,” kata Ika.

Seputih Bunga Melati

Peliknya masalah perkawinan campur membuat Ika bersama Enggi Holt, Diah Kusdinar, Mery Girsang dan Marcellina membentuk KPC Melati.

“Resmi berdiri bulan Februari 2006 lalu, setelah tercatat di Notaris,” ujar Ika.

Dipilihlah nama Melati karena menurut Ika, melati adalah bunga berwarna putih dan mungil yang menebarkan wangi yang harum semerbak. Putih melambangkan kesucian.

“Selain itu, tanamannya yang kuat dan kokoh serta merambat dengan menghasilkan ratusan bunga merupakan lambang persatuan dan kesatuan yang abadi,” kata Ika.

KCP Melati kelak berharap bisa menjadi satu wadah yang bisa memperjuangkan hak-hak pelaku perkawinan campuran di jalur hukum.

“Sekarang saja, setiap hari aku bisa terima telepon pulahan jumlahnya. Mereka sangat bahagia dengan disahkan-nya UUK ini,” ujar wanita bersuamikan Chris Twigley asal New Zealand ini bangga.      

Ada hikmah yang bisa dipetik Ika dari seluruh kerja keras yang telah dilakukan KPC Melati selama 10 bulan berjuang meng-gol-kan UUK

“Semua kerja keras ini butuh kesabaran dan niat hati yang tulus. KPC Melati berusaha dengan hati nurani yang berbicara. Karena itu saya yakin pasti berhasil, Karena kalau kita berjuang dengan suatu ketulusan, Insya Allah Tuhan akan mengabulkan. Itulah hikmah yan bisa dipetik. Lakukan sesuatu dengan hati nurani yang bersih. Tanpa hidden agenda atau strategi-strategi salig merugikan satu sama lain,” ujar Ika bijaksana.

“Bagi saya tidak perlu harus pakai barang-barang branded, walaupun kita mampu membelinya. Lebih baik uangnya dibelikan laptop untuk kerja kita memperjuangkan UUK. Juga untuk mendanai KPC agar perjuangannya tidak sia-sia. Anak-anak kita membutuhkan kerja keras kita, butuh perlindungan hukum agar mereka bisa hidup dengan tenang,” kata Ika lagi.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial | Leave a comment

Asfinawati

Buku Saku Khusus Perceraian

 

           

Tidak pernah ada kata kebetulan. Kalaupun Asfi harus memimpin LBH Jakarta di usia yang masih muda, itu disebut ketepatan.

“Saya percaya dengan momen-momen. Ada hal yang kadang kita pikir kebetulan, padahal itu bukan kebetulan. Ini soal ruang dan waktu yang tepat. Artinya kalau waktunya tepat tapi tempatnya tidak tepat maka tidak akan jadi,” kata Asfinawati, Direktur LBH Jakarta yang baru di lantik Agustus 2006 lalu.

Di usianya yang baru 29 tahun, ia dipercaya memegang kendali Lembaga Bantuan Hukum Jakarta hingga 3 tahun ke depan. Mengulang kisah ketika Nursyahbani Katjasungkana menjadi direktur perempuan LBH Jakarta era 80-an.

 

Sulit Masuknya

Mendapati kantor LBH Jakarta tidaklah sulit. Bangunan ini saling ‘bertempelan’ dengan kantor LBH Indonesia. Di salah satu ruangan di bagian belakang gedung, Asfin, sapa wanita penyuka kemeja batik ini berkantor. Tumpukan berkas –sebagian besar dipilah-pilah dalam map berwarna- dibiarkan menumpuk di atas meja.

“Beginilah kantorku. Kita ngobrol di sofa saja,” ia menunjuk tiga kursi tamu yang dibungkus vinyl hitam. Terlihat usang, tapi masih kokoh.

Asfin senang sekali berbicara hukum. Sebelum ditanya, ia sudah bercerita tentang peliknya masalah hukum di Indonesia. Tentang rumitnya pekerjaan pengacara. Juga tentang ‘pekerjaan rumah’nya yang sangat banyak.

“Menurut saya, ini (bekerja di LBH) adalah pekerjaan yang tidak populer, khususnya di kampus saya. Karena hampir sebagian besar anak UI masuknya sebagai coorporate lawyer. Gajinya sangat besar, dan mereka juga malas ke pengadilan,” kata alumnus Fakultas Hukum UI ini.

Asfin mencontohkan, dari 240 lebih lulusan Hukum UI tahun 2002, hanya 3 orang saja yang bekerja di LBH.

“Dan lagi, masuk LBH itu agak sulit. Ya itu tadi, tergantung ruang dan waktunya yang tepat,” kata wanita kelahiran Bitung (Sulawesi Utara) tanggal 26 November 1976.

Setiap peserta harus mengikuti pelatihan Karlabahu (Karya Latihan dan Bantuan Hukum). Dari 120 orang hanya 50 orang yang bisa ikut. Setelah lolos, mereka jadi relawan atau volunteer. Itupun masih melalui tes seleksi lagi.

“Dari puluhan orang, yang diambil, tahun ini cuma 10. Jaman saya 15 orang. Setelah jadi relawan setahun dia baru berhak jadi pengacara publik. Dari puluhan orang, yang dipilih kadang cuma 3 orang saja,” kata Asfin, bangga.

 

Baca Artikel Hukum

Kelihaian Asfin berbicara hukum dimulai sejak ia masih belia. Saat SD, ia sudah menggemari majalah yang ada rubrik hukumnya.

“Ibu memang sekolah hukum, tapi dia tidak pernah mengarahkan anak-anaknya untuk jadi sarjana hukum. Apalagi background keluarga lebih ke arah ilmu-ilmu sosial daripada eksak,” cerita Asfin yang tahun lalu menjadi pengacara Lia ‘Eden’ Aminuddin..

Ia juga melihat, pengacara satu pekerjaan yang sangat heroik.

“Akhirnya, saya sendiri yang pilih masuk ke Fakultas Hukum. Tidak ada yang memaksa atau mempengaruhi,” tegas Asfin.

Asfin bahkan tidak suka ingin setengah-setengah. Saat magang ia memilih menjadi relawan di LBH. Saat itu LBH Jakarta dipimpin Opung Herlina.    

“Lepas magang, saya sempat bimbang mengambil keputusan. Berkarir di LBH atau di tempat lain. Mikirnya sampai beberapa bulan. Karena kalau masuk LBH berarti harus total. Sementara di LBH kasusnya aneh-aneh sekali, memusingkan kepala. Jadi kalau saya sudah memutuskan, resikonya memang berat. Harus siap dengan pusing, karena kita akan terlibat dengan masalah-masalah orang,” ujar Asfin yang akhirnya resmi masuk LBH Jakarta tahun 2000.

Asfin memulai karirnya di Divisi Perburuhan. Bidang yang awalnya tidak ia sukai karena tidak bergengsi. Selain itu, di LBH ada pula Divisi Perkotaan Masyarakat Urban, Perempuan Anak, dan Civil Politik.

“Tetapi setelah melihat kasusnya, ini dimensinya luas sekali. Artinya pelanggaran hukumnya luar biasa, yang dilanggar juga dalam jumlah kualitas yang besar, dan kuantitasnya banyak buruh yang dilanggar. Terus, kalau kita mau, ada tantangan entelektualitas untuk tangani kasus-kasus perburuhan. Kita harus tahu teknis hukumnya, juga tentang ekonomi politik,” kata Asfin.

Dalam satu waktu, Asfin bisa menangangi 30 kasus secara bersamaan. Butuh kelihaian, kecermatan dalam berpikir juga kesabaran yang tinggi. Apalagi ia hanya dibantu 2 rekan kerja dan 4 relawan.

Dua tahun kemudian Asfin menjadi Koordinator Studi. Melakukan riset, pengumpulan data, penelitian dan pengembangan. Melihat kecenderungan kasus-kasus LBH, membuat berkas laporan tahunan LBH, menerbitkan buku saku, newsletter, dan sebagainya

“Karena waktu itu  saya pikir, pekerjaan penting tidak harus di garda depan, seperti pengacara yang selalu tampil. Kerja di depan itu bisa bagus karena orang yang suport di belakang, seperti risetnya,” ujar Asfin.

Sebelum menjadi Direktur LBH Jakarta, ia masih sempat menjabat Koordinator Penanganan Kasus.

Trik Buku Saku

“Semua kasus di LBH berat,” tegas Asfin.

Agar setiap kasus bisa tertangani, LBH membuat prioritas penanganan kasus.

“Kita juga buat buku-buku saku, jadi kalau tidak sempat kita tangani mereka bisa menggunakan buku saku tersebut. Yang kita tangani yang betul-betul yang nuansanya bermuatan politis atau bisa merubah sistem hukum atau bersifat massal. Misalnya penggusuran ribuan orang, atau PHK buruh ratusan orang,” jelas Asfin.

Asfin menilai, pembelajaran hukum yang paling efektif adalah melibatkan korbannya. Cara tersebut diyakini bisa mengontrol pekerjaan pengacara sehingga dia tidak menjadi korban penipuan. “Seperti sekarang banyak korban yang dikibuli pengacaranya,” jujur kata Asfin.

“Kedua, dia bisa belajar memangangi kasus. Kalau dia sudah mahir, dia bisa bantu orang lain. Seperti virus yang menular. Itu juga pemberdayaan buat dia. Kalau ada kronologis dia bisa bikin kronologis sendiri. Kuncinya melibatkan. Tidak membuat pengetahuan hukum itu jadi eksklusif seperti yang telah dilakukan selama ini,” lanjut Asfin.

Ada juga buku saku yang dibuat untuk masalah-masalah perempuan. Termasuk bila harus berhadapan dengan kasus perceraian.

“Di lampiran, kita masukkan berkas gugatan cerai. Mereka tinggal masukin nama dan data-datanya lainya. Pekerjaan itu tidak mungkin dikasih para pengacara komersil pada kliennya karena akan membuang beberapa juta untuk membuat gugatan orang. Pengacaranya rugi dong,” ujar Asfin sambil tertawa lepas.

Definisi Keberhasilan

“LBH sebenarnya tidak hanya menangani kasus tapi juga penyadaran kepada masyarakat,” kata Asfin tentang tugas LBH di masyarakat.

Mulai dari pelatihan, melakukan kajian hukum bila pemerintah membuat kebijakan hukum yang tidak benar, berkampanye, melakukan lobi-lobi dan sebagainya.

Jadi, lanjut Asfin, keberhasilan LBH tidak bisa diukur secara kasat mata. 

“Definisi kami menang bukan dalam arti kasus tersebut selesainya bagaimana. Tetapi juga si orang yang bermasalahan dapat pencerahan nggak, dapat penyadaran hukum nggak, dia sadar nggak posisi dia di negara itu relatif seperti apa, antara pemerintah dan dia sebagai warga negara,” ujar Asfin

“Kita kalau menangani kasus ada yang namanya litigasi, proses pengadilan, dan non litigasi atau nonlit. Yang nonlit itu yang tidak lewat pengadilan, misalnya lewat kampanye, lewat pers, bisa bikin macam-macam aksi seperti aksi damai, dan sebagainya. Tugas LBH sangat banyak,” tandas wanita berkacamata ini.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis | Leave a comment