Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Poetri Soehendro

It’s Therapy For You!

Mendongeng telah merubah sosok Poetri yang kosmopolitan menjadi wanita yang dicintai anak-anak.

Pertama kali mendongeng, badanku keringatan. Kalau bisa, muka jangan sampai kelihatan. Yang pasti, aku dredek sekali,” kata Poetri Soehendro mengenang pengalaman pertamanya mendongeng di depan anak-anak.

Lima tahun yang lalu, Poetri memulai karirnya sebagai pendongeng. Proses yang tidak mudah bagi wanita kosmopolitan yang hobi dugem (dunia gemerlap), merokok, dan belum memiliki anak ini.

“Setelah enam bulan aku selami dunia anak-anak, menjadi pendongeng, lama-lama hati ini berubah. Aku berubah menjadi Poetri yang lain. Poetri yang lebih care pda anak, yang ingin dekat dengan anak, dan ingin berbagi dengan mereka,” ujar Poetri terus terang.

Bertahan Tujuh Menit

Poetri yang lincah, banyak bicara, dan senang bercanda, sangat lihai memainkan kedua telapak tangannya yang terbungkus boneka-boneka berkarakter. Sesekali ia tertawa nyaring sambil menggerak-gerakkan boneka harimau. Menit berikutnya, mulutnya cemberut sambil terisak-isak menangis, memainkan telapak tangan yang lain.

“Setiap kali mendongeng, aku harus bisa membawakan empat tokoh berkarakter. Punya Suara yang berbeda, intonasi yang berbeda, juga mimik muka yang berbeda. Memang, butuh keahlian khusus. Tetapi untuk mempelajarinya, siapa saja bisa melakukan,” kata Poetri bersemangat.

Mendongeng, sangatlah mengasyikkan. Paling tidak, dunia imajinatif ini telah membuat Poetri melanjutkan kuliah S2 di Psikologi Universitas Indonesia jurusan Intervensi Sosial. Ia ingin mempelajari dan tahu lebih banyak tentang dunia kanak-kanak.

Agar berjalan lancar, Poetri memenej kegiatan mendongengnya dengan sangat rapi.

“Yang pertama kali, aku selalu brief dengan EO (Event Organizer)-nya untuk tahu visi misi acara. Setelah itu aku pilih cerita. Bisa cerita tentang binatang, dan apa saja, terserah aku. Setelah ketemu tema dan cerita, aku  ngomong dengan musisi. Aku punya pemain keyboard, Mas Tara, yang sudah temani aku selama 5 tahun. Kalau tidak bisa bawa keyboard karena harus keluar kota atau panggungnya kecil, aku bawa laptop. Yang membuat background music Elena Zahna,” ujar lulusan IKIP Jakarta jurusan Bahasa Inggris.

Selanjutnya Poetri menulis script atau cerita yang akan ia dongengkan.

“Biasanya aku mendongeng setengah jam. Ada juga yang sampai satu jam. Nah, kalau lebih dari sepuluh menit, aku selalu membuat games ditengah-tengah acara mendongeng,” kata Poetri.

Poetri tidak pernah terus menerus mendongeng lebih dari tujuh menit. “Karena batas kesabaran seseorang termasuk anak mendengakan orang hanya 7 menit. Seperti kita mendengarkan radio. Menit pertama pasti dengerin, menit kedua, mulai mikir seru nggak sih omongannya. Menit ketiga, mulai tanya penting nggak sih ini orang. Menit keempat, pintar nggak sih nih orang ngomongna. Menit kelima, wah ngerasa nggak asyik. Pasti ganti ganti gelombang,” kata Poetri.

Menghindari kebosanan, Poetri menyelipkan sejumlah aktifitas yang disukai anak-anak. Bisa mendengar lagu anak-anak, permainan, hingga menyanyi disertai olah tubuh.

“Pemetakan acara aku yang bikin. Mereka tinggal aku kasih script supaya tahu dan tahu apa yang akan aku lakukan,” kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Juli 1964.

Keajaiban Dongeng

Suatu hari, Poetri bertanya pada wanita peramal.

“Bu, ramalin dong, gue dong. Kira-kira, mendongeng cocok nggak buat saya,” kata Poetri penuh ingin tahu.

Peramal tarot itu berujar, “Poetri, mendongeng, its therapy for you. Agar kamu bisa lebih menikmati hidup.”

Antara percaya dan tidak, Poetri berusaha menyelami kata-kata wanita itu. Ia hampir tidak percaya melihat lingkungan sekitarnya yang sangat skeptis dengan pekerjaan barunya itu.

“Tapi ketika bekerja saya sangat enjoy. Saya merasa this is me. Saya sekarang sudah menemukan apa yang selalu saya cari,” kata putri tunggal pasangan RH Soehendro dan Maria C. Robot..

Adalah proses panjang bagi Poetri menjadi story teller. Ia mengaku tidak pernah memahami dunia anak. Ia adalah wanita metropolis yang senang menghabiskan waktu di club-club, café, dan tempat-tempat hang out lainnya. Memilih dunia advertising, production house, dan editing house sebagai pekerjaan yang diseriusi.

Belasan tahun Poetri habiskan waktunya bergaul dalam dunia malam dan bau asap rokok. Dan terus berlanjut ketika Poetri menjadi penyiar radio di Female Radio dan di I Radio.

Sampai suatu hari, awal tahun 2001, ia mendapat tugas baru dari produser Female Radio membawakan acara mendongeng untuk anak. Terpaksa tapi juga tantangan, Poetri menyanggupi.

Poetri juga di’paksa’ tampil off air di TC Gallery di acara Kemang Festival. “Yang nonton 80 anak. Mereka bayar 10 ribu. Dalam sehari aku tampil di dua show mendongeng. Terus terang, itulah penampilan pertamaku. Aku dredek sekali, kringat dingin dan berusaha mukaku tidak terlihat jelas. Tetapi, justru yang membuat aku kaget, setelah selesai anak –anak datang cium tagnan bilang terima kasih,” kenang Poetri. Saat itu bercerita tentang plotot kecil yang terbuang, cerita sederhana karangan Enid Blyton.

Setelah 6 bulan mendongeng barulah hati Poetri terpanggil.

“Dari yang terpaksa menjadi mencintai. Waktu itu aku sendiri nyaris tidak percaya,” ujar Poetri dengan suara takjub.

Poetri mengaku, kecintaan itu muncul ketika ia diundang Kota Wisata saat peluncuran kota baru ‘Zona America’. “Karena enjoynya, waktu itu aku pakai baju koboy, jaket koboy, bots, dan celana jenas. Yang janji hanya setengah jam mendongeng, aku bisa empat puluh lima menit. Aku benar-benar mulai mencintai dunia baruku. Ini benar-benar proses yang aku sendiri masih tidak percaya bisa terjadi dalam hidupku,” kata Poetri bangga.

Dongeng Para Ibu

Satu keinginan Poetri, “aku ingin setiap Ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Percaya deh, kalau anak-anak yang setiap hari mendengar dongeng ibunya, tidak akan ada kejadian dan perlakukan negatif pada anak,” kata Poetri.

“Seperti kata Kak Seto, betapapun pintarnya Kak Seto, Kak Putri, Pak Raden, Kak Agus, dan pendongeng-pendongeng lainnya, pendongeng yang terbaik tetap Ayah dan Ibunya. Segoblok-gobloknya Ibu, dia tetap pendongeng yang terbaik. Coba kita tanya, apakah kita masih ingat bau keteknya Ibu kita, bau sabunnya, sampai sekarang kita pasti masih ingat. Kita kenang sampai kapanpun. Begitupun dengan dongeng. Apapun dongeng dan nasehatnya di akhir dongengnya. Pasti akan terekam dalam otak menjadi kenangan yang sangat indah. Mendongeng tidak sesakit melahirkan. Hanya butuh waktu lima menit, dan contekannya banyak,” kata Poetri.

Manfaat dongeng lanjut Poetri sangat banyak.

“Yang pasti di dalam dongeng pasti ada daya khayal, moral, cerita budi pekerti, tata krama, sopan santun, dan hal-hal positif,” kata Poetri.

Anak yang mendengarkan dongeng akan dirangsang semua inderanya, seperti kuping, mata, hidung, mata dan perasa.

“Jadikanlah anak-anak kita yang utuh. Otak yang utuh. Karena anak Indonesia sekarang masuk five minute generation. Nonton film setelah lima menit bosan, ganti channel. Mengerjakan dua tiga pekerjaan dalam bersamaan seperti mengerjakan PR sekligus nonton televisi dan pencet-pencet kirim sms. Itu bukan salah mereka. Itu tuntutan jaman. Nah, dengan mendongeng, begitu mereka mendengarkan selama lima menit anak dilatih fokus dan dipaksa mendengar. Kalek anak akan menjadi pendengar yang baik,” kata Poetri.

Ada kesedihan Poetri saat ini. “Jumlah pendongeng Indonesia sangat minim. Tercatat hanya ada Kak WeEs, Kak Kusumo. Kak Seto, Pak Raden, Andi Yudha, Hughes tidak terlalu aktif, Kak Agus DS, Kak Heri, Kak Heru, dan saya. Ada sepuluh pendongeng di Indonesia. Mereka semua ada di Jawa. Sedih sekali kalau kita ngomong Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera,” ujar Poetri.

Hingga muncul satu ide dari benak Poteri membuat workshop bagi para guru TK untuk belajar dongeng dengannya. “Tidak perlu bayar. Gratis dan saya jamin pasti bisa mendongeng,” kata Poetri bersemangat.

Aien Hisyam

Advertisements

December 7, 2009 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: