Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Inti Nusantari Subagio

Adicction Bukan Aib

 

 

Selasa dua pekan lalu ketika dihubungi, dia sedang berada di Singapura. Rabu pekan lalu, ketika akhirnya ia ada di Indonesia, wanita ini Inti tidak bisa berlama-lama menerima telepon.

“Maaf saya sedang ketemuan dengan Pak Ical (Aburizal Bakrie). Siangan, telepon lagi saja ya?” pintanya.

Siang hari, “Aduh, maaf. Saya sedang di rumahnya Pak Ginanjar (Ginanjar Kartasasmita). Gimana kalau telepon sorean?” kembali Inti meminta waktu.

Di sore hari, suara Inti terdengar lebih santai. “Hari ini memang sangat padat. Tapi, oke lah, kita ketemuan Senin siang. Kebetulan saya free di hari itu,” ujar Inti penuh semangat.

Senin pekan lalu ketika akhirnya kami bertemu, Inti seperti tak terbendung. Ceritanya mengalir kemana-mana, ke berbagai hal, dari barang antik, urusan bisnis, pergaulannya sesama sosialite hingga kegiatannya di sosial. Gambaran kesibukan dirinya yang luar biasa.

‘Ibu’ Para Pecandu

Inti memang selalu penuh kejutan. Suatu hari, ia pernah dijumpai di acara sosialite. Ketika bertemu lagi, ia ada di pasar tradisional Rawa Bening di Jatinegara sedang memilih-milih batu permata. Ia juga sering terlihat di acara WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), di kegiatan Yayasan Asma Indonesia, hingga yang berurusan dengan Narkoba.

“Berurusan dengan pecandu, itu makanan sehari-hari saya,” kata wanita berparas ayu ini sambil tersenyum.

Ia bercerita, pernah suatu malam dirinya ditelepon dari kantor polisi. “Katanya ada anakku yang terjaring bawa Narkoba. Kok bisa?, padahal, anak-anakku tidak ada satupun yang terkena Narkoba,” ujar Inti.

Bingung tapi ingin tahu. Walaupun sempat dilarang suami ke kantor polisi, Inti akhirnya pergi juga ditemani anak tertuanya.

“Ternyata, pelakunya anak didik saya di pusat rehabilitasi. Nangis-nangis dia minta dikeluarin. Yah sudahlah, mau gimana lagi, awalnya polisi minta tebusan ratusan juta, setelah diskusi, mereka mau terima 5 juta sebagai uang jaminan,” ujar Inti sambil geleng-geleng kepala.

Puluhan cerita memang menjadi warna-warni kehidupan ibu tiga anak ini.

“Itulah resikonya. Sejak saya putuskan terjun ke dunia rehabilitasi narkoba, berarti saya harus siap dengan segala hal yang akan terjadi,” kata Inti.

Diakui Inti, awalnya ia sama sekali tidak menahu tentang narkoba.

Tahun 1998 temannya berkeluk kesah tidak adanya tempat rehabilitasi yang bisa menampung para pecandu yang pulang dari rehabilitasi di Malaysia.

“Dia tanya, ‘In punya rumah kosong nggak. Ada rehabilitasi di Malaysia butuh tempat di Indonesia. Sistemnya, sebelum pulang ke rumah harus ada masa transisi dulu.’ Saya pikir, walaupun waktu itu saya tidak tahu apa-apa, yah sudah nggak apa-apa,” ujar Inti.

80 Persen Anak Indonesia

Saat ini Inti yang menjabat Staf Ahli Badan Narkotika Nasional.

“Life is mistery. We never know, kemana kita ini akan berlabuh. Saya juga tidak tahu alasan apa saya mendirikan FAN CAMPUS. Tetapi itu tidak penting, ang terjadi adalah, kita harus menjawab tantangan yang ada di masyarakat. There is a problem. Kita harus atasi,” katanya.

FAN CAMPUS atau For All Nation berdiri akhir 1998.

“Awalnya saya sediakan rumah singgah bagi anak-anak yang baru menyelesaikan rehabilitasi di Yayasan Pengasih di Kuala Lumpur Malaysia. Bayangkan 80 persen penghuninya anak-anak Indonesia. Sementara disini orang masih malu-malu mengakui anaknya terkena Narkoba. Padahal, banyak dari mereka adalah anak-anak petinggi atau dari kalangan atas. Mereka mau ngumpetin tapi tempatnya belum ada. Waktu itu drug belum menyentuh kalangan bawah,” cerita wanita yang juga komisaris di tiga perusahaan besar..

Lambat laun, kepedulian Inti akan masalah Narkoba kian bertambah.

“Saya perluas lagi FAN CAMPUS. Tidak hanya sekedar menjadi tempat singgah, tetapi juga menjadi pusat rehabilitasi,” ujarnya. Tidak tanggung-tanggung, ia memakai tanahnya di daerah Cisarua seluas 5 hektar menjadi tempat rehabilitasi.            

“Saya yakin, bahwa tidak sekedar pepatah. Nasib kita dan hidup kita merupakan cerminan dari pola pikir kita. Saya yakin pasti bisa, pastilah bisa. Dan saya tidak terlalu terbebani. Dari pada tidak berbuat sesuatu,” ujarnya tentang keputusan terjun membuka pusat rehabilitasi di dua tempat, termasuk di kawasan Lebak Bulus.

Metode Therapeutic Community

“Ini bukan kerja negatif. Saya justru aktif menyuarakan Adicction adalah bukan aib. Yang aib adalah perilaku yang menyertai ketergantungan ini. Misalnya demi memenuhi ketergantungan ini mereka harus menjual diri, mencuri. Adicction adalah sesuatu penyakit yang sangat mengerikan saya kategorikan sebagai penyakit sangat komplek,” kata wanita kelahiran 30 September 1949.

FAN Campus menerapkan metode Therapeutic Community (TC). TC dikembangkan oleh organisasi sosial yang dikenal dengan sebutan DAY TOP, berkantor pusat di kota New York, Amerika Serikat. Metode ini sangat dikenal di seluruh dunia karena tingkat keberhasilannya yang tinggi.

Setiap hari, para penghuni rehabilitasi mempraktekkan hidup sehat dan harmonis dalam suatu komunitas yang sangat terjaga rasa persaudaraan.

“Metode ini juga menekankan pentingnya pelatihan kedisiplinan dan kepatuhan dengan pemahaman. Kita berharap, mereka bisa keluar dengan kondisi benar-benar bebas narkoba,” kata Inti yang aktif dua kali seminggu menengok anak-anak didiknya.

Sebagai aktifis masalah-masalah Narkoba, Inti melihat masalah adiccting bukan sebagai persoalan fisik semata. “Melainkan sudah lebih sebagai masalah interaksi antara biologis, psikologis, emosi, spiritual dan sosial,” lanjutnya.

Oleh karena itu, setiap pecandu yang ingin terbebas dari ketergantungan, harus melalui dua tahapan rehabilitasi

“Yang pertama disebut masa entry and induction phase. Masa ini dijalani selama 3 hingga 4 minggu. Yaitu masa obeservasi dan penilaian terhadap perilaku. Memulai perubahan awal,” terang Inti.

Selanjutnya, pecandu memasuki masa Primary Phase, yang dijalani selama 6 sampai 9 bulan yang bertujuan penstabilan dan peningkatan perubahan serta pembentukan perilaku. Barulah pecandu melewati Re-entry Phase selama 6 bulan. Tujuannya untuk penanaman kembali norma-norma dasar dan perkembangan pribadi dan Persiapan untuk kembali ke dunia luar. Masa-masa ini dilalui di asrama.

Lepas dari asrama, barulah mereka menjalani proses Aftercare Phase yang dilalui selama 12 bulan setelah kelulusan dari program-program tersebut.

“Anak didik sudah bisa tinggal dengan orang tua dan keluarga. Kita hanya memonitor proses pemulihan, mempertahankan norma dasar yang telah dipelajari, mendukung gaya hidup bersih/sober dan pencegahan kekambuhan,” kata wanita yang juga penasehat Kowani ini..

Pernah suatu Inti membuat penelitian tentang penyalahgunaan Narkoba.

“Dari 100 residen (penghuni rehabilitasi), lebih dari 74 persen mereka kenal Narkoba saat masih di SMP dan SMA. Parah-parahnya awal mahasiswa. Jadi sebagian besar residen kita anak-anak muda yang awal-awal mahasiswa. Karena itulah, penting sekali kita menyelamatkan anak-anak kita. Jangan lengah sedikit pun. Saran saya, ciptakan hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, saling mencintai, dan perhatian. Perlu sekali adanya keterbukaan,” tegas Inti.

Aien Hisyam

December 1, 2009 - Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: