Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Leticia Paramita

Setiap Buka Mata, Pasti Ada Batu Baru

Setelah Ayahnya meninggal, Leticia mewarisi Lembaga Pendidikan Batu Permata satu-satunya di Indonesia. Ia berupaya memadukan dua sistem pendidikan, yang lama dan yang baru.

 

Dan itu tidak mudah,” kata Leticia. Namun, berbekal ilmu, pengalaman, dan ide kreatif, perlahan-lahan Institut Gemology Paramita (IGP) berkembang. Leticia berhasil membawa perbaharuan.

Dengan tegas, Leticia mengatakan bahwa ilmu gemologi tidak kalah pentingnya dengan bisnis perhiasan itu sendiri. Dengan kecintaannya yang tinggi, Leticia yakin bahwa lembaga yang telah berusia 12 tahun itu tetap diminati banyak orang. Ia harus tetap mempertahankan sampai kapan pun.

Tidak Mau Ada Yang Tertipu

Banyak yang bertanya tentang ilmu gemologi. Dengan sabar, Leticia selalu menjelaskan ilmu langka ini pada siapapun yang bertanya. ”Ini ilmu yang mempelajari teknik identifikasi, klasifikasi, dan penilaian terhadap kualitas batu permata,” jelas wanita kelahiran 12 Januari 1978.

Boleh dibilang, Leticia sangat mengenal ilmu tersebut. Ia sempat menuntut ilmu gemolog di Gemological Institute of America (GIA) di Bangkok, Thailand.

“Tapi sebenarnya, terjun di dunia ini juga tidak sengaja. Karena, dulu cita-cita saya bukan di bidang ini,” ujar Leticia, tersenyum.

Diceritakan Letis –sapa wanita cantik ini-, ketikaIGP berdiri tahun 1989, ia masih berusia 11 tahun. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan Ayahnya, (alm) Mahardi Paramita. Begitu pun ketika remaja, ia tidak tertarik dengan ilmu yang telah ditekuni Ayahnya ini, membuat Letis tidak tertarik mempelajarinya.

Lulus sekolah pun, Letis masih memilih bidang humas untuk ia tekuni. Dia kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Bekerja pun Letis masih memilih perusahaan lain, dan ia menjadi marketing di dua perusahaan.

Hatinya tersentuh manakala Ayahnya yang sudah tua akhirnya meminta Letis untuk mempelajari ilmu gemologi. Mahardi ingin sekali membimbing Letis untuk memperdalam ilmu gemologi. Mendengar permintaan tulus Ayahnya, akhirnya hati Letis tersentuh. Dia mau menerima tawaran sekolah di Bangkok, di tahun 2002.

Di sekolah batu permata yang bersertifikat internasional ini, Letis sekolah bersama adiknya, Delfina Paramita, selama delapan bulan.

”Setelah sekolah di sana, saya semakin tahu dan cinta pada ilmu ini. Ilmu ini belum banyak berkembang di Indonesia, jadi belum banyak gemolog di negara kita,” ujar istri Eddy Karmana.

Tekat Letis, ia ingin masyarakat Indonesia kian paham tentang batu permata. Ia prihatin dengan proses penaksiran batu permata yang kerap hanya didasarkan pada dugaan. “Jadi, banyak orang yang terkena kasus penipuan. Nah, saya tidak ingin hal itu masih terjadi di masa akan datang,” tegas Letis.

Susah Dipelajari

Diakui Letis, ilmu gemologi sangat unik.

‘Bagi saya, sangat menarik, karena kita tidak akan habis-habisnya mempelajari jenis batu-batuan. Batu mulia itu kekayaan alam yang diciptakan Tuhan untuk dinikmati karena keindahannya. Begitu banyak, sampai-samai bisa kita umpamakan, setiap buka mata pasti ada batu-batu baru yang muncul,’ kata Letis.

Meski kecil bentuknya, diakui Letis kalau batu-batu permata itu punya nilai yang tak bisa diukur. ‘Kalau kita mendapatkan batu kualitas kelas satu, nilainya bisa lebih mahal dari harga mobil atau rumah loh. Jangan lihat ukurannya. Karena permata itu kita sebut portable wealth, yaitu mudah dibawa kemana-mana tapi nilainya sangat tinggi,” ujar Letis.

Mempelajari batu permata pun tidak mudah. Seperti yang terjadi di kelas favorit Diamond Grading. Diceritakan Letis, kelas yang harus diikuti selama 10 kali pertemuan ini –masing-masing selama 3 jam-, mempelajari cara menentukan 4C dari berlian, yaitu color, cut, clarity, dan carat.

“Butuh ketelitian yang tinggi untu menentukan 4C ini. Makanya, belajarnya juga lama,” ujar Letis, tertawa lepas.

Kelas lain yang tidak kalah peminatnya, adalah kelas yang memberi pelajaran tentang mengenali karakteristik dan mengidentifikasiikan batu permata berwarna. “Dengan memiliki ilmu ini, kita bisa terhindar dari kecurangan dan kesalahan dalam jual beli batu permata,” tegas ibu satu putra ini.

Agar ilmu gemologinya mudah diserap, IGP membatasi siswanya hanya sekitar 2 hingga 10 orang saja.  “Peminatnya sangat beragam. Mulai dari pemilik toko perhiasan, penggemar perhiasan, pengacara, dampai ibu rumah tangga. Bahkan ada wisatawan asing yang berlibur di Indonesia ikut kelas di IGP.

Harus Sabar

Setelah menyandang gelar Graduate Gemologist, Letis ikut mengajar di IGP. Menjadi pengajar, dikatakan Letis sebagai pekerjaan yang menantang.

“Disini, banyak fasilitas yang kita sediakan. Selain buku teks untuk panduan, ada pula berbagai contoh batu permata dan berlian asli untuk latihan,” kata Letis. Saat mengajar ia harus satu persatu menemani siswa agar hasil yang didapat maksimal.

Siswa juga dapat menggunakan laboraturium, seperti mikroskop, refraktometer (alat pengukur indeks bias batu), leveridge (alat pengukur dimensi batu), hingga dichrooscope (alat untuk melihat sifat batu).

Menghadapi siswa yang beragam usia dan latar belakang, kata Letis, butuh kesabaran yang tinggi.

“Ada yang ngotot maunya belajar D, padahal dia belum belajar yang A dan B. Jadi kita harus sabar memberikan pengertian pada mereka bahwa untuk mendapat ilmu yang itu, kita harus belajar yang ini dulu. Karena belajar batu permata itu tidak bisa instan. Tapi, sekarang di IGP kita sudah punya kurikulum-kurikulum yang memang sesuai kebutuhan,’ ujar Letis.

Ide membuat kurikulum baru itu didapat Letis selama sekolah batu permata di luar negeri. Kini ada kelas gemologi dasar, mutiara, desain perhiasan, hingga kursus pendek khusus batu delima, safir, dan zamrud.

‘Kita buat kelas-kelas ini karena minat orang itu beda-beda. Dan kita berusaha mengakomodasi keinginan tersebut,” jelas Letis.

Selain IGP, di gedung sama juga terdapat Adamas Gemological Laboratory (AGL) yang didirikan Ayah Letis tahun 1983.  AGL adalah laboratorium untuk pemeriksaan dan sertifikasi batu permata. Dengan adanya sertifikat pada setiap batu permata, hal itu akan berpengaruh pada harga jual batu tersebut.

 


Dari Mata Turun Ke Hati

Batu permata itu unik. Begitu uniknya, sampai Letis pun dibuat jatuh hati pada batu-batu mungil ini.

‘Saya bersyukup papa memperkenalkan ilmu ini pada saya,’ ungkap Letis. Wajah Letis terlihat sendu. Itu karena beberap abulan silam, ayahnya meninggal dunia.

Kata Letis, ayahnya seorang inspirator terbesar yang sangat sabar, tidak otoriter, dan sahabat yang baik. Ayahnya juga sangat demokratis dan selalu berusaha mengerti point of view anak-anaknya –kebetulan tiga putri Mahardi terjun langsung membesarkan IGP dan AGL-, baru kemudian memebrikan pendapat.

‘Kata-kata papa banyak sekali yang masih terekam dalam ingatan saya, Kata-kata yang saya ucapkan saat mengajar, sama dengan kata-kata yang selalu beliau tuturkan. Jadi saya sulit sekali melupakan Papa,’ ujar Letis sambil menghela nafa panjang,

Letis pun yakin, siapapun yang serius mempelajari ilmu gemologi, ia akan dibuat jatuh cinta. ‘Jadi cinta itu turun dari mata ke hati,’ kata Letis, dengan mata berbinar.

Aien Hisyam

Advertisements

March 19, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pendidik | 7 Comments

Mella Noviani

Keputusan Di Puncak Karir

Ketika memutuskan menjadi Wedding Planner, Mella hanya berbekal keahliannya membantu teman-temannya menata dekorasi pernikahan. Kini di bawah bendera Seven Heaven, ia menjadi salah satu perancang pernikahan tersukses di Jakarta.

Sejak kecil, Mella selalu bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Tak pernah terlintas dalam impiannya menjadi pekerja di bidang seni. Tapi, ‘sejak kecil saya sudah senang menata. Kalau ada pernikahan, saya suka bantuin,’ kenang Mella.

Lulus sekolah, Mella justru melanjutkan kuliah, mengambil jurusan banking finance. Satu pilihan yang bertolak belakang dengan cita-citanya menjadi insinyur.

“Setelah lulus, saya malah kerja di perkebunan kelapa sawit. Semakin jauh ‘kan dari pekerjaanku sekarang,’ ujar Mella tertawa lepas.

Di kantornya yang tenang, Mella pun bercerita tentang perjalanan hidupnya yang naik turun. Katanya, pengalaman hidup justru membuatnya kian matang dan kuat.

Ilmu Dari ‘Kelapa Sawit’

Sudah menjadi pilihan yang bulat bagi Mella, untuk bekerja di perkebunan. Ia lebih memilih kata hatinya, meski saat itu orangtuanya bersikeras agar Mella bekerja di kantor perbankan. Atau, kata wanita asal Palembang ini, kantor yang lebih ‘wanita’.

“Sebenarnya tidak jauh-jauh amat dengan kegiatan saya waktu SMP dan SMA. Dulu saya itu tomboi sekali. Suka heking dan kemping,” katanya, ceria.

Mella pun merasa bahagia meski harus bekerja di dalam hutan kelapa sawit di daerah Bengkulu. Ia tidak risih berada di tengah-tengah pekerja laki-laki. Justru ia sangat menikmati perannya sebagai pekerja lapangan.

Selain itu, Mella juga bekerja di perusahaan penyuplai barang-barang untuk angkatan darat. Lagi-lagi, wanita anggun ini harus berhubungan dengan mayoritas pekerja laki-laki.

“Bekerja di wilayah yang keras, maka kita juga harus kuat. Saya tidak pernah merasa diri saya perempuan. Dengan begitu, pekerjaan apapun akan saya lakukan, sama seperti pekerja laki-laki lainnya. Kita jadi tidak cengeng. Kerja keras kalau kita tidak mencinta, memang berhasil, tapi pasti ada rasa capeknya,” kata ibu satu putra ini.

Walaupun waktunya banyak tersita di luar kota, Mella masih meluangkan waktunya membantu teman-temannya mendekor. Ia ingin mendapat ‘hiburan’ di tengah-tengah kesibukannya yang sangat menyita.

“Banyak temanku yang sampai tidak enak karena saya bantu mendekor ruangannya, bunga-bunganya, dan sebagainya. Padahal aku tidak apa-apa,” kata Mella, senang.

Berawal Protes Anak

Suatu hari, anak semata wayang Mella protes. Ia menuntut Mella untuk lebih ‘memikirkan’ keluarga dibandingkan urusan pekerjaan.

“Saat itulah saya berdoa,” ungkap Mella. Sesaat itu tertegun dan menghela nafas panjang. “Saya merasa, ternyata selama ini waktu saya sudah habis terbuang begitu saja. Saya jadi ingin kerja yang masih bisa dekat dan kontrol anak. Dan itu (ide menjadi wedding planner) terjadi begitu saja dan langsung tercipta.”

Cukup lama Mella merenung dan berpikir. Ia menghadapi satu dilema besar. Disaat karirnya sudah berada di atas, ia harus melepas semua jerih payah yang telah iarintis puluhan tahun lamanya.

”Sampai 5 tahun saya berpikir. Kalau kita sudah di atas, untuk melepas profesi kita, kita mulai dari nol. Kecuali kalau kita extend. Misalnya dari supplier terus kita meningkat ke batubara. Nah, beda kalau kita sudah di tahap atas jadi supplier terus ke wedding planner, itu sangat berubah,” ungkap Mella, tentang kegelisahannya.

”Tapi saya juga berpikir, kalau selamanya begini, Tuhan selalu bilang, kita ini perempuan, jangan melebihi kodrat kita sebagai wanita. Karena dengan pilihan itu pasti ada yang dikorbankan, yaitu keluarga,” ujar Mella.

Apakah itu juga menyangkut satu peristiwa, Mella tersenyum.

”Banyak peristiwa yang membuat saya berpikir. Saya sering belajar dari teman-teman. Banyak teman saya, yang perempuan diatas perempuan. Karirnya sangat tinggi, tapi urusan di rumah tidak  terlalu dipikirkan. Kurang komunikasi dengan anak dan keluarga. Itulah ketakutan terbesar saya. Akhirnya saya putuskan kembali ke ‘darat’. Maksudnya bekerja yang tidak perlu keluar kota,” ujar Mella.

Pilihan pun jatuh menjadi wedding planner.

Tempat Curhat Klien

3 tahun silam, Seven Heaven berdiri.

“Waktu Seven Heaven lahir, kita sudah punya 5 klien. Jadi saya belum sempat berpromosi dan lain sebagainya. Awalnya, yang menggunakan jasa saya teman-teman dekat. Mereka butuh sekali dibantu pernikahannya,” kata Mella.

Mella hanya punya satu keyakinan, kalau ia memberikan yang terbaik, pasti ia akan dimudahkan dalam mendapatkan rejeki.

Mella pun ingin ‘berbeda dengan wedding planner pada umumnya. “Saya selalu research, apa saja yang selalu mereka berikan pada pengantin. Kalau hanya sebatas AB, saya akan memberikan yang ABC. Niat saya yang utama adalah membantu orang, memberikan pertolongan, agar mereka bahagia. Dan pastinya di bidang ini, kita punya market masing-masing,” kata Mella.

Niat baik itu juga dilengkapi Mella dengan menggunakan anak-anak dari keluarga tidak mampu sebagai petugas saat acara pernikahan itu berlangsung. “Anak-anak dari yayasan yang saya dirikan sejak lama. Ada ratusan anak yang saya beri beasiswa. Saya juga bantu orangtuanya. Mereka banyak yang tinggal di pinggir-pinggir rel,” ujar Mella.

Menjadi Wedding Planner, diakui Mella, membuat hidupnya jadi lebih bermakna.

“Sering malam-malam. Klien telepon saya hanya untuk curhat. Mereka bilang, tidak bisa cerita kemana-mana karena takut bocor,” cerita Mella, tersenyum.

Tentu saja Mella, senang. Karena walaupun kliennya berasal dari banyak kalangan, dengan agama yang berbeda-beda, ia bahagia bisa melihat orang lain senang.

‘Setiap minggu, pasti ada satu acara pernikahan. Setiap para mempelai ini meminta maaf pada orang tuanya, disaat itulah saya selalu menangis. Jadi, di setiap pernikahan, saya selalu menangis, “ ujar Mella dengan bibir tersungging senyum.


Harus Bawa Tas ‘Ajaib’

Terinspirasi film wedding planner yang dibintangi Jenifer Lopez, Mella punya cara yang unik saat ia turun langsung ke lapangan.

“Kalau hari H, tim saya dan dari pihak vendor, masing-masing harus bawa tas ‘ajaib’. Isinya, mulai dari peniti, karet, jepit rambut, pulpen, gunting kecil., cutter, silet, dan sebagainya. Semprotan untuk muka juga harus ada. Jadi kalau ada yang mukanya benar-benar capek, langsung kita semprot, supaya fresh lagi. Saya ini orangnya sangat perfect,” kata Mella.

Pernah suatu hari, salah satu pegawainya lupa bawa cutter di dalam tasnya. ‘Padahal ada ranting yang cukup mengganggu dan harus dipotong. Itu saya marah sekali,” kenang Mella.

Mella juga sangat detail mempersiapkan pernikahan. Ia tidak hanya membuat rundown acara. Tapi juga terlibat jauh di dalamnya, seperti menjadi perantara, menjadi penengah kalau ada masalah, hingga menjadi pengingat dan penghubung antara kedua belah pihak calon mempelai melalui telepon. Cara ini yang jarang dilakukan wedding planner pada umumnya.

“Makanya, saya lebih suka disebut wedding planner. Bukan wedding organize. Kalau planner, dia akan mengurusi sampai detail-detailnya. Sampai acara tersebut selesai,” katanya.

Mella punya pertanyaan ‘pembuka’ pada setiap kliennya, sebelum kerjasama itu berjalan.

“Saat pasangan sudah memutuskan untuk menikah, pertama yang selalu saya tanya, mereka mau menikah di gedung atau hotel. Selalu pertanyaan itu. Karena setelah tahu jawabannya, kita akan lebih mudah menentukan vendor-vendor mana saja yang akan diajak kerjasama. Jadi, justru bukan tanya mau pakai baju apa dan sebagainya. Itu pertanyaan selanjutnya. Disinilah seorang wedding planner bertugas,” ujar Mella yang punya keinginan membuat buku Dinamika Wedding.

“Prinsip saya, kesenangan klien itu kepuasan kita semua,” lanjut Mella dengan senyum merekah.

Aien Hisyam

March 10, 2010 Posted by | Profil Disainer, Profil Pengusaha | 4 Comments

Tian Belawati

‘Modalnya Mau Saja’

Di bawah kepemimpinannya, 2 dari 4 Pembantu Rektor adalah wanita. Tian pun melakukan banyak terobosan. Inilah bukti bahwa ia wanita tangguh di balik sukses Universitas Terbuka saat ini.


Bertemu dengan Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., jauh dari kesan formal. Padahal, sejak bulan Juni 2009, ia menjadi Rektor di Universitas Terbuka (UT), rektor wanita pertama di UT sejak perguruan tinggi ini berdiri tahun 1984.

Ajak Kuliah TKI

Tian baru saja pulang dari Singapura. Belum lama ia berkunjung ke Hongkong. Di dua tempat ini Tian punya visi dan misi. ‘Sekarang, banyak TKW dan TKI di Singapura yang kuliah. Mereka memilih UT karena bisa kuliah sambil bekerja. Barulah, kalau ada tutorial, kita akan pakai gedung sekolah Indonesia,’ kata Tian, senang.

Di Arab Saudi, UT bahkan sudah memiliki 150 lebih mahasiswa. “Yang kuliah bukan TKW, tapijustru pekerja-pekerja kita yang ada di Arab. Kita juga sedang melayani para TKI di Korea dan di Macau,’ lanjut Tian.

Tak hanya ‘urusan’ luar negeri, Tian pun aktif mensosialisaikan kegiatan UT di banyak lapisan masyarakat. Ia sudah menjalin kerjasama dengan POLRI, KOWANI dan beberapa Lembaga Pemasyarakatan. Baru-baru ini, Tian juga diminta untuk mengirim ratusan formulir ke Papua Barat. Ada sekitar 100 anggota IKAPI yang ingin menuntut studi di Universitas Terbuka.

‘Mau pengusaha, ibu rumah tangga, buruh, TKW, orang yang kurang beruntung di LAPAS dan sebagainya, semua punya kesempatan yang sama untuk bisa kuliah. Modalnya mau saja,’ tegas Tian. Kini mahasiswa UT yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri, berjumlah lebih dari 522 ribu orang. Uniknya, 80 persen adalah wanita.

Diawali Jadi Pejabat ‘Teras’

Ketika Universitas Terbuka berdiri di tahun 1984, Tian baru saja menyelesaikan kuliahnya di IPB.

‘Sebenarnya kalau dibilang cita-cita itu enggak juga,’ sesaat Tian tertawa kecil. Ia kerap dibuat tersenyum kalau ditanya tentang cita-cita. ‘Jadi, kebetulan waktu saya lulus kuliah, UT baru saja berdiri. Saya lulus bulan Desember 1984, UT berdiri September 1984. Kantornya juga dekat rumah saya di Rawamangun. Rektornya juga tetangga saya. Dia tawari pekerjaan ke saya. Tapi, waktu itu saya bilang tidak mau. Saya mau kerja di swasta.’

Alhasil, sambil menunggu panggilan kerja, Tian menerima tawaran Rektor UT kala itu, membantu proses berdirinya UT. Karena belum memiliki kantor tetap, kegiatan UT pun berpindah-pindah, terkadang di hotel atau di luar kota. Tian juga mendapat tugas mengelola dan mengundang dosen-dosen ekonomi dari perguruan tinggi lain untuk menulis modul UT. Tian juga yang mengedit tulisan-tulisan yang masuk.

“Saya kerja juga di tikar karena ruangannya belum ada. Begitu sudah ada kursi, eh nggak kebagian ruangan. Jadilah kerjanya di teras. Jadi saya sejak dulu sudah jadi ‘pejabat teras’,” ujar Tian sambil tertawa lepas.

Tian juga merasa punya ‘ikatan khusus’ dengan UT. “Setiap saya dapat panggilan kerja, pasti saya lagi di luar kota. Akhirnya sering gagal. Nah, waktu saya di panggil perusahaan swasta, saya justru ditawari sekolah ke Kanada sama UT. Yah saya pilih sekolahnya. Mulai dari situlah saya akhirnya melebur di UT,’ cerita wanita peraih gelar Master of Education, dari Simon Fraser University, Burnaby, B.C., Canada.

Selesai kuliah S2, Tian kembali disekolahkan UT ke Kanada untuk mendapatkan gelar Doctor of Philosophy di University of British Columbia, Vancouver.

Tidak Punya Teman Senasib

“Seninya jadi dosen di UT, kita itu kerjanya nggak selesai-selesai menerangkan dan menjelaskan pertanyaan orang. Sampai 23 tahun di UT, kerjanya ya nerangin terus,” ujar Tian, tersenyum.

Tapi, Tian mengaku senang. Katanya, ia mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan orang lain.

“Dan UT, tidak punya teman yang senasib. Saya lihatnya tidak dari segi kompetitor. Jadi misalnya kalau rektor perguruan tinggi tatap muka, kalau ada masalah dia bisa belajar dari rektor perguruan tinggi lainnya. Nah, kalau UT, kalau kita punya masalah, umumnya masalah kita berbeda dengan perguruan tinggi yang lain. Sehingga kita tidak bisa tanya ke mereka,” kata Tian.

Karenanya, bekerja di UT, kata Tian, dituntut kreatif dan pintar mengambil solusi. “Itulah menariknya. Kita tidak punya teman sejawat yang memiliki problema mirip dengan kita. Itu membuat kita jadi tidak bosan,” ujar Tian.

Begitupun dengan masalah teknologi yang cepat berubah. Karena sistem pengajaran UT yang jarak jauh, maka dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan teknologi.

“Kita selalu dikejar-kejar teknologi. Namanya teknologi cepat sekali. Disatu sisi masyarakat kita menuntut kita menggunakan teknologi yang terkini. Disisi lain sebagian mahasiswa UT belum punya akses ke teknologi itu. Nah, menyeimbangkan inilah yang jadi pekerjaan kita. Jadi tantangan tersendiri buat kita,” kata Tian.

Tian memegang teguh mandat UT yang telah berjalan puluhan tahun.

“Yaitu, UT harus bisa dijangkau siapapun. Bahwa kita harus bisa menawarkan program pendidikan tinggi yang terjangkau masyarakat dari segi biaya dan sistem. Jangan sampai orang di pedalaman tidak bisa kuliah karena sistem tidak menjangkau mereka. Makanya kita tetap mempertahankan modul yang tercetak, walaupun sudah ada internet,” tegas Tian, bangga.


Sering Tidak ‘Dilirik’

Tian memaklumi, jika keberadaannya sebagai Rektor wanita masih dipandang ‘tidak biasa’.

“Padahal, kalau wanita itu mengerjakan sesuatu, selalu dikerjakan dengan benar dan total. Pikiran juga tidak kemana-mana. Istilah saya, pantatnya nggak panas, jadi kalau kerja tekun,” kata wanita kelahiran 1 April 1962 ini.

Tian lantas tersenyum. Ia sering mendapat ‘perlakuan’ yang membuatnya tertawa sendiri. “Kalau belum kenal dengan saya, pada saat pertemuan Rektor, para pejabat ini menyalami semua rektor, kecuali saya. Itu sudah sering terjadi. Bahkan, belum lama, salah satu pejabat negara justru menyalami Pembantu Rektor 3 UT. Begitu PR 3 bilang kalau saya Rektornya, orang itu langsung kaget,’ ungkap Tian, tersenyum.

Tian menilai, bahwa masih banyak orang yang menganggap bahwa perempuan tidak mampu menduduk posisi tertentu. Apalagi, lanjt Tian, anggapan itu ditambah dengan kriteria seorang pemimpin yang harus anggun, berwibawa, dan rambutnya bersasak tinggi.

‘Lama-lama, saya mengganggap itu sebagai compliment. Bahwa saya itu awet muda,” ujar Tian yang kemudian tertawa lepas.

Bagi wanita yang telah berumah tangga dan juga berkarir di luar rumah, Tian mengatakan bahwa para wanita ini harus punya suporting yang besar dari keluarganya.

‘Harus balance,’ katanya.

Tian mencontohkan dirinya sendiri. ‘Bahwa saya bisa kerja, bisa penelitian, bisa menulis untuk jurnal, dan bisa berkarir, tapi saya masih sempat ke bioskop, jalana-jalan, dan belanja. Hidup saya tidak menderita amat. Saya senang sekali nonton. Itulah hiburan termurah yang tidak pernah saya tinggalkan,” ujar Tian.

“Intinya kita tidak boleh kerja keras, tapi harus kerja cerdas. Kita harus work hard juga play hard. Jadi harus seimbang. Kalau orang tidak seimbang, maka tidak akan produktif. Kalau pun produktif pastilah kualitas hasil kerjanya tidak bagus, karena ia tidak happy. Kalau mau buat orang lain happy, kita dulu yang happy,” kata Tian.

Aien Hisyam

March 9, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | 3 Comments