Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Novita Tandry

Anak 6 Bulan-pun Bisa ‘Sekolah’

 

Urusan anak jangan dianggap sepele. Kalau tidak siap, jangan punya anak dulu.

 

Novita Tandry mengatakan itu dengan tegas. Ia memperkenalkan diri lewat dua kartu nama. Sebagai psychologist, juga Owner Tumble Tots Indonesia.

“Ibu yang baik adalah Ibu yang punya waktu buat anak. Kesannya sederhana, tetapi sangat dalam maknanya,” kata Novi.

Punya waktu yang dimaksudnya, “adalah punya waktu tanda kutip. Bukannya ada disitu tapi yang ngerjain tetap suster atau pembantunya.”

“Ada waktu dalam arti kualitas dan kuantiti. Saya tidak percaya hanya dengan kualitas. Secara percaya ada kualitas dan kuantiti. Yaitu dia ada disana untuk anak dengan pengetahuan yang benar, dan untuk anak ada pengorbanan waktu. Jadi, dimanfaatkanlah waktu sedemikian rupa itu,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Dari Usia 6 Bulan

Pengalaman membuat Novi membeli franchise education.

“Tahun 1993, saya tinggal di Singapura,” kata Novi yang baru menikah dan punya satu anak, Joel Joshua Jovianus. Ia sedih melihat perkembangan anaknya.

“Anak saya pemalu sekali. Tiap ketemu orang ngumpet di belakang saya. Wah gawat banget nih,” kenang Novi.

Joshua ia masukkan ke center education Tumble Tots Singapura.

“Saya lihat perubahan sangat signifikan sekali. Dari yang pemalu, dia jadi berani banget. Sama orang, dia justru berani nyamperin, bilang ‘Hai uncle, hai aunti’. Dia selalu tanya, “what’s your name”. Ini surprise,” ucap Novi.

Wanita yang menikah diusia 21 tahun ini kian bergairah. Pulang ke Indonesia tahun 1994, Novi mencari tempat sejenis. Ternyata tidak ada.

“Yang bikin tempat anak 6 bulan sekolah belum ada. Bahkan sampai sekarang kalau kita tanya orang tua yang baru menikah tentang anak 6 bulan sekolah, pasti mereka bilang, “yang bener 6 bulan sekolah?” seru Novi sambil tersenyum.

“Padahal saya lihat program ini bisa dibawa dan diterapkan ke Indonesia. Knowledge tentang dunia pendidikan anak di Indonesia saat itu zero masih. Kalau sekarang media dan televisi sudah banyak berperan sehinga orang tua mulai tahu betapa pentingnya pedidikan tersebut,” ujarnya.

Padahal, kata Novi, hasil yang kelihatan anak menjadi percaya diri dan merasa di hargai.

“Ini bonding, relasi antara orang tua dan anak. Bagaimana supaya orang tua mengerti bahwa anak usia 0 sampai 5 tahun disebut masa keemasan, dimana di usia itu masa penyerapan terjadi,” kata Novi.

70 Persen Mencontoh

Novi geregetan.

“Kadang-kadang orang tua habis melahirkan setelah 40 hari sudah kerja. Anak dikasihkan ke orang lain. Padahal kepribadian anak dibentuknya di usia 0 hingga 5 tahun sebanyak 70 persen. 30 persen diserap dari lingkungannya. Kadang kita tidak percaya atau bahkan tidak mau tahu,” ujarnya.

Ia ibaratkan air minum. Kalau 70 persen yang dicontoh dan jadi panutan adalah hal-hal negatif dan salah, “anak tidak ada filter, dia akan minum semua air yang kotor itu,” kata lulusan London Montessori International, London.

Sulit sekali Novi meyakinkan orang tua betapa berharganya masa-masa 0 hingga 5 tahun. Ia coba melalui seminar-seminar, talk show hingga menulis sendiri di media cetak.

13 tahun tahun lulusan Psychology, University of New South Wales, Sidney-Australia  ‘berjuang’. Sekarang Tumble Tots Indonesia sudah punya 38 cabang seluruh Indonesia.

Dikejar Hingga 3 Negara

Total hidup Novi untuk anak dan dunia pendidikan. Ia teringat 13 tahun silam berjuang mendapat franchise education.

“Awal-awal tidak dikasih franchise. Mereka bilang saya masih terlalu muda. Masih bocah banget. Mereka juga lihat CV (Curriculum Vitae)-ku, ini anak masih bau kencur. Waktu itu saya masih 21 tahun,” kenang Novi

Buat meyakinkan, Novi berjuang untuk bisa bertemu pimpinan Tumble Tots Asia.

“Saya kejar ke Singapura, dia tidak mau ketemu. Ke Malaysia, dia juga tidak mau ketemu. Dia ke UK (Inggris) dia juga tidak mau ketemu, padahal saya bawa-bawa anak segala. Sampai akhirnya di Singapura lagi, dia mau ketemu. Mungkin juga sudah capek dikejar-kejar,” sesaat Novi tertawa lepas.

Punya center aducation sendiri, “say harus konsekuen mau mengajar sendiri dan terjun kedalam. Untungnya saya memang hobi di dunia anak. Jadi ini anugerah buat saya,” katanya dengan mata berbinar.

Novi juga curahkan semua waktunya untuk kedua anaknya, Joshua dan Joelle Joscelyne Joviana.

“Jarak mereka berdua sangat jauh. Itu karena saya konsentrasi dulu sama yang pertama sampai character building-nya beres dan saya rasa pendampingannya cukup. Bagaimanapun kalau ada anak lagi perhatian akan terbagi. Dan kebetulan waktu itu umurku masih muda,” ujar wanita kelahiran Kendari tanggal 09 Maret 1971.

Ibarat Spon Kering

Dengan bangga, Novi bercerita, Joscelyne atau disapa Jojo, di usianya yang baru ….. sudah bisa bicara bahasa Inggris, Mandarin, dan Indonesia. dengan baik dan benar.

“Belajar bahasa itu harus konsisten dan jangan dicampur biar anak tidak bingung. Saya hanya bahasa Inggris sama dia. Bapaknya hanya bahasa Mandarin dan dengan mbaknya dengan bahasa Indonesia. Dia seperti robot. Kalau misalnya kita berjalan bertiga. Dia tanya pakai bahasa Mandarin, saya tidak akan jawab. Karena dari lahir kita sudah bikin komitmen seperti itu,” ujar Novi.

Novi mengibaratkan anak seperti spon kering.

“Kalau spon kering dimasukkan ke dalam air, ia akan menyerap air masuk kedalam lobang dengan berlomba-lomba. Ibarat komputer, anak sudah pentium lima. Kencang sekali. Nah kalau kita ini spon yang tiga perempatnya basah. Kita sudah terlalu penuh.

Begitupun dengan dunia anak yang ia sebut dunia bermain.

“Kalau kita perhatikan anak usia di bawah 5 tahun, atau anak dibawah 3 tahun, yang bekerja otot-otot besarnya, motorik kasarnya. Menendang, melempar, menangkap. Yang kelihatan itu yang dia siap. Tidak bisa diam. Duduk tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena memang dia tidak siap karena dunianya adalah dunia bergerak,” kata Novi.

Sementara buat orang tua, lanjut Novi, bermain adalah dunia rekreasi.

“Tetapi buat anak bermain adalah dunia belajar. Belajar untuk membentuk kepribadian mereka melalui permainan. Itulah konsep yang kami pakai,” ujarnya.

Novi berkeinginan, setiap anak bisa menjadi diri sendiri,

“Bukan karena orang tua kepingin anak jadi apa. Ada pengarahan tiap anak itu satu individu yang berbeda dengan anak yang lain. Individu yang unik dan harus diperlakukan berbeda dengan orang lain. Ini yang biasanya orang tua lupa. Orang tua harus bisa memberikan kebebasan yang terikat. Tetap bisa disiplin, tetap dengan adanya tanggung jawab dan ada aturan main di dalam keluarga. Itu yang sulit,” ujar Novi.

Aien Hisyam

*wawancara 22 Desember 2006*

Advertisements

June 21, 2013 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: