Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Mayadewi Hartarto

Dirikan Sekolah Demi Kemajuan Fashion


Maya dididik di sekolah Bisnis. Namun, Esmod Jakarta justru menjadi tempat ia bekerja dan menuangkan segala ide-idenya.

Menjadi orang nomor satu di sekolah mode terbesar di Indonesia, ESMOD Jakarta, tentu saja Mayadewi memiliki jadwal yang sangat padat. Apalagi, ibu dua anak ini juga memiliki beberapa perusahaan yang berbeda dengan dunianya yang satu ini. Toh, Maya masih sempat meluangkan waktunya, berbincang-bincang tentang dunia fashion yang sebenarnya tak sengaja ia geluti.

Di ruang kerjanya yang luas, di lantai atas ESMOD Jakarta, Maya mengatakan bahwa ia terisnpirasi pada sekolah mode ternama Ecole Superieure des Arts et techniques de la Mode. Ia ingin sekali mencetak anak-anak muda yang ahli di bidangnya, khususnya di bidang fashion.

Maya menilai, bahwa potensi di dunia fashion saat ini kian terbuka lebar dan berkembang dengan pesatnya. Bahkan, fashion -baik hasil maupun orang yang bekerja di dalamnya- menjadi salah satu lahan yang mampu menghidupi siapapun juga.

Di sekolah mode, kata Maya, bisa menjadi tempat untuk mengasah talenta-talenta muda yang berbakat dan punya minat besar pada dunia fashion dan Mode. Dan di ESMOD Jakarta, mimpi itu berusaha diwujudkan Maya.

Memilih Paris

Sudah 14 tahun ESMOD Jakarta berdiri. Itu berarti, sudah ratusan anak muda yang lulus dari sekolah ini. Maya pun mengaku bangga.

‘Dulu, industri garmen belum sebesar ini. SDM juga terbatas. Kalaupun ada, untuk posisi-posisi tertentu, mereka masih memakai SDM dari luar. Nah, dari situlah saya berpikir, sudah saatnya Indonesia punya institusi pendidikan yang bisa menghasilkan SDM-SDM di bidang fashion,’ kata wanita yang lahir tanggal 21 Desember 1969.

Keinginan Maya ini berbanding lurus dengan kondisi saat itu yang juga menuntut adanya SDM yang andal. Tanpa berpikir panjang, wanita yang aktif di Yayasan Pengembangan Desain Indonesia (YPDI) milik ibunya, Hartini Hartarto. langsung membeli franchise Esmod Internasional di Paris. Apalagi, saat itu belum ada pendidikan yang khusus di dunia fashion.

Maya memang bukan perancang mode, tapi ia sangat peduli dengan dunia fashion. Itu ia buktikan ketika bergabung di YPDI. Di yayasan ini ia bisa dengan leluasa melakukan kegiatan pembinaan dan mendidik para pengrajin. ‘Yaitu, membawa orang yang ahli dan punya pengetahuan di bidan kerajinan itu, dan di bawa di daerah yang sedang kita bina,’ jelas Maya.

Mengapa harus dari Paris? Maya pun tersenyum. ‘Itu melalui banyak pertimbangan. Waktu saya berpikir, kalau kita menyebut pusat fashion, dimana lagi kalau bukan di Paris. Nah, sampai disitu, saya masih harus memilih-milih lagi, karena di Paris sekolah fashion masih terbagi-bagi,’ kata Maya.

Beberapa sekolah fashion di Paris masih dibagi atas haute couture (adi busana), ready-to-wear (pakaian siap pakai), dan masih banyak lagi. Dan Maya harus memilih jenis sekolah yang akan dia dirikan. Wanita anggun ini juga tidak mau mendirikan sekolah yang asal-asalan. Dan, dipilihlah sekolah yang berbasis pendidikan fashion-to-wear, yang kata Maya, sesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia saat itu.

Esmod adalah salah satu sekolah terbaik yang ada di Paris. Sekolah ini juga telah memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh dunia. Maka, tanggal 6 September 1996, Esmod Jakarta berdiri.

Yakinkan Orangtua

Awal berdirinya Esmod Jakarta, banyak hal baru yang harus dipelajari Maya. Lulusan Business Administration di Pine Manor College, Boston dan Sacred Heart School, Chicago ini, harus bekerja keras memberi keyakinan pada para orangtua, bahwa sekolah fashion pun berpeluang untuk menjadi lahan pekerjaan yang menguntungkan. Cukup sulit bagi Maya, karena saat itu minat orang masih  ke sekolah-sekolah formal. Esmod Jakarta juga baru saja berdiri.

Maya tak kenal lelah. Dia kian gencar mempromosikan sekolahnya, mulai dari kegiatan workshop, seminar, hingga open house. Ia juga memperkenalkan kurikulum Esmod yang telah disesuai dengan kebutuhan dan budaya Indonesia. Di luar dugaan, baru tahun pertama, Esmod Jakarta sudah mampu menjaring 43 siswa.

“Makin kesini, jumlah siswa terus bertambah. Kita juga makin sering mengikuti perlombaan untuk siswa sekolah mode ke luar negeri. Baru-baru ini, 2 siswa dari Esmod Jakarta mampu memperoleh penghargaan di Korea,” ujar Maya, bangga.

Maya mengakui, untuk materi pelajaran di Esmod Jakarta, memang telah dikombinasi dengan pelajaran lokal yang sesuai dengan kebutuhan dan budaya di Indonesia. Meski begitu, lulusan Esmod Jakarta, tetap sebanding dengan lulusan sekolah fashion lainnya yang ada di luar negeri.

“Salah satu buktinya, waktu krisis ekonomi, ada beberapa siswa Esmod yang pindahan dari sekolah fashion di luar. Mereka bilang, daripada sekolah jauh-jauh di luar negeri, toh di Esmod Jakarta kualitasnya juga sama,” ujar Maya.

Tetap Bertahan

Maya memegang teguh prinsip ‘education is very long term investment’. Maksudnya, “tidak mudah kita mengubah pikiran orang. Kalaupun bisa, itu butuh waktu yang lama. Oleh karenanya, kita harus bisa membuktikan kualitas kita dulu, dan mempertahankan kualitas itu, baru orang akan respek pada kita. Nah, kalau kita bisa memberikan yang terbaik, maka dengan sendirinya orang akan mengakui kualitas kita.”

Untuk membuktikan keberhasilan itu yang butuh waktu yang tidak sebentar. Dan Esmod Jakarta sudah membuktikannya hingga 14 tahun lamanya.

“Dengan prinsip itu, saya selalu punya keyakinan. Seburuk apapun kondisi yang kita alami, kita berkomitmen untuk tetap bertahan. Bukan demi keuntungan finansial saja, tapi lebih pada kepuasan melihat anak didiknya lulus dengan baik dan berhasil terjun ke dunia mode,” kata Maya, mantap.

Komitmen mendidik anak-anak ini pula yang membuat Maya gigih menjaga kualitas Esmod Jakarta secara profesional. Khusus untuk pengajar, ia datangkan 2 pengajar dari Paris. “Ini bukti bahwa belajar fashion pun tidak main-main, butuh kerja keras dan usaha agar bisa lulus dengan kemampuan sesuai standar internasional,” tegas Maya.

Karenanya, Maya bangga lulusannya banyak diterima di perusahaan fashion. “Belum lulus saja sudah di-hire banyak perusahaan,” ujarnya, senang.


Meski Bukan Orang Fashion

Banyak yang mengira bahwa Maya memiliki latar belakang dunia fashion. Menjawab pertanyaan itu, Maya hanya tertawa kecil.

“Saya tidak punya background fashion,” jawabnya, singkat. “Latar belakang saya di dunia bisnis khususnya menangangi manajemen. Tapi, ketertarikan saya pada fashion sudah pasti ada. Karena saya tahu kemampuan saya, untuk menjalankan bisnis sekolah ini saya banyak konsultasi dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bergerak di bidang fashion,” kata Maya.

Selain di Esmod, Maya juga disibukkan dengan bisnis lain yang jauh berbeda dari dunia fashion. Meski begitu, ia enggan menyebutkannya.

“Sekarang, setelah Esmod sudah berjalan belasan tahun, saya tidak terlalu dipusingkan. Perusahaan sudah berjalan dengan sendirinya. Saya juga punya tim yang handal,” ucapnya.

Waktu-waktu luang inilah yang dimanfaatkan Maya untuk membesarkan dua buah hatinya, Nandadevi (11) dan Ranganatha (3). “Apalagi, anak perempuanku ini sekarang sudah remaja. Oya, dulu waktu kecil, Nanda sua melukis. Ini semua lukisannya lo,” sesaat Maya menunjuk dinding ruang kerjanya yang dipenuhi lukisan kanak-kanak, “sebenarnya dinding yang sebelah sana, saya sediakan untuk ukisan-lukisan Nanda. Tapi kayaknya dia sudah berhenti melukis.” Maya pun tertawa lepas.

Aien Hisyam

Advertisements

January 20, 2010 Posted by | Profil Pendidik, Profil Pengusaha, Profil Wanita | 3 Comments

Clara Ng

‘Waktu Akan Datang ke Saya’

Siapa sangka, ibu rumah tangga yang senang mengurus anak dan keluarga ini telah menerbitkan 50 lebih karya fiksi. Hingga kini, karya-karya Clara masih terus mengalir, tak terbendung.

Ada dua tempat yang ditawarkan Clara, sebagai tempat untuk bertemu. Di rumah atau di kantor sebuah penerbitan terkemuka. Katanya, di dua tempat ini ia biasa menghabiskan waktunya.

Ketika akhirnya disepakati bertemu di kantor penerbitan, Clara langsung menjawab, “wah, bisa sekalian lihat draft novel terbaru saya.” Suaranya terdengar bersemangat. Itulah karya Clara yang ke 56, yang terbit akhir tahun lalu.

Tiga Tahun Berturut-turut

Ketika ditanya, apa yang membuat Clara Ng menulis? Ia langsung menyebut salah satu judul novelnya, ‘Dinsum Terakhir’. Katanya, ia menulis karena usia itu singkat, dan banyak hal yang harus diungkapkan. Hidup tidak abadi dan imajinasi seluas alam semesta. Dan, karena ia tidak punya sayap sementara komitmennya pada seni, bis amembawanya ke langit ke tujuh.

Di tahun 2002, untuk pertama kalinya Clara Ng menulis novel. Judulnya, ‘Tujuh Musim Setahun’. Diluar dugaan, tulisan iseng ini membuahkan penghargaan baginya sebagai salah satu novelis berbakat di Indonesia. Sayangnya, Clara langsung vakum selama dua tahun.

Setelah sekian lama tak menulis novel, Clara muncul dengan buku berjudul ‘Indiana Chronicle-Blues’, buku pertama dari trilogi ‘Indiana Chronicle’. Buku ini memposisikan dirinya sebagai pelopor genre Metropop.

Tak sampai setahun, wanita lulusan Ohio State University, jurusan Interpersonal Communication ini langsung mengeluarkan dua novel sekaligus, ‘Indiana Chronicle-Lipstick’, dan The (Un)Reality Show. Dan di tahun 2005, ‘Indiana Chronicle – Bridesmaid’ pun terbit.

Tak hanya menulis novel, Clara juga menulis buku anak-anak. Istri NicholasNg Hock Hooi ini bahkan mendapat penghargaan Adikarya Ikapi tiga tahun berturut-turut untuk buku anak-anaknya.

“Saya cukup bangga setelah menyadari buku anak-anak saya mendapatkan penghargaan Adikarya dari pemerintah tiga kali berturut-turut. Tapi, saya masih merasa penulis buku anak-anak masih sepi dari penghargaan dan dari pelakunya. Minat baca masyarakat kita khususnya untuk buku anak-anak juga masih rendah. Mereka masih memikirkan sandang pangan papan, baru memikirkan kebutuhan membaca anak-anak,” kata Clara.

Padahal, lanjut Clara, di Amerika, setiap minggunya, terbit puluhan ribu buku. “Di sini, seminggu baru beberapa ratus buku. Perbandingannya jomplang sekali. Buku laris, di sana bisa terjual jutaan eksemplar. Di sini, untuk buku yang best seller, hanya berapa ratus ribu eksemplar. Lantas, bagaimana dengan buku yang biasa-biasa saja ?’

Sering Mengejutkan

Membaca karya-karya Clara, seolah membuka cakrawali imajinasi yang berbeda-beda. Ia bisa menulis dalam beberapa genre. Kisah pun sangat beragam. Mulai dari kisah perempuan metropolitan, ibu, janda, anak-anak, hingga remaja. Tema pun mulai dari cerita keluarga, manusia dengan kepribadian terpecah, hingga kisah fantasi dewa-dewa Mesopotamia.

‘Jelas tidak ada cerita dari pengalaman pribadi,’ tegas Clara. Baginya, penulis adalah profesi yang soliter dan berat. ‘Penulis harus bisa masuk ke dalam dunia di mana hanya ada kau dan tokoh-tokoh ciptaannya. Tokoh-tokoh dalam novel saya itu sering mengejutkan saya. Mereka bisa ‘hidup’ sendiri.’ Clara pun tertawa lepas.

Setiap menulis novel, Clara selalu punya benang merah. ‘Awal dan akhirnya saya sudah tahu. Tapi di tengah-tengahnya, bisa dikejutkan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan. Tapi ya saya ikuti, apa yang diinginkan cerita itu. Bukan saya yang membuat cerita. Toh akhirnya, tetap ke tujuan akhir. Karena cerita tetap harus masuk akal dan sesuai dengan kaidah yang logis,” ujar Clara.

Selain menulis, Clara tak pernah lupa untuk membaca. Katanya, membaca adalah bagian dari proses menulis itu sendiri. Tidak heran kalau koleksi buku Clara saat ini mencapai 1000-an judul. Jumlah itu terus bertambah karena ia dan dua anaknya gemas sekali berbelanja buku.

‘Kalau lagi nggak mood, biasanya saya tidak nulis. Tapi itu bisa kok diatasi. Karena begitu saya baca tulisan itu, saya akan langsung lupa dengan ke-bete-an saya. Menulis itu seperti relaksasi,’ ucap Clara, tersenyum.

Ciptakan Waktu Sendiri

Clara begitu menikmati perannya menjadi istri dan ibu dua anak. Setiap hari ia bangun jam lima pagi untuk menyiapkan keperluan anak dan suaminya. Ia mengantar dan menjemput sendiri anak-anaknya sekolah.

‘Kewajiban pertama saya adalah sebagai ibu. Saya punya tanggung jawab antar anak sekolah, punya waktu untuk tidurkan anak di waktu malam, inilah saat-saat saya dekat dengan anak dan suasana paling enak. Saya juga harus menemani mereka makan, menemani belajar dan membuat PR. Jadi, diantara waktu-waktu itulah saya menulis. Misalnya diantara waktu saya jemput anak sekolah, itu ada kesempatan yang bisa saya manfaatkan untuk menulis,’ ujar Clara.

Agar tetap produktif, lanjut Clara, ia harus punya jadual menulis. ‘Saya biasa menulis disaat saya ada waktu luang. Jadi saya menciptakan waktu sendiri untuk saya menulis. Waktu akan datang ke saya, dan saya akan memanfaatkan waktu itu. Kalau Stephanie Meyer (penulis The Twilight Saga), itu kan menerkam waktu. Dan saya tidak bisa menerkam waktu, “ ujar Clara, tertawa kecil.

Clara juga punya ruang kerja, tempat ini menulis dan melakukan riset. Kalaupun ia harus meninggalkan rumah, ia mengirim tulisannya ke email, dan dilanjutkan menggunakan BlackBerry-nya. Itulah yang membuat Clara tidak pernah berhenti menulis. Setiap naskah bukunya rata-rata dirampungkan empat bulan.

‘Kuncinya cuma satu,’ kata Clara. ‘Kalau penulis pingin sejahtera serta hidup dari karyanya, ia harus konsisten menulis. Penulis bisa menikmati pendapatan setingkat manajer perusahaan besar asalkan terus berkarya. Selain itu, penulis harus punya idealisme yang bersanding dengan pertimbangan bisnis. Penulis harus bisa menjadikan namanya semacam brand untuk dijual,’  ujar Clara membagi kiat suksesnya.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Penulis | 1 Comment

Upi

Tidak Pernah Mengecilkan Pekerjaan


Upi punya banyak sisi dalam kehidupannya. Sebagian, telah ia ungkapkan di 5 film yang ia sutradarai. Masih ada sisi-sisi lain yang belum terungkap.

Banyak gebrakan dilakukan Upi ketika namanya menembus jajaran sutradara muda Indonesia. Kali pertama ia terjun menjadi sutradara, ia hadir dengan konsep kelam di Video grup band rock ‘Zamrud’. Upi pun mendapat imej baru sebagai sutradara ‘bersetting gelap’.

Mata pun terbelalak manakala Upi muncul lagi, di film pertamanya 30 Hari Mencari Cinta yang fun, ceria, dan sangat wanita. Konsep film layar lebar ini berbeda 180 derajat dengan beberapa Video Klip yang telah ia buat.

Uniknya, dari 5 film layar lebar yang ia sutradarai, kesemuanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Bukti bahwa Upi lihai membuat film dari banyak genre. Termasuk di film terakhirnya, Serigala Terakhir yang penuh adegan laga, special effect, dan berseting kelam.

Melap Keringat Artis

Kecintaan Upi pada film terjadi sejak ia masih kanak-kanak.

“Sejak kecil, sekitar umur 5 tahunan, saya sudah suka menulis. Tidak hanya itu. Saya dulu selalu didongengin sama Bapak dan Ibu. Barulah, mulai agak besar, saya sering diajak nonton sama Bapak saya. Dari situlah saya mulai tertarik nulis dan film,” kenang Upi.

Upi mengawali karirnya sebagai penulis di usia yang masih remaja. Saat masih kelas 3 SMA, ia sudah dipercaya membuat konsep cerita sitkom Opera Tiga Zaman untuk televisi RCTI.

“Tapi saya kecewa. Apa yang saya tulis tidak sama dengan apa yang ditayangkan. Sejak itulah, saya punya mimpi ingin menulis sekaligus menvisualisasikan. Berarti, saya harus jadi sutradara,” kata Upi, mantap.

Lulus SMA di Perguruan Cikini, Upi harus memilih, kuliah ‘formal’ atau kuliah sesuai pilihan hatinya menjadi orang perfilman.

“Tapi, mau ambil IKJ, saya tidak dikasih. Karena waktu itu televisi belum banyak, film  juga belum marak. Orangtua cemas sama masa depan saya,” sesaat Upi tersenyum, “tapi saya sudah tahu bahwa saya memang pengin jadi sutradara. Jadi saya tidak mau buang-buang waktu ambil kuliah yang tidak saya sukai.”

Meski akhirnya kuliah di juruan Komunikasi, Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), Upi iseng bekerja di PH milik Rizal Mantovani, Broadcasting Indonesia. Ia bangga mendapat pekerjaan pertamanya, menjadi tukang lap keringat musisi-musisi yang membuat video klip.

‘Saya duduk di pinggir, bawa kotak tisunya. Kalau cut, saya langsung lari lap-lap keringat mereka. Ada Kahitna, Gigi, dan banyak lagi,’ ujar Upi, tertawa senang.

Hargai Tiap Pekerjaan

Upi antusias bekerja di bagian produksi. Katanya, inilah sekolah yang yang paling ia hargai.

‘Untuk orang seperti saya yang tidak punya background apa-apa tapi bisa terlibat di produksi, disitu saya belajar. Saya bangga banget. Saya tidak pernah mengecilkan pekerjaan apapun, karena saya menghargai apa yang saya miliki. Saya cuma merasa orang yang nol. Itulah cikal bakal saya,” ujar Upi.

Berkat keuletan Upi bekerja, ia pun dipercaya menyutradarai video klip pertamanya dari grup band Zamrud. Di luar dugaan, video klip yang kata Upi gila-gilaan itu, menjadi runner up Video Musik Indonesia.

“Tapi, ketika saya dapat tawaran film pertama, saya ingin membalikkan imej saya. Saya bikin film yang bertolak belakang dengan imej saya. Saya bikin film yang fun, riang, ceria, girly banget,” ungkap Upi. Dan di tahun 2004 muncul film 30 Hari Mencari Cinta.

Terus terang, Upi mengakui dirinya ketika menyutradarai film, dibuat terkaget-kaget. Kalau biasanya ia hanya berhubungan dengan belasan kru, tapi saat membuat film, ia harus memenej ratusan orang.

“Ditambah lagi, rata-rata kru saya sudah berpengalaman di film. Ibaratnya saya ini outsider. Saya orang luar. Pengalaman saya masih nol. Tapi, ternyata selama saya punya visi dan misi ke depan, segala hambatan dan kendala itu tidak akan pernah terjadi,” ucap ibu satu anak, Farrell.

Sukses film pertama, membuat Upi mendapat tawaran dari beberapa produser untuk membuat film sejenis. Tapi Upi langsung menolak tawaran-tawaran tersebut.

“Saya mau berkembang. Saya kan punya ruang, dimana saya bisa mengekspresikan cerita-cerita saya yang lain. Saya tidak mau bikin film karena ditekan. Saya akan datang dengan diri saya sendiri. Film itu harus jujur. Ketika saya bikin, saya harus senang dulu, baru saya bisa bekerja,” tegas Upi.

Upi pun membuat 4 film lagi dengan genre yang berbeda-beda; ‘Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), Radit dan Jani (2008), dan Serigala Terakhir (2009).

Sisi-sisi Lainnya

“Saya punya banyak sisi,” kata Upi tentang kehidupannya yang erat berkaitan dengan tema 5 filmnya. “Film 30 Hari Mencari Cinta itu mewakili sisi kanak-kanak saya. Nah, saya ingin tunjukkan sisi saya yang lain. Waktu proses Realita, Cinta dan Rock ’n Roll, filmnya cowok banget. Cowok yang bengal-bengal. Itu sesuatu yang berbeda dari sisi Upi. Film Radit dan Jani itu drama yang temanya cinta banget, tapi bukan yang berbunga-bunga. Tentang suami istri yang muda yang hadapi banyak masalah,” jelas Upi.

Satu hal yang membuat Upi terus berkreasi, karena selalu menantang dirinya sendiri untuk melawan zona kenyamanan. Katanya, kalau ia terus-terusan berada di posisi yang nyaman, ia akan terlena dan tidak berkembang.

“Makanya, banyak yang heran dengan film terakhir saya. Syutingnya dan teknisnya rumit, kru-nya banyak, efeknya juga banyak dan rumit. Awalnya ngeri juga membayangkan akan memproduksi film ini. Ternyata begitu saya coba, bisa juga,” ujar Upi, tersenyum.

Wanita yang tengah berhubungan dekat dengan artis tampan, Vino G. Bastian, sedang mempersiapkan produksi film selanjutnya. Ditanya bertemakan apa? Ia tersenyum. “Yang pasti, sisi hidup saya yang lainnya,” kata Upi.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Artis, Profil Penulis, Profil Seniman | Leave a comment

Jacqueline Losung

Senang Membuat Isi Materi


Banyak ‘dunia’ yang ia ‘singgahi’, dan akhirnya, Jacquline memilih menjadi pemimpin di situs entertainment terkenal KapanLagi.com. Apakah ini menjadi akhir ‘persinggahan’ wanita cantik ini? Jacqueline pun tersenyum.

‘Maklum kantor baru,’ ujar Jacqueline, tersenyum. ‘Jadi belum ada papan namanya.’ Rupanya, perusahaan situs entertainment ini baru beberapa bulan menempati ruang barunya. Begitupun dengan Jacqueline yang juga baru beberapa bulan memegang kendali perusahaan tersebut.

Bukan hal baru bagi wanita muda ini terjun di dunia internet. Jauh sebelumnya, Jacqueline sudah malang melintang di bidang ini. Ia bahkan pernah di percaya perusahaan besar Yahoo, untuk menjadi Authorized Re-seller di Indonesia.

“Sejak saya bergabung dengan Yahoo, dunia online dan internet menjadi daya tarik yang luar biasa bagi saya,” kata Jacquliene, antusias.

Maka, tak salah ketika tawaran memegang KapanLagi.Com datang, Jacqueline langsung menerima dengan senang hati. Ia menganggap bahwa kesempatan tak akan datang untuk kedua kali.

Jual Beli Film

Jacqueline mengawali karir media di dunia televisi. Ia bekerja hampir selama 14 tahun di Divisi Programming RCTI, dan sesekali menjadi TV Announcer atau pembawa acara quiz untuk event special.

“Ketika saya di televisi saya berkesempatan untuk membangun networking yang lebih luas dengan berbagai producer dan distributor film di seluruh dunia,” cerita Jacqueline.

Setelah meninggalkan RCTI, Jacqueline dan beberapa temannya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang TV and Film Licensing.

“Pada saat itu, salah satu property terbesar yang kami miliki adalah Liga Italia Serie A untuk 3 tahun berturut-turut. Kita satu-satunya distributor yang bisa menjual program bola ke dua stasiun televisi sekaligus,” ujar Jacqueline, bangga.

Selanjutnya, Jacqueline menjalin kerjasama dengan mitra dari Malaysia, untuk memasok program-program hiburan dari Indonesia.  Bersamaan dengan itu Jacqueline diajak teman-temannya asal Malaysia dan Singapura untuk membentuk sebuah perusahaan yang bidang usahanya adalah Media Online.

“Dari sinilah saya mulai bergelut dengan bidang yang sangat baru ini buat saya dan kami menjadi Authorized Reseller Yahoo di Indonesia. Tugas saya adalah membantu memperkenalkan Yahoo di Indonesia dan ‘memonetize’ web network mereka,” ujar Jacqueline.

Banyak hal baru yang dipelajari Jacqueline dengan cepat. Sambil tersenyum cerah, ia mengaku senang memikirkan, mengkonsep dan membuat content.

“Kalau di bidang online, saya memang masih sangat baru, tetapi intinya apapun yang saya lakukan harus bermanfaat bagi banyak orang. Kalau di televisi bagaimana kita menghadirkan program yang disukai dan menghibur banyak orang. Waktu di mobile saya membuat inovasi dengan Global Starter Pack. Mudah-mudahan di online juga demikian, saya bisa membuat content cerdas dan menarik.

Menarik dan Berbobot

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia media, Jacqueline percaya dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat terhadap akses informasi yang lebih luas, media online akan menjadi media yang sangat penting.

“Oleh karena itu saya sangat tertarik bergabung dengan Kapanlagi.com karena ini adalah “the biggest entertainment website in Indonesia”  dan disini saya tidak saja bertugas bagaimana me-monetize sebuah entertainment portal, tetapi yang lebih menarik lagi saya diberikan kesempatan untuk mengembangkan isi dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak yang lebih luas agar sajian Kapanlagi.com dapat lebih menarik dan berbobot .”

Ketika, Jacqueline diberi kesempatan mengembangkan isi materi di situs KapanLagi.com, hal itu membuatnya kian bersemangat. ”Karena ini adalah bagian dari keinginan saya selama ini sejak terjun di bidang online. Sejak dulu, saya ingin menjadi ahli di bidangnya. Dimana pun saya ditempatkan saya ingin menjadi ahli dan yang terbaik di bidang tersebut,’ tegas Jacqueline.

Khusus di KapanLagi.com, Jacqueline dan timnya tengah mmepersiapkan empat kanal baru.

”Itulah kenapa mereka menempatkan perempuan disini,” sesaat Jacqueline tertawa renyah, ”karena itu akan berhubungan dengan dunia perempuan. Ada women only, ada life style, olah raga bola dan otomotif. Yang empat ini akan lebih kita seriusi lagi. Selama ini KapanLagi.com dikenal sebagai situs entertainment.”

Dengan adanya empat kanal tersebut, diharapkan KapanLagi.com akan semakin lengkap. Toh begitu, Jacqueline tidak merasa bersaing dengan media-media online lainnya.

”Di dunia media ini kita saling bergandengan tangan. Sebagai contoh, Yahoo itu juga mengambil berita dari situs lain, salah satunya dari KapanLagi.com. begitupun dengan media-media online lainnya, yang saling mendukung dan saling support. Sumber bisa dari kita, tapi distribusi bisa dari siapa saja,” jelas Jacqueline.

Melalui Doa

Oleh karenanya, Jacqueline tidak begitu tertekan saat harus memimpin perusahaan media online. Menjadi pemimpin yang baik, lanjutnya, ”klasik saja, visioner dan yang pasti harus mempunyai tujuan yang jelas, dapat menjadi contoh tauladan bagi orang lain, mau mendengarkan orang di sekitar kita, mempunyai wawasan luas.”

”Kalaupun ada kendala, ya kita hadapi saja. Di dunia kerja apapun, kendala dan tantangan selalu ada dan bervariasi, ada yang mudah dilalui tetapi ada juga yang menguras energi, tetapi dengan penyertaan Tuhan itu semua dapat saya lalui. Karena saya percaya ini adalah proses kehidupan yang harus saya jalani agar saya lebih baik lagi, lebih maju lagi. Ke Tuhan, melalui doa, terutama doa bersama dengan keluarga terdekat, saya akan menjadi lebih kuat dan tegar. Saya mempunyai keluarga yang mempunyai persekutuan yang sangat erat di antara kita,” kata wanita cantik ini dengan suara teduh.

Jacqueline merasa hidupnya biasa-biasa saja. ”Kebetulan saya dibesarkan dari keluarga yang baik . Jadi saya bersyukur dibekali prinsip-prinsip kehidupan yang baik oleh mereka. Jadi ketika tantangan datang ya saya jalani saja sesuai dengan yang orang tua saya ajarkan, demikian juga ketika ada sesuatu yang menggembirakan terjadi juga kita tidak terlalu terjebak dalam euforia yang berlebihan.  Jadi kalau ditanya hal apa yang paling berkesan ya banyak, apalagi waktu masih kecil ketika orang tua saya lengkap, rasanya hidup nggak pernah susah,” ujarnya, tersenyum.

Karenanya, Jacqueline berusaha hidup seimbang dalam segala hal. Keseimbangan fisik dan mental.

”Saya suka bekerja keras, tetapi saya juga harus punya my ”me time” untuk melakukan hal-hal yang saya senangi. Saya suka makan enak, tetapi saya juga ada ukuran atau takarannya dan yang pasti harus olah raga juga,” kata Jacqueline.

Aien Hisyam

January 15, 2010 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Pengusaha | Leave a comment