Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Woro Indyas ADT

Dicurhati Ibu ‘Bermasalah’

 

Woro bukanlah yang pertama. Namun, ia menjadi pendeta wanita termuda yang menikah dan punya anak.

Di ruang kerjanya yang dingin, di GKI Kebayoran Baru, Woro mengatakan, menjadi pendeta wanita itu tidak mudah.

“Ia harus bisa membagi waktu. Separuh untuk hidupnya, separuh lagi untuk Jemaatnya,” kata Woro Indyas Adriyanta Dewi Tobing.

Kalaupun Woro memilih jadi Pendeta, “Itulah pilihan hidup.”

Pergumulan Hidup

Usia Woro masih 27 tahun ketika ia ditasbih menjadi pendeta termuda di GKI Kebayoran Baru kala itu.

“Memang waktu saya masuk, sudah ada satu pendeta wanita. Dia memaksakan diri untuk tidak menikah. Dan kondisi saya waktu masuk kesini, juga ada harapan tidak menikah,” ungkap Woro.

Ditambah lagi, Ibunya berpesan, sebaiknya pendeta wanita  tidak menikah agar semua perhatiannya untuk Jemaat.

”Ini memang berkaitan dengan tugas-tugasnya,” lanjutnya.

Seperti judul skripsi S1-nya “Ketidakseimbangan Gender Dalam Hidup Bergereja’, Woro akhirnya menikah.

“Menjadi pendeta wanita saja tidak mudah, apalagi harus memilih untuk menikah. Terus terang, inilah pergumulan di dalam hidup saya. Saya berdoa, saya berharap, Tuhan, siapapun wanita pasti berkehendak untuk menikah. Tetapi jika Engkau menunjukkan bahwa itu tidak sesuai kehendak-Mu, beri kekuatan saya bisa menerima itu. Tetapi kalau saya boleh ngomong dan meminta kepada Tuhan, justru saya ingin membuktikan. Bahwa menjadi pendeta wanita yang menikah tetap bisa membagi waktu. Tinggal memenej waktunya saja dan melengkapi dirinya dengan kemampuan yang bisa mengatur semuanya dengan seimbang,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 22 Januari 1973.

Sejak menikah tahun 2002, Woro dihadapkan pada peran ganda.

“Kita melayani jemaat ini sebagai keluarga saya, dan saya punya keluarga inti yang harus saya layani. Dari situ saya membuktikan, kenapa wanita selalu diragukan, kanapa laki-laki tidak. Karena pola pikir kita masih terbentuk bahwa tugas-tugas rumah tangga hanya wanita. Enggak laki-laki. Ini menurut saya membuat laki-laki merasa tugasnya hanya di luar rumah, dirumah dia dilayani. Pola pikir ini dalam kemitraan kita, dalam kesetaraan kita, bahwa di dalam rumah tangga kita bisa bekerja sama-sama,” tegas Woro. Komitmennya, jadi pendeta adalah menjawab panggilan Tuhan.

Galau Dua Hati

Dari 6 pendeta di Indonesia, hanya ada 1 pendeta wanita. Woro-pun menjawab ‘panggilan’ itu.

“Ibu saya janda, bapak meninggal karena sakit jantung. Saya umur 2 tahun kakak perempuan saya 7 tahun. Ibu berketetapan membesarkan hanya seorang diri. Ibu merasa telah mengantarkan kami menjadi seorang anak yang dewasa, bisa seperti ini karena pemberian Tuhan. Dalam perenungan Ibu, kalau Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada dirinya, saya dan kakak saya, maka apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan,” kenang Woro.

Woro akhirnya memilih masuk ke Sekolah Tinggi Theologi Jakarta. Lulus kuliah tahun 1995, Woro menjadi guru agama di BPK Penabur selama 2 tahun.

“Saat itu ada panggilan pendeta di seluruh DKI. Saya dipanggil oleh Jemaat ini,” ujar Woro.

Sempat hatinya bimbang. “Tapi saya ingat dalam buku bacaan Dietrich Hovver, menurut dia, seseorang bergumul dalam panggilan-Nya, pergumulan itu tidak terlepas dari yang disebut Gereja. Kiranya saya harus menjawab panggilan ini.”

Tak hanya Woro. Ibunya, Kis Setyowarsi, juga memiliki kegalauan yang lain.

“Ibu takut kalau nanti saya akan diomongin orang. Setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan. Kalau orang omongin kekurangan apakah saya akan siap? Saya minta Ibu saya bantu berdoa. Dan saya menjawab panggilan itupun juga belum pasti. Saya harus menjalani masa pemanggilan, masa orientasi yang semuanya harus dilalui selama 2 tahun,” ujar Woro.

Pertengahan tahun 1997 Woro resmi dididik menjadi pendeta.

5000 Jemaat

Banyak tugas yang harus dikerjakan Woro. Utamanya, ia harus memberikan kotbah setiap minggu dalam kebaktian minggu. Setiap hari, ia terlibat dalam pelayanan pada Jemaatnya.

“Perlawatan ke orang sakit, perlawatan ke orang-orang yang sedang bergumul, juga memimpin kebaktian kalau ada yang meninggal atau yang menikah, juga melayani jam konseling, itu yang paling banyak. Persoalannya sangat membuat kita bergumul bersama mereka. Suka duka mereka serta masalah-masalah yang sangat complicated,” kata Woro.

Awalnya, Woro yang baru berusia 27 tahun mengaku tidak siap. Ia harus bisa meyakinkan para Jemaatnya yang berusia jauh di atasnya. Di komunitas dalam Gerejanya, ia juga harus bisa membawa diri, berbaur dengan 7 pendeta lainnya yang telah berusia diatas 40 tahunan.

“Saya disadarkan, bahwa memang kita tidak pernah siap, tetapi disiapkan oleh Tuhan,” tukasnya.

Dan memang secara psikologis, lanjut Woro, tidak mudah menjadi pendeta ‘belia’.

“Kalau dulu mereka adalah pendeta saya, bahkan ada 2 pendeta yang juga dosen saya di STT Jakarta, dan sejak itu disini kita menjadi kolega, justru saya merasakan karena kita sudah kenal, jsutru kita diperlengkapi oleh mereka. Kita justru banyak belajar,” kata Woro.

Woro mendapat tugas menjadi Pendeta Wilayah, melayani dua gereja di wilayah 4 meliputi Kemang dan sekitarnya, juga di wilayah 10 meliputi Pasar Minggu, Depok dan sekitarnya. Setiap gereja terdapat sekitar 11 ribu hingga 12 ribu Jemaat yang terdaftar, atau sekitar 5000 jemaat yang masih aktif. Ia harus siap 24 jam bila mendapat panggilan dari Jemaatnya.

Uniknya, setelah menikah, Woro punya Jemaat ‘khusus’.

“Di GKI Kebayoran Baru, baru saya yang menikah. Memang antara harapan dan menyelaraskan keingin mereka, selalu diukur. Disitu saya juga melewati pergumulan, suka dan duka. Memang orang punya kelebihan dan kekurangan. Ternyata setelah menikah, jemaat yang konseling lebih banyak wanita yang menikah. Itu juga menjawab pasangan-pasangan muda. Kita bisa sharing dan curhat. Bahkan kita punya gereja Katolik dan tetangga, mereka datang konseling ke saya karena dia tahu disini ada pendeta wanita yang menikah,” lanjut istri Raguel Pringgada Tobing dengan nada bersemangat.

“Saya merasa ini (pendete wanita yang menikah) adalah kendala budaya. Kita sudah terbentuk pada budaya-budaya partiakat. Keluarga mereka sudah terbentuk pada budaya seperti ini. Kalau pernikahan, masih ada yang tidak mau dipimpin pendeta wanita. Begitupun kebaktian. Karena menurut saya, tentang kemampuan, pastilah Tuhan sudah perlengkapi kita masing-masing dengan apa yang ada. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan,” ujar Woro bijaksana.

 

Aien Hisyam

*wawancara * Desember 2006*

June 17, 2013 - Posted by | Kisah, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: