Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Rini Hariyani

Saya Pengemis Intelektual

 

Festival Wayang ASEAN I di TMII minggu lalu membuat Rini ‘sesak nafas’. Capek, senang, bangga, kecewa, campur aduk dalam hatinya.

 

Tinggi sekali impian Rini. Idealnya, kata wanita bertubuh mungil ini, Indonesia bisa menjadi pusat kebudayaan wayang dunia.

“Nyatanya, semua orang kagum dengan koleksi yang ada di museum kita. Jangan berkecil hati. Percaya diri saja, toh kita sudah diakui dunia,” kata Rini. Sejak tahun 1999, ia menjabat Kepala Museum Wayang.

Rini memang sangat percaya diri. Tidak sia-sia. Buktinya, berkat kerja keras dan kecintaannya pada wayang, untuk pertama kalinya Indonesia bisa jadi tuan rumah festival wayang yang diikuti puluhan negara.

Karir Minim Peminat

Sempit, kuno, jadul (jaman dulu), dan ‘gelap’. Itulah anggapan miring tentang keberadaan Museum Wayang yang ada di daerah Jakarta Kota.

“Jangan hanya dilihat dari fisik luarnya. Masuk dulu kedalam. Liha isinya. Kita akan cinta kalau kita kenal lebih dekat lagi,” ujar Rini Hariyani.

Rini juga senang memposisikan diri sebagai PR (Public Relation). Bahkan, kalau saja waktunya longgar, tanpa canggung, ia sempatkan diri menemani tamu-tamu yang berkunjung ke museumnya.

“Tak apalah jadi guide. Justru itu buatku sangat menyenangkan. Kita tahu keinginan mereka, berbagi cerita sekaligus bernostalgia,” ungkap Rini dengan wajah cerah.

Mengapa Rini antusias menggeluti dunia wayang? Tak lain karena keinginan masa kecilnya. “Waktu itu saya tanya ke kakak ipar yang sedang ambil S2 di Honolulu. ‘Jurusan apa ya yang bisa bikin saya bisa keluar negeri?’ Dia bilang ‘ambil saja jurusan budayamu sendiri’. Makanya begitu lulus saya ambil jurusan Sastra Jawa UI,” cerita Rini.

Rini sadar jurusan yang ia pilih sangatlah tidak populer. Toh, dia tetap bersemangat.

“Karena sejak awal, saya memang cinta wayang. Lewat wayang saya diajarkan banyak hal, mulai dari filsafat wayang, karakter tokoh-tokoh wayang, dan sebagainya,” ujar Ibu dua anak ini. Bahkan berkat wayang pula Rini bisa beberapa kali keliling Eropa membawa misi budaya wayang Indonesia.

Rini lahir di Solo tanggal 10 Desember 1950. Oleh orangtuanya yang masih berdarah Mangkunegaran, setiap bulan sekali Rni yang masih kanak-kanak selalu diajak menonton pagelaran Wayang Orang di Sriwedari. Saat masih kuliah, setiap tanggal 1 Suro, mau tidak mau Rini harus menonton Wayang Kulit semalam suntuk. Kewajiban yang harus dijalani sejak masuk kuliah sampai lulus.

“Makanya, ibaratnya duplikasi bahasa, saya makin cinta dengan wayang. Di Museum Wayang, saya juga jadi sering nonton wayang semalam suntuk. Kantor jadi rumah kedua saya. Cinta sekali,” kata Rini. Skripsinya juga mengupas filosofi wayang, tentang tokoh Adipati Karno.

Jadi Karya Agung

Rini selalu ingin mengukir prestasi. Satu keberhasilan yang membuat wanita ini bangga adalah mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan atau Wayang Revolusi milik Indonesia yang sudah 40 tahun lebih disimpan di Museum Rotherdam, tahun 2005 lalu.

“Sejak menjabat (jadi Kepala Museum Wayang), saya selalu berjuang dapatkan tambahan koleksi dengan cara pembelian juga meminta sumbangan entah dari tamu beberapa negara, atau dari indonesia sendiri. Ada istilah, saya ini pengemis intelek. Karena mengemisnya untuk Museum bukan untuk koleksi pribadi. Kebetulan yang membuat saya bangga, yaitu berhasil mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan milik kita yang dibuat Raden Mas Sayid dari Mangkunegaran,” ujar Rini bangga.

Selain itu, lanjut Rini, “bangsa Indonesia boleh bangga karena sejak tanggal 7 November 2003 wayang Indonesia sudah diakui dunia melalui lembaga Unesco menjadi salah satu karya agung budaya dunia di antara 28 budaya dunia. Bangga dong. Ternyata Indonesiapun punya budaya yang begitu agungnya. Nah, sekarang yang sedang dirintis adalah keris supaya diakui sebagai budaya agung.”

Satu hal yang disesalkan Rini, wayang Indonesia justru lebih populer di mancanegara ketimbang di negara asalnya.

“Justru selama ini mancanegara yang lebih tahu keberadaan museum wayang ketimbang masyarakat Jakarta. Jadi, wajar saya kalau target utama saya adalah ingin membuat wayang tak hanya mendunia. Tapi juga men-Jakarta, dan meng-Indonesia. Saya juga ingin generasi muda kita bangga dan mencintai wayang. Makanya saya undang anak-anak siswa belajar gamelan dan buat wayang disini. Jangan sampai kita belajar dengan orang asing. Jangan sampai kebakaran jenggot kalau itu sudah lebih dicintai orang asing,” ujar Rini sungguh-sungguh.

Rini bercerita tentang pengalamanya saat berkunjung ke KBRI Perancis di Paris. “Disana, yang latih gamelan justru orang Perancis,” suara Rini terdengar kesal.

“Jangan sampai generasi muda kita belajar budaya dengan orang asing. Dulu bahkan kita mau ambil S2 Sastra Jawa harus ke Leaden. Karena literaturnya ada di Leaden semua. Syukurlah, sekarang mereka yang pernah ke Leaden menularkan ilmunya di Indonesia,” kata Rini lagi.

Belajarlah Lewat Wayang

Di dalam wayang banyak sekali yang bisa diambil hikmahnya.

“Kita bisa bercermin lewat setiap peristiwa yang terjadi di dunia wayang. Seperti di kehidupan sehari-hari. Didalamnya ada tokoh baik dan buruk. Dan  juga tidak mungkin manusia hidup tanpa susah. Pasti ada lawannya. Ada susah, pasti ada senang. Kayaknya wayang ini benar-benar personifikasi dari kehidupan kita yang harus bisa kita ikuti,” kata Rini.

“Bahkan sampai sekarang masih banyak orang tua yang beri nama anaknya dengan nama-nama wayang. Misalnya Wibisono, Kresna, Abimanyu. Karena ortu berharap anaknya punya karakter seperti tokoh itu. Tapi jarang yang beri nama Burisworo. Itu kan tokoh jelek,” lanjut Rini.

Rini bersungguh-sungguh mengajak siapa saja yang ia temui untuk mencintai wayang. “Karena banyak sekali manfaatnya. Ajak anak menonton pagelaran wayang. Ajak keluarga datang ke museum wayang. Bahkan, temani anak-anak belajar membuat wayang, berlatih gamelan, dan bercerita tentang cerita-cerita pewayangan,” kata Rini.

Tidak perlu bingung bagaimana memulainya. Kata Rini, “sekarang sudah banyak diterbitkan komik-komik wayang. Bahkan ada VCD dan DVD tentang cerita wayang. Ada juga DVD wayang orang yang dikeluarkan grup Sekar Budaya Nusantara miliknya Ibu Nanik Sudarsono.”

“Karena orang baru sadar dan mulai cinta budayanya justru setelah pergi ke luar negeri. Begitu di luar negeri dia disuruh tampil, disuruh cerita, apa budayamu yang paling menarik? Tolong ceritakan ke kita, mereka gelagapan. Itu karena masyarakat kita belum bisa menghargai karya-karya leluhur kita,” lanjut Rini bersemangat.

 

Aien Hisyam

*wawancara 1 Desember 2006*

June 17, 2013 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: