Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Vivi Vinata Guizot

Operasi Penuh Cinta

Bagi Vivi, bahagia adalah, ketika suatu hari pasien-pasiennya bisa tersenyum lagi, punya semangat hidup dan meningkat kualitas hidupnya.

 

Anak itu baru 9 tahun. Separuh wajahnya rusak akibat luka bakar. Vivi tertegun.

“Ya Tuhan, semoga usaha ini berjalan dengan lancar,” Vivi berdoa dalam hati. Doa yang sama, yang selalu ia ucapkan ketika tangannya mulai memegang pisau bedah.

Setelah dua kali operasi, pasien kanak-kanaknya itu mulai ‘berubah’. Wajahnya kembali normal.

“Kemarin, dia bilang, ‘dokter, terima kasih,” suara Vivi terdengar haru, “dan kalau tidak ada halangan, satu kali operasi lagi wajahnya sudah pulih kembali. Seperti sediakala.”

Menjadi Normal

Sejak kecil, Vivi bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah plastik. Bukan karena penghasilannya yang besar. Dan bukan pula karena jumlah dokter bedah plastik di Indonesia yang sangat sedikit.

“Waktu SMA, saya perhatikan kakak saya ada kekurangan sedikit di wajahnya. Matanya kecil satu,” kenang Vivi Vinata Guizot. Saat itu ia masih kelas 2 SMP.

Hatinya sedih melihat kakak perempuannya sering mengurung diri, enggan bertemu orang lain, dan selalu menghindar bila disapa.

“Terus, sekitar tahun 1989, dia dioperasi plastik di Singapura. Setelah operasi, dia percaya diri sekali. Kepribadiannya jadi sangat menarik dan bisa bergaul dengan normal,” lanjut Vivi.

Sejak itulah Vivi bertekad memperdalam ilmu bedah plastik.

“Saya ingin mengembalikan yang tidak normal menjadi normal, sampai jiwanya juga kembali normal. Yang tadinya pemalu, setelah normal, self esteem-nya meningkat. Itu yang jadi alasan kuat saya kenapa memilih jadi dokter bedah plastik,” kata Vivi yang Ayahnya juga seorang dokter di Bali.

Punya Sense of Art

Hingga kini, jumlah dokter spesialis bedah plastik di Indonesia hanya berkisar 50 orang.

“Itupun tidak menyebar dengan merata. Ada bagian yang tidak ada dokter plastik. Sebagian besar ngumpul di Jakarta. Padahal, banyak yang membutuhkan dokter plastik,” kata wanita kelahiran Denpasar tanggal 15 Juli 1974.

Untuk memperdalam ilmu bedah plastik-pun, di Indonesia hanya tersedia dua Universitas saja. Di Universitas Airlangga (Unair) dan di Universitas Indonesia (UI).

Barulah setelah lulus SMA Negeri 1 Bali, Vivi melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Unair. Lulus tahun 1998, ia masih mengikuti PPT di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Setelah itu saya coba-coba mendaftar ke spesialis bedah plastik. Tesnya susah sekali, karena kita sangat kompetitif. Waktu itu dari 16 orang yang diterima hanya 2 lulus tes. Tes-nya di UI. 16 orang itu sebenarnya juga dari proses penyeleksian yang ketat. Bisa jadi yang daftar ratusan,” Vivi menerangkan.

Banyak tes yang harus dilalui. Mulai dari tes pengetahuan, tes menggambar proporsi wajah orang, menggambar perspektif, psikotes, hingga wawancara.

“Kita (dokter bedah plastik) harus punya sense of art. Bisa menggambar dari depan, samping kanan dan kiri. Karena, sebelum dokter melakukan pembedahan, dia harus bisa menggambar bentuk wajah dan badan dengan baik,” ujar wanita yang tengah hamil 5 bulan.

Luruskan Kaki Bengkok

Tugas pertama Vivi di awal kuliah adalah mengoperasi bibir sumbing di RSCM.

“Pasienku, dua-duanya perempuan. Umur 4 tahun dan 6 bulan. Awalnya, deg-degan juga. Tapi setelah berdoa, dan semua berjalan dengan lancar, syukurlah, akhirnya bibir mereka bisa puilh kembali. Bahkan terlihat normal. Operasinya cuma setengah jam sampai 45 menit, tapi bisa merubah hidup orang luar biasa,” ungkap Vivi.

Vivi jadi ‘ketagihan’ mempercantik wajah orang. Setiap ada ajakan mengoperasi bibir sumbing, tidak pernah ia tolak.

“Saya senang merubah dan merawat pasien. Dari yang jelek banget sampai di operasi, jadi cantik. Ada juga yang kakinya bengkok karena luka bakar, saya rawat sampai lurus lagi. Itu luar biasa,” ujar Vivi dengan nada bahagia.

Sikap keluarga pasien yang sangat apresiasi, juga membuat Vivi semakin cinta pada pekerjaanya.

“Keluarga pasien sangat apresiet. Bahkan sampai bertahun-tahu masih ingat sama aku. Luar biasa. Kadang-kadang mereka mampir ke RSCM hanya untuk say hello. Mereka bilang kalau sekarang anak mereka sudah bagus, sudah cantik. Saya menyelamatkan quality of life seseorang. Wah senang sekali,” katanya.

Banyak ilmu yang kini tengah dipelajari Vivi.

“Sebagai dokter pemula, ia harus bisa cangkok kulit. Misalnya ada luka yang besar dan lebar, ia harus bisa menyeset kulit tipis sekali dari paha sebelah, nempel di sebelahnya. Terus operasi bibir sumbing yang sederhana. Itu yang pertama kali harus dikuasai. Setelah itu mulai deh rekonstruksi-rekonstruksi yang lebih sulit,” ujar Vivi.

Kelak, ia harus bisa melakukan bedah plastik yang tingkatannya sangat tinggi. Seperti operasi face off yang dilakukan dokter-dokter senior pada Dini di Bandung.

“Itu tahap yang paling tinggi. Di Indonesia hanya sekitar 3 dokter saja yang bisa lakukan bedah mikro. Tak hanya sekedar menempel. Dokter harus bisa menyambung semua pembuluh darah supaya barang yang baru ditempel itu dapat nutrisi. Kalau nggak kulit akan mati, kering dan tidak ada berfungsi lagi. Syaraf juga disambung supaya nantinya dia bisa gerak. Itu operasi yang luar biasa,” kata wanita yang hobi diving dan surfing.

Mancungkan Hidung

Vivi justru tidak tertarik memasuki wilayah bedah estetik, walaupun lebih ‘menguntungkan.

“Karena orang yang sudah normal pingin menjadi lebih cantik lagi. Kasusnya paling sering di Indonesia mata dan hidung. Hidung orang Indonesia itu kan tidak mancung. Umumnya mereka ingin dimancungkan. Juga Matanya oriental itu kan sipit. Banyak yang pingin digedein,” ujar Vivi.

Bedah yang ingin Vivi tekuni adalah bedah rekonstruksi.

“Misalnya bedah trauma wajah. Patah-patah tulang wajah. Rahang patah beberapa tempat. Atau patah frame-nya mata, juga tulang hidung. Itu operasinya sangat luar biasa. Artistik sekali. Wajah dibuka dan disusun lagi satu persatu. Itu salah satu operasi besar di bidang bedah plastik. Buatku sangat menantang,” kata Vivi yang kini bekerja di RSCM Jakarta. Kelak ia berencana pindah ke Bali untuk mengabdikan hidupnya sebagai dokter bedah plastik di tanah kelahirannya.

Aien Hisyam

 *wawancara 25 September 2006*

June 17, 2013 - Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: