Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Deby Susanti Vinski

Tak Ingin Ada Stroke Kedua

 

Banyak ‘dunia’ dipijaki Deby. Namun ia tetap fokus dan profesional. Hasilnya pun memuaskan. Deby sukses berkarir dan berumah tangga.

 

Deby Vinski memang lebih mirip model ketimbang dokter. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan segar.

“Saya dulu suka dipanggil. Karena saya suka dandan. Pernah di tanya, kamu ini mau jadi dokter atau pragawati. Saya bilang dua-duanya,” kata Deby, tertawa lepas.

Deby membuktikan. Di usianya yang sudah 40 tahun, Deby masih terlihat cantik dan bugar. Tak hanya itu. Deby pun aktif menjadi Director of Perfect Anti Aging Clinic, owner franchise President of Institute of Aethetics & Anti Aging Medicine (IAAM) dan Public Relation Indonesia Anti-Aging Society (PASTI/ PERPASTI).

Di kegiatan lain, Deby masih memimpin PT Eradunia Internasonal sebagai Chief Executive Officer, menjadi President-Director Perfect Model & Image, dan owner sekaligus specialist practitioner ‘Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic’.

Ketika Stroke Menyerang

Pengalaman pahit, menjadi alasan Deby terjun menjadi dokter, dan akhirnya mengambil spesialisi anti aging.

“Ibuku dulu sering sakit. Setiap punya anak, pasti dirawat. Saya pikir kenapa  saya tidak jadi dokter, bisa nolong banyak orang.  Itu pikiran saya waktu masih kecil.  Ya itu, Karena dulu lihat ibu kalau hamil pendarahan, melahirkan juga pendarahan,” kenang Deby.

Anak sulung dari empat bersaudara ini kian termotivasi ketika Bapak terkena stroke tahun 2000-an.

“Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Karena Ayah tidak tidak mau diperiksa kesehatannya. Padahal saya dokter, dan ibu saya mau diperiksa. Tapi kalau Ayah, selalu menunggu dan terus menunggu. Dia juga perokok. Dan suatu hari, tiba-tiba bibirnya miring dan separuh tangannya kena stroke.” Suara Deby terdengar sedih.

Ia tak ingin kenangan pahit terulang lagi. Sebelumnya, nenek Deby meninggal karena stroke.

Saat itu, Deby baru kuliah tingkat 3 Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Makasar “Nenek stroke sampai tiga kali, dan meninggal. Padahal dia ditangani dokter-dokter profesional dari bagian internis dan neurologi. Bukan karena salah dokternya, tapi memang karena ilmunya cuma sampai disitu. Itu yang dikatakan teman-teman saya di Paris,” ujar Deby, sedih.

“Saya tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Oma saya. Saya harus berbuat daripada saya hanya duduk-duduk saya. Stroke itu tidak bisa didiamkan. Jangan hanya berharap,” kata Deby.

Berangkat dari pengalaman itu, Deby akhirnya mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Anti Aging. Sebuah ilmu yang tergolong baru, karena baru popular sekitar tahun 1985.

 Belajar Anti Aging

“Kenapa kita belajar Anti Aging? Di kelas saya ada beberapa profesor di internis, mereka kuliah lagi untuk memperdalam anti aging. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang mereka mulai menerapkan anti aging,” ujar wanita yang tengah kuliah lagi di Perancis.

Deby mencontohkan, ketika seseorang mulai terserang livernya. “Kalau di kasih obat terus, ternyata sel livernya tidak bisa terima karena sudah tua, kan tidak banyak efeknya. Padahal, sel itu bisa diperbaharui, dan orang ternyata tidak kepikir. Padahal, itulah anti aging, yaitu memperbaharui sel,” terang Deby.

Ibu satu anak ini kian gemas ketika masyarakat salah kaprah. 

“Berapapun umur kamu, tensi darah kita harus dibatas normal. Jangan karena sudah tua, tidak apa-apa tensi 160,” ujar Deby.

Ternyata, lanjut Deby, kita bisa memilih mau sakit apa. “Mau sakit jantung, liver dan sebagainya. Kalau kita mau mati karena stroke, ya kita makan aja seenaknya, yang berlemak-lemak dan makanan tidak sehat. Hidup ini kita yang pilih kok.

Setelah mempelajari anti aging, dan membuka klinik, Deby bisa bernafas lega. Ayahnya terbebaskan dari stroke.

“Ayah jadi bisa nyetir sendiri, bisa terbang kemana-mana seperti bussines man,” kata Deby, senang.

Bahkan dari 58 pasien yang berobat dengannya. “Semua terbukti tidak pernah kena stroke untuk kedua kalinya. Dan sekarang segar bugar,” kata Deby, bangga.

 Aktif Sejak SMA

Belajar hal-hal baru menjadi keasyikan Deby sejak sekolah.

“Waktu kuliah saya senang dance. Rata-rata yang ikut dari fakultas Hukum dan Ekonomi, saya sendirian yang dari Kedokteran. Dan waktu itu saya sering dikirim ke luar negeri. Biasanya pas acara pertukaran budaya. Pernah ke beberapa negara Asia. Mewakili Indonesia dari Dinas Pariwisata. Dan saya juga sering ikut pemilihan-pemilihan model,” cerita Deby, senang.

Masih di bangku kuliah, Deby yang cantik dan lembut, juga aktif mengikuti kegiatan menyelam.

“Bahkan, saya jadi instruktur scuba diving saat kuliah. Padahal itu olah raga berat dan bahaya. Saya tebiasa menyelam sampai kedalaman 120 –140 feet,” terang Deby, bangga.

Bahkan, Deby sempat menjadi model di sebuah produksi film negara

“Saya ketemu suami saya saat pembuatan film tersebut. Itu film tentang laut. Bekerjasama dengan NHK Jepang. Mereka cari model yang bisa nyelam tidak banyak. Akhirnya jalan-jalan pakai baju renang dan baju selam. Memang syutingnya di laut. Dulu sih tidak merasa seksi. Mungkin lebih sporty. Padahal badan justru lebih bagus sekarang. Dulu nomor celana jeans 28-29, sekarang 26-27. Jadi dulu lebih padat dan montok,” Deby pun tertawa lepas.

Deby juga pernah mengambil cuti akademis untuk mendirikan perusahaan.

“Waktu itu tingkat 4. Saya bikin Eradunia Group, sampai sekarang masih ada. Salah satu proyek yang baru kita kerjaan yaitu bikin IT system untuk gedung MPR/DPR. Nah, saya awali perusahaan ini dari saya dari tingkat 4. Sahamku 99%,” jelas Deby.

Darah bisnis, kata Deby, mengalir dari Ayahnya yang juga pengusaha.

“Saya berasal dari keluarga yang orang tuanya jatuh dan bangun. Kita pernah punya pembantu 8 orang, tap kita pernah tidak punya pembantu. Hidup seperti roda. Dan hidup itu yang saya pelajari. Disaat saya bisa memberi pekerjaan sama orang, itu saya lakoni. Prinsip saya itu,” kata Deby.

“Justru waktu saya belum muncul debagai dokter, waktu Ayah saya kena stroke, saya lebih sering muncul di majalh SWA untuk bisnis,” ujar Deby, mantap.

 Rektor Termuda

Tahun 2001, Deby menjadi Rektor Sedaya International University. Sayangnya, pusat pendidikan yang dirintis Deby ini tak bisa berjalan lama.

“Ada masalah intern dan masalah dengan government. Dulu saya sudah menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris,” kata Deby. Kini Deby masih menjabat Wakil Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se DKI.

Deby gemas. Ia merasa sudah saatnya perguruan tinggi di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat kuliah.

“Supaya pelajar kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri. Makanya saya membuat Putri Kampus supaya menjual education kita ke luar negeri. Kita tidak boleh berpikir di dalam tempurung saja. Nanti kita ketinggalan,” kata Deby.

Meski sempat kecewa dan pernah menjadi Rektor termuda, Deby masih punya semangat untuk terus berkarya.

“Saya lagi bikin buku tips kecantikan. Saya ingin orang paham bahwa investasi kesehatan harus dimulai dari sekarang. Kita jaga makanan dan berolah raga agar nanti tua, kita bisa menikmatinya,” ujar Deby menasehati.

 Motivasi Karena Sakit Hati

Deby yang lembut, selalu ingin berbagi dan membuat hidup orang lain berharga.

“Karena saya pernah sakit hati,” kata Deby.

Peristiwa tak mengenakkan itu terjadi ketika Deby masih kuliah.

“Waktu itu saya masih mahasiswa, saya juga masih aktif scuba diving. Saya demam tinggi, padahal kita tidak boleh berobat ke dokter umum. Saya bilang, ‘dok saya sakit, demam tinggi. Bisa nggak ya telinga saya.’ Aturannya di kedokteran, kalau sakit telinga harus diobati di THT,” kenang Deby.

Namun, Deby sengat terkejut.

“Dokter itu langsung jawab, ‘enggak, saya sudah di jemput!’ Padahal satu jam setelah itu dia duduk dengan kaki di atas meja, nonton tivi. Soalnya saya lagi praktek di radiologi di dekat situ. Hati saya sedih sekali. Padahal dia tinggal lihat saja,” kenang Deby, kesal.

Deby belajar, bahwa ia tidak akan jadi dokter seperti itu. Dan sampai hari ini, Deby akan melayani setiap pasien yang datang.

Dan dunia berputar. “Ternyata, dia, dokter itu, melamar di salah satu bagian, dan profesor bagian saya tanya, ‘Deb,ada yang ngelamar dari Sam Ratulangi. Kamu kenal nggak?’ Saya kaget sekali.”

“Itu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu. Seperti waktu saya praktek di hotel. Pasien saya dari tukang masak sampai GM. Saya memperlakukan pasien seperti saya ingin diperlakukan. Sedih kalau kita lagi sakit. Nggak enak sekali rasanya,” ujar Deby, mantap.

Aien Hisyam

Advertisements

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pendidik, Profil Pengusaha | 5 Comments

Sitta Sudiro

Hidup Itu Adalah Harapan

 

Ia perempuan pertama di Indonesia yang menjalankan bisnis jasa security. Keinginannya cuma satu, yaitu melihat hidup orang lain semakin baik.

 

Satu hari, Sitta didatangi pegawainya, seorang security.

 “Dia bawa tas, isinya uang 250 juta rupiah,” cerita Sitta.

Rupanya, pria bertubuh sedang itu baru saja menjaga salah satu town house di kawasan Bangka. Dan tas itu terjatuh dari mobil.

“Dia buka untuk tahu alamatnya. Akhirnya di kembalikan ke orangnya. Si Ibunya senang dan dikasihlah orang ini uang 200 ribu,” lanjut Sitta.

Pada tiap karyawannya, Sitta selalu mengajak untuk bersyukur. “Saya bilang, bersyukur saja dulu. Kamu lihat saja nanti hadiahnya, mungkin tidak dari manusia tetapi dari Allah. Dan itu saya tekankan.”

Satu minggu kemudian, pegawainya ini datang lagi. Ia dan motornya baru saja ditabrak mobil yang mundur. Dan oleh si penabrak yang pemiliki toko handphone, ia diberi handphone bagus, uang, dan diperbaiki motornya.

“Saya bilang, itulah hadiahnya. Selain kamu dapat hadiah dari kantor kamu akan dapat hadiah dari Tuhan. Dan ternyata, esoknya, pegawai saya ini diterima di AKABRI,” ungkap Sitta, senang.

Berkah Promotor Tinju

Sitta dikenal dekat dengan pegawainya, meski ia President Directot PT Sakti Bina Interindo (SBI), perusahaan jasa keamanan yang berdiri tahun 2003.

Melalui bisnisnya, Sitta ingin memberikan rasa aman dan nyaman pada para klien. Sementara di dalam perusahaan, ia pun memberikan rasa itu.

“Alasan khusus, mungkin sambil berjalan saja. Dan lagi, waktu pertama mendirikan, kita tidak punya tujuan apa-apa,” ungkap Sita sambil tersenyum.

Sitta teringat, ketika pertama kali ia dimintai tolong pengacara Todung Mulya Lubis. “Waktu itu Mas Todung bilang tolong carikan bodyguard untuk klien-kliennya. Saya justru tanya, bagaimana kalau perusahaanku yang tekel. Mas Todung bilang terserah saja.”

Sitta beruntung. Bertahun-tahun ia pernah menjadi promotor tinju. Banyak mantan petinju yang sudah tidak bertarung lagi.

“Saya telepon mereka dan kasih kasih kerjaan. Ternyata mereka senang,” ujar Sitta, senang.

Saat itulah, tercetus keinginan Sitta mendirikan perusahaan jasa keamanan. Permintaan juga mulai berdatangan, salah satunya dari perusahaan pertambangan batubara milik Abu Rizal Bakrie di Kalimantan Selatan. 

“Kita ambil beberapa orang mantan-mantan petinju dan atlit kickboxing. Mereka sudah pada tua-tua untuk jadi atlit tinju. Nah, karena ada permintaan bodyguard, bisa lah mereka dipakai,” ujar Sitta.

Selama 4 tahun Sitta mondar-mandir ke Kalimantan. Ia tak hanya melatih orang-orangnya yang dibawa dari Jakarta, namun juga orang-orang lokal.

“Kerjaannya berat. Memang agak repot waktu disana. Ada yang sampai patah. Medannya berat sekali. Karena sering gonta ganti personil, akhirnya kita mulai didik orang-orang setempat dan kita ajari,” ujar Sitta.

Tren Bodyguard

‘Pulang’ ke Jakarta, Sitta fokus membesarkan perusahaannya.

“Saya ngobrol dengan beberapa teman pengusaha. Ada yang dari bank, finance, dan sebagainya. Dari pengusaha yang masih nol, sampai pengusaha yang sudah jadi,” kata Sitta.

Ditambah lagi, teman-temannya ini mengatakan bahwa bisnis pengamanan sedang dibutuhkan. Sitta kian mantap.

“Saya lihat, bisnis ini jadi satu kebutuhan. Apakah itu pengusaha, pengacara, atau kliennya pengacara dan sebagainya. Apakah itu perempuan atau laki-laki. Disaat-saat tertentu, dan tidak ada siapa-siapa, dan disitu ada kejadian, disitulah dia butuh,” ujar Sitta.

Sitta juga ingat ketika seorang teman berkata bahwa dulu orang masih bisa punya pistol. Sekarang, pistol sudah ‘digudangi’ semua.

“Kita tanpa pistol, memang ada Tuhan yang menjaga kita, tetapi kalau mau bicara amannya lagi, siapa yang kita mintai tolong,” tutur Sitta.

Khusus untuk klien perempuan, Sitta menyediakan pilihan bodyguard perempuan. “Pernah ada Ibu menteri yang minta saya bodyguard perempuan loh,” kata Sitta, senang.

Kalau bodyguardnya laki-laki, lanjut Sitta, “kan sungkan kalau mau ke wc, atau kalau sepatunya haknya copot. Nah, kalau bodyguardnya perempuan mau nggak mau dia lebih mudah masuk kemana. Ada banyak hal dimana kita lebih leluasa kalau perempuan.”

Ia miris melihat peristiwa Dewi Persik yang mengalami pelecehan seksual. “Mungkin, karena itu pula banyak artis yang sekarang minta jasa bodyguard sama saya,” ujar Sitta sambil tersenyum.

Pikirkan Perut

Meski sudah memiliki lebih dari 300 pegawai security, Sitta berharap tidak berhenti memberi kesempatan pada orang lain untuk bekerja di tempatnya.

“Dulu uwak saya pernah bilang, “Sit, hati-hati akan ada 20 juta orang penganggur di Indonesia. Akan ada banyak kriminalitas.” dan itu benar. Mau dikemanakan ini orang-orang?” suara Sitta terdengar tegas.

Sitta tak ingin menutup mata.

Dan ketika ia kedatangan pemuda-pemuda pengangguran, Sitta berusaha tidak menolak. “Mau dikemanain ini orang. Karena badannya kurus saya tanya, kamu security atau narkoba. “Security Bu, tapi 8 tahun tidak kerja.” Akhirnya kita yang carikan kerjakan,” ujar Sitta, terharu.

Kata Sitta, jangan bicara keuntungan.

“Kita pikirkan perut saja. Bantu orang. Rejeki akan darimana saja. Kalau mau bicara uang bermilyar-milar, jangan di perusahaan seperti ini. Yang terpenting tampung saja. Bukan dari perusahaan saya atau bukan dari si klien, tapi dari Allah,” kata Sitta dengan suara mantap.

“Pada setiap pegawai, saya selalu tanya. Apa kamu punya motor? Kalau tidak, segera beli motor. Saya selalu bilang, mereka harus punya sesuatu dari pekerjaan ini walaupun dengan penghasilan yang pas-pasan. Paling tidak motor. Kalau kerjanya bagus dan terus berkembang, siapa tahu segera punya rumah yang sederhana,” ucap Sitta.

Kata Sitta, ia selalu memberikan harapan.

“Saya bilang, ‘kamu jangan terus-terusan jadi security’. Kita ada jenjang yang lebih baik. Mungkin jadi koordinator, atau ditarik ke kantor. Atau kalau kliennya suka terus jadi ajudannya. Hidup itu adalah harapan,” tegas Sitta.

 Sitta tersenyum, ketika ditanya, sejak kapan rasa peduli itu ada.

“Saya selalu bermain naluri. Sampai ibu saya pernah bilang, “Sit, kalau kamu punya rumah dan orang lain minta, pasti kamu kasih”. Memang benar, saya tidak tahan lihat orang susah,” ujar Sitta.

“Alhamdulillah hidup saya tidak pernah susah. Kuncinya, cukup saja kita selau memberi. Jangan berharap akan kembali. Setiap orang datang ke saya minta pekerjaan, saya tampung dan saya minta dia berdoa supaya jalan saya mencarikan mereka rejeki semakin mudah,” lanjut Sitta, teduh.

Kehebatan Keluarga

Meski hatinya kerap tersentuh akan nasib orang, Sitta mengaku sosok yang tahan banting.

“Itu karena didikan,” katanya, sambil tertawa.

Dahulu, Sitta merawang ke masa lalu, “ibu saya kalau lihat saya nangis, selalu bilang, ‘baru begitu saja sudah nangis. Tahan air matamu.’ Ibu keras. Mungkin juga karena kakek saya kan matinya di tembak Belanda. kakek  ditembak karena tidak mau kasih tahu kempat peresmbunyian tentara-tentara Indonesia. Karena disana ada anak-anaknya yang jadi tentara. Salah satunya uwak-uwak saya,” kenang sulung dari bersaudara, keponakan Jenderal TNI (Purn) Herman Sudiro.

Dari didikan-didikan itulah Sitta menjadi kuat. Ditambah lagi, Sitta tumbuh dan besar di lingkunga keluarga militer.

“Saya juga dibesarkan di rumah uwak saya, Pak Herman. Saya liat bangun pagi ada tank-tank di depan rumah. Ada tentaranya yang salah di marahin dan dihukum push up. Juga terbiasa lihat panser-panser kalau pagi di panasin,” ujar Sitta.

Selain di rumah Herman, Sitta juga hidup berpindah-pindah. Kondisi yang harus diterima karena Bapaknya yang bekerja di perusahaan asing harus bolak-balik ke Sulawesi.

“Sebentar di uwak sini, besok di uwak mana lagi. Pindah-pindah. Saya ini digaulin saya sama ibu saya sejak kecil. Digaulin sama sepupu-sepupu. Jadi akhirnya kita terbiasa dengan kehidupan yang berbeda-beda di luar rumah. Banyak sekali perbedaan. Kebetulan semua kumpul di Jakarta,” kata Sitta, senang.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 2 Comments

Amaranila Lalita Drijono

Keseimbangan Seutuhnya

 

           

One-stop female clinic menjadi satu layanan yang dibutuhkan tiap perempuan. Nila memahami betul kebutuhan tersebut.

 

Amaranila gemas. Ia menyadari, perempuan kerap menomortigakan kesehatan pribadinya, terutama bila ia telah menikah.

“Anak sakit, ibunya yang merawat. Suami sakit, istrinya yang merawat. Ibu sakit, siapa yang peduli kalau tidak dirinya sendiri,” ujar Amaranila CEO Puan Jakarta Boutique Clinic.

Kegelisahan di hati, membuat Nila, panggilannya, mantap mendirikan Puan Clinic. Ia ingin memberikan layanan untuk tiap perempuan, mulai dari urusan kandungan hingga kulit dan kecantikan.

 

Kearifan Lokal

Nila, fasih berbicara kesehatan. Ia jalani pendidikan kedoterannya di Universitas Indonesia. Termasuk melanjutkan Spesialis Kulit dan Kelamin di tempat yang sama.

  Keinginan memberikan layanan kesehatan maksimal, membuat Nila tertegun ketika ia singgah di San Fransisco dan London. Di dua tempat ini, ia mengunjungi klinik-klinik khusus perempuan.

“Sangat professional,” ungkap Nila, kagum.

Dalam hati, Nila bertanya, “kenapa di Indonesia tidak ada klinik seperti itu? Bukankah masyarakat Indonesia menginginkan pelayanan profesinal. Ini akan menjadi pasar yang potensial.”

Pulang ke Indonesia, Nila bertekad membuat klinik sejenis. Satu tempat yang menjadi rumah kedua bagi para perempuan. Yang tidak sekedar memberi pelayanan kesehatan, tapi juga menjadi pusat edukasi dan perawatan kecantikan.

“Edukasi bagi wanita Indonesia agar senantiasa memperhatikan kearifan lokal bangsanya,” ujar Nila.

Nila mencontohkan tradisi wanita jaman dulu yang memakai bedak dingin untuk perawatan kulit di Indonesia. Sesuai dengan kondisi alam tropis Indonesia yang panas dan lembab.

“Sekarang lagi tren pakai produk pemutih. Hampir tiap perempuan Indonesia ingin kulitnya putih, jadi ramai-ramai pakai pemutih. Setelah pakai produk itu, saya justru sering mendapat pasien yang terkena efek sampingya,” kata Nila.

Agar edukasi itu sampai ke sasarannya, Nila mendirikan Puan Jakarta Boutique Clinic di akhir tahun 2003.

 

Kunci Sukses Database

Nila tahu, perempuan malas ke rumah sakit karena tidak mau waktunya terbuang percuma untuk mengantre, takut divonis sakit, dan ngeri melihat alat-alat kedokteran yang tidak akrab di hati.

Ketika mendirikan Puan Clinic, Nila berusaha memenuhi semua keinginan pasien perempuannya.

“Agar tidak antre, kita menerapkan konsep by appointment. Jadi kunci suksesnya ada pada database pasien,” ujar Nila.

Kalaupun pasiennya langsung datang, “tetap kita layani selama ada dokter yang bertugas saat itu. Tiap pasien yang datang mendapat layanan personal,” ujar Nila.

One by one yang diterapkan Puan Clinic membuat klinik perpegang kuat pada database pasien, berisi semua data pasien mulai dari nama, pekerjaan, medical record, hobi sampai minuman favorit.

Pentingnya database juga dirasakan saat pemberikan layanan kesehatan. Dokter akan memberikan edukasi yang dibutuhkan pasiennya.

“Pasien akan tahu, perawatan apa yang ia butuhkan,” ujar Nila.

Untuk memenuhi semua kebutuhan pasiennya, Nila menyediakan beragam fasilitas kesehatan, mulai dari dokter ahli gizi, kebugaran, ahli saraf, penyakit dalam, psikiatri dan psikologi medis, bedah plastik, akupunktur, psychopuncture, naturopathy, gigi, pap smear, hingga general check up untuk kesehatan perempuan.

“Jangan bayangkan ruangan yang seram seperti di rumah sakit. Seluruh desain interior ruangan di klinik ini dibuat homy. Pada saat konsultasi, pasien harus dibuat rileks. Karenanya kita taruh sofa agar suasana lebih kekeluargaan,” terang wanita kelahiran Jakarta 10 September 1962.

 

Menari Untuk Keseimbangan

Di kala longgar, Nila sempatkan waktunya berlatih menari. Katanya, menari adalah bagian dari olah tubuh untuk mengatasi masalah osteoporosis.

“Gerakan-gerakan tari yang luwes dan lentur itu seperti stretching. Ada juga nilai aerobiknya yang baik untuk kardiovaskuler. Dan paling utama, menari itu sangat baik untuk kekuatan tulan,” ujar Nila.

Nila luwes menggerakkan badannya menari tarian klasik jawa, seperti tari Bedoyo, Golek, dan Sarikusumo. Ia mulai mencintai tari sejak SD. Kini ia bergabung di Sanggar Tari Sumber Cipta pimpinan Farida Oetojo. Dan ketika waktunya sedikit lebih longgar, ia sempatkan bermeditasi ala yoga.

“Hidup harus seimbang,” ujar Nila memaknai hidup.

Menurut Nila, pemahaman mendasar tentang ke-Tuhanan, kemanusiaan, dan budaya penting sekali diajarkan dalam keluarga. Khususnya bagi pendidikan dasar anak.

Kalau nilai budaya ia tanamkan lewat tarian jawa –suami dan dua anak Nila ikut menari jawa -, khusus untuk nilai ke-Tuhanan ia tanamkan sehari-hari di dalam rumah juga melalui pengajaran di sekolah. Begitupun dengan nilai kemanusiaan.

“Sekarang saya sedang membantu program kampanye gizi seimbang dan makanan sehat di sekolah-sekolah. Launching-nya bulan Agustus di sekolah Al-Izhar. Kita ingin program ini ditiru di sekolah-sekolah lain,” kata Nila yang dua anak perempuannya bersekolah di Al-Izhar.

Nila berharap, kelak anak-anak bisa memilih makanan sehat untuk dirinya sendiri. “Bisa melalui edukasi, pemberian makanan di sekolah, juga melalui cooking class.”

Meski kegiatan tersebut menyita pikiran dan tenaganya, Nila senang-senang saja. “Itulah keseimbangan. Disaat kita sudah sibuk oleh pekerjaan kantor, di sisa waktu yang lain, kita harus seimbangkan dengan kegiatan lain, untuk diri sendiri, kemanusiaan, dan ke-Tuhanan,” ujar Nila.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | 2 Comments