Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Irene F Mongkar

“Saya toh Sudah Bisa Lihat Ujungnya”

Irene rela meninggalkan kenyamanan hidup, demi ketenangan jiwa. Ia bangun perpustakaan di kampung-kampung, dan membantu anak-anak cidera otak.

Di ujung telepon, Irene menyebutkan satu nama yang ia inginkan. Sebuah kantor, yang jauh dari kebisingan, meski berada di tengah kota. “Saya sudah tidak di gedung TIRA, mbak,” katanya, dengan suara riang.

Tentu saja, jawaban spontan itu menjadi tanda tanya. ”Ceritanya panjang,” sesaat Irene tertawa dengan suara khasnya, ”nanti saja kalau kita ketemu. Sekarang saya punya kegiatan lain yang lebih seru.”

Tahun silam, Irene meletakkan jabatannya sebagai General Manager di Tira Pustaka. Irene kini lebih memilih menjadi ‘pekerja sosial’, dan membantu anak-anak cidera otak.

“Sudah cukup sampai disini. Sejak dulu, saya sudah kepingin keluar tapi selalu ditahan. Akhirnya, bulan Agustus 2008 saya resmi mengundurkan diri. Berarti, 25 tahun saya bekerja di sana,” ujar Irene, tersenyum.

Dengan rendah hati, Irene mengatakan, untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan tersebut, ia lalui dari jabatan terendah sebagai resepsionis.

Hanya Mau Berbagi

Menyebut metode Glenn Doman, orang selalu teringat satu nama, Irene F. Mongkar. Sosok Irene sangat erat dengan ketenaran metode asal Amerika ini. Berawal ketika anak semata wayangnya, Dhea.

“Metode ini saya praktekkan di anak saya sejak tahun 1992, dari umur 3 bulan. Setelah 3 tahun berhasil, Dhea bisa baca buku, saya baru bikin seminar. Sebenarnya bukan seminasr, tapi orang bilang seminar. Saya hanya mau berbagi bahwa saya senang anak saya bisa begini. Mulailah dari situ saya ngoceh dimana-mana, “ kenang Irene.

Metode Glenn Doman adalah metode untuk menstimulasi otak agar berkembang lebih baik, dengan menggunakan flash card.

“Ini (metode Glenn Doman) untuk stimulasi. Sayangnya orang kenalnya hanya sebagai metode untuk membaca. Padahal dasarnya stimulasi,” terang Irene.

Dengan menstimulasi otak, anak-anak cidera otak pun akan lebih cepat sembuh. Kalaupun anak akhirnya bisa lebih cepat mengenal huruf dan membaca, “pada akhirnya akan jadi lebih mudah diajak suka membaca,” tegas Irene.

“Kan tujuan kita, anak bukan cuma bisa baca. Kalau mau bisa baca, kita kirim saja anak kita ke TK, pasti bisa baca. Cuma, bikin anak suka baca itu kan susah, butuh perjuangan. Memang, cara mudahnya, orang tua beli buku supaya anak suka baca. Tapi kalau tidak punya uang, bagaimana dong. Dengan anak sudah bisa baca sejak kecil, selanjutnya ia akan beralih menjadi suka baca,” kata wanita yang membuat flash card Indonesia dan Arab.

Bikin Perpustakaan

Irene sangat memperhatikan dunia baca anak-anak. Meski, katanya, minat baca di Indonesia masih sangat kurang, di banding negara lain, ia bangga telah terjadi peningkatan.

“Dibanding tahun-tahun kita, ada peningkatan kok. Sekarang, sudah banyak orang, terutama anak-anak yang suka baca. Toko buku juga sekarang sudah benar. Yang dijual memang buku, tidak campur dengan stationary, tas, mesin penghacur kertas, dan sebagainya. Jadi, orang datang hanya untuk beli buku bukan yang lainnya,” katanya.

Buku anak-anak, menurut penilaian Irene, saat ini juga sangat beragam dan bagus-bagus. “Dulu buku impor yang bagus, sekarang buku lokal juga bagus. Kalau bikin perpustakaan juga jadi cakep. Itu merangsang anak suka membaca,” ujar Irene dengan nada bangga.

Sejak mengenal metode Glenn Doman, Irene punya keinginan besar, setiap keluarga punya perpustakaan keluarga.

“Kita belum bisa mengharapkan pemerintah punya perpustakaan yang bagus. Urusan mereka terlalu banyak. Jadi, siapa dong yang mengurus anak-anaknya kalau bukan orangtuanya sendiri. Nah, cara ini bisa dilakukan pelan-pelan. Misalnya setahun terkumpul segini, tahun depan terkumpul lagi, lama-lama jadi banyak dan jadi perpustakaan kecil,” kata Irene.

Irene bercerita, keinginannya yang besar untuk mensosialisasikan gemar membaca dan perpustakaan keluarga, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar kerja. Ia terisnpirasi kehidupan Sumanto, pria asal Bantul Yogyakarta yang bersepeda mendatangi 4 hingga 5 desa di setiap harinya, untuk membawa buku-buku yang siap di pinjam anak-anak.

“Waktu gempa, perpustakaannya rata dengan tanah. Bukunya ada 1300an jadi lusuh dan rusak. Saat itu saya masih bekerja di Tiga Raksa. Saya bilang kalau saya tidak bisa bantu dengan bangunan, tapi saya bisa bantu membuat perpustakaan. Syukurlah sekarang sudah berdiri. Bahkan Sumanto sudah punya 12 motor dan ada beberapa anak-anak karang taruna yang putar-putar dengan motornya meminjamkan buku ke anak-anak,” cerita Irene, bangga.

Meski engan disebut nominalnya, Irene mengaku rela menjual emas-emasnya untuk membuat perpustakaan di kampung-kampung.

Kalau segala sesuatu dimulai dari yang baik, pasti hasilnya akan baik. Kalau kenyataannya ribet di depan, saya toh sudah bisa lihat ujungnya,’ ujar Irene.

Sembuhkan Cidera Otak

Tak cukup sampai disana. Keinginan besar Irene lainnnya, adalah membantu anak-anak cidera otak yang saat ini jumlahnya terus bertambah.

“Sekarang, setelah waktu saya semakin banyak, saya larinya ke anak-anak yang cidera otak. Saya punya teman-teman yang siap membantu. Mau kaya mau miskin,‘ Irene.

Ia membantu perkumpulan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) yang dikelola Bapak Untung di daerah Magelang, juga masuk dalam KOACI (Komunitas Orang Tua Anak Cidera Otak Indonesia) yang berkantor pusat di Bandung.

‘Memang perjalanan tidak semulus harapan. Tahun 2005, ada bangunan di Magelang untuk pusat tumbuh kembang. Ada terapi laser, tapi mereka butuh metode stimulasi. Makanya, saya diajak membantu stimulasi. Saya mau tolong, tapi tidak mau setengah-setengah. Saya sudah punya rencana taruh fasilitas dan ribuan buku disana. Ternyata tahun 2007 saya mau isi dalamnya, tapi tidak dikasih. Sedih sekali. Dan sampai sekarang bangunan ini tidak dipakai sama sekali. Padahal, saya berhenti kerja juga karena tempat ini. Sedih jadinya,” ungkap Irene.

Irene mengibaratkan, kalaupun dia sudah bisa melihat ‘ujung’nya, saat ini sedag berada ditengah-tengahnya. Memang. ada yang hilang pasti ada yang dapat. Saya dapat KOACI di Bandung,” ujarnya, tersenyum.

Di KOACI, Irene punya komitmen. Tak sekedar membantu, ia ikut berjuang demi kesembuhan anak cidera otak, dan memotivasi para orangtua yang punya cidera otak agar tidak malu membawa anaknya tersebut keluar rumah.

“Hasilnya, sekarang banyak orang tua yang tidak malu membawa anaknya yang cidera otak keluar rumah. “Kita datang, anak tidak maju, kita yang bayar. Nah, tentunya kita tidak mau rugi. Makanya kita punya komitmen, anak yang kita stimulasi harus maju dan perkembangannya makin baik,” kata Irene.

Aien Hisyam

Advertisements

December 7, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Wanita | 6 Comments

Ummu Ghaida Muthmainnah.

Konsultasi 24 Jam

Suatu hari, telepon genggam Teh Ninih berdering.

“Teh,” suara di ujung telepon itu bergetar. Lama ia terdiam.

“Ada apa, Bu?”

“Teh, suami saya selingkuh!” Tak berapa lama, terdengar isak tangis disertai suara sesenggukan.

Teh Ninih mendesah pelan. Belum sempat berkata-kata, di ujung telepon ia sudah mendengar seluruh curahan hati si penelepon. Padahal, saat itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

“Teteh memang sudah terbiasa dicurhatin para Ibu. Jangankan yang malam-malam. Sehabis salat Subuh saja ada yang curhat, telepon ke Teteh. Yah, memang hanya itu yang bisa Teteh bantu,” kata Teh Ninih.

Enggan disebut konsultan perkawinan, istri ustaz Aa Gym ini lebih senang disebut sebagai teman berbagi.

Lebih Mendengarkan

Dua tahun terakhir, Teh Ninih membuka pintu hatinya lebar-lebar pada siapa saja yang ingin berkonsultasi dengannya. Ingin berbagi rasa, bercerita hingga berkeluh kesah. Bahkan ia tak segan-segan memberi nomor telepon genggamnya pada siapapun yang meminta.

“Mereka bebas bertanya, mengeluarkan uneg-uneg, sampai menangispun juga boleh,” kata wanita Sunda bernama lengkap Ummu Ghaida Muthmainnah.

Setiap hari, paling tidak satu penelepon diterimanya dengan senang hati.

“Ada yang curhat tentang suami, anak-anak, sampai pekerjaan. Macam-macam persoalannya. Mulai dari yang suaminya selingkuh, tidak menafkahi, sampai suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Itu yang paling sering Teteh dengar,” kata Ibu tujuh anak bersuara lembut ini.

Kalau sudah dicurhati, Teh Ninih lebih banyak mendengarkan.

“Biasanya, nasehat dan ungkapan simpati baru bisa didengar kalau sudah tenang. Jadi, awal-awalnya, Teteh sabar-sabarin mendengar apa yang ingin mereka sampaikan. Setelah plong, barulah Teteh masuk, memberikan solusi, pemecahan, dan nasehat yang kiranya bisa meringankan beban pikiran mereka,” kata Teh Ninih.

Ia tidak pernah merasa terganggu walaupun harus mengangkat telepon malam hari.

“Teteh sih tidak pernah melarang, kapan saja mereka mau menghubungi Teteh, silahkan. Tapi, kalau bisa jangan bertepatan dengan maghrib atau jam-jam beribadah. Anak-anak yang suka protes. Katanya Mama sudah seharian angkat telepon, kapan waktunya buat anak-anak,” ujar Teh Ninih sambil tertawa.

Menjadi Wanita Ideal

Sejak lama, Teh Ninih aktif berdakwah. Awalnya ia hanya mengikuti tausiah suaminya. Lama kelamaan, ia merasa perlu menjadi mubaligah. Satu cara agar dirinya bisa bertemu langsung dengan jamaahnya dan bisa lebih cepat mengetahui permalahan yang sedang dihadapi para wanita muslimah.

“Walaupun begitu, hidup Teteh tidak 90 persen di dakwah, karena Teteh harus tetap mengurus keluarga. Keluarga nomor satu. Prinsip Teteh, kalau kita semangat berdakwah, keluarga justru semakin intens. Karena apa yang dilihat di keluarga itu bagian dari dakwah,” ujar wanita kelahiran 28 Januari 1967.

Di setiap pengajian, putri kedua dari 5 bersaudara KH Muhammad Muhsin –pemilik Pondok Pesantren Kalang Sari, Ciamis- ini menggulirkan masalah-masalah wanita yang sangat sederhana, disertai solusi dan tips menjalani hidup.

“Misalnya seorang wanita yang ingin menunjukkan rasa aman dan nyaman bagi orang lain. Ia bisa melakukan beberapa ciri-ciri diantaranya, berpenampilan rapi dan serasi sesuai dengan hukum syar’I, berkata-kata lemah lembut, sopan, dan tidak menyakitkan, dari tubuhnya tidak tercium bau kurang sedap, dan lebih banyak mendengar dari pada berbicara,” kata Teh Ninih.

Juga memuliakan orang–orang yang bertamu ke rumahnya, memenuhi undangan orang lain dan menjenguk orang yang sakit, senantiasa ikhlas mendoakan orang lain, menunjukkan syukur dan kebahagiaan manakala oran lain mendapatkan nikmat, menunjukkan dukacita dan simpati manakala orang lain mendapatkan musibah, serta menghindari ghibah apalagi fitnah.

Aa Tetap Diminati

Banyaknya ustaz-ustaz baru tidak menyurutkan popularitas Aa Gym. Hal itu diakui Teteh karena setiap pengajian yang diisi Aa Gym, selalu ramai didatangi jamaah.

“Justru bagus kalau semakin banyak mubaligh. Persoalan hidup mudah dipecahkan. Semakin banyak pencerahan, negara semakin aman dan nyaman. Aa tidak pernah merasa ditinggalkan apalagi tersaingi. Jadual kegiatan Aa justru makin bertambah, jadi tidak ada yang berubah,” kata Teteh Ninih.

Saat ini, baik Teh Ninih maupun Aa Gym mulai meningkatkan kualitas berdakwahnya.

“Dari waktu yang terbatas harus tersampaikan banyak hal. Peningkatan kualitas dakwah. Dan itu akan lahir disaat Teteh dan Aa telah mengamalkan sekuat tenaga, baru bisa ada ruh dan semangatnya pada jamaahnya,” ujar Teh Ninih.

Dakwah, lanjut wanita berkacamata ini, akan sangat kuat, jika memang orang melihat kenyataan keluarganya sukses. “Saat Teteh berdakwah, sekarang, juga bagaimana membuat program-program yang lebih profesional untuk kemajuan anak-anak dan keluarga, maka anak-anak harus merasakan Mamanya, walaupun sekarang tambah kesibukan. Dua-duanya harus sukses.”

“Tetapi secara pribadi saya tidak merasa jadi contoh. Teteh berusaha sekuat tenaga dengan potensi yang ada, minimal ada yang bisa dijadikan teladan. Walaupun itu masih jauh dari apa yang dimiliki istri-istri Rasul dan para pejuang muslimah. Baru belajar sediit-sedikit. Tetapi dengan keyakinan itu ternyata orang menghargainya luar biasa. Itulah yang memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri,” lanjut Teh Ninih.

Kelihaian Teh Ninih birbicara di depan jemaah, tak lepas dari bimbingan Aa Gym. Suaminya ini disebut sebagai guru pribadi dalam segala hal.

“Teteh bisa menyampaikan ilmu berkat bimbingan suami. Aa sangat intensif dan bertahap membimbing Teteh. Mulai dari didampingi kemudian diberikan nasehat. Setiap tampil, Aa selalu menyimak apa yang masih kurang dan yang harus diperbaiki. Dan Aa merasa kesuksesan suami adalah disaat dia bisa mensukseskan istrinya. Itulah yang menarik,” ujar Teh Ninih penuh kebanggaan.

“Bahkan, Teteh kalau ceramah sendiri, Aa sembunyi-sembunyi mendengarkan Teteh, di balik pintu. Teteh tidak tahu kalau ada Aa. Dan itu sering terjadi. Justru ini menjadi pelajaran buat Teteh. Ketika selesai Aa memberitahukan kekurangan-kekurangan Teteh. Itu jarang sekali dilakukan pasangan yang untuk saling mengingatkan. Saling memantau. Dulu Teteh yang menyimak dan kasih masukkan. Sekarang bareng-bareng. Kita sudah komit bersama tanpa harus sakit hati,” kata Teh Ninih dengan mata bersinar.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Uncategorized | 10 Comments

Poetri Soehendro

It’s Therapy For You!

Mendongeng telah merubah sosok Poetri yang kosmopolitan menjadi wanita yang dicintai anak-anak.

Pertama kali mendongeng, badanku keringatan. Kalau bisa, muka jangan sampai kelihatan. Yang pasti, aku dredek sekali,” kata Poetri Soehendro mengenang pengalaman pertamanya mendongeng di depan anak-anak.

Lima tahun yang lalu, Poetri memulai karirnya sebagai pendongeng. Proses yang tidak mudah bagi wanita kosmopolitan yang hobi dugem (dunia gemerlap), merokok, dan belum memiliki anak ini.

“Setelah enam bulan aku selami dunia anak-anak, menjadi pendongeng, lama-lama hati ini berubah. Aku berubah menjadi Poetri yang lain. Poetri yang lebih care pda anak, yang ingin dekat dengan anak, dan ingin berbagi dengan mereka,” ujar Poetri terus terang.

Bertahan Tujuh Menit

Poetri yang lincah, banyak bicara, dan senang bercanda, sangat lihai memainkan kedua telapak tangannya yang terbungkus boneka-boneka berkarakter. Sesekali ia tertawa nyaring sambil menggerak-gerakkan boneka harimau. Menit berikutnya, mulutnya cemberut sambil terisak-isak menangis, memainkan telapak tangan yang lain.

“Setiap kali mendongeng, aku harus bisa membawakan empat tokoh berkarakter. Punya Suara yang berbeda, intonasi yang berbeda, juga mimik muka yang berbeda. Memang, butuh keahlian khusus. Tetapi untuk mempelajarinya, siapa saja bisa melakukan,” kata Poetri bersemangat.

Mendongeng, sangatlah mengasyikkan. Paling tidak, dunia imajinatif ini telah membuat Poetri melanjutkan kuliah S2 di Psikologi Universitas Indonesia jurusan Intervensi Sosial. Ia ingin mempelajari dan tahu lebih banyak tentang dunia kanak-kanak.

Agar berjalan lancar, Poetri memenej kegiatan mendongengnya dengan sangat rapi.

“Yang pertama kali, aku selalu brief dengan EO (Event Organizer)-nya untuk tahu visi misi acara. Setelah itu aku pilih cerita. Bisa cerita tentang binatang, dan apa saja, terserah aku. Setelah ketemu tema dan cerita, aku  ngomong dengan musisi. Aku punya pemain keyboard, Mas Tara, yang sudah temani aku selama 5 tahun. Kalau tidak bisa bawa keyboard karena harus keluar kota atau panggungnya kecil, aku bawa laptop. Yang membuat background music Elena Zahna,” ujar lulusan IKIP Jakarta jurusan Bahasa Inggris.

Selanjutnya Poetri menulis script atau cerita yang akan ia dongengkan.

“Biasanya aku mendongeng setengah jam. Ada juga yang sampai satu jam. Nah, kalau lebih dari sepuluh menit, aku selalu membuat games ditengah-tengah acara mendongeng,” kata Poetri.

Poetri tidak pernah terus menerus mendongeng lebih dari tujuh menit. “Karena batas kesabaran seseorang termasuk anak mendengakan orang hanya 7 menit. Seperti kita mendengarkan radio. Menit pertama pasti dengerin, menit kedua, mulai mikir seru nggak sih omongannya. Menit ketiga, mulai tanya penting nggak sih ini orang. Menit keempat, pintar nggak sih nih orang ngomongna. Menit kelima, wah ngerasa nggak asyik. Pasti ganti ganti gelombang,” kata Poetri.

Menghindari kebosanan, Poetri menyelipkan sejumlah aktifitas yang disukai anak-anak. Bisa mendengar lagu anak-anak, permainan, hingga menyanyi disertai olah tubuh.

“Pemetakan acara aku yang bikin. Mereka tinggal aku kasih script supaya tahu dan tahu apa yang akan aku lakukan,” kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Juli 1964.

Keajaiban Dongeng

Suatu hari, Poetri bertanya pada wanita peramal.

“Bu, ramalin dong, gue dong. Kira-kira, mendongeng cocok nggak buat saya,” kata Poetri penuh ingin tahu.

Peramal tarot itu berujar, “Poetri, mendongeng, its therapy for you. Agar kamu bisa lebih menikmati hidup.”

Antara percaya dan tidak, Poetri berusaha menyelami kata-kata wanita itu. Ia hampir tidak percaya melihat lingkungan sekitarnya yang sangat skeptis dengan pekerjaan barunya itu.

“Tapi ketika bekerja saya sangat enjoy. Saya merasa this is me. Saya sekarang sudah menemukan apa yang selalu saya cari,” kata putri tunggal pasangan RH Soehendro dan Maria C. Robot..

Adalah proses panjang bagi Poetri menjadi story teller. Ia mengaku tidak pernah memahami dunia anak. Ia adalah wanita metropolis yang senang menghabiskan waktu di club-club, café, dan tempat-tempat hang out lainnya. Memilih dunia advertising, production house, dan editing house sebagai pekerjaan yang diseriusi.

Belasan tahun Poetri habiskan waktunya bergaul dalam dunia malam dan bau asap rokok. Dan terus berlanjut ketika Poetri menjadi penyiar radio di Female Radio dan di I Radio.

Sampai suatu hari, awal tahun 2001, ia mendapat tugas baru dari produser Female Radio membawakan acara mendongeng untuk anak. Terpaksa tapi juga tantangan, Poetri menyanggupi.

Poetri juga di’paksa’ tampil off air di TC Gallery di acara Kemang Festival. “Yang nonton 80 anak. Mereka bayar 10 ribu. Dalam sehari aku tampil di dua show mendongeng. Terus terang, itulah penampilan pertamaku. Aku dredek sekali, kringat dingin dan berusaha mukaku tidak terlihat jelas. Tetapi, justru yang membuat aku kaget, setelah selesai anak –anak datang cium tagnan bilang terima kasih,” kenang Poetri. Saat itu bercerita tentang plotot kecil yang terbuang, cerita sederhana karangan Enid Blyton.

Setelah 6 bulan mendongeng barulah hati Poetri terpanggil.

“Dari yang terpaksa menjadi mencintai. Waktu itu aku sendiri nyaris tidak percaya,” ujar Poetri dengan suara takjub.

Poetri mengaku, kecintaan itu muncul ketika ia diundang Kota Wisata saat peluncuran kota baru ‘Zona America’. “Karena enjoynya, waktu itu aku pakai baju koboy, jaket koboy, bots, dan celana jenas. Yang janji hanya setengah jam mendongeng, aku bisa empat puluh lima menit. Aku benar-benar mulai mencintai dunia baruku. Ini benar-benar proses yang aku sendiri masih tidak percaya bisa terjadi dalam hidupku,” kata Poetri bangga.

Dongeng Para Ibu

Satu keinginan Poetri, “aku ingin setiap Ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Percaya deh, kalau anak-anak yang setiap hari mendengar dongeng ibunya, tidak akan ada kejadian dan perlakukan negatif pada anak,” kata Poetri.

“Seperti kata Kak Seto, betapapun pintarnya Kak Seto, Kak Putri, Pak Raden, Kak Agus, dan pendongeng-pendongeng lainnya, pendongeng yang terbaik tetap Ayah dan Ibunya. Segoblok-gobloknya Ibu, dia tetap pendongeng yang terbaik. Coba kita tanya, apakah kita masih ingat bau keteknya Ibu kita, bau sabunnya, sampai sekarang kita pasti masih ingat. Kita kenang sampai kapanpun. Begitupun dengan dongeng. Apapun dongeng dan nasehatnya di akhir dongengnya. Pasti akan terekam dalam otak menjadi kenangan yang sangat indah. Mendongeng tidak sesakit melahirkan. Hanya butuh waktu lima menit, dan contekannya banyak,” kata Poetri.

Manfaat dongeng lanjut Poetri sangat banyak.

“Yang pasti di dalam dongeng pasti ada daya khayal, moral, cerita budi pekerti, tata krama, sopan santun, dan hal-hal positif,” kata Poetri.

Anak yang mendengarkan dongeng akan dirangsang semua inderanya, seperti kuping, mata, hidung, mata dan perasa.

“Jadikanlah anak-anak kita yang utuh. Otak yang utuh. Karena anak Indonesia sekarang masuk five minute generation. Nonton film setelah lima menit bosan, ganti channel. Mengerjakan dua tiga pekerjaan dalam bersamaan seperti mengerjakan PR sekligus nonton televisi dan pencet-pencet kirim sms. Itu bukan salah mereka. Itu tuntutan jaman. Nah, dengan mendongeng, begitu mereka mendengarkan selama lima menit anak dilatih fokus dan dipaksa mendengar. Kalek anak akan menjadi pendengar yang baik,” kata Poetri.

Ada kesedihan Poetri saat ini. “Jumlah pendongeng Indonesia sangat minim. Tercatat hanya ada Kak WeEs, Kak Kusumo. Kak Seto, Pak Raden, Andi Yudha, Hughes tidak terlalu aktif, Kak Agus DS, Kak Heri, Kak Heru, dan saya. Ada sepuluh pendongeng di Indonesia. Mereka semua ada di Jawa. Sedih sekali kalau kita ngomong Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera,” ujar Poetri.

Hingga muncul satu ide dari benak Poteri membuat workshop bagi para guru TK untuk belajar dongeng dengannya. “Tidak perlu bayar. Gratis dan saya jamin pasti bisa mendongeng,” kata Poetri bersemangat.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Noni Sri Ayati

Dulu Dipanggil Om-Tante

Di usia yang baru 37 tahun Noni mengepalai 20 ribu lebih karyawan yang 95 persen adalah pria.

Tentu saja tidak mudah baginya memimpin orang-orang yang dahulu ia panggil Om dan Tante ini. Usia diantara mereka terpaut jauh. Bahkan, tingkat pemahaman yang telah dibedakan oleh zaman, membuat Noni berhadapan dengan sejumlah  pekerjaan ‘rumah’ yang butuh kesabaran tinggi.

“Kuncinya adalah respek,” ujar Noni Sri Ayati Purnomo, B. Eng., MBA, sambil tersenyum.

Karet Gelang Dalam Minyak

Tahun 1997 Noni resmi bekerja full time di Blue Bird Grup. Ia dipercaya memegang satu departemen baru, Business Development, sebagai Vice President.

“Awalnya kita tidak punya departemen yang khusus menghandle perusahaan secara keseluruhan. Baik dari marketing strategy maupun corporate image-nya. Masing-masing jalan sendiri. Blue Bird berkembang seperti karet gelang dalam minyak tanah. Tiba-tiba besar sendiri,” ujar lulusan Universitas San Fransisco, USA bergelar Master of Business Administration, major in Finance and Marketing.

Gebrakan pertama, Noni membuat divisi humas.

“Kenapa baru sekarang dibuatnya? Karena dulu dianggap belum terlalu dibutuhkan. Sementara sekarang konsumen sudah mulai kritis dan perusahaan berkembang dengan cepat. Salah sedikit jadi sorotan. Jadi kita perlu humas,” ujar Noni yang sempat bekerja Jakarta Convention Bureau sebagai Market Research Officer untuk belajar ilmu marketing.

Humas atau hubungan masyarakat ini menjembatani masalah-masalah eksternal dan internal. “Bayangkan, disini ada 20 ribu orang lebih. Bagaimana kita mengkomunikasikan policy kita ke mereka kalau tidak ada humas?” lanjut ibu dua anak, Amanda dan Sasha.

Ia juga tidak peduli harus berhadapan dengan pemilik perusahaan yang juga orang tuanya, dr. H.Purnomo Prawiro dan Hj.Endang Basuki.

“Kita sering adu ngotot. Ayah juga sering protes dengan ide-ide baruku. Bagaimanapun orang baru lulus pasti punya idealisme sendiri. Kita punya ide banyak sekali tetapi saya sadar ada yang bisa diterapkan ada yang tidak. Akhirnya Ayah saya hanya bilang, ‘ya sudah coba saja. Nanti kamu akan belajar sendiri,” kata lulusan Universitas Newcastle, Australia bergelar Bachelor of Engineering bangga.

Noni sadar, selama ia kreatif, inovatif, dan berada dalam koridor yang benar termasuk tidak meminta bujet yang tidak terlalu besar serta tidak menyalahi norma-norma, Perusahaan tidak akan keberatan.

Gebrakan pertama yang dibuat Noni adalah membuat tiga proyek besar. Pertama menyangkut coorporate image, meliputi logo, iklan, marketing strategi dan humas. Kedua menyangkut TPM, berkait proses pengerjaan standart operating procedur (SOP), yang juga melakukan bisnis engineering dan memikirkan proses operasional sehari-hari. Dan proyek ketiga menyangkut IT (Teknologi Informasi) menggunakan project-project SAP.

“Sebagai Project Director, saya melakukan project besar di bidang infrastruktur dari segi IT-nya. Kita menerapkan sistem ARP untuk back office. Semuanya terhubung dengan teknologi, supaya kita bisa dapatkan data-data akurat. Jadi mulai dari administrasinya, bengkelnya, finance-nya, semua pakai SAP, terhubung ke pusat,” ujar Noni yang mengaku bangga dipuji Ayahnya membawa angin segar di Blue Bird yang telah berusia 35 tahun.

Bertugas Melayani

Noni sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Blue Bird Group. Ia sadar harus selalu siap dengan ide-ide kreatif dan hal-hal baru. “Maka dibutuhkan tim yang solid,” katanya.

Lantas, bagaimana ia menyikapi perbedaan mendasar di lingkungan pekerjaannya. Salah satunya dari faktor usia, mengingat banyak karyawan yang berusia jauh di atas usianya.

“Saya kenal mereka sejak masih kecil. Dulu mereka saya panggil om-tante. Jadi, menurut saya kuncinya adalah respek. Kalau kita merespek mereka, pasti mereka akan respek dengan kita. Kita tidak bisa mengharapkan mereka menerima kita dengan begitu saja . Pastilah ada ‘perasaan’ itu,” ujar Noni bijak

Walaupun kadang-kadang Noni masih mendengar guyonan, ‘Dulu kamu kan saya pangku-pangku.’ ‘Dulu kamu kan suka ngedot.’ ‘Dulu kamu kan tidak pakai baju’. “Dan itu diutarakan di depan orang-orang. Saya tidak marah. Saya pikir, itu berarti mereka merasa dekat. Yah sudahlah, kita anggap becanda saja,” kata Noni sambil tersenyum.

Walaupun di luar pekerjaan Noni masih memanggil dengan sebutan om dan tante, saat bekerja, rapat misalnya, ia tetap memanggilnya Bapak dan Ibu.

“Kalau mereka berbuat salah, ya sebisa mungkin saya tegur. Diatasi dengan cara bicaranya saja. Bagaimanapun juga orang yang lebih tua merasa, “saya kan berharga disini. Saya punya pengalaman lebih dari kamu. Kamu anak kecil mau tau apa sih.” Kalau kita sudah tahu pemikiran mereka, kita harus tahu bagaimana cara ngomongnya. Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya rasakan. Pasti kan nggak enak. Bagaimanapun juga ‘perasaan’ itu ada,” ujar Noni. Saat ini ia juga menjabat sebagai Director Sales & Marketing Golden Bird Bali & Bali Taksi, Director Pusaka Group, dan Koordinator Blue Bird Peduli

“Pak Pur (Ayahnya) selalu bilang, atasan itu harus jadi pelayan, bukan atasan harus dilayani. Kalau anak buahnya menemui kesulitan, ia harus dilayani oleh atasannya. Jadi kalau ada kesalahan-kesalahan anak buah, itu kesalahan atasannya. Kalau atasannya tidak bisa membantu bawahannya, jangan jadi atasan,” ujar istri Klaas Redmer Schukken sambil tersenyum.

Beasiswa 400 Juta

Puas sekali hati Noni. Satu kerja kerasnya kini berbuah manis.

“Program Blue Bird Peduli berkembang pesat. Saya koordinatornya,” jelas Wanita yang aktif sebagai Ketua Bidang Humas, Pengurus Pusat, Masyarakat Transportasi Indonesia.

BBP memberi beasiswa untuk seluruh anak-anak karyawan Blue Bird Group yang  tengah melanjutkan SMU, D1, D3 dan S1. Juga sunatan masal dan bantuan khusus anak-anak cacat, mulai dari kesejahteraan, penyuluhan dan pendidikan. Diluar itu BBP membantu sekolah-sekolah miskin bekerja sama dengan Yayasan Kurnia.

“Yang terpenting, seluruh karyawan Blue Bird, anak-anaknya bisa sekolah sampai tinggi. Mimpi dan cita-cita para orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa berpendidikan lebih dari mereka. Tidak harus berprestasi. Khusus yang berprestasi akan kita beri bonus,” ujar Noni.

Tahun ini tercatat 3000 lebih anak yang diberi beasiswa BBP. Total biaya yang dikeluarkan setiap enam bulan adalah lebih dari 400 juta rupiah. “Anak-anak selalu menjadi prioritas. Apa lagi yang bisa kita berikan kalau tidak membahayakan anak-anak kita?” ujar wanita kelahiran Jakarta 20 Juni 1969.

Aien Riyadi

December 7, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 5 Comments

Sri Murwati Habir

Bila Kepompong Itu Seindah Kupu-Kupu

Diberi nama kepompong karena ia masih sangat kecil. Dilindungi tapi juga diberi nafas agar bisa tumbuh sesuai harapan.

Sri Murwati Habir langsung tersenyum ketika dipuji. Ditanya tentang kiat-kiatnya membesarkan Kepompong, wanita murah senyum ini langsung menunjuk ke arah luar.

“Yang sukses tidak hanya saya, tetapi juga tim saya,” kata Murwati yang selalu disapa Tante Wati.

Bekerja di dunia anak-anak membuat Wati selalu bahagia. Tidak pernah stres, apalagi bersedih.

“Bawaannya senang melulu. Tiap hari, aku pasti tertawa. Itu sudah jadi obat awet muda buat kita yang kerja disini,” kata Wati sambil tersenyum.

Seindah Kupu-Kupu

Sudah 18 tahun Kepompong berdiri. Dan ketika resmi berdiri tahun 1988, Wati hany punya satu harapan, “semoga Kepompong bisa menjadi tempat pendidikan untuk anak-anak usia dini yang berkualitas,” ujar Wati saat itu.

Harapan Lulusan BSc Business Administration jurusan Akuntansi di University of the State of New York, dan Master Of Education jurusan Kurikulum & Pengajaran bidang  Pendidikan Anak Dini Usia di Lesley University, Cambridge, MA, itu kini menjadi kenyataan.

“Alhamdulillah, sekarang Kepompong jadi salah satu pilihan utama para Ibu yang ingin menyekolahkan anak-anaknya yang baru berusia 2 hingga 3 tahun,” ujar Wati sambil tersenyum senang.

Sejak pertama kali didirikan bulan Juli tahun 1988, program pendidikan Kepompong ditujukan untuk anak-anak di bawah usia 4 tahun. Menjadi alternatif ‘pendidikan tambahan’ di luar rumah, khususnya untuk para orang tua yang  keduanya bekerja.

“Nah, kalau untuk para ibu yang tidak bekerja, program pendidikan Kepompong akan memberikan pengalaman bersekolah bagi anaknya,” ujar Wati.

Saat itu Wati melihat bahwa program pendidikan kelompok usia di bawah 4 tahun sangat terbatas. Hampir semua TK, tidak memiliki program untuk anak usia dibawah 4 tahun. Kalaupun ada, materi dan kegiatannya sangat berbeda.

Pendidikan di Kepompong, jelas Wati, dibuat sangat ringan, disesuaikan dengan usia anak-anak yang baru 2 hingga 4 tahun. Juga disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak dan jadual yang sangat fleksibel agar anak masih bisa bermain sepuas-puasnya.

“Konsep itu memang banyak digunakan Kelompok Bermain pada umumnya. Yang membedakan, Kepompong justru dibuat dengan dasar pemikiran yang sederhana. Berharap kelak anak-anak tumbuh dan berkembang bersama menjadi anak yang mandiri, percaya diri, kreatif dan berkembang secara optimal sesuai  potensinya, seindah kupu-kupu,” kata Wati.

Satu Kelas Berbeda

Awalnya, Kepompong hanyalah tempat bermain anak yang dilakukan di teras sebuah rumah di Jalan Bangka Raya No. 99C. Yang hanya punya satu kelas murid Indonesia dan satu kelas murid asing.

Lima tahun kemudian, tahun 1993, Kepompong mulai menambah satu kelas Indonesia dan pindah ke rumah No. 99A yang lebih luas. Setiap tahun, jumlah murid yang mendaftar kian banyak. Merasa sudah bisa menampung lagi, tahun 1995 Kepompong pindah lagi ke rumah No. 99B dan menambah satu ruang lagi untuk kelas Indonesia.

Kini, jumlah murid sudah mencapai 200 anak. Mereka terbagi atas 2 kelas usia 3 tahun yang diberi nama kelas Capung dan kelas Belalang. 1 kelas usia 4 tahun (TK A) atau disebut kelas Kupu-kupu, dan 2 kelas usia 5 tahun (TK B) disebut kelas Lebah Madu dan Lebah Hutan .

“Sejak awal kita sudah punya visi menciptakan lingkungan yang kondusif dengan begitu dapat mengembangkan potensi anak secara optimal,” kata Wati.

Karena itulah Wati kemudian membuat program pendidikan usia 3 tahun yang sangat fleksibel. Setiap minggu, anak cukup masuk sekolah 3 kali atau 2 kali saja. Kegiatan hanya dilakukan 3 jam setiap hari. Setiap bulan dibuat tema yang selalu berbeda dengan bulan-bulan lain. Tema dipilih sesuai minat anak. Misalnya tema jalan-jalan di kota, tamasya ke kebun binatang, pergi ke pasar, dan sebagainya.

“Yang terpenting, setiap hari anak harus bisa melakukan kegiatan bermain bebas di luar ruangan. Di Kepompong, halaman bermain termasuk prioritas. Khusus kegiatan di semester 1 disebut Opening Circle, barulah semester 2 diisi kegiatan khusus,” ujar Wati.

Opening circleadalah kegiatan dalam kelompok kecil untuk membicarakan kegiatan yang akan dilakukan anak sepanjang hari atau membahas tugas yang dibawa anak dari rumah, serta hal-hal yang berhubungan dengan ‘membantu diri sendiri’. Sementara Kegiatan Khusus adalah  menggantikan opening circle berupa kegiatan yang dilakukan secara bergantian setiap minggunya  seperti  ilmu pengetahuan sederhana dan latihan pengembangan motorik kasar.

Termasuk dalam kegiatan harian adalah menyanyi bersama, makan bersama, bercerita, kegiatan kelompok sesuai tema, kegiatan di meja, dan bermain bebas di dalam ruangan.

“Yang membuat kami beda dengan yang lain, disini anak tidak hanya sekedar bernyanyi. Tetapi anak-anak bernyanyi diiringi piano atau gitar sehingga anak mendapatkan pengalaman musik dasar yang benar. Anak juga mengenal fingerplay, ritme, irama dan melodi,” kata Wati bangga.

10 Keunggulan Yang Lain

Wati tidak gentar harus bersaing dengan sekolah-sekolah sejenis yang kini mulai menjamur. Sebagai ‘pemain’ lama, Wati yakin bahwa Kepompong tetap akan menjadi tempat pendidikan khusus anak-anak dini usia yang berbeda, dicari, juga dibutuhkan para Ibu.

“Kita punya 10 kiat khusus. Pertama adalah interaksi yang sangat baik antara pengajar dan anak. Salah satunya interaksi yang memberikan suasana rileks, spontan dan bersemangat,” kata Wati.

Yang kedua, lanjutnya, dalam hal kurikulum yang dirancang khusus. Ketiga yaitu komunikasi dengan orang tua yang dilakukan setiap saat.

“Satu bulan pertama, anak harus di antar dan ditunggui Ibu atau Bapaknya. Itu harus. Setelah itu, sia anak bisa ditinggal sendiri agar lebih mandiri,” kata Wati.

Kiat keempat adalah program rekrutmen dan kualitas guru. “Maksudnya, untuk menjadi pengajar di Kepompong, proses rekrumennya dilakukan cukup ketat, harus sesuai dengan kriteria Keopmpong,” ujar Wati.

Barulah enam kiat lainnya berhubungan sengan struktur organisasi, administrasi program, lingkungan fisik, kesehatan dan keamanan, gizi dan pemberian makan, serta evaluasi.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment