Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Deby Susanti Vinski

Tak Ingin Ada Stroke Kedua

 

Banyak ‘dunia’ dipijaki Deby. Namun ia tetap fokus dan profesional. Hasilnya pun memuaskan. Deby sukses berkarir dan berumah tangga.

 

Deby Vinski memang lebih mirip model ketimbang dokter. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan segar.

“Saya dulu suka dipanggil. Karena saya suka dandan. Pernah di tanya, kamu ini mau jadi dokter atau pragawati. Saya bilang dua-duanya,” kata Deby, tertawa lepas.

Deby membuktikan. Di usianya yang sudah 40 tahun, Deby masih terlihat cantik dan bugar. Tak hanya itu. Deby pun aktif menjadi Director of Perfect Anti Aging Clinic, owner franchise President of Institute of Aethetics & Anti Aging Medicine (IAAM) dan Public Relation Indonesia Anti-Aging Society (PASTI/ PERPASTI).

Di kegiatan lain, Deby masih memimpin PT Eradunia Internasonal sebagai Chief Executive Officer, menjadi President-Director Perfect Model & Image, dan owner sekaligus specialist practitioner ‘Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic’.

Ketika Stroke Menyerang

Pengalaman pahit, menjadi alasan Deby terjun menjadi dokter, dan akhirnya mengambil spesialisi anti aging.

“Ibuku dulu sering sakit. Setiap punya anak, pasti dirawat. Saya pikir kenapa  saya tidak jadi dokter, bisa nolong banyak orang.  Itu pikiran saya waktu masih kecil.  Ya itu, Karena dulu lihat ibu kalau hamil pendarahan, melahirkan juga pendarahan,” kenang Deby.

Anak sulung dari empat bersaudara ini kian termotivasi ketika Bapak terkena stroke tahun 2000-an.

“Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Karena Ayah tidak tidak mau diperiksa kesehatannya. Padahal saya dokter, dan ibu saya mau diperiksa. Tapi kalau Ayah, selalu menunggu dan terus menunggu. Dia juga perokok. Dan suatu hari, tiba-tiba bibirnya miring dan separuh tangannya kena stroke.” Suara Deby terdengar sedih.

Ia tak ingin kenangan pahit terulang lagi. Sebelumnya, nenek Deby meninggal karena stroke.

Saat itu, Deby baru kuliah tingkat 3 Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Makasar “Nenek stroke sampai tiga kali, dan meninggal. Padahal dia ditangani dokter-dokter profesional dari bagian internis dan neurologi. Bukan karena salah dokternya, tapi memang karena ilmunya cuma sampai disitu. Itu yang dikatakan teman-teman saya di Paris,” ujar Deby, sedih.

“Saya tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Oma saya. Saya harus berbuat daripada saya hanya duduk-duduk saya. Stroke itu tidak bisa didiamkan. Jangan hanya berharap,” kata Deby.

Berangkat dari pengalaman itu, Deby akhirnya mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Anti Aging. Sebuah ilmu yang tergolong baru, karena baru popular sekitar tahun 1985.

 Belajar Anti Aging

“Kenapa kita belajar Anti Aging? Di kelas saya ada beberapa profesor di internis, mereka kuliah lagi untuk memperdalam anti aging. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang mereka mulai menerapkan anti aging,” ujar wanita yang tengah kuliah lagi di Perancis.

Deby mencontohkan, ketika seseorang mulai terserang livernya. “Kalau di kasih obat terus, ternyata sel livernya tidak bisa terima karena sudah tua, kan tidak banyak efeknya. Padahal, sel itu bisa diperbaharui, dan orang ternyata tidak kepikir. Padahal, itulah anti aging, yaitu memperbaharui sel,” terang Deby.

Ibu satu anak ini kian gemas ketika masyarakat salah kaprah. 

“Berapapun umur kamu, tensi darah kita harus dibatas normal. Jangan karena sudah tua, tidak apa-apa tensi 160,” ujar Deby.

Ternyata, lanjut Deby, kita bisa memilih mau sakit apa. “Mau sakit jantung, liver dan sebagainya. Kalau kita mau mati karena stroke, ya kita makan aja seenaknya, yang berlemak-lemak dan makanan tidak sehat. Hidup ini kita yang pilih kok.

Setelah mempelajari anti aging, dan membuka klinik, Deby bisa bernafas lega. Ayahnya terbebaskan dari stroke.

“Ayah jadi bisa nyetir sendiri, bisa terbang kemana-mana seperti bussines man,” kata Deby, senang.

Bahkan dari 58 pasien yang berobat dengannya. “Semua terbukti tidak pernah kena stroke untuk kedua kalinya. Dan sekarang segar bugar,” kata Deby, bangga.

 Aktif Sejak SMA

Belajar hal-hal baru menjadi keasyikan Deby sejak sekolah.

“Waktu kuliah saya senang dance. Rata-rata yang ikut dari fakultas Hukum dan Ekonomi, saya sendirian yang dari Kedokteran. Dan waktu itu saya sering dikirim ke luar negeri. Biasanya pas acara pertukaran budaya. Pernah ke beberapa negara Asia. Mewakili Indonesia dari Dinas Pariwisata. Dan saya juga sering ikut pemilihan-pemilihan model,” cerita Deby, senang.

Masih di bangku kuliah, Deby yang cantik dan lembut, juga aktif mengikuti kegiatan menyelam.

“Bahkan, saya jadi instruktur scuba diving saat kuliah. Padahal itu olah raga berat dan bahaya. Saya tebiasa menyelam sampai kedalaman 120 –140 feet,” terang Deby, bangga.

Bahkan, Deby sempat menjadi model di sebuah produksi film negara

“Saya ketemu suami saya saat pembuatan film tersebut. Itu film tentang laut. Bekerjasama dengan NHK Jepang. Mereka cari model yang bisa nyelam tidak banyak. Akhirnya jalan-jalan pakai baju renang dan baju selam. Memang syutingnya di laut. Dulu sih tidak merasa seksi. Mungkin lebih sporty. Padahal badan justru lebih bagus sekarang. Dulu nomor celana jeans 28-29, sekarang 26-27. Jadi dulu lebih padat dan montok,” Deby pun tertawa lepas.

Deby juga pernah mengambil cuti akademis untuk mendirikan perusahaan.

“Waktu itu tingkat 4. Saya bikin Eradunia Group, sampai sekarang masih ada. Salah satu proyek yang baru kita kerjaan yaitu bikin IT system untuk gedung MPR/DPR. Nah, saya awali perusahaan ini dari saya dari tingkat 4. Sahamku 99%,” jelas Deby.

Darah bisnis, kata Deby, mengalir dari Ayahnya yang juga pengusaha.

“Saya berasal dari keluarga yang orang tuanya jatuh dan bangun. Kita pernah punya pembantu 8 orang, tap kita pernah tidak punya pembantu. Hidup seperti roda. Dan hidup itu yang saya pelajari. Disaat saya bisa memberi pekerjaan sama orang, itu saya lakoni. Prinsip saya itu,” kata Deby.

“Justru waktu saya belum muncul debagai dokter, waktu Ayah saya kena stroke, saya lebih sering muncul di majalh SWA untuk bisnis,” ujar Deby, mantap.

 Rektor Termuda

Tahun 2001, Deby menjadi Rektor Sedaya International University. Sayangnya, pusat pendidikan yang dirintis Deby ini tak bisa berjalan lama.

“Ada masalah intern dan masalah dengan government. Dulu saya sudah menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris,” kata Deby. Kini Deby masih menjabat Wakil Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se DKI.

Deby gemas. Ia merasa sudah saatnya perguruan tinggi di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat kuliah.

“Supaya pelajar kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri. Makanya saya membuat Putri Kampus supaya menjual education kita ke luar negeri. Kita tidak boleh berpikir di dalam tempurung saja. Nanti kita ketinggalan,” kata Deby.

Meski sempat kecewa dan pernah menjadi Rektor termuda, Deby masih punya semangat untuk terus berkarya.

“Saya lagi bikin buku tips kecantikan. Saya ingin orang paham bahwa investasi kesehatan harus dimulai dari sekarang. Kita jaga makanan dan berolah raga agar nanti tua, kita bisa menikmatinya,” ujar Deby menasehati.

 Motivasi Karena Sakit Hati

Deby yang lembut, selalu ingin berbagi dan membuat hidup orang lain berharga.

“Karena saya pernah sakit hati,” kata Deby.

Peristiwa tak mengenakkan itu terjadi ketika Deby masih kuliah.

“Waktu itu saya masih mahasiswa, saya juga masih aktif scuba diving. Saya demam tinggi, padahal kita tidak boleh berobat ke dokter umum. Saya bilang, ‘dok saya sakit, demam tinggi. Bisa nggak ya telinga saya.’ Aturannya di kedokteran, kalau sakit telinga harus diobati di THT,” kenang Deby.

Namun, Deby sengat terkejut.

“Dokter itu langsung jawab, ‘enggak, saya sudah di jemput!’ Padahal satu jam setelah itu dia duduk dengan kaki di atas meja, nonton tivi. Soalnya saya lagi praktek di radiologi di dekat situ. Hati saya sedih sekali. Padahal dia tinggal lihat saja,” kenang Deby, kesal.

Deby belajar, bahwa ia tidak akan jadi dokter seperti itu. Dan sampai hari ini, Deby akan melayani setiap pasien yang datang.

Dan dunia berputar. “Ternyata, dia, dokter itu, melamar di salah satu bagian, dan profesor bagian saya tanya, ‘Deb,ada yang ngelamar dari Sam Ratulangi. Kamu kenal nggak?’ Saya kaget sekali.”

“Itu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu. Seperti waktu saya praktek di hotel. Pasien saya dari tukang masak sampai GM. Saya memperlakukan pasien seperti saya ingin diperlakukan. Sedih kalau kita lagi sakit. Nggak enak sekali rasanya,” ujar Deby, mantap.

Aien Hisyam

December 8, 2009 - Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pendidik, Profil Pengusaha

5 Comments »

  1. ass,saya mau berobar dgn ibu devi saya mnt alamat praktek ya d biayanya berapa, saya sering skt tangan kanan terutama jari2nya setiap mlm dr jam 12 s-d 5 pg

    Comment by yukeu rachmawati | February 22, 2010 | Reply

  2. saya minta alamat praktek dr Debby?

    Comment by aya | August 7, 2010 | Reply

  3. Saya tertarik untuk sekolah IAAM di Jakarta sdh ada dok? Boleh saya minta almt email dokter? Thx, best regard TS

    Comment by Lely Maya Suwuh | September 30, 2010 | Reply

    • dr Deby Vinski, AAMS
      jl Mirah kencana no 48 Permata Hijau jakarta Selatan . Ph.021 548 4383
      Jl Taman gandaria No D5 Jakarta Selatan . Ph 723 2020

      Comment by Ruri@eradunia.com | July 20, 2011 | Reply

  4. emang dr deby baik banget ….smile and sangat care dengan pasiennya…saya seperti dirumah sendiri di klinik yang satu ini.

    Comment by herlyna.b | October 30, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: