Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Dyah Anita Prihapsari

3 Wanita Paling Berkesan

 

            Nita menjadi wanita Indonesia pertama yang mengikuti International Women Leaders Mentoring Partneship  (IWLMP) di Amerika. 

 

“Sebulan saya di Amerika. Ini benar-benar luar biasa. Saya satu-satunya wanita dari Asia yang terpilih ikut program tersebut,” ujar Dyah Anita Prihapsari bangga.

Nita memang tidak pernah berhenti beraktifitas. Tahun ini, sejumlah tanggung jawab ia pegang. Mulai dari Ketua Umum Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ketua DPD IWAPI Provinsi DKI Jakarta, Ketua Bidang Pariwisata dan Kebudayaan IWAPI Pusat, hingga Komisaris di 3 perusahaan.

Tidak salah bila Fortune memilih Nita sebagai pemimpin wanita di Asia untuk mengikuti IWLMP. Di Amerika Serikat, Nita berkumpul bersama 16 pemimpin wanita lainnya. Diantaranya dari Ukraine, Kenya, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Afrika, Bangladesh, Bolivia, dan sebagainya.

Laura Bush Dan Hillary

IWLMP baru pertama kali diadakan. Program ini menjadi kegiatan tahunan, kerjasama Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dengan Fortune Magazine untuk mencari pemimpin wanita berkualitas. Yaitu wanita muda yang sukses memimpin perusahaan, aktif di kegiatan sosial, punya perhatian yang besar pada dunia pendidikan dan kesehatan, serta punya visi misi bagi keberhasilan para perempuan. Proses seleksi dilakukan setiap Kedutaan Besar AS.

Dari 30 wanita pilihan, Lulusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management, Oklahoma City University ini lolos mewakili Indonesia sekaligus wakil Asia. Sejak tanggal 29 April hingga 28 Mei Nita dididik menjadi leader dan mentor yang handal.

“Hari pertama kita dibawa ke Wasingthon DC bertemu Laura Bush (Istri Presiden AS George W. Bush). Sebelumnya kita diterima empat staf ahli White House dan kepala security yang semuanya perempuan,” cerita Nita bangga.

Ia mendapat ‘ilmu’ tentang kepemimpinan wanita di Gedung Putih. “Mereka dipilih karena punya kriteria peran ganda.  Sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai pemimpin yang bisa membagi waktu, melobi dan memimpin karyawan tanpa emosional,” ujar Nita.

Di kesempatan ini Nita memberi kenang-kenangan buku kuliner Taste of Indonesia yang dibuat IWAPI. Sore hari, Nita berkunjung ke Departemen Luar Negeri AS.

“Di Deplu justru lebih ketat. Handphone dan kamera tidak boleh masuk. Ternyata ada Menteri Luar Negeri Concolezza Rice,” cerita Nita antusias.

Nita memperoleh pengetahuan tentang kriteria menjadi pemimpin dunia, tentang kerjasama dan kemitraan. “Dia bilang woman can change the world. Wow, hebat sekali,” ujar Nita.

Hari kedua, Nita diajak bertemu Kay Bailey Hutchison. Senator perempuan pertama dari Texas. Barulah esok harinya Ibu dua anak ini bertemu Hillary Clinton.

“Begitu Hillary lihat buku Taste of Indonesia, dia langsung komentar, ‘I love Indonesia’. Dia senang sekali bahkan mengirim ucapan terima kasih lewat surat setelah saya pulang,” cerita Nita. Di akhir pekan Nita bertemu Menteri Tenaga Kerja bersama 5 staf ahli yang semuanya juga perempuan.

“Mereka semua pemimpin hebat. Punya visi misi kuat bagi keberhasilan wanita. Hebatnya, meski Laura, Hilarry dan Rice sibuk dengan urusan pekerjaan, mereka selalu tekankan bahwa secara kodrat, wanita adalah Ibu bagi anak-anak, dan istri bagi suami. Dua tanggung jawab ini harus berjalan seimbang,” ujar Nita penuh keyakinan.

Anti Perokok

Mengenal Nita, tidak akan lepas dari aktifitasnya mengkampanyekan gerakan anti rokok. Sejak dilantik menjadi ketua WITT tahun 2004, disetiap kesempatan, Nita  selalu mengingatkan orang bahaya merokok. Ia selalu meminta orang tidak merokok atau berhenti merokok.

“Kerja WITT dimulai dari scope terkecil, yaitu keluarga. Kalau Ibu Bapaknya perokok, dan anak-anaknya di ajak merokok oleh lingkungannya, pasti tidak akan menolak. Berbeda kalau keluarga yang tidak merokok. Pasti anak-anaknya akan batuk-batuk kalau ada yang merokok. Dia akan menghindar dengan sendirinya. Dan saya himpun ibu-ibu bergabung di WITT karena Ibu adalah panutan keluarga. Ia yang selalu dilihat dan ditiru anak-anak. Kalau ibunya kurang benar, anak pasti terkontaminasi diluar. Jadi, kunciya adalah Ibu,” tegas wanita kelahiran 22 Juni 1964.

Kerja keras Nita berbuah manis. Perda No.22 tahun 2005 dan Pergub 75 tahun 2005 disyahkan. Masyarakat dilarang merokok di tempat-tempat tertentu.

Mendapat dukungan, WITT gencar mengadakan kegiatan dan penyuluhan setiap bulan. Sasarannya dari murid SD hingga Perguruan Tinggi.

“Sejak tanggal 3 Februari 2006 kita jadi Mitra Pemda. Kita berhak menegur orang yang merokok tidak pada tempatnya. Kita berhak menjadi penyuluh agar mereka merokok pada tempatnya. Kita juga dapat kartu khusus dari Pemda untuk mengkampanyekan gerakan anti rokok,” ujar Nita bangga.

WITT juga mencari payung serba berguna. “Karena merokok berkaitan dengan Narkoba, kita kerjasama dengan BNN. Kita masuk ke Kapolri dan minta biikin MOU agar bisa dimekar ke daerah-daerah,” ujar Nita. Ia berniat membuka cabang Yogyakarta, Surabaya, Bandung dan Manado.

Khusus untuk kader-kader WITT, Nita membuat pelatihan khusus yang baru saja diadakan di The Peak Apartement bulan Agustus lalu.

“Kita butuh pasukan lebih banyak yang tidak hanya Ibu-ibu dan perempuan. Tetapi harus ada kader yang laki-laki. Sekarang ada 60 murid dari SMP hingga Mahasiswa. Mereka siap jadi kader WITT.

Life Style Yang Berbahaya

Nita selalu memotivasi wanita untuk tidak merokok. “Bahayanya banyak sekali,” tegas Nita.

“Di dalam rokok ada 4000 bahan kimia yang berbahaya. Perokok wanita bisa terkena kanker payudara, kanker mulut rahim, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker gusi, kanker lidah, dan banyak sekali. Juga oesteoporosis, jantung dan bronkhitis. Penampilan juga kena imbasnya, muka cepat keriput, kuku kuning, gigi kuning, bibir hitam, tidak cerah dan lebih tua, tidak segar dan mulut berbau. Perokok wanita  lebih emosional karena mereka penuh ketergantungan,” ujar Nita

Merokok kerap dianggap sebagai lifestyle. Iklan televisi, menurut Nita, sering menjerumuskan wanita sebagai pecandu. “Iklan rokok itu pintar. Dia bikin rokok slim dengan warna yang sejuk, putih dan biru muda dengan kadar tar yang rendah juga rasa mild yang ringan. Ini sangat mempengaruhi pergaulan. Dianggap life style padahal salah besar,” tegas Nita bersemangat.

Tanpa kenal lelah, Nita mulai membidik Mal-mal di Jakarta untuk mengkampanyekan anti rokok.

“Kita buat road show Mal to Mal. Kita hadirkan Gubernur Sutiyoso dan beberapa selebritis. Kita sosialisasikan perda tersebut. Bukan melarang tapi kita hanya menempatkan para perokok di ruangan-ruangan khusus. Smoking Area yang harus menempel pengumuman bahaya merokok,” ujar Nita lagi.

“Semoga kegiatan ini mampu menyadarkan kita sehingga kita bisa menyelamatkan generasi bangsa. Karena dari merokok seseornag bisa terkena Narkoba dan HIV,” lanjut Nita tak kenal putus asa.

Aien Hisyam

*wawancara 5 September 2006*

Advertisements

October 13, 2012 - Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: