Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Perucha Hutagaol

Serunya Memecahkan Misteri

Ala backpacker, Ucha menjelajahi 37 negara. Ia enjoyed karena dengan biaya murah, ratusan tempat bisa ia kunjungi.


Menjadi backpacker, kata Ucha, tidaklah mudah. Kondisi itu digambarkan dalam buku Ucha berjudul ‘The Naked Traveler’ –selanjutnya, Ucha memplesetkan; The Nekad Traveler. Buku yang pengarangnya ditulis dengan nama Trinity. “Saya terisnpirasi dengan tokoh Trinity di film Matrix,” jelas Ucha, singkat.

Banyak yang terkagum-kagum dengan kenekatan wanita single ini. Bayangkan. Ia sendirian ‘berwisata’ ke puluhan negara, berbekal uang yang terbatas, dan cuek saja bila harus menginap di hostel (penginapan murah) yang satu kamar bisa memuat 10 tempat tidur, dan Ucha perempuan satu-satunya.

“Kepuasannya beda. Kalau kita jalan sendiri, kita bisa datang ke tempat-tempat yang benar-benar menarik buat kita. Pengin ke pantai, ya kita ke pantai. Pengin ke gunung, ya kita bisa ke gunung. Tanpa ada ikatan. Beda kalau dengan tour leader, jadi tidak ada pilihan,” katanya.

Proposal di Libur Panjang

Buah jatuh, tak jauh dari pohonnya. Ungkapan yang sama di kehidupan Ucha dan keluarga.

“Bapak polisi dan Ibu bekas Menwa (Resimen Mahasiswa). Jadi dari kecil, keluargaku suka pindah-pindah. Ditambah lagi, waktu masih kecil, kita suka liburan bareng ke tempat yang aneh-aneh. Misalnya, kalau banyak keluarga liburan ke Bandung, kita justru ke pantai Pelabuhan Ratu, ke tempat yang asing buat kita. Jadi, sejak kecil kita suka diajak berpetualang,” kenang wanita kelahiran 11 Januari 1973.

Ibunya pun kerap memancing rasa ingin tahu anak-anaknya. Setiap kali tugas ke luar negeri, Ibu Ucha, Liya Djajadisastra, mengirim postcard-postcard cantik.

“Dulu waktu kecil, pengin sekali lihat salju. Suka membayangkan, seperti apa ya gunung es itu? Kayak apa ya rasanya ke negara orang lain? cuma  waktu kecil, saya nggak pernah diajak ke luar negeri,” ujar Ucha sambil tertawa lepas.

Di bangku SMP, Ucha mulai tidak tertarik turut serta di acara piknik keluarga. Orang tuanya, RB. Hutagaol dan Liya, juga tidak bisa mengantar-ngantar anak-anaknya berlibur.

“Akhirnya kalau liburan, ibu bilang, “ya sudah bebas berlibur, tapi kamu bikin proposal. Tulis keinginanmu mau kemana, biayanya berapa, dan sama siapa.”  Dan hebatnya, Ibu selalu meng-acc proposal-proposal kita. Sekarang saya berpikir, ternyata kami sudah dimenej sejak kecil,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini, senang.

Meski usia baru belasan tahun, Ucha pernah berwisata bersama teman-teman sebaya ke Bandung, Sukabumi, dan banyak lagi.

Nekat ke Luar Negeri

Jiwa petualang Ucha, juga terasah di kegiatan Pramuka, PMR dan Pecinta Alam. Meski ia sering berpetualang mendatangi kota-kota di Indonesia, Ucha mengaku tak cukup puas.

“Ingin sekali bisa ke luar negeri,” katanya, singkat.

Hanya saja, lanjut Ucha, untuk ke luar negeri ongkosnya sangat mahal. Mulailah, di tahun 1995, disaat usianya baru 22 tahun, Ucha mencari cara-cara yang murah agar bisa ke luar negeri.

“Terus saya lihat bule-bule yang ada di Jalan Jaksa (tempat mangkal backpacker di daerah Jakarta Pusat). Saya mikir, kok bisa ya mereka sampai ke sini, padahal mereka juga baru saja kerja dan lulus SMA. Uang pun terbatas. Bahkan ada yang tukang pos. Ternyata, mereka selalu cari yang murah. Mereka tidak tinggal di hotel, juga cari tiket selalu yang paling murah,” ujar alumnus Asian Institute of Management, Makati, Philippines bergelar Master in Management..

Saat itu, Ucha belum mengenal istilah backpacker.

Ucha juga masih berstatus karyawan. Ia pernah menjadi part timer di Mac Donalds, pernah menjual kartu-kartu previllege hotel, menjadi LO,  dan mengajar  bahasa Indonesia untuk ekspatriat.

“Nah, barulah, setelah punya uang sedikit, jalan deh,” katanya, senang.

Ucha ingat betul saat pertama kali berpetualang ala backpacker.

“Saya ke agen-agen travel. Ngembatin (mengambil) brosur-brosur. Waktu itu saya juga kenalan sama orang, dan dikasih tahu cara-caranya menjadi backpacker,” kenang Ucha.

Ia ditemani seorang teman yang punya saudara di Belanda. Ia urus sendiri visa di kedutaan besar. Karena belum ada Uni Eropa, khusus untuk mengurus Visa, Ucha mendatangi satu persatu kedutaan. Waktunya, sampai 1 bulan, hanya untuk apply Visa.

“Akhirnya, tahun 95, untuk pertama kalinya saya ke Eropa,  selama 1,5 bulan. Keliling mulai dari Inggris, Belanda, Belgia, Luxemberg, Perancis, Ceko dan Jerman. Dan saya puas bisa berkeliling ke puluhan tempat, karena saya hanya mengeluarkan biaya yang sangat minim,” ujar Ucha.

Trik Ala Backpacker

Pengalaman pertama ke luar negeri, tentu saja sangat berkesan.

“Saya bikin kartu pelajar Internasional. Di sana pelajar masuk museum, nginep, beli tiket kereta, semua dapat diskon. Saya juga beli tiket Eurail Pass, atau tiket terusan naik kereta di Eropa. Di sana ada buku-buku yang dikasih gratis, dan ada petunjuknya dengan jelas. Jadi, saya merasa tertolong,” kenang Ucha yang saat ini bekerja di PT. Excelcomindo Pratama Tbk.

Ditambah lagi, Ucha kerap melakukan perjalanan di kala musim winter, dimana orang-orang enggan melakukan perjalanan jauh. Katanya, saat itu harga-harga banyak yang turun.

Biaya yang dikeluarkan Ucha sangat minim. “Dulu, tiket pesawat masih 600 US Dollar dengan kurs masih 2000 rupiah. Menginap di hostel juga sekitar 10 dolar satu malam,” jelas Ucha.

Orang Eropa memang terbiasa melalukan perjalanan. Ucha punya pengalaman berkesan. Saat ia melakukan perjalanan dari Belanda ke Perancis, “sampai di Paris, ada subway. Kita nggak tahu, seperti apa metro bawah tanah itu. Kita juga bingung baca petanya. Warna ini kemana, warna itu kemana. Dan lagi, tourism information-nya tidak bisa bahasa Inggris. Kita benar-benar seperti memecahkan misteri,” Ucha mengenang pengalamannya.

Menginap pun, Ucha tak berharap lebih.

Backpacker menginapnya di hostel (satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, biasanya model bertingkat disebut bunk bed). Waktu di Eropa, pernah saya nginep ada 10 tempat tidur, 5 bunk bed. Saya cewek sendiri, dan satu-satunya dari Indonesia. 9 lainnya, cowok. Saya biasa saja. Mandi pun pakai shower yang digabung dengan yang lain. Waktu itu di Scotland. Yah, mau gimana lagi?,” ucap Ucha sambil mengangkat bahu.

Biasanya, lanjut Ucha, di satu tempat, ia berkenalan dengan orang lokal. Selalu saya tanya, “eh, kamu kalau hang out dengan teman-teman dimana?” nah dari situ, diajaklah saya ke satu tempat yang selalu berkesan.”

Seluruh pengalaman Ucha selama 13 tahun berpetualang, ditulis dengan lengkap di dalam buku bersampul biru, ‘The Naked Traveler’. Tak hanya petualangannya di luar negeri, tapi ada juga cerita-cerita menarik Ucha saat ber-traveling di kota-kota Indonesia.


Terpenting, Pakai Feeling!

Menulis Buku…

Itu tidak sengaja. Dari dulu saya memang suka menulis. Awalnya, saya hanya membuat catatan harian setiap kali saya traveling.  Saya ketik, dan saya bagi-bagikan ke teman-teman. Setiap saya pulang, oleh-olehnya begituan. Ada teman  yang bikinkan blog. Saya sih gaptek. Akhirnya saya tinggal posting-posting tulisan saya. Karena yang hit banyak, akhirnya ada penerbit yang tertarik membuat bukunya. Saya bikin blog tahun 2005, dan tahun 2008 bukunya diterbitkan.

Kuncinya Menjadi Backpacker…

Hanya satu. Rajinlah menabung. Ditambah lagi, saya tidak suka belanja, tidak suka dandan, dan tidak suka beli baju-baju bermerek. Punya uang, saya jalan. Yang terpenting adalah bisa memenej diri sendiri. Menghadapi situasi dan orang, kita harus pakai feeling. Misalnya kita bertemu orang yang ngomongnya manis sekali, justru kita harus curiga. Kita juga harus banyak bertanya dan punya toleransi yang tinggi. Misalnya tidur di hostel, dengan banyak orang, ada yang ngorok, ada yang bau, dan sebagainya. Prinsipnya, ada harga ada mutu. Kalau mau gembel ya fasilitas gembel. Ekspektasi jangan terlalu tinggi. Memang tidak mudah, tapi kepuasan disitu sangat besar.

Menjadi Backpacker Selamanya…

Justru baru saja kemarin saya pikirin. Gimana ya kalau saya jadi orang kaya, apakah saya masih tetap jadi backpacker. Mungkin faktor umur berpengaruh, pasti sudah tidak selincah dulu. Atau sistemnya bisa seperti ibu saya. Dia ‘terbang’, terus dia cari tur lokal. Itu jauh lebih murah. Ibu sampai sekarang masih suka jalan. Ibu suka jalan sendiri, kadang sama adik saya. Kadang-kadang kita suka ketemuan di luar. Saya pernah ke Finlandia, Ibu ke Rumania, kita ketemu di Austria. Kalau saya nginepnya di hostel, beliau nginapnya di hotel bintang tiga.


Kisah Unik Backpacker Wanita

Banyak kisah menarik yang terjadi, selama Ucha berkeliling ke luar negeri ala backpacker.

“Di Athena (Yunani), saya yang tukang nyasar memilih untuk mengikuti walking tour ke Acropolis yang terletak di atas bukit dan situs-situs lainnya yang terletak di kota tua dengan jalan-jalan yang ruwet dan sempit. Semalam sebelumnya, saya sudah deg-degan membayangkan harus kejar-kejaran jalan sama bule-bule jangkung. Ternyata, besok paginya, peserta cuma seorang, saya doang. Jadilah saya yang mengatur kecepatan jalan dan ternyata si guide yang gendut napasnya pendek. Lebih sering dia yang minta berhenti karena terengah-engah,” kenang Ucha, seperti yang ia kisahkan di bukunya.

Ketika bercerita tentang alat transportasi, Ucha mengenang kejadian di Puerto Princessa.

“Saya naik Jeepney (angkot di Filipina yang menggunakan Jeep Willis jaman Perang Dunia yang telah dimodifikasi). Dari kota Puerto Proncessa ke Sabang di Pulau Palawan membutuhkan waktu 4 jam dengan jalan offroad. Jeepney yang kecil itu bisa dinaiki 45 orang sampai ke atap, bahkan sopirnya pun pangku-pangkuan dengan penumpang. Di tengah jalan, turunlah hujan deras dan semua orang berdesak-desakan masuk. Jendelanya yang tanpa kaca ditutupi plastik gulung. Duh, pengapnya tidak keruan!” Ucha mengenang.

Ucha senang dugem. Ia kerap mendatangi tempat-tempat hang out anak muda di satu kota.

“Di Amsterdam, yang terkenal dengan kempanye legalize canabis, merupakan salah satu pusat dugem dunia. Apakah karena legal menggunakan ganja, saya tidak tahu. Tapi memang mudah mendapatkan ganja yang ingin Anda pilih di antara jejeran ganja yang berasal dari mancanegara. Ganja Indonesia termasuk yang ngetop dan mahal, lho. Tapi jangan harap Anda dapat membeli bir atau alkohol lainnya di tempat ini. Coffee Shop hanya menjual kopi dan ganja, sedangkan bar hanya menjual alkohol tanpa ganja,” terang Ucha.

Masih banyak kisah Ucha yang menggetarkan. Termasuk cara dan reaksi dia terhadap para pria yang berniat menggoda. “Kalau macam-macam, saya bilang saja kalau saya lesbian,” katanya, santai.

Aien Hisyam

November 25, 2009 - Posted by | Profil Pecinta Lingkungan, Profil Penulis

1 Comment »

  1. aduhhh, really! I want to do what you’ve done! karna aku belum pernah sama sekali go abroad, bisa ga referensi backpacker ke s’pore???! kirim ke e-mail yaa!

    Comment by Sherly | May 3, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: