Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Leticia Paramita

Setiap Buka Mata, Pasti Ada Batu Baru

Setelah Ayahnya meninggal, Leticia mewarisi Lembaga Pendidikan Batu Permata satu-satunya di Indonesia. Ia berupaya memadukan dua sistem pendidikan, yang lama dan yang baru.

 

Dan itu tidak mudah,” kata Leticia. Namun, berbekal ilmu, pengalaman, dan ide kreatif, perlahan-lahan Institut Gemology Paramita (IGP) berkembang. Leticia berhasil membawa perbaharuan.

Dengan tegas, Leticia mengatakan bahwa ilmu gemologi tidak kalah pentingnya dengan bisnis perhiasan itu sendiri. Dengan kecintaannya yang tinggi, Leticia yakin bahwa lembaga yang telah berusia 12 tahun itu tetap diminati banyak orang. Ia harus tetap mempertahankan sampai kapan pun.

Tidak Mau Ada Yang Tertipu

Banyak yang bertanya tentang ilmu gemologi. Dengan sabar, Leticia selalu menjelaskan ilmu langka ini pada siapapun yang bertanya. ”Ini ilmu yang mempelajari teknik identifikasi, klasifikasi, dan penilaian terhadap kualitas batu permata,” jelas wanita kelahiran 12 Januari 1978.

Boleh dibilang, Leticia sangat mengenal ilmu tersebut. Ia sempat menuntut ilmu gemolog di Gemological Institute of America (GIA) di Bangkok, Thailand.

“Tapi sebenarnya, terjun di dunia ini juga tidak sengaja. Karena, dulu cita-cita saya bukan di bidang ini,” ujar Leticia, tersenyum.

Diceritakan Letis –sapa wanita cantik ini-, ketikaIGP berdiri tahun 1989, ia masih berusia 11 tahun. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan Ayahnya, (alm) Mahardi Paramita. Begitu pun ketika remaja, ia tidak tertarik dengan ilmu yang telah ditekuni Ayahnya ini, membuat Letis tidak tertarik mempelajarinya.

Lulus sekolah pun, Letis masih memilih bidang humas untuk ia tekuni. Dia kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Bekerja pun Letis masih memilih perusahaan lain, dan ia menjadi marketing di dua perusahaan.

Hatinya tersentuh manakala Ayahnya yang sudah tua akhirnya meminta Letis untuk mempelajari ilmu gemologi. Mahardi ingin sekali membimbing Letis untuk memperdalam ilmu gemologi. Mendengar permintaan tulus Ayahnya, akhirnya hati Letis tersentuh. Dia mau menerima tawaran sekolah di Bangkok, di tahun 2002.

Di sekolah batu permata yang bersertifikat internasional ini, Letis sekolah bersama adiknya, Delfina Paramita, selama delapan bulan.

”Setelah sekolah di sana, saya semakin tahu dan cinta pada ilmu ini. Ilmu ini belum banyak berkembang di Indonesia, jadi belum banyak gemolog di negara kita,” ujar istri Eddy Karmana.

Tekat Letis, ia ingin masyarakat Indonesia kian paham tentang batu permata. Ia prihatin dengan proses penaksiran batu permata yang kerap hanya didasarkan pada dugaan. “Jadi, banyak orang yang terkena kasus penipuan. Nah, saya tidak ingin hal itu masih terjadi di masa akan datang,” tegas Letis.

Susah Dipelajari

Diakui Letis, ilmu gemologi sangat unik.

‘Bagi saya, sangat menarik, karena kita tidak akan habis-habisnya mempelajari jenis batu-batuan. Batu mulia itu kekayaan alam yang diciptakan Tuhan untuk dinikmati karena keindahannya. Begitu banyak, sampai-samai bisa kita umpamakan, setiap buka mata pasti ada batu-batu baru yang muncul,’ kata Letis.

Meski kecil bentuknya, diakui Letis kalau batu-batu permata itu punya nilai yang tak bisa diukur. ‘Kalau kita mendapatkan batu kualitas kelas satu, nilainya bisa lebih mahal dari harga mobil atau rumah loh. Jangan lihat ukurannya. Karena permata itu kita sebut portable wealth, yaitu mudah dibawa kemana-mana tapi nilainya sangat tinggi,” ujar Letis.

Mempelajari batu permata pun tidak mudah. Seperti yang terjadi di kelas favorit Diamond Grading. Diceritakan Letis, kelas yang harus diikuti selama 10 kali pertemuan ini –masing-masing selama 3 jam-, mempelajari cara menentukan 4C dari berlian, yaitu color, cut, clarity, dan carat.

“Butuh ketelitian yang tinggi untu menentukan 4C ini. Makanya, belajarnya juga lama,” ujar Letis, tertawa lepas.

Kelas lain yang tidak kalah peminatnya, adalah kelas yang memberi pelajaran tentang mengenali karakteristik dan mengidentifikasiikan batu permata berwarna. “Dengan memiliki ilmu ini, kita bisa terhindar dari kecurangan dan kesalahan dalam jual beli batu permata,” tegas ibu satu putra ini.

Agar ilmu gemologinya mudah diserap, IGP membatasi siswanya hanya sekitar 2 hingga 10 orang saja.  “Peminatnya sangat beragam. Mulai dari pemilik toko perhiasan, penggemar perhiasan, pengacara, dampai ibu rumah tangga. Bahkan ada wisatawan asing yang berlibur di Indonesia ikut kelas di IGP.

Harus Sabar

Setelah menyandang gelar Graduate Gemologist, Letis ikut mengajar di IGP. Menjadi pengajar, dikatakan Letis sebagai pekerjaan yang menantang.

“Disini, banyak fasilitas yang kita sediakan. Selain buku teks untuk panduan, ada pula berbagai contoh batu permata dan berlian asli untuk latihan,” kata Letis. Saat mengajar ia harus satu persatu menemani siswa agar hasil yang didapat maksimal.

Siswa juga dapat menggunakan laboraturium, seperti mikroskop, refraktometer (alat pengukur indeks bias batu), leveridge (alat pengukur dimensi batu), hingga dichrooscope (alat untuk melihat sifat batu).

Menghadapi siswa yang beragam usia dan latar belakang, kata Letis, butuh kesabaran yang tinggi.

“Ada yang ngotot maunya belajar D, padahal dia belum belajar yang A dan B. Jadi kita harus sabar memberikan pengertian pada mereka bahwa untuk mendapat ilmu yang itu, kita harus belajar yang ini dulu. Karena belajar batu permata itu tidak bisa instan. Tapi, sekarang di IGP kita sudah punya kurikulum-kurikulum yang memang sesuai kebutuhan,’ ujar Letis.

Ide membuat kurikulum baru itu didapat Letis selama sekolah batu permata di luar negeri. Kini ada kelas gemologi dasar, mutiara, desain perhiasan, hingga kursus pendek khusus batu delima, safir, dan zamrud.

‘Kita buat kelas-kelas ini karena minat orang itu beda-beda. Dan kita berusaha mengakomodasi keinginan tersebut,” jelas Letis.

Selain IGP, di gedung sama juga terdapat Adamas Gemological Laboratory (AGL) yang didirikan Ayah Letis tahun 1983.  AGL adalah laboratorium untuk pemeriksaan dan sertifikasi batu permata. Dengan adanya sertifikat pada setiap batu permata, hal itu akan berpengaruh pada harga jual batu tersebut.

 


Dari Mata Turun Ke Hati

Batu permata itu unik. Begitu uniknya, sampai Letis pun dibuat jatuh hati pada batu-batu mungil ini.

‘Saya bersyukup papa memperkenalkan ilmu ini pada saya,’ ungkap Letis. Wajah Letis terlihat sendu. Itu karena beberap abulan silam, ayahnya meninggal dunia.

Kata Letis, ayahnya seorang inspirator terbesar yang sangat sabar, tidak otoriter, dan sahabat yang baik. Ayahnya juga sangat demokratis dan selalu berusaha mengerti point of view anak-anaknya –kebetulan tiga putri Mahardi terjun langsung membesarkan IGP dan AGL-, baru kemudian memebrikan pendapat.

‘Kata-kata papa banyak sekali yang masih terekam dalam ingatan saya, Kata-kata yang saya ucapkan saat mengajar, sama dengan kata-kata yang selalu beliau tuturkan. Jadi saya sulit sekali melupakan Papa,’ ujar Letis sambil menghela nafa panjang,

Letis pun yakin, siapapun yang serius mempelajari ilmu gemologi, ia akan dibuat jatuh cinta. ‘Jadi cinta itu turun dari mata ke hati,’ kata Letis, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

March 19, 2010 - Posted by | Profil Disainer, Profil Pendidik

7 Comments »

  1. SIANG, MAU NANYA KALAU MAU JUAL MUTIARA, KEMANA KAMI HARUS MENJUAL? PADAHAL SUDAH BERSERTIFIKAT DARI LEMBAGA YANG IBU PIMPIN. MOHON PETUNJUK, WASS

    Comment by ISMIARDY DEWANTO | September 2, 2011 | Reply

  2. 1 LAGI BU, SEKEDAR INFORMASI BERATNYA 41.79 GRAM DAN MUTIARA TERSEBUT DIDAPATKAN DARI PEDALAMAN PERAIRAN SULAWESI.

    Comment by ISMIARDY DEWANTO | September 2, 2011 | Reply

  3. sore, mau tanya, kalau tempat certifikasi berlian atau permata yang ada di daerah bandung dimana ya? apakah ADAMAS GEMOLOGICAL LABORATORY punya tempat di bandung? mohon informasinya, terimakasih..

    Comment by annisya | December 23, 2011 | Reply

  4. Klo mau kursus bgmn caranya dan biayanya berapa bu…
    Semoga Ibu mau dan sempat membalas. Terima kasih
    Yoes

    Comment by Yoes Dwi | October 12, 2012 | Reply

    • bu,, kapan ada kelas baru untuk pemula seperti saya. mohon infonya bu.

      Comment by mansur umsoohy | October 19, 2012 | Reply

  5. Dari gak suka batu. Benci karena ketipu, mulai ada rasa ingin pelajari… Tapi saya ada waktu 2 minggu libur. Kerja 2bln .. Kira 2 ada solusi jika ingin belajar? Mohon alamat nya donk sis’ atau petunjuk terimakasih sis’ saya tunggu di email

    Comment by khaerul umam | November 19, 2013 | Reply

  6. Mohon alamat nya makasih

    Comment by khaerul umam | November 19, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: