Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Asfinawati

Buku Saku Khusus Perceraian

 

           

Tidak pernah ada kata kebetulan. Kalaupun Asfi harus memimpin LBH Jakarta di usia yang masih muda, itu disebut ketepatan.

“Saya percaya dengan momen-momen. Ada hal yang kadang kita pikir kebetulan, padahal itu bukan kebetulan. Ini soal ruang dan waktu yang tepat. Artinya kalau waktunya tepat tapi tempatnya tidak tepat maka tidak akan jadi,” kata Asfinawati, Direktur LBH Jakarta yang baru di lantik Agustus 2006 lalu.

Di usianya yang baru 29 tahun, ia dipercaya memegang kendali Lembaga Bantuan Hukum Jakarta hingga 3 tahun ke depan. Mengulang kisah ketika Nursyahbani Katjasungkana menjadi direktur perempuan LBH Jakarta era 80-an.

 

Sulit Masuknya

Mendapati kantor LBH Jakarta tidaklah sulit. Bangunan ini saling ‘bertempelan’ dengan kantor LBH Indonesia. Di salah satu ruangan di bagian belakang gedung, Asfin, sapa wanita penyuka kemeja batik ini berkantor. Tumpukan berkas –sebagian besar dipilah-pilah dalam map berwarna- dibiarkan menumpuk di atas meja.

“Beginilah kantorku. Kita ngobrol di sofa saja,” ia menunjuk tiga kursi tamu yang dibungkus vinyl hitam. Terlihat usang, tapi masih kokoh.

Asfin senang sekali berbicara hukum. Sebelum ditanya, ia sudah bercerita tentang peliknya masalah hukum di Indonesia. Tentang rumitnya pekerjaan pengacara. Juga tentang ‘pekerjaan rumah’nya yang sangat banyak.

“Menurut saya, ini (bekerja di LBH) adalah pekerjaan yang tidak populer, khususnya di kampus saya. Karena hampir sebagian besar anak UI masuknya sebagai coorporate lawyer. Gajinya sangat besar, dan mereka juga malas ke pengadilan,” kata alumnus Fakultas Hukum UI ini.

Asfin mencontohkan, dari 240 lebih lulusan Hukum UI tahun 2002, hanya 3 orang saja yang bekerja di LBH.

“Dan lagi, masuk LBH itu agak sulit. Ya itu tadi, tergantung ruang dan waktunya yang tepat,” kata wanita kelahiran Bitung (Sulawesi Utara) tanggal 26 November 1976.

Setiap peserta harus mengikuti pelatihan Karlabahu (Karya Latihan dan Bantuan Hukum). Dari 120 orang hanya 50 orang yang bisa ikut. Setelah lolos, mereka jadi relawan atau volunteer. Itupun masih melalui tes seleksi lagi.

“Dari puluhan orang, yang diambil, tahun ini cuma 10. Jaman saya 15 orang. Setelah jadi relawan setahun dia baru berhak jadi pengacara publik. Dari puluhan orang, yang dipilih kadang cuma 3 orang saja,” kata Asfin, bangga.

 

Baca Artikel Hukum

Kelihaian Asfin berbicara hukum dimulai sejak ia masih belia. Saat SD, ia sudah menggemari majalah yang ada rubrik hukumnya.

“Ibu memang sekolah hukum, tapi dia tidak pernah mengarahkan anak-anaknya untuk jadi sarjana hukum. Apalagi background keluarga lebih ke arah ilmu-ilmu sosial daripada eksak,” cerita Asfin yang tahun lalu menjadi pengacara Lia ‘Eden’ Aminuddin..

Ia juga melihat, pengacara satu pekerjaan yang sangat heroik.

“Akhirnya, saya sendiri yang pilih masuk ke Fakultas Hukum. Tidak ada yang memaksa atau mempengaruhi,” tegas Asfin.

Asfin bahkan tidak suka ingin setengah-setengah. Saat magang ia memilih menjadi relawan di LBH. Saat itu LBH Jakarta dipimpin Opung Herlina.    

“Lepas magang, saya sempat bimbang mengambil keputusan. Berkarir di LBH atau di tempat lain. Mikirnya sampai beberapa bulan. Karena kalau masuk LBH berarti harus total. Sementara di LBH kasusnya aneh-aneh sekali, memusingkan kepala. Jadi kalau saya sudah memutuskan, resikonya memang berat. Harus siap dengan pusing, karena kita akan terlibat dengan masalah-masalah orang,” ujar Asfin yang akhirnya resmi masuk LBH Jakarta tahun 2000.

Asfin memulai karirnya di Divisi Perburuhan. Bidang yang awalnya tidak ia sukai karena tidak bergengsi. Selain itu, di LBH ada pula Divisi Perkotaan Masyarakat Urban, Perempuan Anak, dan Civil Politik.

“Tetapi setelah melihat kasusnya, ini dimensinya luas sekali. Artinya pelanggaran hukumnya luar biasa, yang dilanggar juga dalam jumlah kualitas yang besar, dan kuantitasnya banyak buruh yang dilanggar. Terus, kalau kita mau, ada tantangan entelektualitas untuk tangani kasus-kasus perburuhan. Kita harus tahu teknis hukumnya, juga tentang ekonomi politik,” kata Asfin.

Dalam satu waktu, Asfin bisa menangangi 30 kasus secara bersamaan. Butuh kelihaian, kecermatan dalam berpikir juga kesabaran yang tinggi. Apalagi ia hanya dibantu 2 rekan kerja dan 4 relawan.

Dua tahun kemudian Asfin menjadi Koordinator Studi. Melakukan riset, pengumpulan data, penelitian dan pengembangan. Melihat kecenderungan kasus-kasus LBH, membuat berkas laporan tahunan LBH, menerbitkan buku saku, newsletter, dan sebagainya

“Karena waktu itu  saya pikir, pekerjaan penting tidak harus di garda depan, seperti pengacara yang selalu tampil. Kerja di depan itu bisa bagus karena orang yang suport di belakang, seperti risetnya,” ujar Asfin.

Sebelum menjadi Direktur LBH Jakarta, ia masih sempat menjabat Koordinator Penanganan Kasus.

Trik Buku Saku

“Semua kasus di LBH berat,” tegas Asfin.

Agar setiap kasus bisa tertangani, LBH membuat prioritas penanganan kasus.

“Kita juga buat buku-buku saku, jadi kalau tidak sempat kita tangani mereka bisa menggunakan buku saku tersebut. Yang kita tangani yang betul-betul yang nuansanya bermuatan politis atau bisa merubah sistem hukum atau bersifat massal. Misalnya penggusuran ribuan orang, atau PHK buruh ratusan orang,” jelas Asfin.

Asfin menilai, pembelajaran hukum yang paling efektif adalah melibatkan korbannya. Cara tersebut diyakini bisa mengontrol pekerjaan pengacara sehingga dia tidak menjadi korban penipuan. “Seperti sekarang banyak korban yang dikibuli pengacaranya,” jujur kata Asfin.

“Kedua, dia bisa belajar memangangi kasus. Kalau dia sudah mahir, dia bisa bantu orang lain. Seperti virus yang menular. Itu juga pemberdayaan buat dia. Kalau ada kronologis dia bisa bikin kronologis sendiri. Kuncinya melibatkan. Tidak membuat pengetahuan hukum itu jadi eksklusif seperti yang telah dilakukan selama ini,” lanjut Asfin.

Ada juga buku saku yang dibuat untuk masalah-masalah perempuan. Termasuk bila harus berhadapan dengan kasus perceraian.

“Di lampiran, kita masukkan berkas gugatan cerai. Mereka tinggal masukin nama dan data-datanya lainya. Pekerjaan itu tidak mungkin dikasih para pengacara komersil pada kliennya karena akan membuang beberapa juta untuk membuat gugatan orang. Pengacaranya rugi dong,” ujar Asfin sambil tertawa lepas.

Definisi Keberhasilan

“LBH sebenarnya tidak hanya menangani kasus tapi juga penyadaran kepada masyarakat,” kata Asfin tentang tugas LBH di masyarakat.

Mulai dari pelatihan, melakukan kajian hukum bila pemerintah membuat kebijakan hukum yang tidak benar, berkampanye, melakukan lobi-lobi dan sebagainya.

Jadi, lanjut Asfin, keberhasilan LBH tidak bisa diukur secara kasat mata. 

“Definisi kami menang bukan dalam arti kasus tersebut selesainya bagaimana. Tetapi juga si orang yang bermasalahan dapat pencerahan nggak, dapat penyadaran hukum nggak, dia sadar nggak posisi dia di negara itu relatif seperti apa, antara pemerintah dan dia sebagai warga negara,” ujar Asfin

“Kita kalau menangani kasus ada yang namanya litigasi, proses pengadilan, dan non litigasi atau nonlit. Yang nonlit itu yang tidak lewat pengadilan, misalnya lewat kampanye, lewat pers, bisa bikin macam-macam aksi seperti aksi damai, dan sebagainya. Tugas LBH sangat banyak,” tandas wanita berkacamata ini.

Aien Hisyam

Advertisements

December 1, 2009 - Posted by | Profil Aktivis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: