Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Amaranila Lalita Drijono

Keseimbangan Seutuhnya

 

           

One-stop female clinic menjadi satu layanan yang dibutuhkan tiap perempuan. Nila memahami betul kebutuhan tersebut.

 

Amaranila gemas. Ia menyadari, perempuan kerap menomortigakan kesehatan pribadinya, terutama bila ia telah menikah.

“Anak sakit, ibunya yang merawat. Suami sakit, istrinya yang merawat. Ibu sakit, siapa yang peduli kalau tidak dirinya sendiri,” ujar Amaranila CEO Puan Jakarta Boutique Clinic.

Kegelisahan di hati, membuat Nila, panggilannya, mantap mendirikan Puan Clinic. Ia ingin memberikan layanan untuk tiap perempuan, mulai dari urusan kandungan hingga kulit dan kecantikan.

 

Kearifan Lokal

Nila, fasih berbicara kesehatan. Ia jalani pendidikan kedoterannya di Universitas Indonesia. Termasuk melanjutkan Spesialis Kulit dan Kelamin di tempat yang sama.

  Keinginan memberikan layanan kesehatan maksimal, membuat Nila tertegun ketika ia singgah di San Fransisco dan London. Di dua tempat ini, ia mengunjungi klinik-klinik khusus perempuan.

“Sangat professional,” ungkap Nila, kagum.

Dalam hati, Nila bertanya, “kenapa di Indonesia tidak ada klinik seperti itu? Bukankah masyarakat Indonesia menginginkan pelayanan profesinal. Ini akan menjadi pasar yang potensial.”

Pulang ke Indonesia, Nila bertekad membuat klinik sejenis. Satu tempat yang menjadi rumah kedua bagi para perempuan. Yang tidak sekedar memberi pelayanan kesehatan, tapi juga menjadi pusat edukasi dan perawatan kecantikan.

“Edukasi bagi wanita Indonesia agar senantiasa memperhatikan kearifan lokal bangsanya,” ujar Nila.

Nila mencontohkan tradisi wanita jaman dulu yang memakai bedak dingin untuk perawatan kulit di Indonesia. Sesuai dengan kondisi alam tropis Indonesia yang panas dan lembab.

“Sekarang lagi tren pakai produk pemutih. Hampir tiap perempuan Indonesia ingin kulitnya putih, jadi ramai-ramai pakai pemutih. Setelah pakai produk itu, saya justru sering mendapat pasien yang terkena efek sampingya,” kata Nila.

Agar edukasi itu sampai ke sasarannya, Nila mendirikan Puan Jakarta Boutique Clinic di akhir tahun 2003.

 

Kunci Sukses Database

Nila tahu, perempuan malas ke rumah sakit karena tidak mau waktunya terbuang percuma untuk mengantre, takut divonis sakit, dan ngeri melihat alat-alat kedokteran yang tidak akrab di hati.

Ketika mendirikan Puan Clinic, Nila berusaha memenuhi semua keinginan pasien perempuannya.

“Agar tidak antre, kita menerapkan konsep by appointment. Jadi kunci suksesnya ada pada database pasien,” ujar Nila.

Kalaupun pasiennya langsung datang, “tetap kita layani selama ada dokter yang bertugas saat itu. Tiap pasien yang datang mendapat layanan personal,” ujar Nila.

One by one yang diterapkan Puan Clinic membuat klinik perpegang kuat pada database pasien, berisi semua data pasien mulai dari nama, pekerjaan, medical record, hobi sampai minuman favorit.

Pentingnya database juga dirasakan saat pemberikan layanan kesehatan. Dokter akan memberikan edukasi yang dibutuhkan pasiennya.

“Pasien akan tahu, perawatan apa yang ia butuhkan,” ujar Nila.

Untuk memenuhi semua kebutuhan pasiennya, Nila menyediakan beragam fasilitas kesehatan, mulai dari dokter ahli gizi, kebugaran, ahli saraf, penyakit dalam, psikiatri dan psikologi medis, bedah plastik, akupunktur, psychopuncture, naturopathy, gigi, pap smear, hingga general check up untuk kesehatan perempuan.

“Jangan bayangkan ruangan yang seram seperti di rumah sakit. Seluruh desain interior ruangan di klinik ini dibuat homy. Pada saat konsultasi, pasien harus dibuat rileks. Karenanya kita taruh sofa agar suasana lebih kekeluargaan,” terang wanita kelahiran Jakarta 10 September 1962.

 

Menari Untuk Keseimbangan

Di kala longgar, Nila sempatkan waktunya berlatih menari. Katanya, menari adalah bagian dari olah tubuh untuk mengatasi masalah osteoporosis.

“Gerakan-gerakan tari yang luwes dan lentur itu seperti stretching. Ada juga nilai aerobiknya yang baik untuk kardiovaskuler. Dan paling utama, menari itu sangat baik untuk kekuatan tulan,” ujar Nila.

Nila luwes menggerakkan badannya menari tarian klasik jawa, seperti tari Bedoyo, Golek, dan Sarikusumo. Ia mulai mencintai tari sejak SD. Kini ia bergabung di Sanggar Tari Sumber Cipta pimpinan Farida Oetojo. Dan ketika waktunya sedikit lebih longgar, ia sempatkan bermeditasi ala yoga.

“Hidup harus seimbang,” ujar Nila memaknai hidup.

Menurut Nila, pemahaman mendasar tentang ke-Tuhanan, kemanusiaan, dan budaya penting sekali diajarkan dalam keluarga. Khususnya bagi pendidikan dasar anak.

Kalau nilai budaya ia tanamkan lewat tarian jawa –suami dan dua anak Nila ikut menari jawa -, khusus untuk nilai ke-Tuhanan ia tanamkan sehari-hari di dalam rumah juga melalui pengajaran di sekolah. Begitupun dengan nilai kemanusiaan.

“Sekarang saya sedang membantu program kampanye gizi seimbang dan makanan sehat di sekolah-sekolah. Launching-nya bulan Agustus di sekolah Al-Izhar. Kita ingin program ini ditiru di sekolah-sekolah lain,” kata Nila yang dua anak perempuannya bersekolah di Al-Izhar.

Nila berharap, kelak anak-anak bisa memilih makanan sehat untuk dirinya sendiri. “Bisa melalui edukasi, pemberian makanan di sekolah, juga melalui cooking class.”

Meski kegiatan tersebut menyita pikiran dan tenaganya, Nila senang-senang saja. “Itulah keseimbangan. Disaat kita sudah sibuk oleh pekerjaan kantor, di sisa waktu yang lain, kita harus seimbangkan dengan kegiatan lain, untuk diri sendiri, kemanusiaan, dan ke-Tuhanan,” ujar Nila.

Aien Hisyam

December 8, 2009 - Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha

2 Comments »

  1. Saya tertarik dengan artikel ini.. karena sekarang ini saya sedang menempuh skripsi yang membahas mengenai wacana kecantikan zaman sekarang yaitu putih, sedangkan untuk masyarakat Indonesia yang rata-rata memiliki kulit kuning langsat dirasa terlalu memaksakan apalagi mitos putih itu cantik berasal dari budaya barat.
    alangkah gembiranya saya bila ibu berkenan meluangkan waktu untuk diskusi ringan. mungkin memang mendadak tapi saya senang bila ada tanggapan. terima kasih. maaf mengganggu sebelumnya

    Comment by waritsa asri | April 13, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: