Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ester Indahyani

Kalau Helai Rambut Belum Jatuh

 

 

Ia baru tiga bulan menikah ketika kerusuhan Mei 1998 membara. Seperti lintah, peristiwa itu jadi kenangan buruk dalam ingatan.

 

Seorang teman datang padanya sambil menangis. Adiknya diperkosa beramai-ramai di jalan tol. Ia etnis Tionghoa, seperti Ester yang duduk tertegun di depannya.

Di lain hari, wanita ayu berkulit kuning langsat ini mendengar penuturan jujur dokter ginekologi. Lebih dari 5 pasiennya dirawat dalam kondisi menyedihkan, alat kelaminnya (maaf) rusak berat dan ada yang rahimnya ‘berantakan’. Semua keturunan Cinta, dan mengalami saat bumi Indonesia dihantam tragedi Mei 1998.

Ester jadi sulit tidur. Dia marah dan menangis. Belum lagi memikirkan saudara-saudaranya se-etnis yang mati hangus terbakar di dalam rumah dan toko. Spontan didirikannya LSM Solidaritas Nusa Bangsa (SNB).

“LSM itu alat perjuangan. Kalau SNB itu alat untuk penghapusan diskriminasi rasial. Jadi kenapa di SNB, aku dan teman-teman lain berjalan untuk tujuan itu,” kata wanita yang terlahir dengan nama Sim Ai Ling.

Sempat Menolak

Hampir 9 tahun Ester berjuang. “tapi ‘berhenti’ dimana-mana,” ucapnya, mengeluh.

“Secara hukum pemerkosaan itu sulit (dibuktikan). Tetapi secara umum, kasusnya ini pelanggaran berat HAM, itu jelas bisa dibuktikan. Terbukti rentetan kejadian lain jelas sekali mengarah ke satu gerakan kejahatan yang sistematis yang luas. Waktu di Komnas (Komisi Nasional) kita mendata ledakannya di lebih 50 titik lokasi. SNB dan YPHI (Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia)  mendata lagi di 80 titik ledakan sosial. Jadi ada pola yang jelas kerusuhannya,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ester staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Ia gadis peranakan Tionghoa yang berpikiran maju. Seperti orangtuanya, Immanuel Jusuf yang guru, dan Maria Tjandra yang bekas guru.

Lulus Fakultas Hukum UI, Ester masuk ke dunia korps jubah hitam.

“Awalnya ingin jadi Hakim, dengan pemikiran naif-ku saat itu. Hakim yang memberikan keadilan. Dia bisa memutuskan perkara. Orang benar dibebaskan, orang salah dihukum. Tapi waktu aku mempelajari kehidupan Hakim baik secara hukum, politik dan ekonomi, ternyata jauh dari harapan,” kata Ester.

Ia tidak suka ketidakadilan. Sering melawan hukum apabila hukum berjalan diluar sistem.

Kegigihan Ester menjadi ‘pengacara rakyat’ membuatnya dianugerahi banyak penghargaan. Mulai dari Forum of Human Rights (1999), Yap Thiam Hien (2001) hingga Ashoka World Foundation (2003) yang bertaraf Internasional.

“Dulu sempat mau menolak Yap. Kan yang berjuang bukan hanya aku. Kalaupun muncul, itu karena gerakan. Semua membicarakan. Aku hanya satu unsur disana. Tapi teman-teman yang memaksa. Apabila wacana HAM yang diangkat, itu akan sangat menguntungkan perjuangan anti diskriminasi. Dan buat aku sendiri ke depan juga sangat baik. Orang akan menghargai saat aku membicarakan diskrimasi rasial atau masalah-masalah lain,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah kerusuhan Mei 1998, masalah etnis Tionghoa ramai dibicarakan.

“Bahkan jadi komoditas. Kalaupun aku dianggap tokoh itu peran media. Padahal peranku hanya kecil sekali. Yang bicara pada tanggal yang sama ada beberapa. Tapi mungkin karena aku perempuan, jelas Tionghoa dan muda, masih 27 tahun. Aku juga dari LBH dan dianggap baru,” jelasnya lagi.

Ditembak Peluru Karet

Pernikahan Ester dengan Arnorld Fransiskus Purba, aktivis ‘garis keras’ membuat perjuangan wanita kelahiran 15 Januari 1971 ini kian runcing. Meski suaminya bukan etnis Cina, keduanya gigih membongkar dan membela para korban kerusuhan Mei. Purba meninggal tahun 2001 akibat livernya rusak.

“Bang Ucok (panggilan untuk suaminya) mengajar aku berani melawan struktur. Menghadapi tentara dan belajar melawan sistem dan hal-hal feodal,” kenang Ester.

Ia kembali menikah tahun 2005 dengan pria Jawa yang juga bukan etnis Tionghoa, Albertus Suryo WIcaksono. Pria ini justru mengajarkan Ester untuk  ‘mengakar ke bawah’.

“Memahami pikiran masyarakat bawah. Memahami kultur bangsa Indonesia. Jadi keduanya bertolak belakang, Satu ke atas, yang satu ke bawah. Membuatku jadi lebih lengkap,” katanya, bangga.

Bekerja melawan arus pastilah beresiko dengan nyawa.

“Orangtua sempat kuatir. Apalagi aku tidak pernah cerita apa yang aku alami,” ujar Ester.

Seperti ketika Ester jalan sendirian menuju LBH Jakarta dekat Megaria. Hari sudah gelap, sudah jam 7 malam. Tiba-tiba bahu kanannya perih. Ia terjatuh. Sepintas ia melihat dua pria berboncengan motor menenteng pistol sambil tersenyum.

“Sakit sekali seperti mau mati. Ternyata ada lebam dan luka di tengah. Aku menduga ditembak peluru karet. Teman-temanku banyak yang mengalami seperti itu, karena kebetulan waktu itu aku sedang menangani kasus orang-orang hilang. Aku biasa lembur. Suamiku masih di LBH,” kenang Ester.

Teman-teman memaksa Ester siaran pers. Esoknya, semua media cetak dan elektronik menulis kisahnya. Orang tuanya membaca.

“Mereka kaget dan bilang kalau sudah taruhan nyawa kenapa juga masih diteruskan. Tapi kemudian mereka berdoa dan telepon lagi, Papa bilang, rambut di kepalamu tidak akan jatuh kalau tanpa Tuhan mau. Kalau Tuhan mau, di rumah pun kita bisa meninggal. Aku bersyukur sekali,” ujar Ester, matanya berbinar bahagia.

Ester jadi kebal dengan terror. “Capek kalau dipikirin!”

Buku Yang Dilarang

Ester kesal. Bulan lalu satu bukunya dilarang terbit Komnas HAM.

“Padahal, buku itu murni dari hasil investigasi selama 1 tahun. Data dari Komnas yang saya ambil adalah hanya data TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Kemudian mereka mengkaim bahwa data itu semua milik mereka. Padahal data saya ada tambahan dari hasil investigasi selama 1 tahun. Lebih detail, lebih lengkap dan lebih luas,” ujar Ester tentang buku berjudul ‘Analisa Data dan Fakta Kasus Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei

Imbasnya, ia diprotes korban-korban kerusuhan Mei. “Karena mereka juga ikut dalam investigasi. Kesal kenapa bukunya kok dilarang.”

Dua buku lainnya berjudul ‘Reka Ulang Kerusuhan Mei 1998’ dan ‘Menatap Wajah Korban: Upaya Mendorong Penyelesaian Hukum Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Dalam Peristiwa Kesusuhan Mei 1998

“Buku Menatap Wajah Korban, isinya sketsa para korban yang tidak punya foto. Miskin kota yang mati di bunuh di Plaza-plaza, kebanyakan tidak punya foto,” terang Ester.

Para pelukis, lanjut Ester, berbicara dengan keluarga korban. Mereka menggambarkan wajah korban, dan dilukis. Ada puluhan wajah yang muncul.

“Dan itu ternyata jadi trauma healing pada keluarganya. Jadi begitu mereka lihat sketsa wajah itu, muncul lagi kejadian itu. Mereka pada menangis. Tapi setelah itu mereka jadi kuat. Ini seperti terapi. Mereka merasa perjuangan masih panjang. Korban tidak hilang begitu saja,” lanjut Ester.

Buku Reka Ulang juga berupa sketsa kejadian. Misalnya di Glodok, di Pondok Indah dan puluhan titik lokasi. Minimal ada dua saksi dalam satu tempat. Masing-masing bercerita tentang kejadiannya, dan dibuat sketsa. Seperti rekonstruksi kejadian saat itu.

“Bukunya jadi penuh sketsa. Masyarakat Indonesia kan susah kalau membaca. Bahasa gambar lebih bisa diterima. Harapannya bisa rekonstruksi kejadian dan wajah pelaku. Kebanyakan korban tidak mengenali pelakunya. Ada yang mengenali tapi kesaksiannya tidak signifikan. Kebanyakan lari. Ada yang lihat tapi tidak ngeh karena banyak pelakunya,” kata Ester, lagi.

Aien Hisyam

*wawancara 12 Februari 2007*

Advertisements

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | 1 Comment

Hanny

Senang Dibilang Aneh

 

 

“Namaku Hanny. Segitu saja.” Ia wanita keturunan yang ingin hidup ‘berbeda’. Dibilang antik, justru membuatnya senang.

 

Tak sesingkat namanya. Perjalanan hidup Hanny relatif berliku. Ia suka hal-hal yang tak lazim –seperti hidup warga keturunan pada umumnya.

“Memilih sekolah saja sudah beda. Termasuk keinginanku dalam hidup. Pokoknya, beda deh sama saudara-saudaraku yang lain (baca: keluarga besarnya),” kata Hanny.

Keluarga Pedagang

Hanny dididik keras Ayahnya, pemilik perangkat rumah tangga bermerek Vicenza.

“Dari kecil saya dibiasakan jadi pedagang. Nenek, Ibu, dan semua keluarga besar adalah pedagang. Nenek usia 85 tahun masih kerja di Senen,” tutur Hanny.

Ia mengaku dari keluarga sederhana. Sering dibawa ke toko usai pulang sekolah. Dari kecil, Hanny terbiasa melihat orang berdagang.

“Saya tidak lihat kehidupan lain selain berdagang. Saya tinggal juga dilingkungan pedangan, di Jembatan Lima. Apalagi kita orag perantauan dan  Sumatera pula yang notabene pedagang. Uniknya, keluarga besarku rata-rata bikin kue,” ujar Hanny.

Sejak kecil Hanny bercita-cita ingin jadi profesional, seperti dokter dan pengacara.

“Bukannya dipuji tapi malah dicela, ‘Mau apa jadi dokter?’. Untungnya saya dibiarin begitu saja,” katanya, dengan nada lega.

Di sekolah, diam-diam Hanny bermain drama. Ia juga belajar membaca prosa. Pernah, ia juara baca Prosa se-DKI. “Pulang, Mama cuek saja. Apalagi Papa. Tapi saya senang. Ada kepuasaan pribadi sendiri,” ujar Hanny, bangga.

Jaman Sekolah Dasar, lanjut Hanny, “etnik (istilah warga keturunan) jarang ikut teater. Waktu itu ada teater anak-anak betawi untuk ultah Jakarta, saya tidak dikasih ikut. Mama bilang, “Ny buat apa?” apalagi Papa, sama sekali tidak boleh. Yah sudah, sekolah lagi sekolah lagi,” kenang Hanny.

Pantang putus asa, Hanny –tanpa sepengetahuan orangtuanya- bergabung di grup paduan suara dan tari. Demi kepuasan diri.

Keluarga Aneh

Dua tahun kuliah di Atmajaya, Hanny berubah pikiran. Dia ingin sekali hidup di Luar Negeri.

“Cita-cita dari kecil tuh. Bagaimana caranya bagaimana, ya saya bayar pakai sekolah. Harus lulus dalam jangka waktu 2 tahun saja. Kalau tidak selesai ya pulang. Oke deh yang penting bisa hidup di luar negeri,” ucap wanita kelahiran Jakarta 13 Maret 1977.

Ia pilih sendiri kota yang akan disinggahi. Katanya, harus yang paling sepi dan tidak banyak orang Indonesianya.

“Saya pilih Perth, Australia. Kuliah di Curtin University. Disana saya tidak punya teman. Karena kalau saya ngumpul dengan teman-teman, saya tidak bisa masuk ke kehidupan yang ingin saya ketahui. Yang ada, saya hanya kumpul dengan orang Indonesia saja, makan makanan Indonesia, dan waktu istirahat seperti orang Indonesia pada umumnya. Buat saya ya ngapain jauh-jauh ke Australia kalau hidupnya masih sepeti itu,” ujar Hanny. Dia justru senang dibilang aneh.

Hanny tidak mau tinggal dengan keluarga Indonesia, juga bukan orang Asia, dan bukan bule. Ia pilih tinggal di keluarga Eurosian, yaitu campuran Eropa Asia.

Basic-nya Singapura. Saya baru tahu kalau orang Singapura tidak harus Chinese. Mungkin mereka lama dengan Inggris, Portugis dan segala macam. Mereka unik dan aneh. Perempuannya kayak bule tapi rambutnya coklat mukanya ada Asia karena dia ada campuran Taiwan, Inggris dan Portugis. Sementara suaminya ada campuran Indian dan Portugis. Punya anak yang keren-keren,” kenang Hanny sambil tertawa.

Bulan pertama, Hanny sering bertengkar dengan pemilik rumah. “Kaku, melebihi orang tua. Malam lampu harus mati, mandi di timing katanya air mahal. Padahal saya bayar seminggu 150 dolar. Lama-lama saya mulai mengerti. Mereka hemat karena tidak selamanya kita punya air. Disana negara tandus. Listrik dan air dijaga dengan sangat baik,” kenang Hanny.

Di Demo Karyawan

Di Australia Hanny juga masuk ke sekolah Sekretaris. Atas desakan Ayahnya.

“Bokap punya pikiran, anak perempuan tidak harus bikin kue. Karena di keluarganya semua anak perempuan jualan dan bikin kue. Bapak lihat perempuan itu punya segala-galanya. Perempuan tergantung dirinya masing-masing. Karena kita punya sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain. Lelaki belum tentu bisa seperti itu,” ujar istri Sapta Widya.

Masih kata Ayahnya, “kamu jadi perempuan yang selalu  minta dilindungi. Seandainya kamu bisa memainkan peran kamu pada saat bisa dilindungi dan satu saat tidak bisa dilindungi dan kamu bisa berdiri sendiri, kenapa tidak. Hari gini perempuan harus bisa berdiri sendiri.”

Lepas kuliah, Hanny bekerja di perusahaan Ayahnya menjadi sales.  Ia ‘belajar’ dicuekin orang, diomelin, sampai ditolak mentah-mentah.

“Baru beberapa bulan kerja, tiba-tiba kantor di demo. Saya lagi hamil besar. Justru saya layani mereka. Saya bawa kertas satu rim dan pensil dua kotak. Saya suruh mereka tulis surat pengunduran diri, saat itu juga. Eh, ternyata tidak ada yang mau. Kesal juga sih, ternyata mereka diprovokasi,” kenang ibu satu putri, Kai Amory Widya.

Seperti Pilih Pacar

Di Vicenza, Hanny mengepalai bagian Marketing sekaligus HRD, juga memimpin tim artistik.

“Ide semua Papa, saya cuma mengembangkan dan mengolah. Kalau Papa sudah oke, dikirim ke pabrik. Setelah sample-nya jadi, kita diskusi lagi. Kalau ada kekurangan, diolah lagi. Apakah bisa dimasukkan ke pasaran atau tidak

Pengalaman Ayahnya 30 tahun membesarkan produk Vicenza dijadikan ‘sekolah’ buat Hanny.

“Belajar dengan orang yang punya pengalaman jauh lebih berharga dibanding hanya membaca buku. Jadi, daripada saya belajar dengan orang lain,  lebih baik belajar sendiri dengan Bapak saya. Bapak punya imajinasi. Idenya tidak pernah stop. Dia akan ngomong begini begitu. Nah, saya belajar dari situ,” kata Hanny.

Ciri khas disain produk Vicenza, “kita banyak bermain di emas. Tidak pernah lepas dan harus menonjol. Karena dari dulu saya lihat dari ujung Indonesia timur sampai barat, hampir rata-rata yang menunjukkan kemewahan adalah emas. Dari kain hingga perhiasan. Semua yang ada benang emas masuk barang mewah,” jelas Hanny.

Kesal sering ditiru, Hanny mempatenkan tiap disainnya.

“Saya mendisain dengan tim art yang hebat. Saya sendiri yang cari  disainer grafisnya. Seperti nyari pacar. Dia harus ngerti pikiran saya. Apa yang saya inginkan. Dan saya harus bisa menyapaikan apa yang saya mau. Saya tidak punya kemampuan gambar tapi saya punya imajinasi. Saya hanya bisa gambar oret-oretan yang harus diketahui,” kata Hanny.

Aien Hisyam

*wawancara 15 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Yenny Zannuba Wahid

Memilih Pekerjaan Sesuka Hati

 

“Saya perempuan beruntung,” kata Yenny tentang dirinya. Sayangnya, hingga kini ia belum beruntung menggapai jodoh.

 

Staf ahli presiden RI, seolah menjadi penegasan status Yenny saat ini. Deretan status lainnya, sebagai pimpinan di Departemen Pengembangan NU, Sekretaris Jenderal PKB, Direktur The Wahid Institute, hingga asisten pribadi mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, ayahnya sendiri.

Setiap menit, katanya, sangat berharga. Ia perempuan sendiri dari 7 staf ahli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Ini salah satu keberuntungan,” kata wanita bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, dengan mata berbinar.

Panggung Hampir Roboh

Siang terik di Jombang, Yenny berdiri di samping Gus Dur, panggilan ayahnya. Wajahnya tegang. Di depan, ratusan ribu orang beristighosah. Panggung mulai limbung disesaki pendukung.

“Belum selesai Bapak pidato, panggung mau roboh. Tiba-tiba ratusan orang menyangga panggung agar tidak roboh sampai pidato Ayah selesai. Saya nangis. Dalam hati saya, Ya Allah, begitu besar kecintaan orang, kepercayaan orang terhadap Ayah dan keluarga saya,” kenang Yenny.

Kejadian di tahun 2001, -saat Gus Dur dipaksa meletakkan jabatan Presidennya- membekas di hati Yenny.

“Padahal, awalnya saya tidak mau terjun di dunia politik,” katanya.

Tiga tahun mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) ini bimbang.

“Saya begitu beruntung, bisa sekolah di Harvard, bisa aktualisasikan diri, bahkan pekerjaan saja saya milih sesuai kesukaan saya. Karena itu saya berpikir kembali untuk memberikan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya. Saya harus berikan kontribusi pada masyarakat,” ujar Yenny.

Desakan orang-orang partai dan kader-kader NU tidak goyahkan hati Yenny. Tahun 2002, Yenny justru pergi ke Cambridge-Amerika, kuliah di Harvard University.

“Lulus setahun kemudian, pulang, saya bikin Wahid Institute. Saya senang kerja di belakang layar,” ucap Yenny.

Kembali, tawaran menjadi anggota parlemen ditolak wanita bersuara lembut ini.

“Saya tidak mau. Jangan sampai saya dicalonkan karena saya anaknya Gus Dur. Saya tidak mau seperti itu. Terlalu gampang,” kata peraih penghargaan Australia’s Premier Journalistic Award – The Walkleys.

Terdesak Keputusan

Ketika partai PKB diguncang masalah, “ada kelpmpok yang mau mendepak Bapak dari parpol. Saya pikir itu tidak bisa ditoleransi. Saya harus turun dan ikut masuk. Dan mempertahankan partai ini. Partai ini kan yang buat Bapak. Ibaratnya ada yang mau ngusir dari rumah kita sendiri. Itu tidak bisa diterima,” suara Yenny meninggi.

Tahun 2004, sarjana desain dan komunikasi visual Universitas Trisakti ini menerima jabatan formal Sekretaris Jenderal PKB. Katanya, demi keutuhan PKB.

“Kalau masuk politik ya harus kuat. Politik itu sebuah lingkungan yang kalau tidak kuat bisa terpental. Ada kejamnya. Tidak hanya siap mental saja. Dulu kalau ada yang jahat dan nyakitin sama saya, padahal saya tidak kenal orang itu, saya sampai nangis,” kenang Yenny sambi tersenyum.

Sekarang, lanjutnya, “saya sudah bisa baca, tuh orang kepentingannya mau apa. Sekarang saya sudah bisa bedakan komentar yang punya substansi dan tidak ada substansinya. Kalau komentar punya substansi, harus kita dengarkan. Apalagi kalau niatnya mau memperbaiki keadaan. Kalau perlu orang yang ngomong ajak diskusi.”

Awal pemilu tahun lalu, Yenny dan partainya protes ke KPU.

“Kita golput. Saya kesal karena Bapak tidak boleh mencalonkan (Presiden RI). Alasannya karena kesehatan. Berarti orang yang yang cacat tidak boleh maju ke kancah seperti itu. Buat saya tidak penting kalah atau menang. Gus Dur itu anti diskriminasi, tapi kok malah di disriminasi begitu. Buat saya, itu yang harus diperjuangkan. Lebih baik ikut tapi kalah daripada haknya dirampas. Realitanya begitu,” kata Yenny dengan nada kesal.

Diputaran akhir pemilu, Yenny menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono, untuk jadi Presiden. “Setelah Pak SBY menjabat setahun, baru saya diangkat sebagai staf ahli,” ujar Yenny.

Saat Di Amerika

Yenny sadar ada anggapan miring tentang ‘keberuntungan’nya. “Itu dalam konteks orang selalu bilang saya anaknya Gus Dur. Mereka bilang kalau bukan anak Gus Dur pasti tidak bisa. Yah biarin saja,” katanya.

Yenny ditelepon staf SBY saat dirinya di Bandara, sedang dalam perjalanan ke Jember, mengunjungi korban banjir dan tanah longsor.

“Saya diminta menghadap pak SBY, tapi tidak bisa. Setelah itu tidak dipanggil lagi. Saya tunggu sampai 1 mingguan. Nah, pas di telepon lagi saya mau ke Amerika. Sore saya ke Amerika, siang SK-nya di antar ke Wahid Institute. Jadi waktu diumumkan ke publik saya sudah berangkat. Saya tidak bisa kasih komentar apa-apa,” kata Yenny lagi.

Ia menjadi Staf Ahli Presiden bidang Politik dan Komunikasi. Tidak kaget, tidak juga surprais. Yenny merasa pas saja, “karena saya memang orang komunikasi juga orang politik,” ia tersenyum cerah.

Komunikasi, kata Yenny, tidak harus di depan umum. Atau harus tampil. Ia bertugas merancang strategi komunikasi Presiden. Melakukan pendekatan-pendekaan di belakang layar.

“Juga komunikasi private one on one dengan individu. Mungkin kalau di istilah populernya pelobi. Ini yang tidak terekspos ke publik dan tidak boleh terekspos,” ujar Yenny.

Yenny mencontohkan, saat di Amerika, ia aktif melobi anggota-anggota konggres, bertemu senator-senantor juga staf senator. Termasuk menjelaskan pada masyarakat policy-policy dan sikap pemerintah. Misalnya melalui pengajian-pengajian, social gathering, diskusi publik, forum-forum dialog, dan sebagainya.

Pidato Di Harvard

Yenny pintar berkomunikasi. Buktinya, ia lolos seleksi lomba pidato mahasiswa. Pesertanya ratusan. Ia menjadi perwakilan mahasiswa pidato di puncak acara wisuda Harvard University.

“Cita-cita saya dari dulu adalah ingin sekali pidato di depan Bapak saya. Ternyata saya menang kompetisi. Senangnya minta ampun. Mungkin karena isi pidato saya dinilai yang paling representatif dengan kondisi saat itu. Isinya tentang sulitnya kita membuat keputusan padahal kita harus membuat keputusan,” kenang Yenny.

Yenny sengaja tidak memberitahu orangtuanya.

“Ternyata kaget semua. Dan lucunya, disana pihak Universitas juga kaget karena Bapak saya mantan presiden. Sampai diumumkan segala. Orangtua disuruh duduk di depan tapi tidak mau. Jadi sama-sama kaget. Itu kebanggan sekali,” cerita wanita kelahiran 29 Oktober 1974 ini bahagia.

Nampaknya, kebahagian kian lengkap jika Yenny segera mengakhiri masa lajangnya.

“Moga-moga tahun ini ketemu jodoh terus married 2008. Belum ketemu orangnya saja sih. Padahal saya pingin jatuh cinta saja. Nah orangnya belum ada. Doakan saja,” katanya penuh harap.

Satu keinginan terbesar Yenny, “Saya ini pingin sekali punya anak. Nah kalau nanti umur terus bertambah, secara biologis kan pasti akan susah. Gimana dong. Jadi harus ada deadlinenih,” ucap Yenny yang ingin punya dua anak.

Aien Hisyam

*wawancara 4 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Politikus, Profil Wanita | Leave a comment

Mony Suriany

Air Mata Di Keringat Tubuh


 

But something bad happened.” Mony menerawang 3 tahun silam. Ia terhempas dalam depresi berat, di negeri orang, dan seorang diri.

 

Jatuh bangun Mony berjuang supaya  tegar. Toh ia tak kuat juga.

“Mama telepon, ‘Ny, kamu pulang saja ke Indonesia.’,” kenang Mony.

Ditemani sepupunya, Mony mencari ketenangan di Sydney-Australia selama 2 bulan. Awalnya, ia akan ke Tibet. tetapi perjalanan dibatalkan.

Benar saja. “Kita tidak pernah menduga apa yang terjadi esok hari. Hidup saya dijungkir balikkan. Sekarang, saya dapatkan kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya,” ungkap Mony.

Sendiri Di Negeri Orang

Lulus SMA, Mony ke Indiana-Amerika. Kuliah di Indiana University hingga meraih gelar Bachelor of Sciences, Accounting and Finance. Tiga tahun kemudian ia bergelar Master of Business Administration.

“Hidup saya memang enak. Lulus kuliah kerja di GE (General Electric),” kata Novi.

Tahun pertama kerja, Mony tingal di Barrington sebagai Marketing Analyst. Berturut-turut ia di pindah tugaskan ke Stamford, Fairfield, Danbury, New York, dan terakhir di Chicago.

“Pertama-tama excited banget. Saya merasa jadi orang yang sangat beruntung. Pendapatan juga lumayan. Tapi lama-lama kerja bikin saya stres. Apalagi, saya cewek minority, orang Asia juga. Kalau orang hanya kerja 8 jam sehari, saya harus kerja double. Yang ada jadi over work,” kata Mony.

Di negeri orang, Mony sendirian. Stres sendiri, sedih sendiri, happy sendiri, apa-apa sendiri. “Kalau mau kaya gampang saja. Tapi saya berpikir, apa itu yang saya cari selama ini?”  Dalam kesendirian Mony merenung. Ia telusuri jalan kota Philadelphia yang dingin. Ia singgah di Bikram  Yoga.

Tahun 2001 Mony mulai coba-coba yoga.

“Bikram Yoga ini beda. Benar-benar physical dengan 26 gerakan. Ruangan panas berkisar 42 derajat,” terang Mony.

Pertama kali masuk ruang yoga yang panas, “Saya langsung suka. Saya tidak mau cari yang gampang-gampang saja,” kata Mony. Ia tidak merasa ‘sendiri’ lagi.

Cobaan Di Tahun Yang Sama

Ketika Chicago diselimuti musim dingin, awal tahun 2003, Mony hendak menyeberang jalan raya sepanjang 4 lines. Belum selesai kakinya menapak pedestrian, mobil melaju kencang. Tubuhnya melayang ke udara dan terhempas di atas kap mesin. Untung saja ia ‘hanya’ jatuh setengah duduk.

Mony mengalami retak tulang bahu 1,5 sentimeter. Mony keukeuh tidak mau operasi. Ada keyakinan ia bisa sembuh lewat hot yoga.

“Mau tak mau saya harus memaksa menggerakkan lenganku sampai bisa bergerak. Lagi pula ruangan yang panas bisa menghangatkan tulangku,” kata Mony.

Di tahun yang sama Mony menikah dengan pria yang sudah 12 tahun jadi pacarnya. Ironis, pernikahan itu hanya berlangsung 6 bulan saja. Mony syok melihat suaminya berselingkuh.

“Saya berada di titik zero. Depresi berat. Bayangkan, di negeri orang, saya sendirian mengalami hal berat ini,” kata Mony.

Mony melepas kariernya, pulang ke Indonesia. Ia gambarkan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Mony yang cerdas, enerjik, dan metropolis, tiba-tiba menjadi wanita yang sangat menyedihkan.

Mulai Fall In Love

Di Sydney –saat menenangkan diri- Mony iseng masuk ke kelas Bikram Yoga.

“Padahal, saya sudah stop lama. Setelah itu justru jadi fall in love. Berkat hot yoga saya tidak depresi lagi. Tulang bahu juga makin membaik,” ujar Mony.

Hampir setiap hari Mony hot yoga. Gerakan-gerakannya yang lentur dan gemulai bahkan  menarik hati pemilik Bikram Yoga.

“Saya bilang kalau saya sebenarnya guru. Di LA saya sempat ikut training instruktur 3 bulan,” ujar Mony.

Sayangnya tawaran jadi menejer Bikram Yoga di Sydney tidak bisa dipenuhi. Visa Mony hanya berlaku 2 bulan saja. Singgah di Singapore lagi-lagi Mony mencuri perhatian pemilik Bikram Yoga Singapore. Ia bahkan mau dikontrak 1 tahun untuk mengelola Bikram Yoga Bangkok.

“Lama-lama saya mikir, kenapa saya tidak buka sendiri di Jakarta, bukan kerja dengan orang lain. Dari situ timbul semangat lagi,” ucap Mony dengan mata berbinar.

Sempat ia ditentang Ibunya.

“Saya yakinkan bahwa saya mau kerja 100%,” ujar Mony optimis Berkat pengalaman mengajar di beberapa tempat, ditambah rekomendasi dari guru-gurunya, Yoga@42 Bikram Yoga Studio buka Januari 2005. Hanya 4 bulan sejak kedatangan Mony di Indonesia.

Hari pertama buka Mony menerima 2 orang murid.

“Saya tidak pernah pakai marketing. Akhirnya berkembang pelan-pelan. Bulan kedua masuk televisi terus masuk majalah dan begitu seterusnya. Sekarang setelah 2 tahun, muridnya sudah ratusan,” ujar Mony bangga.

Investasi Organ Tubuh

Kesehatan, kata Mony, adalah investasi jangka panjang.

“Saya 2 tahun kerja, tapi tidak pernah sakit. Padahal dari pagi sampai malam. Padahal kelemahan saya, saya suka makan junk food dan gorengan. Tidak ada pantangan. Bukankah kita mau menikmati hidup,”  kata wanita berkulit putih dan tubuh langsing ini sambil tersenyum.

Kalau organ-organ tubuh bekerja dengan baik, “yang mana nutrisi dia tahan, yang racun-racun diproses dan dikeluarin, tubuh akan selalu sehat.”

“Kita punya investasi di bank. Tapi kita tidak pernah inves di body kita. Bukannya ikut hot yoga hanya karena ingin kurus. Itu memang iya, tapi hanya untuk jangka pendek. Pikirkan yang jangka panjangnya. Dengan hot yoga, semua organ tubuh bisa bekerja dengan baik sampai usia kita 70 tahun,” ucap Mony tegas.

“Tapi kalau kita tidak olah raga,” sesaat Mony terdiam, “10 tahun kemudian tidak apa-apa, atau 20 tahun kemudian baru terasa sedikit-sedikit. Setelah 30 tahun sudah mulai deh organ-organnya tidak bekerja baik. Efeknya memang tidak selalu kelihatan.”

Hot yoga ini hanya terdiri dari 26 gerakan.

“Gerakan dilakukan dua kali dalam kurun waktu satu setangah jam. Ruangan berkisar 38-42 derajat celcius untuk merangsang keringat dan membantu proses detosifikasi,” terang Mony.

Ruang yoga yang panas menjadi bagian efek terapi. Otot-otot jadi lentur, memperkuat jantung serta membantu pembakaran lemak dalam tubuh. Bisa memperbaiki tulang belakang, memperlancar sirkulasi darah, oksigen dan pernafasan. Yang juga bermanfaat adalah menghilangkan stres, rasa cemas dan meningkatkandaya kekebalan tubuh.

Aien Hisyam

*wawancara 18 Januari 2007*

June 21, 2013 Posted by | Profil Olahragawati, Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment

Novita Tandry

Anak 6 Bulan-pun Bisa ‘Sekolah’

 

Urusan anak jangan dianggap sepele. Kalau tidak siap, jangan punya anak dulu.

 

Novita Tandry mengatakan itu dengan tegas. Ia memperkenalkan diri lewat dua kartu nama. Sebagai psychologist, juga Owner Tumble Tots Indonesia.

“Ibu yang baik adalah Ibu yang punya waktu buat anak. Kesannya sederhana, tetapi sangat dalam maknanya,” kata Novi.

Punya waktu yang dimaksudnya, “adalah punya waktu tanda kutip. Bukannya ada disitu tapi yang ngerjain tetap suster atau pembantunya.”

“Ada waktu dalam arti kualitas dan kuantiti. Saya tidak percaya hanya dengan kualitas. Secara percaya ada kualitas dan kuantiti. Yaitu dia ada disana untuk anak dengan pengetahuan yang benar, dan untuk anak ada pengorbanan waktu. Jadi, dimanfaatkanlah waktu sedemikian rupa itu,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Dari Usia 6 Bulan

Pengalaman membuat Novi membeli franchise education.

“Tahun 1993, saya tinggal di Singapura,” kata Novi yang baru menikah dan punya satu anak, Joel Joshua Jovianus. Ia sedih melihat perkembangan anaknya.

“Anak saya pemalu sekali. Tiap ketemu orang ngumpet di belakang saya. Wah gawat banget nih,” kenang Novi.

Joshua ia masukkan ke center education Tumble Tots Singapura.

“Saya lihat perubahan sangat signifikan sekali. Dari yang pemalu, dia jadi berani banget. Sama orang, dia justru berani nyamperin, bilang ‘Hai uncle, hai aunti’. Dia selalu tanya, “what’s your name”. Ini surprise,” ucap Novi.

Wanita yang menikah diusia 21 tahun ini kian bergairah. Pulang ke Indonesia tahun 1994, Novi mencari tempat sejenis. Ternyata tidak ada.

“Yang bikin tempat anak 6 bulan sekolah belum ada. Bahkan sampai sekarang kalau kita tanya orang tua yang baru menikah tentang anak 6 bulan sekolah, pasti mereka bilang, “yang bener 6 bulan sekolah?” seru Novi sambil tersenyum.

“Padahal saya lihat program ini bisa dibawa dan diterapkan ke Indonesia. Knowledge tentang dunia pendidikan anak di Indonesia saat itu zero masih. Kalau sekarang media dan televisi sudah banyak berperan sehinga orang tua mulai tahu betapa pentingnya pedidikan tersebut,” ujarnya.

Padahal, kata Novi, hasil yang kelihatan anak menjadi percaya diri dan merasa di hargai.

“Ini bonding, relasi antara orang tua dan anak. Bagaimana supaya orang tua mengerti bahwa anak usia 0 sampai 5 tahun disebut masa keemasan, dimana di usia itu masa penyerapan terjadi,” kata Novi.

70 Persen Mencontoh

Novi geregetan.

“Kadang-kadang orang tua habis melahirkan setelah 40 hari sudah kerja. Anak dikasihkan ke orang lain. Padahal kepribadian anak dibentuknya di usia 0 hingga 5 tahun sebanyak 70 persen. 30 persen diserap dari lingkungannya. Kadang kita tidak percaya atau bahkan tidak mau tahu,” ujarnya.

Ia ibaratkan air minum. Kalau 70 persen yang dicontoh dan jadi panutan adalah hal-hal negatif dan salah, “anak tidak ada filter, dia akan minum semua air yang kotor itu,” kata lulusan London Montessori International, London.

Sulit sekali Novi meyakinkan orang tua betapa berharganya masa-masa 0 hingga 5 tahun. Ia coba melalui seminar-seminar, talk show hingga menulis sendiri di media cetak.

13 tahun tahun lulusan Psychology, University of New South Wales, Sidney-Australia  ‘berjuang’. Sekarang Tumble Tots Indonesia sudah punya 38 cabang seluruh Indonesia.

Dikejar Hingga 3 Negara

Total hidup Novi untuk anak dan dunia pendidikan. Ia teringat 13 tahun silam berjuang mendapat franchise education.

“Awal-awal tidak dikasih franchise. Mereka bilang saya masih terlalu muda. Masih bocah banget. Mereka juga lihat CV (Curriculum Vitae)-ku, ini anak masih bau kencur. Waktu itu saya masih 21 tahun,” kenang Novi

Buat meyakinkan, Novi berjuang untuk bisa bertemu pimpinan Tumble Tots Asia.

“Saya kejar ke Singapura, dia tidak mau ketemu. Ke Malaysia, dia juga tidak mau ketemu. Dia ke UK (Inggris) dia juga tidak mau ketemu, padahal saya bawa-bawa anak segala. Sampai akhirnya di Singapura lagi, dia mau ketemu. Mungkin juga sudah capek dikejar-kejar,” sesaat Novi tertawa lepas.

Punya center aducation sendiri, “say harus konsekuen mau mengajar sendiri dan terjun kedalam. Untungnya saya memang hobi di dunia anak. Jadi ini anugerah buat saya,” katanya dengan mata berbinar.

Novi juga curahkan semua waktunya untuk kedua anaknya, Joshua dan Joelle Joscelyne Joviana.

“Jarak mereka berdua sangat jauh. Itu karena saya konsentrasi dulu sama yang pertama sampai character building-nya beres dan saya rasa pendampingannya cukup. Bagaimanapun kalau ada anak lagi perhatian akan terbagi. Dan kebetulan waktu itu umurku masih muda,” ujar wanita kelahiran Kendari tanggal 09 Maret 1971.

Ibarat Spon Kering

Dengan bangga, Novi bercerita, Joscelyne atau disapa Jojo, di usianya yang baru ….. sudah bisa bicara bahasa Inggris, Mandarin, dan Indonesia. dengan baik dan benar.

“Belajar bahasa itu harus konsisten dan jangan dicampur biar anak tidak bingung. Saya hanya bahasa Inggris sama dia. Bapaknya hanya bahasa Mandarin dan dengan mbaknya dengan bahasa Indonesia. Dia seperti robot. Kalau misalnya kita berjalan bertiga. Dia tanya pakai bahasa Mandarin, saya tidak akan jawab. Karena dari lahir kita sudah bikin komitmen seperti itu,” ujar Novi.

Novi mengibaratkan anak seperti spon kering.

“Kalau spon kering dimasukkan ke dalam air, ia akan menyerap air masuk kedalam lobang dengan berlomba-lomba. Ibarat komputer, anak sudah pentium lima. Kencang sekali. Nah kalau kita ini spon yang tiga perempatnya basah. Kita sudah terlalu penuh.

Begitupun dengan dunia anak yang ia sebut dunia bermain.

“Kalau kita perhatikan anak usia di bawah 5 tahun, atau anak dibawah 3 tahun, yang bekerja otot-otot besarnya, motorik kasarnya. Menendang, melempar, menangkap. Yang kelihatan itu yang dia siap. Tidak bisa diam. Duduk tidak pernah lebih dari 5 menit. Karena memang dia tidak siap karena dunianya adalah dunia bergerak,” kata Novi.

Sementara buat orang tua, lanjut Novi, bermain adalah dunia rekreasi.

“Tetapi buat anak bermain adalah dunia belajar. Belajar untuk membentuk kepribadian mereka melalui permainan. Itulah konsep yang kami pakai,” ujarnya.

Novi berkeinginan, setiap anak bisa menjadi diri sendiri,

“Bukan karena orang tua kepingin anak jadi apa. Ada pengarahan tiap anak itu satu individu yang berbeda dengan anak yang lain. Individu yang unik dan harus diperlakukan berbeda dengan orang lain. Ini yang biasanya orang tua lupa. Orang tua harus bisa memberikan kebebasan yang terikat. Tetap bisa disiplin, tetap dengan adanya tanggung jawab dan ada aturan main di dalam keluarga. Itu yang sulit,” ujar Novi.

Aien Hisyam

*wawancara 22 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Ratih S.A. Loekito

Bekerja Dalam Hening

Disaat yang lain tertidur pulas, Ratih bercanda dalam belantara. Tidak ada kata malam atau siang. Ia senang akan keheningan. Bekerja demi kebahagiaan orang lain.

 

Duduk di atas puing, Ratih menatap sekumpulan anak yang menangis.  Tsunami dan gempa menimbun semua harapan. Hari-hari wanita ini-pun berubah.

“Di Meulaboh, setiap orang sudah lelah menangis. Sekarang, mereka harus berpijak. Melihat kenyataan, dan bangkit kembali,” ujar Ratih suatu hari.

Peluh membasahi wajah. Terik matahari sudah berhari-hari membakar kulitnya. Ratih tetap ayu dalam kelelahannya.

Wanita Modern

Dibawah bendera Tanoto Foundation, Ratih masuk kedalam wilayah-wilayah terkena musibah gempa dan tsunami. Ia hanya dibantu segelintir orang.

“Hanya sebulan sesudah musibah kita bergerak. Kita kumpulkan orang-orang untuk membantu. Kita bangkitkan semangat hidup mereka. Bangun kembali yang tersisa. Bahwa hidup itu terus berjalan,” kata Ratih di suatu siang, di warung kecil dekat pelabuhan udara kota Meulaboh-Aceh.

Wanita bersuara lirih, ramah, dan hangat, berbulan-bulan ‘berkantor’ di kota kecil yang porak poranda. Profesi menempatkannya di tengah-tengah warga yang haus masa depan. Hasilnya, satu Sekolah Dasar berdiri megah. Lengkap dengan sarana dan prasarana.

Tidak berhenti disitu. Direktur Eksekutif Tanoto Foundation ini kembali berjuang di Pulau Nias. Berbulan-bulan ia ber‘kantor’ di pulau terpencil.

Setiap malam, Ratih dan beberapa temannya bercengkrama dalam sepi. Kadang dalam gelap. Itu membuatnya semakin merasa memiliki.

Ratih, wanita Jakarta modern. Di balik segala yang gemerlap, ia sering merasa ingin mencari tempat sunyi dan jauh dari hiruk pikuk. Di tempat-tempat ini ia merasa menjadi diri sendiri. Ia bukan Ratih yang memimpin sebuah yayasan besar. Ia juga bukan Ratih yang sejak pagi hingga malam sibuk dengan urusan meeting atau menerima tamu-tamu penting.

Di Pedalaman Kalimantan

Lulusan Intistitut Teknologi Bandung jurusan Pertambangan ini senang travelling.

“Sebelumnya, saya di LSM Dana Mitra Lingkungan. Sebenarnya antara keduanya tidak ada kaitan sama sekali. Tetapi ada benang merahnya. Di tempat kerja yang lama, kita sering melakukan edukasi ke masyarakat dan anak-anak sekolah, agar lebih aware dengan lingkungan sekitar,” kata wanita bernama lengkap Ratih SA Loekito.

Tahun 2005 ia bergabung di Tanoto Foundation, yayasan milik pengusaha Soekamto Tanoto yang fokus di dunia pendidikan. Alasan Ratih, ia sedih melihat SDM di Indonesia masih lemah di sisi pendidikan.

Pernah Ratih masuk ke pedalaman Kalimantan Timur. Ia sedih. Dilihatnya pendidikan anak-anak suku pedalaman jauh tertinggal.

“Saat itu saya sedang lakukan kegiatan berorentasi pada lingkungan. Masuk ke sekolah-sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Kalau hal yang berkaitan dengan lingkungan harus dipupuk dari kecil. Tidak bisa ujuk-ujuk setelah dewasa. Kalau masih kecil pelan-pelan sudah tertanam lama-lama, maka jadi kebiasaan,” kata Ratih.

Ratih juga singgah ke Kabupaten Kutai Barat. Tempat yang sangat terpencil.

“Bangunan fisik sekolahnya memprihatinkan. Level SMA tapi tidak punya laboratorium. Kendalanya selalu klasik, masalah dana. Kalau saya bilang, oke masalah dana iya, tapi kita tidak boleh tergantung oleh dana saja, kita harus kreatif dong. Dimana dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa mengajar dengan tepat dan benar. Sebenarnya alam bisa mengajarkan banyak hal pada kita untuk belajar dan berpraktek,” kata mantan asisten dosen ini.

Lain kisah di Mahakam. Di satu pulau kecil, “Saya lihat satu SD dan SMP gurunya hanya 2 orang. Suami istri pula. Dia ngajar anak-anak dari pagi sampai siang. Sabtu pagi mereka ke ibukota kecamatan untuk ketemu keluarganya. Anak-anak si pasangan ini di ibukota kecamatan,” cerita Ratih.

Untuk menuju pulau itu, Ratih naik boat atau ketinting selama 2 jam.

“Nah, kita bisa lihat bagaimana mereka jadi guru demikian sengsaranya. Dedikasinya dan kesetiaan pada profesinya mau berkorban,” ujar wanita kelahiran Pangkal Pinang, 7 April 1963.

Tak Peduli Jabatan

Di Tanoto Foundation Ratih bisa leluasa mengeluarkan semua kontribusinya untuk dunia pendidikan.

“Seperti motonya, reducing poverty, advancing human achievement dimana diharapkan dengan makin meningkatnya SDM akan memerangi tingkat kemiskinan. Kalau kita makin pintar kita akan survive dalam hidup,” katanya.

Ibu satu putri, Audrey A. Cr. Van Waardenburg ini tak segan turun ke lapangan.

“Kayaknya saya merasa lebih nyaman terjun langsung. Kalau ada konsep lebih sreg saya harus ikut realisasinya. Kalau saya ikut, disitu saya jadi tahu mana-mana saja yang harus dikoreksi dan ditingkatkan lagi. Gatal saja,” Ratih tertawa lepas.

Ia bukan tipe wanita belakang meja. Rela berhari-hari di tempat terpencil.

“Dari dulu saya tidak pernah peduli jabatan. Yang lebih aku pentingkan, kalau kita membuat sesuatu yang benar, kita harus bisa terjun. Sehingga kita tahu kondisi di lapangan. Saya rasa tidak ada yang istimewa, yang penting segala sesuatunya lancar,” katanya bijaksana.

Di tempat itu, istri Budhy Ch. Van Waardenburg bisa menemukan keseimbangan hidup.

“Di Jakarta, orang-orang sangat konsumtif dan materialistik. Segala sesuatu dinilai dengan uang. Kalau kita ke daerah-daerah, kita disadarkan bahwa uang bukan segalanya. Banyak cara lain yang bisa diraih untuk membahagiakan diri kita,” kata Ratih lagi.

Kontemplasi Sisi Kehidupan

Wanita ini sering merenung. Betapa beruntung dirinya.

“Di sana (daerah terpecil) kita melihat masih banyak orang yang kurang beruntung,. Mereka cukup kuat dengan hal yang sederhana. Bisa bahagia dan kita juga melihat bahwa segala sesuatu tidak dilihat dari sisi materi. Pemikiran mereka amat sangat sederhana, tidak njlimet. Yang penting keluarga bisa cukup makan dan anak bisa sekolah,” komentarnya.

Dalam kesunyian alam pedesaan, Ratih melakukan retrait, “juga kontemplasi melihat bagaimana sisi kehidupan orang selain yang biasa kita temui di Jakarta. Saya pernah ke Sumbawa, Lombok, seputar Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan Utara. Pedalaman di Sumatera. Kita 3 bulan di pedalaman Bengkulu.  Juga ke Kutai Barat, Kutai Timur dan di Kertanegara,” kisahnya.

Bagi anak sulung Loekito Rekso Sumitro, petinggi di Dirjen Pertambangan, setiap orang perlu peyeimbang hidup. Caranya, melebur denagn alam dan masuk dalam kehidupan pedesaan.

“Coba dulu, dan rasakan. Disana, kita akan temukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujarnya dengan senyum.

 

Aien Hisyam

*wawancara 15 Desember 2006*

June 21, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pecinta Lingkungan, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment