Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Mayadewi Hartarto

Dirikan Sekolah Demi Kemajuan Fashion


Maya dididik di sekolah Bisnis. Namun, Esmod Jakarta justru menjadi tempat ia bekerja dan menuangkan segala ide-idenya.

Menjadi orang nomor satu di sekolah mode terbesar di Indonesia, ESMOD Jakarta, tentu saja Mayadewi memiliki jadwal yang sangat padat. Apalagi, ibu dua anak ini juga memiliki beberapa perusahaan yang berbeda dengan dunianya yang satu ini. Toh, Maya masih sempat meluangkan waktunya, berbincang-bincang tentang dunia fashion yang sebenarnya tak sengaja ia geluti.

Di ruang kerjanya yang luas, di lantai atas ESMOD Jakarta, Maya mengatakan bahwa ia terisnpirasi pada sekolah mode ternama Ecole Superieure des Arts et techniques de la Mode. Ia ingin sekali mencetak anak-anak muda yang ahli di bidangnya, khususnya di bidang fashion.

Maya menilai, bahwa potensi di dunia fashion saat ini kian terbuka lebar dan berkembang dengan pesatnya. Bahkan, fashion -baik hasil maupun orang yang bekerja di dalamnya- menjadi salah satu lahan yang mampu menghidupi siapapun juga.

Di sekolah mode, kata Maya, bisa menjadi tempat untuk mengasah talenta-talenta muda yang berbakat dan punya minat besar pada dunia fashion dan Mode. Dan di ESMOD Jakarta, mimpi itu berusaha diwujudkan Maya.

Memilih Paris

Sudah 14 tahun ESMOD Jakarta berdiri. Itu berarti, sudah ratusan anak muda yang lulus dari sekolah ini. Maya pun mengaku bangga.

‘Dulu, industri garmen belum sebesar ini. SDM juga terbatas. Kalaupun ada, untuk posisi-posisi tertentu, mereka masih memakai SDM dari luar. Nah, dari situlah saya berpikir, sudah saatnya Indonesia punya institusi pendidikan yang bisa menghasilkan SDM-SDM di bidang fashion,’ kata wanita yang lahir tanggal 21 Desember 1969.

Keinginan Maya ini berbanding lurus dengan kondisi saat itu yang juga menuntut adanya SDM yang andal. Tanpa berpikir panjang, wanita yang aktif di Yayasan Pengembangan Desain Indonesia (YPDI) milik ibunya, Hartini Hartarto. langsung membeli franchise Esmod Internasional di Paris. Apalagi, saat itu belum ada pendidikan yang khusus di dunia fashion.

Maya memang bukan perancang mode, tapi ia sangat peduli dengan dunia fashion. Itu ia buktikan ketika bergabung di YPDI. Di yayasan ini ia bisa dengan leluasa melakukan kegiatan pembinaan dan mendidik para pengrajin. ‘Yaitu, membawa orang yang ahli dan punya pengetahuan di bidan kerajinan itu, dan di bawa di daerah yang sedang kita bina,’ jelas Maya.

Mengapa harus dari Paris? Maya pun tersenyum. ‘Itu melalui banyak pertimbangan. Waktu saya berpikir, kalau kita menyebut pusat fashion, dimana lagi kalau bukan di Paris. Nah, sampai disitu, saya masih harus memilih-milih lagi, karena di Paris sekolah fashion masih terbagi-bagi,’ kata Maya.

Beberapa sekolah fashion di Paris masih dibagi atas haute couture (adi busana), ready-to-wear (pakaian siap pakai), dan masih banyak lagi. Dan Maya harus memilih jenis sekolah yang akan dia dirikan. Wanita anggun ini juga tidak mau mendirikan sekolah yang asal-asalan. Dan, dipilihlah sekolah yang berbasis pendidikan fashion-to-wear, yang kata Maya, sesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia saat itu.

Esmod adalah salah satu sekolah terbaik yang ada di Paris. Sekolah ini juga telah memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh dunia. Maka, tanggal 6 September 1996, Esmod Jakarta berdiri.

Yakinkan Orangtua

Awal berdirinya Esmod Jakarta, banyak hal baru yang harus dipelajari Maya. Lulusan Business Administration di Pine Manor College, Boston dan Sacred Heart School, Chicago ini, harus bekerja keras memberi keyakinan pada para orangtua, bahwa sekolah fashion pun berpeluang untuk menjadi lahan pekerjaan yang menguntungkan. Cukup sulit bagi Maya, karena saat itu minat orang masih  ke sekolah-sekolah formal. Esmod Jakarta juga baru saja berdiri.

Maya tak kenal lelah. Dia kian gencar mempromosikan sekolahnya, mulai dari kegiatan workshop, seminar, hingga open house. Ia juga memperkenalkan kurikulum Esmod yang telah disesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia. Di luar dugaan, baru tahun pertama, Esmod Jakarta sudah mampu menjaring 43 siswa.

“Makin kesini, jumlah siswa terus bertambah. Kita juga makin sering mengikuti perlombaan untuk siswa sekolah mode ke luar negeri. Baru-baru ini, 2 siswa dari Esmod Jakarta mampu memperoleh penghargaan di Korea,” ujar Maya, bangga.

Maya mengakui, untuk materi pelajaran di Esmod Jakarta, memang telah dikombinasi dengan pelajaran lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan budaya di Indonesia. Meski begitu, lulusan Esmod Jakarta, tetap sebanding dengan lulusan sekolah fashion lainnya yang ada di luar negeri.

“Salah satu buktinya, waktu krisis ekonomi, ada beberapa siswa Esmod yang pindahan dari sekolah fashion di luar. Mereka bilang, daripada sekolah jauh-jauh di luar negeri, toh di Esmod Jakarta kualitasnya juga sama,” ujar Maya.

Tetap Bertahan

Maya memegang teguh prinsip ‘education is very long term investment’. Maksudnya, “tidak mudah kita mengubah pikiran orang. Kalaupun bisa, itu butuh waktu yang lama. Oleh karenanya, kita harus bisa membuktikan kualitas kita dulu, dan mempertahankan kualitas itu, baru orang akan respek pada kita. Nah, kalau kita bisa memberikan yang terbaik, maka dengan sendirinya orang akan mengakui kualitas kita.”

Untuk membuktikan keberhasilan itu yang butuh waktu yang tidak sebentar. Dan Esmod Jakarta sudah membuktikannya hingga 14 tahun lamanya.

“Dengan prinsip itu, saya selalu punya keyakinan. Seburuk apapun kondisi yang kita alami, kita berkomitmen untuk tetap bertahan. Bukan demi keuntungan finansial saja, tapi lebih pada kepuasan melihat anak didiknya lulus dengan baik dan berhasil terjun ke dunia mode,” kata Maya, mantap.

Komitmen mendidik anak-anak ini pula yang membuat Maya gigih menjaga kualitas Esmod Jakarta secara profesional. Khusus untuk pengajar, ia datangkan 2 pengajar dari Paris. “Ini bukti bahwa belajar fashion pun tidak main-main, butuh kerja keras dan usaha agar bisa lulus dengan kemampuan sesuai standar internasional,” tegas Maya.

Karenanya, Maya bangga lulusannya banyak diterima di perusahaan fashion. “Belum lulus saja sudah di-hire banyak perusahaan,” ujarnya, senang.


Meski Bukan Orang Fashion

Banyak yang mengira bahwa Maya memiliki latar belakang dunia fashion. Menjawab pertanyaan itu, Maya hanya tertawa kecil.

“Saya tidak punya background fashion,” jawabnya, singkat. “Latar belakang saya di dunia bisnis khususnya menangangi manajemen. Tapi, ketertarikan saya pada fashion sudah pasti ada. Karena saya tahu kemampuan saya, untuk menjalankan bisnis sekolah ini saya banyak konsultasi dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bergerak di bidang fashion,” kata Maya.

Selain di Esmod, Maya juga disibukkan dengan bisnis lain yang jauh berbeda dari dunia fashion. Meski begitu, ia enggan menyebutkannya.

“Sekarang, setelah Esmod sudah berjalan belasan tahun, saya tidak terlalu dipusingkan. Perusahaan sudah berjalan dengan sendirinya. Saya juga punya tim yang handal,” ucapnya.

Waktu-waktu luang inilah yang dimanfaatkan Maya untuk membesarkan dua buah hatinya, Nandadevi (11) dan Ranganatha (3). “Apalagi, anak perempuanku ini sekarang sudah remaja. Oya, dulu waktu kecil, Nanda sua melukis. Ini semua lukisannya lo,” sesaat Maya menunjuk dinding ruang kerjanya yang dipenuhi lukisan kanak-kanak, “sebenarnya dinding yang sebelah sana, saya sediakan untuk ukisan-lukisan Nanda. Tapi kayaknya dia sudah berhenti melukis.” Maya pun tertawa lepas.

Aien Hisyam

January 20, 2010 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita

3 Comments »

  1. Dear Aien,
    I knew Maya since we were in Tarakanita elementary & junior high school @ Mampang, south of JKT (1980-1985), because couple years we were at the same class, after that i haven’t heard about her, but I still remember her very well.
    If possible I really want to keep in touch with her again.

    Aien,
    could you help me please….

    thx/rgds,
    Beanarto

    PS: I used to called ‘Totok’ when I was in school.

    Comment by beanarto | July 7, 2010 | Reply

  2. 3. Hai Aien,……Saya sangat bangga dan senang ketika membaca Artikel tentang Maya, mgkn agak telat saya membacanya. Sy tdk menyangka bahwa maya teman kecil saya di SD.Tarakanita ll ini yg baik hati dan selalu rendah hati, selalu menolong teman dan berbagi. Masih terbayang di memori saya maya selalu memberikan bekal setangkap roti bertabur mesis coklat kpd saya, dan yg paling tdk Saya lupakan ketika kita nonton bersama2 di rumah maya film Perkawinan Lady Diana dengan Pangeran Charles. Bila berkenan ba Aien bs menginformasikan kpd Saya, bagaimana Saya bisa menghubungi Maya teman baik semasa kecil. Besar harapan Saya bs berjumpa lagi. Terimakasih sebesar2nya, atas kesempatan untuk membaca serta merespon comment dari Saya. Gbu

    Comment by Rety Yuliana Panggabeam | October 3, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: