Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

June 17, 2013 - Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: