Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Yulianti Setyohadi

Hobi Yang Jadi Profesi

 

            Yuli merubah imej hidupnya lewat lukisan. Bermula dari hobi, kini  ia menjadi art dealer sekaligus event organizer khusus painting exhibition.

Di gedung yang sama, Yuli Setyohadi menyewa dua ruangan Di lantai tiga, ia fungsikan sebagai kantor dan kelas melukis khusus anak-anak. Di lantai dua, dengan ruang yang lebih luas, ia gunakan sebagai galeri. Ada 50 lebih lukisan yang dipertontonkan.

“Saya selalu tertarik ke hal-hal yang indah. Lukisan adalah satu hal yang indah. Indah dilihat, juga indah dikoleksi. Lukisan, ditaruh di tempat manapun, selalu membarikan keindahan pada ruangan itu. Selalu bisa dinikmati, karena lukisan sebagai penujang interior, bisa juga menjadi penyejuk hati dikala suasana hati bergejolak,” kata Yuli bersemangat.

Senang Yang Indah

Siang itu Yuli terlihat santai. Celana pajang dipadu tanktop warna senada coklat tua, membungkus tubuhnya yang ramping. Beragam asesoris menghiasi kedua tangan dan jari-jarinya.

“Saya senang yang indah-indah,” tegas Yuli.

Maka, tidak pernah sekalipun Yuli keluar rumah tanpa riasan di wajah. Bahkan untuk penampilan, Yuli sangat memperhatikan. Harus cantik dan indah dilihat.

“Tidak seperti seniman pada umumnya. Tetapi, kalau orang bertanya tentang profesi saya, mereka pasti terkejut. Banyak yang mengira saya ini pemain sinetron. Tetapi waktu saya bilang saya ini painting artist, mereka selalu bilang ‘wow!’ Terus mereka tanya ini itu. Tanya melukis apa, sudah berapa lama melukisnya, sampai lukisannya jenis apa, kok bisa tetap eksis. Setelah itu pembicaraan pasti akan mengalir dengan menyenangkan. Itulah yang membuat saya sangat bangga,” ujar Yuli.

Yuli memang lebih senang berbicara tentang lukisan. Tentang aktifitasnya sebagai art lover sekaligus painting artist daripada berbicara dunia gemerlap yang dijalani sebagian teman-temannya.

“Karena melukis bisa merubah hidup kita. Bisa membuat orang  lain senang lewat hasil karya kita. Apalagi kalau lukisan kita dihargai, dibeli dengan harga tinggi. Wah senang sekali,” ujar Yuli bangga.

Pelukis Rumahan

Sejak SMP Yuli gemar membuat sketsa mode. Ia sudah merasa ada darah seni mengalir dalam tubuhnya. Hanya saja, lulus SMA Yuli justru memilih masuk ke Stanford College jurusan Bahasa Inggris dan Komputer. Ia juga menikah muda saat masih berusia 22 tahun.

“Saya jadi tidak punya waktu lagi buat melukis. Setiap hari, waktu saya sudah habis buat ngurusin rumah dan anak-anak. Barulah setelah anak-anak besar, saya coba-coba melukis lagi,” kata Yuli.

Yuli akhirnya menjadi pelukis rumahan. Ia datangkan guru privat untuk melatih kelenturan tangannya saat melukis. Ia juga punya studio khusus tempat menyimpan semua lukisan hasil karyanya.

“Akhirnya saya pikir-pikir, saya punya hobi melukis, kenapa tidak saya jadikan hobi itu sebagai profesi saja. Bekerja di dunia yang saya sukai pasti akan membuat saya enjoy dan tidak terpaksa. Selama ini saya melukis dengan hati. Saya belajar secara otodidak, tidak ambil sekolah lukis. Jadi, melukis sudah menjadi jiwa saya,” kata ibu tiga anak, Adindara, Akbar Gustiana, dan Ameralda Claudia.

Tahun 1998 saat krisis moneter melanda Indonesia, Yuli justru membuka sekolah lukis untuk anak-anak di kawasan Pondok Indah diberi nama Sekolah Lukis Yudhacitra. Ia juga meresmikan EO-nya yang khusus menangani painting exhibition.

Empat tahun kemudian, Yuli kembali membuka sekolah lukis anak-anak di daerah Kemang. Ia juga serius menekuni pekerjaan barunya sebagai art dealer dan penyalur lukisan khusus hotel-hotel berbintang. Jumlah pesanan bisa mencapai 400 lukisan untuk satu hotel.

“Itulah, kalau kita sudah menekuni satu bidang jangan tanggung-tanggung, harus total. Saya seniman yang punya sense of bisnis. Seni lukispun bisa dibisniskan, jadi kenapa tidak kita seriusin,” ujar wanita yang kerap diundang mengikuti acara lelang ini bangga.

Begitupun menjadi art dealer. Menurut Yuli butuh keahlian khusus.

“Karena tidak hanya menjual karya-karya pelukis yang masih ada, tetapi juga dari lukisan-lukisan yang sudah lama dan kuno, atau yang pelukisnya sudah meninggal. Kita punya komunitas sendiri yang bisa mencari lukisa-lukisan tersebut. Seperti lukisan Basuki Abdullah, Affandi sampai Raden Saleh. Dan itu sangat susah sekali. Karena kita harus pakai kurator supaya tahu mana yang palsu dan tidak,” ujar wanita kelahiran 25 Juli 1967 ini dengan mimik serius.

Membicarakan lukisan Raden Saleh yang spektakuler, dahi Yuli langsung berkerut.

“Lukisan Raden Saleh itu hanya ada 9 buah di dunia. Jadi untuk menemukannya, kita benar-benar seperti masuk lubang jarum, Butuh waktu, uang dan pikiran. Itu harganya sudah diatas 5 Milyar. Ada yang di Belanda, di Amerika, dan beberapa Museum. Di Indonesia saja hanya ada 2 orang yang puya salah satunya di Istana,” kata Yuli menerangkan.

Impian Di Apartemen

Satu hari Yuli berjalan-jalan ke Sydney, Australia. Ia masuk ke sebuah galeri. Ia juga sempat singgah di satu mal besar.

“Di galeri itu, semuanya berhubungan dengan dunia seni lukis. Bahkan sampai meja-mejanya semua dilukis. Lalu saya masuk ke mal, di sana ada perangkat makan juga ada satu set meja makan. Semuanya saya sambung-sambungin. Bukan lewat foto, tetapi semua ada diotak saya. Lalu sampai di Jakarta saya aplikasikan ke kertas,” kenang Yuli.

Hasilnya, Yuli menyelesaikan satu lukisan yang indah. Diberi judul “Diantara Waktu Breakfast’.

“Saya merasa bagus sekali, dan ternyata semua orang bilang itu lukisan memang bagus. Saya melukiskan interior disain. Ada meja makan breakfast dengan pernak-perniknya yang unik, cantik dan bagus itu. Terus di samping meja makan itu ada jendela yang terbuka, kita langsung lihat pegunungan. Lukisan itu bahkan pernah masuk di majalah luar negeri.  Dan ternyata waktu saya pamerkan, semua orang appreciated banget,” ujar Yuli yang identik degnan lukisan cat air ini bangga.

Lukisan itu sudah terjual dan dikoleksi penggemar lukisan-lukisan Yuli. Total, wanita cantik ini telah menjual lebih dari 50 lukisan hasil karyanya.

Satu keinginan Yuli saat ini, “mudah-mudahan dalam waktu dekat, tempat workshop saya bisa diresmikan,” ujarnya.

Yuli tengah merancang satu tempat yang kelak ia gunakan sebagai tempat ‘kumpul-kumpul’ para pecinta seni lukis. Ia membeli satu unit apartemen di Bumi Mas Apartment. Di tempat ini ia buat geleri kecil dan tempat workshop yang cozy dan nyaman.

“Supaya kita bisa diskusi dan kolektor bisa lihat lukisannya. Ada ruang home teaternya, ada juga mini barnya. Dan kita akan rutin undang pecinta seni lukis. Kenapa saya plih apartemen, itu karena tempatnya bisa  24 jam saya pakai. Tidak seperti di hotel-hotel yang jam 10 malam sudah harus selesai,” ucap istri Indra Setyohadi ini dengan wajah senang.

Aien Hisyam

*wawancara 13 November 2006*

October 13, 2012 - Posted by | Kisah, Profil Seniman, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: