Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Irene F Mongkar

“Saya toh Sudah Bisa Lihat Ujungnya”

Irene rela meninggalkan kenyamanan hidup, demi ketenangan jiwa. Ia bangun perpustakaan di kampung-kampung, dan membantu anak-anak cidera otak.

Di ujung telepon, Irene menyebutkan satu nama yang ia inginkan. Sebuah kantor, yang jauh dari kebisingan, meski berada di tengah kota. “Saya sudah tidak di gedung TIRA, mbak,” katanya, dengan suara riang.

Tentu saja, jawaban spontan itu menjadi tanda tanya. ”Ceritanya panjang,” sesaat Irene tertawa dengan suara khasnya, ”nanti saja kalau kita ketemu. Sekarang saya punya kegiatan lain yang lebih seru.”

Tahun silam, Irene meletakkan jabatannya sebagai General Manager di Tira Pustaka. Irene kini lebih memilih menjadi ‘pekerja sosial’, dan membantu anak-anak cidera otak.

“Sudah cukup sampai disini. Sejak dulu, saya sudah kepingin keluar tapi selalu ditahan. Akhirnya, bulan Agustus 2008 saya resmi mengundurkan diri. Berarti, 25 tahun saya bekerja di sana,” ujar Irene, tersenyum.

Dengan rendah hati, Irene mengatakan, untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan tersebut, ia lalui dari jabatan terendah sebagai resepsionis.

Hanya Mau Berbagi

Menyebut metode Glenn Doman, orang selalu teringat satu nama, Irene F. Mongkar. Sosok Irene sangat erat dengan ketenaran metode asal Amerika ini. Berawal ketika anak semata wayangnya, Dhea.

“Metode ini saya praktekkan di anak saya sejak tahun 1992, dari umur 3 bulan. Setelah 3 tahun berhasil, Dhea bisa baca buku, saya baru bikin seminar. Sebenarnya bukan seminasr, tapi orang bilang seminar. Saya hanya mau berbagi bahwa saya senang anak saya bisa begini. Mulailah dari situ saya ngoceh dimana-mana, “ kenang Irene.

Metode Glenn Doman adalah metode untuk menstimulasi otak agar berkembang lebih baik, dengan menggunakan flash card.

“Ini (metode Glenn Doman) untuk stimulasi. Sayangnya orang kenalnya hanya sebagai metode untuk membaca. Padahal dasarnya stimulasi,” terang Irene.

Dengan menstimulasi otak, anak-anak cidera otak pun akan lebih cepat sembuh. Kalaupun anak akhirnya bisa lebih cepat mengenal huruf dan membaca, “pada akhirnya akan jadi lebih mudah diajak suka membaca,” tegas Irene.

“Kan tujuan kita, anak bukan cuma bisa baca. Kalau mau bisa baca, kita kirim saja anak kita ke TK, pasti bisa baca. Cuma, bikin anak suka baca itu kan susah, butuh perjuangan. Memang, cara mudahnya, orang tua beli buku supaya anak suka baca. Tapi kalau tidak punya uang, bagaimana dong. Dengan anak sudah bisa baca sejak kecil, selanjutnya ia akan beralih menjadi suka baca,” kata wanita yang membuat flash card Indonesia dan Arab.

Bikin Perpustakaan

Irene sangat memperhatikan dunia baca anak-anak. Meski, katanya, minat baca di Indonesia masih sangat kurang, di banding negara lain, ia bangga telah terjadi peningkatan.

“Dibanding tahun-tahun kita, ada peningkatan kok. Sekarang, sudah banyak orang, terutama anak-anak yang suka baca. Toko buku juga sekarang sudah benar. Yang dijual memang buku, tidak campur dengan stationary, tas, mesin penghacur kertas, dan sebagainya. Jadi, orang datang hanya untuk beli buku bukan yang lainnya,” katanya.

Buku anak-anak, menurut penilaian Irene, saat ini juga sangat beragam dan bagus-bagus. “Dulu buku impor yang bagus, sekarang buku lokal juga bagus. Kalau bikin perpustakaan juga jadi cakep. Itu merangsang anak suka membaca,” ujar Irene dengan nada bangga.

Sejak mengenal metode Glenn Doman, Irene punya keinginan besar, setiap keluarga punya perpustakaan keluarga.

“Kita belum bisa mengharapkan pemerintah punya perpustakaan yang bagus. Urusan mereka terlalu banyak. Jadi, siapa dong yang mengurus anak-anaknya kalau bukan orangtuanya sendiri. Nah, cara ini bisa dilakukan pelan-pelan. Misalnya setahun terkumpul segini, tahun depan terkumpul lagi, lama-lama jadi banyak dan jadi perpustakaan kecil,” kata Irene.

Irene bercerita, keinginannya yang besar untuk mensosialisasikan gemar membaca dan perpustakaan keluarga, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar kerja. Ia terisnpirasi kehidupan Sumanto, pria asal Bantul Yogyakarta yang bersepeda mendatangi 4 hingga 5 desa di setiap harinya, untuk membawa buku-buku yang siap di pinjam anak-anak.

“Waktu gempa, perpustakaannya rata dengan tanah. Bukunya ada 1300an jadi lusuh dan rusak. Saat itu saya masih bekerja di Tiga Raksa. Saya bilang kalau saya tidak bisa bantu dengan bangunan, tapi saya bisa bantu membuat perpustakaan. Syukurlah sekarang sudah berdiri. Bahkan Sumanto sudah punya 12 motor dan ada beberapa anak-anak karang taruna yang putar-putar dengan motornya meminjamkan buku ke anak-anak,” cerita Irene, bangga.

Meski engan disebut nominalnya, Irene mengaku rela menjual emas-emasnya untuk membuat perpustakaan di kampung-kampung.

Kalau segala sesuatu dimulai dari yang baik, pasti hasilnya akan baik. Kalau kenyataannya ribet di depan, saya toh sudah bisa lihat ujungnya,’ ujar Irene.

Sembuhkan Cidera Otak

Tak cukup sampai disana. Keinginan besar Irene lainnnya, adalah membantu anak-anak cidera otak yang saat ini jumlahnya terus bertambah.

“Sekarang, setelah waktu saya semakin banyak, saya larinya ke anak-anak yang cidera otak. Saya punya teman-teman yang siap membantu. Mau kaya mau miskin,‘ Irene.

Ia membantu perkumpulan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) yang dikelola Bapak Untung di daerah Magelang, juga masuk dalam KOACI (Komunitas Orang Tua Anak Cidera Otak Indonesia) yang berkantor pusat di Bandung.

‘Memang perjalanan tidak semulus harapan. Tahun 2005, ada bangunan di Magelang untuk pusat tumbuh kembang. Ada terapi laser, tapi mereka butuh metode stimulasi. Makanya, saya diajak membantu stimulasi. Saya mau tolong, tapi tidak mau setengah-setengah. Saya sudah punya rencana taruh fasilitas dan ribuan buku disana. Ternyata tahun 2007 saya mau isi dalamnya, tapi tidak dikasih. Sedih sekali. Dan sampai sekarang bangunan ini tidak dipakai sama sekali. Padahal, saya berhenti kerja juga karena tempat ini. Sedih jadinya,” ungkap Irene.

Irene mengibaratkan, kalaupun dia sudah bisa melihat ‘ujung’nya, saat ini sedag berada ditengah-tengahnya. Memang. ada yang hilang pasti ada yang dapat. Saya dapat KOACI di Bandung,” ujarnya, tersenyum.

Di KOACI, Irene punya komitmen. Tak sekedar membantu, ia ikut berjuang demi kesembuhan anak cidera otak, dan memotivasi para orangtua yang punya cidera otak agar tidak malu membawa anaknya tersebut keluar rumah.

“Hasilnya, sekarang banyak orang tua yang tidak malu membawa anaknya yang cidera otak keluar rumah. “Kita datang, anak tidak maju, kita yang bayar. Nah, tentunya kita tidak mau rugi. Makanya kita punya komitmen, anak yang kita stimulasi harus maju dan perkembangannya makin baik,” kata Irene.

Aien Hisyam

Advertisements

December 7, 2009 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Wanita

6 Comments »

  1. boleh tahu gak komunitas ini alamat dan telpnya brapa?trims

    Comment by renata | January 27, 2010 | Reply

  2. Mohon di infokan bagaimana untuk bisa minta saran menerapi anak kami yang kebetulan menderita Cedera Otak ” Cerebral Palcy” atau alamat terapis dengan metode Glenn Doman. Terimakasih.

    Comment by sugiarto24 | August 18, 2011 | Reply

  3. butuh info alamat KOACI di jakarta serta saran terapi dgn metode Glenn Doman utk anak cp-spastik usia 3th .terima kasih

    Comment by merry | February 4, 2012 | Reply

  4. Mbak Irene skrg dimana yaa.., masih ingat sama anak didikmu gak nih.. dari AGUS HAMDANI.., salam hangat selalu…sukses buat mbak Irene

    Comment by Agus Hamdani | July 28, 2012 | Reply

  5. Wah, luar biasa..!! trimakasih Ibu “Aien Hisyam”, sudah memuat Postingan yang menarik, sebagai Laki-laki saya kagum dengan keuletan, semangat dan prestasi para wanita Inspiratif tersebut. Semangat saya mesti dipompa 100x nih, 🙂
    Salam persahabatan dan persaudaraan dari kami ya? Dilain kesepatan, saya pasti mampir ke website anda. Semoga kesuksesan dan keberkahan selalu bersama anda.

    Comment by kartu baca | November 30, 2012 | Reply

  6. Tolong Tanya alamat Atau nomer telpon Ibu Irene f mongkar, Terimakasih

    Comment by Hendry | June 27, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: