Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Yeane Keet

Jarum Jatuh pun Harus Tahu

Yeane dididik keras oleh Ayahnya, demi kesuksesan. Kalaupun di usia 8 tahun ia harus ‘berpisah’ dengan orangtuanya, itulah bagian dari pelajaran ‘hidup’ yang harus dijalani. Dan ia sangat mensyukuri.

Di usia yang masih muda, Yeane Keet telah memimpin sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan besar milik Ayahnya, PT. Denpoo Mandiri Indonesia Group. Ia dipersiapkan untuk memegang kendali perusahaan yang bergerak di bidang elektronik ini.

Dengan rendah hati, wanita keturunan ini justru lebih suka disebut Sales & Marketing Director, seperti yang tertulis di kartu namanya.

“Itu karena passion saya disitu. Lebih ke dealing penjualan. Jadi mulai dari barang diproduksi sampai barang jadi. Dari hulu ke hilir. Dengan begitu, kita  direspek senior yang sudah lebih dulu di Denpoo, juga dengan karyawan-karyawan lain,’ ujar Yeane, penuh semangat.

Dari tangan dingin Yeane, perusahaan Denpoo memenangi tender pengadaan kompor gas untuk rakyat miskin yang diadakan Kementerian Koperasi dan UKM. Mesin cuci Denpoo juga menjadi pemimpin pasar, versi Gabungan Elektronik Indonesia.

Pisah dengan Keluarga

Keberhasilan Yeane tak lepas dari didikan Ayahnya, Lim Tjen Hong, pemilik Dempoo Group, di masa lalu. Di usianya yang baru 8 tahun, Yeane telah dilepas orangtuanya untuk tinggal dan bersekolah seorang diri di Singapura. Yeane dibesarkan dan tinggal dengan gurunya.

“Di Singapura, guru yang membesarkan saya. Baru liburan saya pulang atau orangtua saya datang. Begitupun waktu ke Amerika, juga sendirian,” kenang Yeane.

Otomatis, Yeane tumbuh menjadi sosok mandiri dan tegas. “Problem-problem harus saya selesaikan sendiri, karena memang tidak ada orangtua. Begitupun dengan figur. Itu saya dapatkan dimana saja. Bahkan, orangtua saya sampai bilang, saya ini orangnya aneh. Positive thinking-nya kebanyakan,” kata Yeane, tertawa lepas.

Anak kecil atau teenager, lanjut Yeane, tergantung dari isinya. “Kalau dia terlau sering diisi negatif-negatif, dia akan negatif. Begitupun sebaliknya. Jadi figur bisa didapat dimana saja. dari guru, dari kakak kelas. Tidak harus dari orangtua,” tutur wanita kelahiran 10 Agustus 1974.

Yeane, bahkan mengucapkan rasa syukur telah diberi pelajaran hidup,  menjadi sosok yang mandiri di usia yang masih belia. “Kalau tidak, saya akan jadi orang yang manja,” ucap Yeane, dengan senyum mengembang.

Barulah lulus kuliah tahun 1996 dari University Of Southern California, California, USA, dengan gelar Bachelor of Industrial Psychology, Yeane pulang ke Indonesia. “Total, saya tinggal di luar negeri 20 tahun. Tapi jangan tanya tentang nasionalisme saya. Jujur, saya sangat nasionalis,” tegas Yeane, tersenyum cerah.

Karir Dari Bawah

Pulang ke Indonesia, tidak serta merta Yeane memperoleh kenikmatan. Ia sempat bekerja di Sinar Mas Group untuk mencari pengalaman kerja. Barulah setelah krisis ekonomi, Yeane ‘ditarik’ untuk bergabung di Denpoo Group. Itu pun, lagi-lagi Yeane tidak langsung menduduki kursi empun. Ia mulai karirnya di bagian administrasi.

‘Memang diharuskan begitu. Intinya, di perusahaan saya, jarum jatuh pun harus tahu. Itu didikan dari Ayah saya,’ kata Yeane.

Di bagian sales marketing, Yeane pun memulai karirnya dari seorang supervisor. Dealing ke satu toko ke toko lain. Dalam sehari, ia bisa mendatangi 5 toko.

“Sampai sekarang pun saya masih terjun ke lapangan. Mereka juga masih kenal saya, karena hubungan baik ini terus terjaga sejak 8-9 tahun yang lalu. Mereka pun tahu, saya orang lapanga, jadi saya lebih enak kalau dealing bisnis,” ungkap Yeane.

Yeane mengakui, kekuatan team work sangatlah penting. “Saya pernah ditegur orang. Kenapa saya yang maju, padahal anak buah yang salah. Saya bilang, kalau anak buah saya yang salah, berarti saya juga yang salah. Saya bilang ke anak buah, kalau kamu jatuh, saya juga jatuh. Jadi, please kamu jangan jatuh, karena kalau jatuh, kita harus sama-sama bangkit,” kata Yeane.

Action Proof Everything

Datang sebagai ‘orang baru’ dengan usia muda, membuat Yeane harus pintar-pintar mengambil keputusan dan bersikap. Maklum saja, perusahaan Ayahnya sudah berusia lebih dari 20 tahun.

Rasa canggung, tentu saja ada. “Tapi saya bukan ke arah saya adalah anak yang punya, tapi lebih ke arah, ‘menurut bapak bagaimana? kalau saya begini. Mari kita kompromikan.’ Saya juga lebih ke action proof everything. Daripada saya ngomong, saya kerjain dulu. Selanjutnya saya kasih tunjuk kalau hasilnya lebih bagus. Lama-lama kerjasama jadi lebih enak. Itu semua bisa dibuktikan oleh waktu dan hasil. Dari situ lah mereka bisa respek,” ujar Yeane.

Untungnya, lanjut Yeane, para senior di perusahaannya, senang akan perubahan. “Apalagi industri tahun depan harus berubah karena ada free trade ASEAN-China. Industri itu salah satu peluang kerja. Disini kita menyerap sumbar daya manusia paling banyak. Kalau pemerintah tidak melindungi industri kita, yang dirugikan siapa? Ya, masyarakatnya sendiri,” ungkap Yeane panjang lebar.

Rasa cinta pada tanah air, ditambah kepedulian Yeane yang besar akan industri dalam negeri, membuat wanita ini bergabung di banyak forum komunikasi di perdagangan. Diantaranya di KADIN menjadi Wakil Ketua Komite Tetap Inovasi dan Produktivitas,  pengurus di GABEL (Electronic Association of Indonesia), serta di Association of Gas Cookers.

“Sayang kalau kita hanya memikirkan untuk indutri kita sendiri. Kita punya pemikiran untuk improve. Aspirasi-aspirasi ini harus disalurkan ke asosiasi. Untuk memperbaiki industri, kalau tidak ada orang yang ngurus, trus bagaimana.

Capek, ya capek juga. Rasanya tidak enak juga kalau punya pemikiran tapi tidak disalurkan. Itu memang harus ada passion dan nasionalis yang tinggi,” ungkap Yeane.

Lagi-lagi, wanita yang senang mengenakan baju batik mengatakan, “itu karena saya sangat cinta Indonesia.”

Aien Hisyam

December 22, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 1 Comment

Dewi Yogo Pratomo

Gaya Hidup Hipnosis


Ingin berbuat lebih banyak, Dewi pun mendirikan Club Hypnosis Sehati. Ternyata, baru setahun lebih, CHS sudah melakukan 118 bakti sosial. Bulan ini, ia pun siap melakukan kegiatan besar, yang kelak akan dimasukkan dalam rekor MURI.


Ada canda ada pula keseriusan. Namun, suasana di dalam ruangan berhawa dingin itu, terbangun dengan sendirinya. Semua orang seolah terbawa ke alam lain, yang tercipta dengan ‘nyata’. Dewi, telah membawa dunia lain pada sugesti orang-orang di depannya. Sebuah dunia yang penuh ketenangan.

“Itulah hipnosis,” katanya, usai membuka kesadaran. Ia baru saja menyelesaikan mantra-mantranya. Di depan Dewi, beberapa wanita berusaha menghapus air mata. Yang lainnya, hanya duduk tercenung.

Dihipnosis, memang jadi satu sesi yang paling ditunggu peserta workshop hynotherapy. Ada rasa ingin tahu, bagaimana berada dalam satu keadaan, yang selama ini hanya menjadi pikiran, keinginan, hingga ketakutan dalam hidup mereka.

“Di dalam kehidupan negara-negara maju, hipnoterapi sudah bukan untuk orang sakit saja. Hipnoterapi sudah menjadi gaya hidup. Contohnya, Michael Schumacher, Steffi Graf, Vanessa William, hingga politisi, artis seperti Madonna, Tom Cruise dan banyak lagi, mereka punya terapis. Ada waktu satu hari, 2 X 45 menit hanya untuk di hipno. Bagaimana mereka memperbaiki perilaku supaya bisa the winning dalam mind set,” terang Dewi.

Dalam wadah Club Hypnosis Sehati yang didirikan Dewi satu setengah tahun silam, Hipnosis memiliki warna yang berbeda. Tidak lagi berbau mistik –seperti anggapan banyak orang-, justru menjadi kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.

Trauma Berkurang

Menjadi terapis hipnoterapi, bukanlah suatu kebetulan bagi wanita aktif bernama lengkap Dewi Yogo Pratomo. Bermula ketika ia kuliah di University of Maryland. Dewi memilih memperdalam dua bidang sekaligus, Keuangan dan Psikologi Industri. Lulus S1, wanita ini meneruskan pendidikannya dengan memperdalam Psikologi Perilaku Manusia (Human Behaviour), yang merupakan perpotongan disiplin ilmu Psikologi Industri dan Psikologi Murni Klinis.

Sampai suatu hari, Dewi bertemu dengan seorang profesor di Maryland yang memperkenalkan dunia hipnoterapi padanya.

“Saya juga beberapa kali jadi kelinci percobaan. Saya menemukan inside, setelah di regresi, trauma-trauma itu sudah mulai berkurang, aku mendapatkan pencerahan disitu. Aku merasakan ilmu ini bisa dijadikan suatu alat di profesiku. Kebetulan aku konsultan Sumber Daya Manusia,’ ujar Dewi.

Dewi mengakui bahwa dirinya juga pernah mengalami turbulensi dalam hidupnya. Dan saat itu dengan ilmu hipnoterapi yang telah ia kuasai, Dewi mampu bangkit kembali. Merasa tertolong dengan ilmu tersebut, Dewi yakin dia bisa membantu banyak orang. Inilah yang ia sebut multiplier effect. Membuat ia juga ingin menolong orang lain dalam memberdayakan batinnya, membuat orang menjadi produktif.

“Sebenarnya, dulu sudah banyak profesor dan psikiater yang menggunakan metode ini. Tetapi masih belum populer seperti sekarang. Dulu ilmu ini masih masuk grey area, apakah itu scientific atau tradisional. Kesininya baru bisa dijabarkan masuk ke dalam scientific dan bisa dicerna serta ada kaitannya dengan ilmu- ilmu medis,” ujar Dewi.

Banyak Cobaan Hidup

Sepulang dari Amerika, tahun 1987, Dewi bekerja di perusahaan pengeboran minyak di lepas pantai. Banyak sekali masalah yang dihadapi karyawan, dan segera butuh solusi.

‘Ternyata setelah memakai hipnoterapi ini, kita menasehatinya jadi seperti jalan tol. Resistensinya lebih sedikit, dan kita bisa merubah perilaku orang itu. Cara ini sangat efisien,” kata wanita kelahiran 10 Maret 1964, bersemangat.

Hipnosis, kata Dewi, sangat bermanfaat, efektif dan efisien digunakan orang. Dari atasan yang menasehati bawahannya, orangtua pada anak, hingga suami pada istrinya.

Sampai suatu hari suami Dewi memberikan pilihan hidup yang cukup berat. Tetap bekerja menjadi konsultan yang dalam 12 bulan hanya 4 bulan berada di rumah, atau berheti bekerja.

‘Jadi aku harus memprioritaskan hidup. Padahal aku tidak bisa nganggur. Di dalam pertapaanku, timbulah nuansa-nuansa, apa kegiatan yang bisa bermanfaat denan orang lain tanpa mengorbankan keluarga. Maka munculah praktek itu,’ kata Dewi.

Di rumahnya di kawasan elit Menteng, Dewi membuka klinik hipnoterapi yang ia beri nama ‘Cendana 4A’. Sayangnya, ijin praktek sulit keluar karena klinik Dewi berada di daerah pemukiman. Barulah pertengahan 2007 ia resmi membuka kantor dan klinik di Menara Kebon Sirih.

“Klien, ternyata terus bertambah. Ternyata, orang sudah mulai mengenal ilmu ini dengan baik,” kata Dewi.

Meski dibuka untuk umum, Dewi tetap memprioritaskan melakukan pengobatan untuk ibu, anak dan keluarga.

“Ada tiga hal yang dibutuhkan dalam hipnoterapi ini. Yang pertama harus ada hubungan timbal balik antara terapis dan pasien, paling tidak pasien harus percaya 100 persen dengan terapisnya. Yang kedua, pasien harus sadar kalau terapi ini jadi satu kebutuhan. Yang terakhir, pasien harus ada keinginan untuk berubah. Ini menjamin efektifitas hipnoterapi,’ terang Dewi.

Bakti Sosial 118 Kali

Melalui Club Hypnosis Sehati, Dewi ingin berbuat lebih banyak. Dengan rendah hati, Dewi mengatakan bahwa CHS lebih banyak melakukan kegiatan bakti sosial. Dalam satu setengah tahun, sejak CHS berdiri, Dewi beserta teman-temannya telah melakiuan 118 kali bakti sosial.

‘Baksos kita ini berbeda dengan baksos-baksos lainnya. Simpelnya, kita datang, peserta kita dudukkan, lalu kita hipno. Kalau anak-anak sekolah, manfaatnya bisa gampang menghafal sampai gampang belajar. Nilai-nilai rapotnya ternyata mengalami kenaikan yang siginifikan. Kalau ibu-ibu dhuafa, kita sugestikan untuk sehat dan tegar menjalani hidup. Lain lagi kalau panti wreda, kita pakai musik hipnonya agar jiwanya tenang,” jelas Dewi.

Selain menghipnosis, CHS yang beranggotakan lebih dari 100 orang ini, juga memberi santunan uang atau sembako, kesehatan atau pengobatan gratis, juga hiburan gratis.

“Pernah. Mereka kita ajak nonton di Mega Blitz rama-ramai. Seru banget deh,” ujar Dewi, senang.

Hypnobirthing Massal


CHS akan membuat gebrakan dalam memperingati Hari Ibu di bulan Desember ini.

“Awalnya, kita mau melakukan hipno massal pemecahan rekor MURI. Kita mau menghipnotis 2000 orang. Sayangnya setelah kita pikirkan matang-matang, kegiatan ini tidak efektif. Akhirnya kita ubah, bagaimana kalau kualitas kita tingkatkan tapi jumlah kita kurangi. Apalagi berkaitan dengan Hari Ibu. Lantas, kita spesifikan pada ibu hamil,” ujar Dewi.

Lantas, apa itu hypnobirthing?

“Ini satu proses pra persalinan untuk bisa menenangkan para ibu hamil menghilangkan rasa sakit saat si ibu persalinan. Lalu kita memperkenalkan rasa sakit itu apa, dan bagaimana memerangi rasa takut,” terang Dewi

Pada saat para ibu hamil ini di hipnosis, “mereka aku bawa ke proses persalinan. Aku giring mereka ke visualisasi yang mendekati aktual, pada saat mereka masuk ke ruang persalinan, pada saat operasi, ketemu dokternya. Dengan begitu, kita sudah melatih mental mereka hingga pada saat persalinan nanti, perasaan itu bukan jadi hal baru.’

“Kita sudah lakukan penelitian testimoni ke beberapa ibu yang telah di hipnoterapi saat hamil. Pada saat melahirkan mereka memang jauh lebih tenang, lebih fokus dan rasa sakitnya tidak terasa. Itulah keajaiban Tuhan yang ada di mind set orang,” lanjut Dewi, bersemangat.

Aien Hisyam

December 15, 2009 Posted by | Profil Motivator, Profil Pekerja Sosial, Profil Psikolog, Profil Wanita | 29 Comments

Deby Susanti Vinski

Tak Ingin Ada Stroke Kedua

 

Banyak ‘dunia’ dipijaki Deby. Namun ia tetap fokus dan profesional. Hasilnya pun memuaskan. Deby sukses berkarir dan berumah tangga.

 

Deby Vinski memang lebih mirip model ketimbang dokter. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing dan segar.

“Saya dulu suka dipanggil. Karena saya suka dandan. Pernah di tanya, kamu ini mau jadi dokter atau pragawati. Saya bilang dua-duanya,” kata Deby, tertawa lepas.

Deby membuktikan. Di usianya yang sudah 40 tahun, Deby masih terlihat cantik dan bugar. Tak hanya itu. Deby pun aktif menjadi Director of Perfect Anti Aging Clinic, owner franchise President of Institute of Aethetics & Anti Aging Medicine (IAAM) dan Public Relation Indonesia Anti-Aging Society (PASTI/ PERPASTI).

Di kegiatan lain, Deby masih memimpin PT Eradunia Internasonal sebagai Chief Executive Officer, menjadi President-Director Perfect Model & Image, dan owner sekaligus specialist practitioner ‘Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic’.

Ketika Stroke Menyerang

Pengalaman pahit, menjadi alasan Deby terjun menjadi dokter, dan akhirnya mengambil spesialisi anti aging.

“Ibuku dulu sering sakit. Setiap punya anak, pasti dirawat. Saya pikir kenapa  saya tidak jadi dokter, bisa nolong banyak orang.  Itu pikiran saya waktu masih kecil.  Ya itu, Karena dulu lihat ibu kalau hamil pendarahan, melahirkan juga pendarahan,” kenang Deby.

Anak sulung dari empat bersaudara ini kian termotivasi ketika Bapak terkena stroke tahun 2000-an.

“Saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Karena Ayah tidak tidak mau diperiksa kesehatannya. Padahal saya dokter, dan ibu saya mau diperiksa. Tapi kalau Ayah, selalu menunggu dan terus menunggu. Dia juga perokok. Dan suatu hari, tiba-tiba bibirnya miring dan separuh tangannya kena stroke.” Suara Deby terdengar sedih.

Ia tak ingin kenangan pahit terulang lagi. Sebelumnya, nenek Deby meninggal karena stroke.

Saat itu, Deby baru kuliah tingkat 3 Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, Makasar “Nenek stroke sampai tiga kali, dan meninggal. Padahal dia ditangani dokter-dokter profesional dari bagian internis dan neurologi. Bukan karena salah dokternya, tapi memang karena ilmunya cuma sampai disitu. Itu yang dikatakan teman-teman saya di Paris,” ujar Deby, sedih.

“Saya tidak ingin terjadi hal yang sama dengan Oma saya. Saya harus berbuat daripada saya hanya duduk-duduk saya. Stroke itu tidak bisa didiamkan. Jangan hanya berharap,” kata Deby.

Berangkat dari pengalaman itu, Deby akhirnya mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Anti Aging. Sebuah ilmu yang tergolong baru, karena baru popular sekitar tahun 1985.

 Belajar Anti Aging

“Kenapa kita belajar Anti Aging? Di kelas saya ada beberapa profesor di internis, mereka kuliah lagi untuk memperdalam anti aging. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang mereka mulai menerapkan anti aging,” ujar wanita yang tengah kuliah lagi di Perancis.

Deby mencontohkan, ketika seseorang mulai terserang livernya. “Kalau di kasih obat terus, ternyata sel livernya tidak bisa terima karena sudah tua, kan tidak banyak efeknya. Padahal, sel itu bisa diperbaharui, dan orang ternyata tidak kepikir. Padahal, itulah anti aging, yaitu memperbaharui sel,” terang Deby.

Ibu satu anak ini kian gemas ketika masyarakat salah kaprah. 

“Berapapun umur kamu, tensi darah kita harus dibatas normal. Jangan karena sudah tua, tidak apa-apa tensi 160,” ujar Deby.

Ternyata, lanjut Deby, kita bisa memilih mau sakit apa. “Mau sakit jantung, liver dan sebagainya. Kalau kita mau mati karena stroke, ya kita makan aja seenaknya, yang berlemak-lemak dan makanan tidak sehat. Hidup ini kita yang pilih kok.

Setelah mempelajari anti aging, dan membuka klinik, Deby bisa bernafas lega. Ayahnya terbebaskan dari stroke.

“Ayah jadi bisa nyetir sendiri, bisa terbang kemana-mana seperti bussines man,” kata Deby, senang.

Bahkan dari 58 pasien yang berobat dengannya. “Semua terbukti tidak pernah kena stroke untuk kedua kalinya. Dan sekarang segar bugar,” kata Deby, bangga.

 Aktif Sejak SMA

Belajar hal-hal baru menjadi keasyikan Deby sejak sekolah.

“Waktu kuliah saya senang dance. Rata-rata yang ikut dari fakultas Hukum dan Ekonomi, saya sendirian yang dari Kedokteran. Dan waktu itu saya sering dikirim ke luar negeri. Biasanya pas acara pertukaran budaya. Pernah ke beberapa negara Asia. Mewakili Indonesia dari Dinas Pariwisata. Dan saya juga sering ikut pemilihan-pemilihan model,” cerita Deby, senang.

Masih di bangku kuliah, Deby yang cantik dan lembut, juga aktif mengikuti kegiatan menyelam.

“Bahkan, saya jadi instruktur scuba diving saat kuliah. Padahal itu olah raga berat dan bahaya. Saya tebiasa menyelam sampai kedalaman 120 –140 feet,” terang Deby, bangga.

Bahkan, Deby sempat menjadi model di sebuah produksi film negara

“Saya ketemu suami saya saat pembuatan film tersebut. Itu film tentang laut. Bekerjasama dengan NHK Jepang. Mereka cari model yang bisa nyelam tidak banyak. Akhirnya jalan-jalan pakai baju renang dan baju selam. Memang syutingnya di laut. Dulu sih tidak merasa seksi. Mungkin lebih sporty. Padahal badan justru lebih bagus sekarang. Dulu nomor celana jeans 28-29, sekarang 26-27. Jadi dulu lebih padat dan montok,” Deby pun tertawa lepas.

Deby juga pernah mengambil cuti akademis untuk mendirikan perusahaan.

“Waktu itu tingkat 4. Saya bikin Eradunia Group, sampai sekarang masih ada. Salah satu proyek yang baru kita kerjaan yaitu bikin IT system untuk gedung MPR/DPR. Nah, saya awali perusahaan ini dari saya dari tingkat 4. Sahamku 99%,” jelas Deby.

Darah bisnis, kata Deby, mengalir dari Ayahnya yang juga pengusaha.

“Saya berasal dari keluarga yang orang tuanya jatuh dan bangun. Kita pernah punya pembantu 8 orang, tap kita pernah tidak punya pembantu. Hidup seperti roda. Dan hidup itu yang saya pelajari. Disaat saya bisa memberi pekerjaan sama orang, itu saya lakoni. Prinsip saya itu,” kata Deby.

“Justru waktu saya belum muncul debagai dokter, waktu Ayah saya kena stroke, saya lebih sering muncul di majalh SWA untuk bisnis,” ujar Deby, mantap.

 Rektor Termuda

Tahun 2001, Deby menjadi Rektor Sedaya International University. Sayangnya, pusat pendidikan yang dirintis Deby ini tak bisa berjalan lama.

“Ada masalah intern dan masalah dengan government. Dulu saya sudah menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris,” kata Deby. Kini Deby masih menjabat Wakil Presiden Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se DKI.

Deby gemas. Ia merasa sudah saatnya perguruan tinggi di Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar saat kuliah.

“Supaya pelajar kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri. Makanya saya membuat Putri Kampus supaya menjual education kita ke luar negeri. Kita tidak boleh berpikir di dalam tempurung saja. Nanti kita ketinggalan,” kata Deby.

Meski sempat kecewa dan pernah menjadi Rektor termuda, Deby masih punya semangat untuk terus berkarya.

“Saya lagi bikin buku tips kecantikan. Saya ingin orang paham bahwa investasi kesehatan harus dimulai dari sekarang. Kita jaga makanan dan berolah raga agar nanti tua, kita bisa menikmatinya,” ujar Deby menasehati.

 Motivasi Karena Sakit Hati

Deby yang lembut, selalu ingin berbagi dan membuat hidup orang lain berharga.

“Karena saya pernah sakit hati,” kata Deby.

Peristiwa tak mengenakkan itu terjadi ketika Deby masih kuliah.

“Waktu itu saya masih mahasiswa, saya juga masih aktif scuba diving. Saya demam tinggi, padahal kita tidak boleh berobat ke dokter umum. Saya bilang, ‘dok saya sakit, demam tinggi. Bisa nggak ya telinga saya.’ Aturannya di kedokteran, kalau sakit telinga harus diobati di THT,” kenang Deby.

Namun, Deby sengat terkejut.

“Dokter itu langsung jawab, ‘enggak, saya sudah di jemput!’ Padahal satu jam setelah itu dia duduk dengan kaki di atas meja, nonton tivi. Soalnya saya lagi praktek di radiologi di dekat situ. Hati saya sedih sekali. Padahal dia tinggal lihat saja,” kenang Deby, kesal.

Deby belajar, bahwa ia tidak akan jadi dokter seperti itu. Dan sampai hari ini, Deby akan melayani setiap pasien yang datang.

Dan dunia berputar. “Ternyata, dia, dokter itu, melamar di salah satu bagian, dan profesor bagian saya tanya, ‘Deb,ada yang ngelamar dari Sam Ratulangi. Kamu kenal nggak?’ Saya kaget sekali.”

“Itu kejadian yang tak pernah saya lupakan. Saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu. Seperti waktu saya praktek di hotel. Pasien saya dari tukang masak sampai GM. Saya memperlakukan pasien seperti saya ingin diperlakukan. Sedih kalau kita lagi sakit. Nggak enak sekali rasanya,” ujar Deby, mantap.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pendidik, Profil Pengusaha | 5 Comments

Sitta Sudiro

Hidup Itu Adalah Harapan

 

Ia perempuan pertama di Indonesia yang menjalankan bisnis jasa security. Keinginannya cuma satu, yaitu melihat hidup orang lain semakin baik.

 

Satu hari, Sitta didatangi pegawainya, seorang security.

 “Dia bawa tas, isinya uang 250 juta rupiah,” cerita Sitta.

Rupanya, pria bertubuh sedang itu baru saja menjaga salah satu town house di kawasan Bangka. Dan tas itu terjatuh dari mobil.

“Dia buka untuk tahu alamatnya. Akhirnya di kembalikan ke orangnya. Si Ibunya senang dan dikasihlah orang ini uang 200 ribu,” lanjut Sitta.

Pada tiap karyawannya, Sitta selalu mengajak untuk bersyukur. “Saya bilang, bersyukur saja dulu. Kamu lihat saja nanti hadiahnya, mungkin tidak dari manusia tetapi dari Allah. Dan itu saya tekankan.”

Satu minggu kemudian, pegawainya ini datang lagi. Ia dan motornya baru saja ditabrak mobil yang mundur. Dan oleh si penabrak yang pemiliki toko handphone, ia diberi handphone bagus, uang, dan diperbaiki motornya.

“Saya bilang, itulah hadiahnya. Selain kamu dapat hadiah dari kantor kamu akan dapat hadiah dari Tuhan. Dan ternyata, esoknya, pegawai saya ini diterima di AKABRI,” ungkap Sitta, senang.

Berkah Promotor Tinju

Sitta dikenal dekat dengan pegawainya, meski ia President Directot PT Sakti Bina Interindo (SBI), perusahaan jasa keamanan yang berdiri tahun 2003.

Melalui bisnisnya, Sitta ingin memberikan rasa aman dan nyaman pada para klien. Sementara di dalam perusahaan, ia pun memberikan rasa itu.

“Alasan khusus, mungkin sambil berjalan saja. Dan lagi, waktu pertama mendirikan, kita tidak punya tujuan apa-apa,” ungkap Sita sambil tersenyum.

Sitta teringat, ketika pertama kali ia dimintai tolong pengacara Todung Mulya Lubis. “Waktu itu Mas Todung bilang tolong carikan bodyguard untuk klien-kliennya. Saya justru tanya, bagaimana kalau perusahaanku yang tekel. Mas Todung bilang terserah saja.”

Sitta beruntung. Bertahun-tahun ia pernah menjadi promotor tinju. Banyak mantan petinju yang sudah tidak bertarung lagi.

“Saya telepon mereka dan kasih kasih kerjaan. Ternyata mereka senang,” ujar Sitta, senang.

Saat itulah, tercetus keinginan Sitta mendirikan perusahaan jasa keamanan. Permintaan juga mulai berdatangan, salah satunya dari perusahaan pertambangan batubara milik Abu Rizal Bakrie di Kalimantan Selatan. 

“Kita ambil beberapa orang mantan-mantan petinju dan atlit kickboxing. Mereka sudah pada tua-tua untuk jadi atlit tinju. Nah, karena ada permintaan bodyguard, bisa lah mereka dipakai,” ujar Sitta.

Selama 4 tahun Sitta mondar-mandir ke Kalimantan. Ia tak hanya melatih orang-orangnya yang dibawa dari Jakarta, namun juga orang-orang lokal.

“Kerjaannya berat. Memang agak repot waktu disana. Ada yang sampai patah. Medannya berat sekali. Karena sering gonta ganti personil, akhirnya kita mulai didik orang-orang setempat dan kita ajari,” ujar Sitta.

Tren Bodyguard

‘Pulang’ ke Jakarta, Sitta fokus membesarkan perusahaannya.

“Saya ngobrol dengan beberapa teman pengusaha. Ada yang dari bank, finance, dan sebagainya. Dari pengusaha yang masih nol, sampai pengusaha yang sudah jadi,” kata Sitta.

Ditambah lagi, teman-temannya ini mengatakan bahwa bisnis pengamanan sedang dibutuhkan. Sitta kian mantap.

“Saya lihat, bisnis ini jadi satu kebutuhan. Apakah itu pengusaha, pengacara, atau kliennya pengacara dan sebagainya. Apakah itu perempuan atau laki-laki. Disaat-saat tertentu, dan tidak ada siapa-siapa, dan disitu ada kejadian, disitulah dia butuh,” ujar Sitta.

Sitta juga ingat ketika seorang teman berkata bahwa dulu orang masih bisa punya pistol. Sekarang, pistol sudah ‘digudangi’ semua.

“Kita tanpa pistol, memang ada Tuhan yang menjaga kita, tetapi kalau mau bicara amannya lagi, siapa yang kita mintai tolong,” tutur Sitta.

Khusus untuk klien perempuan, Sitta menyediakan pilihan bodyguard perempuan. “Pernah ada Ibu menteri yang minta saya bodyguard perempuan loh,” kata Sitta, senang.

Kalau bodyguardnya laki-laki, lanjut Sitta, “kan sungkan kalau mau ke wc, atau kalau sepatunya haknya copot. Nah, kalau bodyguardnya perempuan mau nggak mau dia lebih mudah masuk kemana. Ada banyak hal dimana kita lebih leluasa kalau perempuan.”

Ia miris melihat peristiwa Dewi Persik yang mengalami pelecehan seksual. “Mungkin, karena itu pula banyak artis yang sekarang minta jasa bodyguard sama saya,” ujar Sitta sambil tersenyum.

Pikirkan Perut

Meski sudah memiliki lebih dari 300 pegawai security, Sitta berharap tidak berhenti memberi kesempatan pada orang lain untuk bekerja di tempatnya.

“Dulu uwak saya pernah bilang, “Sit, hati-hati akan ada 20 juta orang penganggur di Indonesia. Akan ada banyak kriminalitas.” dan itu benar. Mau dikemanakan ini orang-orang?” suara Sitta terdengar tegas.

Sitta tak ingin menutup mata.

Dan ketika ia kedatangan pemuda-pemuda pengangguran, Sitta berusaha tidak menolak. “Mau dikemanain ini orang. Karena badannya kurus saya tanya, kamu security atau narkoba. “Security Bu, tapi 8 tahun tidak kerja.” Akhirnya kita yang carikan kerjakan,” ujar Sitta, terharu.

Kata Sitta, jangan bicara keuntungan.

“Kita pikirkan perut saja. Bantu orang. Rejeki akan darimana saja. Kalau mau bicara uang bermilyar-milar, jangan di perusahaan seperti ini. Yang terpenting tampung saja. Bukan dari perusahaan saya atau bukan dari si klien, tapi dari Allah,” kata Sitta dengan suara mantap.

“Pada setiap pegawai, saya selalu tanya. Apa kamu punya motor? Kalau tidak, segera beli motor. Saya selalu bilang, mereka harus punya sesuatu dari pekerjaan ini walaupun dengan penghasilan yang pas-pasan. Paling tidak motor. Kalau kerjanya bagus dan terus berkembang, siapa tahu segera punya rumah yang sederhana,” ucap Sitta.

Kata Sitta, ia selalu memberikan harapan.

“Saya bilang, ‘kamu jangan terus-terusan jadi security’. Kita ada jenjang yang lebih baik. Mungkin jadi koordinator, atau ditarik ke kantor. Atau kalau kliennya suka terus jadi ajudannya. Hidup itu adalah harapan,” tegas Sitta.

 Sitta tersenyum, ketika ditanya, sejak kapan rasa peduli itu ada.

“Saya selalu bermain naluri. Sampai ibu saya pernah bilang, “Sit, kalau kamu punya rumah dan orang lain minta, pasti kamu kasih”. Memang benar, saya tidak tahan lihat orang susah,” ujar Sitta.

“Alhamdulillah hidup saya tidak pernah susah. Kuncinya, cukup saja kita selau memberi. Jangan berharap akan kembali. Setiap orang datang ke saya minta pekerjaan, saya tampung dan saya minta dia berdoa supaya jalan saya mencarikan mereka rejeki semakin mudah,” lanjut Sitta, teduh.

Kehebatan Keluarga

Meski hatinya kerap tersentuh akan nasib orang, Sitta mengaku sosok yang tahan banting.

“Itu karena didikan,” katanya, sambil tertawa.

Dahulu, Sitta merawang ke masa lalu, “ibu saya kalau lihat saya nangis, selalu bilang, ‘baru begitu saja sudah nangis. Tahan air matamu.’ Ibu keras. Mungkin juga karena kakek saya kan matinya di tembak Belanda. kakek  ditembak karena tidak mau kasih tahu kempat peresmbunyian tentara-tentara Indonesia. Karena disana ada anak-anaknya yang jadi tentara. Salah satunya uwak-uwak saya,” kenang sulung dari bersaudara, keponakan Jenderal TNI (Purn) Herman Sudiro.

Dari didikan-didikan itulah Sitta menjadi kuat. Ditambah lagi, Sitta tumbuh dan besar di lingkunga keluarga militer.

“Saya juga dibesarkan di rumah uwak saya, Pak Herman. Saya liat bangun pagi ada tank-tank di depan rumah. Ada tentaranya yang salah di marahin dan dihukum push up. Juga terbiasa lihat panser-panser kalau pagi di panasin,” ujar Sitta.

Selain di rumah Herman, Sitta juga hidup berpindah-pindah. Kondisi yang harus diterima karena Bapaknya yang bekerja di perusahaan asing harus bolak-balik ke Sulawesi.

“Sebentar di uwak sini, besok di uwak mana lagi. Pindah-pindah. Saya ini digaulin saya sama ibu saya sejak kecil. Digaulin sama sepupu-sepupu. Jadi akhirnya kita terbiasa dengan kehidupan yang berbeda-beda di luar rumah. Banyak sekali perbedaan. Kebetulan semua kumpul di Jakarta,” kata Sitta, senang.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pengusaha, Profil Wanita | 2 Comments

Amaranila Lalita Drijono

Keseimbangan Seutuhnya

 

           

One-stop female clinic menjadi satu layanan yang dibutuhkan tiap perempuan. Nila memahami betul kebutuhan tersebut.

 

Amaranila gemas. Ia menyadari, perempuan kerap menomortigakan kesehatan pribadinya, terutama bila ia telah menikah.

“Anak sakit, ibunya yang merawat. Suami sakit, istrinya yang merawat. Ibu sakit, siapa yang peduli kalau tidak dirinya sendiri,” ujar Amaranila CEO Puan Jakarta Boutique Clinic.

Kegelisahan di hati, membuat Nila, panggilannya, mantap mendirikan Puan Clinic. Ia ingin memberikan layanan untuk tiap perempuan, mulai dari urusan kandungan hingga kulit dan kecantikan.

 

Kearifan Lokal

Nila, fasih berbicara kesehatan. Ia jalani pendidikan kedoterannya di Universitas Indonesia. Termasuk melanjutkan Spesialis Kulit dan Kelamin di tempat yang sama.

  Keinginan memberikan layanan kesehatan maksimal, membuat Nila tertegun ketika ia singgah di San Fransisco dan London. Di dua tempat ini, ia mengunjungi klinik-klinik khusus perempuan.

“Sangat professional,” ungkap Nila, kagum.

Dalam hati, Nila bertanya, “kenapa di Indonesia tidak ada klinik seperti itu? Bukankah masyarakat Indonesia menginginkan pelayanan profesinal. Ini akan menjadi pasar yang potensial.”

Pulang ke Indonesia, Nila bertekad membuat klinik sejenis. Satu tempat yang menjadi rumah kedua bagi para perempuan. Yang tidak sekedar memberi pelayanan kesehatan, tapi juga menjadi pusat edukasi dan perawatan kecantikan.

“Edukasi bagi wanita Indonesia agar senantiasa memperhatikan kearifan lokal bangsanya,” ujar Nila.

Nila mencontohkan tradisi wanita jaman dulu yang memakai bedak dingin untuk perawatan kulit di Indonesia. Sesuai dengan kondisi alam tropis Indonesia yang panas dan lembab.

“Sekarang lagi tren pakai produk pemutih. Hampir tiap perempuan Indonesia ingin kulitnya putih, jadi ramai-ramai pakai pemutih. Setelah pakai produk itu, saya justru sering mendapat pasien yang terkena efek sampingya,” kata Nila.

Agar edukasi itu sampai ke sasarannya, Nila mendirikan Puan Jakarta Boutique Clinic di akhir tahun 2003.

 

Kunci Sukses Database

Nila tahu, perempuan malas ke rumah sakit karena tidak mau waktunya terbuang percuma untuk mengantre, takut divonis sakit, dan ngeri melihat alat-alat kedokteran yang tidak akrab di hati.

Ketika mendirikan Puan Clinic, Nila berusaha memenuhi semua keinginan pasien perempuannya.

“Agar tidak antre, kita menerapkan konsep by appointment. Jadi kunci suksesnya ada pada database pasien,” ujar Nila.

Kalaupun pasiennya langsung datang, “tetap kita layani selama ada dokter yang bertugas saat itu. Tiap pasien yang datang mendapat layanan personal,” ujar Nila.

One by one yang diterapkan Puan Clinic membuat klinik perpegang kuat pada database pasien, berisi semua data pasien mulai dari nama, pekerjaan, medical record, hobi sampai minuman favorit.

Pentingnya database juga dirasakan saat pemberikan layanan kesehatan. Dokter akan memberikan edukasi yang dibutuhkan pasiennya.

“Pasien akan tahu, perawatan apa yang ia butuhkan,” ujar Nila.

Untuk memenuhi semua kebutuhan pasiennya, Nila menyediakan beragam fasilitas kesehatan, mulai dari dokter ahli gizi, kebugaran, ahli saraf, penyakit dalam, psikiatri dan psikologi medis, bedah plastik, akupunktur, psychopuncture, naturopathy, gigi, pap smear, hingga general check up untuk kesehatan perempuan.

“Jangan bayangkan ruangan yang seram seperti di rumah sakit. Seluruh desain interior ruangan di klinik ini dibuat homy. Pada saat konsultasi, pasien harus dibuat rileks. Karenanya kita taruh sofa agar suasana lebih kekeluargaan,” terang wanita kelahiran Jakarta 10 September 1962.

 

Menari Untuk Keseimbangan

Di kala longgar, Nila sempatkan waktunya berlatih menari. Katanya, menari adalah bagian dari olah tubuh untuk mengatasi masalah osteoporosis.

“Gerakan-gerakan tari yang luwes dan lentur itu seperti stretching. Ada juga nilai aerobiknya yang baik untuk kardiovaskuler. Dan paling utama, menari itu sangat baik untuk kekuatan tulan,” ujar Nila.

Nila luwes menggerakkan badannya menari tarian klasik jawa, seperti tari Bedoyo, Golek, dan Sarikusumo. Ia mulai mencintai tari sejak SD. Kini ia bergabung di Sanggar Tari Sumber Cipta pimpinan Farida Oetojo. Dan ketika waktunya sedikit lebih longgar, ia sempatkan bermeditasi ala yoga.

“Hidup harus seimbang,” ujar Nila memaknai hidup.

Menurut Nila, pemahaman mendasar tentang ke-Tuhanan, kemanusiaan, dan budaya penting sekali diajarkan dalam keluarga. Khususnya bagi pendidikan dasar anak.

Kalau nilai budaya ia tanamkan lewat tarian jawa –suami dan dua anak Nila ikut menari jawa -, khusus untuk nilai ke-Tuhanan ia tanamkan sehari-hari di dalam rumah juga melalui pengajaran di sekolah. Begitupun dengan nilai kemanusiaan.

“Sekarang saya sedang membantu program kampanye gizi seimbang dan makanan sehat di sekolah-sekolah. Launching-nya bulan Agustus di sekolah Al-Izhar. Kita ingin program ini ditiru di sekolah-sekolah lain,” kata Nila yang dua anak perempuannya bersekolah di Al-Izhar.

Nila berharap, kelak anak-anak bisa memilih makanan sehat untuk dirinya sendiri. “Bisa melalui edukasi, pemberian makanan di sekolah, juga melalui cooking class.”

Meski kegiatan tersebut menyita pikiran dan tenaganya, Nila senang-senang saja. “Itulah keseimbangan. Disaat kita sudah sibuk oleh pekerjaan kantor, di sisa waktu yang lain, kita harus seimbangkan dengan kegiatan lain, untuk diri sendiri, kemanusiaan, dan ke-Tuhanan,” ujar Nila.

Aien Hisyam

December 8, 2009 Posted by | Profil Pakar Kecantikan, Profil Pengusaha | 2 Comments

Irene F Mongkar

“Saya toh Sudah Bisa Lihat Ujungnya”

Irene rela meninggalkan kenyamanan hidup, demi ketenangan jiwa. Ia bangun perpustakaan di kampung-kampung, dan membantu anak-anak cidera otak.

Di ujung telepon, Irene menyebutkan satu nama yang ia inginkan. Sebuah kantor, yang jauh dari kebisingan, meski berada di tengah kota. “Saya sudah tidak di gedung TIRA, mbak,” katanya, dengan suara riang.

Tentu saja, jawaban spontan itu menjadi tanda tanya. ”Ceritanya panjang,” sesaat Irene tertawa dengan suara khasnya, ”nanti saja kalau kita ketemu. Sekarang saya punya kegiatan lain yang lebih seru.”

Tahun silam, Irene meletakkan jabatannya sebagai General Manager di Tira Pustaka. Irene kini lebih memilih menjadi ‘pekerja sosial’, dan membantu anak-anak cidera otak.

“Sudah cukup sampai disini. Sejak dulu, saya sudah kepingin keluar tapi selalu ditahan. Akhirnya, bulan Agustus 2008 saya resmi mengundurkan diri. Berarti, 25 tahun saya bekerja di sana,” ujar Irene, tersenyum.

Dengan rendah hati, Irene mengatakan, untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan tersebut, ia lalui dari jabatan terendah sebagai resepsionis.

Hanya Mau Berbagi

Menyebut metode Glenn Doman, orang selalu teringat satu nama, Irene F. Mongkar. Sosok Irene sangat erat dengan ketenaran metode asal Amerika ini. Berawal ketika anak semata wayangnya, Dhea.

“Metode ini saya praktekkan di anak saya sejak tahun 1992, dari umur 3 bulan. Setelah 3 tahun berhasil, Dhea bisa baca buku, saya baru bikin seminar. Sebenarnya bukan seminasr, tapi orang bilang seminar. Saya hanya mau berbagi bahwa saya senang anak saya bisa begini. Mulailah dari situ saya ngoceh dimana-mana, “ kenang Irene.

Metode Glenn Doman adalah metode untuk menstimulasi otak agar berkembang lebih baik, dengan menggunakan flash card.

“Ini (metode Glenn Doman) untuk stimulasi. Sayangnya orang kenalnya hanya sebagai metode untuk membaca. Padahal dasarnya stimulasi,” terang Irene.

Dengan menstimulasi otak, anak-anak cidera otak pun akan lebih cepat sembuh. Kalaupun anak akhirnya bisa lebih cepat mengenal huruf dan membaca, “pada akhirnya akan jadi lebih mudah diajak suka membaca,” tegas Irene.

“Kan tujuan kita, anak bukan cuma bisa baca. Kalau mau bisa baca, kita kirim saja anak kita ke TK, pasti bisa baca. Cuma, bikin anak suka baca itu kan susah, butuh perjuangan. Memang, cara mudahnya, orang tua beli buku supaya anak suka baca. Tapi kalau tidak punya uang, bagaimana dong. Dengan anak sudah bisa baca sejak kecil, selanjutnya ia akan beralih menjadi suka baca,” kata wanita yang membuat flash card Indonesia dan Arab.

Bikin Perpustakaan

Irene sangat memperhatikan dunia baca anak-anak. Meski, katanya, minat baca di Indonesia masih sangat kurang, di banding negara lain, ia bangga telah terjadi peningkatan.

“Dibanding tahun-tahun kita, ada peningkatan kok. Sekarang, sudah banyak orang, terutama anak-anak yang suka baca. Toko buku juga sekarang sudah benar. Yang dijual memang buku, tidak campur dengan stationary, tas, mesin penghacur kertas, dan sebagainya. Jadi, orang datang hanya untuk beli buku bukan yang lainnya,” katanya.

Buku anak-anak, menurut penilaian Irene, saat ini juga sangat beragam dan bagus-bagus. “Dulu buku impor yang bagus, sekarang buku lokal juga bagus. Kalau bikin perpustakaan juga jadi cakep. Itu merangsang anak suka membaca,” ujar Irene dengan nada bangga.

Sejak mengenal metode Glenn Doman, Irene punya keinginan besar, setiap keluarga punya perpustakaan keluarga.

“Kita belum bisa mengharapkan pemerintah punya perpustakaan yang bagus. Urusan mereka terlalu banyak. Jadi, siapa dong yang mengurus anak-anaknya kalau bukan orangtuanya sendiri. Nah, cara ini bisa dilakukan pelan-pelan. Misalnya setahun terkumpul segini, tahun depan terkumpul lagi, lama-lama jadi banyak dan jadi perpustakaan kecil,” kata Irene.

Irene bercerita, keinginannya yang besar untuk mensosialisasikan gemar membaca dan perpustakaan keluarga, membuatnya mengambil keputusan untuk keluar kerja. Ia terisnpirasi kehidupan Sumanto, pria asal Bantul Yogyakarta yang bersepeda mendatangi 4 hingga 5 desa di setiap harinya, untuk membawa buku-buku yang siap di pinjam anak-anak.

“Waktu gempa, perpustakaannya rata dengan tanah. Bukunya ada 1300an jadi lusuh dan rusak. Saat itu saya masih bekerja di Tiga Raksa. Saya bilang kalau saya tidak bisa bantu dengan bangunan, tapi saya bisa bantu membuat perpustakaan. Syukurlah sekarang sudah berdiri. Bahkan Sumanto sudah punya 12 motor dan ada beberapa anak-anak karang taruna yang putar-putar dengan motornya meminjamkan buku ke anak-anak,” cerita Irene, bangga.

Meski engan disebut nominalnya, Irene mengaku rela menjual emas-emasnya untuk membuat perpustakaan di kampung-kampung.

Kalau segala sesuatu dimulai dari yang baik, pasti hasilnya akan baik. Kalau kenyataannya ribet di depan, saya toh sudah bisa lihat ujungnya,’ ujar Irene.

Sembuhkan Cidera Otak

Tak cukup sampai disana. Keinginan besar Irene lainnnya, adalah membantu anak-anak cidera otak yang saat ini jumlahnya terus bertambah.

“Sekarang, setelah waktu saya semakin banyak, saya larinya ke anak-anak yang cidera otak. Saya punya teman-teman yang siap membantu. Mau kaya mau miskin,‘ Irene.

Ia membantu perkumpulan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) yang dikelola Bapak Untung di daerah Magelang, juga masuk dalam KOACI (Komunitas Orang Tua Anak Cidera Otak Indonesia) yang berkantor pusat di Bandung.

‘Memang perjalanan tidak semulus harapan. Tahun 2005, ada bangunan di Magelang untuk pusat tumbuh kembang. Ada terapi laser, tapi mereka butuh metode stimulasi. Makanya, saya diajak membantu stimulasi. Saya mau tolong, tapi tidak mau setengah-setengah. Saya sudah punya rencana taruh fasilitas dan ribuan buku disana. Ternyata tahun 2007 saya mau isi dalamnya, tapi tidak dikasih. Sedih sekali. Dan sampai sekarang bangunan ini tidak dipakai sama sekali. Padahal, saya berhenti kerja juga karena tempat ini. Sedih jadinya,” ungkap Irene.

Irene mengibaratkan, kalaupun dia sudah bisa melihat ‘ujung’nya, saat ini sedag berada ditengah-tengahnya. Memang. ada yang hilang pasti ada yang dapat. Saya dapat KOACI di Bandung,” ujarnya, tersenyum.

Di KOACI, Irene punya komitmen. Tak sekedar membantu, ia ikut berjuang demi kesembuhan anak cidera otak, dan memotivasi para orangtua yang punya cidera otak agar tidak malu membawa anaknya tersebut keluar rumah.

“Hasilnya, sekarang banyak orang tua yang tidak malu membawa anaknya yang cidera otak keluar rumah. “Kita datang, anak tidak maju, kita yang bayar. Nah, tentunya kita tidak mau rugi. Makanya kita punya komitmen, anak yang kita stimulasi harus maju dan perkembangannya makin baik,” kata Irene.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Aktivis, Profil Pendidik, Profil Wanita | 6 Comments

Ummu Ghaida Muthmainnah.

Konsultasi 24 Jam

Suatu hari, telepon genggam Teh Ninih berdering.

“Teh,” suara di ujung telepon itu bergetar. Lama ia terdiam.

“Ada apa, Bu?”

“Teh, suami saya selingkuh!” Tak berapa lama, terdengar isak tangis disertai suara sesenggukan.

Teh Ninih mendesah pelan. Belum sempat berkata-kata, di ujung telepon ia sudah mendengar seluruh curahan hati si penelepon. Padahal, saat itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

“Teteh memang sudah terbiasa dicurhatin para Ibu. Jangankan yang malam-malam. Sehabis salat Subuh saja ada yang curhat, telepon ke Teteh. Yah, memang hanya itu yang bisa Teteh bantu,” kata Teh Ninih.

Enggan disebut konsultan perkawinan, istri ustaz Aa Gym ini lebih senang disebut sebagai teman berbagi.

Lebih Mendengarkan

Dua tahun terakhir, Teh Ninih membuka pintu hatinya lebar-lebar pada siapa saja yang ingin berkonsultasi dengannya. Ingin berbagi rasa, bercerita hingga berkeluh kesah. Bahkan ia tak segan-segan memberi nomor telepon genggamnya pada siapapun yang meminta.

“Mereka bebas bertanya, mengeluarkan uneg-uneg, sampai menangispun juga boleh,” kata wanita Sunda bernama lengkap Ummu Ghaida Muthmainnah.

Setiap hari, paling tidak satu penelepon diterimanya dengan senang hati.

“Ada yang curhat tentang suami, anak-anak, sampai pekerjaan. Macam-macam persoalannya. Mulai dari yang suaminya selingkuh, tidak menafkahi, sampai suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Itu yang paling sering Teteh dengar,” kata Ibu tujuh anak bersuara lembut ini.

Kalau sudah dicurhati, Teh Ninih lebih banyak mendengarkan.

“Biasanya, nasehat dan ungkapan simpati baru bisa didengar kalau sudah tenang. Jadi, awal-awalnya, Teteh sabar-sabarin mendengar apa yang ingin mereka sampaikan. Setelah plong, barulah Teteh masuk, memberikan solusi, pemecahan, dan nasehat yang kiranya bisa meringankan beban pikiran mereka,” kata Teh Ninih.

Ia tidak pernah merasa terganggu walaupun harus mengangkat telepon malam hari.

“Teteh sih tidak pernah melarang, kapan saja mereka mau menghubungi Teteh, silahkan. Tapi, kalau bisa jangan bertepatan dengan maghrib atau jam-jam beribadah. Anak-anak yang suka protes. Katanya Mama sudah seharian angkat telepon, kapan waktunya buat anak-anak,” ujar Teh Ninih sambil tertawa.

Menjadi Wanita Ideal

Sejak lama, Teh Ninih aktif berdakwah. Awalnya ia hanya mengikuti tausiah suaminya. Lama kelamaan, ia merasa perlu menjadi mubaligah. Satu cara agar dirinya bisa bertemu langsung dengan jamaahnya dan bisa lebih cepat mengetahui permalahan yang sedang dihadapi para wanita muslimah.

“Walaupun begitu, hidup Teteh tidak 90 persen di dakwah, karena Teteh harus tetap mengurus keluarga. Keluarga nomor satu. Prinsip Teteh, kalau kita semangat berdakwah, keluarga justru semakin intens. Karena apa yang dilihat di keluarga itu bagian dari dakwah,” ujar wanita kelahiran 28 Januari 1967.

Di setiap pengajian, putri kedua dari 5 bersaudara KH Muhammad Muhsin –pemilik Pondok Pesantren Kalang Sari, Ciamis- ini menggulirkan masalah-masalah wanita yang sangat sederhana, disertai solusi dan tips menjalani hidup.

“Misalnya seorang wanita yang ingin menunjukkan rasa aman dan nyaman bagi orang lain. Ia bisa melakukan beberapa ciri-ciri diantaranya, berpenampilan rapi dan serasi sesuai dengan hukum syar’I, berkata-kata lemah lembut, sopan, dan tidak menyakitkan, dari tubuhnya tidak tercium bau kurang sedap, dan lebih banyak mendengar dari pada berbicara,” kata Teh Ninih.

Juga memuliakan orang–orang yang bertamu ke rumahnya, memenuhi undangan orang lain dan menjenguk orang yang sakit, senantiasa ikhlas mendoakan orang lain, menunjukkan syukur dan kebahagiaan manakala oran lain mendapatkan nikmat, menunjukkan dukacita dan simpati manakala orang lain mendapatkan musibah, serta menghindari ghibah apalagi fitnah.

Aa Tetap Diminati

Banyaknya ustaz-ustaz baru tidak menyurutkan popularitas Aa Gym. Hal itu diakui Teteh karena setiap pengajian yang diisi Aa Gym, selalu ramai didatangi jamaah.

“Justru bagus kalau semakin banyak mubaligh. Persoalan hidup mudah dipecahkan. Semakin banyak pencerahan, negara semakin aman dan nyaman. Aa tidak pernah merasa ditinggalkan apalagi tersaingi. Jadual kegiatan Aa justru makin bertambah, jadi tidak ada yang berubah,” kata Teteh Ninih.

Saat ini, baik Teh Ninih maupun Aa Gym mulai meningkatkan kualitas berdakwahnya.

“Dari waktu yang terbatas harus tersampaikan banyak hal. Peningkatan kualitas dakwah. Dan itu akan lahir disaat Teteh dan Aa telah mengamalkan sekuat tenaga, baru bisa ada ruh dan semangatnya pada jamaahnya,” ujar Teh Ninih.

Dakwah, lanjut wanita berkacamata ini, akan sangat kuat, jika memang orang melihat kenyataan keluarganya sukses. “Saat Teteh berdakwah, sekarang, juga bagaimana membuat program-program yang lebih profesional untuk kemajuan anak-anak dan keluarga, maka anak-anak harus merasakan Mamanya, walaupun sekarang tambah kesibukan. Dua-duanya harus sukses.”

“Tetapi secara pribadi saya tidak merasa jadi contoh. Teteh berusaha sekuat tenaga dengan potensi yang ada, minimal ada yang bisa dijadikan teladan. Walaupun itu masih jauh dari apa yang dimiliki istri-istri Rasul dan para pejuang muslimah. Baru belajar sediit-sedikit. Tetapi dengan keyakinan itu ternyata orang menghargainya luar biasa. Itulah yang memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri,” lanjut Teh Ninih.

Kelihaian Teh Ninih birbicara di depan jemaah, tak lepas dari bimbingan Aa Gym. Suaminya ini disebut sebagai guru pribadi dalam segala hal.

“Teteh bisa menyampaikan ilmu berkat bimbingan suami. Aa sangat intensif dan bertahap membimbing Teteh. Mulai dari didampingi kemudian diberikan nasehat. Setiap tampil, Aa selalu menyimak apa yang masih kurang dan yang harus diperbaiki. Dan Aa merasa kesuksesan suami adalah disaat dia bisa mensukseskan istrinya. Itulah yang menarik,” ujar Teh Ninih penuh kebanggaan.

“Bahkan, Teteh kalau ceramah sendiri, Aa sembunyi-sembunyi mendengarkan Teteh, di balik pintu. Teteh tidak tahu kalau ada Aa. Dan itu sering terjadi. Justru ini menjadi pelajaran buat Teteh. Ketika selesai Aa memberitahukan kekurangan-kekurangan Teteh. Itu jarang sekali dilakukan pasangan yang untuk saling mengingatkan. Saling memantau. Dulu Teteh yang menyimak dan kasih masukkan. Sekarang bareng-bareng. Kita sudah komit bersama tanpa harus sakit hati,” kata Teh Ninih dengan mata bersinar.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Uncategorized | 10 Comments

Poetri Soehendro

It’s Therapy For You!

Mendongeng telah merubah sosok Poetri yang kosmopolitan menjadi wanita yang dicintai anak-anak.

Pertama kali mendongeng, badanku keringatan. Kalau bisa, muka jangan sampai kelihatan. Yang pasti, aku dredek sekali,” kata Poetri Soehendro mengenang pengalaman pertamanya mendongeng di depan anak-anak.

Lima tahun yang lalu, Poetri memulai karirnya sebagai pendongeng. Proses yang tidak mudah bagi wanita kosmopolitan yang hobi dugem (dunia gemerlap), merokok, dan belum memiliki anak ini.

“Setelah enam bulan aku selami dunia anak-anak, menjadi pendongeng, lama-lama hati ini berubah. Aku berubah menjadi Poetri yang lain. Poetri yang lebih care pda anak, yang ingin dekat dengan anak, dan ingin berbagi dengan mereka,” ujar Poetri terus terang.

Bertahan Tujuh Menit

Poetri yang lincah, banyak bicara, dan senang bercanda, sangat lihai memainkan kedua telapak tangannya yang terbungkus boneka-boneka berkarakter. Sesekali ia tertawa nyaring sambil menggerak-gerakkan boneka harimau. Menit berikutnya, mulutnya cemberut sambil terisak-isak menangis, memainkan telapak tangan yang lain.

“Setiap kali mendongeng, aku harus bisa membawakan empat tokoh berkarakter. Punya Suara yang berbeda, intonasi yang berbeda, juga mimik muka yang berbeda. Memang, butuh keahlian khusus. Tetapi untuk mempelajarinya, siapa saja bisa melakukan,” kata Poetri bersemangat.

Mendongeng, sangatlah mengasyikkan. Paling tidak, dunia imajinatif ini telah membuat Poetri melanjutkan kuliah S2 di Psikologi Universitas Indonesia jurusan Intervensi Sosial. Ia ingin mempelajari dan tahu lebih banyak tentang dunia kanak-kanak.

Agar berjalan lancar, Poetri memenej kegiatan mendongengnya dengan sangat rapi.

“Yang pertama kali, aku selalu brief dengan EO (Event Organizer)-nya untuk tahu visi misi acara. Setelah itu aku pilih cerita. Bisa cerita tentang binatang, dan apa saja, terserah aku. Setelah ketemu tema dan cerita, aku  ngomong dengan musisi. Aku punya pemain keyboard, Mas Tara, yang sudah temani aku selama 5 tahun. Kalau tidak bisa bawa keyboard karena harus keluar kota atau panggungnya kecil, aku bawa laptop. Yang membuat background music Elena Zahna,” ujar lulusan IKIP Jakarta jurusan Bahasa Inggris.

Selanjutnya Poetri menulis script atau cerita yang akan ia dongengkan.

“Biasanya aku mendongeng setengah jam. Ada juga yang sampai satu jam. Nah, kalau lebih dari sepuluh menit, aku selalu membuat games ditengah-tengah acara mendongeng,” kata Poetri.

Poetri tidak pernah terus menerus mendongeng lebih dari tujuh menit. “Karena batas kesabaran seseorang termasuk anak mendengakan orang hanya 7 menit. Seperti kita mendengarkan radio. Menit pertama pasti dengerin, menit kedua, mulai mikir seru nggak sih omongannya. Menit ketiga, mulai tanya penting nggak sih ini orang. Menit keempat, pintar nggak sih nih orang ngomongna. Menit kelima, wah ngerasa nggak asyik. Pasti ganti ganti gelombang,” kata Poetri.

Menghindari kebosanan, Poetri menyelipkan sejumlah aktifitas yang disukai anak-anak. Bisa mendengar lagu anak-anak, permainan, hingga menyanyi disertai olah tubuh.

“Pemetakan acara aku yang bikin. Mereka tinggal aku kasih script supaya tahu dan tahu apa yang akan aku lakukan,” kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Juli 1964.

Keajaiban Dongeng

Suatu hari, Poetri bertanya pada wanita peramal.

“Bu, ramalin dong, gue dong. Kira-kira, mendongeng cocok nggak buat saya,” kata Poetri penuh ingin tahu.

Peramal tarot itu berujar, “Poetri, mendongeng, its therapy for you. Agar kamu bisa lebih menikmati hidup.”

Antara percaya dan tidak, Poetri berusaha menyelami kata-kata wanita itu. Ia hampir tidak percaya melihat lingkungan sekitarnya yang sangat skeptis dengan pekerjaan barunya itu.

“Tapi ketika bekerja saya sangat enjoy. Saya merasa this is me. Saya sekarang sudah menemukan apa yang selalu saya cari,” kata putri tunggal pasangan RH Soehendro dan Maria C. Robot..

Adalah proses panjang bagi Poetri menjadi story teller. Ia mengaku tidak pernah memahami dunia anak. Ia adalah wanita metropolis yang senang menghabiskan waktu di club-club, café, dan tempat-tempat hang out lainnya. Memilih dunia advertising, production house, dan editing house sebagai pekerjaan yang diseriusi.

Belasan tahun Poetri habiskan waktunya bergaul dalam dunia malam dan bau asap rokok. Dan terus berlanjut ketika Poetri menjadi penyiar radio di Female Radio dan di I Radio.

Sampai suatu hari, awal tahun 2001, ia mendapat tugas baru dari produser Female Radio membawakan acara mendongeng untuk anak. Terpaksa tapi juga tantangan, Poetri menyanggupi.

Poetri juga di’paksa’ tampil off air di TC Gallery di acara Kemang Festival. “Yang nonton 80 anak. Mereka bayar 10 ribu. Dalam sehari aku tampil di dua show mendongeng. Terus terang, itulah penampilan pertamaku. Aku dredek sekali, kringat dingin dan berusaha mukaku tidak terlihat jelas. Tetapi, justru yang membuat aku kaget, setelah selesai anak –anak datang cium tagnan bilang terima kasih,” kenang Poetri. Saat itu bercerita tentang plotot kecil yang terbuang, cerita sederhana karangan Enid Blyton.

Setelah 6 bulan mendongeng barulah hati Poetri terpanggil.

“Dari yang terpaksa menjadi mencintai. Waktu itu aku sendiri nyaris tidak percaya,” ujar Poetri dengan suara takjub.

Poetri mengaku, kecintaan itu muncul ketika ia diundang Kota Wisata saat peluncuran kota baru ‘Zona America’. “Karena enjoynya, waktu itu aku pakai baju koboy, jaket koboy, bots, dan celana jenas. Yang janji hanya setengah jam mendongeng, aku bisa empat puluh lima menit. Aku benar-benar mulai mencintai dunia baruku. Ini benar-benar proses yang aku sendiri masih tidak percaya bisa terjadi dalam hidupku,” kata Poetri bangga.

Dongeng Para Ibu

Satu keinginan Poetri, “aku ingin setiap Ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Percaya deh, kalau anak-anak yang setiap hari mendengar dongeng ibunya, tidak akan ada kejadian dan perlakukan negatif pada anak,” kata Poetri.

“Seperti kata Kak Seto, betapapun pintarnya Kak Seto, Kak Putri, Pak Raden, Kak Agus, dan pendongeng-pendongeng lainnya, pendongeng yang terbaik tetap Ayah dan Ibunya. Segoblok-gobloknya Ibu, dia tetap pendongeng yang terbaik. Coba kita tanya, apakah kita masih ingat bau keteknya Ibu kita, bau sabunnya, sampai sekarang kita pasti masih ingat. Kita kenang sampai kapanpun. Begitupun dengan dongeng. Apapun dongeng dan nasehatnya di akhir dongengnya. Pasti akan terekam dalam otak menjadi kenangan yang sangat indah. Mendongeng tidak sesakit melahirkan. Hanya butuh waktu lima menit, dan contekannya banyak,” kata Poetri.

Manfaat dongeng lanjut Poetri sangat banyak.

“Yang pasti di dalam dongeng pasti ada daya khayal, moral, cerita budi pekerti, tata krama, sopan santun, dan hal-hal positif,” kata Poetri.

Anak yang mendengarkan dongeng akan dirangsang semua inderanya, seperti kuping, mata, hidung, mata dan perasa.

“Jadikanlah anak-anak kita yang utuh. Otak yang utuh. Karena anak Indonesia sekarang masuk five minute generation. Nonton film setelah lima menit bosan, ganti channel. Mengerjakan dua tiga pekerjaan dalam bersamaan seperti mengerjakan PR sekligus nonton televisi dan pencet-pencet kirim sms. Itu bukan salah mereka. Itu tuntutan jaman. Nah, dengan mendongeng, begitu mereka mendengarkan selama lima menit anak dilatih fokus dan dipaksa mendengar. Kalek anak akan menjadi pendengar yang baik,” kata Poetri.

Ada kesedihan Poetri saat ini. “Jumlah pendongeng Indonesia sangat minim. Tercatat hanya ada Kak WeEs, Kak Kusumo. Kak Seto, Pak Raden, Andi Yudha, Hughes tidak terlalu aktif, Kak Agus DS, Kak Heri, Kak Heru, dan saya. Ada sepuluh pendongeng di Indonesia. Mereka semua ada di Jawa. Sedih sekali kalau kita ngomong Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera,” ujar Poetri.

Hingga muncul satu ide dari benak Poteri membuat workshop bagi para guru TK untuk belajar dongeng dengannya. “Tidak perlu bayar. Gratis dan saya jamin pasti bisa mendongeng,” kata Poetri bersemangat.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment

Noni Sri Ayati

Dulu Dipanggil Om-Tante

Di usia yang baru 37 tahun Noni mengepalai 20 ribu lebih karyawan yang 95 persen adalah pria.

Tentu saja tidak mudah baginya memimpin orang-orang yang dahulu ia panggil Om dan Tante ini. Usia diantara mereka terpaut jauh. Bahkan, tingkat pemahaman yang telah dibedakan oleh zaman, membuat Noni berhadapan dengan sejumlah  pekerjaan ‘rumah’ yang butuh kesabaran tinggi.

“Kuncinya adalah respek,” ujar Noni Sri Ayati Purnomo, B. Eng., MBA, sambil tersenyum.

Karet Gelang Dalam Minyak

Tahun 1997 Noni resmi bekerja full time di Blue Bird Grup. Ia dipercaya memegang satu departemen baru, Business Development, sebagai Vice President.

“Awalnya kita tidak punya departemen yang khusus menghandle perusahaan secara keseluruhan. Baik dari marketing strategy maupun corporate image-nya. Masing-masing jalan sendiri. Blue Bird berkembang seperti karet gelang dalam minyak tanah. Tiba-tiba besar sendiri,” ujar lulusan Universitas San Fransisco, USA bergelar Master of Business Administration, major in Finance and Marketing.

Gebrakan pertama, Noni membuat divisi humas.

“Kenapa baru sekarang dibuatnya? Karena dulu dianggap belum terlalu dibutuhkan. Sementara sekarang konsumen sudah mulai kritis dan perusahaan berkembang dengan cepat. Salah sedikit jadi sorotan. Jadi kita perlu humas,” ujar Noni yang sempat bekerja Jakarta Convention Bureau sebagai Market Research Officer untuk belajar ilmu marketing.

Humas atau hubungan masyarakat ini menjembatani masalah-masalah eksternal dan internal. “Bayangkan, disini ada 20 ribu orang lebih. Bagaimana kita mengkomunikasikan policy kita ke mereka kalau tidak ada humas?” lanjut ibu dua anak, Amanda dan Sasha.

Ia juga tidak peduli harus berhadapan dengan pemilik perusahaan yang juga orang tuanya, dr. H.Purnomo Prawiro dan Hj.Endang Basuki.

“Kita sering adu ngotot. Ayah juga sering protes dengan ide-ide baruku. Bagaimanapun orang baru lulus pasti punya idealisme sendiri. Kita punya ide banyak sekali tetapi saya sadar ada yang bisa diterapkan ada yang tidak. Akhirnya Ayah saya hanya bilang, ‘ya sudah coba saja. Nanti kamu akan belajar sendiri,” kata lulusan Universitas Newcastle, Australia bergelar Bachelor of Engineering bangga.

Noni sadar, selama ia kreatif, inovatif, dan berada dalam koridor yang benar termasuk tidak meminta bujet yang tidak terlalu besar serta tidak menyalahi norma-norma, Perusahaan tidak akan keberatan.

Gebrakan pertama yang dibuat Noni adalah membuat tiga proyek besar. Pertama menyangkut coorporate image, meliputi logo, iklan, marketing strategi dan humas. Kedua menyangkut TPM, berkait proses pengerjaan standart operating procedur (SOP), yang juga melakukan bisnis engineering dan memikirkan proses operasional sehari-hari. Dan proyek ketiga menyangkut IT (Teknologi Informasi) menggunakan project-project SAP.

“Sebagai Project Director, saya melakukan project besar di bidang infrastruktur dari segi IT-nya. Kita menerapkan sistem ARP untuk back office. Semuanya terhubung dengan teknologi, supaya kita bisa dapatkan data-data akurat. Jadi mulai dari administrasinya, bengkelnya, finance-nya, semua pakai SAP, terhubung ke pusat,” ujar Noni yang mengaku bangga dipuji Ayahnya membawa angin segar di Blue Bird yang telah berusia 35 tahun.

Bertugas Melayani

Noni sudah mencurahkan seluruh ide dan pemikirannya untuk membesarkan Blue Bird Group. Ia sadar harus selalu siap dengan ide-ide kreatif dan hal-hal baru. “Maka dibutuhkan tim yang solid,” katanya.

Lantas, bagaimana ia menyikapi perbedaan mendasar di lingkungan pekerjaannya. Salah satunya dari faktor usia, mengingat banyak karyawan yang berusia jauh di atas usianya.

“Saya kenal mereka sejak masih kecil. Dulu mereka saya panggil om-tante. Jadi, menurut saya kuncinya adalah respek. Kalau kita merespek mereka, pasti mereka akan respek dengan kita. Kita tidak bisa mengharapkan mereka menerima kita dengan begitu saja . Pastilah ada ‘perasaan’ itu,” ujar Noni bijak

Walaupun kadang-kadang Noni masih mendengar guyonan, ‘Dulu kamu kan saya pangku-pangku.’ ‘Dulu kamu kan suka ngedot.’ ‘Dulu kamu kan tidak pakai baju’. “Dan itu diutarakan di depan orang-orang. Saya tidak marah. Saya pikir, itu berarti mereka merasa dekat. Yah sudahlah, kita anggap becanda saja,” kata Noni sambil tersenyum.

Walaupun di luar pekerjaan Noni masih memanggil dengan sebutan om dan tante, saat bekerja, rapat misalnya, ia tetap memanggilnya Bapak dan Ibu.

“Kalau mereka berbuat salah, ya sebisa mungkin saya tegur. Diatasi dengan cara bicaranya saja. Bagaimanapun juga orang yang lebih tua merasa, “saya kan berharga disini. Saya punya pengalaman lebih dari kamu. Kamu anak kecil mau tau apa sih.” Kalau kita sudah tahu pemikiran mereka, kita harus tahu bagaimana cara ngomongnya. Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya rasakan. Pasti kan nggak enak. Bagaimanapun juga ‘perasaan’ itu ada,” ujar Noni. Saat ini ia juga menjabat sebagai Director Sales & Marketing Golden Bird Bali & Bali Taksi, Director Pusaka Group, dan Koordinator Blue Bird Peduli

“Pak Pur (Ayahnya) selalu bilang, atasan itu harus jadi pelayan, bukan atasan harus dilayani. Kalau anak buahnya menemui kesulitan, ia harus dilayani oleh atasannya. Jadi kalau ada kesalahan-kesalahan anak buah, itu kesalahan atasannya. Kalau atasannya tidak bisa membantu bawahannya, jangan jadi atasan,” ujar istri Klaas Redmer Schukken sambil tersenyum.

Beasiswa 400 Juta

Puas sekali hati Noni. Satu kerja kerasnya kini berbuah manis.

“Program Blue Bird Peduli berkembang pesat. Saya koordinatornya,” jelas Wanita yang aktif sebagai Ketua Bidang Humas, Pengurus Pusat, Masyarakat Transportasi Indonesia.

BBP memberi beasiswa untuk seluruh anak-anak karyawan Blue Bird Group yang  tengah melanjutkan SMU, D1, D3 dan S1. Juga sunatan masal dan bantuan khusus anak-anak cacat, mulai dari kesejahteraan, penyuluhan dan pendidikan. Diluar itu BBP membantu sekolah-sekolah miskin bekerja sama dengan Yayasan Kurnia.

“Yang terpenting, seluruh karyawan Blue Bird, anak-anaknya bisa sekolah sampai tinggi. Mimpi dan cita-cita para orang tua pasti berharap anak-anaknya bisa berpendidikan lebih dari mereka. Tidak harus berprestasi. Khusus yang berprestasi akan kita beri bonus,” ujar Noni.

Tahun ini tercatat 3000 lebih anak yang diberi beasiswa BBP. Total biaya yang dikeluarkan setiap enam bulan adalah lebih dari 400 juta rupiah. “Anak-anak selalu menjadi prioritas. Apa lagi yang bisa kita berikan kalau tidak membahayakan anak-anak kita?” ujar wanita kelahiran Jakarta 20 Juni 1969.

Aien Riyadi

December 7, 2009 Posted by | Profil Pekerja Sosial, Profil Pengusaha | 5 Comments

Sri Murwati Habir

Bila Kepompong Itu Seindah Kupu-Kupu

Diberi nama kepompong karena ia masih sangat kecil. Dilindungi tapi juga diberi nafas agar bisa tumbuh sesuai harapan.

Sri Murwati Habir langsung tersenyum ketika dipuji. Ditanya tentang kiat-kiatnya membesarkan Kepompong, wanita murah senyum ini langsung menunjuk ke arah luar.

“Yang sukses tidak hanya saya, tetapi juga tim saya,” kata Murwati yang selalu disapa Tante Wati.

Bekerja di dunia anak-anak membuat Wati selalu bahagia. Tidak pernah stres, apalagi bersedih.

“Bawaannya senang melulu. Tiap hari, aku pasti tertawa. Itu sudah jadi obat awet muda buat kita yang kerja disini,” kata Wati sambil tersenyum.

Seindah Kupu-Kupu

Sudah 18 tahun Kepompong berdiri. Dan ketika resmi berdiri tahun 1988, Wati hany punya satu harapan, “semoga Kepompong bisa menjadi tempat pendidikan untuk anak-anak usia dini yang berkualitas,” ujar Wati saat itu.

Harapan Lulusan BSc Business Administration jurusan Akuntansi di University of the State of New York, dan Master Of Education jurusan Kurikulum & Pengajaran bidang  Pendidikan Anak Dini Usia di Lesley University, Cambridge, MA, itu kini menjadi kenyataan.

“Alhamdulillah, sekarang Kepompong jadi salah satu pilihan utama para Ibu yang ingin menyekolahkan anak-anaknya yang baru berusia 2 hingga 3 tahun,” ujar Wati sambil tersenyum senang.

Sejak pertama kali didirikan bulan Juli tahun 1988, program pendidikan Kepompong ditujukan untuk anak-anak di bawah usia 4 tahun. Menjadi alternatif ‘pendidikan tambahan’ di luar rumah, khususnya untuk para orang tua yang  keduanya bekerja.

“Nah, kalau untuk para ibu yang tidak bekerja, program pendidikan Kepompong akan memberikan pengalaman bersekolah bagi anaknya,” ujar Wati.

Saat itu Wati melihat bahwa program pendidikan kelompok usia di bawah 4 tahun sangat terbatas. Hampir semua TK, tidak memiliki program untuk anak usia dibawah 4 tahun. Kalaupun ada, materi dan kegiatannya sangat berbeda.

Pendidikan di Kepompong, jelas Wati, dibuat sangat ringan, disesuaikan dengan usia anak-anak yang baru 2 hingga 4 tahun. Juga disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak dan jadual yang sangat fleksibel agar anak masih bisa bermain sepuas-puasnya.

“Konsep itu memang banyak digunakan Kelompok Bermain pada umumnya. Yang membedakan, Kepompong justru dibuat dengan dasar pemikiran yang sederhana. Berharap kelak anak-anak tumbuh dan berkembang bersama menjadi anak yang mandiri, percaya diri, kreatif dan berkembang secara optimal sesuai  potensinya, seindah kupu-kupu,” kata Wati.

Satu Kelas Berbeda

Awalnya, Kepompong hanyalah tempat bermain anak yang dilakukan di teras sebuah rumah di Jalan Bangka Raya No. 99C. Yang hanya punya satu kelas murid Indonesia dan satu kelas murid asing.

Lima tahun kemudian, tahun 1993, Kepompong mulai menambah satu kelas Indonesia dan pindah ke rumah No. 99A yang lebih luas. Setiap tahun, jumlah murid yang mendaftar kian banyak. Merasa sudah bisa menampung lagi, tahun 1995 Kepompong pindah lagi ke rumah No. 99B dan menambah satu ruang lagi untuk kelas Indonesia.

Kini, jumlah murid sudah mencapai 200 anak. Mereka terbagi atas 2 kelas usia 3 tahun yang diberi nama kelas Capung dan kelas Belalang. 1 kelas usia 4 tahun (TK A) atau disebut kelas Kupu-kupu, dan 2 kelas usia 5 tahun (TK B) disebut kelas Lebah Madu dan Lebah Hutan .

“Sejak awal kita sudah punya visi menciptakan lingkungan yang kondusif dengan begitu dapat mengembangkan potensi anak secara optimal,” kata Wati.

Karena itulah Wati kemudian membuat program pendidikan usia 3 tahun yang sangat fleksibel. Setiap minggu, anak cukup masuk sekolah 3 kali atau 2 kali saja. Kegiatan hanya dilakukan 3 jam setiap hari. Setiap bulan dibuat tema yang selalu berbeda dengan bulan-bulan lain. Tema dipilih sesuai minat anak. Misalnya tema jalan-jalan di kota, tamasya ke kebun binatang, pergi ke pasar, dan sebagainya.

“Yang terpenting, setiap hari anak harus bisa melakukan kegiatan bermain bebas di luar ruangan. Di Kepompong, halaman bermain termasuk prioritas. Khusus kegiatan di semester 1 disebut Opening Circle, barulah semester 2 diisi kegiatan khusus,” ujar Wati.

Opening circleadalah kegiatan dalam kelompok kecil untuk membicarakan kegiatan yang akan dilakukan anak sepanjang hari atau membahas tugas yang dibawa anak dari rumah, serta hal-hal yang berhubungan dengan ‘membantu diri sendiri’. Sementara Kegiatan Khusus adalah  menggantikan opening circle berupa kegiatan yang dilakukan secara bergantian setiap minggunya  seperti  ilmu pengetahuan sederhana dan latihan pengembangan motorik kasar.

Termasuk dalam kegiatan harian adalah menyanyi bersama, makan bersama, bercerita, kegiatan kelompok sesuai tema, kegiatan di meja, dan bermain bebas di dalam ruangan.

“Yang membuat kami beda dengan yang lain, disini anak tidak hanya sekedar bernyanyi. Tetapi anak-anak bernyanyi diiringi piano atau gitar sehingga anak mendapatkan pengalaman musik dasar yang benar. Anak juga mengenal fingerplay, ritme, irama dan melodi,” kata Wati bangga.

10 Keunggulan Yang Lain

Wati tidak gentar harus bersaing dengan sekolah-sekolah sejenis yang kini mulai menjamur. Sebagai ‘pemain’ lama, Wati yakin bahwa Kepompong tetap akan menjadi tempat pendidikan khusus anak-anak dini usia yang berbeda, dicari, juga dibutuhkan para Ibu.

“Kita punya 10 kiat khusus. Pertama adalah interaksi yang sangat baik antara pengajar dan anak. Salah satunya interaksi yang memberikan suasana rileks, spontan dan bersemangat,” kata Wati.

Yang kedua, lanjutnya, dalam hal kurikulum yang dirancang khusus. Ketiga yaitu komunikasi dengan orang tua yang dilakukan setiap saat.

“Satu bulan pertama, anak harus di antar dan ditunggui Ibu atau Bapaknya. Itu harus. Setelah itu, sia anak bisa ditinggal sendiri agar lebih mandiri,” kata Wati.

Kiat keempat adalah program rekrutmen dan kualitas guru. “Maksudnya, untuk menjadi pengajar di Kepompong, proses rekrumennya dilakukan cukup ketat, harus sesuai dengan kriteria Keopmpong,” ujar Wati.

Barulah enam kiat lainnya berhubungan sengan struktur organisasi, administrasi program, lingkungan fisik, kesehatan dan keamanan, gizi dan pemberian makan, serta evaluasi.

Aien Hisyam

December 7, 2009 Posted by | Profil Pendidik, Profil Wanita | Leave a comment