Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Jessica Violetta Schwarze

Don’t Be Shy, Look What I Did!

 

 

Meski ia tak mengerti dunia IT, PT SAP tetap mempercayakan Jessica menjadi Marketing Manager. Kiatnya, mau belajar dan bertanya.

 

Ketika bergaung dengan PT. SAP Indonesia –perusahaan software atau piranti lunak khusus untuk bisnis terbesar di dunia- usia Jessica baru berusia 30 tahun. Yang lebih menarik, Jessi nekat melamar menjadi Marketing Manager walaupun ia buta IT (information technology)

I’m so curious and I want to jump on it,” ujar Jessi penuh keyakinan.

Selalu Cari Tantangan

Baru tiga tahun Jessica Violetta Schwarze berkecimpung di bidang Marketing. Meski tergolong ‘baru’, prestasi Jessi sebagai marketer sudah membuat banyak orang berdecak kagum. Perempuan berdarah Jerman-Indonesia ini berhasil masuk dalam Top Achievement SAP Award of Asia Pasific. Juga mendapat beasiswa ke Hawai untuk bersekolah di American Institute of Management Science.

Satu prestasi terbesar Jessi setelah bergabung di SAP adalah membuat event besar SAP ‘the biggest IT event conference’ di Jakarta. Acara ini mampu mendatangkan pengunjung lebih dari 2000 orang.

We’ve never seen an event like this. You have to work hard to get their respect,” puji seorang CEO dari Asia Pasific dengan bangga.

Jessica memang pantas dipuji. Kerja kerasnya sebagai seorang Marketing Manager membuat semua orang tercengang. Ia bahkan menerima penghargaan Best Graduate & 1st Place Winner Business Plan Competition di Japan American Institute of Management Science.

“Saya memang senang mencari tantangan. Sebagai marketing manager, tugas utama saya adalah mencari calon customer sebanyak-banyaknya. Itulah tantangan saya. Selain itu, saya harus sering mengadakan media coverage, konferensi pers, hingga menulis cerita sukses dari beberapa perusahaan besar yang telah menjadi pelanggan. Serta membuat printed material,” ujar wanita yang hobi membaca ini.

Selain itu, lanjut Jessi, sebagai Marketing Manager, ia harus selalu melihat market service. “Yaitu meperkirakan tempat dan kesempatan di Indonesia. Khususnya yang menjanjikan bagi PT SAP agar dapat bergerak agresif ke tempat tersebut,” jelasnya.

Cita-cita Ke Perusahaan Multinasional

Sebelum lulus kuliah dari Fakultas Kejuruan Bahasa Inggris Universitas Atmajaya Jakarta, Jessica sudah bekerja di PT. Produk Indonesia (Prodin) milik BJ  Habibie.

“Waktu itu umurku masih 22 tahun. Saya langsung di-hire menjadi marketing executive,” ujar Jessi berbagi pengalaman.

Prodin adalah perusahaan lokal yang rutin menggelar acara berupa pameran-pameran di Jerman, Perancis, dan banyak negara lagi. Karena kepintarannya, Jessi kerap dikerim ke sejumlah negara.

“Ini perusahaan high profile. Jadi saya kerja di bagian marketing bersama orang-orang yang posisinya sangat tinggi di perusahaan lokal dan internasional. Sebuah pengalaman yang sangat menarik buat saya yagn sedang belajar. Saya jadi terbiasa bertemu dengan orang-orang yang levelnya diatas saya. From me, exciting banget bisa bertemu any people,” kata Jessi. Salah event besar Prodin di Indonesia adalah acara Indonesia Air Show.

4 tahun di Prodin, Jessi tertantang mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang ekshibisi. “Disini saya bekerja di bidang business development sebagai marketing manager,” kata Jessi.

Pengalaman baru yang amat menantang buat istri I Made Hadi Wigraha ini. “Saya harus cari peluang-peluang baru agar bisnis ini bisa berkembang. Membuat pameran-pameran belum ada di Indonesia. Diantaranya Franchise Exhibition, Grand Wedding Exhibition dan Renovation Expo yang saat itu bertepatan dengan kondisi Jakarta yang sedang banjir. Tiga pameran ini menjadi pameran pertama yang terbesar di Indonesia yang didatangi puluhan ribu pengujung,” ujar Jessi bangga.

Jenuh bergelut di Event Organizer, lagi-lagi Jessi ingin mencari tantangan baru. “Waktu itu saya tertarik dengan teman-teman yang kerja di perusahaan multinasional. Seperti apa ya? Kayaknya sangat menantang,” kata Jessi.

Justru Buta IT

Jessi termasuk sangat percaya diri ketika coba melamar menjadi Marketing Manager di PT SAP Indonesia. “Padahal saya buta tentang IT. Tapi saat wawancara, saya yakinkan bahwa saya bisa bawa perusahaan ini menjadi lebih besar lagi dengan membuat event-event untuk PT SAP,” ujar Jessi.

Satu kebetulan, saat itu PT SAP justru sedang mencari Marketing Manager di luar bidang IT.

 “I was chosen and I was so lucky. Mereka ingin orang diluar dunia IT yang bisa bawa ide-ide baru. Karena di dunia IT, orangnya itu-itu saja,” cerita Jessica.

Setelah diterima, esok harinya Jessica dikirim mengikuti training IT di Singapura selama 2 minggu. Pesertanya adalah semua marketing manager PT SAP diseluruh Asia Pasific. Mulai dari Singapura, China, Australia, India, Philipine, Thailand, dan masih banyak lagi.

It was so scary. Bayangkan, saat itu saya satu-satunya peserta yang tidak tahu tentang IT. Apalagi trainingnya advance basic. Jadinya saya terus bertanya. Mungkin orang lain yang dengar, wah ini orang kok ngerti sih?” ujar Jessi sambil tertawa.

Hanya 2 tahun Jessi mempelajari sepak terjang perusahaan dalam bisnis software, produk-produkIT hingga berbagai perbedaan karakteristik industri IT.

Jessi sangat memahami dunia barunya juga posisinya sebagai marketing manager. “Seorang marketing harus banyak membaca, melebarkan dan menjaga networking, serta mengetahui berbagai kejadian secara umum di belahan dunia manapun,” kata Jessi.

Marketing, lanjut Jessica, fungsinya sangat penting. “Ia yang membuka pasar pada sebuah perusahaan. Kita jadi tahu karakteristik pasar, peluang-peluang ada dimana, karenanya pikiran kita harus diasah terus.”

Bagaimana dengan ukuran fisik yang kerap jadi patokan di dunia marketing?

“Itu tidak bisa dipungkiri. It’s not only in Indonesia, but all over the world. Memang, dengan kelebihan fisikia akan mudah diingat dan diperhatikan. Tetapi yang lebih penting, untuk mengenal, mendalami dan membawa sebuah produk, seorang marketing harus punya intelektual yang tinggi. Apalagi ia mewakili citra perusahaan. Sayang kalau sudah cantik-catikn tapi otaknya kosong,” ujar wanita kelahiran 13 April 1973 ini.

Menjadi marketing yang baik, kata Jessi, “find out what your competitors doing, what your partners doing dan bekerja sama dengan baik. Harus selalu mengasah kreativitas dan berani ambil resikko. Mencoba segala sesuatu yang baru, dan mau belajar dari kesalahan,” ujar Jessica.

“Dan tak lupa, promosikan selalu apa yang sudah kita kerjakan. Dengan begit perusahaan akan menghargainya. Don’t be shy, look what I did!. Kalau berhasil, jangan diam saja,” ujar Jessica berbagi tips.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Pakar IT, Profil Wanita | Leave a comment

Inti Nusantari Subagio

Adicction Bukan Aib

 

 

Selasa dua pekan lalu ketika dihubungi, dia sedang berada di Singapura. Rabu pekan lalu, ketika akhirnya ia ada di Indonesia, wanita ini Inti tidak bisa berlama-lama menerima telepon.

“Maaf saya sedang ketemuan dengan Pak Ical (Aburizal Bakrie). Siangan, telepon lagi saja ya?” pintanya.

Siang hari, “Aduh, maaf. Saya sedang di rumahnya Pak Ginanjar (Ginanjar Kartasasmita). Gimana kalau telepon sorean?” kembali Inti meminta waktu.

Di sore hari, suara Inti terdengar lebih santai. “Hari ini memang sangat padat. Tapi, oke lah, kita ketemuan Senin siang. Kebetulan saya free di hari itu,” ujar Inti penuh semangat.

Senin pekan lalu ketika akhirnya kami bertemu, Inti seperti tak terbendung. Ceritanya mengalir kemana-mana, ke berbagai hal, dari barang antik, urusan bisnis, pergaulannya sesama sosialite hingga kegiatannya di sosial. Gambaran kesibukan dirinya yang luar biasa.

‘Ibu’ Para Pecandu

Inti memang selalu penuh kejutan. Suatu hari, ia pernah dijumpai di acara sosialite. Ketika bertemu lagi, ia ada di pasar tradisional Rawa Bening di Jatinegara sedang memilih-milih batu permata. Ia juga sering terlihat di acara WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), di kegiatan Yayasan Asma Indonesia, hingga yang berurusan dengan Narkoba.

“Berurusan dengan pecandu, itu makanan sehari-hari saya,” kata wanita berparas ayu ini sambil tersenyum.

Ia bercerita, pernah suatu malam dirinya ditelepon dari kantor polisi. “Katanya ada anakku yang terjaring bawa Narkoba. Kok bisa?, padahal, anak-anakku tidak ada satupun yang terkena Narkoba,” ujar Inti.

Bingung tapi ingin tahu. Walaupun sempat dilarang suami ke kantor polisi, Inti akhirnya pergi juga ditemani anak tertuanya.

“Ternyata, pelakunya anak didik saya di pusat rehabilitasi. Nangis-nangis dia minta dikeluarin. Yah sudahlah, mau gimana lagi, awalnya polisi minta tebusan ratusan juta, setelah diskusi, mereka mau terima 5 juta sebagai uang jaminan,” ujar Inti sambil geleng-geleng kepala.

Puluhan cerita memang menjadi warna-warni kehidupan ibu tiga anak ini.

“Itulah resikonya. Sejak saya putuskan terjun ke dunia rehabilitasi narkoba, berarti saya harus siap dengan segala hal yang akan terjadi,” kata Inti.

Diakui Inti, awalnya ia sama sekali tidak menahu tentang narkoba.

Tahun 1998 temannya berkeluk kesah tidak adanya tempat rehabilitasi yang bisa menampung para pecandu yang pulang dari rehabilitasi di Malaysia.

“Dia tanya, ‘In punya rumah kosong nggak. Ada rehabilitasi di Malaysia butuh tempat di Indonesia. Sistemnya, sebelum pulang ke rumah harus ada masa transisi dulu.’ Saya pikir, walaupun waktu itu saya tidak tahu apa-apa, yah sudah nggak apa-apa,” ujar Inti.

80 Persen Anak Indonesia

Saat ini Inti yang menjabat Staf Ahli Badan Narkotika Nasional.

“Life is mistery. We never know, kemana kita ini akan berlabuh. Saya juga tidak tahu alasan apa saya mendirikan FAN CAMPUS. Tetapi itu tidak penting, ang terjadi adalah, kita harus menjawab tantangan yang ada di masyarakat. There is a problem. Kita harus atasi,” katanya.

FAN CAMPUS atau For All Nation berdiri akhir 1998.

“Awalnya saya sediakan rumah singgah bagi anak-anak yang baru menyelesaikan rehabilitasi di Yayasan Pengasih di Kuala Lumpur Malaysia. Bayangkan 80 persen penghuninya anak-anak Indonesia. Sementara disini orang masih malu-malu mengakui anaknya terkena Narkoba. Padahal, banyak dari mereka adalah anak-anak petinggi atau dari kalangan atas. Mereka mau ngumpetin tapi tempatnya belum ada. Waktu itu drug belum menyentuh kalangan bawah,” cerita wanita yang juga komisaris di tiga perusahaan besar..

Lambat laun, kepedulian Inti akan masalah Narkoba kian bertambah.

“Saya perluas lagi FAN CAMPUS. Tidak hanya sekedar menjadi tempat singgah, tetapi juga menjadi pusat rehabilitasi,” ujarnya. Tidak tanggung-tanggung, ia memakai tanahnya di daerah Cisarua seluas 5 hektar menjadi tempat rehabilitasi.            

“Saya yakin, bahwa tidak sekedar pepatah. Nasib kita dan hidup kita merupakan cerminan dari pola pikir kita. Saya yakin pasti bisa, pastilah bisa. Dan saya tidak terlalu terbebani. Dari pada tidak berbuat sesuatu,” ujarnya tentang keputusan terjun membuka pusat rehabilitasi di dua tempat, termasuk di kawasan Lebak Bulus.

Metode Therapeutic Community

“Ini bukan kerja negatif. Saya justru aktif menyuarakan Adicction adalah bukan aib. Yang aib adalah perilaku yang menyertai ketergantungan ini. Misalnya demi memenuhi ketergantungan ini mereka harus menjual diri, mencuri. Adicction adalah sesuatu penyakit yang sangat mengerikan saya kategorikan sebagai penyakit sangat komplek,” kata wanita kelahiran 30 September 1949.

FAN Campus menerapkan metode Therapeutic Community (TC). TC dikembangkan oleh organisasi sosial yang dikenal dengan sebutan DAY TOP, berkantor pusat di kota New York, Amerika Serikat. Metode ini sangat dikenal di seluruh dunia karena tingkat keberhasilannya yang tinggi.

Setiap hari, para penghuni rehabilitasi mempraktekkan hidup sehat dan harmonis dalam suatu komunitas yang sangat terjaga rasa persaudaraan.

“Metode ini juga menekankan pentingnya pelatihan kedisiplinan dan kepatuhan dengan pemahaman. Kita berharap, mereka bisa keluar dengan kondisi benar-benar bebas narkoba,” kata Inti yang aktif dua kali seminggu menengok anak-anak didiknya.

Sebagai aktifis masalah-masalah Narkoba, Inti melihat masalah adiccting bukan sebagai persoalan fisik semata. “Melainkan sudah lebih sebagai masalah interaksi antara biologis, psikologis, emosi, spiritual dan sosial,” lanjutnya.

Oleh karena itu, setiap pecandu yang ingin terbebas dari ketergantungan, harus melalui dua tahapan rehabilitasi

“Yang pertama disebut masa entry and induction phase. Masa ini dijalani selama 3 hingga 4 minggu. Yaitu masa obeservasi dan penilaian terhadap perilaku. Memulai perubahan awal,” terang Inti.

Selanjutnya, pecandu memasuki masa Primary Phase, yang dijalani selama 6 sampai 9 bulan yang bertujuan penstabilan dan peningkatan perubahan serta pembentukan perilaku. Barulah pecandu melewati Re-entry Phase selama 6 bulan. Tujuannya untuk penanaman kembali norma-norma dasar dan perkembangan pribadi dan Persiapan untuk kembali ke dunia luar. Masa-masa ini dilalui di asrama.

Lepas dari asrama, barulah mereka menjalani proses Aftercare Phase yang dilalui selama 12 bulan setelah kelulusan dari program-program tersebut.

“Anak didik sudah bisa tinggal dengan orang tua dan keluarga. Kita hanya memonitor proses pemulihan, mempertahankan norma dasar yang telah dipelajari, mendukung gaya hidup bersih/sober dan pencegahan kekambuhan,” kata wanita yang juga penasehat Kowani ini..

Pernah suatu Inti membuat penelitian tentang penyalahgunaan Narkoba.

“Dari 100 residen (penghuni rehabilitasi), lebih dari 74 persen mereka kenal Narkoba saat masih di SMP dan SMA. Parah-parahnya awal mahasiswa. Jadi sebagian besar residen kita anak-anak muda yang awal-awal mahasiswa. Karena itulah, penting sekali kita menyelamatkan anak-anak kita. Jangan lengah sedikit pun. Saran saya, ciptakan hubungan antar anggota keluarga yang harmonis, saling mencintai, dan perhatian. Perlu sekali adanya keterbukaan,” tegas Inti.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial, Profil Wanita | Leave a comment

Ika Twigley

‘Sekarang, Mereka Anak Kami’

 

 

Tanggal 11 Juli Silam, DPR mengesahkan UU Kewarganegaraan (UUK) yang terbaru. Menjadi babak baru bagi kehidupan perkawinan campur di Indonesia.

Ika Twigley tersenyum puas. Bahkan sangat puas. Bertahun-tahun berjuang demi kewarganegaraan anaknya, akhirnya berbuah manis. “Sekarang, mereka anak kami,” kata Ika dengan senyum terharu.

Bersama empat teman dekatnya, Ika berjuang melalui Keluarga Perkawinan Campuran Melalui Tangan Ibu (KPC Melati) ‘melawan’ pemerintah untuk segera mensahkan UU Kewarganegaraan baru dengan pasal-pasal dan ayat-ayat yang lebih ‘memanusiakan’ para istri dan anak.

“Bayangkan, dulu, setiap tahun aku harus mendaftarkan anakku ke Polda untuk memperpanjang Surat Keteranan Lapor Diri (SKLD), juga harus ke kantor Imigrasi untuk memperpanjang KITAS. Wah ribet sekali. Amat melelahkan,” ujar wanita Sunda-Batak ini bersemangat.

Round Table Discussion

Di sebuah lounge Hotel JW Marriot, Ika mengutak-atik laptop miliknya. Terkadang dahinya berkerut, dan kemudian suaranya menggelora mengomentari pasal-pasal yang ia baca.

“Karena harus berurusan dengan hukum, aku jadi kuliah lagi. Jangan sampai, kita kelihatan bodoh bicara hukum sementara yang kita perjuangkan adalah Undang-undang Kewarganegaraan,” kata Ika Nurzanah, 37, yang saat ini sedang menempuh kuliah di Universitas Pancasila fakultas Hukum.

Selain itu, lanjut Ika, “Kerjaan DPR itu sangat banyak. Dan tidak ada gunanya kalau kita hanya meminta tanpa kasih usulan. Oleh karena itu, sebelum maju ke DPR, kita juga melakukan round table discussion. Mengundang pakar-pakar hukum, ahli tata negara untuk mencari masukan. Agar kita dapat pandangan baru, memperluas wawasan,” kata Ika bersemangat.

 Kondisi itu membuat Ika tidak malu bertanya. Setiap hari ia bahkan disibukkan dengan pekerjaan baru, melahap buku-buku tebal tentang UUK dari beberapa Negara. Apabila ada pasal-pasal yang bisa diterapkan di Indonesia, Ika langsung berdiskusi dengan teman-temannya di KPC Melati.

“Jadi, jangan heran kalau kita yang ada di KPC Melati hampir semuanya  hafal dengan pasal-pasal dan ayat yang terdapat di Undang-Undang tersebut,” ujar Ika bangga.

“Jangan pandang kini ini Ibu-ibu doang tapi tidak bisa berbuat banyak,” ucap wanita kelahiran 8 Oktober 1969 ini sambil tersenyum.

Derita Korban KDRT

Saat ini KPC Melati tengah menunggu tahap akhir proses ‘peng-gol-an’ UUK Nomor 12 tahun 2006 yang terdiri dari 8 bab dan46 pasal. “Kita tinggal mengawal dan mengawasi Kepmen (Keputusan Menteri) dan PP (Peraturan Pemerintah). Pemerintah akan undang panitia kecil dari KPC Melati untuk berdiskusi lagi. Karena yang terkait dengan UU ini sangat banyak, termasuk pihak Imigrasi dan Kepolisian,” kata Ika.

Namun, Ika cukup puas. Terhitung tanggal 11 Juli lalu, anak-anak hasil perkawinan wanita Indonesia dengan pria asing langsung tercatat sebagai Warga Negara Indonesia.

“Kecuali anak-anak yang lahir sebelum tanggal 11 Juli masih harus ikut pasal 41 di Undang Undang tersebut. Mereka punya dua kewarganegaraan, Indonesia dan warga negara Ayahnya. Barulah di usia 18 tahun ia berhak memilih warga negara yang ia inginkan. Pemerintah akan memberi jangka waktu 3 tahun hingga usia 21 tahun untuk berpikir,” ujar ibu dua anak, Talitha Twigley (5) dan Liam Ibrahim Twigley (2,5)

Bukan hanya masalah anak. Keluhan terbesar di para wanita bersuamikan pria asing justru masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

“Yaitu KDRT yang dipertahankan dalam rumah tangga. Itu tidak sehat. Ini akibat payung hukum yang tidak melindungi, maka mereka akan melakukan segala hal termasuk mempertahankan rumah tangga agar si Ibu tidak terpencar dengan anak-anaknya,” ujar Ika yang sering menerima keluhan dari anggota-anggota KPC.

Apabila istri meminta cerai, maka ia akan kehilangan hak asuh terhadap anak-anaknya. Semua anaknya akan di deportasi keluar dari Indonesia mengikuti Ayahnya.

“Kasihan sekali. Banyak teman-teman kami mengalami nasib seperti itu,” ujar Ika.

Padahal, lanjut wanita cantik ini, “Yang namanya Ibu, kedekatan dengan anak itu luar biasa. Darah daging kita tanpa bermaksud mengecilkan peran Ayah. Dan beda sekali attach antara Ibu dengan anak dibanding anak dengan Ayahnya. Nah, selama ini tidak adanya perlindungan dalam kepastian hukum serta keadilan dalam UU kewarganegaran sehingga kasus-kasus ini banyak sekali terjadi baik di Indonesia maupun Luar Negeri,” kata Ika.

Seputih Bunga Melati

Peliknya masalah perkawinan campur membuat Ika bersama Enggi Holt, Diah Kusdinar, Mery Girsang dan Marcellina membentuk KPC Melati.

“Resmi berdiri bulan Februari 2006 lalu, setelah tercatat di Notaris,” ujar Ika.

Dipilihlah nama Melati karena menurut Ika, melati adalah bunga berwarna putih dan mungil yang menebarkan wangi yang harum semerbak. Putih melambangkan kesucian.

“Selain itu, tanamannya yang kuat dan kokoh serta merambat dengan menghasilkan ratusan bunga merupakan lambang persatuan dan kesatuan yang abadi,” kata Ika.

KCP Melati kelak berharap bisa menjadi satu wadah yang bisa memperjuangkan hak-hak pelaku perkawinan campuran di jalur hukum.

“Sekarang saja, setiap hari aku bisa terima telepon pulahan jumlahnya. Mereka sangat bahagia dengan disahkan-nya UUK ini,” ujar wanita bersuamikan Chris Twigley asal New Zealand ini bangga.      

Ada hikmah yang bisa dipetik Ika dari seluruh kerja keras yang telah dilakukan KPC Melati selama 10 bulan berjuang meng-gol-kan UUK

“Semua kerja keras ini butuh kesabaran dan niat hati yang tulus. KPC Melati berusaha dengan hati nurani yang berbicara. Karena itu saya yakin pasti berhasil, Karena kalau kita berjuang dengan suatu ketulusan, Insya Allah Tuhan akan mengabulkan. Itulah hikmah yan bisa dipetik. Lakukan sesuatu dengan hati nurani yang bersih. Tanpa hidden agenda atau strategi-strategi salig merugikan satu sama lain,” ujar Ika bijaksana.

“Bagi saya tidak perlu harus pakai barang-barang branded, walaupun kita mampu membelinya. Lebih baik uangnya dibelikan laptop untuk kerja kita memperjuangkan UUK. Juga untuk mendanai KPC agar perjuangannya tidak sia-sia. Anak-anak kita membutuhkan kerja keras kita, butuh perlindungan hukum agar mereka bisa hidup dengan tenang,” kata Ika lagi.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pekerja Sosial | Leave a comment

Ermey Dewanto

Setelah Mengirim 2000 Surat

 

Lima tahun membesarkan Dapur Cokelat, untuk pertama kalinya Ermey mendapat protes dari ‘penggemar’nya.

 

Mama sih nggak gaul,” Ermey menirukan protes anak pertamanya, Aditya Pratama, 16.

“Tapi, gimana dong nanti reaksi pelanggan Mama yang lain,” ujar Ermey membalas protes anaknya.

“Ini ‘kan untuk anak-anak ABG, Ma. Dicoba aja deh, nanti kita lihat hasilnya,” ujar Aditya penuh antusias.

Akhirnya, bulan Februari lalu, untuk pertama kalinya Ermey membuat tema baru untuk coklat-coklatnya yang unik dan menggemaskan. Coklat warna warni itu diberi nama Retro. Sesuai permintaan Adit.

“Adit sejak dulu jadi penggemar berat cokelat-cokelat buatan Mamanya. Selama ini dia hanya mencoba, menggemari, sekaligus menggilai. Tetapi, baru kali itu dia bisa protes dan kasih masukan. Ternyata luar biasa, cokelat-cokelat tema Retro khas ABG, justru paling diminati. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang fungky,” ujar Eyi, panggilan akrab Ermey, dengan mata berbinar.

Eyi kini mulai melibatkan Adit dalam bisnis Dapur Cokelat. Ada satu camiln cokelat yang dibuat sesuai keinginan anaknya, Choco Monkey. Terbuat dari pisang yang diolah bersama cokelat, menjadi camilan unik untuk anak-anak remaja.

Menejemen Keluarga

Ermey tidak sendirian membesarkan Dapur Cokelat. Dibelakang kesuksesannya, ada dukungan kedua orangtuanga HM Noor Matulia dan Hj. Darniati, juga suaminya, Okky Dewanto. Mereka berempat menjadi komisaris Dapur Cokelat.

“Jadi memang benar kalau ini bisnis keluarga. Walaupun begitu, Dapur Cokelat tetap kita kelola dengan profesional. Pembagian profit tetap ada. Menejemen tetap berjalan sesuai dengan relnya. Karena kalau tidak begitu, bisnis ini tidak akan berkembang dengan baik,” kata Eyi yang telah membuka tiga outlet Dapur Cokelat di Jakarta.

Eyi bisa berbangga hati. Dapur Cokelat saat ini mulai jadi icon jajanan cokelat paling digemari. Di dalam toko berkonsep dapur ini tersedia berbagai macam pastries cokelat.

“Saya berpegang pada satu kiat dalam membesarkan Dapur Cokelat, yaitu fokus di konsep. Ini adalah toko kue dari cokelat. Jadi sejak berdiri tahun 2001, usaha kita yang itu-itu saja, tidak melenceng kemana-mana,” ujar Eyi yang mencontohkan beberapa usaha lain yang terpaksa tutup karena tidak fokus di konsep.

Cokelat bukanlah barang baru bagi Eyi. Sejak kecil, ia sudah tergila-gila dengan camilan dari cokelat. Begitu sukanya, Eyi jadi hafal nama-nama cokelat yang ia gemari. Baik buatan lokal maupun luar.

“Lulus SMA, saya kuliah di NHI (National Hotel Institute) Bandung. Ketika masuk semester dua, saya mempelajari tentang cokelat. Jadi saya tahu banyak tentang cokelat, juga tahu bagaimana membuatnya. Ternyata gampang sekali,” kisah Eyi.

Uji coba pertama Eyi adalah membuat cake cokelat. Diluar dugaan, cake penuh hiasa cokelat itu digemari teman-teman satu kosnya. Esok harinya, Eyi kembali coba-coba membuat rosce, malako, dan praline atau permen cokelat. Ternyata peminatnya semakin banyak.

Sejak itulah Eyi punya kesibukan baru, kuliah sambil berdagang cokelat hasil kreasinya sendiri. Hanya bermodal satu kompor yang ditaruh di dapur kos, Eyi akhirnya bisa menarik untung berlipat-lipat.

“Mereka suka karena murah. Masak satu ons hanya 5000 rupiah,” kata wanita ini.

Cokelat Untuk Calon Suami

Rasa ingin tahu dan kecintaan yang besar akan cokelat membuat Eyi melanjutkan kuliah di Agrobisnis IPB Bogor yang banyak mempelajari tanam-tanaman dan sayur-sayuran. Di tempat ini Eyi justru menemukan cintanya yang lain. Pria itu bernama Okky Dewanto, alumnus IPB dan pendiri perusahaan kue Apple Pie. Kencan pertama, Eyi membuat Tiramisu dari cokelat untuk sang kekasih.

“Ya ampun, Mas Okky bukannya memuji. Dia malah ajak dagang, sama-sama membuat kue-kue dari cokelat,” kenang Eyi sambil tertawa kecil.

Eyi menganggap sebagai mukjizat, hanya dengan bermodalkan uang Rp.75.000,- untuk biaya operasional selama 1 minggu, mereka bisa membuat pastries cokelat dalam jumlah banyak

“Awalnya kita hanya menstok cokelat 12 kilogram saja, Hasilnya lumayan bagus. Baru pertama kali buka, produk kita bisa laku 2 kilo sehari,” cerita Eyi.

Eyi akhirnya membuka toko dan diberi nama Dapur Cokelat di Jalan hamad Dahlan, Jakarta Selatan, bersama Okky yang akhirnya menjadi suaminya.

“Dibantu teman-teman untuk operasional, kami harus mengenalkan Dapur Cokelat tanpa memiliki biaya promosi. Kami benar-benar bergerak dengan hanya dilandasi keyakinan, bahwa produk DC layak jual, dan akan disukai. Bahwa konsumen, akan bisa dan tidak akan kecewa menerima produk Dapur Cokelat,” ujar Eyi penuh keyakinan.

Kirim 2000 Surat

Strategi awal, Eyi dan Okky adalah mencari mailing list dari teman-teman marketing. Mereka juga mengundang calon konsumen untuk terus melakukan check and retesting.

“Target utama adalah orang harus mengenal dulu, sementara, apakah mereka akan membeli atau tidak, masih prioritas kesekian. Kalau tak salah, masa itu kami mengirimkan surat undangan dan pemberitahuan ke 1000 sampai dengan 2000 alamat yang tidak kami kenal sebelumnya,” ujar ibu dua putra, Adit dan Akheela Candra, 20 bulan.

Dan dari pengiriman surat ke ribuan alamat tersebut, hasilnya cukup menggembirakan.

“Sebagian dari mereka ada yang menelepon, menanyakan ini itu, sebagian ada yang langsung datang menguji rasa. Kemudian, yang paling menggembirakan adalah: yang sudah pernah datang, kemudian datang lagi dengan membawa teman-teman mereka. Mereka menguji rasa dan membeli. Lalu, karena disebelah Dapur Cokelat kebetulan ada supermarket, pembeli yang sudah berbelanja ke supermarket tersebut kami undang pula masuk ke Dapur Cokelat, untuk ikut menguji rasa dan mengenali kue-kue Dapur Cokelat,” kenang Eyi.

Dapur Cokelat memang unik, seunik namanya. “Awalnya saya ingin membuat toko dengan desain seperti galeri. Tapi setelah dipikir-pikir, kok rasanya desain galeri itu berat sekali, dan bisa berimbas ke produk yang akan saya jual, jadinya tidak akan terekspos. Entah gimana tiba-tiba saya dan kakak muncul ide pakai nama Dapur. Lebih kena,” ujar Eyi sambil tersenyum.

Dapur Cokelat milik Eyi memang dibuat sangat menarik. Ia tidak menghilangkan pakem dan ciri khas dapur. Yaitu mendesain ruangan dengan meletakkan kitchen set sebagai hiasan utama sehingga terlihat lebih unik dan menarik.

“Pernah loh  ada orang masuk ke toko saya tanya, “Mbak, jualan kicthen set ya?” kisah Eyi sambil tertawa lepas.

Kesan dapur memang sangat menonjol. Hampir diseluruh ruangan didominasi warna cokelat dan kuning, hingga terkesan hangat dan akrab. Apa beragam potongan cake, praline serta gundukan permen cokelat menghiasi setiap sisi ruangan.     

Aien Hisyam

 

December 1, 2009 Posted by | Profil Pakar Kuliner, Profil Pengusaha | 3 Comments

Hetty Heriani Sobary

Di Televisi Wanita Harus Cantik

 

 

Di depan mantan pekerja seks, Cheche terharu. Ada hikmah yang telah ia petik.

“Bayangkan, dia mau datang ke pesantren. Mau pakai baju muslim. Mau belajar ngaji. Mau pakai jilbab dan mau salat tahajud. Ini kan benar-benar sebuah hidayah. Kalau dia tidak benar-benar mau jadi wanita muslimah, itu sangat susah. Butuh niat yang suci langsung dari lubuk hati,” kata Cheche Kirani.

Menjelang sore, di sela-sela syuting ‘7 Hari Menuju Tobat’ di Pondok Pesantren Al-Ittihad Sawangan, Bogor, Cheche mengungkapkan isi hatinya.

Tanpa Script

Istri ustaz H. Hadi Wibawa ini masih aktif bermain sinetron.

“Sinetron yang ada misi dakwahnya,” kata wanita Sunda ini.

Misalnya saat jadi presenter, Cheche menyelipkan hadis dan ayat Al Quran. “kecil-kecilan saja, dan biasanya spontan,” ujarnya.

Di depan kamera, ketika berdialog dengan psk yang bertobat, spontan Cheche berujar, “Allah sangat mencintai orang yang sungguh-sungguh bertobat di jalan Allah. Yang setelah bertobat berjanji tidak akan mengulanginya, dan tobat itu diisi dengan hari-hari beribadah yang bersungguh-sungguh kepada Allah.”

Tidak pernah pakai scrip. Otomatis, Cheche harus benar-benar menguasai dan mendalami kandungan Al Quran.

“Sebagai presenter, Cheche harus bisa mencari itu sendiri ayat-ayat yang berhubungan. Acara ini tidak ada scrip. Dan target kita, dia (si pelaku yang bertobat) tidak di briefing dulu. Ini on the spot. Saya harus menyorotnya selama 7 hari. Saya hanya diberi tahu kalau tadi malam begini-begini, kemarin begini-begini, yah sudah. Mengalir begitu saja,” kata Ibu satu putri. Saat ini Cheche sedang hamil satu bulan.

Gemas Seniteron Reliji

Cheche memang sedang belajar mentausiah orang. Padahal, ia mengaku belum bisa menjadi wanita ‘sempurna’. Justru, segala sesuatu yang telah ia sampaikan pada orang lain jadi bahan instrospeksi diri.

“Alhadulillah pekerjaan yang diberikan ke saya ini berkaitan dengan dakwah juga. Sejak saya pakai jilbab, tawaran pekerjaan yang ke saya seputar itu saja. Presenter juga presenter agama yang ketemu dengan ustaz juga. Mau syuting sietron pasti sinetron yang agama juga. Dan saya maunya syuting sinetron yang benar-benar agama tujuannya untuk syiar. Bukan yang dibungkus dengan mistis. Itu sangat tidak baik,” ujar Cheche.

Hati Cheche menentang ketika melihat sinetron religi yang tidak agamis. Ditambah lagi, kalau ada peran wanita muslimah yang tidak bisa mencerminkan pribadi muslimah.

“Saya sedikit menyayangkan. Pernah saya lihat ada peran wanita berjilbab, dia marah-marah, dia bentak-bentak, dia maki-maki. Ini sinetron reliji yang hanya dibungkus dengan pakaian muslim, baju koko, sorban dan jilbab. Tapi isinya tetap ke sinetron drama lainnya,” gemas suara Cheche.

Lebih disayangkan lagi, lanjut Cheche, sinetron model itu sangat diminati. Diikuti dengan PH-PH lain yang akhirnya justru menjatuhkan wanita muslimah dan agamanya.

Batasan Bermain Sinetron

Karena itulah Cheche sekarang selektif memiilh peran.

“Baca dulu adegan-adegannya. Kalau tidak melenceng dari syari’ah Islam dan bisa didakwahkan, saya mau. Yang disayangkan kalau sinetron religi dibuat menyimpang dari syariah Islam. Nanti orang beranggapan bahwa Islam kok seperti itu. Ternyata matinya orang Islam seperti itu atau akhlak wanita berjilbab kok seperti itu. Berarti dia orang yang munafik, yang tidak bisa menjilbabi hatinya. Kalau sudah begitu, nanti orang jadi tidak mau pakai jilbab,” ujar Cheche.

Selayaknya, wanita muslim bisa membungkus aurat dengan baik. Yang tertutup dan tidak menyerupai laki-laki. Yang menutupi telapak tangan dan telapak kaki.

“Bukannya pakai kerudung tapi leher kebuka. Pakai kerudung tapi pakai baju ketat. Ini tidak sesuai juga dengan ajaran syar’i. Malah kadang sutradaranya juga non muslim. Padahal dalam surat Al Azab, berbunyi ulurkan jilbabmu maksudnya pakaian,” lanjut Cheche.

Sebaiknya, lanjut Cheche, sinetron sinteron Islam dibuat oleh orang yang mengerti ajaran agama Islam.

“Pernah saya ikut di sinetron reliji, ada adegan wanita muslimah meninggal. Tapi kok yang mandiin laki-laki. Itu kan tidak boleh. Sampai saya bilang, tolong dong jangan begitu. Bukan karena sok jadi guru. Tapi kalau yang meninggal perempuan maka yang mandiin harus perempuan. Sutradaranya bilang ini kan hanya sinetron. Lho saya jawab, tapi kan yang nonton seluruh Indonesia. Ayo dong kita lebih sensitif. Karena salah berbuat bahkan salah pengucapan ayat saja bisa bermasalah,” ujar Cheche mengelus dada.

Cheche sendiri punya batasan dalam bermain sinetron. Asalkan tidak bersentuhan, tidak ada adegan pegangan, pelukan dan ciuman pastilah ia terima.

Dua Dunia Berbeda

Ditanya keinginan terbesar Cheche saat ini, “saya ingin seperti Siti Khadijah,” jawabnya

Cheche mengaku sedang menuju ke arah itu.

“Siti Khadijah itu luar biasa. Dia rela melepaskan seluruh hartanya demi perjuangan suaminya. Yah kalau saya tidak punya harta, ya dukungan, spiritual ke suami. Orang berpikir hidup Aa itu sudah enak. Tidak ada masalah. Tapi ustaz tetap manusia. Kita harus lebih sabar dan memperhatikan,” kata Cheche

Apabila ada wanita yang berkonsultasi pada suaminya, sebisa mungkin Cheche tidak cemburu. Dianggapnya, kondisi tersebut sebagai proses pembelajaran.

“Dan yang terpenting apa yang suami tausiahkan, harus kita amalin setiap hari. Aa tidak pernah menyuruh, Bunda begini-begini. Tapi Aa hanya mengajak Cheche ikut mendengarkan ceramahnya. Dan praktekin. Termasuk dalam mengurus anak. Penginnya Cheche bisa menjadi istri dan Ibu yang baik buat anak-anaknya. Kebetulan dititipi Allah anak perempuan. Jadi butuh ilmu yang banyak dan selalu dijaga agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan,” cerita Cheche.

Kalaupun ia berbeda dunia dengan suaminya, hal itu tidak jadi masalah. Ia sangat bersyukur karena memiliki suami yang sangat pengertian.

“Alhamdulillah saya dikasih suami yang ilmu agama baik. Tetapi bukan berarti suami saya otoriter dan kaku. Justru Aa orang yang mengkritik saya dalam pakaian. Aa justru ingin istinya pakai pakaian semodis mungkin. Jangan sampai dilihat orang terkesan kumuh, jelek karena memakai jilbab yang acak-acakan. Justru Aa ingin tunjukin bahwa wanita muslimah harus tampil dengan menarik, cantik dan pakai jilbabnya nyaman,” kata Cheche.

“Cheche bahkan masih diberi kebebasan beraktifitas. Boleh apa saja. Ikut arisan saja boleh. Yang penting Zalfa (anak pertama Cheche) sudah keurus, makan, mandi, minum vitamin. Kalau suami mengijinkan yah sudah. Kalaupun Aa berdakwah, sebisa mungkin ikut,” ujar Cheche dengan sumringah.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Artis, Profil Seniman, Profil Wanita | Leave a comment

Asfinawati

Buku Saku Khusus Perceraian

 

           

Tidak pernah ada kata kebetulan. Kalaupun Asfi harus memimpin LBH Jakarta di usia yang masih muda, itu disebut ketepatan.

“Saya percaya dengan momen-momen. Ada hal yang kadang kita pikir kebetulan, padahal itu bukan kebetulan. Ini soal ruang dan waktu yang tepat. Artinya kalau waktunya tepat tapi tempatnya tidak tepat maka tidak akan jadi,” kata Asfinawati, Direktur LBH Jakarta yang baru di lantik Agustus 2006 lalu.

Di usianya yang baru 29 tahun, ia dipercaya memegang kendali Lembaga Bantuan Hukum Jakarta hingga 3 tahun ke depan. Mengulang kisah ketika Nursyahbani Katjasungkana menjadi direktur perempuan LBH Jakarta era 80-an.

 

Sulit Masuknya

Mendapati kantor LBH Jakarta tidaklah sulit. Bangunan ini saling ‘bertempelan’ dengan kantor LBH Indonesia. Di salah satu ruangan di bagian belakang gedung, Asfin, sapa wanita penyuka kemeja batik ini berkantor. Tumpukan berkas –sebagian besar dipilah-pilah dalam map berwarna- dibiarkan menumpuk di atas meja.

“Beginilah kantorku. Kita ngobrol di sofa saja,” ia menunjuk tiga kursi tamu yang dibungkus vinyl hitam. Terlihat usang, tapi masih kokoh.

Asfin senang sekali berbicara hukum. Sebelum ditanya, ia sudah bercerita tentang peliknya masalah hukum di Indonesia. Tentang rumitnya pekerjaan pengacara. Juga tentang ‘pekerjaan rumah’nya yang sangat banyak.

“Menurut saya, ini (bekerja di LBH) adalah pekerjaan yang tidak populer, khususnya di kampus saya. Karena hampir sebagian besar anak UI masuknya sebagai coorporate lawyer. Gajinya sangat besar, dan mereka juga malas ke pengadilan,” kata alumnus Fakultas Hukum UI ini.

Asfin mencontohkan, dari 240 lebih lulusan Hukum UI tahun 2002, hanya 3 orang saja yang bekerja di LBH.

“Dan lagi, masuk LBH itu agak sulit. Ya itu tadi, tergantung ruang dan waktunya yang tepat,” kata wanita kelahiran Bitung (Sulawesi Utara) tanggal 26 November 1976.

Setiap peserta harus mengikuti pelatihan Karlabahu (Karya Latihan dan Bantuan Hukum). Dari 120 orang hanya 50 orang yang bisa ikut. Setelah lolos, mereka jadi relawan atau volunteer. Itupun masih melalui tes seleksi lagi.

“Dari puluhan orang, yang diambil, tahun ini cuma 10. Jaman saya 15 orang. Setelah jadi relawan setahun dia baru berhak jadi pengacara publik. Dari puluhan orang, yang dipilih kadang cuma 3 orang saja,” kata Asfin, bangga.

 

Baca Artikel Hukum

Kelihaian Asfin berbicara hukum dimulai sejak ia masih belia. Saat SD, ia sudah menggemari majalah yang ada rubrik hukumnya.

“Ibu memang sekolah hukum, tapi dia tidak pernah mengarahkan anak-anaknya untuk jadi sarjana hukum. Apalagi background keluarga lebih ke arah ilmu-ilmu sosial daripada eksak,” cerita Asfin yang tahun lalu menjadi pengacara Lia ‘Eden’ Aminuddin..

Ia juga melihat, pengacara satu pekerjaan yang sangat heroik.

“Akhirnya, saya sendiri yang pilih masuk ke Fakultas Hukum. Tidak ada yang memaksa atau mempengaruhi,” tegas Asfin.

Asfin bahkan tidak suka ingin setengah-setengah. Saat magang ia memilih menjadi relawan di LBH. Saat itu LBH Jakarta dipimpin Opung Herlina.    

“Lepas magang, saya sempat bimbang mengambil keputusan. Berkarir di LBH atau di tempat lain. Mikirnya sampai beberapa bulan. Karena kalau masuk LBH berarti harus total. Sementara di LBH kasusnya aneh-aneh sekali, memusingkan kepala. Jadi kalau saya sudah memutuskan, resikonya memang berat. Harus siap dengan pusing, karena kita akan terlibat dengan masalah-masalah orang,” ujar Asfin yang akhirnya resmi masuk LBH Jakarta tahun 2000.

Asfin memulai karirnya di Divisi Perburuhan. Bidang yang awalnya tidak ia sukai karena tidak bergengsi. Selain itu, di LBH ada pula Divisi Perkotaan Masyarakat Urban, Perempuan Anak, dan Civil Politik.

“Tetapi setelah melihat kasusnya, ini dimensinya luas sekali. Artinya pelanggaran hukumnya luar biasa, yang dilanggar juga dalam jumlah kualitas yang besar, dan kuantitasnya banyak buruh yang dilanggar. Terus, kalau kita mau, ada tantangan entelektualitas untuk tangani kasus-kasus perburuhan. Kita harus tahu teknis hukumnya, juga tentang ekonomi politik,” kata Asfin.

Dalam satu waktu, Asfin bisa menangangi 30 kasus secara bersamaan. Butuh kelihaian, kecermatan dalam berpikir juga kesabaran yang tinggi. Apalagi ia hanya dibantu 2 rekan kerja dan 4 relawan.

Dua tahun kemudian Asfin menjadi Koordinator Studi. Melakukan riset, pengumpulan data, penelitian dan pengembangan. Melihat kecenderungan kasus-kasus LBH, membuat berkas laporan tahunan LBH, menerbitkan buku saku, newsletter, dan sebagainya

“Karena waktu itu  saya pikir, pekerjaan penting tidak harus di garda depan, seperti pengacara yang selalu tampil. Kerja di depan itu bisa bagus karena orang yang suport di belakang, seperti risetnya,” ujar Asfin.

Sebelum menjadi Direktur LBH Jakarta, ia masih sempat menjabat Koordinator Penanganan Kasus.

Trik Buku Saku

“Semua kasus di LBH berat,” tegas Asfin.

Agar setiap kasus bisa tertangani, LBH membuat prioritas penanganan kasus.

“Kita juga buat buku-buku saku, jadi kalau tidak sempat kita tangani mereka bisa menggunakan buku saku tersebut. Yang kita tangani yang betul-betul yang nuansanya bermuatan politis atau bisa merubah sistem hukum atau bersifat massal. Misalnya penggusuran ribuan orang, atau PHK buruh ratusan orang,” jelas Asfin.

Asfin menilai, pembelajaran hukum yang paling efektif adalah melibatkan korbannya. Cara tersebut diyakini bisa mengontrol pekerjaan pengacara sehingga dia tidak menjadi korban penipuan. “Seperti sekarang banyak korban yang dikibuli pengacaranya,” jujur kata Asfin.

“Kedua, dia bisa belajar memangangi kasus. Kalau dia sudah mahir, dia bisa bantu orang lain. Seperti virus yang menular. Itu juga pemberdayaan buat dia. Kalau ada kronologis dia bisa bikin kronologis sendiri. Kuncinya melibatkan. Tidak membuat pengetahuan hukum itu jadi eksklusif seperti yang telah dilakukan selama ini,” lanjut Asfin.

Ada juga buku saku yang dibuat untuk masalah-masalah perempuan. Termasuk bila harus berhadapan dengan kasus perceraian.

“Di lampiran, kita masukkan berkas gugatan cerai. Mereka tinggal masukin nama dan data-datanya lainya. Pekerjaan itu tidak mungkin dikasih para pengacara komersil pada kliennya karena akan membuang beberapa juta untuk membuat gugatan orang. Pengacaranya rugi dong,” ujar Asfin sambil tertawa lepas.

Definisi Keberhasilan

“LBH sebenarnya tidak hanya menangani kasus tapi juga penyadaran kepada masyarakat,” kata Asfin tentang tugas LBH di masyarakat.

Mulai dari pelatihan, melakukan kajian hukum bila pemerintah membuat kebijakan hukum yang tidak benar, berkampanye, melakukan lobi-lobi dan sebagainya.

Jadi, lanjut Asfin, keberhasilan LBH tidak bisa diukur secara kasat mata. 

“Definisi kami menang bukan dalam arti kasus tersebut selesainya bagaimana. Tetapi juga si orang yang bermasalahan dapat pencerahan nggak, dapat penyadaran hukum nggak, dia sadar nggak posisi dia di negara itu relatif seperti apa, antara pemerintah dan dia sebagai warga negara,” ujar Asfin

“Kita kalau menangani kasus ada yang namanya litigasi, proses pengadilan, dan non litigasi atau nonlit. Yang nonlit itu yang tidak lewat pengadilan, misalnya lewat kampanye, lewat pers, bisa bikin macam-macam aksi seperti aksi damai, dan sebagainya. Tugas LBH sangat banyak,” tandas wanita berkacamata ini.

Aien Hisyam

December 1, 2009 Posted by | Profil Aktivis | Leave a comment