Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ratih S.A. Loekito

Bekerja Dalam Hening

Disaat yang lain tertidur pulas, Ratih bercanda dalam belantara. Tidak ada kata malam atau siang. Ia senang akan keheningan. Bekerja demi kebahagiaan orang lain.

 

Duduk di atas puing, Ratih menatap sekumpulan anak yang menangis.  Tsunami dan gempa menimbun semua harapan. Hari-hari wanita ini-pun berubah.

“Di Meulaboh, setiap orang sudah lelah menangis. Sekarang, mereka harus berpijak. Melihat kenyataan, dan bangkit kembali,” ujar Ratih suatu hari.

Peluh membasahi wajah. Terik matahari sudah berhari-hari membakar kulitnya. Ratih tetap ayu dalam kelelahannya.

Wanita Modern

Dibawah bendera Tanoto Foundation, Ratih masuk kedalam wilayah-wilayah terkena musibah gempa dan tsunami. Ia hanya dibantu segelintir orang.

“Hanya sebulan sesudah musibah kita bergerak. Kita kumpulkan orang-orang untuk membantu. Kita bangkitkan semangat hidup mereka. Bangun kembali yang tersisa. Bahwa hidup itu terus berjalan,” kata Ratih di suatu siang, di warung kecil dekat pelabuhan udara kota Meulaboh-Aceh.

Wanita bersuara lirih, ramah, dan hangat, berbulan-bulan ‘berkantor’ di kota kecil yang porak poranda. Profesi menempatkannya di tengah-tengah warga yang haus masa depan. Hasilnya, satu Sekolah Dasar berdiri megah. Lengkap dengan sarana dan prasarana.

Tidak berhenti disitu. Direktur Eksekutif Tanoto Foundation ini kembali berjuang di Pulau Nias. Berbulan-bulan ia ber‘kantor’ di pulau terpencil.

Setiap malam, Ratih dan beberapa temannya bercengkrama dalam sepi. Kadang dalam gelap. Itu membuatnya semakin merasa memiliki.

Ratih, wanita Jakarta modern. Di balik segala yang gemerlap, ia sering merasa ingin mencari tempat sunyi dan jauh dari hiruk pikuk. Di tempat-tempat ini ia merasa menjadi diri sendiri. Ia bukan Ratih yang memimpin sebuah yayasan besar. Ia juga bukan Ratih yang sejak pagi hingga malam sibuk dengan urusan meeting atau menerima tamu-tamu penting.

Di Pedalaman Kalimantan

Lulusan Intistitut Teknologi Bandung jurusan Pertambangan ini senang travelling.

“Sebelumnya, saya di LSM Dana Mitra Lingkungan. Sebenarnya antara keduanya tidak ada kaitan sama sekali. Tetapi ada benang merahnya. Di tempat kerja yang lama, kita sering melakukan edukasi ke masyarakat dan anak-anak sekolah, agar lebih aware dengan lingkungan sekitar,” kata wanita bernama lengkap Ratih SA Loekito.

Tahun 2005 ia bergabung di Tanoto Foundation, yayasan milik pengusaha Soekamto Tanoto yang fokus di dunia pendidikan. Alasan Ratih, ia sedih melihat SDM di Indonesia masih lemah di sisi pendidikan.

Pernah Ratih masuk ke pedalaman Kalimantan Timur. Ia sedih. Dilihatnya pendidikan anak-anak suku pedalaman jauh tertinggal.

“Saat itu saya sedang lakukan kegiatan berorentasi pada lingkungan. Masuk ke sekolah-sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Kalau hal yang berkaitan dengan lingkungan harus dipupuk dari kecil. Tidak bisa ujuk-ujuk setelah dewasa. Kalau masih kecil pelan-pelan sudah tertanam lama-lama, maka jadi kebiasaan,” kata Ratih.

Ratih juga singgah ke Kabupaten Kutai Barat. Tempat yang sangat terpencil.

“Bangunan fisik sekolahnya memprihatinkan. Level SMA tapi tidak punya laboratorium. Kendalanya selalu klasik, masalah dana. Kalau saya bilang, oke masalah dana iya, tapi kita tidak boleh tergantung oleh dana saja, kita harus kreatif dong. Dimana dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa mengajar dengan tepat dan benar. Sebenarnya alam bisa mengajarkan banyak hal pada kita untuk belajar dan berpraktek,” kata mantan asisten dosen ini.

Lain kisah di Mahakam. Di satu pulau kecil, “Saya lihat satu SD dan SMP gurunya hanya 2 orang. Suami istri pula. Dia ngajar anak-anak dari pagi sampai siang. Sabtu pagi mereka ke ibukota kecamatan untuk ketemu keluarganya. Anak-anak si pasangan ini di ibukota kecamatan,” cerita Ratih.

Untuk menuju pulau itu, Ratih naik boat atau ketinting selama 2 jam.

“Nah, kita bisa lihat bagaimana mereka jadi guru demikian sengsaranya. Dedikasinya dan kesetiaan pada profesinya mau berkorban,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang, 7 April 1963.

Tak Peduli Jabatan

Di Tanoto Foundation Ratih bisa leluasa mengeluarkan semua kontribusinya untuk dunia pendidikan.

“Seperti motonya, reducing poverty, advancing human achievement dimana diharapkan dengan makin meningkatnya SDM akan memerangi tingkat kemiskinan. Kalau kita makin pintar kita akan survive dalam hidup,” katanya.

Ibu satu putri, Audrey A. Cr. Van Waardenburg ini tak segan turun ke lapangan.

“Kayaknya saya merasa lebih nyaman terjun langsung. Kalau ada konsep lebih sreg saya harus ikut realisasinya. Kalau saya ikut, disitu saya jadi tahu mana-mana saja yang harus dikoreksi dan ditingkatkan lagi. Gatal saja,” Ratih tertawa lepas.

Ia bukan tipe wanita belakang meja. Rela berhari-hari di tempat terpencil.

“Dari dulu saya tidak pernah peduli jabatan. Yang lebih aku pentingkan, kalau kita membuat sesuatu yang benar, kita harus bisa terjun. Sehingga kita tahu kondisi di lapangan. Saya rasa tidak ada yang istimewa, yang penting segala sesuatunya lancar,” katanya bijaksana.

Di tempat itu, istri Budhy Ch. Van Waardenburg bisa menemukan keseimbangan hidup.

“Di Jakarta, orang-orang sangat konsumtif dan materialistik. Segala sesuatu dinilai dengan uang. Kalau kita ke daerah-daerah, kita disadarkan bahwa uang bukan segalanya. Banyak cara lain yang bisa diraih untuk membahagiakan diri kita,” kata Ratih lagi.

Kontemplasi Sisi Kehidupan

Wanita ini sering merenung. Betapa beruntung dirinya.

“Di sana (daerah terpecil) kita melihat masih banyak orang yang kurang beruntung,. Mereka cukup kuat dengan hal yang sederhana. Bisa bahagia dan kita juga melihat bahwa segala sesuatu tidak dilihat dari sisi materi. Pemikiran mereka amat sangat sederhana, tidak njlimet. Yang penting keluarga bisa cukup makan dan anak bisa sekolah,” komentarnya.

Dalam kesunyian alam pedesaan, Ratih melakukan retrait, “juga kontemplasi melihat bagaimana sisi kehidupan orang selain yang biasa kita temui di Jakarta. Saya pernah ke Sumbawa, Lombok, seputar Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan Utara. Pedalaman di Sumatera. Kita 3 bulan di pedalaman Bengkulu.  Juga ke Kutai Barat, Kutai Timur dan di Kertanegara,” kisahnya.

Bagi anak sulung Loekito Rekso Sumitro, petinggi di Dirjen Pertambangan, setiap orang perlu peyeimbang hidup. Caranya, melebur denagn alam dan masuk dalam kehidupan pedesaan.

“Coba dulu, dan rasakan. Disana, kita akan temukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujarnya dengan senyum.

 

Aien Hisyam

*wawancara 15 Desember 2006*

June 21, 2013 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Pecinta Lingkungan, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: