Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Hanny

Senang Dibilang Aneh

 

 

“Namaku Hanny. Segitu saja.” Ia wanita keturunan yang ingin hidup ‘berbeda’. Dibilang antik, justru membuatnya senang.

 

Tak sesingkat namanya. Perjalanan hidup Hanny relatif berliku. Ia suka hal-hal yang tak lazim –seperti hidup warga keturunan pada umumnya.

“Memilih sekolah saja sudah beda. Termasuk keinginanku dalam hidup. Pokoknya, beda deh sama saudara-saudaraku yang lain (baca: keluarga besarnya),” kata Hanny.

Keluarga Pedagang

Hanny dididik keras Ayahnya, pemilik perangkat rumah tangga bermerek Vicenza.

“Dari kecil saya dibiasakan jadi pedagang. Nenek, Ibu, dan semua keluarga besar adalah pedagang. Nenek usia 85 tahun masih kerja di Senen,” tutur Hanny.

Ia mengaku dari keluarga sederhana. Sering dibawa ke toko usai pulang sekolah. Dari kecil, Hanny terbiasa melihat orang berdagang.

“Saya tidak lihat kehidupan lain selain berdagang. Saya tinggal juga dilingkungan pedangan, di Jembatan Lima. Apalagi kita orag perantauan dan  Sumatera pula yang notabene pedagang. Uniknya, keluarga besarku rata-rata bikin kue,” ujar Hanny.

Sejak kecil Hanny bercita-cita ingin jadi profesional, seperti dokter dan pengacara.

“Bukannya dipuji tapi malah dicela, ‘Mau apa jadi dokter?’. Untungnya saya dibiarin begitu saja,” katanya, dengan nada lega.

Di sekolah, diam-diam Hanny bermain drama. Ia juga belajar membaca prosa. Pernah, ia juara baca Prosa se-DKI. “Pulang, Mama cuek saja. Apalagi Papa. Tapi saya senang. Ada kepuasaan pribadi sendiri,” ujar Hanny, bangga.

Jaman Sekolah Dasar, lanjut Hanny, “etnik (istilah warga keturunan) jarang ikut teater. Waktu itu ada teater anak-anak betawi untuk ultah Jakarta, saya tidak dikasih ikut. Mama bilang, “Ny buat apa?” apalagi Papa, sama sekali tidak boleh. Yah sudah, sekolah lagi sekolah lagi,” kenang Hanny.

Pantang putus asa, Hanny –tanpa sepengetahuan orangtuanya- bergabung di grup paduan suara dan tari. Demi kepuasan diri.

Keluarga Aneh

Dua tahun kuliah di Atmajaya, Hanny berubah pikiran. Dia ingin sekali hidup di Luar Negeri.

“Cita-cita dari kecil tuh. Bagaimana caranya bagaimana, ya saya bayar pakai sekolah. Harus lulus dalam jangka waktu 2 tahun saja. Kalau tidak selesai ya pulang. Oke deh yang penting bisa hidup di luar negeri,” ucap wanita kelahiran Jakarta 13 Maret 1977.

Ia pilih sendiri kota yang akan disinggahi. Katanya, harus yang paling sepi dan tidak banyak orang Indonesianya.

“Saya pilih Perth, Australia. Kuliah di Curtin University. Disana saya tidak punya teman. Karena kalau saya ngumpul dengan teman-teman, saya tidak bisa masuk ke kehidupan yang ingin saya ketahui. Yang ada, saya hanya kumpul dengan orang Indonesia saja, makan makanan Indonesia, dan waktu istirahat seperti orang Indonesia pada umumnya. Buat saya ya ngapain jauh-jauh ke Australia kalau hidupnya masih sepeti itu,” ujar Hanny. Dia justru senang dibilang aneh.

Hanny tidak mau tinggal dengan keluarga Indonesia, juga bukan orang Asia, dan bukan bule. Ia pilih tinggal di keluarga Eurosian, yaitu campuran Eropa Asia.

Basic-nya Singapura. Saya baru tahu kalau orang Singapura tidak harus Chinese. Mungkin mereka lama dengan Inggris, Portugis dan segala macam. Mereka unik dan aneh. Perempuannya kayak bule tapi rambutnya coklat mukanya ada Asia karena dia ada campuran Taiwan, Inggris dan Portugis. Sementara suaminya ada campuran Indian dan Portugis. Punya anak yang keren-keren,” kenang Hanny sambil tertawa.

Bulan pertama, Hanny sering bertengkar dengan pemilik rumah. “Kaku, melebihi orang tua. Malam lampu harus mati, mandi di timing katanya air mahal. Padahal saya bayar seminggu 150 dolar. Lama-lama saya mulai mengerti. Mereka hemat karena tidak selamanya kita punya air. Disana negara tandus. Listrik dan air dijaga dengan sangat baik,” kenang Hanny.

Di Demo Karyawan

Di Australia Hanny juga masuk ke sekolah Sekretaris. Atas desakan Ayahnya.

“Bokap punya pikiran, anak perempuan tidak harus bikin kue. Karena di keluarganya semua anak perempuan jualan dan bikin kue. Bapak lihat perempuan itu punya segala-galanya. Perempuan tergantung dirinya masing-masing. Karena kita punya sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain. Lelaki belum tentu bisa seperti itu,” ujar istri Sapta Widya.

Masih kata Ayahnya, “kamu jadi perempuan yang selalu  minta dilindungi. Seandainya kamu bisa memainkan peran kamu pada saat bisa dilindungi dan satu saat tidak bisa dilindungi dan kamu bisa berdiri sendiri, kenapa tidak. Hari gini perempuan harus bisa berdiri sendiri.”

Lepas kuliah, Hanny bekerja di perusahaan Ayahnya menjadi sales.  Ia ‘belajar’ dicuekin orang, diomelin, sampai ditolak mentah-mentah.

“Baru beberapa bulan kerja, tiba-tiba kantor di demo. Saya lagi hamil besar. Justru saya layani mereka. Saya bawa kertas satu rim dan pensil dua kotak. Saya suruh mereka tulis surat pengunduran diri, saat itu juga. Eh, ternyata tidak ada yang mau. Kesal juga sih, ternyata mereka diprovokasi,” kenang ibu satu putri, Kai Amory Widya.

Seperti Pilih Pacar

Di Vicenza, Hanny mengepalai bagian Marketing sekaligus HRD, juga memimpin tim artistik.

“Ide semua Papa, saya cuma mengembangkan dan mengolah. Kalau Papa sudah oke, dikirim ke pabrik. Setelah sample-nya jadi, kita diskusi lagi. Kalau ada kekurangan, diolah lagi. Apakah bisa dimasukkan ke pasaran atau tidak

Pengalaman Ayahnya 30 tahun membesarkan produk Vicenza dijadikan ‘sekolah’ buat Hanny.

“Belajar dengan orang yang punya pengalaman jauh lebih berharga dibanding hanya membaca buku. Jadi, daripada saya belajar dengan orang lain,  lebih baik belajar sendiri dengan Bapak saya. Bapak punya imajinasi. Idenya tidak pernah stop. Dia akan ngomong begini begitu. Nah, saya belajar dari situ,” kata Hanny.

Ciri khas disain produk Vicenza, “kita banyak bermain di emas. Tidak pernah lepas dan harus menonjol. Karena dari dulu saya lihat dari ujung Indonesia timur sampai barat, hampir rata-rata yang menunjukkan kemewahan adalah emas. Dari kain hingga perhiasan. Semua yang ada benang emas masuk barang mewah,” jelas Hanny.

Kesal sering ditiru, Hanny mempatenkan tiap disainnya.

“Saya mendisain dengan tim art yang hebat. Saya sendiri yang cari  disainer grafisnya. Seperti nyari pacar. Dia harus ngerti pikiran saya. Apa yang saya inginkan. Dan saya harus bisa menyapaikan apa yang saya mau. Saya tidak punya kemampuan gambar tapi saya punya imajinasi. Saya hanya bisa gambar oret-oretan yang harus diketahui,” kata Hanny.

Aien Hisyam

*wawancara 15 Januari 2007*

June 21, 2013 - Posted by | Kisah, Profil Pengusaha, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: