Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Sri Murwati Habir

Bila Kepompong Itu Seindah Kupu-Kupu

Diberi nama kepompong karena ia masih sangat kecil. Dilindungi tapi juga diberi nafas agar bisa tumbuh sesuai harapan.

Sri Murwati Habir langsung tersenyum ketika dipuji. Ditanya tentang kiat-kiatnya membesarkan Kepompong, wanita murah senyum ini langsung menunjuk ke arah luar.

“Yang sukses tidak hanya saya, tetapi juga tim saya,” kata Murwati yang selalu disapa Tante Wati.

Bekerja di dunia anak-anak membuat Wati selalu bahagia. Tidak pernah stres, apalagi bersedih.

“Bawaannya senang melulu. Tiap hari, aku pasti tertawa. Itu sudah jadi obat awet muda buat kita yang kerja disini,” kata Wati sambil tersenyum.

Seindah Kupu-Kupu

Sudah 18 tahun Kepompong berdiri. Dan ketika resmi berdiri tahun 1988, Wati hany punya satu harapan, “semoga Kepompong bisa menjadi tempat pendidikan untuk anak-anak usia dini yang berkualitas,” ujar Wati saat itu.

Harapan Lulusan BSc Business Administration jurusan Akuntansi di University of the State of New York, dan Master Of Education jurusan Kurikulum & Pengajaran bidang  Pendidikan Anak Dini Usia di Lesley University, Cambridge, MA, itu kini menjadi kenyataan.

“Alhamdulillah, sekarang Kepompong jadi salah satu pilihan utama para Ibu yang ingin menyekolahkan anak-anaknya yang baru berusia 2 hingga 3 tahun,” ujar Wati sambil tersenyum senang.

Sejak pertama kali didirikan bulan Juli tahun 1988, program pendidikan Kepompong ditujukan untuk anak-anak di bawah usia 4 tahun. Menjadi alternatif ‘pendidikan tambahan’ di luar rumah, khususnya untuk para orang tua yang  keduanya bekerja.

“Nah, kalau untuk para ibu yang tidak bekerja, program pendidikan Kepompong akan memberikan pengalaman bersekolah bagi anaknya,” ujar Wati.

Saat itu Wati melihat bahwa program pendidikan kelompok usia di bawah 4 tahun sangat terbatas. Hampir semua TK, tidak memiliki program untuk anak usia dibawah 4 tahun. Kalaupun ada, materi dan kegiatannya sangat berbeda.

Pendidikan di Kepompong, jelas Wati, dibuat sangat ringan, disesuaikan dengan usia anak-anak yang baru 2 hingga 4 tahun. Juga disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak dan jadual yang sangat fleksibel agar anak masih bisa bermain sepuas-puasnya.

“Konsep itu memang banyak digunakan Kelompok Bermain pada umumnya. Yang membedakan, Kepompong justru dibuat dengan dasar pemikiran yang sederhana. Berharap kelak anak-anak tumbuh dan berkembang bersama menjadi anak yang mandiri, percaya diri, kreatif dan berkembang secara optimal sesuai  potensinya, seindah kupu-kupu,” kata Wati.

Satu Kelas Berbeda

Awalnya, Kepompong hanyalah tempat bermain anak yang dilakukan di teras sebuah rumah di Jalan Bangka Raya No. 99C. Yang hanya punya satu kelas murid Indonesia dan satu kelas murid asing.

Lima tahun kemudian, tahun 1993, Kepompong mulai menambah satu kelas Indonesia dan pindah ke rumah No. 99A yang lebih luas. Setiap tahun, jumlah murid yang mendaftar kian banyak. Merasa sudah bisa menampung lagi, tahun 1995 Kepompong pindah lagi ke rumah No. 99B dan menambah satu ruang lagi untuk kelas Indonesia.

Kini, jumlah murid sudah mencapai 200 anak. Mereka terbagi atas 2 kelas usia 3 tahun yang diberi nama kelas Capung dan kelas Belalang. 1 kelas usia 4 tahun (TK A) atau disebut kelas Kupu-kupu, dan 2 kelas usia 5 tahun (TK B) disebut kelas Lebah Madu dan Lebah Hutan .

“Sejak awal kita sudah punya visi menciptakan lingkungan yang kondusif dengan begitu dapat mengembangkan potensi anak secara optimal,” kata Wati.

Karena itulah Wati kemudian membuat program pendidikan usia 3 tahun yang sangat fleksibel. Setiap minggu, anak cukup masuk sekolah 3 kali atau 2 kali saja. Kegiatan hanya dilakukan 3 jam setiap hari. Setiap bulan dibuat tema yang selalu berbeda dengan bulan-bulan lain. Tema dipilih sesuai minat anak. Misalnya tema jalan-jalan di kota, tamasya ke kebun binatang, pergi ke pasar, dan sebagainya.

“Yang terpenting, setiap hari anak harus bisa melakukan kegiatan bermain bebas di luar ruangan. Di Kepompong, halaman bermain termasuk prioritas. Khusus kegiatan di semester 1 disebut Opening Circle, barulah semester 2 diisi kegiatan khusus,” ujar Wati.

Opening circleadalah kegiatan dalam kelompok kecil untuk membicarakan kegiatan yang akan dilakukan anak sepanjang hari atau membahas tugas yang dibawa anak dari rumah, serta hal-hal yang berhubungan dengan ‘membantu diri sendiri’. Sementara Kegiatan Khusus adalah  menggantikan opening circle berupa kegiatan yang dilakukan secara bergantian setiap minggunya  seperti  ilmu pengetahuan sederhana dan latihan pengembangan motorik kasar.

Termasuk dalam kegiatan harian adalah menyanyi bersama, makan bersama, bercerita, kegiatan kelompok sesuai tema, kegiatan di meja, dan bermain bebas di dalam ruangan.

“Yang membuat kami beda dengan yang lain, disini anak tidak hanya sekedar bernyanyi. Tetapi anak-anak bernyanyi diiringi piano atau gitar sehingga anak mendapatkan pengalaman musik dasar yang benar. Anak juga mengenal fingerplay, ritme, irama dan melodi,” kata Wati bangga.

10 Keunggulan Yang Lain

Wati tidak gentar harus bersaing dengan sekolah-sekolah sejenis yang kini mulai menjamur. Sebagai ‘pemain’ lama, Wati yakin bahwa Kepompong tetap akan menjadi tempat pendidikan khusus anak-anak dini usia yang berbeda, dicari, juga dibutuhkan para Ibu.

“Kita punya 10 kiat khusus. Pertama adalah interaksi yang sangat baik antara pengajar dan anak. Salah satunya interaksi yang memberikan suasana rileks, spontan dan bersemangat,” kata Wati.

Yang kedua, lanjutnya, dalam hal kurikulum yang dirancang khusus. Ketiga yaitu komunikasi dengan orang tua yang dilakukan setiap saat.

“Satu bulan pertama, anak harus di antar dan ditunggui Ibu atau Bapaknya. Itu harus. Setelah itu, sia anak bisa ditinggal sendiri agar lebih mandiri,” kata Wati.

Kiat keempat adalah program rekrutmen dan kualitas guru. “Maksudnya, untuk menjadi pengajar di Kepompong, proses rekrumennya dilakukan cukup ketat, harus sesuai dengan kriteria Keopmpong,” ujar Wati.

Barulah enam kiat lainnya berhubungan sengan struktur organisasi, administrasi program, lingkungan fisik, kesehatan dan keamanan, gizi dan pemberian makan, serta evaluasi.

Aien Hisyam

December 7, 2009 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: