Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Tian Belawati

‘Modalnya Mau Saja’

Di bawah kepemimpinannya, 2 dari 4 Pembantu Rektor adalah wanita. Tian pun melakukan banyak terobosan. Inilah bukti bahwa ia wanita tangguh di balik sukses Universitas Terbuka saat ini.


Bertemu dengan Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., jauh dari kesan formal. Padahal, sejak bulan Juni 2009, ia menjadi Rektor di Universitas Terbuka (UT), rektor wanita pertama di UT sejak perguruan tinggi ini berdiri tahun 1984.

Ajak Kuliah TKI

Tian baru saja pulang dari Singapura. Belum lama ia berkunjung ke Hongkong. Di dua tempat ini Tian punya visi dan misi. ‘Sekarang, banyak TKW dan TKI di Singapura yang kuliah. Mereka memilih UT karena bisa kuliah sambil bekerja. Barulah, kalau ada tutorial, kita akan pakai gedung sekolah Indonesia,’ kata Tian, senang.

Di Arab Saudi, UT bahkan sudah memiliki 150 lebih mahasiswa. “Yang kuliah bukan TKW, tapijustru pekerja-pekerja kita yang ada di Arab. Kita juga sedang melayani para TKI di Korea dan di Macau,’ lanjut Tian.

Tak hanya ‘urusan’ luar negeri, Tian pun aktif mensosialisaikan kegiatan UT di banyak lapisan masyarakat. Ia sudah menjalin kerjasama dengan POLRI, KOWANI dan beberapa Lembaga Pemasyarakatan. Baru-baru ini, Tian juga diminta untuk mengirim ratusan formulir ke Papua Barat. Ada sekitar 100 anggota IKAPI yang ingin menuntut studi di Universitas Terbuka.

‘Mau pengusaha, ibu rumah tangga, buruh, TKW, orang yang kurang beruntung di LAPAS dan sebagainya, semua punya kesempatan yang sama untuk bisa kuliah. Modalnya mau saja,’ tegas Tian. Kini mahasiswa UT yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri, berjumlah lebih dari 522 ribu orang. Uniknya, 80 persen adalah wanita.

Diawali Jadi Pejabat ‘Teras’

Ketika Universitas Terbuka berdiri di tahun 1984, Tian baru saja menyelesaikan kuliahnya di IPB.

‘Sebenarnya kalau dibilang cita-cita itu enggak juga,’ sesaat Tian tertawa kecil. Ia kerap dibuat tersenyum kalau ditanya tentang cita-cita. ‘Jadi, kebetulan waktu saya lulus kuliah, UT baru saja berdiri. Saya lulus bulan Desember 1984, UT berdiri September 1984. Kantornya juga dekat rumah saya di Rawamangun. Rektornya juga tetangga saya. Dia tawari pekerjaan ke saya. Tapi, waktu itu saya bilang tidak mau. Saya mau kerja di swasta.’

Alhasil, sambil menunggu panggilan kerja, Tian menerima tawaran Rektor UT kala itu, membantu proses berdirinya UT. Karena belum memiliki kantor tetap, kegiatan UT pun berpindah-pindah, terkadang di hotel atau di luar kota. Tian juga mendapat tugas mengelola dan mengundang dosen-dosen ekonomi dari perguruan tinggi lain untuk menulis modul UT. Tian juga yang mengedit tulisan-tulisan yang masuk.

“Saya kerja juga di tikar karena ruangannya belum ada. Begitu sudah ada kursi, eh nggak kebagian ruangan. Jadilah kerjanya di teras. Jadi saya sejak dulu sudah jadi ‘pejabat teras’,” ujar Tian sambil tertawa lepas.

Tian juga merasa punya ‘ikatan khusus’ dengan UT. “Setiap saya dapat panggilan kerja, pasti saya lagi di luar kota. Akhirnya sering gagal. Nah, waktu saya di panggil perusahaan swasta, saya justru ditawari sekolah ke Kanada sama UT. Yah saya pilih sekolahnya. Mulai dari situlah saya akhirnya melebur di UT,’ cerita wanita peraih gelar Master of Education, dari Simon Fraser University, Burnaby, B.C., Canada.

Selesai kuliah S2, Tian kembali disekolahkan UT ke Kanada untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy di University of British Columbia, Vancouver.

Tidak Punya Teman Senasib

“Seninya jadi dosen di UT, kita itu kerjanya nggak selesai-selesai menerangkan dan menjelaskan pertanyaan orang. Sampai 23 tahun di UT, kerjanya ya nerangin terus,” ujar Tian, tersenyum.

Tapi, Tian mengaku senang. Katanya, ia mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan orang lain.

“Dan UT, tidak punya teman yang senasib. Saya lihatnya tidak dari segi kompetitor. Jadi misalnya kalau rektor perguruan tinggi tatap muka, kalau ada masalah dia bisa belajar dari rektor perguruan tinggi lainnya. Nah, kalau UT, kalau kita punya masalah, umumnya masalah kita berbeda dengan perguruan tinggi yang lain. Sehingga kita tidak bisa tanya ke mereka,” kata Tian.

Karenanya, bekerja di UT, kata Tian, dituntut kreatif dan pintar mengambil solusi. “Itulah menariknya. Kita tidak punya teman sejawat yang memiliki problema mirip dengan kita. Itu membuat kita jadi tidak bosan,” ujar Tian.

Begitupun dengan masalah teknologi yang cepat berubah. Karena sistem pengajaran UT yang jarak jauh, maka dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan teknologi.

“Kita selalu dikejar-kejar teknologi. Namanya teknologi cepat sekali. Disatu sisi masyarakat kita menuntut kita menggunakan teknologi yang terkini. Disisi lain sebagian mahasiswa UT belum punya akses ke teknologi itu. Nah, menyeimbangkan inilah yang jadi pekerjaan kita. Jadi tantangan tersendiri buat kita,” kata Tian.

Tian memegang teguh mandat UT yang telah berjalan puluhan tahun.

“Yaitu, UT harus bisa dijangkau siapapun. Bahwa kita harus bisa menawarkan program pendidikan tinggi yang terjangkau masyarakat dari segi biaya dan sistem. Jangan sampai orang di pedalaman tidak bisa kuliah karena sistem tidak menjangkau mereka. Makanya kita tetap mempertahankan modul yang tercetak, walaupun sudah ada internet,” tegas Tian, bangga.


Sering Tidak ‘Dilirik’

Tian memaklumi, jika keberadaannya sebagai Rektor wanita masih dipandang ‘tidak biasa’.

“Padahal, kalau wanita itu mengerjakan sesuatu, selalu dikerjakan dengan benar dan total. Pikiran juga tidak kemana-mana. Istilah saya, pantatnya nggak panas, jadi kalau kerja tekun,” kata wanita kelahiran 1 April 1962 ini.

Tian lantas tersenyum. Ia sering mendapat ‘perlakuan’ yang membuatnya tertawa sendiri. “Kalau belum kenal dengan saya, pada saat pertemuan Rektor, para pejabat ini menyalami semua rektor, kecuali saya. Itu sudah sering terjadi. Bahkan, belum lama, salah satu pejabat negara justru menyalami Pembantu Rektor 3 UT. Begitu PR 3 bilang kalau saya Rektornya, orang itu langsung kaget,’ ungkap Tian, tersenyum.

Tian menilai, bahwa masih banyak orang yang menganggap bahwa perempuan tidak mampu menduduk posisi tertentu. Apalagi, lanjt Tian, anggapan itu ditambah dengan kriteria seorang pemimpin yang harus anggun, berwibawa, dan rambutnya bersasak tinggi.

‘Lama-lama, saya mengganggap itu sebagai compliment. Bahwa saya itu awet muda,” ujar Tian yang kemudian tertawa lepas.

Bagi wanita yang telah berumah tangga dan juga berkarir di luar rumah, Tian mengatakan bahwa para wanita ini harus punya suporting yang besar dari keluarganya.

‘Harus balance,’ katanya.

Tian mencontohkan dirinya sendiri. ‘Bahwa saya bisa kerja, bisa penelitian, bisa menulis untuk jurnal, dan bisa berkarir, tapi saya masih sempat ke bioskop, jalana-jalan, dan belanja. Hidup saya tidak menderita amat. Saya senang sekali nonton. Itulah hiburan termurah yang tidak pernah saya tinggalkan,” ujar Tian.

“Intinya kita tidak boleh kerja keras, tapi harus kerja cerdas. Kita harus work hard juga play hard. Jadi harus seimbang. Kalau orang tidak seimbang, maka tidak akan produktif. Kalau pun produktif pastilah kualitas hasil kerjanya tidak bagus, karena ia tidak happy. Kalau mau buat orang lain happy, kita dulu yang happy,” kata Tian.

Aien Hisyam

Advertisements

March 9, 2010 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita

3 Comments »

  1. dua jempol buat bu tian:)

    Comment by lukman al Hakim | August 23, 2012 | Reply

  2. mantap!!! Aien Hisyam

    Comment by saepul | January 26, 2014 | Reply

  3. Aien Hisyam apa kabar???

    Comment by saepul | January 26, 2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: