Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Peni Cameron

Saatnya Animasi Indonesia Berjaya


Meski tak berbekal background animasi, Peni telah melakukan banyak hal untuk animasi Indonesia. 6 studio telah ia bangun di 6 daerah. Tahun ini ia siap meluncurkan Hotel Animasi di 33 propinsi di Indonesia.

Tidak mudah menemui Peni Cameron. Kesibukan wanita ini luar biasa. Sebelum acara penganugerahan Indonesia Ceative Icon (ICI) -satu penghargaan yang telah ia gagas sejak dua tahun silam- dibuka, Peni berbincang-bincang tentang dunia yang membuatnya jatuh hati.

Berbicara tentang ICI, dengan bangga, Peni katakan bahwa ada sembilan spektrum yang diperlombakan, yaitu digital music, digital comic, animation, music performance, dance, fashion, craft, applied science, dan game. Saat itu, ada puluhan anak remaja dari belasan daerah, yang siap memperebutkan gelar juara ICI 2010.

“Acara ini untuk mendorong dan mengembangkan industri kreatif. Yaitu dengan mengangkat budaya daerah untuk menciptakan peluang bisnis bagi kreatir dan produsen, pelaku distribusi dan pasar serta pengguna di tingkat nasional,” kata wanita bernama lengkap Peni Iswahyurani.

Diawali Dari Cinta

“Sejak kapan ya saya suka animasi?” sesaat Peni bertanya, dan terdiam. Bibirnya tersenyum. “Yang pasti itu terjadi sejak kecil.”

Peni pun bercerita tentang masa kecilnya. ‘Dulu, Ayah ku sering pinjam rol-rol film bioskop kepunyaan Mabes TNI Angkatan Laut. Di Surabaya. Kita, sekeluarga, selalu nonton bersama-sama. Waktu itu, filmnya masih hitam putih dan diputar pakai proyektor,” kenang Peni, tersenyum.

Meski dengan sarana yang terbatas, Peni langsung jatuh hati pada film-film animasi. Katanya, dengan animasi, orang bisa berimajinasi apa saja, bahkan setinggi-tingginya. Bebas berekspresi hingga membuat kejadian-kejadian yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata. Animasi juga bisa membangun karakter seseorang, menjadi tokoh pujaan, dan menjadi imajinasi anak-anak.

“Ada persahabatan, kompetisi, kerja keras, dan banyak lagi. Dengan animasi, anak-anak bisa belajar dan terbangun perilakunya. Inilah media yang disukai anak-anak hingga orang dewasa,” kata Peni.

Meski menyukai film animasi, saat itu Peni belum terpikir akan terjun di bidang tersebut. Ia justru mengambil kuliah teknik arsitektur.

Lulus kuliah, Peni menekuni bidang pemasaran. Pengetahuan di bidang arsitektur, ia pakai untuk memetakan konsep-konsep pemasaran bidang tertentu. Lama kelamaan, Peni menyukai pekerjaannya menjadi sales person produk furnitur dan software. Peni juga sempat berbisnis seprai, pernak pernik rumah tangga, dan parcel.

Tidak Berkembang

Pertemuan Peni dengan Dian, seorang animator, di tahun 1996, merubah hidup Peni selanjutnya. Obrolan santai sesama teman ini memunculkan banyak ide di kepala Peni. Dengan penuh keyakinan, Peni mendirikan PT. Adianimas Cipta, perusahaan yang bergerak di bidang animasi. Peni berharap, banyak perusahaan yang tertarik membuat film animasi.

Sembari menunggu produser yang mau membuat film animasi, Peni membuat animasi untuk iklan-iklan. Sayangnya, apa yang dinanti-nantikan tak kunjung datang. Peni prihatin karena tidak ada produsen yang mau ‘menghidupi’ film animasi produksi Indonesia.

Peni pun banting stir membuka lembaga pendidikan dan pelatihan (training company). Wanita ini mengaku kecewa, saat itu ia tidak bisa berbuat banyak di bidang animasi. Meski begitu, Peni tetap berjanji dalam hati, suatu saat ia akan kembali ke dunia yang ia cintai, animasi.

Gayung bersambut. Tak berapa lama, ia bersama 12 temannya yang lain mendirikan AINAKI (Asosiasi Industri Animasi & Konten Indonesia) di tahun 2004. Tentu saja Peni senang.

“Tapi, sayangnya AINAKI tidak berjalan sesuai harapan,” sesaat Peni menghela nafas panjang, “pelaku industri animasi masih sering kesulitan membiayai hidupnya. Bidang ini masih kurang populer di Indonesia. Walaupun pemerintah mensuport dan membantu, itu belum cukup.”

Melalui pengamatan Peni –setelah wanita ini terjun lebih jauh di dunia animasi- banyak hal yang harus diperbaiki. Berbekal ilmu pemasaran yang telah ia jalani, Peni nekat mendirikan PT. Citra Andra Media (CAM Solutions) atau biasa disingkat CAMS pada 5 Juni 2006.

Kali ini, Peni bertekat untuk maju terus membesarkan dunia animasi Indonesia. Langkah awal yang ia lakukan adalah mencari dana untuk menjalankan program-program AINAKI.

Lagi-lagi Peni rencana Peni tidak berjalan mulus. Ia harus menerima kenyataan tidak ada film yang bisa diedarkan ke masayarakat. “Tapi, itulah resiko, harus dihadapi,” tegas Peni, yang tidak pernah merasa putus asa.

Cari Ke Daerah-Daerah

Peristiwa ini membuat Peni mendapat pelajaran baru, bahwa untuk menjual animasi, maka harus ada filmnya dulu. Ia pun mulai melakukan road show ke kota-kota Indonesia untuk memperkenalkan dunia animasi, sekaligus menjaring pelaku-pelaku industri Animasi.

Ada sekitar 12 daerah yang didatangi Peni, yakni Jakarta, Makasar, Yogyakarta, Medan, Padang, Bandung, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, Balikpapan, hingga Jayapura. Peni tak hanya menjadi pelaku industri animasi di daerah. Ia juga bekerjasama dengan televisi lokal, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Peni bersyukur, kerja kerasnya berjalan sesuai rencana. Ia bahkan bangga karena pemerintah memintanya membantu pemetaan penyebaran industri animasi di Indonesia.Sayangnya sukses ini tidak diikuti dengan antusias televisi nasional.

“Akhirnya, film-film animasi ini saya jual ke televisi-televisi lokal,” kata Peni. Ia pun satu per satu membangun studio animasi di daerah. Diantara di Bandung, Yogya, Malang, Surabaya, dan Bali. Ini ada 6 studio animasi yang tersebat di  kota-kota tersebut. Dan, kata Peni, jumalh itu akan terus bertambah.

“Ada yang khawatir dengan biaya. Tapi, saya selalu bilang bahwa orang kreatif tidak pernah memikirkan biaya. Ia diberi kelebihan untuk memutar otak, mewujudkan semua rencananya. Kita harus kreatif mewujudkannya,” kata wanita kelahiran Surabaya, 13 September 1966.

Sembari studio animasinya berjalan, Peni kembali harus menjalankan satu rencana besarnya, yakni mewujudkan Hotel Animasi sesuai dengan impiannya. “Rencana tahun ini sudah di launching satu hotel animasi,” katanya, bersemangat. Dimana tempatnya, sambil tersenyum Peni menjawab, “masih rahasia ya.”


Karakter Itu Penting

Tidak mudah menciptakan karakter untuk film animasi yang sesuai dengan budaya Indonesia. Termasuk membuat dialog-dialog yang berkualitas dan enak di dengar.

Ada beberapa film animasi yang telah dibuat Peni dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, dan ‘Serial Catatan Dian, ‘Kuci-Kojo’, ‘Bany’, ‘Bakpia vs Geplak’, dan ‘Him & Her’.

“Tapi saya belum puas,” kata Peni dengan nada tegas.

Peni masih ingin menggali lebih jauh lagi budaya-budaya lokal dari 33 provinsi. Ia ingin tokoh-tokoh karakter film animasinya, bisa melekat di hati dan ingatan masyarakat Indonesia. Ia punya mimpi, karakter-karakter tersebut tidak kalah dengan karakter buatan luar negeri. Kata Peni, karakter dari tokoh dalam film animasi itu sangatlah penting.

“Siapapun bisa menciptakan karakter atau tokoh animasi sesuai imajinasi mereka. Contohnya saja, yang tim yang membuat Catatan Dian, kata si pembuatanya, itu terinspirasi dari saya, dengan rambut yang juga warnanya merah,’ ujar Peni sambil tertawa lepas.

Saat ini, Peni tengah sibuk mempromosikan film-film dan tokoh-tokoh animasi buatan CAM’s di sejumlah televisi nasional. ‘Semoga, semangat kita membesarkan animasi Indonesia bisa menular ke siapa saja,’ kata Peni, bersemangat.

Aien Hisyam

February 11, 2010 - Posted by | Profil Pakar IT, Profil Pengusaha

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: