Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Ratu Atut Chosiyah

Satu Tahun Yang Menyesakkan

Kartu nama putih dihiasi lis warna keemasan -senada dengan warna gambar burung Garuda dan tulisan ‘Gubernur Banten’- di letakkan Atut di atas meja.

“Pelantikan baru dilaksanakan 11 Januari besok,” kata Atut sambil tersenyum.

Tetapi,  sejak awal Desember lalu, Atut sudah menjadi orang nomor satu di Banten. Ia menang mutlak atas dua pesaing lainnya. Dan Atut berhak mencantumkan nama beserta ‘status’ barunya di kartu nama itu.

“Doakan saja ya, semoga bisa amanah,” kata wanita bergelas Sarjana Ekonomi ini lagi.

 

SMA Jadi Pengusaha

20 tahun Atut menjadi pengusaha. Sejak tahun 1981 hingga 2001, setahun sebelum ia dillantik jadi Wakil Gubernur Banten.

“Jadi sudah 20 tahun saya bergelut di dunia enteprenuer. Dan saya berkeinginan bisa berbuat yang terbaik untuk tanah kelahiran saya, Banten. Oleh karena itu pemilihan 2001 saya manfaatkan sekali,” kata Atut penuh semangat.

Atut mengaku berjuang sendiri. Paling tidak, ia juga melihat latar belakang orang tuanya yang juga pengusaha.

“Saya TK sampat SD di Banten, baru SMP saya di Bandung. Di Bandung saya mandiri. Saya usaha sendiri. Saya hanya minta masukan pada orang tua, tetapi saya lakukan sendiri semuanya,” ujar Atut.

Atut yang saat itu masih kelas 3 di SMA 12 Bandung mengurus sendiri semua surat dan berkas-berkas perusahaan.

“Usaha kecil-kecilan, seperti pengadaan ATK (alat tulis kantor), suplai beras, dan sebagainya, yang sifatnya pengadaan. Dan Lama-lama kontruksi dan lain-lain,” kata Atut.

Sukses jadi pengusaha, Atut ingin berbagi kesuksesan di pemerintahan.

“Jadi, ini (keputusannya terjun ke politik dan birokrasi) murni keinginan saya. Saya berpikir, wilayah mana yang bisa saya masuki untuk memberikan terbaik untuk Banten setelah jadi Propinsi. Yang sifatnya subjek bukan objek. Dari situ saya sampaikan ke suami dan keluarga. Awalnya mereka sepintas menanggapi dingin-dingin saja, karena saat itu mereka tahu, saya ini sedang betul-betul menikmati kesuksesan saya di dunia usaha,” kenang istri Drs H. Hikmat Tomet.

Pro dan Kontra

Pencalonan Atut langsung menuai pro kontra. Beberapa ulama menolak perempuan di provinsi yang saat itu baru saja dimekarkan. Alasan penolakan, didasarkan kapasitas perempuan yang tidak boleh menjadi imam, sehingga tidak boleh menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah.

Atut mengaku sedih. Anggota Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi  Banten ini sampai menitikkan air mata di tengah-tengah perenungan atas kodradnya. Apakah itu menjadi alasan dia tidak boleh memimpin? Sesaat, penolakan ini  membuat nyalinya ciut.

“Tetapi, tidak semua ulama atau pemimpin pesantren berpandangan demikian. Ada pemimpin pesantren yang sangat tradisional, bahkan mesjidnya diharamkan menggunakan pengeras suara, justru tidak menyetujui pandangan yang menolak kepemimpinan perempuan. Pemimpin pesantren ini juga mengutip salah satu ayat Al-Quran, yang menyatakan bahwa Islam tidak menolak kepemimpinan perempuan,” tutur angggota Angkatan Muda Siliwangi Propinsi Banten ini tegar.

Semangat Atut muncul lagi. Ternyata, waktu berpihak padanya. Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Provinsi Banten ini berhasil menjadi Wakil Gubernur Provinsi Banten pertama di bawah kepemimpinan Gubernur H. Djoko Munandar.

“Derajat seseorang, tidak ditentukan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi amal ibadahnya,” katanya.

Under Estimate Orang

Atut menyadari masih ada orang-orang yang memandang rendah pada kemampuannya.

“Tapi saya tidak pernah memikirkan sampai situ walaupun saya tahu ada orang yang under estimate pada kemampuan saya. Pada akhirnya mereka akan menilai kinerja yang telah saya lakukan. Itu prinsip saya. Saya tidak mau pusing dengan apa kata orang. Tetapi bukan berarti saya tidak peduli. Kalaupun ada kritik saya anggap sebagai masukan dan introspeksi buat saya. Tetapi terhadap yang mencibir saya anggap sebagai cambuk saja, bukan sebagai pikiran,” kata lulusan Akuntansi Perbankan ini.

Terbukti, banyak gebrakantelah dilakukan Atut selama 5 tahun menjadi Kepala Daerah. Salah satunya Perda yang ia buat untuk pemberdayaan Perempuan Banten.

“Isinya, tentang alokasi anggaran 20 persen dari setiap program satuan kerja perangkat daerah, dinas biro, badan, harus dialokasikan untuk yang terkait dengan sentuhan pada hal-hal yang dibutuhkan perempuan. Tidak hanya di lingkup perempitah Provinsi, tapi juga dilakukan pemerintah Kabupaten Kota,” kata Peraih Anugerah Citra Kartini tahun 2003 ini

Atut turun langsung mensosialisaikan perda tersebut. Dan sudah di realisasikan, salah satunya lewat PKK.

“Mereka betul-betul melakukan pembinaan sampai ke tingkat terendah di desa-desa. Pembinaan dilakukan oleh ibu-ibu istri pejabat. Termasuk bergabung dengan BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita). Sekaragn ada 50 organisasi perempuan di Banten yang masuk BKOW. Tujuang membina kaum perempuan. Itu program saya waktu jadi Wakil Gubernur. Dan akan terus di kembangkan setelah saya jadi Gubernur,” tegas Atut.

Bukti lainnya, meski usia Provinsi Banten masih 5 Tahun, lewat Pendapatan Asli Daerah sudah menduduki peringkat 6 dari 33 provinsi di Indonesia.

“Ini sukses bersama,” ujar Atut merendah.

Sudah Jadi Takdir

Ternyata satu tahun silam, Atut hampir-hampir tidak bisa ‘bernafas’.

“Sejak Oktober 2005, saya diangkat jadi Pelaksana Tugas Gubernur karena Pak Gubernur sedang berhalangan. Disitulah saya betul-betul harus menjadi seorang pemimpin yang selain melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Wakil, tetapi saya pun harus bisa menggantikan tugas dan fungsi Pak Gubernur,” kata Atut.

“Awalnya”, katanya lagi. “Saya kaget. Saya sempat merenung, karena saya memang tidak berharap. Saya berharap bisa menyelesaikan sampai 5 tahun bersama Pak Gubernur,” ujar Atut sungguh-sungguh.

“Itu sudah jadi takdir saya. Saya menjalankan tugas dan fungsi saya sebagai Kepala Daerah. Yah double. Setelah saya renung sesaat, saya harus tegar. Dan disitulah saya mempersiapkan diri untuk selalu sehat. Harus bekerja keras. Saya harus mempelajari semua program yang sudah ada. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Akhir tahun ini sudah selesai semua tugas dan kewajiban kita,” lanjut Atut.

Permintaan Ananda

Atut berjanji, lima tahun mendatang, ia ingin berbagi waktu lebih ‘adil’ pada keluarganya.

“Kelihatannya mereka memang tidak protes. Tapi terkadang mereka ingin ketemu, makan bareng dan lebih sering jalan sama-sama. Sebenarnya selama ini selalu saya sempatkan. Tapi InsyaAllah tahun depan akan saya sempatkan dan saya beri waktu lebih lama,” kata wanita kelahiran Ciomas Serang, 16 Mei 1962.

Berbicara tentang ketiga anaknya, Andika Hazrumi, Andriana Aprilia,  dan Ananda Trianh Salichan, suara Atut melembut.

“Putra saya yang paling kecil, Alhamdulillah dewasa sekali. Dia SD kelas 4. Mungkin di hatinya itu (protes pada Ibunya) ada. Tetapi dia memahami apa yang jadi tugas saya. Kadang saya ajak dia kerja supaya dia bisa melihat. Dia selalu bilang, “Bunda, hari ini ada kerjaan nggak?” Kalau sudah begitu, pasti dia ingin sesuatu atau ingin diantar. Dia suka tanya dulu, tidak meminta dulu,” kata Atut dengan tatapan menerawang ke depan.

Saat itu, ia memang tida bisa langsung menjawab.

“Tapi kalau saya sampaikan, ‘Bunda ada kerjaan dulu yang tidak bisa ditinggalkan,” yah sudah, dia tidak akan minta lagi. Kalau sifatnya penting sekali, saya akan tanyakan lagi. ‘Ananda mau apa?’ Kalau dia bilang mau diantar kesana, yah saya akan sempatkan,” ujar Atut.

Sesibuk apapun, Atut berusaha menjadi Ibu rumah tangga saat di rumah.

“Tahun depan saya akan fokuskan perhatian ke keluarga. Bagaimanapun saya ingin mereka tumbuh sebagai anak dengan kemampuan pendidikan yang baik. Mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang bagaimanapun juga tidak lepas dari pantauan Ibu,” Atut berjanji.

Dengan adanya Wakil Gubernur, Atut berharap tugas-tugas kepemimpinannya mendatang bisa dibagi. “Semoga saya bisa bernafas lagi,” ujar Atut sambil tersenyum, lega.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Desember 2006*

Advertisements

June 17, 2013 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Politikus, Profil Wanita | 1 Comment

Yani Motik

Matahari Tak Harus Satu

 

Tak mudah memimpin sekumpulan wanita pengusaha. Doktor cantik ini 5 tahun menjalaninya, dan masih tak puas juga dengan hasilnya.

 

Tahun 2007 adalah akhir masa jabatan kedua Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) ini. Dan Yani tidak mengingkari kalau ia telah bekerja dan berusaha  cukup keras memajukan organisasi beranggotakn wanita-wanita cantik yang rata-rata juga pekerja keras.

“Tapi saya nggak terlalu puas. Saya bersyukur saja. Banyak yang didapat, tapi  Inginnya saya bisa lebih dari itu,” kata pemilik nama lengkap Dra. Suryani Sidik Motik. MGA ini.

Merawat Banyak Bunga

Banyak PR masih harus ia selesaikan dalam waktu yang tinggal sedikit.

“Sistemnya perlu diubah, juga pola pikir anggota IWAPI,” kata Yani.

Maksudnya,  “Dulu orientasinya central life, kalau tidak ada Ketua tidak jalan. Inii yang harus dihilangkan,” lanjutnya.

“Dulu,” katanya lagi. “Orang berpikir matahari itu mesti satu. Saya bilang tidak. Kita pengusaha, kita pengurus, dan organisasi kita nirlaba, maka di situ bunganya harus banyak. Kita harus bisa menyebarkan  harumnya masing-masing. Setiap orang harus berfungsi, setiap pengurus harus aktif, tidak harus ada saya,” kata Yani penuh semangat.

Dibilang Macam-macam

Di kepengurusan periode pertama, Yani membiarkan organisasi berjalan seperti air mengalir.

“Tapi kalau terus seperti itu, organisasi tidak bisa berkembang. Maka pada periode kedua saya rombak habis. Ada 70 orang baru dan 30 orang lama yang sejalan dengan saya. Waktu itu benturannya luar biasa. Saya dibilang sombong. Ada yang menuduh saya seperti  kacang lupa kulitnya, segala macam. Saya tidak peduli,” cerita Doktor Bidang Administrasi lulusan UI ini.

Terbiasa berpikir jauh ke depan, Yani tak berbakat  membuat keputusan yang asal-asalan. Ia sadar benar harus membesarkan organisasi yang telah berusia 32 tahun.

“Saya bilang, kalau saya mau nikmat, saya pakai pola lama saja. Cukup hanya dengan beberapa beberapa orang saja yang sudah mengerti,  organisasi juga sudah jalan. Tapi saya tidak bisa seperti itu  selamanya di IWAPI. Saya punya tanggung jawab agar begitu masa jabatan saya selesai, IWAPI bisa jalan terus dengan bagus,” kata istri Faizal Iskandar Motik ini.

Kian Egaliter

Masuknya orang-orang baru yang sepemikiran, mengembangkan  organisasi jadi lebih egaliter.

“Matahari tidak harus satu – artinya, tidak ada dominasi. Semua orang harus muncul, semua orang bisa jadi pembicara – kalau perlu, didorong untuk itu. Ada tidak ada Ketua, organisasi harus jalan,”  cerita Yani.

Tak heran kalau selama ia menjadi Ketua IWAPI, Yani tetap mampu  menyelesaikan Phd nya.

“Juga bisa saya tinggal tiga bulan ke Amerika untuk studi banding. Juga  saya tinggal ke Australia dua bulan,” ceritanya senang.

Lulusan Maryland University, USA, yang  bergelar Master of General Administration ini selalu bangga melihat orang lain sukses.

“Kebanggan saya luar biasa kalau lihat orang lain sukses. Yang tadinya tidak bisa ngomong jadi berani ngomong. Yang belum pernah ke luar negeri, pulangnya bisa berhasil. Yang nggak pede jadi pede. Itu semua tidak bisa dibeli dari keuntungan yang sekian puluh miliar,” ujar Yani.

Yani tidak pernah patah semangat. Kalaupun harus turun langsung, ia siap 24 jam. Mulai dari menyiapkan materi presentasi sampai jadi tempat konsultasi.

Kalau Jadi Pemimpin

“Pemimpin itu harus dikasih kesempatan. Ini yang orang sering salah. Tidak bisa orang tiba-tiba jadi pemimpin. Yang belum, harus diberi kesempatan memimpin. Nanti kita evaluasi kekurangan dan kelebihannya,”  Yani berbagi tips suksesnya ‘merombak’ IWAPI.

Termasuk menghadapi orang banyak.

“Kecuali kalau urgent banget atau ada kerjasama baru dengan pihak luar. Saya selalu ajak teman-teman yang lain bertukar pikiran,” ceritanya.

Memantau Iklim Lain

Banyak sukses diraih Yani yang juga lulusan George Washington University, USA, ini.

“Saya mulai membangun kerjasama dengan pihak luar, nasional dan internasional. Alhamdulillah, sekarang setiap tahun IWAPI mengirim 9 orang ke Kanada untuk studi banding, mempelajari iklim  pengusaha dan organisasi sejenis IWAPI disana,” cerita wanita kelahiran Jakarta 17 Juli 1961 ini.

IWAPI juga bekerjasama dengan Australia, Jepang, Filipina dan Malaysia.

“Website kita ngelink dengan website IWAPInya Malaysia. Dengan Filipina untuk training di Women Center yang dibiayai Jepang. Dengan Cina,  terakhir kita bikin kerjasama untuk China Asian Bussiness Woman. Dari Europe Union (EU) kita datangkan ahli-ahli desain dan teknologinya untuk anggota yang perajin perak, kerramik, kayu dari Jawa dan Bali. Perhiasan, kita kerjasama dengan Jepang di butiknya Reny Feby,” kata ibu 2 anak ini bangga.

Dua Penghambat

Saat masuk IWAPI, usia Yani baru 30 tahun. Setahun kemudian ia menjadi Sekjen (Sekertaris Jenderal) IWAPI.

“Mbak Dewi (Dewi Motik, mantan Ketua IWAPI Pusat,) bilang, kalau konsep-konsep kamu bisa diterapkan di IWAPI, kenapa tidak? Coba saja. Akhirnya ya saya jalani saja. Jujur, saya ini sebenarnya tidak terbiasa dengan Ibu-ibu dan perempuan. Kalau sama Bapak-bapak dan laki-laki, kita bisa lepas omongnya. Kalau sama Ibu-ibu kan main perasaan. Lebih banyak otak kanannya yang bekerja, daripada otak kiri.,” kata Yani.

Apalagi, lanjut Yani, ketika itu anggota IWAPI mayoritas ibu-ibu yang lebih senior. “Jadi, kita tidak boleh kelihatan kritis dan lebih pintar,” komentarnya.

Ia melihat 2 hal yang menghambat wanita Indonesia sulit berkembang.

“Yang pertama, gender, yaitu ketidakpercayaan terhadap wanita sebagai pengusaha. Kalau masih muda dikira hanya jual kecantikan. Kalau anak orang kaya dibilang modal orangtuanya,” cerita Yani.

“Kedua, kalau dia pintar, dibilang, ‘Terang aja, pintar’. Jadi nggak pernah bisa dilihat secara utuh,” lanjutnya gemas.

Tak Perlu Atas Nama Suami

Di Indonesia, lanjut Yani, maju tidaknya wanita sangat tergantung dukungan keluarganya.

“Penelitian saya dengan ILO tentang problem wanita dalam mengembangkan bisnisnya, di tahun 2002. Satu hal yang menarik, dimana perempuan apabila punya kesempatan maju dan berkembang, misalnya dari sekala kecil ke menengah atau dari informal ke formal, kalau suaminya belum siap mental, kesempatan itu tidak akan diambil, karena takut rumah tangganya berantakan,” papar Yani.

“Ini perlu disosialisasi. Kalau opportunity di istrinya lebih tinggi, mereka harus bisa terima. Dalam konsep Islam, lelaki pakaian istri, istri pakaian suami, kan bisa disharing saja,” lanjut Yani.

Yani mengingatkan anggota IWAPI agar mendaftar atas nama diri sendiri, bukan nama suami. Ia senang sekali melihat perkembangan anggotanya.

“Sekarang wanita sudah masuk ke semua sektor bisnis. Ada anggota IWAPI di Jawa Tengah yang produksi senapan. Ibu Lina Fahmi, impor senjata untuk olah raga. Pembangunan jalan banyak dikerjakan anggota IWAPI. Yang bisnis perhotelan juga banyak,” ujar Yani bangga.

 

Aien Hisyam

*wawancara 11 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | Leave a comment

Woro Indyas ADT

Dicurhati Ibu ‘Bermasalah’

 

Woro bukanlah yang pertama. Namun, ia menjadi pendeta wanita termuda yang menikah dan punya anak.

Di ruang kerjanya yang dingin, di GKI Kebayoran Baru, Woro mengatakan, menjadi pendeta wanita itu tidak mudah.

“Ia harus bisa membagi waktu. Separuh untuk hidupnya, separuh lagi untuk Jemaatnya,” kata Woro Indyas Adriyanta Dewi Tobing.

Kalaupun Woro memilih jadi Pendeta, “Itulah pilihan hidup.”

Pergumulan Hidup

Usia Woro masih 27 tahun ketika ia ditasbih menjadi pendeta termuda di GKI Kebayoran Baru kala itu.

“Memang waktu saya masuk, sudah ada satu pendeta wanita. Dia memaksakan diri untuk tidak menikah. Dan kondisi saya waktu masuk kesini, juga ada harapan tidak menikah,” ungkap Woro.

Ditambah lagi, Ibunya berpesan, sebaiknya pendeta wanita  tidak menikah agar semua perhatiannya untuk Jemaat.

”Ini memang berkaitan dengan tugas-tugasnya,” lanjutnya.

Seperti judul skripsi S1-nya “Ketidakseimbangan Gender Dalam Hidup Bergereja’, Woro akhirnya menikah.

“Menjadi pendeta wanita saja tidak mudah, apalagi harus memilih untuk menikah. Terus terang, inilah pergumulan di dalam hidup saya. Saya berdoa, saya berharap, Tuhan, siapapun wanita pasti berkehendak untuk menikah. Tetapi jika Engkau menunjukkan bahwa itu tidak sesuai kehendak-Mu, beri kekuatan saya bisa menerima itu. Tetapi kalau saya boleh ngomong dan meminta kepada Tuhan, justru saya ingin membuktikan. Bahwa menjadi pendeta wanita yang menikah tetap bisa membagi waktu. Tinggal memenej waktunya saja dan melengkapi dirinya dengan kemampuan yang bisa mengatur semuanya dengan seimbang,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 22 Januari 1973.

Sejak menikah tahun 2002, Woro dihadapkan pada peran ganda.

“Kita melayani jemaat ini sebagai keluarga saya, dan saya punya keluarga inti yang harus saya layani. Dari situ saya membuktikan, kenapa wanita selalu diragukan, kanapa laki-laki tidak. Karena pola pikir kita masih terbentuk bahwa tugas-tugas rumah tangga hanya wanita. Enggak laki-laki. Ini menurut saya membuat laki-laki merasa tugasnya hanya di luar rumah, dirumah dia dilayani. Pola pikir ini dalam kemitraan kita, dalam kesetaraan kita, bahwa di dalam rumah tangga kita bisa bekerja sama-sama,” tegas Woro. Komitmennya, jadi pendeta adalah menjawab panggilan Tuhan.

Galau Dua Hati

Dari 6 pendeta di Indonesia, hanya ada 1 pendeta wanita. Woro-pun menjawab ‘panggilan’ itu.

“Ibu saya janda, bapak meninggal karena sakit jantung. Saya umur 2 tahun kakak perempuan saya 7 tahun. Ibu berketetapan membesarkan hanya seorang diri. Ibu merasa telah mengantarkan kami menjadi seorang anak yang dewasa, bisa seperti ini karena pemberian Tuhan. Dalam perenungan Ibu, kalau Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada dirinya, saya dan kakak saya, maka apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan,” kenang Woro.

Woro akhirnya memilih masuk ke Sekolah Tinggi Theologi Jakarta. Lulus kuliah tahun 1995, Woro menjadi guru agama di BPK Penabur selama 2 tahun.

“Saat itu ada panggilan pendeta di seluruh DKI. Saya dipanggil oleh Jemaat ini,” ujar Woro.

Sempat hatinya bimbang. “Tapi saya ingat dalam buku bacaan Dietrich Hovver, menurut dia, seseorang bergumul dalam panggilan-Nya, pergumulan itu tidak terlepas dari yang disebut Gereja. Kiranya saya harus menjawab panggilan ini.”

Tak hanya Woro. Ibunya, Kis Setyowarsi, juga memiliki kegalauan yang lain.

“Ibu takut kalau nanti saya akan diomongin orang. Setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan. Kalau orang omongin kekurangan apakah saya akan siap? Saya minta Ibu saya bantu berdoa. Dan saya menjawab panggilan itupun juga belum pasti. Saya harus menjalani masa pemanggilan, masa orientasi yang semuanya harus dilalui selama 2 tahun,” ujar Woro.

Pertengahan tahun 1997 Woro resmi dididik menjadi pendeta.

5000 Jemaat

Banyak tugas yang harus dikerjakan Woro. Utamanya, ia harus memberikan kotbah setiap minggu dalam kebaktian minggu. Setiap hari, ia terlibat dalam pelayanan pada Jemaatnya.

“Perlawatan ke orang sakit, perlawatan ke orang-orang yang sedang bergumul, juga memimpin kebaktian kalau ada yang meninggal atau yang menikah, juga melayani jam konseling, itu yang paling banyak. Persoalannya sangat membuat kita bergumul bersama mereka. Suka duka mereka serta masalah-masalah yang sangat complicated,” kata Woro.

Awalnya, Woro yang baru berusia 27 tahun mengaku tidak siap. Ia harus bisa meyakinkan para Jemaatnya yang berusia jauh di atasnya. Di komunitas dalam Gerejanya, ia juga harus bisa membawa diri, berbaur dengan 7 pendeta lainnya yang telah berusia diatas 40 tahunan.

“Saya disadarkan, bahwa memang kita tidak pernah siap, tetapi disiapkan oleh Tuhan,” tukasnya.

Dan memang secara psikologis, lanjut Woro, tidak mudah menjadi pendeta ‘belia’.

“Kalau dulu mereka adalah pendeta saya, bahkan ada 2 pendeta yang juga dosen saya di STT Jakarta, dan sejak itu disini kita menjadi kolega, justru saya merasakan karena kita sudah kenal, jsutru kita diperlengkapi oleh mereka. Kita justru banyak belajar,” kata Woro.

Woro mendapat tugas menjadi Pendeta Wilayah, melayani dua gereja di wilayah 4 meliputi Kemang dan sekitarnya, juga di wilayah 10 meliputi Pasar Minggu, Depok dan sekitarnya. Setiap gereja terdapat sekitar 11 ribu hingga 12 ribu Jemaat yang terdaftar, atau sekitar 5000 jemaat yang masih aktif. Ia harus siap 24 jam bila mendapat panggilan dari Jemaatnya.

Uniknya, setelah menikah, Woro punya Jemaat ‘khusus’.

“Di GKI Kebayoran Baru, baru saya yang menikah. Memang antara harapan dan menyelaraskan keingin mereka, selalu diukur. Disitu saya juga melewati pergumulan, suka dan duka. Memang orang punya kelebihan dan kekurangan. Ternyata setelah menikah, jemaat yang konseling lebih banyak wanita yang menikah. Itu juga menjawab pasangan-pasangan muda. Kita bisa sharing dan curhat. Bahkan kita punya gereja Katolik dan tetangga, mereka datang konseling ke saya karena dia tahu disini ada pendeta wanita yang menikah,” lanjut istri Raguel Pringgada Tobing dengan nada bersemangat.

“Saya merasa ini (pendete wanita yang menikah) adalah kendala budaya. Kita sudah terbentuk pada budaya-budaya partiakat. Keluarga mereka sudah terbentuk pada budaya seperti ini. Kalau pernikahan, masih ada yang tidak mau dipimpin pendeta wanita. Begitupun kebaktian. Karena menurut saya, tentang kemampuan, pastilah Tuhan sudah perlengkapi kita masing-masing dengan apa yang ada. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan,” ujar Woro bijaksana.

 

Aien Hisyam

*wawancara * Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Wanita | Leave a comment

Susan Bachtiar

Indahnya Dikritik Anak-anak

 

Suatu hari, wanita cantik itu dikritik. “Miss Susan, hari ini seksi sekali,” ujar bocah 5 tahun itu, lugu.

 

Wajah Susan Bachtiar memerah. “Kok bisa?” Susan bertanya, penuh rasa ingin tahu.

“Iya. Pakaian Miss Susan kinclong sekali,” jawab anak itu ceplas-ceplos.

Susan-pun tersenyum. Ia pandangi bajunya. Memang, hari itu Susan sengaja memakai baju warna merah muda yang sangat cerah.

“Ternyata, menurut si anak, seksi itu kalau pakai baju kinclong dan mentereng,” cerita Susan.

Tak hanya itu. Di lain hari, ketika ia memakai baju terusan berkancing dan berpita, lagi-lagi ia diprotes. “Miss-miss, jangan pakai baju ini lagi, kayak piyama.”

“Lucunya lagi, saya ini kan pakai cincin di kaki. Mereka kritik, ‘Miss Susan, cincin itu dipakai di tangan. Bukannya kaki.’ Alhasil saya pindahkan cincin saya ke jari kelingking,” ujar Susan sambil tertawa lepas.

Begitupun ketika ia dikomentari tentang cat kukunya yang warna putih. Si anak bilang, “Miss, di rumah saya ada nail polish warna pink, red. Besok saya bawain. Tapi Miss jangan pakai tip-ex (cairan putih penghapus tinta).”

“Kedengarnya lucu saja. Itu karena ketidak tahuan mereka. Setiap diprotes atau dikritik, saya selalu punya obligasi untuk menerangkan,” kata Susan dengan nada senang.

Mengajar Itu Enak

10 tahun Susan menjadi guru Bahasa Inggris. Dua tahun terakhir, artis dan juga presenter cantik ini ternyata harus berhadapan dengan anak-anak usia 4 hingga 5 tahunan. Yang polos, apa adanya, juga kritis.

“Siapapun gurunya, berhadapan dengan anak-anak usia 5 tahunan, harus punya kesabaran yang tinggi. Bete tidak. Hanya saja awalnya mengatur mereka agak melelahkan. Anak kecil itu kan tidak bisa diam. Apalagi anak sekarang lebih aktif berbicara dan lebih kritis. Jadi kita pakai sistem belajar dengan metode communicated approach. Kita mengajar Bahasa Inggris dengan media suara, gerak untuk bercerita, dan media benda-benda yang ada di ruangan,” kata Susan Bachtiar.

Suka cita Susan menjalani profesinya sebagai guru.

Bermula ketika Susan memilih kuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Atmajaya. Sebelum lulus, wanita kelahiran 2 Mei 1973 ini diwajibkan mengikuti PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Susan memilih almamaternya, SMP Santa Maria Ursulin untuk 5 kali praktek mengajar. Sisanya, 5 kali mengajar, ia memilih SMA Kristen 3 di Gunung Sahari.

“Ternyata setelah PPL, saya baru merasakan mengajar itu enak,” ungkap Susan bersemangat.

Bahkan, ketika datang tawaran dari dosen seniornya untuk mengajar di Sekolah Abdi Siswa, Jakarta Barat, langsung ia terima.

Kerja Non Stop

“Setelah lulus kuliah, tahun 1996 saya langsung ngajar di Abdi Bangsa. Saya jadi guru bahasa Inggris honorer. Satu kelas ada 2 guru. Dipisah sendiri-sendiri. Awalnya kita shiftnya seminggu dua kali untuk 2 kelas. Pertama kali saya ngajar kelas 3 dan 6. Dengan pertimbangan saya pernah mengajar di SMP dan SMA waktu PPL. Selanjutnya saya ambil shift 4 kali atau empat kali dalam satu minggu,” terang wanita bernama lengkap Susan Meilani Bachtiar.

Susan semakin terampil mengajar. Ia juga dipercaya menjadi guru bahasa inggris di SD Pangudi Luhur dan SD Tarakanita. Otomatis Susan mengajar nonstop dari hari Senin sampai Sabtu

“Saya juga diangkat menjadi koordinator untuk guru-guru, yang menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan guru untuk mengajar dan memberikan masukan kapan harus ujian. Guru berhubungan dengan Koordinator, dan Koordinator-lah yang berhubungan dengan sekolah,” ujar wanita yang terjun di dunia entertaint sejak tahun 1988 ini bangga.

Tidak puas mengajar anak-anak sekolahan, Susan tertantang menjadi dosen.

“Kebetulan Atmajaya sedang cari dosen untuk Speaking Class. Saya coba melamar ternyata diterima. Jadi selain di Abdi Siswa, saya juga di Atmajaya. Disini saya hanya mengajar 2 tahun saja karena terputus saya menikah,” kata bungsu dari pasangan warga keturunan Tionghoa Sarief Bachtiar dan Desi Murni Firmansjah.

Tahun 2003, Susan berhenti dari Abdi Bangsa. Ia memilih ganti haluan, menjadi guru Taman Kanak-kanak di Santa Theresia.

“Ada pertimbangan, semakin kecil si anak, semakin besar tantangannya. Anak kecil kan susah sekali diaturnya. Tetapi dari banyak level pendidikan yang saya alami, pengalaman yang menyenangkan adalah mengajar anak-anak. Mereka lebih fun, lebih polos, apa adanya, interaksi belajar mengajarnya lebih aktif. Anak-anak kan egonya belum keluar. Awalnya saya pikir susah, setelah jalani ternyata enggak.,” lanjut Susan.

Guru Yang Galak

Mengapa Susan yang cantik ini begitu antusias menjadi guru?

“Seorang guru itu memiliki kepuasan yang tak terhingga bila melihat muridnya yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Istilahnya, meskipun gaji saya kecil, bayaran yang saya terima adalah kemampuan mereka untuk bisa,” ujar Susan.

Kalaupun ada muridnya yang ‘berulah’, Susan berusaha tegas.

“Kadang akan saya marahi. Kalau keterlaluan sekali saya jewer. Saya kasih warning sampai 3 kali. Kalau sampai 3 kali sudah diperingati, itu sudah kelewatan sekali dan harus disetrap di depan kelas dan harus mengikuti pelajaran di kelas. Saya dididik di sekolah katolik yang punya disiplin tinggi. Itu yang saya terapkan dan jadi pola pengajaran saya,” kata Susan yang dijuluki anak didiknya sebagai guru yang galak.

“Saya memang marah habis-habisan ke si anak. Tetapi setelah itu saya pasti akan panggil dan omong empat mata dengan si anak. Akan saya tanya, “Kenapa kamu saya setrap.” Saya ingin tahu apakah dia sadar apa yang telah dia lakukan. Dia harus tahu salahnya dimana. Jangan bilang saya tidak akan melakukan itu. Coba untuk tidak akan melakukan lagi,” lanjut istri Sumardi Supangat.

Aturan disiplin yang diterapkan Susan, “masuk kelas baju harus rapi, kelas harus bersih, tidak boleh ada tampang ngantuk, kalau ngantuk saya suruh ke WC cuci muka. Tidak boleh ngomong di kelas. Boleh ngomong pada saat diskusi, istirahat atau main game. Saat guru menerangkan, harus didengarkan. Itu pola yang masih ke bawa.”

“Mereka memang bilang Miss Susan galak sekali. Saya tidak ingin murid saya hanya pintar bahasa Inggris saja. Tetapi harus juga punya disiplin tinggi. Karena bagi saya disiplin harus diterapkan sejak kecil. Belajar bahasa bisa dari besar, tetapi diplin tidak bisa diajarkan setelah anak besar karena polanya sudah terbentuk,” tegas Susan.

Apakah kecintaan Susan pada anak-anak karena kondisi dirinya yang sudah 6 tahun menikah tetapi belum juga diberi momongan? Wanita berwajah putih bersih ini tersenyum.

“Saya bukan orang religius walaupun saya membawakan acara di Indosiar “Penyejuk Imani Katolik”. Dari acara itu saya belajar banyak, bahwa jadi orang itu tidak boleh ngoyo. Tidak boleh ngeyelan. Harus bisa nerima dan bisa melihat. Mungkin pintu ke arah itu belum dibuka Tuhan, tetapi pintu yang lain sudah. Saya menginginkan anak, sudah 6 tahun ini. Dulu awal-awal menikah saya ngeyel sekali sama Tuhan. Sempat marah. Tetapi setelah membawakan acara itu, saya melihat ada orang yang punya problem jauh lebih besar dari saya. Saya jadi bisa lebih terima. Mungkin saya lebih dibutuhkan anak-anak yang butuh ilmu saya. Saya mencoba menempatkan posisi saya di orang lain, tidak mau berharap lebih,” ujar Susan.

 

Aien Hisyam

*wawancara 13 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Artis, Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Rini Hariyani

Saya Pengemis Intelektual

 

Festival Wayang ASEAN I di TMII minggu lalu membuat Rini ‘sesak nafas’. Capek, senang, bangga, kecewa, campur aduk dalam hatinya.

 

Tinggi sekali impian Rini. Idealnya, kata wanita bertubuh mungil ini, Indonesia bisa menjadi pusat kebudayaan wayang dunia.

“Nyatanya, semua orang kagum dengan koleksi yang ada di museum kita. Jangan berkecil hati. Percaya diri saja, toh kita sudah diakui dunia,” kata Rini. Sejak tahun 1999, ia menjabat Kepala Museum Wayang.

Rini memang sangat percaya diri. Tidak sia-sia. Buktinya, berkat kerja keras dan kecintaannya pada wayang, untuk pertama kalinya Indonesia bisa jadi tuan rumah festival wayang yang diikuti puluhan negara.

Karir Minim Peminat

Sempit, kuno, jadul (jaman dulu), dan ‘gelap’. Itulah anggapan miring tentang keberadaan Museum Wayang yang ada di daerah Jakarta Kota.

“Jangan hanya dilihat dari fisik luarnya. Masuk dulu kedalam. Liha isinya. Kita akan cinta kalau kita kenal lebih dekat lagi,” ujar Rini Hariyani.

Rini juga senang memposisikan diri sebagai PR (Public Relation). Bahkan, kalau saja waktunya longgar, tanpa canggung, ia sempatkan diri menemani tamu-tamu yang berkunjung ke museumnya.

“Tak apalah jadi guide. Justru itu buatku sangat menyenangkan. Kita tahu keinginan mereka, berbagi cerita sekaligus bernostalgia,” ungkap Rini dengan wajah cerah.

Mengapa Rini antusias menggeluti dunia wayang? Tak lain karena keinginan masa kecilnya. “Waktu itu saya tanya ke kakak ipar yang sedang ambil S2 di Honolulu. ‘Jurusan apa ya yang bisa bikin saya bisa keluar negeri?’ Dia bilang ‘ambil saja jurusan budayamu sendiri’. Makanya begitu lulus saya ambil jurusan Sastra Jawa UI,” cerita Rini.

Rini sadar jurusan yang ia pilih sangatlah tidak populer. Toh, dia tetap bersemangat.

“Karena sejak awal, saya memang cinta wayang. Lewat wayang saya diajarkan banyak hal, mulai dari filsafat wayang, karakter tokoh-tokoh wayang, dan sebagainya,” ujar Ibu dua anak ini. Bahkan berkat wayang pula Rini bisa beberapa kali keliling Eropa membawa misi budaya wayang Indonesia.

Rini lahir di Solo tanggal 10 Desember 1950. Oleh orangtuanya yang masih berdarah Mangkunegaran, setiap bulan sekali Rni yang masih kanak-kanak selalu diajak menonton pagelaran Wayang Orang di Sriwedari. Saat masih kuliah, setiap tanggal 1 Suro, mau tidak mau Rini harus menonton Wayang Kulit semalam suntuk. Kewajiban yang harus dijalani sejak masuk kuliah sampai lulus.

“Makanya, ibaratnya duplikasi bahasa, saya makin cinta dengan wayang. Di Museum Wayang, saya juga jadi sering nonton wayang semalam suntuk. Kantor jadi rumah kedua saya. Cinta sekali,” kata Rini. Skripsinya juga mengupas filosofi wayang, tentang tokoh Adipati Karno.

Jadi Karya Agung

Rini selalu ingin mengukir prestasi. Satu keberhasilan yang membuat wanita ini bangga adalah mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan atau Wayang Revolusi milik Indonesia yang sudah 40 tahun lebih disimpan di Museum Rotherdam, tahun 2005 lalu.

“Sejak menjabat (jadi Kepala Museum Wayang), saya selalu berjuang dapatkan tambahan koleksi dengan cara pembelian juga meminta sumbangan entah dari tamu beberapa negara, atau dari indonesia sendiri. Ada istilah, saya ini pengemis intelek. Karena mengemisnya untuk Museum bukan untuk koleksi pribadi. Kebetulan yang membuat saya bangga, yaitu berhasil mengembalikan koleksi Wayang Perjuangan milik kita yang dibuat Raden Mas Sayid dari Mangkunegaran,” ujar Rini bangga.

Selain itu, lanjut Rini, “bangsa Indonesia boleh bangga karena sejak tanggal 7 November 2003 wayang Indonesia sudah diakui dunia melalui lembaga Unesco menjadi salah satu karya agung budaya dunia di antara 28 budaya dunia. Bangga dong. Ternyata Indonesiapun punya budaya yang begitu agungnya. Nah, sekarang yang sedang dirintis adalah keris supaya diakui sebagai budaya agung.”

Satu hal yang disesalkan Rini, wayang Indonesia justru lebih populer di mancanegara ketimbang di negara asalnya.

“Justru selama ini mancanegara yang lebih tahu keberadaan museum wayang ketimbang masyarakat Jakarta. Jadi, wajar saya kalau target utama saya adalah ingin membuat wayang tak hanya mendunia. Tapi juga men-Jakarta, dan meng-Indonesia. Saya juga ingin generasi muda kita bangga dan mencintai wayang. Makanya saya undang anak-anak siswa belajar gamelan dan buat wayang disini. Jangan sampai kita belajar dengan orang asing. Jangan sampai kebakaran jenggot kalau itu sudah lebih dicintai orang asing,” ujar Rini sungguh-sungguh.

Rini bercerita tentang pengalamanya saat berkunjung ke KBRI Perancis di Paris. “Disana, yang latih gamelan justru orang Perancis,” suara Rini terdengar kesal.

“Jangan sampai generasi muda kita belajar budaya dengan orang asing. Dulu bahkan kita mau ambil S2 Sastra Jawa harus ke Leaden. Karena literaturnya ada di Leaden semua. Syukurlah, sekarang mereka yang pernah ke Leaden menularkan ilmunya di Indonesia,” kata Rini lagi.

Belajarlah Lewat Wayang

Di dalam wayang banyak sekali yang bisa diambil hikmahnya.

“Kita bisa bercermin lewat setiap peristiwa yang terjadi di dunia wayang. Seperti di kehidupan sehari-hari. Didalamnya ada tokoh baik dan buruk. Dan  juga tidak mungkin manusia hidup tanpa susah. Pasti ada lawannya. Ada susah, pasti ada senang. Kayaknya wayang ini benar-benar personifikasi dari kehidupan kita yang harus bisa kita ikuti,” kata Rini.

“Bahkan sampai sekarang masih banyak orang tua yang beri nama anaknya dengan nama-nama wayang. Misalnya Wibisono, Kresna, Abimanyu. Karena ortu berharap anaknya punya karakter seperti tokoh itu. Tapi jarang yang beri nama Burisworo. Itu kan tokoh jelek,” lanjut Rini.

Rini bersungguh-sungguh mengajak siapa saja yang ia temui untuk mencintai wayang. “Karena banyak sekali manfaatnya. Ajak anak menonton pagelaran wayang. Ajak keluarga datang ke museum wayang. Bahkan, temani anak-anak belajar membuat wayang, berlatih gamelan, dan bercerita tentang cerita-cerita pewayangan,” kata Rini.

Tidak perlu bingung bagaimana memulainya. Kata Rini, “sekarang sudah banyak diterbitkan komik-komik wayang. Bahkan ada VCD dan DVD tentang cerita wayang. Ada juga DVD wayang orang yang dikeluarkan grup Sekar Budaya Nusantara miliknya Ibu Nanik Sudarsono.”

“Karena orang baru sadar dan mulai cinta budayanya justru setelah pergi ke luar negeri. Begitu di luar negeri dia disuruh tampil, disuruh cerita, apa budayamu yang paling menarik? Tolong ceritakan ke kita, mereka gelagapan. Itu karena masyarakat kita belum bisa menghargai karya-karya leluhur kita,” lanjut Rini bersemangat.

 

Aien Hisyam

*wawancara 1 Desember 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Pendidik | Leave a comment

Frika Chia

Jangan Diskriminasi Kami!

Bersama Bill Gates, Melinda, dan Peter Piot (Direktur eksekutif khusus masalah AIDS di PBB),  Frika berbicara di forum International, di depan ribuan delegasi seluruh dunia.

My name is Frika Chia from Indonesia; I’m currently the APN+ Adviser, and activist for HIV/AIDS. I’m 24 years old; I have been living with HIV for more than 5 years. And married last year… with no children yet,” Frika mengawali pidato panjangnya, penuh percaya diri.

Wanita keturunan ini berbicara terus terang, tidak malu menutup jati dirinya, dan tidak ada tetes air mata.

“Berbicara di forum Internasional memang sudah beberapa kali saya jalani. Yang paling berkesan, adalah ketika saya berbicara di Konferensi Internasional AIDS ke 16 di Toronto bulan Agustus lalu. Saya berbicara di satu kesempatan yang sama dengan Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, Bill Gates dan istrinya, Melinda,” ujar Frika bangga.

Sebelumnya, Frika pernah juga menjadi pembicara di Australasian Society HIV/AIDS Medicine di Cairns-Australia, juga di XV International AIDS Conference di Bangkok-Thailand. Selebihnya, Frika aktif berbicara di puluhan kegiatan HIV/AIDS di Indonesia dan luar negeri.

Setelah Di ICU

Menjadi aktivis HIV/AIDS dijalani Frika lebih dari enam tahun lamanya. Sejak ia divonis dokter terkena HIV positif di tahun 1999.

“Saya tahu waktu tes darah. Waktu itu saya di ICU karena sakit. Dokter bilang, kayaknya ada sesuatu yang aneh dengan darah saya. Besoknya, waktu masih setengah sadar, saya sudah di kasih tahu dokter kena HIV positif. Kasih tahunya juga tanpa beban. Dan akhirnya nyokap dan keluarga juga tahu,” Frika menerawang kejadian tujuh tahun silam.

Pantang putus asa, Frika justru termotivasi untuk berbuat sesuatu.

“Saya tertarik (terjun ke LSM untuk masalah HIV/AIDS) karena hati saya ada disana. Saat itu, terlalu banyak stigma dan diskriminasi diluar yang ditujukan pada orang-orang sperti saya. I have to do some thing, maka saya pikir, mulai saat itu, saya berfokus ke sana,” ujar Frika.

Semakin jauh Frika menyelami dunia orang–orang yang terinfeksi HIV/AIDS, hatinya kian tersentuh.

“Tidak seperti yang kita harapkan,” berat Frika.

Ia mencontohkan, ketika teman-temannya yang HIV positif membutuhkan layanan kesehatan, “mereka sering ditolak dokter atau perawat. Buat saya sedih sekali. Bagaimana kalau teman-teman yang ketrampilannya kurang dan tidak bisa bernegosiasi dengan dokter dan rumah sakit, itu sedih sekali. Jadi saya terpanggiluntuk memperjuangkan hak mereka.”

Sikap diskriminasi ini yang menurut Frika dicemaskan seluruh keluarganya.

“Mereka bilang, kalau mau cari-cari info, go ahead. Tapi kalau untuk terbuka, nanti dulu, karena tidak semua orang bisa menerima. Jangan terlalu terbuka. Takutnya nanti kalau di diskriminasi. Dan saya juga punya adik yang masih sekolah. Atau bokap yang masih sibuk kerja, takutnya ada apa-apa,” ungkap wanita kelahiran 6 November 1981.

‘Dipinang’ UNICEF

Frika memilih aktif di PITA Foundation. Lembaga untuk para orang tua yang anak-anaknya terinfeksi HIV/AIDS. Kebetulan, kata Frika, orangtuanya aktif di lembaga tersebut.

“Karena ortu terlibat saya juga ingin terlibat. Mulai dari situ, sekarang PITA berkembang, menjadi lembaga yang juga untuk pasangan yang salah satunya positif. Kita juga mulai merekrut volunteer-volunteer. Sekarang banyak anak-anak kuliahan yang ikut. Kita kasih training agar mereka bisa kasih informasi lagi ke orang lain,” ujar Frika. Di PITA ia menjadi Founder and Member of Board of Directors.

Frika juga aktif di wilayah Asia Pasific. Ia dipercaya menjadi penasehat untuk jaringan ODHA untuk Asia Pasific yang disebut APN+ (Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS).

“Pusatnya di Bangkok. Makanya saya sering kesana sekalian untuk berobat,” ujar Frika yang bisa tiga kail ke Bangkok dalam setahun.

Oktober 2005, UNICEF meluncurkan kampanye global untuk anak-anak dan AIDS bertajuk ‘Unite for Children, Unite Against AIDS’.

“Mereka mengajak saya jadi independent consultant khusus wilayah Asia Pasific. Kenapa bisa? Jadi, sebelumnya saya pernah jadi pembicara di gedung PBB di New York. Mereka lihat saya dan tertarik mengajak saya bergabung dengan program mereka. Dan mereka ternyata juga butuh konsultan untuk program kampanye ini di wilayah Indonesia,” kata Frika bersemangat.

Program ini akan dikampanyekan Frika beserta para aktivis HIV/AIDS bulan Januari dan Februari 2007.

Kasihan Anak-anak

Ada yang membuat hati Frika gusar. Tak lain nasib anak-anak ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

“Ini kampanye untuk mereka. Target kami, program ini bisa gol sampai tingkat parlemen. Paling tidak di agenda prioritas penanggulangan dan rencana strategis penanggunalangan  HIV/AIDS itu masuk agenda untuk anak,” ujar Frika yang pernah tinggal lama di Singapura ini bersemangat.

Sekarang ini, kata Frika, jumlah ODHA terus meningkat. Dan para ODHA  banyak yang punya anak.

“Anaknya bisa jadi yatim piatu kalau orang tuanya meninggal. Siapa yang akan merawat, membesarkan, menghidupi dan memberikan pendidikan pada anak-anak ini. Dan yang kedua, kemungkinan anak ini juga positif kalau orang tunya positif. Nah, apakah para orang tua ini sadar anaknya positif? Belum tentu. Paling kalau anaknya sakit baru melakukan tes,” kata Frika dengan nada gemas.

“Daripada terlambat, lebih baik kita bikin strategi dari sekarang. Kita bikin lembaga perlindungan untuk anak-anaknya, kita juga mau mensosialisasikan ke Ibu-ibu untuk tes HIV pada saat hamil. Kita harus bisa mencegah dari awal,” lanjut Frika.

Frika juga menegaskan bahwa pemerintah punya Pekerjaan Rumah yang harus segera diselesaikan

“Khususnya kewaspadaan universal masih kurang. Seperti pelayanan kesehatan. Dokter masih banyak yang belum ngerti apa itu HIV/AIDS. Mereka masih takut terima pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Pemerintah perlu untuk mengajarkan atau memasukkan pengetahuan ini dalam kurikulum. Harusnya tiap dokter atau perawat menangani pasiennya sama. Tidak ada perbedaan. Misalnya harus pakai sarung tangan dan alat yang steril. Bukannya setelah tahu kita positif dia baru pakai, tapi di pasien lain tidak, hanya karena anggaran untuk itu masih kecil. Itu tidak benar,” ujar Frika

“More women are dying… More children are orphaned and need to take care of a home…. Or Becoming caregivers…and more women are not getting their life as women… who can get information, more access and knowing their rights,” ungkap Frika seperti ketika ia menjadi pembicara utama dalam Konfrensi yang baru saja diikuti.

Aien Hisyam

*wawancara 24 November 2006*

 

June 17, 2013 Posted by | Kisah, Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Vivi Vinata Guizot

Operasi Penuh Cinta

Bagi Vivi, bahagia adalah, ketika suatu hari pasien-pasiennya bisa tersenyum lagi, punya semangat hidup dan meningkat kualitas hidupnya.

 

Anak itu baru 9 tahun. Separuh wajahnya rusak akibat luka bakar. Vivi tertegun.

“Ya Tuhan, semoga usaha ini berjalan dengan lancar,” Vivi berdoa dalam hati. Doa yang sama, yang selalu ia ucapkan ketika tangannya mulai memegang pisau bedah.

Setelah dua kali operasi, pasien kanak-kanaknya itu mulai ‘berubah’. Wajahnya kembali normal.

“Kemarin, dia bilang, ‘dokter, terima kasih,” suara Vivi terdengar haru, “dan kalau tidak ada halangan, satu kali operasi lagi wajahnya sudah pulih kembali. Seperti sediakala.”

Menjadi Normal

Sejak kecil, Vivi bercita-cita menjadi dokter spesialis bedah plastik. Bukan karena penghasilannya yang besar. Dan bukan pula karena jumlah dokter bedah plastik di Indonesia yang sangat sedikit.

“Waktu SMA, saya perhatikan kakak saya ada kekurangan sedikit di wajahnya. Matanya kecil satu,” kenang Vivi Vinata Guizot. Saat itu ia masih kelas 2 SMP.

Hatinya sedih melihat kakak perempuannya sering mengurung diri, enggan bertemu orang lain, dan selalu menghindar bila disapa.

“Terus, sekitar tahun 1989, dia dioperasi plastik di Singapura. Setelah operasi, dia percaya diri sekali. Kepribadiannya jadi sangat menarik dan bisa bergaul dengan normal,” lanjut Vivi.

Sejak itulah Vivi bertekad memperdalam ilmu bedah plastik.

“Saya ingin mengembalikan yang tidak normal menjadi normal, sampai jiwanya juga kembali normal. Yang tadinya pemalu, setelah normal, self esteem-nya meningkat. Itu yang jadi alasan kuat saya kenapa memilih jadi dokter bedah plastik,” kata Vivi yang Ayahnya juga seorang dokter di Bali.

Punya Sense of Art

Hingga kini, jumlah dokter spesialis bedah plastik di Indonesia hanya berkisar 50 orang.

“Itupun tidak menyebar dengan merata. Ada bagian yang tidak ada dokter plastik. Sebagian besar ngumpul di Jakarta. Padahal, banyak yang membutuhkan dokter plastik,” kata wanita kelahiran Denpasar tanggal 15 Juli 1974.

Untuk memperdalam ilmu bedah plastik-pun, di Indonesia hanya tersedia dua Universitas saja. Di Universitas Airlangga (Unair) dan di Universitas Indonesia (UI).

Barulah setelah lulus SMA Negeri 1 Bali, Vivi melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Unair. Lulus tahun 1998, ia masih mengikuti PPT di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Setelah itu saya coba-coba mendaftar ke spesialis bedah plastik. Tesnya susah sekali, karena kita sangat kompetitif. Waktu itu dari 16 orang yang diterima hanya 2 lulus tes. Tes-nya di UI. 16 orang itu sebenarnya juga dari proses penyeleksian yang ketat. Bisa jadi yang daftar ratusan,” Vivi menerangkan.

Banyak tes yang harus dilalui. Mulai dari tes pengetahuan, tes menggambar proporsi wajah orang, menggambar perspektif, psikotes, hingga wawancara.

“Kita (dokter bedah plastik) harus punya sense of art. Bisa menggambar dari depan, samping kanan dan kiri. Karena, sebelum dokter melakukan pembedahan, dia harus bisa menggambar bentuk wajah dan badan dengan baik,” ujar wanita yang tengah hamil 5 bulan.

Luruskan Kaki Bengkok

Tugas pertama Vivi di awal kuliah adalah mengoperasi bibir sumbing di RSCM.

“Pasienku, dua-duanya perempuan. Umur 4 tahun dan 6 bulan. Awalnya, deg-degan juga. Tapi setelah berdoa, dan semua berjalan dengan lancar, syukurlah, akhirnya bibir mereka bisa puilh kembali. Bahkan terlihat normal. Operasinya cuma setengah jam sampai 45 menit, tapi bisa merubah hidup orang luar biasa,” ungkap Vivi.

Vivi jadi ‘ketagihan’ mempercantik wajah orang. Setiap ada ajakan mengoperasi bibir sumbing, tidak pernah ia tolak.

“Saya senang merubah dan merawat pasien. Dari yang jelek banget sampai di operasi, jadi cantik. Ada juga yang kakinya bengkok karena luka bakar, saya rawat sampai lurus lagi. Itu luar biasa,” ujar Vivi dengan nada bahagia.

Sikap keluarga pasien yang sangat apresiasi, juga membuat Vivi semakin cinta pada pekerjaanya.

“Keluarga pasien sangat apresiet. Bahkan sampai bertahun-tahu masih ingat sama aku. Luar biasa. Kadang-kadang mereka mampir ke RSCM hanya untuk say hello. Mereka bilang kalau sekarang anak mereka sudah bagus, sudah cantik. Saya menyelamatkan quality of life seseorang. Wah senang sekali,” katanya.

Banyak ilmu yang kini tengah dipelajari Vivi.

“Sebagai dokter pemula, ia harus bisa cangkok kulit. Misalnya ada luka yang besar dan lebar, ia harus bisa menyeset kulit tipis sekali dari paha sebelah, nempel di sebelahnya. Terus operasi bibir sumbing yang sederhana. Itu yang pertama kali harus dikuasai. Setelah itu mulai deh rekonstruksi-rekonstruksi yang lebih sulit,” ujar Vivi.

Kelak, ia harus bisa melakukan bedah plastik yang tingkatannya sangat tinggi. Seperti operasi face off yang dilakukan dokter-dokter senior pada Dini di Bandung.

“Itu tahap yang paling tinggi. Di Indonesia hanya sekitar 3 dokter saja yang bisa lakukan bedah mikro. Tak hanya sekedar menempel. Dokter harus bisa menyambung semua pembuluh darah supaya barang yang baru ditempel itu dapat nutrisi. Kalau nggak kulit akan mati, kering dan tidak ada berfungsi lagi. Syaraf juga disambung supaya nantinya dia bisa gerak. Itu operasi yang luar biasa,” kata wanita yang hobi diving dan surfing.

Mancungkan Hidung

Vivi justru tidak tertarik memasuki wilayah bedah estetik, walaupun lebih ‘menguntungkan.

“Karena orang yang sudah normal pingin menjadi lebih cantik lagi. Kasusnya paling sering di Indonesia mata dan hidung. Hidung orang Indonesia itu kan tidak mancung. Umumnya mereka ingin dimancungkan. Juga Matanya oriental itu kan sipit. Banyak yang pingin digedein,” ujar Vivi.

Bedah yang ingin Vivi tekuni adalah bedah rekonstruksi.

“Misalnya bedah trauma wajah. Patah-patah tulang wajah. Rahang patah beberapa tempat. Atau patah frame-nya mata, juga tulang hidung. Itu operasinya sangat luar biasa. Artistik sekali. Wajah dibuka dan disusun lagi satu persatu. Itu salah satu operasi besar di bidang bedah plastik. Buatku sangat menantang,” kata Vivi yang kini bekerja di RSCM Jakarta. Kelak ia berencana pindah ke Bali untuk mengabdikan hidupnya sebagai dokter bedah plastik di tanah kelahirannya.

Aien Hisyam

 *wawancara 25 September 2006*

June 17, 2013 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Wanita | Leave a comment