Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Sitta Sudiro

Hidup Itu Adalah Harapan

 

Ia perempuan pertama di Indonesia yang menjalankan bisnis jasa security. Keinginannya cuma satu, yaitu melihat hidup orang lain semakin baik.

 

Satu hari, Sitta didatangi pegawainya, seorang security.

 “Dia bawa tas, isinya uang 250 juta rupiah,” cerita Sitta.

Rupanya, pria bertubuh sedang itu baru saja menjaga salah satu town house di kawasan Bangka. Dan tas itu terjatuh dari mobil.

“Dia buka untuk tahu alamatnya. Akhirnya di kembalikan ke orangnya. Si Ibunya senang dan dikasihlah orang ini uang 200 ribu,” lanjut Sitta.

Pada tiap karyawannya, Sitta selalu mengajak untuk bersyukur. “Saya bilang, bersyukur saja dulu. Kamu lihat saja nanti hadiahnya, mungkin tidak dari manusia tetapi dari Allah. Dan itu saya tekankan.”

Satu minggu kemudian, pegawainya ini datang lagi. Ia dan motornya baru saja ditabrak mobil yang mundur. Dan oleh si penabrak yang pemiliki toko handphone, ia diberi handphone bagus, uang, dan diperbaiki motornya.

“Saya bilang, itulah hadiahnya. Selain kamu dapat hadiah dari kantor kamu akan dapat hadiah dari Tuhan. Dan ternyata, esoknya, pegawai saya ini diterima di AKABRI,” ungkap Sitta, senang.

Berkah Promotor Tinju

Sitta dikenal dekat dengan pegawainya, meski ia President Directot PT Sakti Bina Interindo (SBI), perusahaan jasa keamanan yang berdiri tahun 2003.

Melalui bisnisnya, Sitta ingin memberikan rasa aman dan nyaman pada para klien. Sementara di dalam perusahaan, ia pun memberikan rasa itu.

“Alasan khusus, mungkin sambil berjalan saja. Dan lagi, waktu pertama mendirikan, kita tidak punya tujuan apa-apa,” ungkap Sita sambil tersenyum.

Sitta teringat, ketika pertama kali ia dimintai tolong pengacara Todung Mulya Lubis. “Waktu itu Mas Todung bilang tolong carikan bodyguard untuk klien-kliennya. Saya justru tanya, bagaimana kalau perusahaanku yang tekel. Mas Todung bilang terserah saja.”

Sitta beruntung. Bertahun-tahun ia pernah menjadi promotor tinju. Banyak mantan petinju yang sudah tidak bertarung lagi.

“Saya telepon mereka dan kasih kasih kerjaan. Ternyata mereka senang,” ujar Sitta, senang.

Saat itulah, tercetus keinginan Sitta mendirikan perusahaan jasa keamanan. Permintaan juga mulai berdatangan, salah satunya dari perusahaan pertambangan batubara milik Abu Rizal Bakrie di Kalimantan Selatan. 

“Kita ambil beberapa orang mantan-mantan petinju dan atlit kickboxing. Mereka sudah pada tua-tua untuk jadi atlit tinju. Nah, karena ada permintaan bodyguard, bisa lah mereka dipakai,” ujar Sitta.

Selama 4 tahun Sitta mondar-mandir ke Kalimantan. Ia tak hanya melatih orang-orangnya yang dibawa dari Jakarta, namun juga orang-orang lokal.

“Kerjaannya berat. Memang agak repot waktu disana. Ada yang sampai patah. Medannya berat sekali. Karena sering gonta ganti personil, akhirnya kita mulai didik orang-orang setempat dan kita ajari,” ujar Sitta.

Tren Bodyguard

‘Pulang’ ke Jakarta, Sitta fokus membesarkan perusahaannya.

“Saya ngobrol dengan beberapa teman pengusaha. Ada yang dari bank, finance, dan sebagainya. Dari pengusaha yang masih nol, sampai pengusaha yang sudah jadi,” kata Sitta.

Ditambah lagi, teman-temannya ini mengatakan bahwa bisnis pengamanan sedang dibutuhkan. Sitta kian mantap.

“Saya lihat, bisnis ini jadi satu kebutuhan. Apakah itu pengusaha, pengacara, atau kliennya pengacara dan sebagainya. Apakah itu perempuan atau laki-laki. Disaat-saat tertentu, dan tidak ada siapa-siapa, dan disitu ada kejadian, disitulah dia butuh,” ujar Sitta.

Sitta juga ingat ketika seorang teman berkata bahwa dulu orang masih bisa punya pistol. Sekarang, pistol sudah ‘digudangi’ semua.

“Kita tanpa pistol, memang ada Tuhan yang menjaga kita, tetapi kalau mau bicara amannya lagi, siapa yang kita mintai tolong,” tutur Sitta.

Khusus untuk klien perempuan, Sitta menyediakan pilihan bodyguard perempuan. “Pernah ada Ibu menteri yang minta saya bodyguard perempuan loh,” kata Sitta, senang.

Kalau bodyguardnya laki-laki, lanjut Sitta, “kan sungkan kalau mau ke wc, atau kalau sepatunya haknya copot. Nah, kalau bodyguardnya perempuan mau nggak mau dia lebih mudah masuk kemana. Ada banyak hal dimana kita lebih leluasa kalau perempuan.”

Ia miris melihat peristiwa Dewi Persik yang mengalami pelecehan seksual. “Mungkin, karena itu pula banyak artis yang sekarang minta jasa bodyguard sama saya,” ujar Sitta sambil tersenyum.

Pikirkan Perut

Meski sudah memiliki lebih dari 300 pegawai security, Sitta berharap tidak berhenti memberi kesempatan pada orang lain untuk bekerja di tempatnya.

“Dulu uwak saya pernah bilang, “Sit, hati-hati akan ada 20 juta orang penganggur di Indonesia. Akan ada banyak kriminalitas.” dan itu benar. Mau dikemanakan ini orang-orang?” suara Sitta terdengar tegas.

Sitta tak ingin menutup mata.

Dan ketika ia kedatangan pemuda-pemuda pengangguran, Sitta berusaha tidak menolak. “Mau dikemanain ini orang. Karena badannya kurus saya tanya, kamu security atau narkoba. “Security Bu, tapi 8 tahun tidak kerja.” Akhirnya kita yang carikan kerjakan,” ujar Sitta, terharu.

Kata Sitta, jangan bicara keuntungan.

“Kita pikirkan perut saja. Bantu orang. Rejeki akan darimana saja. Kalau mau bicara uang bermilyar-milar, jangan di perusahaan seperti ini. Yang terpenting tampung saja. Bukan dari perusahaan saya atau bukan dari si klien, tapi dari Allah,” kata Sitta dengan suara mantap.

“Pada setiap pegawai, saya selalu tanya. Apa kamu punya motor? Kalau tidak, segera beli motor. Saya selalu bilang, mereka harus punya sesuatu dari pekerjaan ini walaupun dengan penghasilan yang pas-pasan. Paling tidak motor. Kalau kerjanya bagus dan terus berkembang, siapa tahu segera punya rumah yang sederhana,” ucap Sitta.

Kata Sitta, ia selalu memberikan harapan.

“Saya bilang, ‘kamu jangan terus-terusan jadi security’. Kita ada jenjang yang lebih baik. Mungkin jadi koordinator, atau ditarik ke kantor. Atau kalau kliennya suka terus jadi ajudannya. Hidup itu adalah harapan,” tegas Sitta.

 Sitta tersenyum, ketika ditanya, sejak kapan rasa peduli itu ada.

“Saya selalu bermain naluri. Sampai ibu saya pernah bilang, “Sit, kalau kamu punya rumah dan orang lain minta, pasti kamu kasih”. Memang benar, saya tidak tahan lihat orang susah,” ujar Sitta.

“Alhamdulillah hidup saya tidak pernah susah. Kuncinya, cukup saja kita selau memberi. Jangan berharap akan kembali. Setiap orang datang ke saya minta pekerjaan, saya tampung dan saya minta dia berdoa supaya jalan saya mencarikan mereka rejeki semakin mudah,” lanjut Sitta, teduh.

Kehebatan Keluarga

Meski hatinya kerap tersentuh akan nasib orang, Sitta mengaku sosok yang tahan banting.

“Itu karena didikan,” katanya, sambil tertawa.

Dahulu, Sitta merawang ke masa lalu, “ibu saya kalau lihat saya nangis, selalu bilang, ‘baru begitu saja sudah nangis. Tahan air matamu.’ Ibu keras. Mungkin juga karena kakek saya kan matinya di tembak Belanda. kakek  ditembak karena tidak mau kasih tahu kempat peresmbunyian tentara-tentara Indonesia. Karena disana ada anak-anaknya yang jadi tentara. Salah satunya uwak-uwak saya,” kenang sulung dari bersaudara, keponakan Jenderal TNI (Purn) Herman Sudiro.

Dari didikan-didikan itulah Sitta menjadi kuat. Ditambah lagi, Sitta tumbuh dan besar di lingkunga keluarga militer.

“Saya juga dibesarkan di rumah uwak saya, Pak Herman. Saya liat bangun pagi ada tank-tank di depan rumah. Ada tentaranya yang salah di marahin dan dihukum push up. Juga terbiasa lihat panser-panser kalau pagi di panasin,” ujar Sitta.

Selain di rumah Herman, Sitta juga hidup berpindah-pindah. Kondisi yang harus diterima karena Bapaknya yang bekerja di perusahaan asing harus bolak-balik ke Sulawesi.

“Sebentar di uwak sini, besok di uwak mana lagi. Pindah-pindah. Saya ini digaulin saya sama ibu saya sejak kecil. Digaulin sama sepupu-sepupu. Jadi akhirnya kita terbiasa dengan kehidupan yang berbeda-beda di luar rumah. Banyak sekali perbedaan. Kebetulan semua kumpul di Jakarta,” kata Sitta, senang.

Aien Hisyam

December 8, 2009 - Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita

2 Comments »

  1. Mb Aien, aku mw minta no hp Bu Sitta, atau telp kantornya juga boleh. Rencanaya mau liputan buat episode kartinian. Kutunggu kabarnya yaaaa…

    Comment by Dewi | April 5, 2010 | Reply

  2. Salam sejahtera,
    saya mau tanya alamat PT Sakti Bina Interindo??mohon dibantu.makasih.

    Comment by ofie | December 8, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: