Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Wahyuniati Al-Waly

Tugas Wanita Ada di Rumah

Menjadi Ibu rumah tangga justru membuat istri Ustaz Arifin Ilham ini bergairah.

           

Sebagai wanita solehah, dia harus bisa menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, baik untuk suaminya dan baik untuk keluarganya,” ujar Yuni, suatu sore di rumahnya yang asri.

Tawaran bekerja di luar rumah ia tolak. Ibu tiga anak ini lebih memilih full time berkarir di dalam rumah. Seperti impiannya sejak kecil.

Rombak Tiap 3 Bulan

Singgah di rumah pasangan ustad Arifin Ilham dan Yuni, memang terasa nyaman dan tenang. Hanya ada 4 sofa tanpa kaki-kaki di ruang tamu. Bantal-bantal berbungkus kain putih mengisi tiap sandarannya. Di sudut ruang, ada satu meja kecil tempat meletakkan buku-buku. Rapi tertata.

Menuju ruang dalam –masih tidak tampak kursi berkaki- hanya ada dua karpet tebal menutupi lantai keramik warna putih. Ada satu televisi berukuran besar. Suasana yang tidak jauh berbeda dengan 2 tahun silam.

“Tapi coba diperhatikan, pasti ada yang beda,” ujar Yuni setengah protes.

Jarinya menunjuk tirai hijau muda yang menjuntai di pintu masuk ruang dalam. Juga beberapa tirai lain dengan warna senada.

“Yuni sendiri yang mendisain. Yuni yang pilih bahannya, jahitkan, dan pasang. Sekarang, Kak Arifin sepenuhnya percayakan Yuni menata rumah. Tentu saja, itu membuat Yuni senang,” kata wanita yang selalu menyebut dirinya dengan nama.

Tiap tiga bulan sekali Yuni bongkar pasang. Menata ulang perabotan dalam rumah. Memadu padankan satu ruang dengan ruang yang lain. Termasuk memberi sentuhan bunga di pinggiran kaca besar dalam ruang makan.

“Yuni ini ibu rumah tangga yang hanya sebagai ibu rumah tangga yang mendampingi anak-anak dan Kak Arifin,” kata wanita berdarah Aceh ini.

Tentu sebagai ibu rumah tangga adalah mengurus rumah. “Kepala rumah tangganya ya Kak Arifin, Yuni pemimpin rumah tangga. Alhamdulillah Allah menjodohkan Yuni dan kak Arifin. Kak Arifin yang berdakwah, Yuni berdakwah di rumah. Itu juga yang diinginkan Kak Arifin karena Kakak sering keluar, jadi anak-anak sama siapa. Kecuali kalau ada telpon masuk atau ada sms yang ingin berkonsultasi, setidaknya Yuni ada waktu sedikit,” lanjut Yuni.

Harus Rawat Diri

Yuni tidak berpandangan skeptis dengan wanita yang berkarir di luar rumah.

“Asalkan kodratnya sebagai wanita tidak diabaikan. Dan dia masih bisa mengatur rumah tangga dan pekerjaannya. Cuma sebaiknya wanita itu di rumah. Dan Yuni menikmati dan menyenangi itu,” tegas wanita yang dinikahi Arifin Ilham tanggal 28 April 1998.

Pekerjaan di rumah, lanjut Yuni, sangat banyak. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, mengurusi makanan dan suami, bersih-bersih rumah, memperindah rumah, memasak, mengurus anak-anak.

“Kalau anak-anak tidak ada, kita harus mengurus diri. Mempercantik diri dan merawat diri. Itulah ibu rumah tangga dan seorang istri yang baik,” ujarnya.

Merawat diri bukan untuk suami saja.

“Kita harus berniat. Niat pertama untuk Allah, yang kedua niat untuk menyenangi suami, yang ketiga niat untuk membahagiakan diri kita sendiri, dan keempat untuk penampilan kita. Dengan kita sehat, kemudian fit, kita bersih, tentu menghargai diri kita sendiri. Kalau wanita itu cantik tapi tidak fit dan loyo, pasti tidak menarik,” ujar Yuni yang hobi senam lewat cd dari luar negeri.

“Perempuan harus cantik dan indah. Yuni tidak setuju kalau perempuan menikah, punya anak dan tidak cantik lagi. Justru setelah perempuan itu punya anak satu, dua, dan ketiga, justru harus lebih cantik lagi,” tegasnya.

Yuni tidak pernah pergi ke salon. Berolah raga pun ia lakukan di dalam rumah. Ia punya ruang khusus seperti salon dan tempat mirip gym yang dipenuhi alat-alat fitness.

“Kalau mau creambath, Yuni sediakan alatnya, panggil orang buat creambath. Termasuk kalau mau luluran dan pijat, ada orang yang datang ke rumah juga,” ucap wanita asal Lamno, Aceh Barat kelahiran 18 Maret 1974.

Bangun Jam 4.30

Yuni dan Kak Arifin lebih banyak mempraktekkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah. Tidak hanya memerintahkan, “Nak ngaji!”. Tidak. Tetapi kita harus mulai dari diri kita sendiri,” kata Yuni tentang perannya sebagai Ibu.

Ia mengambil contoh kecil. “Alhamdulillah sejak usia tiga tahun Yuni dan Kak Arifin sudah membiasakan anak-anak harus selalu bangun pagi, sekitar jam 4.30 pagi. Sekarang mereka sudah usia 7 tahun, kelas 2, dan yang nomor dua sudah 5,5 tahun, kelas 1.”

Di saat anak-anak usia 7 tahun, “Alhamdulillah mereka tidak pernah putus salat subuh di mesjid. Mereka pagi sudah bangun, sudah mandi, sudah bersih, sudah pakai baju taqwa atau baju muslim, berangkat sama Abinya ke mesjid. Dan itu tidak sulit. Awal-awalnya memang sulit, tapi setelah kebiasaan, jadi sangat mudah. Timbul kesadaran dan justru jadi kebutuhan buat dia,” ujar ibu tiga anak, Muhammad Alfi Fais,Ammar Muhammad Dzikra dan Muhammad Abbas.

Pulang dari mesjid Yuni menemani anak-anaknya mengaji, hafal Al Quran.

“Mungkin tidak langsung Al Quran tapi Juz Amma dulu. Kita panggil guru ke rumah. Setelah mengaji baru siap-siap berangkat ke sekolah. Makan, ganti pakaian, baru berangkat ke sekolah,” jelas Yuni

Yuni tetap memberi waktu anak-anaknya bermain sepulang sekolah. Namun sehabis salat Isya, anak-anaknya harus bergegas tidur “Karena jam 4.15 meraka sudah harus bangun.”

“Di dalam rumah, suami dan istri harus bisa mengfungsikan rumah untuk empat hal,” kata putri Tengku H. Djamaludin Waly yang anggota DPR dari fraksi PPP bersemangat.

Pertama rumah dijadikan madrasah, dijadikan sebagai sekolah. “Gurunya Ayah Ibunya, muridnya anak-anaknya,” ujar Yuni.

Yang kedua, lanjutnya, rumah itu harus bisa dijadikan beteng keluarga, tempat untuk saling berbagi ada musyawarah dan kasih sayang. Tempat curhat. Yang ketiga, rumah sebagai musholah, tempat beribadah. Anak-anaknya ke mesjid, Ayah Ibunya baca Al Quran. Kemudian salat Tahajud dan salat Dhuha bersama. Nanti anak-anak bisa melihat dari sekelilingnya.

“Yang terakhir, jadikan rumah sebagai surga. Surga tidak perlu jauh-jauh, cukup di rumah. Bidadarinya istrinya, pangerannya suaminya. Anak-anaknya generasi Allah. Kita bisa menciptakan surga Allah. InsyaAllah kalau suami kita Sholeh, istrinya sholehah, pasti dia akan memberikan yang terbaik untuk istrinya. Kalau dia mencintai Allah, dia pasti mencintai istrinya,” kata wanita ayu ini.

Aien Hisyam

*wawancara 29 Agustus 2006*

October 13, 2012 - Posted by | Kisah, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: