Aien Hisyam

– hidup adalah tempat belajar –

Keke Soeryo

Ketika Insting Datang

Dunia model tak pernah lepas dari hidup Keke. Namun, ia juga  pemilik sekolah akting, sekaligus pemilik restoran. Apa keinginan Keke selanjutnya?


Wajah Keke masih terlihat cantik. Tahun ini, ia genap berusia 40 tahun. “Karena hidup saya enjoyed,” kata Keke, senang.

Ia pernah melewati era, menjadi top model Indonesia. Sebelas tahun silam, ia mendirikan Look Model Inc. Tanpa diprediksi muluk-muluk, modelling agency-nya berkembang sangat pesat.

Tampaknya, Keke tak ingin sukses di satu bidang saja. Dunia lain mulai ia rambah. Kini, ia juga dikenal sebagai artis dan pemain film, pemilik Performing Art School, bekerjasama dengan Didi Petet, juga pemilik Soeryo Café.

“Selain enjoyed, saya juga hidup seperti air mengalir. Tidak pernah dibawa susah apalagi stres,” tegasnya.

Berawal dari Model

Sudah 11 tahun Keke membawa Look Model Agency menjadi salah satu agensi khusus model papan atas.

“Selanjutnya, berkembang menjadi event organizer. Lulu (Lulu Dewayanti) yang pegang EO. Bahkan, sekarang punya sekolah sendiri. Ada sekolah modeling, performing art school, acting, public speaking,” ungkap Keke, bangga.

Khusus untuk sekolah akting, lanjut Keke, ia bekerjasama dengan Didi Petet. “Mas Didi kan pakar akting. Memang akan kelihatan hasilnya orang yang sekolah dengan yang enggak. Jadi, kalau ditanya gimana Look sekarang? Look sih terus berkembang.”

Keke merasa, akting sudah menjadi kebutuhan. Menjadi model saja tidak cukup. “Di modeling, orang hanya model saja. Kalau talent yang dilihat bakatnya. Nah sekarang alangkah baiknya kalau orang punya dua-duanya. Dan, sekolah saya ini diperuntukkan siapa saja yang mau terjun ke entertainment. Tidak harus model, karena akting, fisik bukan nomor satu. Beda sama model,” jelas Keke berpromosi.

Performing Art School baru 3 tahun berdiri. “Membikin sekolah akting ini, saya harus riset 2 tahun. Karena, sekolah ini buat orang lain, sifatnya sekunder. Tapi saya pikir, ilmu akting sudah diperlukan dimana-mana. Dalam keseharian saja kita butuh akting,” lanjut wanita yang pernah bermain sinetron berjudul ‘Turu Ranjang’, ‘Inikah Cinta’, Anak-Anak Surga’, dan ‘Gadis.

Tahun pertama, Keke mengaku agak berat. Tapi di tahun kedua dan ketiga ia mulai menjalankan dengan mudah. Sekolah akting ini bahkan sudah mencapai 15 angkatan. Tiap angkatan ada 10 orang.

Antara Palsu Dan Jujur

“Orang suka tanya, akting itu artinya apa sih? Palsu, bohong, atau jujur,” ujar Keke, tiba-tiba.

Wanita bernama lengkap Sri Nurhandayani Harun antusias bila bercerita tentang dunianya, akting -ia baru saja menyelesaikan syuting film layar lebar berjudul ‘Ten’.

“Saya sering dipanggil di berbagai lomba. Saya kasih pembekalan. Saya selalu sarankan mereka untuk belajar akting. Jadi akting yang tidak hanya untuk main film saja. Karena, kalau kita berbicara, meyakinkan orang, itu harus jelas dan mudah dimengerti. Nah, itu perlu belajar akting. Jadi akting itu kejujuran. Inilah edukasi yang saya tanam dari awal,” jelas Keke, bersemangat.

Keke sedih melihat kulitas sinetron Indonesia. Padahal, katanya, 75 persen masyarakat Indonesia penyuka tayangan televisi. Apalagi anak-anak.

“Bagaimana kita mengedukasi yang benar kalau acaranya kita saja seperti itu. Nah, saya ingin beri kontribusi walaupun hanya sedikit,” ungkap Keke.

Alasan itu pula yang membuat Keke punya visi ke depan, mencetak murid-murid yang berkualitas.

“Tapi kalau, mereka mau begitu, ya sah-sah saja. Itu kan pilihan. Mereka mau main sinteron seperti itu atau mau main film berkualitas, itu terserah mereka. Kan mereka juga butuh uang. Mau bagaimana lagi. Cuma saya arahkan ke mereka, lebih ke kualitas. Kalau kamu mau berkualitas, belajarlah pada tempatnya,” ujar Keke, bijak.

Keliling Daerah

Meski tengah asik di sekolah akting, Keke tak melupakan pekerjaannya di dunia modeling.

Beberapa tahun terakhir, Keke banyak menjalin kerjasama dengan agen-agen modeling di luar negeri. Tujuannya, agar ia bisa menyalurkan bakat anak-anak didiknya.

“Semacam pertukaran. Kalau kita mau masuk era globalisasi, alangkah baiknya kita kerjasama dengan modelling agency luar. Modal kita untuk ke sana. Saya ingin menghidupkan dunia fashion Indonesia, bisa sama dengan di luar,” ujar Keke, mantap.

Ia yakin karena, katanya, orang Indonesia, khusus di wilayah Asia, wajahnya paling bagus, termasuk dalam fashion industry. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan desain, orang Indonesia tidak kalah.

“Tapi untuk model, orang Indonesia tidak seperti orang asing. Orang asing hidungnya mancung, matanya biru, tulang pipinya tinggi. Kita memang kalah dalam gen. Tapi setelah saya keliling Indonesia, orang kita ternyata unik. Banyak yang tinggi juga. Cuma, diamond-diamond ini belum ditemukan,” ujar Keke.

Keke sudah 2 tahun menjalin kerjasama dengan Depdiknas, dan 1 tahun bekerjasama dengan Telkomsel, untuk mencari anak-anak remaja berbakat di daerah-daerah di Indonesia.

“Saya mencari anak-anak normal dan anak-anak tuna rungu. Saya hanya melihat, dunia yang saya punya ini ada sisi sosialnya juga. Saya ingin anak-anak tuna rungu ini bisa bersaing dengan anak-anak normal, dan saya juga ingin melihat bibit-bibit di daerah ini. Kadang mereka tidak mampu,” ungkap Keke.

Ia membina para remaja berbakat ini. Ada yang di bina di daerah, tapi ada juga yang dibawa ke Jakarta. Katanya, belum 100 persen berhasil, tapi paling tidak, Keke telah melakukan kegiatan 75 persen.

Insting Melihat Model

Keke bersyukur diberi insting tajam. Ia bisa melihat bakat seseorang, di pertemuan pertama.

“Saya suka bisa lihat. Memang tidak banyak. Walaupun dia lugu, padahal mereka keren. Karena mereka pada dasarnya fisiknya keren, tapi nggak bisa dandan. Nah untuk melihat itu, perlu dipoles dulu. Kalau saya tidak. Walaupun tanpa polesan, saya sudah bisa lihat bakat itu. Mungkin ini sebagai anugerah,” ujar Keke.

Ia mencontohkan, saat ke Medan, ia menemukan gadis manis berkulit hitam. Tingginya 178. Sekali bertemu, Keke langsung suka. Namanya Kimi. “Sekarang sudah jadi top model Indonesia,” katanya.

Beberapa kali Keke bertemu model asal daerah yang siap ‘dipoles’. Kini, ia makin rajin berkunjung di Medan, Menado, Semarang, Yogya, Surabaya, Balikpapan, dan Bali. Ia berencana mencari ‘diamond’ asal Papua, Padang dan Palembang.

“Orang Indonesia kan macam-macam. Saya yakin ‘diamond’ ini ada di daerah, tapi belum ditemukan. Nanti mereka bisa ke Jakarta, dilatih, ditingkatkan percaya dirinya, bahasa Inggris, dan akhirnya mereka siap bersaing di dunia internasional,” ujar Keke, bersemangat. Aien Riyadi

“Kalau Saya Tahu, Saya Tegur!”

Menjadi Model Terkenal Berarti Siap…

Terima resiko. Itu masalah pilihan hidup. Yang memilih hidup ya kita sendiri. Kalau sudah jadi somebody, itu pilihan. Kalau kita mau digosipin, itu juga bisa. Hal-hal itu memang bisa menambah mereka jadi famous dan diketahui orang. Tapi ada artis yang tidak perlu begitu tapi tetap eksis. Dan itu juga banyak. Kalau sudah jadi public figure, kita harus siap dilihat orang. Karena pekerjaan memang begitu. Seperti model yang juga dilihat orang. Badanpun, dilihat dari angle manapun harus terlihat bagus. Kalau mental nggak tahan, kita terlindas dengan yang lain. Yang perlu diingat, model juga menyangkut usia. Kalau kita sudah tua, pasti mulai banyak keriput-keripout. Makanya saya menuntut mereka bisa acting dan bisa ngomong, supaya nanti bisa kemana-mana.

Kalau Ada ‘Anggapan’ Miring…

Itu juga pilihan, mereka mau begitu. Kita dikenal itu dari kehidupan kita seperti apa. Kita mau pacaran dengan suami orang, mau jadi lesbian, jadi gay, itu pilihan. Saya juga bukan ibunya (ibu para model yang ia didik). Tapi kalau saya kasih tahu, itu saya lakukan. Saya selalu bilang, kalau mau jadi model profesional, kamu harus lakukan ini-ini-ini. Dan kalau saya tahu itu, saya tegur. Tapi itu diluar pantauan saya. Saya orangnya terbuka saja. Dengan mereka saya tempatkan sebagai couching. Karena kalau saya tempatkan jadi orang tua juga susah. Saya juga tidak bisa tempatkan diri sebagai teman. Memang harus seperti itu, karena kalau nggak, mereka tidak disiplin. Tapi kalau lagi pergi keluar, fun, kita bisa seperti temen. Tapi dalam bekerja yah sabagai couching.

Problem Buat Saya…

Hal yang harus segera diatasi. Saya sudah terbiasa untuk selesaikan problem itu sendiri. Tidak panik. Begitupun setiap ada kerjaan, saya kerjakan dengan senang hati, dan itu bisa. Dan tidak terbeban. Kerjaan dibikin hobi. Saya juga tidak takut gendut. Kalau kita takut gendut kita justru malah bisa gendut. Yang terpenting buat saya, agar hidup enjoyed adalah olah raga 45 menit, seminggu paling tidak 2 kali. Saya tidak diet. Makan apa saja. Makan lemak, nggak pantang. Paling porsinya yang diatur. Saya selalu mengerjakan sesuatu yang saya sukai. Saya enjoyed sekali dalam hdup saya. Kalau kita bekerja, kita mencintai pekerjaan itu.

Anak, Impian Keke Selanjutnya

Belum lama, Keke bercerai dengan Benno Harun. Namun, impiannya untuk memiliki anak tak pernah padam.

Ketika bercerita tentang bahtera rumah tangganya yang kandas, Keke terlihat lebih rileks. Ia mengatakan tak ada trauma lagi.

“Sedih, pasti. Hidup kan up and down. Sedih dalam arti gagal dalam rumah tangga, ada juga kesedihan itu. Tapi saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi dalam perkawinan saya. Saya tidak mau trauma. Kalau saya trauma, nanti saya tidak menikah lagi,” sesaat Keke tersenyum.

“Target, dalam pribadi, kalau saya menikah lagi, saya ingin punya anak. Orang kan kalau sudah tua pasti pengin punya teman  Hal yang sederhana saja. Saya bisa pensiun dari pekerjaan saya. Saya bisa punya banyak waktu dengan anak saya,” lanjut Keke.

Tentang hidupnya yang sekarang, Keke langsung menjawab, “enak juga sendiri.” Ia kemudian tertawa lepas. “Kalaupun tiba-tiba sedih, saya share dengan teman. Itulah gunanya teman yang bisa dipercayai, saya bisa share dengan dia. Alhamdulillah saya berteman sudah 20 tahun. Dia bisa simpan semua rahasia-rahasia saya. Kita berdiskusi dan ngomong apa saja. Sudah seperti soulmate.”

Keke mengatur rutinitasnya dengan detail. Jumat ia gunakan waktunya bersama teman-teman, Sabtu dengan anak Benno, Primansyah –Keke sudah menganggap seperti anak sendiri, dan Minggu waktu untuk dirinya sendiri. Ia manfaatkan untuk pergi ke salon, spa atau kemana saja yang ia suka. Senin hingga kamis, ia bekerja.

Adakah pria yang saat ini singgah dihatinya? Keke tersenyum, manis. “Ada sih, cuma dia tidak tinggal disini. Kita tidak sering ketemu.”

“Tapi kalau ditanya keinginan saya yang lainnya, saya ingin punya yayasan di bidang modeling, talenta, dan akting untuk anak-anak yang tidak mampu,” ucap Keke, penuh makna.

Aien Hisyam

November 24, 2009 - Posted by | Profil Pendidik, Profil Seniman

1 Comment »

  1. Dari Kompas saya membaca ttg Ibu Keke Soeryo.
    Mohon bisa mendapat alamat/telp beliau.
    Saya mempunyai minat utk collaboration dengan Ibu Keke dibidang modeling/resto dll.
    Banyak terimakasih atas perhatiannya.
    Dr Harry S P

    Comment by Harry S Prayogo | April 19, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: