Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ester Indahyani

Kalau Helai Rambut Belum Jatuh

 

 

Ia baru tiga bulan menikah ketika kerusuhan Mei 1998 membara. Seperti lintah, peristiwa itu jadi kenangan buruk dalam ingatan.

 

Seorang teman datang padanya sambil menangis. Adiknya diperkosa beramai-ramai di jalan tol. Ia etnis Tionghoa, seperti Ester yang duduk tertegun di depannya.

Di lain hari, wanita ayu berkulit kuning langsat ini mendengar penuturan jujur dokter ginekologi. Lebih dari 5 pasiennya dirawat dalam kondisi menyedihkan, alat kelaminnya (maaf) rusak berat dan ada yang rahimnya ‘berantakan’. Semua keturunan Cinta, dan mengalami saat bumi Indonesia dihantam tragedi Mei 1998.

Ester jadi sulit tidur. Dia marah dan menangis. Belum lagi memikirkan saudara-saudaranya se-etnis yang mati hangus terbakar di dalam rumah dan toko. Spontan didirikannya LSM Solidaritas Nusa Bangsa (SNB).

“LSM itu alat perjuangan. Kalau SNB itu alat untuk penghapusan diskriminasi rasial. Jadi kenapa di SNB, aku dan teman-teman lain berjalan untuk tujuan itu,” kata wanita yang terlahir dengan nama Sim Ai Ling.

Sempat Menolak

Hampir 9 tahun Ester berjuang. “tapi ‘berhenti’ dimana-mana,” ucapnya, mengeluh.

“Secara hukum pemerkosaan itu sulit (dibuktikan). Tetapi secara umum, kasusnya ini pelanggaran berat HAM, itu jelas bisa dibuktikan. Terbukti rentetan kejadian lain jelas sekali mengarah ke satu gerakan kejahatan yang sistematis yang luas. Waktu di Komnas (Komisi Nasional) kita mendata ledakannya di lebih 50 titik lokasi. SNB dan YPHI (Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia)  mendata lagi di 80 titik ledakan sosial. Jadi ada pola yang jelas kerusuhannya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ester staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia gadis peranakan Tionghoa yang berpikiran maju. Seperti orangtuanya, Immanuel Jusuf yang guru, dan Maria Tjandra yang bekas guru.

Lulus Fakultas Hukum UI, Ester masuk ke dunia korps jubah hitam.

“Awalnya ingin jadi Hakim, dengan pemikiran naif-ku saat itu. Hakim yang memberikan keadilan. Dia bisa memutuskan perkara. Orang benar dibebaskan, orang salah dihukum. Tapi waktu aku mempelajari kehidupan Hakim baik secara hukum, politik dan ekonomi, ternyata jauh dari harapan,” kata Ester.

Ia tidak suka ketidakadilan. Sering melawan hukum apabila hukum berjalan diluar sistem.

Kegigihan Ester menjadi ‘pengacara rakyat’ membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. Mulai dari Forum of Human Rights (1999), Yap Thiam Hien (2001) hingga Ashoka World Foundation (2003) yang bertaraf Internasional.

“Dulu sempat mau menolak Yap. Kan yang berjuang bukan hanya aku. Kalaupun muncul, itu karena gerakan. Semua membicarakan. Aku hanya satu unsur disana. Tapi teman-teman yang memaksa. Apabila wacana HAM yang diangkat, itu akan sangat menguntungkan perjuangan anti diskriminasi. Dan buat aku sendiri ke depan juga sangat baik. Orang akan menghargai saat aku membicarakan diskrimasi rasial atau masalah-masalah lain,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah kerusuhan Mei 1998, masalah etnis Tionghoa ramai dibicarakan.

“Bahkan jadi komoditas. Kalaupun aku dianggap tokoh itu peran media. Padahal peranku hanya kecil sekali. Yang bicara pada tanggal yang sama ada beberapa. Tapi mungkin karena aku perempuan, jelas Tionghoa dan muda, masih 27 tahun. Aku juga dari LBH dan dianggap baru,” jelasnya lagi.

Ditembak Peluru Karet

Pernikahan Ester dengan Arnorld Fransiskus Purba, aktivis ‘garis keras’ membuat perjuangan wanita kelahiran 15 Januari 1971 ini kian runcing. Meski suaminya bukan etnis Cina, keduanya gigih membongkar dan membela para korban kerusuhan Mei. Purba meninggal tahun 2001 akibat livernya rusak.

“Bang Ucok (panggilan untuk suaminya) mengajar aku berani melawan struktur. Menghadapi tentara dan belajar melawan sistem dan hal-hal feodal,” kenang Ester.

Ia kembali menikah tahun 2005 dengan pria Jawa yang juga bukan etnis Tionghoa, Albertus Suryo WIcaksono. Pria ini justru mengajarkan Ester untuk  ‘mengakar ke bawah’.

“Memahami pikiran masyarakat bawah. Memahami kultur bangsa Indonesia. Jadi keduanya bertolak belakang, Satu ke atas, yang satu ke bawah. Membuatku jadi lebih lengkap,” katanya, bangga.

Bekerja melawan arus pastilah beresiko dengan nyawa.

“Orangtua sempat kuatir. Apalagi aku tidak pernah cerita apa yang aku alami,” ujar Ester.

Seperti ketika Ester jalan sendirian menuju LBH Jakarta dekat Megaria. Hari sudah gelap, sudah jam 7 malam. Tiba-tiba bahu kanannya perih. Ia terjatuh. Sepintas ia melihat dua pria berboncengan motor menenteng pistol sambil tersenyum.

“Sakit sekali seperti mau mati. Ternyata ada lebam dan luka di tengah. Aku menduga ditembak peluru karet. Teman-temanku banyak yang mengalami seperti itu, karena kebetulan waktu itu aku sedang menangani kasus orang-orang hilang. Aku biasa lembur. Suamiku masih di LBH,” kenang Ester.

Teman-teman memaksa Ester siaran pers. Esoknya, semua media cetak dan elektronik menulis kisahnya. Orang tuanya membaca.

“Mereka kaget dan bilang kalau sudah taruhan nyawa kenapa juga masih diteruskan. Tapi kemudian mereka berdoa dan telepon lagi, Papa bilang, rambut di kepalamu tidak akan jatuh kalau tanpa Tuhan mau. Kalau Tuhan mau, di rumah pun kita bisa meninggal. Aku bersyukur sekali,” ujar Ester, matanya berbinar bahagia.

Ester jadi kebal dengan terror. “Capek kalau dipikirin!”

Buku Yang Dilarang

Ester kesal. Bulan lalu satu bukunya dilarang terbit Komnas HAM.

“Padahal, buku itu murni dari hasil investigasi selama 1 tahun. Data dari Komnas yang saya ambil adalah hanya data TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Kemudian mereka mengkaim bahwa data itu semua milik mereka. Padahal data saya ada tambahan dari hasil investigasi selama 1 tahun. Lebih detail, lebih lengkap dan lebih luas,” ujar Ester tentang buku berjudul ‘Analisa Data dan Fakta Kasus Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei

Imbasnya, ia diprotes korban-korban kerusuhan Mei. “Karena mereka juga ikut dalam investigasi. Kesal kenapa bukunya kok dilarang.”

Dua buku lainnya berjudul ‘Reka Ulang Kerusuhan Mei 1998’ dan ‘Menatap Wajah Korban: Upaya Mendorong Penyelesaian Hukum Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Peristiwa Kesusuhan Mei 1998

“Buku Menatap Wajah Korban, isinya sketsa para korban yang tidak punya foto. Miskin kota yang mati di bunuh di Plaza-plaza, kebanyakan tidak punya foto,” terang Ester.

Para pelukis, lanjut Ester, berbicara dengan keluarga korban. Mereka menggambarkan wajah korban, dan dilukis. Ada puluhan wajah yang muncul.

“Dan itu ternyata jadi trauma healing pada keluarganya. Jadi begitu mereka lihat sketsa wajah itu, muncul lagi kejadian itu. Mereka pada menangis. Tapi setelah itu mereka jadi kuat. Ini seperti terapi. Mereka merasa perjuangan masih panjang. Korban tidak hilang begitu saja,” lanjut Ester.

Buku Reka Ulang juga berupa sketsa kejadian. Misalnya di Glodok, di Pondok Indah dan puluhan titik lokasi. Minimal ada dua saksi dalam satu tempat. Masing-masing bercerita tentang kejadiannya, dan dibuat sketsa. Seperti rekonstruksi kejadian saat itu.

“Bukunya jadi penuh sketsa. Masyarakat Indonesia kan susah kalau membaca. Bahasa gambar lebih bisa diterima. Harapannya bisa rekonstruksi kejadian dan wajah pelaku. Kebanyakan korban tidak mengenali pelakunya. Ada yang mengenali tapi kesaksiannya tidak signifikan. Kebanyakan lari. Ada yang lihat tapi tidak ngeh karena banyak pelakunya,” kata Ester, lagi.

Aien Hisyam

*wawancara 12 Februari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | 1 Comment

Hanny

Senang Dibilang Aneh

 

 

“Namaku Hanny. Segitu saja.” Ia wanita keturunan yang ingin hidup ‘berbeda’. Dibilang antik, justru membuatnya senang.

 

Tak sesingkat namanya. Perjalanan hidup Hanny relatif berliku. Ia suka hal-hal yang tak lazim –seperti hidup warga keturunan pada umumnya.

“Memilih sekolah saja sudah beda. Termasuk keinginanku dalam hidup. Pokoknya, beda deh sama saudara-saudaraku yang lain (baca: keluarga besarnya),” kata Hanny.

Keluarga Pedagang

Hanny dididik keras Ayahnya, pemilik perangkat rumah tangga bermerek Vicenza.

“Dari kecil saya dibiasakan jadi pedagang. Nenek, Ibu, dan semua keluarga besar adalah pedagang. Nenek usia 85 tahun masih kerja di Senen,” tutur Hanny.

Ia mengaku dari keluarga sederhana. Sering dibawa ke toko usai pulang sekolah. Dari kecil, Hanny terbiasa melihat orang berdagang.

“Saya tidak lihat kehidupan lain selain berdagang. Saya tinggal juga dilingkungan pedangan, di Jembatan Lima. Apalagi kita orag perantauan dan  Sumatera pula yang notabene pedagang. Uniknya, keluarga besarku rata-rata bikin kue,” ujar Hanny.

Sejak kecil Hanny bercita-cita ingin jadi profesional, seperti dokter dan pengacara.

“Bukannya dipuji tapi malah dicela, ‘Mau apa jadi dokter?’. Untungnya saya dibiarin begitu saja,” katanya, dengan nada lega.

Di sekolah, diam-diam Hanny bermain drama. Ia juga belajar membaca prosa. Pernah, ia juara baca Prosa se-DKI. “Pulang, Mama cuek saja. Apalagi Papa. Tapi saya senang. Ada kepuasaan pribadi sendiri,” ujar Hanny, bangga.

Jaman Sekolah Dasar, lanjut Hanny, “etnik (istilah warga keturunan) jarang ikut teater. Waktu itu ada teater anak-anak betawi untuk ultah Jakarta, saya tidak dikasih ikut. Mama bilang, “Ny buat apa?” apalagi Papa, sama sekali tidak boleh. Yah sudah, sekolah lagi sekolah lagi,” kenang Hanny.

Pantang putus asa, Hanny –tanpa sepengetahuan orangtuanya- bergabung di grup paduan suara dan tari. Demi kepuasan diri.

Keluarga Aneh

Dua tahun kuliah di Atmajaya, Hanny berubah pikiran. Dia ingin sekali hidup di Luar Negeri.

“Cita-cita dari kecil tuh. Bagaimana caranya bagaimana, ya saya bayar pakai sekolah. Harus lulus dalam jangka waktu 2 tahun saja. Kalau tidak selesai ya pulang. Oke deh yang penting bisa hidup di luar negeri,” ucap wanita kelahiran Jakarta 13 Maret 1977.

Ia pilih sendiri kota yang akan disinggahi. Katanya, harus yang paling sepi dan tidak banyak orang Indonesianya.

“Saya pilih Perth, Australia. Kuliah di Curtin University. Disana saya tidak punya teman. Karena kalau saya ngumpul dengan teman-teman, saya tidak bisa masuk ke kehidupan yang ingin saya ketahui. Yang ada, saya hanya kumpul dengan orang Indonesia saja, makan makanan Indonesia, dan waktu istirahat seperti orang Indonesia pada umumnya. Buat saya ya ngapain jauh-jauh ke Australia kalau hidupnya masih sepeti itu,” ujar Hanny. Dia justru senang dibilang aneh.

Hanny tidak mau tinggal dengan keluarga Indonesia, juga bukan orang Asia, dan bukan bule. Ia pilih tinggal di keluarga Eurosian, yaitu campuran Eropa Asia.

Basic-nya Singapura. Saya baru tahu kalau orang Singapura tidak harus Chinese. Mungkin mereka lama dengan Inggris, Portugis dan segala macam. Mereka unik dan aneh. Perempuannya kayak bule tapi rambutnya coklat mukanya ada Asia karena dia ada campuran Taiwan, Inggris dan Portugis. Sementara suaminya ada campuran Indian dan Portugis. Punya anak yang keren-keren,” kenang Hanny sambil tertawa.

Bulan pertama, Hanny sering bertengkar dengan pemilik rumah. “Kaku, melebihi orang tua. Malam lampu harus mati, mandi di timing katanya air mahal. Padahal saya bayar seminggu 150 dolar. Lama-lama saya mulai mengerti. Mereka hemat karena tidak selamanya kita punya air. Disana negara tandus. Listrik dan air dijaga dengan sangat baik,” kenang Hanny.

Di Demo Karyawan

Di Australia Hanny juga masuk ke sekolah Sekretaris. Atas desakan Ayahnya.

“Bokap punya pikiran, anak perempuan tidak harus bikin kue. Karena di keluarganya semua anak perempuan jualan dan bikin kue. Bapak lihat perempuan itu punya segala-galanya. Perempuan tergantung dirinya masing-masing. Karena kita punya sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain. Lelaki belum tentu bisa seperti itu,” ujar istri Sapta Widya.

Masih kata Ayahnya, “kamu jadi perempuan yang selalu  minta dilindungi. Seandainya kamu bisa memainkan peran kamu pada saat bisa dilindungi dan satu saat tidak bisa dilindungi dan kamu bisa berdiri sendiri, kenapa tidak. Hari gini perempuan harus bisa berdiri sendiri.”

Lepas kuliah, Hanny bekerja di perusahaan Ayahnya menjadi sales.  Ia ‘belajar’ dicuekin orang, diomelin, sampai ditolak mentah-mentah.

“Baru beberapa bulan kerja, tiba-tiba kantor di demo. Saya lagi hamil besar. Justru saya layani mereka. Saya bawa kertas satu rim dan pensil dua kotak. Saya suruh mereka tulis surat pengunduran diri, saat itu juga. Eh, ternyata tidak ada yang mau. Kesal juga sih, ternyata mereka diprovokasi,” kenang ibu satu putri, Kai Amory Widya.

Seperti Pilih Pacar

Di Vicenza, Hanny mengepalai bagian Marketing sekaligus HRD, juga memimpin tim artistik.

“Ide semua Papa, saya cuma mengembangkan dan mengolah. Kalau Papa sudah oke, dikirim ke pabrik. Setelah sample-nya jadi, kita diskusi lagi. Kalau ada kekurangan, diolah lagi. Apakah bisa dimasukkan ke pasaran atau tidak

Pengalaman Ayahnya 30 tahun membesarkan produk Vicenza dijadikan ‘sekolah’ buat Hanny.

“Belajar dengan orang yang punya pengalaman jauh lebih berharga dibanding hanya membaca buku. Jadi, daripada saya belajar dengan orang lain,  lebih baik belajar sendiri dengan Bapak saya. Bapak punya imajinasi. Idenya tidak pernah stop. Dia akan ngomong begini begitu. Nah, saya belajar dari situ,” kata Hanny.

Ciri khas disain produk Vicenza, “kita banyak bermain di emas. Tidak pernah lepas dan harus menonjol. Karena dari dulu saya lihat dari ujung Indonesia timur sampai barat, hampir rata-rata yang menunjukkan kemewahan adalah emas. Dari kain hingga perhiasan. Semua yang ada benang emas masuk barang mewah,” jelas Hanny.

Kesal sering ditiru, Hanny mempatenkan tiap disainnya.

“Saya mendisain dengan tim art yang hebat. Saya sendiri yang cari  disainer grafisnya. Seperti nyari pacar. Dia harus ngerti pikiran saya. Apa yang saya inginkan. Dan saya harus bisa menyapaikan apa yang saya mau. Saya tidak punya kemampuan gambar tapi saya punya imajinasi. Saya hanya bisa gambar oret-oretan yang harus diketahui,” kata Hanny.

Aien Hisyam

*wawancara 15 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Yenny Zannuba Wahid

Memilih Pekerjaan Sesuka Hati

 

“Saya perempuan beruntung,” kata Yenny tentang dirinya. Sayangnya, hingga kini ia belum beruntung menggapai jodoh.

 

Staf ahli presiden RI, seolah menjadi penegasan status Yenny saat ini. Deretan status lainnya, sebagai pimpinan di Departemen Pengembangan NU, Sekretaris Jenderal PKB, Direktur The Wahid Institute, hingga asisten pribadi mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, ayahnya sendiri.

Setiap menit, katanya, sangat berharga. Ia perempuan sendiri dari 7 staf ahli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Ini salah satu keberuntungan,” kata wanita bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, dengan mata berbinar.

Panggung Hampir Roboh

Siang terik di Jombang, Yenny berdiri di samping Gus Dur, panggilan ayahnya. Wajahnya tegang. Di depan, ratusan ribu orang beristighosah. Panggung mulai limbung disesaki pendukung.

“Belum selesai Bapak pidato, panggung mau roboh. Tiba-tiba ratusan orang menyangga panggung agar tidak roboh sampai pidato Ayah selesai. Saya nangis. Dalam hati saya, Ya Allah, begitu besar kecintaan orang, kepercayaan orang terhadap Ayah dan keluarga saya,” kenang Yenny.

Kejadian di tahun 2001, -saat Gus Dur dipaksa meletakkan jabatan Presidennya- membekas di hati Yenny.

“Padahal, awalnya saya tidak mau terjun di dunia politik,” katanya.

Tiga tahun mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) ini bimbang.

“Saya begitu beruntung, bisa sekolah di Harvard, bisa aktualisasikan diri, bahkan pekerjaan saja saya milih sesuai kesukaan saya. Karena itu saya berpikir kembali untuk memberikan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Saya harus berikan kontribusi pada masyarakat,” ujar Yenny.

Desakan orang-orang partai dan kader-kader NU tidak goyahkan hati Yenny. Tahun 2002, Yenny justru pergi ke Cambridge-Amerika, kuliah di Harvard University.

“Lulus setahun kemudian, pulang, saya bikin Wahid Institute. Saya senang kerja di belakang layar,” ucap Yenny.

Kembali, tawaran menjadi anggota parlemen ditolak wanita bersuara lembut ini.

“Saya tidak mau. Jangan sampai saya dicalonkan karena saya anaknya Gus Dur. Saya tidak mau seperti itu. Terlalu gampang,” kata peraih penghargaan Australia’s Premier Journalistic Award – The Walkleys.

Terdesak Keputusan

Ketika partai PKB diguncang masalah, “ada kelpmpok yang mau mendepak Bapak dari parpol. Saya pikir itu tidak bisa ditoleransi. Saya harus turun dan ikut masuk. Dan mempertahankan partai ini. Partai ini kan yang buat Bapak. Ibaratnya ada yang mau ngusir dari rumah kita sendiri. Itu tidak bisa diterima,” suara Yenny meninggi.

Tahun 2004, sarjana desain dan komunikasi visual Universitas Trisakti ini menerima jabatan formal Sekretaris Jenderal PKB. Katanya, demi keutuhan PKB.

“Kalau masuk politik ya harus kuat. Politik itu sebuah lingkungan yang kalau tidak kuat bisa terpental. Ada kejamnya. Tidak hanya siap mental saja. Dulu kalau ada yang jahat dan nyakitin sama saya, padahal saya tidak kenal orang itu, saya sampai nangis,” kenang Yenny sambi tersenyum.

Sekarang, lanjutnya, “saya sudah bisa baca, tuh orang kepentingannya mau apa. Sekarang saya sudah bisa bedakan komentar yang punya substansi dan tidak ada substansinya. Kalau komentar punya substansi, harus kita dengarkan. Apalagi kalau niatnya mau memperbaiki keadaan. Kalau perlu orang yang ngomong ajak diskusi.”

Awal pemilu tahun lalu, Yenny dan partainya protes ke KPU.

“Kita golput. Saya kesal karena Bapak tidak boleh mencalonkan (Presiden RI). Alasannya karena kesehatan. Berarti orang yang yang cacat tidak boleh maju ke kancah seperti itu. Buat saya tidak penting kalah atau menang. Gus Dur itu anti diskriminasi, tapi kok malah di disriminasi begitu. Buat saya, itu yang harus diperjuangkan. Lebih baik ikut tapi kalah daripada haknya dirampas. Realitanya begitu,” kata Yenny dengan nada kesal.

Diputaran akhir pemilu, Yenny menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono, untuk jadi Presiden. “Setelah Pak SBY menjabat setahun, baru saya diangkat sebagai staf ahli,” ujar Yenny.

Saat Di Amerika

Yenny sadar ada anggapan miring tentang ‘keberuntungan’nya. “Itu dalam konteks orang selalu bilang saya anaknya Gus Dur. Mereka bilang kalau bukan anak Gus Dur pasti tidak bisa. Yah biarin saja,” katanya.

Yenny ditelepon staf SBY saat dirinya di Bandara, sedang dalam perjalanan ke Jember, mengunjungi korban banjir dan tanah longsor.

“Saya diminta menghadap pak SBY, tapi tidak bisa. Setelah itu tidak dipanggil lagi. Saya tunggu sampai 1 mingguan. Nah, pas di telepon lagi saya mau ke Amerika. Sore saya ke Amerika, siang SK-nya di antar ke Wahid Institute. Jadi waktu diumumkan ke publik saya sudah berangkat. Saya tidak bisa kasih komentar apa-apa,” kata Yenny lagi.

Ia menjadi Staf Ahli Presiden bidang Politik dan Komunikasi. Tidak kaget, tidak juga surprais. Yenny merasa pas saja, “karena saya memang orang komunikasi juga orang politik,” ia tersenyum cerah.

Komunikasi, kata Yenny, tidak harus di depan umum. Atau harus tampil. Ia bertugas merancang strategi komunikasi Presiden. Melakukan pendekatan-pendekaan di belakang layar.

“Juga komunikasi private one on one dengan individu. Mungkin kalau di istilah populernya pelobi. Ini yang tidak terekspos ke publik dan tidak boleh terekspos,” ujar Yenny.

Yenny mencontohkan, saat di Amerika, ia aktif melobi anggota-anggota konggres, bertemu senator-senantor juga staf senator. Termasuk menjelaskan pada masyarakat policy-policy dan sikap pemerintah. Misalnya melalui pengajian-pengajian, social gathering, diskusi publik, forum-forum dialog, dan sebagainya.

Pidato Di Harvard

Yenny pintar berkomunikasi. Buktinya, ia lolos seleksi lomba pidato mahasiswa. Pesertanya ratusan. Ia menjadi perwakilan mahasiswa pidato di puncak acara wisuda Harvard University.

“Cita-cita saya dari dulu adalah ingin sekali pidato di depan Bapak saya. Ternyata saya menang kompetisi. Senangnya minta ampun. Mungkin karena isi pidato saya dinilai yang paling representatif dengan kondisi saat itu. Isinya tentang sulitnya kita membuat keputusan padahal kita harus membuat keputusan,” kenang Yenny.

Yenny sengaja tidak memberitahu orangtuanya.

“Ternyata kaget semua. Dan lucunya, disana pihak Universitas juga kaget karena Bapak saya mantan presiden. Sampai diumumkan segala. Orangtua disuruh duduk di depan tapi tidak mau. Jadi sama-sama kaget. Itu kebanggan sekali,” cerita wanita kelahiran 29 Oktober 1974 ini bahagia.

Nampaknya, kebahagian kian lengkap jika Yenny segera mengakhiri masa lajangnya.

“Moga-moga tahun ini ketemu jodoh terus married 2008. Belum ketemu orangnya saja sih. Padahal saya pingin jatuh cinta saja. Nah orangnya belum ada. Doakan saja,” katanya penuh harap.

Satu keinginan terbesar Yenny, “Saya ini pingin sekali punya anak. Nah kalau nanti umur terus bertambah, secara biologis kan pasti akan susah. Gimana dong. Jadi harus ada deadlinenih,” ucap Yenny yang ingin punya dua anak.

Aien Hisyam

*wawancara 4 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Politikus, Profil Wanita | Leave a comment

Woro Indyas ADT

Dicurhati Ibu ‘Bermasalah’

 

Woro bukanlah yang pertama. Namun, ia menjadi pendeta wanita termuda yang menikah dan punya anak.

Di ruang kerjanya yang dingin, di GKI Kebayoran Baru, Woro mengatakan, menjadi pendeta wanita itu tidak mudah.

“Ia harus bisa membagi waktu. Separuh untuk hidupnya, separuh lagi untuk Jemaatnya,” kata Woro Indyas Adriyanta Dewi Tobing.

Kalaupun Woro memilih jadi Pendeta, “Itulah pilihan hidup.”

Pergumulan Hidup

Usia Woro masih 27 tahun ketika ia ditasbih menjadi pendeta termuda di GKI Kebayoran Baru kala itu.

“Memang waktu saya masuk, sudah ada satu pendeta wanita. Dia memaksakan diri untuk tidak menikah. Dan kondisi saya waktu masuk kesini, juga ada harapan tidak menikah,” ungkap Woro.

Ditambah lagi, Ibunya berpesan, sebaiknya pendeta wanita  tidak menikah agar semua perhatiannya untuk Jemaat.

”Ini memang berkaitan dengan tugas-tugasnya,” lanjutnya.

Seperti judul skripsi S1-nya “Ketidakseimbangan Gender Dalam Hidup Bergereja’, Woro akhirnya menikah.

“Menjadi pendeta wanita saja tidak mudah, apalagi harus memilih untuk menikah. Terus terang, inilah pergumulan di dalam hidup saya. Saya berdoa, saya berharap, Tuhan, siapapun wanita pasti berkehendak untuk menikah. Tetapi jika Engkau menunjukkan bahwa itu tidak sesuai kehendak-Mu, beri kekuatan saya bisa menerima itu. Tetapi kalau saya boleh ngomong dan meminta kepada Tuhan, justru saya ingin membuktikan. Bahwa menjadi pendeta wanita yang menikah tetap bisa membagi waktu. Tinggal memenej waktunya saja dan melengkapi dirinya dengan kemampuan yang bisa mengatur semuanya dengan seimbang,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 22 Januari 1973.

Sejak menikah tahun 2002, Woro dihadapkan pada peran ganda.

“Kita melayani jemaat ini sebagai keluarga saya, dan saya punya keluarga inti yang harus saya layani. Dari situ saya membuktikan, kenapa wanita selalu diragukan, kanapa laki-laki tidak. Karena pola pikir kita masih terbentuk bahwa tugas-tugas rumah tangga hanya wanita. Enggak laki-laki. Ini menurut saya membuat laki-laki merasa tugasnya hanya di luar rumah, dirumah dia dilayani. Pola pikir ini dalam kemitraan kita, dalam kesetaraan kita, bahwa di dalam rumah tangga kita bisa bekerja sama-sama,” tegas Woro. Komitmennya, jadi pendeta adalah menjawab panggilan Tuhan.

Galau Dua Hati

Dari 6 pendeta di Indonesia, hanya ada 1 pendeta wanita. Woro-pun menjawab ‘panggilan’ itu.

“Ibu saya janda, bapak meninggal karena sakit jantung. Saya umur 2 tahun kakak perempuan saya 7 tahun. Ibu berketetapan membesarkan hanya seorang diri. Ibu merasa telah mengantarkan kami menjadi seorang anak yang dewasa, bisa seperti ini karena pemberian Tuhan. Dalam perenungan Ibu, kalau Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada dirinya, saya dan kakak saya, maka apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan,” kenang Woro.

Woro akhirnya memilih masuk ke Sekolah Tinggi Theologi Jakarta. Lulus kuliah tahun 1995, Woro menjadi guru agama di BPK Penabur selama 2 tahun.

“Saat itu ada panggilan pendeta di seluruh DKI. Saya dipanggil oleh Jemaat ini,” ujar Woro.

Sempat hatinya bimbang. “Tapi saya ingat dalam buku bacaan Dietrich Hovver, menurut dia, seseorang bergumul dalam panggilan-Nya, pergumulan itu tidak terlepas dari yang disebut Gereja. Kiranya saya harus menjawab panggilan ini.”

Tak hanya Woro. Ibunya, Kis Setyowarsi, juga memiliki kegalauan yang lain.

“Ibu takut kalau nanti saya akan diomongin orang. Setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan. Kalau orang omongin kekurangan apakah saya akan siap? Saya minta Ibu saya bantu berdoa. Dan saya menjawab panggilan itupun juga belum pasti. Saya harus menjalani masa pemanggilan, masa orientasi yang semuanya harus dilalui selama 2 tahun,” ujar Woro.

Pertengahan tahun 1997 Woro resmi dididik menjadi pendeta.

5000 Jemaat

Banyak tugas yang harus dikerjakan Woro. Utamanya, ia harus memberikan kotbah setiap minggu dalam kebaktian minggu. Setiap hari, ia terlibat dalam pelayanan pada Jemaatnya.

“Perlawatan ke orang sakit, perlawatan ke orang-orang yang sedang bergumul, juga memimpin kebaktian kalau ada yang meninggal atau yang menikah, juga melayani jam konseling, itu yang paling banyak. Persoalannya sangat membuat kita bergumul bersama mereka. Suka duka mereka serta masalah-masalah yang sangat complicated,” kata Woro.

Awalnya, Woro yang baru berusia 27 tahun mengaku tidak siap. Ia harus bisa meyakinkan para Jemaatnya yang berusia jauh di atasnya. Di komunitas dalam Gerejanya, ia juga harus bisa membawa diri, berbaur dengan 7 pendeta lainnya yang telah berusia diatas 40 tahunan.

“Saya disadarkan, bahwa memang kita tidak pernah siap, tetapi disiapkan oleh Tuhan,” tukasnya.

Dan memang secara psikologis, lanjut Woro, tidak mudah menjadi pendeta ‘belia’.

“Kalau dulu mereka adalah pendeta saya, bahkan ada 2 pendeta yang juga dosen saya di STT Jakarta, dan sejak itu disini kita menjadi kolega, justru saya merasakan karena kita sudah kenal, jsutru kita diperlengkapi oleh mereka. Kita justru banyak belajar,” kata Woro.

Woro mendapat tugas menjadi Pendeta Wilayah, melayani dua gereja di wilayah 4 meliputi Kemang dan sekitarnya, juga di wilayah 10 meliputi Pasar Minggu, Depok dan sekitarnya. Setiap gereja terdapat sekitar 11 ribu hingga 12 ribu Jemaat yang terdaftar, atau sekitar 5000 jemaat yang masih aktif. Ia harus siap 24 jam bila mendapat panggilan dari Jemaatnya.

Uniknya, setelah menikah, Woro punya Jemaat ‘khusus’.

“Di GKI Kebayoran Baru, baru saya yang menikah. Memang antara harapan dan menyelaraskan keingin mereka, selalu diukur. Disitu saya juga melewati pergumulan, suka dan duka. Memang orang punya kelebihan dan kekurangan. Ternyata setelah menikah, jemaat yang konseling lebih banyak wanita yang menikah. Itu juga menjawab pasangan-pasangan muda. Kita bisa sharing dan curhat. Bahkan kita punya gereja Katolik dan tetangga, mereka datang konseling ke saya karena dia tahu disini ada pendeta wanita yang menikah,” lanjut istri Raguel Pringgada Tobing dengan nada bersemangat.

“Saya merasa ini (pendete wanita yang menikah) adalah kendala budaya. Kita sudah terbentuk pada budaya-budaya partiakat. Keluarga mereka sudah terbentuk pada budaya seperti ini. Kalau pernikahan, masih ada yang tidak mau dipimpin pendeta wanita. Begitupun kebaktian. Karena menurut saya, tentang kemampuan, pastilah Tuhan sudah perlengkapi kita masing-masing dengan apa yang ada. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan,” ujar Woro bijaksana.

 

Aien Hisyam

*wawancara * Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Wanita | Leave a comment

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Aty Mannawi

Kasih Sayang Untuk Anak ‘Spesial’

 

Delapan tahun Aty diuji kesabaran. Berkat tangan hangatnya, puluhan anak ‘spesial’ kini bisa menjalani hidup secara normal .

 

“Ternyata Tuhan punya rencana besar untukku. Berkat Marvin percaya diriku tumbuh. Dia pula yang membuat Mamanya bisa tegar seperti sekarang ini,” ujar Aty Harun.

Tidak mudah bagi Aty memiliki anak dengan ‘kebutuhan khusus’ (istilah untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya). Pantang bersedih, Aty justru tertantang untuk bisa merubah hidup buah hatinya.

“Anak-anak ini titipan Allah yang harus dijaga. Kita yakin orang tua yang dititipi anak seperti ini pastilah dipilih oleh Tuhan bahwa dia mampu untuk membesarkan anaknya,” lanjut ibu dua anak ini bijaksana.

Lebih Sensitif

Bermodal keyakinan dan dukungan dari suaminya, Irvan Rasidi Harun, Aty mendirikan Marvin Treatment & Education Centre, delapan tahun silam.

“Kebetulan saya punya anak begini. Saya jadi lebih tertarik lagi karena di  Indonesia, 8 tahun yang lalu pendidikan seperti ini masih sangat sedikit,” ungkap Aty.

Sekarang anak pertamanya, Marvianda Diani Harun, sudah 11 tahun.

“Waktu itu, saya bingung cari tempat pendidikan seperti ini. Anak seperti Marvin bukan terbelakang. Anak seperti ini punya potensi kalau kita gali lebih dalam,” lanjut Ibu dua anak.

Setelah ulang tahun ke 2, Marvin mulai terlihat ‘berbeda’ dengan anak-anak seusianya.

“Awalnya normal saja. Marvin merangkak, berjalan, dan mengeluarkan kata-kata seperti anak pada umumnya. Tapi lama-lama kok mengalami kemunduran. Bahkan tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Malah keluar tanda-tanda lain seperti jalan jinjit-jinjit, sering mengepakkan tangannya, mulai ngambek, kalau masuk suatu tempat yang tidak disukai pasti ngamuk, belum hiperaktifnya, dan kalau malam sulit tidur. Sebagai orang awam saya berpikir, ini apa sih?” kenang Aty. Saat itu ia masih berprofesi sebagai pengacara.

Di satu kesempatan, ketika perutnya mulai ‘terisi’ lagi, Aty membawa Marvin ke psikiater Meli Budiman.

“Anak saya akhirnya di diagnosa autis,” getir suara Aty.

Lewat teman-temannya di Amerika – Aty lulusan American University, Washington DC jurusan Law Legal Master – ia mendapat banyak informasi tentang anak-anak autis.

“Saya berpikir, bagaimana nasibnya Marvin di masa depan. Jadi, anak saya perlu kurikulum dan penanganan khusus dengan berbagai macam terapi dan tempat khusus. Mereka memang lebih sensitif dari anak-anak lain. Tapi kalau kita bisa ambil hatinya, bisa nurut banget,” ujar Aty.

Tren Sulit Konsentrasi

Aty banting stir. Ia lepas profesinya sebagai pengacara sukses, untuk terjun ke dunia anak-anak ‘spesial’ lebih serius lagi. Ia membeli kurikulum milik Catherine Amurice –penulis buku Behavioral Intervention for Children with Austism’ untuk ‘sekolah’nya. Aty juga tidak pernah kehabisan energi untuk terus mencari informasi terbaru lewat buku-buku dan internet.

Saat ini ada sekitar 30 anak yang diterapi di Marvin Treantment dari total ‘alumni’ lebih dari 500 anak. Mereka mengalami gejala mulai dari keterlambatan bicara, kesulitan kontak mata, tidak peduli pada lingkungan, tidak ada respon ketika dipanggil, sulit berkonsentrasi, tidak bisa diam dan perhatian mudah beralih.

Ada juga yang gangguan membaca, mengeja, berhitung yang khas, gangguan emosi, gangguan fungsi sosial masa kanak-kanak, anxietas (kecemasan), dan masih banyak lagi.

“70 persen memang didiagnosa autis. Nah, sekarang yang lagi tren adalah gangguan konsentrasi. Tapi ini bukan sesuatu hal yang berat. Ini hanya karena faktor lingkungan,” ujar Aty.

‘Tren’ baru ini dianggap Aty karena tingkat kesulitan pendidikan dan beban pelajaran untuk anak di Indonesia semakin sulit. PR semakin banyak, otomatis membuat anak stres.

“Apalagi dalam sehari anak sekolah. Tidak masalah kalau anak itu mampu. Tapi kalau tidak mampu, kasihan sekali. Kalau dipaksakan, lama-lama bisa gangguan konsentrasi. Umumnya dialami anak kelas 3 SD. Bahkan ada yang SMP dan kelas 2 SMA,” kata lulusan Universitas Trisakti Fakultas Hukum.

Orang Tua Harus Berani

Jangan pernah menunda.

“Anak-anak ini tumbuh cepat sekali dan waktu terus berjalan. Kita harus uber ketinggalannya. Misalnya ada usia 3 tahun tetapi kemapuannya masih seperti anak usia 2 tahun. Kalau tidak terapi dan tidak diasah maka ketinggalannya akan semakin banyak. Kita tidak bisa menunggu bantuan dari orang lain. Harus kita hadapi sendiri. Kita harus fight,” tegas Aty.

Untuk anak-anak ini yang punya kebutuhan khusus, lanjut Aty, sebagai orang tua harus berani mengakui bahwa mereka punya anak-anak yang berbeda dengan yang lain.

“Biasanya mereka malu. Dipaksa sekolah di International school dan harus berbicara bahasa asing padahal kemampuannya tidak sampai segitu. Itu salah. Karena anak-anak begini harus mengikuti kurikulum khusus yang dibuat tersendiri. Dia tidak mungkin diajarkan yang sifatnya abstrak seperti mengarang. Itu sulit sekali untuk mengartikan,” tegas Aty

Langkah awal terapi adalah melatih anak mandiri. Diharapkan, kelak si anak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Dilatih berperilaku positif. Dan tahu aturan-aturan yang harus ditaati.

“Anak-anak harus bisa meniru apa yang kita ajarkan. Itu yang kita ajarkan one by one. Kalau kita sabar mengajarkannya, dia akan cepat sekali dan lebih pintar dari anak normal. Konsep-konsep juga jauh lebih paham,” jelas Aty.

“Jangan pesimis,” tegas Aty, “Dihadapi saja. Mereka mengerti kok dengan kita. Bisa merasakan kasih sayang kita. Anak-anak seperti ini memang sulit sekali diajarkan, tapi begitu mereka mengerti, cepat sekali perkembangannya. Bahkan bisa lebih pintar.”

Ujian Untuk Terapis

“Menjadi terapis itu tidak mudah,” Aty menggambarkan profesi yang ia jalani bersama 15 terapis lainnya di Marvin Treatment.

Agar tujuannya tercapai, yaitu mendidik anak-anak spesial bisa hidup normal, Aty sangat selektif memilih anggota tim-nya.

“Tentunya kalau semakin banyak anaknya, maka harus banyak pula terapisnya,” ucap wanita kelahiran 3 September 1964.

“Saya sangat ketat menyeleksi terapisnya. Ada psikolog yang harus tahu kondisi si terapis ini. Kalau IQ rata-rata orang sama. Tapi mereka harus di tes kepribadian. Apakah tahan lama, apakah dia mudah lelah, apakah mudah lelah, bagaimana tingkat stresnya. Karena anak ini macam-macam,” ujar Aty.

Kerja terapis bisa maraton. Misalnya jam 8 sampai jam 10 dia menangani anak autis berat yang non verbal dan hiperaktif. Terus jam 10-11 menangani anak down syndrome, jam 11-12 masuk anak CP. Jam 1-3 menangani anak auitis yang ringan, terus dilanjutkan anak yang kesulitan belajar.

“Jadi tingkat stresnya sangat tinggi. Kalau dia tidak kuat menangani anak ini, wah repot. Kita saja yang punya anak normal kadang suka tidak sabar. Padahal disini, terapis tidak boleh marah dengan anak ini. Karena kalau kita marah, si anak justru akan ketawa-ketawa sendiri, dia belum ngerti,” ujar Aty.

Terpenting, lanjut Aty, terapis harus punya kreativitas untuk menangani anak ini. “Dia juga harus punya background terapi. Tidak sembarangan untuk menangangi anak-anak ini,” ujar Aty dengan nada tegas.

Saat ini di Marvin Treatment terdapat sejulah pakar seperti Dokter psikiatri, Dokter anak, Psikolog, Okupasi Terapis, Terapis Tingkah Laku, dan Terapis Wicara.

Aien Hisyam

*wawancara 20 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik, Profil Psikolog | Leave a comment

Yulianti Setyohadi

Hobi Yang Jadi Profesi

 

            Yuli merubah imej hidupnya lewat lukisan. Bermula dari hobi, kini  ia menjadi art dealer sekaligus event organizer khusus painting exhibition.

Di gedung yang sama, Yuli Setyohadi menyewa dua ruangan Di lantai tiga, ia fungsikan sebagai kantor dan kelas melukis khusus anak-anak. Di lantai dua, dengan ruang yang lebih luas, ia gunakan sebagai galeri. Ada 50 lebih lukisan yang dipertontonkan.

“Saya selalu tertarik ke hal-hal yang indah. Lukisan adalah satu hal yang indah. Indah dilihat, juga indah dikoleksi. Lukisan, ditaruh di tempat manapun, selalu membarikan keindahan pada ruangan itu. Selalu bisa dinikmati, karena lukisan sebagai penujang interior, bisa juga menjadi penyejuk hati dikala suasana hati bergejolak,” kata Yuli bersemangat.

Senang Yang Indah

Siang itu Yuli terlihat santai. Celana pajang dipadu tanktop warna senada coklat tua, membungkus tubuhnya yang ramping. Beragam asesoris menghiasi kedua tangan dan jari-jarinya.

“Saya senang yang indah-indah,” tegas Yuli.

Maka, tidak pernah sekalipun Yuli keluar rumah tanpa riasan di wajah. Bahkan untuk penampilan, Yuli sangat memperhatikan. Harus cantik dan indah dilihat.

“Tidak seperti seniman pada umumnya. Tetapi, kalau orang bertanya tentang profesi saya, mereka pasti terkejut. Banyak yang mengira saya ini pemain sinetron. Tetapi waktu saya bilang saya ini painting artist, mereka selalu bilang ‘wow!’ Terus mereka tanya ini itu. Tanya melukis apa, sudah berapa lama melukisnya, sampai lukisannya jenis apa, kok bisa tetap eksis. Setelah itu pembicaraan pasti akan mengalir dengan menyenangkan. Itulah yang membuat saya sangat bangga,” ujar Yuli.

Yuli memang lebih senang berbicara tentang lukisan. Tentang aktifitasnya sebagai art lover sekaligus painting artist daripada berbicara dunia gemerlap yang dijalani sebagian teman-temannya.

“Karena melukis bisa merubah hidup kita. Bisa membuat orang  lain senang lewat hasil karya kita. Apalagi kalau lukisan kita dihargai, dibeli dengan harga tinggi. Wah senang sekali,” ujar Yuli bangga.

Pelukis Rumahan

Sejak SMP Yuli gemar membuat sketsa mode. Ia sudah merasa ada darah seni mengalir dalam tubuhnya. Hanya saja, lulus SMA Yuli justru memilih masuk ke Stanford College jurusan Bahasa Inggris dan Komputer. Ia juga menikah muda saat masih berusia 22 tahun.

“Saya jadi tidak punya waktu lagi buat melukis. Setiap hari, waktu saya sudah habis buat ngurusin rumah dan anak-anak. Barulah setelah anak-anak besar, saya coba-coba melukis lagi,” kata Yuli.

Yuli akhirnya menjadi pelukis rumahan. Ia datangkan guru privat untuk melatih kelenturan tangannya saat melukis. Ia juga punya studio khusus tempat menyimpan semua lukisan hasil karyanya.

“Akhirnya saya pikir-pikir, saya punya hobi melukis, kenapa tidak saya jadikan hobi itu sebagai profesi saja. Bekerja di dunia yang saya sukai pasti akan membuat saya enjoy dan tidak terpaksa. Selama ini saya melukis dengan hati. Saya belajar secara otodidak, tidak ambil sekolah lukis. Jadi, melukis sudah menjadi jiwa saya,” kata ibu tiga anak, Adindara, Akbar Gustiana, dan Ameralda Claudia.

Tahun 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, Yuli justru membuka sekolah lukis untuk anak-anak di kawasan Pondok Indah diberi nama Sekolah Lukis Yudhacitra. Ia juga meresmikan EO-nya yang khusus menangani painting exhibition.

Empat tahun kemudian, Yuli kembali membuka sekolah lukis anak-anak di daerah Kemang. Ia juga serius menekuni pekerjaan barunya sebagai art dealer dan penyalur lukisan khusus hotel-hotel berbintang. Jumlah pesanan bisa mencapai 400 lukisan untuk satu hotel.

“Itulah, kalau kita sudah menekuni satu bidang jangan tanggung-tanggung, harus total. Saya seniman yang punya sense of bisnis. Seni lukispun bisa dibisniskan, jadi kenapa tidak kita seriusin,” ujar wanita yang kerap diundang mengikuti acara lelang ini bangga.

Begitupun menjadi art dealer. Menurut Yuli butuh keahlian khusus.

“Karena tidak hanya menjual karya-karya pelukis yang masih ada, tetapi juga dari lukisan-lukisan yang sudah lama dan kuno, atau yang pelukisnya sudah meninggal. Kita punya komunitas sendiri yang bisa mencari lukisa-lukisan tersebut. Seperti lukisan Basuki Abdullah, Affandi sampai Raden Saleh. Dan itu sangat susah sekali. Karena kita harus pakai kurator supaya tahu mana yang palsu dan tidak,” ujar wanita kelahiran 25 Juli 1967 ini dengan mimik serius.

Membicarakan lukisan Raden Saleh yang spektakuler, dahi Yuli langsung berkerut.

“Lukisan Raden Saleh itu hanya ada 9 buah di dunia. Jadi untuk menemukannya, kita benar-benar seperti masuk lubang jarum, Butuh waktu, uang dan pikiran. Itu harganya sudah diatas 5 Milyar. Ada yang di Belanda, di Amerika, dan beberapa Museum. Di Indonesia saja hanya ada 2 orang yang puya salah satunya di Istana,” kata Yuli menerangkan.

Impian Di Apartemen

Satu hari Yuli berjalan-jalan ke Sydney, Australia. Ia masuk ke sebuah galeri. Ia juga sempat singgah di satu mal besar.

“Di galeri itu, semuanya berhubungan dengan dunia seni lukis. Bahkan sampai meja-mejanya semua dilukis. Lalu saya masuk ke mal, di sana ada perangkat makan juga ada satu set meja makan. Semuanya saya sambung-sambungin. Bukan lewat foto, tetapi semua ada diotak saya. Lalu sampai di Jakarta saya aplikasikan ke kertas,” kenang Yuli.

Hasilnya, Yuli menyelesaikan satu lukisan yang indah. Diberi judul “Diantara Waktu Breakfast’.

“Saya merasa bagus sekali, dan ternyata semua orang bilang itu lukisan memang bagus. Saya melukiskan interior disain. Ada meja makan breakfast dengan pernak-perniknya yang unik, cantik dan bagus itu. Terus di samping meja makan itu ada jendela yang terbuka, kita langsung lihat pegunungan. Lukisan itu bahkan pernah masuk di majalah luar negeri.  Dan ternyata waktu saya pamerkan, semua orang appreciated banget,” ujar Yuli yang identik degnan lukisan cat air ini bangga.

Lukisan itu sudah terjual dan dikoleksi penggemar lukisan-lukisan Yuli. Total, wanita cantik ini telah menjual lebih dari 50 lukisan hasil karyanya.

Satu keinginan Yuli saat ini, “mudah-mudahan dalam waktu dekat, tempat workshop saya bisa diresmikan,” ujarnya.

Yuli tengah merancang satu tempat yang kelak ia gunakan sebagai tempat ‘kumpul-kumpul’ para pecinta seni lukis. Ia membeli satu unit apartemen di Bumi Mas Apartment. Di tempat ini ia buat geleri kecil dan tempat workshop yang cozy dan nyaman.

“Supaya kita bisa diskusi dan kolektor bisa lihat lukisannya. Ada ruang home teaternya, ada juga mini barnya. Dan kita akan rutin undang pecinta seni lukis. Kenapa saya plih apartemen, itu karena tempatnya bisa  24 jam saya pakai. Tidak seperti di hotel-hotel yang jam 10 malam sudah harus selesai,” ucap istri Indra Setyohadi ini dengan wajah senang.

Aien Hisyam

*wawancara 13 November 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment

Wahyuniati Al-Waly

Tugas Wanita Ada di Rumah

Menjadi Ibu rumah tangga justru membuat istri Ustaz Arifin Ilham ini bergairah.

           

Sebagai wanita solehah, dia harus bisa menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, baik untuk suaminya dan baik untuk keluarganya,” ujar Yuni, suatu sore di rumahnya yang asri.

Tawaran bekerja di luar rumah ia tolak. Ibu tiga anak ini lebih memilih full time berkarir di dalam rumah. Seperti impiannya sejak kecil.

Rombak Tiap 3 Bulan

Singgah di rumah pasangan ustad Arifin Ilham dan Yuni, memang terasa nyaman dan tenang. Hanya ada 4 sofa tanpa kaki-kaki di ruang tamu. Bantal-bantal berbungkus kain putih mengisi tiap sandarannya. Di sudut ruang, ada satu meja kecil tempat meletakkan buku-buku. Rapi tertata.

Menuju ruang dalam –masih tidak tampak kursi berkaki- hanya ada dua karpet tebal menutupi lantai keramik warna putih. Ada satu televisi berukuran besar. Suasana yang tidak jauh berbeda dengan 2 tahun silam.

“Tapi coba diperhatikan, pasti ada yang beda,” ujar Yuni setengah protes.

Jarinya menunjuk tirai hijau muda yang menjuntai di pintu masuk ruang dalam. Juga beberapa tirai lain dengan warna senada.

“Yuni sendiri yang mendisain. Yuni yang pilih bahannya, jahitkan, dan pasang. Sekarang, Kak Arifin sepenuhnya percayakan Yuni menata rumah. Tentu saja, itu membuat Yuni senang,” kata wanita yang selalu menyebut dirinya dengan nama.

Tiap tiga bulan sekali Yuni bongkar pasang. Menata ulang perabotan dalam rumah. Memadu padankan satu ruang dengan ruang yang lain. Termasuk memberi sentuhan bunga di pinggiran kaca besar dalam ruang makan.

“Yuni ini ibu rumah tangga yang hanya sebagai ibu rumah tangga yang mendampingi anak-anak dan Kak Arifin,” kata wanita berdarah Aceh ini.

Tentu sebagai ibu rumah tangga adalah mengurus rumah. “Kepala rumah tangganya ya Kak Arifin, Yuni pemimpin rumah tangga. Alhamdulillah Allah menjodohkan Yuni dan kak Arifin. Kak Arifin yang berdakwah, Yuni berdakwah di rumah. Itu juga yang diinginkan Kak Arifin karena Kakak sering keluar, jadi anak-anak sama siapa. Kecuali kalau ada telpon masuk atau ada sms yang ingin berkonsultasi, setidaknya Yuni ada waktu sedikit,” lanjut Yuni.

Harus Rawat Diri

Yuni tidak berpandangan skeptis dengan wanita yang berkarir di luar rumah.

“Asalkan kodratnya sebagai wanita tidak diabaikan. Dan dia masih bisa mengatur rumah tangga dan pekerjaannya. Cuma sebaiknya wanita itu di rumah. Dan Yuni menikmati dan menyenangi itu,” tegas wanita yang dinikahi Arifin Ilham tanggal 28 April 1998.

Pekerjaan di rumah, lanjut Yuni, sangat banyak. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, mengurusi makanan dan suami, bersih-bersih rumah, memperindah rumah, memasak, mengurus anak-anak.

“Kalau anak-anak tidak ada, kita harus mengurus diri. Mempercantik diri dan merawat diri. Itulah ibu rumah tangga dan seorang istri yang baik,” ujarnya.

Merawat diri bukan untuk suami saja.

“Kita harus berniat. Niat pertama untuk Allah, yang kedua niat untuk menyenangi suami, yang ketiga niat untuk membahagiakan diri kita sendiri, dan keempat untuk penampilan kita. Dengan kita sehat, kemudian fit, kita bersih, tentu menghargai diri kita sendiri. Kalau wanita itu cantik tapi tidak fit dan loyo, pasti tidak menarik,” ujar Yuni yang hobi senam lewat cd dari luar negeri.

“Perempuan harus cantik dan indah. Yuni tidak setuju kalau perempuan menikah, punya anak dan tidak cantik lagi. Justru setelah perempuan itu punya anak satu, dua, dan ketiga, justru harus lebih cantik lagi,” tegasnya.

Yuni tidak pernah pergi ke salon. Berolah raga pun ia lakukan di dalam rumah. Ia punya ruang khusus seperti salon dan tempat mirip gym yang dipenuhi alat-alat fitness.

“Kalau mau creambath, Yuni sediakan alatnya, panggil orang buat creambath. Termasuk kalau mau luluran dan pijat, ada orang yang datang ke rumah juga,” ucap wanita asal Lamno, Aceh Barat kelahiran 18 Maret 1974.

Bangun Jam 4.30

Yuni dan Kak Arifin lebih banyak mempraktekkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah. Tidak hanya memerintahkan, “Nak ngaji!”. Tidak. Tetapi kita harus mulai dari diri kita sendiri,” kata Yuni tentang perannya sebagai Ibu.

Ia mengambil contoh kecil. “Alhamdulillah sejak usia tiga tahun Yuni dan Kak Arifin sudah membiasakan anak-anak harus selalu bangun pagi, sekitar jam 4.30 pagi. Sekarang mereka sudah usia 7 tahun, kelas 2, dan yang nomor dua sudah 5,5 tahun, kelas 1.”

Di saat anak-anak usia 7 tahun, “Alhamdulillah mereka tidak pernah putus salat subuh di mesjid. Mereka pagi sudah bangun, sudah mandi, sudah bersih, sudah pakai baju taqwa atau baju muslim, berangkat sama Abinya ke mesjid. Dan itu tidak sulit. Awal-awalnya memang sulit, tapi setelah kebiasaan, jadi sangat mudah. Timbul kesadaran dan justru jadi kebutuhan buat dia,” ujar ibu tiga anak, Muhammad Alfi Fais,Ammar Muhammad Dzikra dan Muhammad Abbas.

Pulang dari mesjid Yuni menemani anak-anaknya mengaji, hafal Al Quran.

“Mungkin tidak langsung Al Quran tapi Juz Amma dulu. Kita panggil guru ke rumah. Setelah mengaji baru siap-siap berangkat ke sekolah. Makan, ganti pakaian, baru berangkat ke sekolah,” jelas Yuni

Yuni tetap memberi waktu anak-anaknya bermain sepulang sekolah. Namun sehabis salat Isya, anak-anaknya harus bergegas tidur “Karena jam 4.15 meraka sudah harus bangun.”

“Di dalam rumah, suami dan istri harus bisa mengfungsikan rumah untuk empat hal,” kata putri Tengku H. Djamaludin Waly yang anggota DPR dari fraksi PPP bersemangat.

Pertama rumah dijadikan madrasah, dijadikan sebagai sekolah. “Gurunya Ayah Ibunya, muridnya anak-anaknya,” ujar Yuni.

Yang kedua, lanjutnya, rumah itu harus bisa dijadikan beteng keluarga, tempat untuk saling berbagi ada musyawarah dan kasih sayang. Tempat curhat. Yang ketiga, rumah sebagai musholah, tempat beribadah. Anak-anaknya ke mesjid, Ayah Ibunya baca Al Quran. Kemudian salat Tahajud dan salat Dhuha bersama. Nanti anak-anak bisa melihat dari sekelilingnya.

“Yang terakhir, jadikan rumah sebagai surga. Surga tidak perlu jauh-jauh, cukup di rumah. Bidadarinya istrinya, pangerannya suaminya. Anak-anaknya generasi Allah. Kita bisa menciptakan surga Allah. InsyaAllah kalau suami kita Sholeh, istrinya sholehah, pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk istrinya. Kalau dia mencintai Allah, dia pasti mencintai istrinya,” kata wanita ayu ini.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Agustus 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Wanita | Leave a comment

Vivit Arivianti Arifin

“Aku Bersyukur Meski Dua Anakku Meninggal”

 

            Kalau boleh meminta, tentu Vivit saja tidak ingin kehilangan dua anaknya. Berkat keikhlasan dan kesabaran, ia justru diberi kenikmatan yang lain, sukses membesarkan bisnis Baby Born face Video Clip.

 

Di teras yang sama Vivit menerima WI. Ada satu perbedaan mencolok di wajah Ibu muda ini. Ia tampak lebih segar dan bercahaya.

“Oh iya, dulu kita ketemuan aku baru saja kehilangan anak keduaku. Nah, sekarang aku sudah punya Kenzie,” ujar Vivit dengan nada bahagia.

Vivit kemudian berdiri dan menghilang di balik pintu. Tiga menit kemudian ia muncul, “wah sayang, Kenzie lagi tidur. Tapi nggak apa-apa, nanti setelah wawancara pasti dia sudah bangun,” kata Vivit yang ingin sekali memperlihatkan anak ketiganya, Muhammad Kenzie Danendra, 1,2 tahun.

Vivit bercerita panjang lebar tentang kebahagiaannya dikaruniai Kenzie. Anak ketga yang semata wayang, yang amat diharapkan.

“Aku selalu berpikir positif bahwa Allah punya rencana besar padaku. Kenapa dua anakku terdahulu begitu cepat diambil dari hidupku, dan kenapa baru sekarang aku bisa bernafas lega punya anak yang sangat aku harapkan. Ini semua bagian dari skenario Allah pada hidupku. Termasuk bisnis Baby Born Face yang aku rintis dan kini berkembang dengan luar biasa. Aku selalu bersyukur,” kata Vivit Arivianti Arifin, 29.

Seolah Berbicara Pada Anak

Kehadiran si Kecil dipandang Vivit sebagai anugerah-Nya yang terindah dalam hidupnya, juga semua pasangan laiinya. Baginya, sayang sekali bila momen itu terlewati begitu saja.

“Aku benar-benar merasakan momen indah itu setelah kehilangan anak keduaku, Rayhan Syahandra. Dia lahir setelah aku mulai bisnis ini. Semua yang terjadi di awal kehidupannya terekan dengan indah dalam video. Aku yang edit sendiri. Sayangnya Tuhan langsung mengambil anakku. Tentu saja aku sedih. Tapi hingga kini aku masih merasakan bahwa Rayhan ada disisiku. Aku bisa melihat wajahnya meskipun hanya melalui video rekaman,” ujar Vivit.

Kenangan itu menjadi bagian terindah dalam hidup Vivit. Sejak itulah ia serius mengembangkan bisnis Baby Born Face Video Clip (BBFVC).

“Semua orang tua pasti ingin mengabadikan momen indah itu. Dan, momen itu hanya sekali seumur hidup. Tidak bisa diulang lagi. Jadi sayang dilewatkan,” kata istri pengusaha Abdhy P. Azis.

Bisnis ini memang barus dimulai Vivit sejak pertengahan tahun 2002, menjelang kelahiran Rayhan Syahandra. Vivit berinisiatif membuat rekaman videonya. Namun, kali ini dia menggunakan format yang agak berbeda. Dia mulai membuat satu cerita skenario untuk persiapan kelahiran bayinya.

”Saya mempersiapkan cerita itu seperti mengemas infotainment. Mulai wawancara dokter, orang tua si bayi, hingga wawancara kakek neneknya,” urai Vivit.

Rekaman juga dilengkapi dengan kegiatan pasangan muda ini ketika mengunjungi dokter untuk periksa USG, upacara 7 bulanan (akekahan atau mitoni), senam hamil, berburu pernik-pernik si kecil di mall dan banyak lagi. Paling tidak ada pertemuan empat kali.

Tidak Ada Bekas Anak

Di dalam rekaman berdurasi singkat 20 menit atau 40 menit itu, para ‘narasumber’ berbicara di depan kamera. Mereka seperti berbicara pada anaknya.

“Bukankah pernyataan itu akhirnya untuk anak juga. Anak harus tahu bagaimana perasaan orang tua dan orang-orang terdekat dalam hidupnya ini tentang dirinya. Anak juga harus tahu bagaimana pengorbanan ibunya saat melahirkan agar selalu tetap mencintai, menghormati, dan melindungi sepanjang hidupnya. Bukankah tidak pernah ada istilah bekas anak. Walaupun orang tuanya bercerai, anak ya tetap anak,” ujar Vivit.

Nampaknya Vivit kini tengah menikmati kesuksesannya. Di bawah bendera Creator Visual Sejahtera. Hampir setiap hari ia terima order, minimal 2 klien. Vivit bahkan sudah menjalin kerjasama dengan 12 Rumah Sakit terkemuka di Jakarta. Paling tidak, setiap hari kru BBFVC – yang semuanya wanita – mengambil gambar satu kelahiran.

“Kru harus siap 24 jam. Bukankah Peristiwa kelahiran tidak seperti acara pernikahan yang bisa ditunda-tunda. Kalau memang sudah waktunya, yah harus dikejar. Jadi kalau misalnya klien sudah masuk Rumah Sakit, paling tidak 5 menit kemudian, kru kami sudah datang. Mereka akan ikut semua proses kelahiran, dan mensyut dari dekat,” kata Vivit yang mengaku lega karena dokter-dokter di Rumah Sakit dengan senang hati mau bekerjasama.

Menurut dia, yang paling seru adalah saat menjelang kelahiran. Kru yang terdiri atas dua orang harus stand by meski baru bukaan dua. “Mereka tidak boleh pulang meski itu tengah malam atau dini hari. Padahal, bukaan dua itu bisa bertahan dua hari,” terang anak kedua di antara dua bersaudara itu.

Semua peristiwa itu direkam dengan manis oleh para kru BBFVC. Di edit dengan rapi, diberi gambar-gambar visual yang menarik, diisi lagu-lagu lembut yang disukai kedua orang tuanya, juga diberi kata-kata yang menyentuh. Ada pula suara narator yang membacakan penggalan-penggalan kalimat indah.

“Kalau klien pilih paket B yang 40 menit, jauh lebih lama. Bisa memuat lebih banyak peristiwa,” ujar  lulusan London School of Public Relation.

Lebih Human Interest

Vivit menawarkan beberapa paket untuk dokumentasi tersebut. Dokumen yang berdurasi 40 menit dalam bentuk VCD atau DVD seharga Rp 4 juta. Paket itu berisi wawancara ke dokter, syuting dalam ruang bersalin, dan kegiatan selama masa kehamilan. Selain itu, klip senam dan belanja keperluan bayi.

Klip yang berdurasi 20 menit dalam bentuk VCD seharga Rp 2 juta. Berisi rekaman di ruang bersalin dan wawancara dengan keluarga. Ada pula paket baby face. Paket ini berupa foto yang mendokumentasikan sewaktu berada di ruang bersalin. Untuk album kecil, harganya Rp 550 ribu dan album besar Rp 1,1 juta.

Album itu juga terdiri atas cerita dari pasangan ketika sama-sama masih kecil, dewasa, pacaran, sampai akhirnya menikah dan melahirkan bayi.

Bisnis yang dirintis Vivit memang pertama kalinya di Indonesia. Untuk menjaga kreatifitasnya agar tidak ditiru orang lain, wanita asali Jawa Timur ini mendaftarkan karyanya ke Departemen Kehakiman untuk mendapat hak cipta.

“Lega rasanya begitu suratnya keluar. Sekarang aku tidak cemas lagi kalau ada yang nekat meniru bisnis ini bisa dikanai sangsi hukum,” kata ibu tiga anak, Talitha Sadiya, Rayhan dan Kenzie.

Vivit mengaku karyanya itu orisinal meski sebenarnya ada tayangan Dicovery Channel yang merekam kelahiran bayi dari sisi medis. “Memang, ada tayangan semacam itu. Namun, itu lebih menunjukkan cara-cara melahirkan dengan mudah dengan upaya medis, sedangkan saya lebih ke human interest-nya,” urainya.

Aien Hisyam

*wawancara 14 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo

Another Time Competitors Can be Partners

Ia pioner web design di Indonesia. Juga penggagas kompetisi bergensi di Indonesia khusus untuk para disainer. Lantas, apa yang masih dicari wanita cantik dan sukses bernama lengkap Shinta Wiyoto Dhanuwardoyo ini?

Baru dua bulan Shinta menempati kantor barunya di kawasan Mendawai- Kebayoran Baru. Rumah dua lantai itu didesain milimalis. Dinding hanya dihiasi beberapa lukisan yang didominasi warna oranye mencolok. Berpadu serasi dengan warna tembok yang abu-abu.

“Kali ini kantornya benar-benar aku disain sesuai keinginanku. Simpel dan tidak banyak ornamen. Khusus untuk ruang kerja, semuanya ada di lantai dua. Biar terjaga privacynya,” ujar Shinta dengan mata berbinar.

Uniknya, kesan simpel justru tidak terlihat di ruang kerja Shinta yang berada di salah satu sudut ruangan. Ia justru bermain dengan warna-warna gelap dan interior bergaya Eropa.

“Hahaha, biar ada suasana yang beda aja, tidak monoton, dan bisa membuat kerja lebih bergairah,” kata Shinta sambil tertawa lepas.

Sebagai pekerja kantoran yang lebih banyak berkutat dengan komputer juga ide-ide segar, tentu saja Shinta butuh tempat kerja yang nyaman. Pemandangan itulah yang nampak di kantor PT.Bubu Internet saat ini.

One Stop Solution

Bulan Juli tahun ini, usia Bubu genap sepuluh tahun. “Tidak terasa yah? Aku tahunya, Bubu ulang tahun setiap bulan Juli. Tanggalnya sih lupa. Dan sekarang, umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah ABG,” ujar Shinta dengan wajah cerah.

Sejauh ini, diakui Shinta, ia sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Bubu Internet. Apalagi, sebagai CEO sekaligus pemiliknya, Shinta harus lebih kreatif menciptakan hal-hal baru.

“Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin membutuhkan Web Page yang baik agar bisa berkompetisi dengan para pesaingnya di negara-negara lain. Nah, mereka bisa melakukan aktifitas bisnis di Internet. Sebagai Web Develompment company, Bubu.Com fokus melayani designing webpages, intranet solution, e-commerce, networking solution, internet marketing and training,” jelas Shinta.

Shinta menyebut usahanya sebagai one stop solution untuk web development.

Jadi kalo ada perusahaan yang ingin ada presence di internet, Bubu bisa membantu dari mendesain situs, hosting, dan sampai me”marketing”kan situs web dalam bentuk pembuatan banner dan mendaftarkan di dalam search engines juga. Bubu juga mengembangkan web programmings yang didevelop tailor made to suit the clients’ needs,” kata ibu dua putra ini antusias.

Shinta juga aktif menjadi pembicara tentang internet di acara seminar disejumlah sekolah dan universitas bergengsi.

Ditanya tentag kompetitor yang sekarang kian menjamur di Indonesia, dengan bijak Shinta mengatakan, “everyone can be competitors but on another time competitiors can be partners. Saya adalah believers dari stategic alliance. We can always try to partner or alliance with any one dimana kita akan bisa menonjolkan kemampuan dari masing2 pihak. Never thought of you guys that way. Just wondering, is that how you guys feel about us, since you asked the question? Hope not,” ujar lulusan University of South Australia yang kemudian mengambil gelar master of business Administration di Portland State University, Portland, Oregon, USA, dan memperdalam ilmu Arsitektur dan Interior di University of Oregon di Eugene-USA.

Nama Anjing Kesayangan

Ketika pertama kali mendirikan perusahaan ini, Shinta mengaku bingung akan memberinya nama apa.

“Tiba-tiba aku ingat anjing kesayanganku. Bubu itu memang nama anjingku. Tetapi aku pakai nama itu karena sangat simpel, mudah diingat and because it sounds so funny it will stick in your mind,” ujar Shinta sambil tersenyum.

Lahir di Jakarta tanggal 18 Januari, Shinta dibesarkan di Manila, Filipina. Tujuh tahun ia habiskan berkuliah di Amerika. Berbekal pengalaman yang sangat beragam, Shinta kemudian mendirikan Bubu. Di perusahaan yang hanya berpegawai 25 orang ini, Shinta menjadi CEO sekaligus founder dan shareholder.

Berkat hasil kerja kerasnya, Bubu kini dipercayai lebih dari 70 klien.

“Untuk perusahaan seperti BuBu, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebersamaan atau team work antara setiap individu di perusahaan. Fleksibilitas dimana perusahaan dapat bereaksi terhadap permintaan pasar dan bukan memaksakan diri kepada pasar. Sedangkan kebersamaan melahirkan kemampuan yang terkoordinasi untuk melayani permintaan klien yang pastinya sangat variatif,” ujar peraih sejumlah penghargaan diantaranya Executive Women 2001, Young Modern Hero of Indonesia dari Hard Rock FM, 10 Young and Creative Individuals dan Lucky Strike Award.

Namun dari sekian banyak prestasinya, ada satu kebanggaan yang membuat nama Shinta kian bersinar, yaitu Kompetisi Bubu Award.

Bubu Awards adalah kompetisi web design yang diklaim paling bergengsi di Indonesia. Diadakan setiap Bubu Internet sejak tahun 2001. Setiap tahun ada tema khusus yang diperlombakan, semisal tema Pariwisata Indonesia (Indonesian Tourism) yang menjadi tema Bubu Award tahun 2005.

Bubu Awards selalu mengundang puluhan nama terkenal yang berasal dari luar negeri dan dalam negeri untuk menjadi juri serta menggandeng Ernst and Young sebagai tabulator resmi . Adapun beberapa kategori atau kelas yang bisa diikuti dalam Bubu Awards. Mulai dari Individual, Corporate, dan People’s Choice Awards: Best Web Celebrities Awards and Best Blog Awards.

Dan yang paling membanggakan, mulai tahun 2005 Bubu Awards terpilih sebagai perwakilan World Summit Award di Indonesia. World Summit Awards adalah kontes global untuk pemilihan dan mempromosikan e-contents dan application terbaik di tingkat dunia yang didukung oleh UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UNESCO, International Telecommunication Union, United Nations Information and Communication Technologies Task Force, dan Ministry of Industry & Commerce Kingdom of Bahrain.

Aien Hisyam

*wawancara 10 Juli 2006*

October 13, 2012 Posted by | Kisah, Profil Motivator, Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment